Anda di halaman 1dari 18

Laporan Kasus

KERATITIS

Oleh:
Wiratmoko Radeta
205.121.0026

Pembimbing :
dr. Muhdahani, Sp. M

Poli Mata RSD Mardi Waluyo - Blitar

Kepaniteraan Klinik Fakultas Kedokteran Universitas


Islam Malang
2012

KATA PENGANTAR
Assalamu'alaikum wr. wb.
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Referat sebagai salah
satu tugas dalam menempuh Program Kepaniteraan Klinik.
Referat ini berisi tinjauan pustaka mengenai Keratitis. Penulis berharap laporan
kasus ini dapat berguna dan menambah wawasan bagi penulis dan pembaca.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan kasus ini masih banyak
kekurangan ataupun kekeliruan. Karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran
dari pembaca yang bersifat membangun guna penyempurnaan laporan kasus ini
selanjutnya.
Akhirnya penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam pelaksanaan Program Kepaniteraan Klinik dan penyusunan referat
ini. Semoga bermanfat bagi semua pihak. Amin.
Wassalamu'alaikum wr. wb.

Blitar, Juli 2012

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata pengantar
DAFTAR ISI..........................................................................................i
BAB 1 Pendahuluan................................................................................1
BAB 2 Status penderita...........................................................................2
BAB 3 Definisi oprasional......................................................................7
3.1 Anatomi dan Histologi..............................................................7
3.2 Fisiologi Kornea........................................................................9
3.3 Keratitis.....................................................................................9
3.4 Etiologi dan Faktor Pencetus.....................................................10
3.5 Tanda dan Gejala.......................................................................10
3.6 Kelasifikasi Keratitis.................................................................10
3.7 Patofisiologi Gejala...................................................................11
3.8 Diagnosa....................................................................................11
3.9 Terapi.........................................................................................13
BAB 4 Penutup........................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Permasalahan terkait kesehatan mata di Indonesia cukup banyak dimulai
dari kelai nan kongenital pada mata, infeksi/peradangan pada mata hingga
tingginya angka ke butaan di Indonesia. Keratitis atau peradangan pada
kornea adalah permasalahan m ata yang cukup sering dijumpai mengingat
lapisan kornea merupakan lapisan yang berhubungan langsung dengan
lingkungan luar sehingga rentan terjadinya trauma at aupun infeksi. Hampir
seluruh kasus keratitis akan mengganggu kemampuan pengliha tan seseorang
yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas hidup seseorang. Karena itu
penting sebagai dokter umum untuk dapat mengenali dan menanggulangi
kasus keratitis (sejauh kemampuan dokter umum) yang terjadi di masyarakat
baik sebaga i dokter keluarga ataupun dokter yang bekerja di strata pelayanan
primer. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, penulis membuat pembahasan
kasus ini mengenai keratitis khusunya yang disebabkan oleh bakteri, virus
dan jamur
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan keratitis ?
2. Apa penyebab keratitis?
3. Bagaimana penatalaksanaan keratitis?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud keratitis.
2. Untuk mengetahui penyebab keratitis.
3. Untuk mengetahui penatalaksanaan keratitis.
1.4 Manfaat
Laporan kasus ini diharapkan mampu memberikan tambahan pengetahuan
dan landasan teori mengenai plasenta letak rendah dan penanganannya.

BAB II
STATUS PENDERITA
IDENTITAS
Nama

: Tn. Z

Umur

: 34 tahun

Jenis Kelamin

: Laki - laki

Pekerjaan

: Swasta

Pendidikan

:-

Status Perkawinan

: Sudah menikah

Agama

: Islam

Alamat

: Blitar

Suku

: Jawa

Tanggal Periksa

: 17 7 2012

ANAMNESIS
1.

Keluhan Utama : Mata ngganjel, ada bintik putih di mata

2.

