Anda di halaman 1dari 14

PANEN DAN PENANGANAN PASCA PANEN

MELATI (Jasminum officinale (L) W. Ait.)


PAPER
OLEH :
AGROEKOTEKNOLOGI II
KELOMPOK VII
SYAWAL HENDRA PASARIBU130301119
MUHAMMAD SAKTI HARAHAP
130301072
DEDI SUSANTO R. MANURUNG
130301071
ARWIN SHOLEH
130301078
RIANDI SYAHPUTRA
130301083
MUHAMMAD YUSNAN LUBIS
130301113
NAIKSAN C. S. SAMOSIR
110301228

TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN HORTIKULTURA


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2015

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang
telah memberi nikmat dan berkah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
paper

yang

berjudul

Panen

Dan

Penanganan

Pascapanen

Melati (Jasminum officinale (L) W. Ait.) tepat pada waktunya.


Paper ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Budidaya
Tanaman Hortikultura yang diberikan oleh Ir. Rosita Sipayung, MP selaku dosen
mata kuliah.
Penulis menyadari bahwa paper ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu, penulis menerima kritik dan saran dari semua pihak agar penyusunan paper
selanjutnya menjadi lebih baik.
Akhir kata penulis ucapkan terima kasih dan semoga paper ini bermanfaat bagi
kita semua.
Medan,

November 2015

Tim Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang...............................................................................................1
Tujuan Penulisan............................................................................................2
Kegunaan Penulisan.......................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
Panen Melati (Jasminum officinale (L) W. Ait.)............................................3
Ciri dan Umur Panen............................................................................4
Standar Prosedur Panen........................................................................4
Cara Panen...........................................................................................4
Prakiraan Produksi...............................................................................5
Penanganan Pascapanen Melati (Jasminum officinale (L) W. Ait.)..............5
Standar Prosedur Pascapanen...............................................................6
Prosedur Kerja Pascapanen .................................................................6
Minyak Melati......................................................................................8
BAB III PENUTUP
Kesimpulan..................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Melati merupakan tanaman bunga hias berupa perdu berbatang tegak yang
hidup menahun. Di Italia melati casablanca (Jasmine officinalle) disebut Spansish
Jasmine ditanam tahun 1692 untuk di jadikan parfum. Tahun 1665 di Inggris
dibudidayakan melati putih (J. sambac) yang diperkenalkan oleh Duke Casimo
deMeici. Dalam tahun 1919 ditemukan melati J. parkeri di kawasan India Barat
Laut, Kemudian dibudidayakan di Inggris pada tahun 1923. Di Indonesia nama
melati dikenal oleh masyarakat di seluruh wilayah Nusantara. Nama-nama daerah
untuk melati adalah Menuh (Bali), Meulu cut atau Meulu Cina (Aceh), Menyuru
(Banda), Melur (Gayo dan Batak Karo), Manduru (Menado), Mundu (Bima dan
Sumbawa) dan Manyora (Timor), serta Malete (Madura) (Deputi Menegristek,
2015).
Melati putih (Jasminum sambac (L) W. Ait.) merupakan tanaman hias
bunga yang semakin dibutuhkan untuk bahan baku industri minyak wangi,
kosmetik, pewangi, penyedap teh, cat, tinta, pestisida, industri tekstil, farmasi,
dekorasi, upacara adat dan keagamaan (Wulandari, 2013).
Minyak melati merupakan bahan baku parfum kualitas tinggi. Harga
minyak melati di pasar internasional tergolong tinggi, sekitar 6.000 dolar Amerika
Serikat per liter atau setara dengan 54 juta rupiah. Di Indonesia, kebutuhan
minyak atsiri untuk industri kosmetik, sabun, dan parfum masih dipenuhi dari
impor. Pada tahun 1995 volume impor minyak atsiri berbahan baku bunga tercatat
29 ton dengan nilai 415,4 dolar dan pada tahun 1999 meningkat menjadi 336 ton
dengan nilai 845,5 dolar (Suyanti et al, 2003).
Menurut Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor
73/Permentan/OT.140/7/2013 panen dan pascapanen dalam sistem agribisnis
pada tahun 1979 dinyatakan oleh FAO sebagai masalah besar kedua (Second
Generation Problem) karena terjadi kehilangan hasil yang besar, baik secara
kualitatif maupun kuantitatif dalam proses penyediaan pangan. Sejak awal tahun
2000 terkait dengan ketersediaan pangan, masyarakat menuntut sistem jaminan
mutu dan keamanan pangan yang lebih baik. Hal lain yang menjadi perhatian

