Anda di halaman 1dari 70

STEVEDORING

ISTILAH ISTILAH DALAM PENGGUNAAN PETI KEMAS


Container Yard (CY).
Adalah suatu tempat /lapangan kosong maupun isi yang digunakan
sebagai tempat penumpukan peti kemas yang berisi maupun
kosong.
Container Freight Station (CFS).
Adalah gudang tertentu tempat penyimpanan/ menumpuk barangbarang yang di keluarkan dari peti kemas, atau barang-barang yang
akan dimasukan ke dalam peti kemas.
Stripping/ Unstuffing.
Pekerjaan membongkar barang dari peti kemas sampai disusun
rapih di dalam gudang / CFS
Stuffing.
Pekerjaan memuat barang dari gudang/ CFS sampai disusun di
dalam peti kemas.
Lift on / Lift off.
Pekerjaan mengangkat/menurunkan peti kemas dari chasis ke
chasis lain, atau dari chasis ke tempat penumpukan, atau dari
tempat penumpukan ketempat chasis.

ISTILAH PENGGUNAAN

CONTAINER

FULL CONTAINER
LOAD (FCL)

Terdiri dari satu jenis barang baik


eksportir maupun importir terdiri
satu perusahaan

LESS CONTAINER
LOAD (LCL)

Yang berisi berbagai jenis barang


baik eksportir maupun importir
lebih dari satu

CONTAINER STATUS
1. FCL/FCL disebut juga sebagai CY/CY
Pengirim barang (consignor) oleh satu orang dan penerima barang
(consignee) di pelabuhan atau tempat tujuan oleh satu orang juga.
FCL/FCL

SHIPPER

TERMINAL
(CY)

TERMINAL
(CY)

CONSIGNEE

2. LCL/LCL disebut juga sebagai CFS/CFS


Pengirim barang (consignor) terdiri dari beberapa (Groupage) orang dan
dipelabuhan tujuan barang diterima oleh beberapa orang penerima (de
groupage).
FCL/FCL

SHIPPER

TERMINAL
(CFS)

GROUPAGE

TERMINAL
(CFS)

CONSIGNEE

DE GROUPAGE

CONTAINER STATUS
3. FCL/LCL disebut juga sebagai CY/CFS
Pengirim barang (consignor) hanya satu orang, tetapi penerima barang
(consignee) di pelabuhan atau tempat tujuan terdiri dari beberapa orang.
FCL/FCL

SHIPPER

TERMINAL
(CY)

TERMINAL
(CFS)

CONSIGNEE

4. LCL/FCL disebut juga sebagai CFS/CY


Pengirim barang (consignor) terdiri dari beberapa (Groupage) orang
sedangkan penerima dipelabuhan tujuan barang diterima hanya oleh satu
orang saja.
FCL/FCL

SHIPPER

GROUPAGE

TERMINAL
(CFS)

TERMINAL
(CY)

CONSIGNEE

CONTAINER
FREIGHT
STATION
BANDUNG (CFS)

HONGKONG CONTAINER
YARD

ISTILAH ISTILAH DALAM PENGGUNAAN PETI KEMAS

Haulage.
Pekerjaan mengangkut peti kemas dengan menggunakan trailer/chasis di
daerah kerja pelabuhan dari satu CY ke CFS lainnya atau dari lambung
kapal ke CY atau sebaliknya.
Documentation/ Clearance/ Tally.
Mengadministrasikan, menghitung dan menyelesaikan izin untuk
melaksanakan pemindahan peti kemas isi/ kosong dari lambung kapal ke
CFS/CY atau sebaliknya, pengeluaran/ pengisian barang dari dan ke dalam
peti kemas, dan melaksanakan Shifting peti kemas.
Shifting.
Pekerjaan memindahkan peti kemas dari satu tempat ke tempat lain dalam
Bay yang sama atau ke Bay yang lain dalam kapal yang sama atau dari Bay
ke dermaga dan kemudian menenpatkan kembali ke Bay yang sama.
Terminal Operation.
Segala aktivitas yang terjadi pada waktu pergerakan peti kemas dari
lambung kapal ke CFS/CY, Inter Change Area, gudang lapangan yang telah
ditetapkan atau sebaliknya di daerah Pelabuhan

ISTILAH ISTILAH DALAM PENGGUNAAN PETI KEMAS


Repositioning.

Mengangkat, mengangkut dan menempatkan peti kemas kosong dari


tempat dimana peti kemas kosong berada sampai ke Container Depot atau
lapangan terbuka lainnya.
Supervisi.

Pekerjaan mengawasi pelaksanaan aktivitas CFS/ CY.


Spreader.

Peralatan yang digunakan waktu membongkar atau memuat peti kemas


dari/ ke atas kapal.
Container Depot.

Tempat khusus penumpukan peti kemas kosong baik yang berada di dalam
pelabuhan maupun di luar pelabuhan.
Inter Change Area.

Tempat sementara bagi peti kemas isi maupun kosong.


Stevedoring.

Pekerjaan membongkar peti kemas dari dek kapal/ palka ke dermaga/ ke


atas chasis atau memuat dari dermaga/ chasis ke atas dek/ ke dalam palka
dengan menggunakan crane kapal/ crane darat (gentry crane).