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang dengan keluhan mata mengganjel, ada bintik putih di mata, 2
hari yang lalu pasien mengatakan kalau matanya terkena abu pembakaran
padi

3.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Riwayat abortus (-)
Riwayat hipertensi (-)
Riwayat asma (-)
Riwayat penyakit jantung (-)
Riwayat diabetes (-)
Riwayat alergi (-)

ANAMNESIS SISTEM
1. Kulit

: kulit gatal (-)

2.

: sakit kepala (-), pusing (-), rombut rontok (-), luka (-),

Kepala

benjolan (-)

3.

Mata

: pandangan mata berkunang-kunang (-),penglihatan


kabur (-), ketajaman penglihatan berkurang (-),
penglihatan ganda(-).

4.

Hidung

: Cairan(-), mimisan (-)

5.

Telinga

: pendengaran berkurang (-), berdengung (-), cairan (-),


nyeri(-)

6.

Mulut

: sariawan (-), mulut kering (-), lidah terasa pahit (-)

7.

Tenggorokan

: nyeri menelan (-), suara serak (-)

8.

Pernafasan

: sesak nafas (-), batuk (-), mengi (-)

9.

Kardiovaskuler

: nyeri dada (-), berdebar-debar (-), ampeg (-).

10.

Gastrointestinal

: mual (-),muntah(-),diare (-),nafsu makan menurun (-)


nyeri perut (+), BAB lancar

11.

Genitourinaria

: BAK 5xsehari, warna kuning jernih jumlah dalam


batas normal.

12.

Neurologik

: lumpuh (-),kaki kesemutan(-),kejang (-)

13.

Psikiatrik

: emosi stabil (+), mudah marah (-)

14.

Muskolokeletal

: kaku sendi (-), nyeri sendi pinggul (-), nyeri tangan


dan kaki (-),nyeri otot (-)

15.

Ekstremitas atas

: bengkak (-), sakit (-), telapak tangan pucat


(-),kebiruan(-), luka (-)

16.

Ekstremitas bawah : bengkak (-), sakit (-), telapak kaki pucat (-), kebiruan
(-), luka (-)

PEMERIKSAAN FISIK
1.

Keadaan umum

: kesan cukup

2.

Tanda vital

: Tidak dilakukan

3.

Kulit

: sawo matang, turgor baik, ikterik (-), sianosis (-),pucat


(-), spider nevi (-), petechie (-), eritem (-),venektasi
(-)

4.

Kepala

: Bentuk mesocephal, luka (-), rambut mudah dicabut(-)


, keriput (-), atrofi m. temporalis (-), kelainan mimik
wajah/bells palsy (-), papul (-), nodul (-), Makula (-)

5.

Mata

: conjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), radang


(+/-), Palpebra tarsal merah, eksoftalmus (-),
strabismus (-)

6.

Hidung

: nafas cuping hidung (-), rhinorrhea (-), epistaksis (-),


deformitas hidung (-), hiperpigmentasi (-), saddle
nose (-)

7.

Mulut

: mukosa bibir pucat (+), sianosis bibir (-), bibir kering


(-), gusi berdarah (-) lidah kotor (-), tepi lidah
hiperemis (-), papil lidah atrofi(-)

8.

Telinga

: otorrhea (-), pendengaran berkurang (-), nyeri tekan


mastoid (-), cuping teling dbn, serumen (-)

9.

Tenggorokan

: Tonsil membesar (-), pharing hiperemis (-),

10.

Leher

: lesi kulit (-), pembesaran kelenjar tiroid (-),


pembesaran kelenjar limfe (-), deviasi trakea (-),
tortikolis (-)

11.

