Anda di halaman 1dari 48

chemistrychemistrychemistryc

hemistrychemistrychemistrych
emistrychemistrychemistryche
mistrychemistrychemistryche
MODUL KIMIA BIMBEL PASTI
SBMPTN 2016
mistrychemistrychemistryche
mistrychemistrychemistryche
mistrychemistrychemistryche
mistrychemistrychemistryche
mistrychemistrychemistryche
mistrychemistrychemistruche
mistrychemistrychemistryche
mistrychemistrychemistryche
mistrychemistrychemistryche
mistrychemistrychemistryche
mistrychemistrychemistryche
RIZA LISTIANA SUDRAJAT

KATA PENGANTAR
Modul dengan judul Modul Kimia Bimbel Pasti SBMPTN 2016 ini bertujuan untuk
memberikan kemudahan para peserta Bimbel Pasti dalam belajar untuk persiapan ujian
SBMPTN 2016
Pada saat pembuatan Modul ini penyusun mendapatkan kendala berupa waktu
pengerjaan yang dirasa cukup singkat, mengingat penyusun merupakan mahasiswa yang
memiliki jadwal kuliah yang cukup padat. Sehingga untuk hasilnya tidak begitu maksimal.
Walaupun begitu, dengan semangat yang tinggi, penyusun dapat menyelesaikan modul ini
tepat pada waktunya.
Rasa syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT karena atas izin dan rido-Nya
penyusun dapat menyelesaikan modul ini. Pada kesempatan ini pula ucapan terima kasih,
penyusun ucapkan untuk Ibunda dan Ayahanda tercinta yang selalu menjadi penyemangat
dalam setiap kegiatan yang penyusun lakukan, tak lupa ucapan terima kasih kepada Bapak
Abdul Gani yang telah memberikan inspirasi kepada penyusun. Serta ucapan terima kasih
kepada segenap keluarga BIMBEL PASTI 2016 yang selalu memberikan semangat satu sama
lain, tetap dijaga dan ditingkatkan lagi kekompakkannya. Ucapan terima kasih pula kepada
para peserta BIMBEL PASTI 2016 yang selalu semangat mengikuti program ini, ingat! selalu
ikhtiar, ikhlas, diiringi doa serta selalu ceria yaa
Tak ada gading yang tak retak, tak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini, karena
kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Begitu pula dengan modul ini jauh dari sempurna,
banyak terdapat kekurangan dan kesalahan. Kritik dan saran sangat penyusun harapkan untuk
memperbaiki Modul berikutnya. Sebuah harapan, semoga modul ini dapat bermanfaat.

Bogor,

April 2016

Penyusun,

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 1

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ..............................................................................................

DAFTAR ISI.............................................................................................................

ii

STRUKTUR ATOM, SISTEM PERIODIK UNSUR DAN IKATAN KIMIA ..

STOIKHIOMETRI..................................................................................................

THERMOKIMIA ....................................................................................................

15

LAJU REAKSI .........................................................................................................

19

KESETIMBANGAN KIMIA ..................................................................................

22

KIMIA LARUTAN ..................................................................................................

25

REDOKS DAN ELEKTROKIMIA .......................................................................

33

KIMIA UNSUR ........................................................................................................

37

KIMIA KARBON ....................................................................................................

41

KIMIA INTI .............................................................................................................

47

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 2

BAB I STRUKTUR ATOM, SISTEM PERIODIK UNSUR DAN IKATAN


KIMIA
A. STRUKTUR ATOM
1. Partikel Dasar Penyusun Atom
Partikel penyususun atom adalah partikel-partikel utama yang menyusun suatu
atom yaitu elektron, proton dan neutron.
Partikel
Elektron

Massa (sma)

Muatan
-1

Lambing
e

Kedudukan
Di luar inti

Proton
Neutron

1
1

+1
0

p
n

Di dalam inti
Di dalam inti

2. Lambang Atom
X = Lambang atom suatu unsur
A = Massa atom = jumlah proton + jumlah elektron
Z = Nomor atom =jumlah proton = jumlah elektron
Untuk atom netral A = jumlah proton = jumlah
elektron
Untuk ion A tidak sama dengan jumlah elektron
Contoh : 11Na23 A = 11 (jumlah prtoton = jumlah elektron)
Z = 23 (Massa atom Na)
Neutron = Z A = 12
+
11Na

A = 11 (jumlah proton)
Z = 23 (Massa atom Na)
Neutron = Z A = 12
Elektron = 11 -1 = 10

3. Bilangan kuantum
Bilangan kuantum menunjukkan kedudukan elektron dalam atom. Ada 4 jenis
bilangan kuantum :
a. BK Utama (n)
n menunjukkan letak elektron pada tingkat energi/kulit atom
Nilai n
Kulit

1
K

2
L

3
M

4
N

5
O

6
P

7
Q

b. BK Azimut (l)
l menyatakan letak lektron pada subkulit atom. Nilai l = 0,1,2,.(n-1)
Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 3

Nilai l
subkulit

0
s

1
p

2
d

3
f

c. BK magnetic (m)
m menunjukkan orientasi orbital dalam ruangan dan juga menunjukkan
banyaknya orbital pada subkulit.
Nilai m : -l s.d. +l
Subkulit s 1 orbital yaitu m =0
Subkulit p 3 orbital yaitu m = -1,0,+1
Subkulit d 5 orbital yaitu m = -2,-1,0,+1,+2
Subkulit f 7 orbital yaitu m = -3,-2,-1,0,+1,+2,+3
Orbital biasanya digambarkan dengan kotak
s
p

d. BK Spin (s)
Menunjukkan arah putaran elektron dalam orbital
Nilai s = +
Nilai s = -

4. Konfigurasi Elektron
Untuk menuliskan susunan elektron dalam atom perlu mengikuti aturan sebagai
berikut:
a. Aturan Aufbau
Merupakan pengisian elektron dimulai dari tingkat energi yang paling rendah
ke tingkat energi yang paling tinggi, sesuai dengan bagan berikut:

b. Aturan Hund
Bila terdapat lebih dari satu orbital pada tingkat energi tertentu, hanya satu
elektron yang akan mengisi tiap orbital samapai setiap orbital terisi oleh satu
elektron; kemudian elektron akan mulai membentuk pasangan pada setiap
orbital tadi.
Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 4

.
1s

.
2s

. . .
2p

c. Laragan Pauli
Tidak ada dua elektron yang memiliki keempat bilangan kuantum sama dalam
orbital yang sama.
Contoh : tentukan konfigurasi elektron dari O8 !
Jawab :
O8 = 1S2 2S2 2P4
B. SISTEM PERIODIK UNSUR
Dengan membuat konfigurasi elektron, elektron valensi suatu unsur ditentukan.
Elektron valensi adalah jumlah elektron pada kulit terluar. Berdasarkan konfigurasi
elektron, unsur-unsur dikelompokkan ke dalam :

Blok s : kelompok unsur yang memiliki elektron valensi pada subkulit s


Blok p : kelompok unsur yang memiliki elektron valensi pada subkulit p
Blok d : kelompok unsur yang memiliki elektron valensi pada subkulit d
Blok f : kelompok unsur yang memiliki elektron valensi pada subkulit f

1. Sifat-sifat Periodik
Energi Ionisasi
Afinitas Elektron
Elektronegatifitas
Oksidator
Reduktor

Asam
Basa
Jari-jari
Logam

2. Meramalkan Letak Unsur Dalam Tabel Periodik


GOLONGAN

PERIODE

Sesuai dengan elektron valensi:


Subkulit s dan p golongan A
Subkulit d golongan B
Subkulit f golongan lantanida/aktinida
Kulit terluar (jumlah kulit) yang telah terisi electron

Contoh : Tentukan letak unsur Fe (nomor atom 26) dalam tabel periodik unsur
Jawab :
26Fe

= 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d6

Golongan = B (karema diakhiri oleh subkulit d)


Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 5

VIII (karena elektron s+d = 8)


Peride = 4 (karena kulit terbesarnya 4)
C. IKATAN KIMIA
A. Ikatan dalam Molekul (intermolekul)
Ikatan ion
Ikatan kimia yang terjadi karena ada serah terima elektron antar atom.
Ikatan ini terbentuk antara:
- Ion positif dengan ion negative
- Unsur logam dan non logam
Contoh : NaCl, MgCl2
Sifat-sifat senyawa ionik :
a.
b.
c.
d.