ISTILAH ISTILAH DALAM PENGGUNAAN PETI KEMAS

Transhipment.
Pekerjaan untuk peti kemas yang dibongkar dari lapangan pengangkut
pertama dan ditumpuk pada lapangan-lapangan peti kemas untuk
dikapalkan kembali, oleh pengangkut kedua, dengan ketentuan :
Bila peti kemas di tumpuk melampaui hari ke 28 semenjak di
bongkar dari pengangkut pertama, maka peti kemas dikenakan
sewa sejak hari pembongkaran.
Peti kemas isi atau kosong haris dilaporkan secara tertulis
sebagai peti kemas transhipment 24 jam sebelum kapal
pengangkut peti kemas tiba.
Setiap peti kemas transhipment yang dikirim CFS/CY untuk
dikeluarkan/ diisi (unstuffed/stuffed) akan dikenakan tarif LCL.

Reefer Container.
Memeriksa Reefer Container sebelum di kapalkan, memasang dan
memutuskan aliran listrik (plugged/unplugged) di dalam kapal,
monitoring di reefer yard dan sewa sambungan aliran listrik.

PENANGANAN PETI KEMAS


Agar peti kemas tidak cepat rusak dan
penyok karena benturan atau salah
dalam penangannya, maka haruslah
diperhatikan dalam penanganan peti
kemas itu antara lain :
Tempat penumpukan peti kemas,
harus keras dan rata.
Cara menumpuk (sticking).
Peti kemas 40 ft tidak boleh ditindih oleh

peti kemas 20 ft.


Tidak boleh meletakan silang antara
satu dan lainnya.
Antara sudut peti kemas diatas dan
dibawah harus saling beradu.
Peralatan untuk menangani (handling)
peti kemas harus siap.

Penumpukan Peti Kemas

PENUMPUKAN PETI KEMAS

PENUMPUKAN PETI KEMAS

DOUBLE CONTAINER

KEAMANAN PETI KEMAS


Seal/Pengaman

CODE PADA PETI KEMAS

TANGGUNG JAWAB CARIER DALAM


PENGAPALAN PETI KEMAS
Tanggung Jawab Shipper dan Carrier terhadap Peti Kemas FCL :
Shipper :
Bertangung jawab terhadap pengangkutan peti kemas kosong.
Pemuatan barang (stuffing) ke peti kemas.
Biaya yang timbul akibat pengangkutan peti kemas ke Container
Yard.
Carrier :
Bertanggug jawab terhadap isi peti kemas yang telah diserahkan
kepadanya baik di Container Yard miliknya maupun selama
pengangkutan.
Bertanggung jawab untuk memuat peti kemas keatas kapal angkut.
Bertanggung jawab atas bongkar di pelabuhan tujuan sampai ke
Container Yard dan atas biaya yang timbul.

BONGKAR DAN MUAT PETIKEMAS

Dalam bongkar muat peti kemas kita harus mengetahui posisi peti
kemas yang akan dibongkar muat apakah akan muat di bay, row atau
tier.

Bay, pembagian kapal secara membujur dari haluan ke buritan dan


dimulai dari no. 1 dst. Bay dengan no. Ganjil untuk peti kemas 20 ft
dan genap untuk peti kemas 40 ft.

Row, adalah pembagian kapal secara melintang dari tengah ke kiri dan
kekanan. Contoh dari tengah ke kiri row 02, 04, 06 dst sedangkan dari
tengah ke kanan row 01, 03, 04 dst

Tier, adalah pembagian nomor susunan petikemas secara vertikal.


Untuk pembagian tier dibagi dua bagian, yaitu petikemas dalam palka
yang diberi nomor genap dari 02, 04, 06 dst sedangkan peti kemas
yang diatas dek kapal diberi nomor angka awal 8 keatas misalnya : tier
82, 84, 86 dst

Contoh : DLLCU 230012 170304 ini berarti pertikemas dimuat pada


posisi : Bay 17, row 03 , tier 04 (dalam palka)

BAY, ROW AND TIER


Contoh : DLLCU 230012 170304 ini berarti pertikemas dimuat pada posisi :
Bay 17, row 03 , tier 04 (dalam palka)

TANGGUNG JAWAB CARIER DALAM


PENGAPALAN PETI KEMAS
Tanggung Jawab Shipper dan carrier terhadap muatan :
Shipper.
Bertanggung jawab sampai dengan muatan/ barang masuk dalam
Container Freight Station (CFS) dari cerrier.
Carrier.
Bertanggung jawab sejak barang diterima dari shipper.
Bertanggung jawab atas stuffing dan sampai pada angkutan ke
kapal.
Di pelabuhan tujuan, peti kemas di bongkar dan stripping sampai
ke CFS atas beban carrier, sampai dengan penyerahan kepada
consignee.
Tanggung jawab carrier pada muatan barang adalah sejak saat
diterimanya muatan atau barang dari shipper diatas kapal sampai
dengan pengangkutannya dan penyerahannya kepada shipper tujuan.
Segala hal yang bertalian dengan gugatan atas pengangkutan dan
penerimaan barang sesuai dengan konvensi Hague Rulles.