Thorax

: tidak dilakukan kesan tampak normal

12. Abdomen
Inspeksi :perut tidak tampak besar, venektasi (-), massa (-), bekas jahitan (-)
Palpasi : supel, hepar dan lien tdk teraba, turgor baik, massa (-), asites (-)
Perkusi : timpani seluruh lapangan perut
Auskultasi : peristaltik (+) normal
13. System Collumna Vertebralis (tidak diperiksa) :
Inspeksi : deformitas (-), skoliosis (-), kifosis (-), lordosis (-)
Palpasi : nyeri tekan (-)
13. Ekstremitas : palmar eritem (-)
Akral dingin

Oedem

14. Sistem genitalia : dalam batas normal

15. Pemeriksaan neurologic:


kesadaran : composmentis
fungsi luhur : dalam batas normal
fungsi vegetatif : dalam batas normal
fungsi sensorik

fungsi motorik
5

Kekuatan

tonus

Ref.Fisiologis

Ref.Patologis

16. Pemeriksaan psikiatri


Penampilan : perawatan diri baik
Kesadaran : kualitatif tidak berubah, kuantitatif composmentis
Afek : appopriate
Psikomotor : normoaktif
Proses pikir : bentuk : realistik
Isi : waham (-), halusinasi (-), ilusi (-)
Arus : koheren
STATUS OFTALMOLOGI
1. VOS : 0,2f
VOD : 1
2. Konjngtiva tarsal Od : Edema, Hiperemi
3. Konjungtiva superior Od : Edema, Hiperemi
4. Kornea Od : Infiltrat numuler

RESUME
Dari anamnesa didapatkan pasien datang dengan keluhan Pasien datang
dengan keluhan mata kanan terasa ngganjel, ada bintik putih di mata, 2 hari
yang lalu pasien mengatakan kalau matanya terkena abu pembakaran padi.
DIAGNOSA KERJA
Keratitis Numularis
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Slit lamp
PENATALAKSANAAN
Antibiotik oral dan salf

BAB III
TINJAUANPUSTAKA
3.1 Anatomi dan Hitologi
Kornea merupakan jaringan yang avaskular, bersifat transparan, berukuran
11-12 m m horizontal dan 10-11 mm vertikal, serta memiliki indeks refraksi 1,37.
Kornea memberikan kontribusi 74 % atau setara dengan 43,25 dioptri (D) dari
total 58,60 kekuatan dioptri mata manusia. Kornea juga merupakan sumber
astigmatisme pada s istem optik. Dalam nutrisinya, kornea bergantung pada difusi
glukosa dari aqueus humor dan oksigen yang berdifusi melalui lapisan air mata.
Sebagai tambahan, ko rnea perifer disuplai oksigen dari sirkulasi limbus. Kornea
adalah salah satu or gan tubuh yang memiliki densitas ujung-ujung saraf
terbanyak dan sensitifitasnya adalah 100 kali jika dibandingkan dengan
konjungtiva. Kornea dipersarafi oleh b anyak saraf sensoris terutama berasal dari
saraf siliar longus, saraf nasosiliar , saraf ke V, saraf siliar longus yang berjalan
suprakoroid, masuk ke dalam str oma kornea, menembus membran Bowman
melepas selubung Schwannya. Seluruh lapis ep itel dipersarafi sampai pada kedua
lapis terdepan. Sensasi dingin oleh Bulbus Kr ause ditemukan pada daerah limbus
(Ilyas, 2005). Kornea dalam bahasa latin cornum artinya seperti tanduk,
merupakan selaput bening mata, bagian dari mata yang bersifat tembus cahaya,
merupakan lapis dari jaringa n yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri
atas : 1. Epitel Terdiri dari sel epitel squamos yang bertingkat, terdiri atas 5 lapis
sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; sel poligonal dan sel
gepeng. Teba l lapisan epitel kira-kira 5 % (0,05 mm) dari total seluruh lapisan
kornea. Epit el dan film air mata merupakan lapisan permukaan dari media
penglihatan. Pada se l basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong
ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng,
sel basal berikat an erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di
depannya melal ui desmosom dan makula okluden; ikatan ini menghambat
pengaliran air, elektrolit dan glukosa melalui barrier. Sel basal menghasilkan
membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan
mengakibatkan erosi rekuren. Sedangkan epitel berasal dari ektoderem