yaitu kesejahteraan dan keselamatan pekerja, serta keamanan lingkungan dalam


seluruh proses penyediaan pangan. Hal tersebut tertuang dalam kesepakatankesepakatan di berbagai forum dunia, seperti Organisasi Perdagangan Dunia atau
World Trade Organisation (WTO).
Untuk memasuki pasar internasional diperlukan produk pertanian yang
bermutu dan berdaya saing tinggi. Upaya peningkatan mutu produk tanaman hias
ditempuh melalui penerapan Good Agricultural Practices/Standar Operasional
Prosedur (GAP/SOP). Dengan diterapkannya SOP diharapkan proses produksi
tanaman hias memenuhi kriteria : aman bagi pekerja, ramah lingkungan dan aman
bagi konsumen. Di samping itu kualitas produk meningkat dan penetrasi pasar
lebih mudah serta pasar lebih terbuka. Salah satu komoditas yang memiliki
peluang yang cukup tinggi di pasar internasional adalah Melati. Tujuan ekspor
produk Melati antara lain adalah Singapura, Malaysia dan India
(Wediyanto, 2008).
Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan paper ini adalah untuk mengetahui penanganan panen
dan pascapanen melati (Jasminum officinale (L) W. Ait.).
Kegunaan Penulisan
Kegunaan dari penulisan paper ini adalah untuk memenuhi komponen
penilaian di mata kuliah Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura Program
Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan
dan sebagai sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.

BAB II
PEMBAHASAN
Menurut Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor
73/Permentan/OT.140/7/2013 Tentang Pedoman Panen, Pascapanen, Dan
Pengelolaan Bangsal Pascapanen Hortikultura Yang Baik, tanaman florikultura
merupakan suatu kelompok tanaman hortikultura yang bagian atau
keseluruhannya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan keindahan, keasrian, dan
kenyamanan lingkungan di dalam ruang tertutup dan/atau terbuka. Tanaman
bunga tabur, merupakan suatu kelompok tanaman florikultura yang bagian
bunganya memiliki keindahan bentuk, warna, aroma, ukuran, mahkota bunga
mudah dipisahkan dan cocok dimanfaatkan sebagai bunga tabur. Tanaman bunga
tabur, antara lain melati, mawar tabur, pacar air, bunga kamboja (plumeria).
Karakter tanaman daun dan bunga potong serta bunga tabur terkait dengan
panen dan pascapanen, mudah menurun kualitasnya karena pengaruh lingkungan
mikro maupun makro serta perlakuan fisik seperti daun potong setelah panen
mudah layu, mudah berubah warna, atau mudah rusak bila terkena sinar matahari
langsung dalam waktu tertentu, serta mudah rusak secara fisik. Bunga tabur relatif
lebih mudah layu dan rusak dibanding bunga potong, kemudian bunga potong
relatif lebih mudah layu dan rusak dibanding daun potong.
Panen Melati (Jasminum officinale (L) W. Ait.)
Panen merupakan kegiatan mengakhiri dari proses budidaya tanaman,
tetapi merupakan awal dari kegiatan pascapanen untuk pemanfaatan lebih lanjut.
Prinsip panen merupakan upaya memanfaatkan hasil budidaya dengan cara
tertentu sesuai sifat dan/atau karakter tanaman. Hasil panen secepat mungkin
dilaksanakan perlakuan pascapanen yang baik seperti dipindahkan ke tempat yang
aman untuk meminimalisasi terjadinya susut/kerus. Disamping itu diupayakan
agar produk atau tanaman sesedikit mungkin dipindahtangankan. Tujuan panen
yaitu mengambil dan/atau memisahkan bagian hasil atau tanaman secara utuh
serta mengumpulkan dari lahan atau tanaman atau tanaman induk lain dengan cara
yang baik dan benar (Kitinoja dan Kader, 2003).

Ciri dan Umur Panen


Ciri-ciri bunga melati yang sudah saatnya dipanen adalah ukuran kuntum
bunga sudah besar (maksimal) dan masih kuncup/setengah mekar. Produksi bunga
melati di Indoensia masih rendah yakni berkisar antara 20-25 kg/hektar/hari.
Tanaman melati mulai berbunga pada umur 7-12 bulan setelah tanam. Panen
bunga melati dapat dilakukan sepanjang tahun secara berkali-kali sampai umur
tanaman antara 5-10 tahun. Setiap tahun berbunga tanaman melati umumnya
berlangsung selama 12 minggu (3 bulan) (Deputi Menegristek, 2015).
Standar Prosedur Panen
Menurut Wediyanto (2008) standar operasional prosedur Melati adalah
sebagai berikut:
1. Cukup umur dan sesuai dengan spesifikasi bunga tabur yang diinginkan
konsumen.
2. Ciri-ciri bunga Melati yang sudah siap panen adalah ukuran kuntum bunga
sudah besar (maksimal) dan masih kuncup (setengah mekar).
3. Hasil panen bunga Melati terbanyak berkisar antara 1-2 minggu.
Selanjutnya, produksi bunga akan menurun dan 2 bulan kemudian
meningkat lagi.
4. Produksi bunga Melati paling tinggi biasanya pada musim hujan.
5. Pemetikan bunga Melati dilakukan secara manual. Jangan gunakan pisau,
gunting dan alat bantu yang tajam lainnya.
6. Pemanenan dilakukan dengan memotong dahan/tangkai tanaman yang
berbunga.
7. Hindari luka pada tanaman saat memanen.
8. Lakukan pencatatan setiap tahapan pelaksanaan panen.
Cara Panen
Pemetikan bunga melati sebaiknya dilakukan pada pagi sore, yakni saat
sinar matahari tidak terlalu terik/suhu udara tidak terlalu panas.
1. Lakukan penjadwalan pemanenan. Tanaman Melati yang masih produktif
biasanya harus dipanen setiap hari.
2. Lakukan pengecekan blok tanaman yang dapat dipanen bunganya.
5
3. Buat rencana persiapan panen.
4. Siapkan personil/petugas yang akan melakukan pemanenan. Beri instruksi
kepada personil/petugas yang akan melakukan pemanenan.
5. Pastikan saat panen tidak sedang hujan.