STOWAGE CARGO
Sebelum dilakukan pengangkutan oleh truk maka peti kemas harus
dipadatkan (stowage) yang dimaksud dengan Stowage adalah :
Penempatan muatan dan penyusunannya di dalam ruangan kapal,
disesuaikan dengan sifat, jenis kemasan serta pelabuhan tujuan
muatan masing-masing.
Beberapa pengertian tentang stowage cargo :
Stowage Plan : adalah denah/ rencana pemadatan muatan yang
lengkap, digambarkan distribusi muatan di dalam palka-palka kapal
dalam dimensi lengkap yaitu vertical (dari bawah keatas),
transfersal (melintang, melebar) dan longitudinal (membujur
sepanjang kapal).
Stowage Faktor : adalah angka yang menunjukan besarnya ruangan
diukur dalam kaki kubik (cubic feet) yang dibutuhkan dalam satu ton
muatan.
Broken Stowage : adalah ruang yang hilang yang terjadi karena
membuat bermacam-macam barang dengan macam-macam ukuran
dan bentuk kemasan di dalam satu ruangan, sehingga dengan
demikian tidak mungkin tercapai pemadatan yang kompak.

MELINDUNGI KAPAL
BATAS TINGGI MUATAN
UNTUK MENGHITUNG BATAS TINGGI HARUS DIKETAHUI 2
FAKTOR :
- DECLOAD CAPACITY

- STOWAGE FACTOR MUATAN


STOWAGE FACTOR ADALAH SUATU FACTOR PEMADATAN YANG
DIGUNAKAN UNTUK :
1.

Memperhitungkan berapa banyak tempat yang diperlukan untuk


pemadatan muatan sejumlah . Ton

2.

Memperhitungkan berapa ton dari muatan yang tersedia dimuat


kedalam palkah, sesuai dengan volume ruang muat tersedia untuk
itu

MELINDUNGI KAPAL
Stowage factor (SF) adalah volume yang diperlukan untuk 1 ton
(1.016 kg) barang yang dinyatakan dalam cft. SF 40 berarti bahwa 1
ton barang itu mengambil tempat 40 cft. Dalam SF sudah
diperhitungkan pula broken stowage (celah yang terdapat diantara
muatan). Sebagai contoh. SF kopra adalah 80. itu berarti 1 long ton
kopra mengambil ruangan 80 cft
Untuk dapat menghitung banyaknya barang yang dapat dimuat
dalam salah satu ruangan muatan kapal atau palka, kita harus
mengetahui besarnya ruangan palka. Besarnya ruangan palka dari
kapal dinyatakan dalam bale space dan grain space
Bale Space adalah ruangan didalam palka yang disediakan untuk
muatan umum (general cargo) dan biasanya dinyatakan dalam cft.
Besarnya ruangan muatan diukur dari bagian dalam gading gading
dan antara lantai bawah dengan bagian bawah dari deck beam
lantai atas.

MELINDUNGI KAPAL
Grain Space adalah ruangan dalam palka yang disediakan untuk
mutan curah (bulk) dan biasanya dinyatakakan dalam cft. Besarnya
ruangan muatan diukur dari bagian dalam dinding kapal dan dari
lantai bawah sampai dengan bagian bawah dari lantai atas.
Jumlah keseluruhan dari bale space atau grain space dibagi oleh
cargo deadweight ton adalah stowage factor dari sebuah kapal
barang.

MELINDUNGI KAPAL

MELINDUNGI KAPAL

MELINDUNGI KAPAL
MENGGUNAKAN RUANG PEMUATAN BAGI BARANG
BERAT

Muatan berat tidak boleh ditumpuk terlalu tinggi, muatan


yang stowage factornya (SF) 10 didalam tweendeck
hanya boleh disusun setinggi 2 atau 3 kaki saja, dan di
dalam lowerhold hanya 7 kaki.

MELINDUNGIN MUATAN
Kita harus mengenal 2 (dua) hal pokok :
a. Mengenal kapalnya, dapat diperoleh dari Ship Particular / blue print
kapal
b.

Mengenal muatannya, terdapat bermacam macam faktor yang


mempengaruhi antara lain :
1) Bentuk dan sifatnya yang berbeda beda
2) Banyaknya jenis muatan golongan muatan ( cargo )
3) Jauh dekatnya pelabuhan muat bongkar
4) Daerah pelayaran yang akan dilalui,dengan adanya cuaca
yang berlainan dan berubah rubah

MELINDUNGIN MUATAN
1. PEMISAHAN MUATAN
2. STOWAGE PLAN, rencana muat yang dibuat atau direncanakan sebelum
pemuatan dimulai
3. PENGGUNAAN RUANG MUATAN SECARA MAKSIMUM
a) Memeriksa broken stowage, volume suatu ruangan yang tidak ditempati oleh
muatan.
b) Penggunaan filter cargo adalah muatan yang bentuknya kecil-kecil yang dapat
ditata diantara muatan lain atau muatan yang lebih besar
Contoh : Apabila kita memuat peti-peti makanan kaleng di lowerhold yang
melengkung maka filter cargo kita pilih barang-barang kelontong atau ikatan
pita yang kecil.
c) Memilih jenis muatan untuk suatu palkah
d) Ketrampilan buruh pelabuhan
Kesimpulan :
Bahwa untuk mendapatkan ruangan secara maksimum atau ekonomis harus kita
perhatikan 3 faktor :
1) Penggunaan filter cargo yang tepat
2) Memilih jenis muatan yang tepat
3) Ketrampilan buruh.