Bila cair menghantarkan listrik


Titik leleh dan titik didihnya tinggi
Larut dalam pelarut polar
Keras tapi rapuh

Ikatan Kovalen
Ikatan kimia yang terjadi melalui penggunaan elktron bersama. Ikatan
kovalen terjadi antara unsur non logam dengan non logam.
Pembagian ikatan kovalen :
a. Ikatan kovalen nonpolar
Ciri :
Atom pusat tidak memiliki pasangan elektron bebas (PEB)
Bentuknya simetris karena pasangan elektron ikat (PEI) tertarik sama
kuat
Mengandung jenis atom yang sama
Contoh : H2, Cl2, Br2, O2, CO2
b. Ikatan kovalen polar
Ciri :
Atom pusat memiliki pasangan elektron bebas (PEB)
Bentuknya tidak simetris karena pasangan elektron ikat (PEI) tertarik
tidak sama kuat
Contoh : HCl dan H2O
c. Ikatan kovalen koordinasi
Terjadi melalui penggunaan pasangan elektron yang berasal hanya dari salah
satu unsur yang memiliki pasangan lektron bebas
Contoh :
NH3 + H+ [NH4]+
Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 6

sifat-sifat senyawa kovalen :


a. Senyawa kovalen polar dapat menghantarkan listrik
b. Senyawa kovalen nonpolar tidak dapat menghantarkan listrik
c. Titik leleh dan titik didih relative rendah dibandingkan senyawa ionic
Contoh :
Jika unsur 12X berikatan dengan unsur 17Y, maka bagaimana senyawa yang
terbentuk dan apa jenis ikatan yang terjadi adalah
Jawab :
12X

= 1s2 2s2 2p6 3s2

Elektron valensinya 2, untuk menjadi stabil akan melepas 2 elektron sehingga


akan menjadi X2+
17Y

= 1s2 2s2 2p6 3s2 3p5

Elektron valensinya 7, untuk menjadi stabil akan menangkap 1 elektron


sehingga menjadi Y-1
X2+ + Y-1 akan menjadi XY2 dan ikatannya ikatan ionic karen ada pelepasan
dan penangkapan elektron.
B. Ikatan Antar Molekul
Ikatan-ikatan
wals

Van

Ikatan hydrogen

Ikatan logam

der Gaya dipol-dipol

Terjadi antara molekulmolekul polar


Gaya dipol sesaat
Terjadi antara molekulpolar dengan molekul
nonpolar
Gaya london
Terjadi antara molekulmolekul nonpolar
Terjadi antar molekul, HF, H2O, NH3
yang H terikat pada
N/O/F
Terjadi antar atom logam Membentuk
larutan
elkektron

Kekuatan ikatan :

Gaya dipol-dipol>gaya dipol sesaat>gaya London


Ikatan hydrogen>ikatan van der wals

Contoh :
Manakah diantara senyawa berikut yang mempunyai titik didih lebih tinggi ? jelaskan
!
Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 7

a. Br2 dan ICl

b. CO2 dan SO2

Jawab :
1. Br2 adalah senyawa nonpolar sehingga ikatan yang terjadi anatara molekul adalah
gaya London dan ICl adalah senyawa polar jadi ikatan antar molekul ICl adalah
gaya dipol-dipol. Gaya dipol-dipol lebih kuat disbanding gaya londn sehingga titik
didih ICl lebih tinggi dibandingkan Br2.
2. CO2 adalah senyawa nonpolar sehingga ikatan yang terjadi antar molekul CO2
adalah gaya London dan SO2 adalah senyawa polar jadi ikatan antar molekul SO2
adalah gaya dipol-dipol. Gaya dipol-dipol lebih kuat dibandingkan gaya London
sehingga titik didih yang lebih tinggi dibandingkan CO2.

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 8

BAB II STOIKHIOMETRI
1. Massa Atom Relatif (Ar) dan Massa Molekul Relatf (Mr)
Massa atom relative (Ar) suatu unsur adalah perbandingan massa satu atom
unsur tersebut dengan

x massa satu atom isotope karbon-12 (12C). Secara

matematis dapat dinyatakan dengan persamaan :

Ar unsur X=

Massa Molekul relative (Mr) suatu senyawa adalah perbandingan massa satu
molekul senyawa tersebut dengan

x massa satu atom isotope karbon-12

(12C). Secara matematis dapat dinyatakan dengan persamaan :

Mr senyawa Y =

Jika dalam suatu senyawa terdapat beberapa unsur yang menyusun senyawa
tersebut, maka diperoleh hubungan :
Mr suatu senyawa = jumlah Ar unsur-unsur penyusun senyawa tersebut
2. Konsep Mol
Hubungan mol dengan Ar dan Mr
1 mol unsur X = Ar unsur X
(dalam satu gram)
1 mol senyawa Y = Mr senyawa Y (dalam satu gram)
Secara umum dapat dituliskan :

mol =

Hubungan mol dengan jumlah partikel


1 mol unsur X = 6,02 x 1023 Butir atom
1 mol senyawa Y = 6,02 x 1023 butir molekul
6,02 x 1023 = Bilangan Avogadro (L)
Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 9

Jadi :
Jumlah partikel = jumlah mol x 6,02 x 1023

Jumlah mol =

Hubungan mol dengan Volume pada STP (0C, 1 atm)


Volume zat X = 22,4 X mol zat X

mol zat X =

PETA RUMUS KONSEP MOL


X 22,4 L
X Mr
JUMLAH MOL

VOLUME
(STP)

: 22,4 L

X
L

MASSA
(GRAM)

:
Mr

:L

JUMLAH
PARTIKEL

3. Hukum-hukum Dasar Ilmu Kimia


Hukum Kekekalan Massa (Lavoisier)
jumlah massa zat-zat sebelum reaksi adalah sama denganjumlah massa zatzat sesudah reaksi
Contoh :

C(g)

12 gram

O2 (g)

CO2 (g)

32 gram

44 gram

Hokum Perbandingan Tetap (Proust)


perbandingan massa unsur-unsur dalam suatu senyawa slelau tetap

Contoh:
Dalam senyawa AmBn berlaku :

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 10

1. Massa A : massa B = (mx Ar unsur A) : (nx Ar unsur B)


2. %A =

x100%

dan

%B =

3. Massa A =

x massa AmBn

Massa B =

x massa AmBn

X100%

Hukum Perbandingan Berganda (Dalton)


jika unsur A dan B dapat membentuk lebih dari satu macam persenyawaan,
unsur massa A yang tetap (sama) maka massa B dalam senyawanya
berbanding sebagai bilangan bulat sederhana.
Hokum Dalton diatas berlaku jika memenuhi syarat berikut :
1. Massa salah satu unsur pembentuk senyawa tersebut harus tetap (sama)
2. Jenis unsur pembentuk senyawanya harus sama

Hokum perbandingan Volume (Gay-Lusac)


volume gas-gas yang bereaksi dan volume gas-gas hasil reaksi, jika diukur
pada suhu dan tekanan yang sama, akan berbanding sebagai bilangan bulat dan
sederhana.
Contoh : 2 H2(g)
+ O2(g)
2H2O(g)
2 vol
1 vol
2 vol

Hipotesis Avogadro
gas-gas yang volumenya sama, jika diukur pada suhu dan tekanan yang sama,
mengandung jumlah molekul yang sama pula

Persamaan Gas Ideal


P.V = n.R.T
dengan P = tekanan (atm)
R = konstanta gas (0,082)
V = volume (liter)
T = suhu (Kelvin)
n= mol
Berdasarkan Hukum Gay-Lusac untuk gas, dapat diturunkan rumus :
=

Berdasarkan Hipotesis Avogadro untuk gas, dapat diturunkan rumus :


n1 = n2
Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 11

Hukum Boyle
pada suhu tetap, hasil kali tekanan dan volume suatu gas selalu tetap
(konstan).
Secara matematis dapat dirumuskan :
P.V = konstan
atau
P1.V1 = P2.V2 =

Hukum Boyle Gay Lussac


Digunakan untuk menghitung volume gas diluar keadaan
PersamaanHukum Boyle Gay Lussac dinyatakan dengan rumus :

standar.

Hukum Dalton tentang Tekanan Parsial Gas


tekanan total dari campuran berbagai macam gas sama dengan jumlah
tekanan parsial dari masing-masing gas yang saling bercampur tersebut.
Ptotat = P1+ P2 + P3 + P4 +

4. Konsentrasi Molar
Konsentrasi Molar (Molaritas) adalah satuan konsentrasi zat yang dinyatakan
dalam jumlah mol zat terlarut dalam setiap satu liter larutan. Secara sistematis
dapat dinyatakan dengan rumus:
M =molaritas (mol/L)
n = mol zat terlarut (mol)
M=
V = Volume larutan (liter)

Jika volume larutan dinyatakan dalam Ml, maka persamaan diatas dapat
dirumuskan dengan :
M=

Jika dilakukan pengenceran pada larutan, maka berlaku ketentuan :


mol zat terlarut sebelum pengenceran = mol zat terlarut setelah pengenceran
Secara sistematis dapat dirumuskan :

n1= n2

atau

M1.V1 = M2.V2

Pada reaksi penetralan asam dan basa, berlaku ketentuan :


Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 12

nA = nB

atau

MA.VA = MB.VB

5. Persamaan Reaksi
Cara menyetarakan persamaan reaksi yang kompleks adalah sebagai berikut.
Contoh :
a Cu
+ b HNO3
C Cu(NO3)2
+ d NO2
+ e H2O
Jenis Atom
Sebelum reaksi
Setelah reaksi
Persamaan
Cu
a
C
a=c
H
b
2e
b=2e
N
b
2c+d
b=2c+d
O
3b
6c+2d+e
3b=6c+2d+e
Persamaan pada tabel di atas dapat diselesaikan dengan cara memisahkan a,b,c,d,
atau e dengan suatu bilangan bulat dan sederhana, misak a= 1
6. Hitungan Kimia
Rumus Empiris (RE)
Rumus empiris suatu senyawa diperoleh berdasarkan perbandingan mol unsurunsur pembentuknya
Rumus Molekum (RM)
Rumus molekul suatu zat diperoleh berdasarkan rumus (RE)n = Mr
Langkah-langkah perhitungan:
a. Kumpulkan data, kemudian rubah ke mol
b. Buat reaksi dan setarakan
c. Bandingkan data dengan koefisien
d. Perhitungan sesuai degan soal
Contoh Soal 1 :
Gas amoniak (NH3) dapat dihasilkan melalui persamaan berikut :
(NH4)2SO4 + 2KOH 2 NH3 +2H2O + K2SO4
Reaksi berlangsung pada 0C, 1 atm. Berpa volume gas NH3 yang dihasilkan
jika direaksikan 33 gram (NH4)2SO4 (Mr = 132)
Jawab :
Langkah 1 : kumpulkan data dan rubah ke mol
Mol (NH4)2SO4 = w / Mr = 33 g/132 g/mol = 0,25 mol
Langkah 2 : setarakan reaksi dan cari pereaksi pembatas
Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 13

(NH4)2SO4 + 2KOH 2 NH3 +2H2O + K2SO4


Reaksi di atas sudah setara dan hanya satu data yang diketahui yaitu (NH4)2SO4
sehingga tidak perlu dicari pereaksi pembatas.
Langkah 3: cari mol zat yang ditanya dengan perbandingan koefisien
Zat yang ditanya datanya

= NH3

Zat yang diketahui datanya = (NH4)2SO4


Mol NH3 =

x mol (NH4)2SO4

= x 0,25 mol = 0,5 mol

Langkah 4 : perhitungan sesuai soal


Yang ditanya V NH3 dalam STP
V NH3 = n x 22,4 = 0,5 X 22,4 L = 11,2 L

Contoh Soal 2 :
Suatu hidrokarbon diketahui mengandung 80% karbon dan sisanya hydrogen.
Tentukan :
a. Rumus empiris hidrokarbon tersebut
b. Jika hidrokarbon tersebut memiliki Mr 30
Jawab :
a. CxHy

x:y
wC/Ar C : wH/Ar H
80/12
: 20/1
6,7: 20
1:3
Sehingga rumus empiris CxHy = CH3

b.(RE)n = Mr
(15)n = 30
n = 30/15
n=2
(CH3)n = (CH3)2
Rumus molekulnya adalah C2H6

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 14

BAB III THERMOKIMIA


Thermokimia adalah bagian ilmu kimia yang mempelajari perubahan kalor dalam suatu
system kimia yang disertai reaksi kimia.
1. Asas Kekekalan Energi
Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, energi hanya dapat berubah
bentuk dari satu bentuk energi menjadi bentuk energi lainnya.
Kalor reaksi didefinisikan sebagai kalor yang dibutuhkan atau dilepaskan pada
reaksi kimia. Kalor reaksi yang diukur pada tekanan tetap dinyatakan sebagai
H (Perubahan entalpi)
H = H produk H pereaksi

a. Reaksi Eksoterm (pelepasan)


Merupakan reaksi yang disertai dengan pelepasan kalor ke lingkungan.
Pada reaksi eksoterm, entalpi produk lebih kecil dibandingkan dengan
entalpi reaktan sehingga perubahan entalpinya negatif (H < 0).
Persamaan termokimianya dapat ditunjukkan dengan contoh reaksi tesebut
:
C(S) + O2(g) CO2(g) ;
H = -393,52 kJ
b. Reaksi Endoterm (Penyerapan)
Merupakan reaksi yang disertai dengan penyerapan kalor dari lingkungan.
Pada reaksi endoterm, entalpi produk lebih besar dibandingkan dengan
entalpi sehingga perubahan entalpinya positif (H > 0).
Persamaan termokimianya dapat ditunjukkan dengan contoh reaksi berikut
:
N2(S) + 2O2(g) 2 NO2(g) ;
H = +66,4 kJ
c. Macam-macam Kalor Reaksi
Kalor Pembentukan Standar (Hf)
Merupakan kalor yang diserap atau dilepaskan pada pembentukan
1 mol senyawa dari unsur-unsurnya dalam keadaan satandar.
Contoh : C(S) + O2(g) CO2(g) ;
H = -393,52 kJ/mol

Kalor penguraian standar (Hd)


Kalor penguraian standar adalah kalor yang diserap atau dilepaskan
pada penguraian 1 mol senyawa menjadi unsur-unsurnya dalam
keadaan standar.

Contoh : NH3(g) N2(g) + H2(g) ;


Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

H = +265,5 kJ/mol
Page 15

Kalor Pembakaran Standar (Hc)


Merupakan kalor yang dilepaskan pada pembakaran 1 mol suatu
zat dengan oksigen.

Contoh : CH4(g) + 2O2 (g) CO2(g) + 2H2O(l) ; H = -890 kJ/mol

Kalor Netralisasi Standar (Hn)


Merupakan kalor yang dilepaskan pada penetralan 1 mol ion H+
dari asam dengan 1 mol ion OH- dari basa.

Contoh : NaOH(aq) +HCl(aq) NaCl(aq) +H2O(l) ;H = -57,36 kJ/mol


2. Perhitungan Termokimia
Soal-soal hitungan termokimia dapat diselesaikan dengan menggunakan hokum
Laplace-Lavoisier dan Hukum Hess.
a. Hukum Laplace-Lavoisier
Pada suatu reaksi reversible, perubahan entalpi untuk reaksi maju sama dengan
perubahan entalpi untuk reaksi balik, tetapi tandanya berlawanan.
Contoh : H2(g) + I2(g) 2HI(g);
H = -107,3 kJ
2 HI(g) H2(g) + I2(g) ;
H = +107,2 kJ
b. Hukum Hess
Perubahan entalpi pada suatu reaksi tertentu hanya ditentukan oleh keadaan awal
dan keadaan akhir reaksi dan tidak bergantung pada banyknya tahapan reaksi yang
ditempuh.
Contoh :
Reaksi 1 : S(s) + O2(g) SO2 (g)
H = -297 kJ
Reaksi 2 : 2S (S) + O2(g) 2SO3 (g)
H = -781 kJ
Tentukan H untuk reaksi 2SO2(g) +O2(g) 2SO3(g)
Jawab :
Reaksi 1 (dibalik dan dikali 2): 2SO2 (g) 2S(s) + 2O2(g) H =-297x2 kJ
Reaksi 2 (tidak berubah): 2S (S) + O2(g) 2SO3 (g)
H = -781 kJ +
2S (S) + O2(g) 2SO3 (g)
H = -187 kJ

c. Energi Ikatan Rata-rata


Merupakan energi yang diperlukan untuk memutuskan ikatan dari satu mol
tersebut.
Pada suatu persamaan termokimia. Jika zat-zat yang dilibatkan dalam
persamaan reaksi tersebut diketahui energi ikatan zat rata-ratanya, maka entalpi
dapat dihitung dengan persamaan :
Hr = (energi ikatan pereaksi) (energi ikatan produk)
Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 16

Contoh : diketahui data energi ikatan adalah sebagai berikut.


H-H = 435 kJ/mol
Cl-Cl = 242 kJ/mol
H-Cl = 431 kJ/mol
Tentukan H untuk reaksi H2 + Cl2 2HCl
Jawab :
(energi ikatan produk) = 2x(H-Cl) = 2x 431 = 861 kJ/mol
(energi ikatan pereaksi)= 1x(H-H) + 1x(Cl-Cl)
= (1x435) + (1x242) = 677 kJ/mol
Hr = (energi ikatan pereaksi) (energi ikatan produk)
= 677 861 = -185 kJ/mol
d. Entalpi Pembentukan Standar (Hf)
Penentuan H reaksi berdasarkan (Hf)dapat menggunakan rumus berikut :
Hr = (Hf)produk (Hf)pereaksi
Contoh :
Diketahui entalpi pembentukan standar dari C2H6 (g), CO2(g) dan H2O(g) berturutturut adalah -85 kj/mol, -394 kj/mol, dan -286 kJ/mol. Tentukaan kalor yang
dilepaskan untuk membakar 1 mol C2H6(g)
Jawab
:
Persamaan reaksi pembakaran C2H6 :
C2H6(g) + 7/2O2(g) 2CO2(g) +3H2O(g)
Hr = (Hf)produk (Hf)pereaksi
= 2x-394 + 3x -286) (1x -85 + 0)
= (-788 + -858) +85 = -1561 kJ/mol
e. Kalorimeter
Penentuan panas reaksi berdasarkan azas Black (q lepas = - q terima). Penentuan
entalpi dengan kalorimetri dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut.
q = m.c.T
Keterangan : q = jumlah kalor
m = massa larutan
c = kalor jenis larutan = kalor jenis air = 4,2 J/gC
T = Perubahan suhu (C)

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 17

Contoh :
Jika 10 gram larutan NaOH (Mr=40) dilarutkan ke dalam 100 gram air. Setelah
semua NaOH larut suhu larutan naik dari 25C menjadi 26C. Hitung H
pelarutan NaOH tersebut.
Jawab :
q = m.c.T
= (100+10) X 4,2 X 1=
Mol NaOH = w/Mr = 10/40 = mol
H pelarutan NaOH = q/mol
= 459,8 J/1/4 mol = 1839,2 J/mol = 1,84 kJ/mol
Karena suhu reaksi naik maka reaksi adalah eksoterm sehingga
H = -1.8392 kJ/mol