permukaan. Epitel memiliki daya regenerasi (Ilyas, 2005). 2. Membran bowman


Membran yang jernih dan aselular, Terletak di bawah membran basal dari epitel.
M erupakan lapisan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal
dari epitel bagian depan stroma. Lapisan ini tidak mempunyai daya generasi (Ily
as, 2005). 3. Stroma Lapisan ini mencakup sekitar 90% dari ketebalan kornea.
Merupakan lapisan tengah pada kornea. Bagian ini terdiri atas lamel fibril-fibril
kolagen dengan lebar s ekitar 1 m yang saling menjalin yang hampir mencakup
seluruh diameter kornea, pad a permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di
bagian perifer serat kolage n ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen
memakan waktu lama, dan kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel
stroma kornea yang merupakan fibrobl as terletak di antara serat kolagen stroma.
Diduga keratosit membentuk bahan das ar dan serat kolagen dalam perkembangan
embrio atau sesudah trauma (Ilyas, 2005) . 4. Membran Descemet Merupakan
membran aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea yang diha silkan
oleh endotel. Bersifat sangat elastis dan jernih yang tampak amorf pada p
emeriksaan mikroskop elektron, membran ini berkembang terus seumur hidup dan
mem punyai tebal + 40 mm. Lebih kompak dan elastis daripada membran
Bowman. Juga leb ih resisten terhadap trauma dan proses patologik lainnya
dibandingkan dengan bag ian-bagian kornea yang lain (Ilyas, 2005). 5. Endotel
Berasal dari mesotelium, terdiri atas satu lapis sel berbentuk heksagonal, tebal
antara 20-40 mm melekat erat pada membran descemet melalui taut. Endotel dari
k ornea ini dibasahi oleh aqueous humor. Lapisan endotel berbeda dengan lapisan
ep itel karena tidak mempunyai daya regenerasi, sebaliknya endotel mengkompe
nsasi sel-sel yang mati dengan mengurangi kepadatan seluruh endotel dan
memberik an dampak pada regulasi cairan, jika endotel tidak lagi dapat menjaga
keseimbang an cairan yang tepat akibat gangguan sistem pompa endotel, stroma
bengkak karena kelebihan cairan (edema kornea) dan kemudian hilangnya
transparansi (kekeruhan) akan terjadi. Permeabilitas dari kornea ditentukan oleh
epitel dan endotel yan g merupakan membrane semipermeabel, kedua lapisan ini
mempertahankan kejernihan daripada kornea, jika terdapat kerusakan pada lapisan
ini maka akan terjadi edem a kornea dan kekeruhan pada kornea (Ilyas, 2005).

3.2 Fisiologi Kornea


Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui
berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan oleh strukturnya
yang uniform , avaskuler dan deturgesensi. Deturgesensi atau keadaan dehidrasi
relatif jaring an kornea, dipertahankan oleh pompa bikarbonat aktif pada endotel
dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. Dalam mekanisme dehidrasi ini, endotel
jauh lebih pent ing daripada epitel, dan kerusakan kimiawi atau fisis pada endotel
berdampak jau h lebih parah daripada kerusakan pada epitel. Kerusakan sel-sel
endotel menyebab kan edema kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya,
kerusakan pada epit el hanya menyebabkan edema stroma kornea lokal sesaat
yang akan meghilang bila s el-sel epitel telah beregenerasi. Penguapan air dari
lapisan air mata prekorneal menghasilkan hipertonisitas ringan lapisan air mata
tersebut, yang mungkin meru pakan faktor lain dalam menarik air dari stroma
kornea superfisial dan membantu mempertahankan keadaan dehidrasi (Vaughan,
2009). Penetrasi kornea utuh oleh obat bersifat bifasik. Substansi larut-lemak
dapat me lalui epitel utuh dan substansi larut-air dapat melalui stroma yang utuh.
Karena nya agar dapat melalui kornea, obat harus larut-lemak dan larut-air
sekaligu s. Epitel adalah sawar yang efisien terhadap masuknya mikroorganisme
kedalam kor nea. Namun sekali kornea ini cedera, stroma yang avaskular dan
membran bowman mu dah terkena infeksi oleh berbagai macam organisme,
seperti bakteri, virus, amuba , dan jamur (Vaughan, 2009). Kornea merupakan
bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya, d alam perjalanan
pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan sel dan seratnya
tertentu dan tidak ada pembuluh darah. Biasan cahaya terutama terj adi di
permukaan anterior dari kornea. Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kor nea,
segera mengganggu pembentukan bayangan yang baik di retina. Oleh karenanya
kelainan sekecil apapun di kornea, dapat menimbulkan gangguan penglihatan
yang h ebat terutama bila letaknya di daerah pupil (Vaughan, 2009).
3.3 Keratitis
Definisi