BONGKAR MUAT SECARA CEPAT DAN SISTIMATIS

Menghindarkan Long Hatch, muatan yang tidak terbagi merata


di ruang muat yang ada
Menghindarkan overstowage, muatan yang menghalangi
pembongkaran muatan lainnya
Menghindarkan overcarriage / shortlanded, muatan yang
tertinggal didalam palkah atau tidak terbongkar karena tidak
jelas petunjuknya

SYARAT AGAR TIDAK TERJADI OVERCARRIAGE :


PORT MARK
BLOCK STOWAGE
PEMISAHAN YANG BAIK

PEMBUATAN STOWAGE PLAN


PADA AWAL PERMULAAN, DIBUAT PADA KONDISI RUANG MUAT
KAPAL DALAM KEADAAN KOSONG
PADA PELABUHAN LANJUTAN, DIPERBAHARUI APABILA
TERDAPAT PERUBAHAN
PADA PELABUHAN AKHIR TIDAK DIBUAT
DIBUAT BERDASARKAN DENAH KAPAL, BERBENTUK
STANDARD SESUAI KARAKTERISTIK RUANG MUATAN
(PALKA-PALKA)
DALAM PEMBUATANNYA TIDAK DIPERLUKAN SKALA YANG
TELITI.

DAMPAK UNSTOWAGE

MENGHITUNG UANG TAMBANG DAN BIAYA LAINNYA YANG


BERKAITAN DENGAN OPERASIONAL PETI KEMAS

LCL service charge adalah biaya yang harus dibayar


oleh pemilik barang untuk handling LCL container di
pelabuhan seperti stuffing, unstuffing, delivery, receiving,
pemakaian alat mekanik seperti lift on/ off dlsb.
Detention adalah denda (penalty) terhadap kelambatan
dalam pengembalian peralatan petikemas seperti
chasis/prime mover yang melewati batas waktu yang
ditentukan.

Repair / cleaning pada waktu MT container (petikemas


kosong) yang dikembalikan ke depot pemilik barang
harus membayar biaya keberisihan (cleaning) dan
perbaikan (repair minor demage), di Indonesia apakah
peti kemas itu dibersihkan/diperbaiki atau tidak, maka
pemilik barang diwajibkan membayar biaya tersebut.

INTRODUCTION
1.

PENGELOMPOKAN
BARANG

BARANG

BARANG ANTAR
PULAU

Barang yang diangkut dari pelabuhan asal ke


pelabuhan tujuan dalam wilayah Indonesia

BARANG
EKSPOR/IMPOR

Barang yang diangkut dari pelabuhan asal luar


negeri ke pelabuhan tujuan dalam wilayah
Indonesia atau sebaliknya.

BARANG DALAM
KEMASAN

Barang yang menggunakan kemasan, petikemas


(container), atau menggunakan pallet dan Unitized

BARANG TIDAK
DALAM
KEMASAN

Barang dalam bentuk urai, antara lain Break Bulk


Cargo, Bag Cargo, Barang Curah Cair, Barang
Curah Kering termasuk Hewan.

Semua jenis barang


muatan kapal yang
dibongkar/dimuat dari
dan ke kapal

2.

SIFAT BARANG

BARANG
MENGGANGGU

Jenis barang yang mempunyai sifat mudah rusak atau dapat mencemarkan barang
lain apabila ditumpuk/disusun pada lokasi yang berdekatan
Contoh :
Garam, terasi, gaplek, bungkil kopra, kulit, kertas bekas, belerang, pupuk, semen,
besi, baja dan barang logam atau batangan lainnya.

BARANG
MERUSAK

Jenis barang yang mempunyai sifat merusak, khususnya terhadap fasilitas


pelabuhan.
Contoh :
Besi Tua, Kayu Log, Batubara dll

BARANG
BERBAHAYA

Barang yang dikelompokkan oleh Internationale Maritime Organization (IMO)


sebagai barang yang dapat menimbulkan bahaya ledakan, kebakaran, meracuni
terhadap muatan lain ataupun itu sendiri dan mengancam lingkungan sekitarnya.
Contoh :
Corrosive, Radio Active, Poison Gas, Explosive, Inflamable Liquid dll

3.

PELAYANAN JASA BARANG


1.
2.

PELAYANAN JASA DERMAGA

3.

Menyiapkan perlengkapan dan peralatan B/M ke tepi dermaga


atau mengembalikannya ke tempat semula.
Mengangkat muatan dari sisi lambung kapal atau tongkang ke
tepi dermaga atau sebaliknya.
Menempatkan atau memindahkan muatan dari tepi dermaga ke
lokasi penumpukan barang (Gudang atau Lapangan
Penumpukan)

GUDANG

PELAYANAN JASA
PENUMPUKAN

Salah satu fasilitas


pelabuhan untuk
menunjang proses
pemindahan barang dari
angkutan laut ke darat
atau sebaliknya.

LAPANGAN
PENUMPUKAN

FUNGSI
1.

Mencegah terjadinya idle time bagi kapal.

2.

Menyiapkan waktu yang diperlukan,


antara lain diakibatkan : keterlambatan
penyelesaian dokumen, penyelesaian
kewajiban pembayaran jasa pelabuhan,
penyelesaian dokumen ke pabean.
penyelesaian port clearence dll.

3.

Tempat pengumpulan barang yang akan


dimuat ke kapal sehingga dapat dicegah
terjadinya kapal menunggu muatan.

SISPRO PELAYANAN KAPAL & BARANG


PELAYANAN KAPAL

1
PERUSAHAAN
PELAYARAN

PERUSAHAAN
BONGKAR/MUAT

PELABUHAN

PERUSAHAAN
EMKL

PELAYANAN
TEKNIS
3

4.