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 18

BAB IV LAJU REAKSI


1. Definisi Laju Reaksi
Laju reaksi didefinisikan sebagai pengurangan konsentrasi pereaksi tiap satuan waktu
atau pertambahan konsentrasi hasil reaksi tiap satuan waktu.
Pada reaksi A B ; Laju reaksi didefinisikan sebagai :
a. Berkurangnya konsentrasi A tiap satuan waktu, atau
b. Bertambahnya konsentrasi B tiap satuan waktu

VA= -

VB= +

a. Ungkapan Laju Reaksi


Untuk persamaan reaksi : 2A + B2 2AB
Laju reaksi berdasarkan A : Laju reaksi berdasarkan B2 : Laju reaksi berdasarkan AB : +
Hubungan ketiganya dinyatakan oleh ungkapan :

=+

VA = 2VB2 = VAB

b. Rumusan Kecepatan Reaksi


Perhatikan persamaan reaksi berikut : 2A + B2 2AB
Persamaan laju reaksinya dinyatakan dalam perumusan :
V = k [A]X [B2]Y

Keterangan : V = Laju reaksi


k = tetapan laju reaksi
[] = konsentrasi molar
x = orde/tingkat reaksi terhadap A
y = orde/tingkat reaksi terhadap B
x+y = orde reaksi total

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 19

Rumus laju reaksi tidak dapat ditentukan langsung dari persamaan reaksinya, sebab
rumus laju reaksi semata-mata ditentukan berdasarkan hasil eksperimen.
Contoh : diketahui data hasil percobaan berikut.
No
1

[A]

[B2]

0,50

0,50

V (mol/det)
1,6 x 10-4

0,50

1,00

3,2 x 10-4

1,00

1,00

3,2 x 10-4

Tentukan :
a. orde reaksi terhadap A
b. Orde reaksi terhadap B2
c. Tulislah rumus laju reaksinya
Jawab :
Rumus umum : V=k[A]x [B]y
a. X ditentukan berdasarkan konsentrasi B2 yang tetap yaitu data 2 dan 3, maka:
=
1

=(

=(

x=0

Jadi terhadap A adalah orde reaksi ke-0


Pada reaksi orde nol pembesaran ataupun pengecilan konsentrasi tidak
memengaruhi laju reaksi.
b. Y ditentukan selain data 2 dan 3, misal data 1 dan 2 maka:
=
() = (

y= 1

Jadi terhadap B2 reaksi orde ke-1


c. Rumus laju reaksinya : V = k [A]0 [B2]
V = k [B2]

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 20

2. Faktor-faktor yang Memengaruhi Laju Reaksi


a. Suhu
Umumnya pada suhu tinggi reaksi akan berlangsung lebih cepat.
Jika untuk setiap kenaikan suhu 10C reaksi berlangsung 2 lebih cepat. Maka
berlaku rumus :
Vt = V0 2

Keterangan : Vt = kecepatan reaksi pada suhu t


V0 = kecepatan reaksi awal
2= koefisien suhu
= perubahan suhu (tt-t0)
Jika untuk setiap kenaikan suhu 15C reaksi berlangsung 3 lebih cepat. Maka
berlaku rumus :
Vt = V0 3

Keterangan : Vt = kecepatan reaksi pada suhu t


V0 = kecepatan reaksi awal
3= koefisien suhu
= perubahan suhu (tt-t0)
b. Katalis
Katalis positif disebut katalisator, fungsinya mempercepat reaksi dengan cara
menurunkan energi pengaktifan.
c. Konsentrasi
Konsentrasi molar menyatakan mol zat terlarut dalam setiap liter larutannya.
Umumnya pada konsentrasi yang besar, reaksi akan berlangsung makin cepat,
sebab jumlah tumbukan efektif antar molekul pereaksi semakin banyak.
Tumbukan yang tidak efektif adalah tumbukan yang tidak menghasilkan reaksi,
sebab posisinya tidak tepat dan energinya tidak cukup.
d. Luas permukaan zat
Semakin besar luas permukaan maka laju reaksi akan semakin cepat. Zat yang
berbentuk serbuk akan mempunyai permukaan yang lebih luas dibandingkan
dengan zat yang berbentuk serpihan/bongkahan sehingga zat yang berbentuk
serbuk akan lebih cepat bereaksi dibandingkan dengan serpihan/bongkahan.

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 21

BAB V KESETIMBANGAN KIMIA


1. Keadaan Kesetimbangan
Kesetimbangan kimia tercapai jika kecepatan reaksi maju = kecepatan reaksi balik.
Setelah tercapai kesetimbangan, reaksi tidak berhenti tetapi terus berlangsung dalam
dua arah yang berlawanan dengan kecepatan yang sama. Kesetimbangan demikian
disebut kesetimbangan dinamis.
2. Hukum Kesetimbangan (Hukum Guldberg-Waage)
Untuk reaksi kesetimbangan : mA + nB pC + qd
Hukum kesetimbangan dinyatakan sebagai :
Kc =

Kc =tetapan kesetimbangan berdasarkan konsentrasi molar


[A], [B], [C], [D] = konsentrasi zat dalam kesetimbangan.
Harga K tetap pada suhu tetap.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perhitungan K:
a. Zat yang mampat (masif) atau padat diabaikan
b. Bila reaksi dibalik : K = 1/K
Bila reaksi dijumlah : K = K1 +K2
Bila reaksi dikali n : K = Kn
Bila reaksi dikali 1/n : K = K1/n
c. Derajat disosiasi () = mol terurai /mol mula-mula
Contoh 1 :
Tuliskan Rumus Kc untuk :
a. N2 (g) + 3H2(g) 2NH3 (g)
b. CaCO3(S) CaO(s) + CO2(g)
Jawab :
a. Kc =

b. Kc= [CO2]

Untuk reaksi kesetimbangan gas, harga K dinyatakan sebagai Kp


Kp =

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 22

Kp = ketetapan kesetimbangan berdasarkan tekanan parsial gas-gas bereaksi. PA, PB,


PC, PD = tekanan pasrial gas-gas A,B,C,D dalam kesetimbangan.
PA =

x Ptotal

Hubungan Kp dan Kc :
Kp = Kc RT(p+q)-(m+n)

Kp = Kc. (R.T)n

3. Pergeseran Kesetimbangan
Azas Le Chatelier :
jika terhadap suatu system kesetimbangan diadakan aksi, maka system
kesetimbangan tersebut akan berubah sehingga pengaruh aksi itu menjadi sekecilkecilnya.
a. Perubahan konsentrasi
Untuk reaksi kesetimbangan : A2 + B2 2AB berlaku :
Jika konsentrasi A2 atau B2 diperbesar, maka reaksi bergeser ke arah
pembentukan AB (ke kanan)
Jika konsentrasi A2 atau B2 diperkecil, maka reaksi bergeser ke arah
penguraian AB (ke kiri)
b. Perubahan tekanan
Jika volume diperkecil atau tekanan diperbesar reaksi bergeser ke arah yang
jumlah koefisiennya lebih kecil dan jika volume diperbesar atau tekanan
diperkecil reaksi bergeser ke arah yang jumlah koefisiennya lebih besar.
c. Perubahan suhu
Jika suhu dinaikkan reaksi akan ke arah reaksi endoterm
Jika suhu diturunkan reaksi akan ke arah reaksi eksoterm

4. System kesetimbangan Industri


Pembuatan Amoniak dengan Proses Haber-Bosch
Reaksi : N2 (g) + 3H2(g) 2NH3 (g) ; H= -184 kJ
Untuk memperoleh persentase amoniak (NH3) yang besar maka harus
diperhatikan hal-hal berikut :

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 23

Suhu harus rendah, suhu optimum 500-600C


Tekanan tinggi, tekanan optimum 250-1000 atm
Ditambah katalis

5. Meramal Arah Reaksi Kesetimbangan


Untuk meramal arah reaksi, kita dapat menggunakan besaran Q (kosien). Cara
mencari sama dengan mencari K.
Q>K ; maka kesetimbangan akan bergeser ke kiri
Q=K ; maka kesetimbangan tercapai
Q<K ; maka kesetimbangan akan bergeser ke kanan
6. Langkah Penyelesaian Hitungan Kesetimbangan
Kumpulkan data
Buat reaksi dan setarakan
Buat susunan zat (mula-mula, reaksi, setimbang)
Perhitungan sesuai permintaan soal

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 24

BAB VI KIMIA LARUTAN


1. Konsentrasi Larutan
Konsentrasi larutan menyatakan banyaknya zat terlarut dalam sejumlah pelarut
tertentu. Ada bebrapa macam satuan konsentrasi larutan diantaranya :
a. Konsentrasi dinyatakan dalam persentase (%)
Persen volume (%v/v) menyatakan volume zat terlarut (mL) dalam 100
mL larutannya.
%v/v=

X100%

%v/v = persen volume


V1 = volume zat terlarut
V2 = volume zat pelarut
V1+V2 = Volume larutan

Persen berat (%w/w) menyatakan berat zat terlarut (gram) dalam 100 gram
larutannya.
%w/w=