Keratitis

adalah

infeksi

pada

kornea

yang

biasanya

diklasifikasikan menurut lapi san kornea yang terkena yaitu keratitis superfisialis
apabila mengenal lapisan epitel atau bowman dan keratitis profunda atau

interstisialis (atau disebut juga keratitis parenkimatosa) yang mengenai lapisan


stroma (Ilyas, 2006).
3.4 Etiologi dan faktor pencetus
Penyebab keratitis bermacam-macam. Bakteri, virus dan jamur dapat
menyebabkan ke ratitis. Penyebab paling sering adalah virus herpes simplex tipe
1. Selain itu penyebab lain adalah kekeringan pada mata, pajanan terhadap cahaya
yang sangat te rang, benda asing yang masuk ke mata, reaksi alergi atau mata
yang terlalu sensi tif terhadap kosmetik mata, debu, polusi atau bahan iritatif lain,
kekurangan vi tamin A dan penggunaan lensa kontak yang kurang baik (Mansjoer,
2001).
3.5 Tanda dan Gejala Umum
Tanda patognomik dari keratitis ialah terdapatnya infiltrat di kornea.
Infiltrat dapat ada di seluruh lapisan kornea, dan menetapkan diagnosis dan
pengobatan ke ratitis. Pada peradangan yang dalam, penyembuhan berakhir
dengan pembentukan jar ingan parut (sikatrik), yang dapat berupa nebula, makula,
dan leukoma. Adapun ge jala umum adalah : Keluar air mata yang berlebihan
Nyeri Penurunan tajam penglihatan Radang pada kelopak mata (bengkak,
merah) Mata merah Sensitif terhadap cahaya (Mansjoer, 2001).
3.6 Klasifikasi Keratitis
Keratitis diklasifikasikan berdasarkan lapisan kornea yang terkena : yaitu
keratitis superfisialis apabila mengenai lapisan epitel dan bowman dan kerat itis
profunda apabila mengenai lapisan stroma. Bentuk-bentuk klinik keratitis
superfisialis antara lain adalah (Ilyas, 2006): 1. Keratitis punctata superfisialis
Berupa bintik-bintik putih pada permukaan kornea yang dapat disebabkan oleh
sind rom dry eye, blefaritis, keratopati logaftalmus, keracunan obat topical, sinar u
ltraviolet, trauma kimia ringan dan pemakaian lensa kontak. 2. Keratitis flikten
Benjolan putih yang yang bermula di limbus tetapi mempunyai kecenderungan
untuk menyerang kornea. 3. Keratitis sika Suatu bentuk keratitis yang disebabkan
oleh kurangnya sekresi kelenjar lakrimale atau sel goblet yang berada di
konjungtiva. 4. Keratitis lepra Suatu bentuk keratitis yang diakibatkan oleh
gangguan trofik saraf, disebut juga keratitis neuroparalitik. 5. Keratitis
nummularis Bercak putih berbentuk bulat pada permukaan kornea biasanya