KAPAL SANDAR/BERANGKAT

5.

PENGAWASAN/PENGENDALIAN OPERASIONAL MELALUI SUPERVISI OPERASI (SO)

1
2

KETERANGAN :
1. PERMINTAAN PELAYANAN KAPAL DAN BARANG
2. RENCANA/PENETAPAN PELAYANAN KAPAL DAN KEGIATAN
B/M
3. KAPAL SANDAR
4. PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN OPERASIONAL
MELALUI SUPERVISI OPERASI (SO)
5. LAPORAN

PELAYANAN BARANG

KEGIATAN PELAYANAN BARANG


1.

KEGIATAN PELABUHAN
PEMBONGKARAN

STEVEDORING

CARGODORING

RECEIVING/DELIVERY

2.

KEGIATAN PELABUHAN
PEMUATAN

STEVEDORING

CARGODORING

RECEIVING/DELIVERY

PELAKSANAAN KEGIATAN BONGKAR MUAT


DAN PENGGUNAAN PERALATAN BONGKAR MUAT
1.

KEGIATAN BONGKAR
MUAT

PERALA
TAN

BURUH

METODE/
SYSTEM

TUJUAN/SASARAN POKOK KEGIATAN B/M


1.

MELAKSANAKAN B/M SECEPATNYA (PRODUKTIF)


Kesiapan alat B/M, Ketrampilan Buruh, Peranan Supervisor, Stowage Plan
yang baik, Kesiapan Barang, Kemasan Barang, Kesiapan Dokumen dll.

2.

MENGHINDARI RESIKO KERUSAKAN TERHADAP BARANG,


PERALATAN DAN KECELAKAAN KERJA SERENDAH MUNGKIN
Pengawasan daro foreman kapal secara efektif, penggunaan alat yang
tepat, kapasitas daya angkat derek (SWL).

3.

MELAKSANAKAN SELURUH PERENCANAAN B/M SEBAGAIMANA


TERTERA PADA STOWAGE PLAN
Pembacaan stowage-plan harus tepat, Stowage Plan dikonsultasikan lagi
dengan pihak kapal (perwira muatan)

4.

MENGHASILKAN STABILITAS KAPAL YANG AMAN


Perencanaan B/M secara tepat, pengaturan truck ballast di kapal,
pengikatan muatan, pemilihan route dll.

5.

MENGHINDARI TERJADINYA LONG HATCES (KELAMBATAN


KEBERANGKATAN KAPAL), OVER HATCHES (TERPISAHNYA
SEBAGIAN KECIL MUATAN DIPALKA LAIN) DAN LONG DISTANCE
(TERBAWANYA MUATAN YANG SEHARUSNYA DI BONGKAR DI
PELABUHAN SEBELUMNYA)

2.

PELAKSANAAN
KEGIATAN BONGKAR
MUAT

1.
2.

3.
4.
A.

PRA RENCANA KEGIATAN

5.

6.
7.
8.

1.
2.
B.

KEGIATAN DI DERMAGA

3.
4.
5.
6.
7.

Satu jam sebelum shift dimulai : buruh, peralatan dan perlengkapan B/M
harus sudah disiapkan disisi kapal.
Pintu gudang dibuka dan ruang penumpukan telah di siapkan termasuk
pengemudi/driver.
Sebelum buruh dan petugas stevedoring naik ke kapal harus diperhatikan
tangga kapal harus terpasang dengan baik dan di pasang jala-jala.
Lubang-lubang pembuangan atau sirkulasi pada sisi kapal ke arah
dermaga telah diberi penutup.
Semua derek kapal yang akan digunakan telah disiapkan (oleh ABK) dan
Hook (Ganco) muatan telah tergantung dengan baik.
Penutup palka yang dapat dibuka secara mekanik dibuka oleh ABK.
1 Jam sebelum shift dimulai buruh sudah siap di kapal dan di dermaga
termasuk petugas cheker (kerani).
Sebelum memulai kegiatan foreman perlu mengetahui stabilitas kapal
yang ada dan memperhatikan kekencangan tros-tros kapal.
Jarak antara sisi dermaga atau sisi kapal dengan lokasi penumpukan
harus sedekat mungkin.
Sepanjang jarak transfering harus bebas dari hambatan dan mudah dilalui
oleh kendaraan dan peralatan bantu mekanik.
Peralatan transfering harus bebas dari hambatan dan mudah dilalui oleh
kendaraan dan peralatan bantu mekanik.
Peralatan transfering harus dalam kondisi yang baik.
Driver harus mempunyai ketrampilan yang baik.
Pemilihan dan peralatan mekanik harus disesuaikan dengan type dan
kapasitas yang dibutuhkan.
Pengaturan dan pendayagunaan buruh yang tepat, dll

C.

KEGIATAN PENUMPUKAN

OPERASI PENUMPUKAN
Kegiatan penumpukan/penimbunan
barang dalam gudang/lapangan
penumpukan

JANGKA PANJANG
2-3 TAHUN
SKALA
WAKTU

PERENCANAAN OPERASI PENUMPUKAN


BERAPA BANYAK BARANG YANG MEMBUTUHKAN TEMPAT PENUMPUKAN

DATA YG DIPERLUKAN UNTUK MERENCANAKAN TEMPAT PENUMPUKAN :

Jumlah dan Jenis Barang yang di B/M


Jumlah Barang tersebut yang diangkut langsung
Jenis Fasilitas penumpukan yang diperlukan
Perhitungan kasar luas ruangan yang diperlukan.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI JENIS TEMPAT PENUMPUKAN :

Jenis Barang
Kemasan/Pembungkus
Lama Waktu di Tempat Penumpukan
Stuffing dari Barang tersebut.
Tindakan Pencegahan (Keamanan).