X100%

%w/w = persen berat


W1 = berat zat terlarut
W2 = berat zat pelarut
W1+w2 = berat larutan
b. Molaritas
Menyatakan jum;ah mol zat terlarut dalam satu liter larutannya
M=

M= molaritas
n = mol zat terlarut
V = volume larutan (L)
Pada pengenceran berlaku rumus : V1.M1 = V2.M2
Pada pencampuran larutan sejenis berlaku rumus :
VC.MC = V1.M1 + V2.M2 + Vn.Mn

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 25

c. Molalitas (m)
Menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam 1000 gram pelarut
m=

m = molalitas
w = massa zat terlarut (gram)
P = massa pelarut (gram)
Mr = massa molekul relative zat terlarut (gram/mol)
d. Fraksi mol
Fraksi mol suatu zat dalam larutan menyatakan mol zat tersebut dibagi mol
total zat yang terdapat dalam larutan.
Xt =
Xt+Xp =1
Xp =

Xt = fraksi mol zat terlarut


Xp =fraksi mol zat pelarut
nt +np = mol total larutan
2. Larutan Elektrolit dan nonelektrolit
Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan listrik
Larutan nonelektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan listrik
Senyawa yang termasuk ke dalam golongan larutan elektrolit adalah larutan
asam, basa dan garam sedangkan yang termasuk ke dalam golongan larutan
nonelektrolit adalah senyawa selain yang disebutkan di atas yaitu senyawa-senyawa
organic seperti urea, gula, gliserol dan alcohol.
Beberapa reaksi larutan elektrolit :
a. Oksida basa + asam garam + air
b. Oksida asam + basa garam + air
c. Ammonia +asam garam ammonium
d. Logam + asam kuat encer garam + gas H2
Semua logam kecuali Cu, Hg, Ag, Pt dan Au

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 26

Contoh :
Zn + 2 HCl encer ZnCl2 + H2
Ag + 2 HCl encer tidak bereaksi

3. Larutan Asam dan Basa


Teori Asam dan Basa
TEORI
Arrhenius
Bronsted-Lowry

Lewis

ASAM

BASA

Dalam air melepas


H+
Donor Proton H+

Dalam air melepas


OHAkseptor proton H+

Akseptor pasangan
elektron

Donor pasangan
elektron

KETERANGAN

HA + B A- + HB+
HA dan A- adalah
Pasangan As-Basa
konjugasi
HB+ dan B adalah
pasangan As-Basa
konjugasi
BF3 + NH3 BF3NH3
BF3 = Asam
NH3 = Basa

Kekuatan Asam dan Basa


Asam Kuat : HCl, HBr, HI, H2SO4, HNO3, HClO4 dalam larutan terionisasi
sempurna (=100%)
Asam lemah : HF, CH3COOH, HNO2, H3PO4, H2CO3 dalam larutan
terionisasi sebagian (<100%)
Basa kuat : NaOH, KOH, RbOH, CsOH, Mg(OH)2, Ba(OH)2, Ca(OH)2,
Sr(OH)2 dalam larutan terionisasi sempurna (=100%)
Basa lemah : NH3, Al(OH)3 dalam larutan terionisasi sebagian (<100%)

Perhitungan PH
pH = -log [H+]
pOH = -log [OH-]

sehingga [H+] = 10-pH


sehingga [OH-] = 10-pOH

untuk larutan yang bersifat netral : pH = 7


untuk larutan yang bersifat asam : pH < 7
untuk larutan yang bersifat basa : pH > 7

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 27

[H+] untuk asam lemah dihitung berdasarkan perumusan :


[H+] =

Ka = tetapan disosiasi asam lemah


Ma = konsentrasi larutan asam lemah

[OH-] untuk basa lemah dihitung berdasarkan perumusan :


[H+] =

Kb = tetapan disosiasi basa lemah


Mb = konsentrasi larutan basa lemah

[H+] untuk asam kuat dihitung berdasarkan perumusan :


[H+] = a x Ma

a = valensi asam
Ma = konsentrasi larutan asam kuat

[OH-] untuk basa kuat dihitung berdasarkan perumusan :


[OH-] = b x Mb

b = valensi basa
Mb = konsentrasi larutan basa kuat

4. Larutan Buffer
Larutan penyangga adalah campuran lasutan asam lemah dengan garamnya dari
basa kuat atau campuran larutan basa lemah dengan garamnya dari asam kuat.
Larutan buffer dapat mempertahankan pH terhadap penambahan asam, basa maupun
pengenceran.
Larutan buffer dapat dibuat dengan cara:
1. Mencampurkan asam lemah dengan garamnya (buffer asam)
2. Mencampurkan basa lemah dengan garamnya (buffer basa)
3. Mencampurkan asam lemah dengan basa kuat, asam lemahnya berlebihan (buffer
asam)
4. Mencampurkan basa lemah dengan asam kuat, asam lemahnya berlebihan (buffer
basa)

[H+] dari buffer asam : [H+] = Ka

na = mol asam lemah


ng= mol asam
a = indeks anion asam lemah

[OH-] dari buffer basa : [OH-] = Kb

nb = mol asam lemah


ng= mol asam
b = indeks anion asam lemah

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 28

5. Hidrolisis Garam
Hidrolisis garam adalah bereaksinya spesi/bagian yang lemah (kation atau anion) dari
suatu senyawa garam dengan air.
a. Garam yang berasal dari asam kuat dan basa lemah (GAK-BL), terhidrolisis
sebagian menghasilkan ion H+ sehingga bersifat asam :
Contoh : NH4Cl NH4+ +ClReaksi hidrolisisnya : NH4+ +H2O NH4OH + H+
Cl- + H2O tidak bereaksi
Rumus Perhitungan :
Kh =
[H+] =

Kh = tetapan hidrolisis
Kw = tetapan disosiasi air = 1x 10-14
Kb = tetapan disosiasi basa lemah
Mg = konsentrasi garam
X = jumlah kation dari basa lemah
b. Garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat (GAL-BK), terhidrolisis
sebagian menghasilkan ion OH- sehingga bersifat basa :
Contoh : CH3COOK CH3COO- + K+
Reaksi hidrolisisnya : CH3COO- +H2O CH3COOOH + OHK+ + H2O tidak bereaksi
Rumus Perhitungan :
Kh =
[H+] =

Kh = tetapan hidrolisis
Kw = tetapan disosiasi air = 1x 10-14
Ka = tetapan disosiasi asam lemah
Mg = konsentrasi garam
X = jumlah kation dari asam lemah

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 29

c. Garam yang berasal dari asam lemah dan basa lemah (GAL-BL), terhidrolisis
sempurna dan sifat garamnya bergantung pada Ka dan Kb :
Contoh : NH4CN NH4+ +CNReaksi hidrolisisnya : NH4+ +H2O NH4OH + H+
CN- + H2O HCN + OHRumus Perhitungan :
Kh =
[H+] =
[OH-] =

d. Garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat (GAK-BK), tidak terhidrolisis
dan sifat garamnya netral :
Contoh : NaCl Na+ +ClReaksi hidrolisisnya : Na+ +H2O tidak bereaksi
Cl- + H2O tidak bereaksi
Latihan
100 Ml CH3COOH 0,1 M direaksikan dengan 100 Ml NaOH 0,1 M. Hitunglah pH
sesuai reaksi ! (Ka asam asetat =10-5)
6. Kelarutan (s) dan hasil kali kelarutan (Ksp)
a. Hasil kali kelarutan (Ksp)
Garam atau basa yang sukar larut dalam air akan membentuk kesetimbangan antar
bentuk Kristal dengan ion-ionnya. Sebagai contoh garam Ag2CrO4, dalam air
garam tersebut akan membentuk kesetimbangan sebagai berikut:
Ag2CrO4 (S) 2Ag+(aq) + CrO4- (aq) maka : K = [Ag+]2 [CrO42-]
Konstanta K tersebut merupakan konstanta yang disebut hasil kali ion-ion yang
diberi lambing Ksp. Sehingga dapat ditulis :
Ksp = [Ag+]2 [CrO42-]
Secara umum dapat untuk senyawa AxBy, berlaku :
AxBy (S) XAy+ (aq) + YBx- (aq)
b. Kelarutan (s)
Merupakan jumlah mol zat yang dapat larut ddalam tiap liter larutan. Untuk
memahami hubungan kelarutan dengan Ksp, perhatikan uraian berikut :