multiple dan banyak didapatkan pada petani. Bentuk-bentuk klinik keratitis


profunda antara lain adalah : 1. Keratitis interstisialis luetik atau keratitis sifilis
congenital 2. Keratitis sklerotikans.
3.7 Patofisiologi Gejala
Karena kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan tidak
seg era datang, seperti pada jaringan lain yang mengandung banyak vaskularisasi.
Mak a badan kornea, wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma
kor nea, segera bekerja sebagai makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi
pemb uluh darah yang terdapat dilimbus dan tampak sebagai injeksi perikornea.
Sesudah nya baru terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuclear, sel plasma, leukosit
polim orfonuklear (PMN), yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang tampak
sebagai b ercak berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan
permukaan tidak li cin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbulah
ulkus kornea (Vaughan, 2009). Kornea mempunyai banyak serabut saraf maka
kebanyakan lesi pada kornea baik superfisial maupun profunda dapat
menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit juga diperberat dengan adanaya
gesekan palpebra (terutama palbebra superi or) pada kornea dan menetap sampai
sembuh. Kontraksi bersifat progresif, regresi iris, yang meradang dapat
menimbulkan fotofobia, sedangkan iritasi yang terjadi pada ujung saraf kornea
merupakan fenomena reflek yang berhubungan dengan timbu lnya dilatasi pada
pembuluh iris. Fotofobia, yang berat pada kebanyakan penyakit kornea, minimal
pada keratitis herpes karena hipestesi terjadi pada penyakit ini , yang juga
merupakan tanda diagnostik berharga. Meskipun berair mata dan fotofo bia
umumnya menyertai penyakit kornea, umumnya tidak ada tahi mata kecuali
pada u lkus bakteri purulen (Vaughan, 2009). Karena kornea berfungsi sebagai
jendela bagi mata dan membiaskan berkas cahaya, l esi kornea umumnya agak
mengaburkan penglihatan, terutama kalau letaknya di pusat (Vaughan, 2009).
3.8 Diagnosa
Anamnesis

pasien

penting

pada penyakit

kornea. Sering dapat

diungkapkan adanya r iwayat trauma---kenyataannya, benda asing dan abrasi


merupakan dua lesi yang umu m pada kornea. Adanya riwayat penyakit kornea
juga bermanfaat. Keratitis akibat infeksi herpes simpleks sering kambuh, namun

karena erosi kambuh sangat sakit da n keratitis herpetik tidak, penyakit-penyakit


ini dapat dibedakan dari gejalanya . Hendaknya pula ditanyakan pemakaian obat
lokal oleh pasien, karena mungkin tel ah memakai kortikosteroid, yang dapat
merupakan predisposisi bagi penyakit bakte ri, fungi, atau oleh virus, terutama
keratitis herpes simpleks. Juga mungkin ter jadi imunosupresi akibat penyakitpenyakit sistemik, seperti diabetes, AIDS, dan penyakit ganas, selain oleh terapi
imunosupresi khusus (Vaughan, 2009). Dokter memeriksa di bawah cahaya yang
memadai. Pemeriksaan sering lebih mudah de ngan meneteskan anestesi lokal.
Pemulusan fluorescein dapat memperjelas lesi epi tel superfisialis yang tidak
mungkin tidak telihat bila tidak dipulas. Pemakaian biomikroskop (slitlamp)
penting untuk pemeriksaan kornea dengan benar; jika tid ak tersedia, dapat
dipakai kaca pembesar dan pencahayaan terang. Harus diperhati kan perjalanan
pantulan cahaya saat menggerakkan cahaya di atas kornea. Daerah k asar yang
menandakan defek pada epitel terlihat dengan cara ini (Vaughan, 2009). Mayoritas
kasus keratitis bakteri pada komunitas diselesaikan dengan terapi empi ris dan
dikelola tanpa hapusan atau kultur.Hapusan dan kultur sering membantu da lam
kasus dengan riwayat penyakit yang tidak jelas. Hipopion yang terjadi di mat a
dengan keratitis bakteri biasanya steril, dan pungsi akuos atau vitreous tidak perlu
dilakukan kecuali ada kecurigaan yang tinggi oleh mikroba endophthalmitis .
Kultur adalah cara untuk mengidentifikasi organisme kausatif dan satu-satunya ca
ra untuk menentukan kepekaan terhadap antibiotik. Kultur sangat membantu
sebagai panduan modifikasi terapi pada pasien dengan respon klinis yang tidak
bagus dan untuk mengurangi toksisitas dengan mengelakkan obat-obatan yang
tidak perlu. Da lam perawatan mata secara empiris tanpa kultur dimana respon
klinisnya tidak bag us, kultur dapat membantu meskipun keterlambatan dalam
pemulihan patogen dapat t erjadi. Sampel kornea diperoleh dengan memakai agen
anestesi topikal dan menggunakan ins trumen steril untuk mendapatkan atau
mengorek sampel dari daerah yang terinfeksi pada kornea. Kapas steril juga dapat
digunakan untuk mendapatkan sampel. Ini pa ling mudah dilakukan dengan
perbesaran Slit Lamp. Biopsi kornea dapat diindikasikan jika terjadi respon yang
minimal terhadap peng obatan atau jika kultur telah negatif lebih dari satu kali
dengan gambaran klini s yang sangat mendukung suatu proses infeksi. Hal ini