JANGKA PENDEK
2-3 MINGGU

3.

USAHA PENGENDALIAN BONGKAR MUAT

USAHA UNTUK MENGETAHUI DAN MENILAI APAKAH PEKERJAAN


BONGKAR MUAT SUATU KAPAL SUDAH DILAKSANAKAN SESUAI
DENGAN YANG DIRENCANAKAN.
JIKA TERJADI PENYIMPANGAN DI ADAKAN LANGKAH-LANGKAH
PERBAIKAN.
PENGENDALIAN BONGKAR MUAT DILAKSANAKAN MELALUI :

OPERATION PLANNING

TIME SHEET

PENGENDALIAN = PENGAWASAN + TINDAKLANJUT

4.

PERALATAN BONGKAR MUAT

1.

SHORE CRANE

2.

HARBOUR MOBILE CRANE (HMC)


3

CONVEYOR
4

FLOATING CRANE (Kran Terapung)


5

GANTRY CRANE CONTAINER CRANE


6

FORKLIFT DAN LAIN-LAIN

GAMBARAN TANGGUNG JAWAB ATAS BARANG


YANG DI BONGKAR/DIMUAT DI PELABUHAN

D
A

STEVEDORING

CARGODORING

Tanggung Jawab
PBM

Tanggung Jawab
PBM

Tanggung Jawab
Pelabuhan
Kecuali
Gudang KSO

RECEIVING/
DELIVERY
Tanggung Jawab
PBM

Tanggung Jawab
Pemilik Barang/
EMKL

PUNGUTAN JASA PELAYANAN BARANG


1.
A.

KEGIATAN DI DERMAGA

2.
3.

B.

KEGIATAN PENUMPUKAN

Setiap barang yang di bongkar/dimuat dari atau ke kapal/tongkang yang


bertambat maupun tidak bertambat di tambatan yang lokasi kegiatannya
berada di dalam daerah lingkungan kerja atau daerah lingkungan
kepentingan pelabuhan.
Barang dari tongkang yang dimuat ke kapal yang sedang bertambat pada
tambatan tanpa melalui dermaga atau sebaliknya, dikenakan tarif pelayanan
jasa dermaga sebesar 50% dari tarif yang berlaku.
Barang yang sifatnya mengganggu dikenakan tambahan 50% dari tarif yang
berlaku sedang barang berbahaya dikenakan tambahan sebesar 100% dari
tarif yang berlaku.

1. BARANG YANG DI BONGKAR DARI KAPAL


(IMPOR DAN BONGKAR ANTAR PULAU)
Masa : Sampai dengan hari ke 5 dikenakan tarif pelayanan jasa
penumpukan 1 hari dari tarif yang berlaku dan hari ke 6 sampai
hari ke 10 di hitung perharinya sebesar tarif yang berlaku
Masa II : hari ke 11 dan seterusnya dihitung perharinya sebesar 200% dari
tarif yang berlaku.

2. BARANG YANG DI MUAT DARI KAPAL


(EKSPOR DAN MUAT ANTAR PULAU)
Masa : Sampai dengan hari ke 7 dikenakan tarif pelayanan jasa
penumpukan 1 hari dari tarif yang berlaku dan hari ke 8 sampai
hari ke 14 di hitung perharinya sebesar tarif yang berlaku
Masa II : hari ke 15 dan seterusnya dihitung perharinya sebesar 200% dari
tarif yang berlaku.

KINERJA PELAYANAN BARANG

BERTH THROUGHPUT

BTP = JUMLAH B/M MELALUI DERMAGA


PANJANG DERMAGA

SHED THROUGHPUT

STP = JUMLAH BARANG MELALUI GUDANG


LUAS GUDANG EFEKTIF

YARD THROUGHPUT

YTP = JUMLAH BARANG MELALUI LAPANGAN PENUMPUKAN


LUAS LAPANGAN PENUMPUKAN EFEKTIF

PERUSAHAAN BONGKAR MUAT (PBM)


Menurut
Keputusan
Menteri
Perhubungan RI Nomor KM 88/AL.
305/Phb 85 yang dimaksud dengan
Perusahaan Bongkar Muat (PBM)
barang adalah perusahaan yang
secara khusus berusaha di bidang
bongkar muat dari dan ke kapal
(stevedoring), baik dari dan ke
gudang Lini I (cargodoring) maupun
langsung ke alat angkutan.
Dalam pelaksanaanya PT Pelindo
juga melakukan pekerjaan bongkar
muat barang pada pelabuhan
khusus bersama dengan pemilik
atau
operator
pelabuhan
dari
dermaga khusus itu.