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 30

1. Untuk senyawa biner (menghasilkan 2 buah ion)


AgBr (s) Ag+ (aq) + Br- (aq)
s
s
s
+
Ksp AgBr = [Ag ] . [Br-]
=s.s
= s2
2. Untuk senyawa terner (menghasilkan 3 buah ion)
BaF2 (s) Ba2+ (aq) + 2F- (aq)
s
s
2s
2+
- 2
Ksp BaF2 = [Ba ] . [F ]
= s. (2s)2
= 4s3
Pengaruh pH dan ion senama pada kelarutan
Adanya ion senama dalam larutan akan memperkecil kelarutan karena jumlah
zat yang terlarut akan semakin kecil.
Latihan :
1. Pada suhu 25C kelarutan SrCrO4 adalah 6x10-3 . tentukan :
a. Rumus Ksp
b. Nilai Ksp
2. Jika diketahui Ksp Al(OH)3 = 2,7 x 10-15. Tentukan berapa pH larutan
basa tersebut !
3. Jika Ksp AgCl adalah 1x10-10 . Tentukan kelarutan AgCl dalam:
a. Air murni
b. HCl 0,05 M
Kosien (Q) dan pengendapan
Untuk meramal terjadinya endapan digunakan kosien (Q). harga Q
dibandingkan terhadap Ksp. Cara mencari nilai Q sama dengan mencari Ksp.
Bila :
Q > K berarti larutan lewat jenuh dan akan terjadi endapan
Q = K berarti larutan tepat jenuh
Q < K berarti larutan belum jenuh dan belum akan terbentuk endapan
7. Sifat Koligatif Larutan
Merupakan sifat larutan yang hanya ditentukan oleh jumlah partikel zat terlarut dan
tidak ditentukan oleh jenis zat terlarutnya.
Sifat koligatif larutan meliputi :
Penurunan tekanan uap (p)
Kenaikan titik didih (td)
Penurunan titik beku (tf)
Tekanan osmotik ()
Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 31

a. Penurunan tekanan uap (p)


Untuk larutan non elektrolit berlaku rumus :
p= p0. Xp
p = tekanan uap larutan
0
p = p . Xt
p0 = tekanan uap pelarut murni
p =penurunan tekanan uap
Xp = fraksi mol pelarut
Xt = fraksi mol terlarut
Untuk larutan elektrolit harus ditambahkan faktor Vant Hoff (i) :
i = 1 + (n-1) jika larutan bersifat elektrolit kuat (=1), maka i = n
p = p0. Xt.i
n= jumlah ion dalam larutan
= derajat ionisasi
b. Kenaikan titik didih (td)
Tb = m. Kb
(Untuk larutan elektrolit harus ditambahkan faktor Vant Hoff (i))
Titik didih larutan : Tblarutan = Tbpelarut + Tb
c. Penurunan Titik Beku (tf)
Tf = m. Kf
(Untuk larutan elektrolit harus ditambahkan faktor Vant Hoff (i))
Titik beku larutan : Tflarutan = Tfpelarut + Tf
d. Tekanan Osmotik ()
= MRT
(Untuk larutan elektrolit harus ditambahkan faktor Vant Hoff (i))
= tekanan osmotic
M = molaritas larutan
R = tetapan gas (0,082)
T = suhu (K)
Latihan :
1. Sebanyak 12 gram urea (Mr = 60) dilarutkan dalam 180 gram air pada suhu 25C.
pada suhu tersebut tekanan uap air murni adalah 23,76 mmHg. Tentukan :
a. Tekanan uap larutan
b. Titik beku larutan (Kf = 1,86)
2. Sbnyak x gram CaCl2 dilarutkan dalam 200 gram air dan ternyata titik didihnya
sebesar 103,12 C. Berapa berat CaCl2 yang dilarutkan ? (Ar Ca=40, Cl = 35,5,
Kb=0,52)

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 32

BAB VII REDOKS DAN ELEKTROKIMIA


1. Jenis Reaksi
a. Reaksi redoks reaksi yang tidak disertai dengan perubahan bilangan oksidasi.
Contoh : NaOH + HCl NaCl+ H2O
b. Reaksi redoks yaitu reaksi yang disertai dengan perubahan bilangan oksidasi
unsur-unsur yang mengaami reaksi.
Contoh :

Na + HCl NaCl + H2
0
+1
+1
0

2. Konsep Reaksi Oksidasi Reduksi


a. Berdasarkan Pengikatan Oksigen

Oksidasi adalah peristiwa pengikatan oksigen oleh suatu zat

Reduksi adalah peristiwa pelepasan oksigen dari suatu zat


Contoh :
K+ O2 K2O
Oksidator (pengoksidasi) adalah zat yang mengalami peristiwa reduksi
Reduktor (pereduksi)adalah zat yang mengalami oksidasi
b. Berdasarkan Transfer Elektron
Oksidasi adalah peristiwa pelepasan elektron dari suatu reduktor (zat pereduksi).
Contoh : Fe Fe3+ +3e (1/2 reaksi redoks)
Reduksi adalah peristiwa penangkapan elektron oleh suatu zat pengoksidasi
(oksidator).
Contoh : Mg2+ + 2 e Mg (1/2 reaksi redoks)
c. Berdasarkan perubahan bilangan oksidasi
Oksidasi adalah peristiwa pertambahan bilangan oksidasi suatu zat.
Reduksi adalah peristiwa penurunan bilangan oksidasi suatu zat.
Contoh :

3 Zn + 8 HNO3 3 Zn (NO3)2 + 2 NO + 4H2O

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 33

3. Penentuan Bilangan Oksidasi


Dalam unsur-unsur bebas setiap atom memiliki bilangan oksidasi nol.
Contoh unsur-unsur bebas : Na, Fe, O2, H2 dan lain-lain.
Ion yang sederhana (satu atom) memiliki bilangan oksidasi yang sama dengan
muatannya.
Contoh : Cu2+ memiliki bilangan oksidasi +2
S2- memiliki bilangan oksidasi -2
Atom hydrogen (H) dalam senyawa memiliki bilangan oksidasi +1
Dalam senyawa hidrida logam, atom hydrogen memiliki bilangan oksidasi -1
Atom oksigen (O) dalam senyawa memiliki bilangan oksidasi -2, kecuali :
- Dalam F2O bilangan oksidasi O = +2
- Dalam senyawa peroksida (misal H2O2, Na2O2, BaO2) bilangan oksidasi O = -1
Jumlah total bilangan oksidasi seluruh atom dalam suatu senyawa sama dengan
Jumlah total bilangan oksidasi seluruh atom dalam suatu ion poliatomik sama dengan
Logam golongan IA, IIA, IIIA dalam senyawa berturut-turut memiliki bilangan
oksidasi +1, +2, +3
Biloks F selalu -1, unsur halogen lain umumnya -1 kecuali pada asenyawa
interhalogen dan oksihalogen
4. Persyaratan Persamaan Reaksi Redoks
A. Cara setengah Reaksi (cara ion-elektron)
Tahap-tahap penyetaraan reaksi adalah sebagai berikut
a. Pisahkan reaksi redoks menjadi 2 buah reaksi
b. Setarakan jumlah atom yang terlibat
c. Setarakan jumlah atom O dan dengan menambahkan H2O
d. Setarakan jumlah atom H dengan cara :
- Menamnahkan H+ pada sisi yang kekurangan H (suasana asam)
- Menambahkan H+ pada sisi yang kekurangan H sekaligus menambahkan
OH- pada kedua sisi dengan jumlah yang sama dengan H+ (suasana basa)
e. Setarakan jumlah muatan dengan menambahkan elektron
f. Setarakan jumlah elektron pada dua buah setengah reaksi dengan kali silang
g. Jumlahkan kedua setengah reaksi tersebut

Latihan :
1. Setarakanlah persamaan reaksi berikut dengan cara setengah reaksi :
MnO + PbO2 MnO4- + Pb2+ (suasana asam)
2. Setarakanlah persamaan reaksi berikut dengan cara setengah reaksi :
Zn + NO3- Zn2+ + NH4+ (suasana basa)

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 34

b. Cara Bilangan Oksidasi


1. tulislah zat-zat pereaksi dan hasil reaksinya
2. tandai unsur-unsur yang mengalami perubahan biloks dan setarakan jumlah unsur
yang mengalami perubahan biloks tersebut.
3. Tentukan jumlah bertambahnya dan berkurangnya biloks
4. Setarakan jumlah berkurangnya dan bertambahnya bilangan oksidasi.
Berkurangnya biloks menjadi koefisien bagi reduktor dan sebaliknya.
5. Setarakan jumlah atom oksigen dengan menambahkan H2O dan atom hydrogen
dengan menambahkan H+ jika suasana asam, atau OH- jika suasana basa.
Latihan :
1. CuS + NO3- Cu2+ + S + NO (asam)
2. MnO2 + ClO3- MnO4- + Cl- (basa)

5. Sel-sel Elektrokimia
a. Sel Volta
Sel volta, sel yang digunakan untuk mengubah energi kimia menjadi energi listrik.
Notasi penulisan sel volta:
MMA+LB+L

M : Logam yang teroksidasi


MA+ : Logam hasil oksidasi dengan kenaikan bilangan biloks = A
L : Logam hasil reduksi
LB+ : Logam yang mengalami reduksi dengan penurunan biloks = B

b. Potensial Elektroda (E)


Dalam suhu 250C, 1 atm E = E0 (Potensial Elektroda standar)
Urutan E0 reduksi beberapa logam (kecil ke besar):
Li-K-Ba-Ca-Na-Mg-Al-Mn-H2O-Zn-Cr-Fe-Cd-Ni-Co-Sn-Pb-H-Cu-Hg-Ag-Pt-Au
volta

deret

Potensial sel = E0 reduksi - E0 oksidasi

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 35

c. Hukum Faraday
Hukum faraday 1

Massa zat yang dibebaskan pada reaksi elektrolisis sebanding dengan jumlah arus listrik
dikkalikan dengan waktu elektrolisis.