juga dapat diindikasikan j ika infiltrat terletak di pertengahan atau dalam stroma
dengan jaringan atasnya tidak terlibat. Pada pasien kooperatif, biopsi kornea dapat
dilakukan dengan bantuan Slit Lamp a tau mikroskop operasi. Setelah anestesi
topikal, gunakan sebuah pisau untuk meng ambil sepotong kecil jaringan stroma,
yang cukup besar untuk memungkinkan pembel ahan sehingga satu porsi dapat
dikirim untuk kultur dan yang lainnya untuk histo patologi. Spesimen biopsi harus
disampaikanke laboratorium secara tepat waktu.
3.9 Terapi
Terapi medikamentosa di Indonesia terhambat oleh terbatasnya preparat
komersial yang tersedia, tampaknya diperlukan kreativitas dalam improvisasi
pengadaan obat , yang utama dalam terapi keratomikosis adalah mengenai jenis
keratomikosis yang dihadapi bisa dibagi: 1. Belum diidentifikasi jenis jamur
penyebabnya. 2. Jamur berfilamen. 3. Ragi (yeast). 4. Golongan Actinomyces
yang sebenarnya bukan jamur sejati. Untuk golongan I : Topikal Amphotericin B
1,02,5 mg/ml, Thiomerosal (10 mg/ml), N atamycin > 10 mg/ml, golongan
Imidazole. Untuk golongan II : Topikal Amphotericin B 0,15%, Miconazole 1%,
Natamycin 5% (o bat terpilih), econazole 1% (obat terpilih). Untuk golongan III :
Econazole 1%, Amphoterisin B 0,15 %, Natamycin 5%, Clotrima zole 1%,
fluoconazol 2 % (Jack, 2009). Untuk golongan IV : Golongan Sulfa, berbagai
jenis Antibiotik. Steroid topikal adalah kontra indikasi, terutama pada saat terapi
awal. Diberika n juga obat sikloplegik (atropin) guna mencegah sinekia posterior
untuk menguran gi uveitis anterior. Tidak ada pedoman pasti untuk penentuan
lamanya terapi; kriteria penyembuhan ant ara lain adalah adanya penumpulan
(blunting atau rounding-up) dari lesi-lesi ire guler pada tepi ulkus, menghilangnya
lesi satelit dan berkurangnya infiltrasi di stroma di sentral dan juga daerah sekitar
tepi ulkus. Perbaikan klinik biasanya tidak secepat ulkus bakteri atau virus.
Adanya defek epitel yang sulit menutup belum tentu menyatakan bahwa terapi
tidak berhasil, bahkan kadang-kadang terjadi akibat pengobatan yang berlebihan.
Jadi pada terapi keratomikosis diperlukan ke sabaran, ketekunan dan ketelitian
dari kita semua (Grayson, 1983).