KEWENANGAN PERUSAHAAN
BONGKAR MUAT DI PELABUHAN

OPERASIONAL BONGKAR MUAT

Stevedoring;

adalah
kegiatan memuat dan membongkar
barang dari dan ke dermaga/kapal
dengan menggunakan peralatan
khusus, orang yang khusus memuat
barang dari dermaga ke kapal
disebut stevedore,
sedangkan
orang yang memuat dari kapal ke
truck atau didarat disebut stevedore
quay. Kegiatan yang masih masuk
dalam stevedoring antara lain :

OPERASIONAL BONGKAR MUAT


AKTIVITAS STEVEDORING :
Shifting, adalah memindahkan palka yang sama atau palka yang
berbeda lewat darat.
Lashing/unlashing, mengikat/melepas ikatan muatan.
Dunnaging, adalah memasang alat pemisah muatan.
Sweeping, mengumpulkan muatan yang tercecer.
Bagging/unbagging, memasukan/mengeluarkan muatan curah
dari/ke karung
Restowage, menyusun kembali muatan dalam palka.
Sorting, memilih/memisahkan muatan yang tercampur.
Trimming, meratakan muatan dalam kapal.
Cleaning, membersihkan kapal.
Opening/closing hatches, adalah kegiatan
membuka/menutup
palka kapal.
Rain-tent cover up, adalah kegiatan menutup palka dengan
menggunakan tenda/plastik ketika waktu hujan.

Giant crane

STEVEDORING

OPERASIONAL BONGKAR MUAT


Cargodoring, kegiatan
mengeluarkan barang/muatan
dari tali/jala-jala di dermaga
dan mengangkutnya ke
gudang/lapangan penumpukan
Lini I atau sebaliknya.
Kegiatan ini dapat dilakukan
secara konvensional maupun
dengan peralatan lain seperti
fork lift, factor penentu
kegiatan cargodoring dengan
forklif , adalah jarak tempuh,
kecepatan kendaraan dan
waktu yang tidak efektif karena
kebanyakan forklift sedangkan
barang yang akan dimuat dan
di bongkar tidak begitu banyak.

KEGIATAN CARGODORING LAINNYA


Longdistance,

adalah kegiatan memindahkan barang dari


samping kapal ke gudang. Dimana jarak penimbunan barang
melebihi 130 meter, untuk itu dikenakan biaya sebesar Rp.7.425,per ton/m3. Bila kegiatan tersebut menggunakan truk/trailer, maka
biaya angkutan menjadi beban pemilik barang berdasarkan actual
cost. Apabila telah dikenakan biaya angkutan truk/trailer maka
biaya cargodoring dikenakan sesuai biaya bongkar muat.

KEGIATAN CARGODORING LAINNYA


Overbregen,

adalah kegiatan
memindahkan barang dari gudang/
tempat penumpukan barang
ke
gudang lainnya, untuk barang
berbahaya
dan
mengganggu
(Dangerous Cargo), maka barang
tersebut harus di letakan pada
tempat khusus jauh dari gudang Lini
I dengan memperhatikan ketentuan
yang berlaku.
Untuk pekerjaan bongkar-muat
barang berbahaya ini, overbregen
dan kegiatan di gudang khusus,
untuk itu pemilik barang dikenakan
biaya sebagai berikut :

Biaya bongkar-muat disisi


kapal berdasarkan kegiatan
ship side delivery.
Biaya trucking.
Biaya Receiving / delivery di
gudang khusus.

KEGIATAN CARGODORING LAINNYA


Angkutan Bandar, adalah
kegiatan alat angkut untuk
memindahkan barang dari
kapal ke dermaga atau
sebaliknya dengan
menggunakan tongkang.

KEGIATAN CARGODORING LAINNYA

Receiving/delivery, adalah kegiatan


penerimaan dan penyerahan barang dari
gudang lapangan penumpukan barang
Lini I dan mengangkut sampai
penyusunannya di truck, dan ini
merupakan kegiatan terakhir dari
terminal operation.

DOKUMEN BONGKAR MUAT BARANG


1. Dokumen Pemuatan Barang.

Bill of Lading, merupakan tanda hak milik yang


memungkinkan barang bisa ditransfer dari shipping
kepada consignee atau dipindahtangankan kepihak
ketiga.
Cargo list (loading list), adalah daftar semua barang
yang dimuat dalam kapal.
Tally muat, adalah catatan barang yang dimuat di
atas kapal yang dicatat dalam tally sheet.
Mates Receipt, adalah tanda terima barang yang
akan dimuat di kapal, dibuat oleh agen kapal dan
ditandatangani oleh mualim kapal.
Stowage Plan, adalah gambar dan tata letak dan
susunan semua barang yang dimuat diatas kapal.

DOKUMEN BONGKAR MUAT BARANG


2. Dokumen Pembongkaran Barang.

a. Landing Order, adalah pemberitahuan dari agen


pelayaran kepada kapal tentang adanya perubahan
pelabuhan bongkar terhadap satu atau beberapa partai
barang dengan menyebutkan pelabuhan bongkar
sebelumnya dan pelabuhan bongkar seharusnya.
b. Tally Bongkar, pada waktu bongkar barang diadakan
pencatatan jumlah colli dan kondisinya yang dicatat pada
tally sheet bongkar yang ditandatangani oleh mualim
kapal.
c. Outturn Report, adalah kumpulan dari semua tally sheet
pada waktu dibongkar yang juga memuat catatan
terhadap kondisi barang yang dikelolanya.
d. Short and Over Landed List, adalah catatan tentang
kelebihan atau kekurangan barang yang dibongkar.