Hukum faraday 2

Massa zat yang dibebaskan pada reaksi elektrolisis sebanding dengan massa ekivalen zat.
Hubungan hukum faraday 1 dan 2:
m = i.t.me/9600
i = kuat arus
t= waktu
me = masa ekivalen zat
m1/ m2 = me1/ me2

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 36

VIII KIMIA UNSUR


1. Unsur Golongan Utama (golongan A)
A. Gas Mulia (VIII A), meliputi: Helium (He), Neon (Ne), Argon (Ar), Kripton (Kr),
Xenon (Xe), dan Radon (Rn)
Mempunyai satu electron terluar (ns2 np6)
a. Semua unsurnya stabil
b. Energi ionisasi tinggi (sukar melepaskan elektron)
c. Afinitas elektron rendah
Sumber :
udara = He, Ne, Ar (0,934%), Kr, Xe
Rongga batuan uranium = Rn
Jari-jari makin ke bawah makin besar :
a. Makin ke bawah titik didih/titik leleh makin besar
b. Makin ke bawah kestabilan makin berkurang: Kr, Xe, Rn dapat membentuk
senyawa
Pengolahan :
a. Destilasi bertingkat udara (semua gas, kecuali Rn)
b. Reaksi udara dengan karbid CaC2 (gas Ar)
c. Pemisahan dari gas alam (gas He)
d. Isolasi dari bantuan uranium (Rn)
Kegunaan :
a. He : pengisi balon udara, pendingin, campuran oksigen penyelam
b. Ne, Ar, dan Kr : pengisi bola lampu reklame, blitz kamera, dll
c. Xe : untuk membius
d. Rn : terapi kanker
B. Halogen (VIIA), meliputi F (fluorin), Cl (klorin), Br (bromin), I(iodin), dan At
(astatin).

Mempunyai tujuh elektron terluar (ns2 np5) :


a. Keelektronegatifan tinggi (mudah menangkap electron)
b. Oksidator kuat (mudah mengalami reduksi)
c. Sangat reaktif (di alam tidak ada unsur bebasnya)
d. Bereakasi dengan semua logam membentuk garam yang berikatan ion
e. Bereaksi dengan sesama bukan logam, membentuk senyawa kovalen
f. Unsur-unsur halogen berwujud molekul dwiatom (X2)
Sumber :
Garam-garaman dalam air laut
Jari-jari atom makin ke bawah makin besar :
a. Makin ke bawah kereaktifan berkurang
b. Makin ke bawah sifat oksidator melemah

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 37

c. Makin ke bawah titik didih makin tinggi


F2 dan Cl2 berwujud gas, Br2 cair, dan I2 padat
Pembuatan unsur halogen :
a. F2 diperoleh dari elektrolisis leburan KHF2
b. Cl2 diperoleh dari elektrolisis larutan atau leburan NaCl
c. Br2 diperoleh dari reaksi Cl2 terhadap senyawa bromide (Br-) dalam air laut
d. I2 diperoleh dari reduksi NaIO3 atau KIO3
Asam-asam halida (HX) :
a. Asam halida bersifat reduktor
Kekuatan reduktor : HF < HCl < HBr < HI
b. Kekuatan asam : HF < HCl < HBr < HI
HF asam lemah, sedangkan HCl, HBr, dan HI adalah asam-asam
kuat
c. Kereaktifan : HI < HBr < HCl < HF
d. Titik didih : HCl < HBr < HI < HF
Tingginya titik didih HF disebabkan adanya ikatan hidrogen.
Bilangan oksidasi dan tatanama senyawa halogen :
Bilangan Oksidasi
Anion
Nama Trivial
Nama IUPAC
-1
X
Halida
Halida
+1
XO
Hipohalit
Halat (I)
+3
XO2Halit
Halat (III)
+5
XO3Halat
Halat (V)
+7
XO4Perhalat
Halat (VII)

C. Alkali (IA), meliputi Li (litium), Na (Natirum), K (Kalium), Rb (Rubidium), Cs


(Sesium), dan Fr (Fransium).

Mempunyai satu elektron terluar (ns1) :


a. Energi ionisasi rendah (mudah melepaskan electron)
b. Reduktor kuat (mudah mengalami oksidasi)
c. Sangat reaktif (di alam tidak ada unsur bebasnya)
d. Reaksinya dengan air berlangsung cepat
e. Titik leleh rendah (lunak), sebab ikatan logam lemah
Sumber :
Air laut = Na+, K+
Batuan = LiAl(SiO3)2 (Spodumen)
Jari-jari atom makin ke bawah makin besar :
d. Makin ke bawah kereaktifan bertambah
e. Makin ke bawah basanya makin kuat
f. Makin ke bawah titik leleh makin rendah
Logam-logam alkali diperoleh dari elektrolisis leburan garam halidanya
Senyawa-senyawa alkali berikatan ion, berwujud padat, dan memiliki titik leleh tinggi
Reaksi nyala : natrium berwarna kuning dan kalium berwarna ungu

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 38

Semua senyawa alkali larut dengan baik di dalam air

D. Alkali Tanah (IIA), meliputi Be (berilium), Mg (magnesium), Ca (kalsium), Sr


(stronsium), Ba (barium), dan Ra (radium).

Mempunyai dua elektron terluar (ns2) :


a. Energi ionisasi rendah,tetapi golongan IA lebih rendah
b. Reduktor kuat tetapi tidak sekuat golongan IA
c. Sangat reaktif tetapi IA lebih reaktif
d. Reaksinya dengan air berlangsung lambat
e. Titik leleh cukup tinggi (keras), sebab ikatan logam cukup kuat
Sumber :
Air laut = Mg2+
Batuan = MgCO3 (magnesit), CaCO3 (kalsit), MgCO3.CaCO3 (dolomit), BaSO4
(barit), BaCO3 (witerit), BaSO4.2H2O (gips), SrSO4 (strontiatit)
Logam-logam alkali tanah diperoleh dari elektrolisis leburan garam halidanya
Senyawa-senyawa alkali berikatan ion, berwujud padat, dan memiliki titik leleh tinggi
Reaksi nyala : Strontium berwarna merah dan barium berwarna hijau
Senyawa klorida (Cl-), sulfida (S2-), dan nitrat (NO3-) dari IIA larut baik dalam air.
Senyawa karbonat (CO32-) dari IIA tidak ada yang larut
Kelarutan senyawa sulfat (SO42-) dari IIA makin ke bawah makin kecil (makin sukar
larut) dan kelarutan seyawa hidroksida (OH-) dari IIA makin ke bawah makin besar
(makin mudah larut).

E. Aluminium (IIIA dan periode ketiga)


Sifat-sifat yang ke kanan semakin bertambah :
Energy ionisasi
Keelektronegatifan
Bilangan oksidasi maksimum
Sifat asam
Sifat oksidator
Al2O3 (bauksit), Na3AlF4 (kriolit), SiO2 (pasir kwarsa), Ca3(PO4)2 (apatit)
Sifat-sifat yang ke kanan makin berkurang :

Jari-jari atom
Daya hantar
Sifat logam
Sifat basa
Sifat reduktor

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 39

Kemiripan diagonal :
Li dan Mg mudah bereaksi dengan gas N2 di udara
Hasil pembakaran Li : LiO dan Li3N
Hasil pembakaran Mg : MgO dan Mg3N2
Be dan Al bersifat amfoter
Be(OH)2, H2BeO2, Al(OH)3, HAlO2
B dan Si bersifat metalloid
Meskipun bukan logam, mereka memiliki beberapa sifat logam: mengkilap,
menghantar listrik dan dapat ditempa.

2.Unsur-unsur Transisi
Sifat-sifat logam transisi (golongan B)
Semuanya padat, kecuali Hg yang mencair
Data membentuk ion kompleks
Titik leleh tinggi
Paramagnetic (tertarik oleh magnet)
Bersifat katalis
Bilangan oksidasi bermacam-macam
Senyawa-senyawa berwarna
Sumber mineral : spalerite/sengblende (ZnS), Fe2O3 (hematit), Fe2O4
(magnetit), FeCO3 (siderit), 2Fe2O3 3H2O (limonit), FeS2 (pirit).
Ion kompleks adalah ion yang terbentuk dari kation logam transisi (atom pusat)
yang mengikat molekul atau anion (ligan-ligan) melalui ikatan kovalen
koordinasi. Jumlah ligan yang diikat oleh atom pusat disebut bilangan koordinasi.
Harganya 2, 4, atau 6.

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 40

IX KIMIA KARBON
1.

Posisi Atom C
10CH3
10CH3
10CH3 30CH 20CH2 40C 10CH3
10CH3

10 = Atom C primer yaitu atom karbon yang terikat pada 1 atom C lain
20 = Atom C primer yaitu atom karbon yang terikat pada 2 atom C lain
30 = Atom C primer yaitu atom karbon yang terikat pada 3 atom C lain
40 = Atom C primer yaitu atom karbon yang terikat pada 4 atom C lain
2.