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Keratitis adalah suatu peradangan kornea yang disebabkan oleh bakteri,
virus, da n jamur. Keratitis dapat diklasifikasikan berdasarkan lapis kornea yang
terkena seperti keratitis superficial dan profunda, atau berdasarkan penyebabnya
yaitu k eratitis karena berkurangnya sekresi air mata, keratitis karena keracunan
obat, keratitis reaksi alergi, infeksi, reaksi kekebalan, reaksi terhadap konjungtivit
is menahun. Pada Keratitis sering timbul rasa sakit yang berat oleh karena kornea
bergesekan dengan palpebra, karena kornea berfungsi sebagai media untuk
refraksi sinar dan merupakan media pembiasan terhadap sinar yang yang masuk
ke mata maka lesi pada kornea umumnya akan mengaburkan penglihatan terutama
apabila lesi terletak sent ral dari kornea. Fotofobia terutama disebabkan oleh iris
yang meradang Keratiti s dapat memberikan gejala mata merah, rasa silau dan
merasa ada yang mengganjal atau kelilipan. Manajemen yang tepat dapat
mengurangi insidensi kehilangan penglihatan dan memba tasi kerusakan kornea.
Keterlambatan diagnosis infeksi adalah salah satu faktor yang berperan terhadap
terapi awal yang tidak tepat. Kebanyakan gangguan pengli hatan ini dapat
dicegah, namun hanya bila di diagnosis penyebabnya ditetapkan se cara dini dan
diobati secara memadai.
4.2 Saran
1. Dilakukan penelitian epidemiologi tentang penatalaksanaan secara empiris pada
kasus keratitis bakteri, virus dan jamur di Indonesia khususnya di tiap-tiap
daerah
2. Dilakukan penelitian terkait faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasila n
terapi keratitis bakteri, virus serta jamur

DAFTAR PUSTAKA
Acharya, N.R., M. Srinivasan, J. Mascarenhas, et al. "The Steroid Controversy
in Bacterial Keratitis." Arch Ophthalmol. 127.9 Sept. 2009: 1231.
American Academy of Ophthalmology. Externa disease and cornea. San Frans
isco 2007
American Academy of Ophthalmology Cornea/External Disease Panel, Preferred
Practice Patterns Committee. "Bacterial Keratitis." San Francisco:
American Academy of Ophthalmology (AAO), 2008.
Duane, D Thomas : Clinical Ophthalmology, Volume 4, Philadelphia, Harper &
Row Publisher, 1987.
Grayson, Merrill : Diseases of The Cornea, Second Edition, London, The C . V.
Mosby Company, 1983.
Ilyas, Sidarta. 2000.Sari Ilmu Penyakit Mata. Balai Penerbit FKUI Jakart a :52.
Ilyas, Sidarta. 2006. Ilmu Penyakit Mata, Edisi 3. Balai Penerbit FKUI J akarta.
Mansjoer, Arif M. 2001. Kapita Selekta edisi-3 jilid-1. Jakarta: Media A
esculapius FKUI. Hal: 56
Morgan, P.B., N. Efron, N.A. Brennan, et al. "Risk Factors for the Development
of Corneal Infiltrative Events Associated With Contact Lens Wear."
Invest Ophthalmol Vis Sci. 46.9 Sept. 2005: 3136-3143.
Poggio, E.C., R.J. Glynn, and O.D. Schein. "The Incidence of Ulcerative
Keratitis Among Users of Daily-Wear and Extended-Wear Soft
Contact Lenses." N Engl J Med. 321.12 Sept. 21, 1989: 779-783.
Srinivasan M, et al. Distinguishing infectious versus non infectious ker atitis.
INDIAN Journal of Opthalmology 2006 56:3;50-56 9. Vaughan, Daniel.
Oftalmologi Umum. Edisi 14 Cetakan Pertama. Widya Medik a Jakarta,
2009