DOKUMEN BONGKAR MUAT BARANG


e. Demaged Cargo List, adalah catatan tentang kejadian
kerusakan barang akibat bongkar muat.
f. Cargo Tracer, adalah pemberiathuan kepada semua pihak
yang terkait tentang adanya kekurangan atau kelebihan
barang yang terjadi di pelabuhan pengirim.
g. Cargo Manifest, adalah keterangan rinci mengenai barangbarang yang diangkut oleh kapal. Dan ini merupakan
kumpulan dari semau Bill of Lading.
h. Special Cargo List, adalah daftar semua barang khusus
yang dimuat oleh kapal, misalnya barang barang yang
berbahaya, barang berharga atau barang yang
memerlukan penanganan khusus.
i. Dangerous Cargo List, adalah daftar muatan barang yang
berbahaya.
j. Hatch List, adalah rincian semua muatan yang ada dalam
palka.
k. Parcel List, adalah daftar tambahan yang memuat tentang
data barang titipan misalnya personal effect.

MENGHITUNG TARIF BONGKAR MUAT


Tarif Kegiatan Bongkar Muat Secara Ship Side Receiving/Delivery untuk Golongan Barang :
No

Golongan Barang
.

Stevedoring
(Rp)

Cargodoring
(Rp)

Rece/Delivery
(Rp)

Liner term
(Rp)

Fios Term (Rp)

Kelompok 1

3.903

4.395,75

2.745,75

7.141,50

11.044,50

Kelompok 2

3.036

3.431,25

2.143,50

5.574,75

8.610,75

Kelompok 3

2.732

3.093,75

1.932,75

5.026,50

7.758,50

Kelompok 4

2.484

2.817,75

1.760,25

4.578,00

7.062,00

Kelompok 5
Hewan/ternak/ekor

2.186

2.487,00

1.553,25

4.040,25

6.226,25

6.275,00
1.580,00

8.717,00
2.170,00

9.065,00
34.863,00
41.835,00
89.248,00

12.591,00
48.419,00
58.106,00
123.955,00

a.Sapi, kuda, kerbau.


b. Domba, Kambing, Babi.
7

Mobil/ unit.
a.
b.
c.
d.

Sepeda motor.
Mobil.
Truck/bus.
Back Hoe/tractor dll

Keterangan :
1. Kelompok 1
2. Kelompok 2
3. Kelompok 3
4. Kelompok 4
5. Kelompok 5

:
:
:
:
:

Ikan beku, kaca, roll paper, tissue paper dlsb.


Curah cair dalam drum, keramik, tiang pancang dlsb.
Curah kering, rotan, dlsb.
Bag cargo dan Jumbo cargo.
Steel bar, steel plate dlsb.

MENGHITUNG TARIF BONGKAR MUAT


Sedangkan disamping tarif barang tersebut diatas untuk pelaksanaan bongkar
muat di pelabuhan diatur dengan keputusan Meteri Perhubungan no.Km 57
tahun 1991 tanggal 22 Juli 1991, bahwa tariff bongkar muat tersebut ditentukan
sebagai rumus sebagai berikut :

F(W + H + I + K ) + (S + M + A)
P

Keterangan :
T
= Besarnya tariff bongkar muat
F
= Faktor koefisien.
W = Upah tenaga kerja bongkar muat.
H
= Kesejahteraan tenaga kerja bongkar muat.
I
= Asuransi
K
= Administrasi keperasi tenaga kerja bongkar muat.
S
= Supervisi.
M = Alat bongkar muat
A
= Administrasi perusahaan bongkar muat.
P
= Produktivitas kerja bongkar muat/gilir kerja/Derek kapal

KEPUTUSAN DIREKSI PT (Persero) PELABUHAN INDONESIA II


NOMOR :

HK.56 / 2 / 3/ PI.II-2000
TENTANG

TARIF PELAYANAN JASA BARANG


DI LINGKUNGAN PT (Persero) PELABUHAN INDONESIA II
DITETAPKAN DI
PADA TANGGAL

:
:

JAKARTA
31 MEI 2000

DIREKSI PT (Persero) PELABUHAN INDONESIA II


DIREKTUR UTAMA

HERMAN PRAYITNO
NIPP. 247091665

TENAGA KERJA BONGKAR MUAT


Tenaga Organik :
1). Bongkar muat non mekanis (Labour intensive)
Steve doring terdiri dari 12 orang
Cargodoring teriri dari 24 orang.
Receiving/delivery terdiri dari 12 orang.
2). Bongkar muat alat mekanik
Stevedoring terdiri dari 12 orang.
Cargodoring terdiri dari 12 orang
Receiving/delivery terdiri dari 6 orang
3). Bongkar muat untuk barang palletisasi :
Stevedoring terdiri dari 12 orang
Cargodoring terdiri dari 6 orang
Receiving/delivery terdiri dari 6 orang

Tenaga Buruh Pelabuhan :


Besar kecilnya beban buruh ini
tergantung dari besarnya tonnage yang
dikerjakan, kapasitas gang/hour dan
waktu yang hilang ketika bekerja (lost
time).

Tenaga Kerja Bongkar Muat

VARIABEL BIAYA BURUH PELABUHAN


1. Menentukan jenis muatan yang di kerjakan.
2. Menentukan jumlah buruh yang digunakan dalam satu unit
kerja.
3. Menentukan kapasitas per gang/hour.
4. Memperhitungkan lost time.
5. Cuaca waktu bongkar muat.
6. Jarak dari tempat bongkar/muat dan tempat penumpukan
barang.
7. Peralatan pengangkutan yang ada.
8. Peraturan setempat.

SEE YOU
NEXT WEEK

Be success on your mid test