Klasifikasi Senyawa Karbon


Senyawa karbon dapat diklasifikasikan menjadi :
d. Senyawa alifatik
Senyawa karbon rantai lurus yang terbuka. Contoh : C C C
e. Senyawa siklik
Senyawa karbon rantai lurus yang tertutup. Contoh : C
C C
f. Senyawa aromatik
Khusus untuk senyawaan benzena dan turunannya. Contoh :

3.Tata Nama dan Gugus Fungsi


Dalam tatanama, langkah pertama tentukan terlebih dahulu rantai utama. Rantai
utama pada alkane adalah rantai terpanjang, sedangkan pada senyawa lain, rantai utama
adalah yang meliputi gugus fungsional.

Tatanama Alkana (Rumus : CnH2n+2)


Contoh :
CH3
CH3 CH CH2 CH CH3
CH3
Nama : 2,4 dimetil pentana

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 41

Beberapa senyawa alkana


Atom C
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Rumus molekul

Nama

CH4
C2H6
C3H8
C4H10
C5H12
C6H14
C7H16
C8H18
C9H20
C10H22

Metana
Etana
Propana
Butana
Pentana
Heksana
Heptana
Oktana
Nonana
Dekana

Tatanama yang Mengandung Gugus Fungsi


No.
1

Gugus Fungsi
-C = C-

Golongan
Alkena

Tatanama
Mencakup -C = C-

- C = C-

Alkuna

Mencakup - C = C-

R OH

Alkohol

Mengikat OH

R OR

Alkoksi Alkana/ Eter

O
RCH

Alkanal/ Aldehida

Alkoksi (-OR), dengan R


adalah rantai pendek.
Rantai utama merupakan
rantai terpanjang yang
mengikat OR.
Mencakup
O
CH

O
R C R

Alkanon/ Keton

O
R C OH

Asam Alkanoat/
Karboksilat

O
R C O R

Alkil Alkanoat/ Ester

Mencakup
O
CO

R-X

Haloalkana/ Alkil Halida

Mengikat X

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Mencakup
O
C
Asam Mencakup
O
C OH

Page 42

Rantai utama harus mencakup gugus fungsi, jadi bukan yang terpanjang.
Contoh Alkena :
CH3 CH2 CH2 CH CH2 CH2 CH3
CH = CH2
Nama : 3 propil 1 heksena
Contoh Alkohol :
CH3
CH3 CH2 CH CH2 CH CH3
CH2 OH
Nama : 2 etil 4 metil 1 pentanol
Contoh Eter :
CH3 CH2 CH2 CH CH2 CH2 CH3
O CH3
Nama : 4 metoksi heptana

4.

Isomer
Isomer yaitu senyawa-senyawa yang memiliki rumus molekul sama, tetapi rumus
strukturnya berbeda.

Isomer

Struktur

Kerangka

Posisi

Ruang

Fungsi

Contoh Isomer Kerangka : CH3 CH2 CH2 CH3

Geometri

Optik

CH3 CH CH3
CH3

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 43

Contoh Isomer Posisi : CH3 CH = CH CH3

CH3 CH2 - CH = CH2

Contoh Isomer Fungsi : Alkanol dengan alkoksi alkana, alkanal dengan alkanon,
asam alkanoat dengan alkil alkanoat, alkena dengan sikloalkana, alkuna dengan
alkadiena.
Contoh Isomer Geometri :
H
H
C=C
CH3 CH3

CH3 H
C=C
H
CH3

(Cis 2 butena)

(Trans 2 butena)

Contoh Isomar Optik :


Ciri senyawa yang mempunyai isomer optic adalah senyawa yang mempunyai C
khiral ( C yang mengikat keempat gugus yang berbeda).
CH3
HO C H
COOH
(dekstro asam laktat)

CH3
H C OH
COOH
(lacvo asam laktat)

5. Benzena dan Turunannya


Rumus molekul benzena adalah C6H6
Rumus struktur benzena adalah

Beberapa turunan benzena khusus yaitu toluen, anilin, fenol, benzoat, benzen
sulfonat.
Subtituen yang terikat pada benzena, posisinya dapat dibedakan dan disebut :

Orto

Meta

Para

Subtituen pengarah orto dan para


Cl, Br
CH3
NH2
OH
OCH3
Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Subtituen pengarah meta


NO
SO3H
CHO
COOH
NH3+
Page 44

6.Reaksi-reaksi Organik yang Penting


A. Reaksi Substitusi (Reaksi Penggantian)
Atom H yang mudah diganti adalah atom H yang terikat pada :
H pada C tersier > H pada C sekunder > H pada C primer
Contoh :

Br

CH3 CH CH3 + Br2

CH3 C CH3 + HBr

CH3

CH3

B. Reaksi Eliminasi (Reaksi Penghilangan)


Atom H yang mudah dihilangkan adalah atom H yang terikat pada :
H pada C tersier > H pada C sekunder > H pada C primer dan atom C tersebut yang
dekat dengan atom C yang mengikat gugus fungsi.
Contoh :
2.

Dehidrogenasi (penghilangan H2) dari alkana


CH3 CH2 CH CH3
CH3 CH = CH CH3 + H2
CH3
CH3

3.

Dehidrasi (penghilangan H2O) dari alkohol


CH3 CH CH2 CH3

CH3 CH = CH CH3 + H2O

CH3
4.

Dehidro Halogenasi (penghilangan HX) dari alkil halida


CH3 CH CH2 CH3
CH3 CH = CH CH3 + HBr
Br

C. Reaksi Adisi (Reaksi Penambahan)


Aturan yang dipergunakan adalah aturan Markonikov yaitu :
Ikatan rangkap merupakan kumpulan electron
Gugus alkil merupaka gugus pendorong electron, semakin banyak atau panjang C
alkil semakin kuat daya dorongnya.
Alkil yang mendorong berkutub (+) dan alkil lainnya yang berkutub (-)
Contoh :
1. Hidrogenasi (Penambahan Hidrogen)
CH3 CH2 CH+ = CH2 + H2

CH3 CH2 CH2 CH3

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 45

2. Halogenasi (Penambahan X2)


CH3 CH2 CH+ = CH2 + Br2
3. Hidrohalogenasi (Penambahan HX)
CH3 CH2 CH+ = CH2 + H + - Br

CH3 CH CH CH3
Br Br
CH3 CH2 CH CH3
Br

D. Reaksi Oksidasi
Oksidator yang sering dipergunakan adalah KMnO4, H2CrO4, H2Cr2O7, dan O2.
Oksigen dari oksidator menyerang atom H yang terikat pada atom C yang mengikat gugus
fungsional.
1.
2.
3.
4.

E.

Oksidasi pada Alkohol (senyawa yang dapat bereaksi yaitu senyawa alkohol golongan
primer dan sekunder, alkohol tersier tidak bereaksi)
Oksidasi pada Aldehid (reaksi oksigen dengan senyawa aldehid akan menghasilkan
senyawa asam karboksilat)
Oksidasi pada Keton (senyawa keton tidak dapat bereaksi dengan Oksigen)
Oksidasi pada Asam Karboksilat (senyawa yang dapat bereaksi yaitu hanya pada
asam formiat)

Reaksi Polimerisasi

Polimerisasi adalah penggabungan banyak molekul-molekul kecil untuk membentuk


molekul yang sangat besar.
1. Polimerisasi Adisi
Yaitu polimerisasi dari monomer yang sama dan tidak disertai pelepasan
senyawa apapun.
2. Polimerisasi Kondensasi
Yaitu polimerisasi dari monomer yang berbeda dan disertai pelepasan
senyawa.

Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 46

BAB X KIMIA INTI


1. Radioaktif
Unsur radioaktif adalah unsur yang memancarkan radiasi.
1. Sinar alpa (), partikel yang bermuatan positif.
2. Sinar beta ( ), partikel bermuatan negatif
3. Sinar gamma ()
Peluruhan radioaktif adalah peristiwa spontan emisi alpa, beta dan gamma dari suatu
inti atom tidak stabil menuju inti atom yang stabil. Simbol untuk partikel yang terlibat dalam
inti adalah sebagai berikut:
Proton (p)
1
1p

Neutron (n)
1
0n

Beta()
-1e0 = -10

Positron (+)
0
0
+1e = +1

Gamma () = X
0
0

Cara mencapai kestabilan:


5. Unsur diatas pita kestabilan (>1), memancarkan sinar beta (-1e0= -10) :
1
1
0
0n 1p + -1e
Contoh: 6C14 7N14 + -1e0
6. Unsur di bawah pita kestabilan (<1), memancarkan positron (+1e0 = +10) :
1
1
0
1p 0n + +1e
Contoh: 6C105B10 + +1e0
7. Unsur di seberang pita kestabilan, memancarkan sinar alfa () = 2He4
Contoh: 92U238 90Th234 +
2. Waktu paro
Waktu paro adalah waktu yang dibutuhkan radioaktif untuk mengalami peluruhan
sampai setengah kali semua.
Nt = No [1/2]T/t1/2
Nt = No [1/2]n
n = T/t1/2
t1/2 = ln 2/

Keterangan: Nt = massa setelah peluruhan


No = massa awal
T = waktu peluruhan
T1/2 = waktu paro

atau, A = (1/2)n. Ao
Modul KIMIA Persiapan SBMPTN-BIMBEL PASTI 2016

Page 47