6. Panen bunga Melati dengan memetik langsung secara manual bunga yang
sudah mekar (maksimal) dan masih kuncup (setengah mekar).
7. Masukkan bunga yang sudah dipanen ke dalam keranjang. Ukuran
keranjang disesuaikan dengan jumlah bunga yang akan dipanen. Pada saat
panen raya, dibutuhkan keranjang dengan ukuran yang lebih besar.
8. Di tempat terbuka bunga Melati akan cepat layu. Cara-cara yang dapat
dilakukan untuk mempertahankan kesegaran Bunga adalah dihamparkan
dalam tanah beralas lembar plastik.
9. Upayakan bunga Melati yang dipanen tidak rusak.
10. Bila memiliki cold storage/pendingin/chiller, simpan bunga Melati yang
sudah dipanen di ruangan bersuhu udara 0-5C.
11. Lakukan pencatatan pelaksanaan pemanenan dan informasi lain yang
dianggap perlu.
Prakiraan Produksi
Produksi bunga melati paling tinggi biasanya pada musim hujan, di Jawa
Tengah, panen bunga melati pada musim kemarau menghasilkan 510 kg/hektar,
sedangkan panen pada musim hujan mencapai 300-1.000kg/ha. Data produksi
bunga melati di Indonesia berkisar 1,52 ton/ha/th pada musim hujan dan 0,7-1
ton/ha/th pada musim kemarau (Deputi Menegeristek, 2015).
Penanganan Pascapanen Melati (Jasminum officinale (L) W. Ait.)
Prinsip dasar penanganan pascapanen merupakan rangkaian kegiatan
setelah panen yang dilakukan dalam tahapan dan waktu sesingkat mungkin untuk
menghantarkan produk hortikultura dari lahan produksi ke tangan konsumen
dalam keadaan segar dan baik. Disamping itu diupayakan agar produk sesedikit
mungkin kontak fisik atau dipindahtangankan. Keadaan yang segar dan baik dari
produk hortikultura berkaitan erat dengan karakteristik produk hortikultura yang
bersangkutan sebagaimana tercermin dari sifat-sifat mutu yang tercantum dalam
standar mutu atau persyaratan teknis minimal. Penanganan pascapanen bertujuan
meningkatkan dan/atau mempertahankan sifat-sifat mutu dari produk hortikultura
mencakup karakteristik tampilan (bentuk, ukuran, warna dan bebas dari cacatcela), tekstur, cita rasa, nilai nutrisi dan keamanan pangan. Disamping itu,
penanganan pascapanen juga diharapkan dapat mengurangi kehilangan dan
kerusakan serta meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk hortikultura
yang bersangkutan (Kitinoja dan Kader, 2003).

Standar Prosedur Pascapanen


Menurut Wediyanto (2008) standar operasional prosedur Melati adalah
sebagai berikut:
1. Persiapkan rencana pelaksanaan penanganan pasca panen.
2. Hubungi petugas yang menangani pasca panen, kemudian berikan
instruksi penangananan pasca panen kepada para petugas.
3. Hindari menempatkan bunga Melati yang selesai dipanen berada terlalu
lama di tempat terbuka, untuk menghindari bunga Melati menjadi cepat
layu.
4. Bunga Melati yang sudah selesai dipanen dihamparkan dalam tampah
beralas di ruang pengumpulan.
5. Pertahankan kesegaran bunga Melati selama proses berlangsung.
6. Sortasi dilakukan di rumah pengumpulan bunga Melati.
7. Grading biasanya dilakukan bila bunga Melati yang dipanen akan
diekspor. Grading dilakukan berdasarkan ukuran kuntum.
8. Pendinginan awal (pre-cooling) dengan melakukan perendaman air es.
Biasanya dilakukan oleh pedagang pengumpul.
9. Melati tersebut dikemas dengan menggunakan plastik.
10. Melati yang telah dikemas.
Prosedur Kerja Pascapanen
1. Pengumpulan
Di tempat terbuka bunga melati akan cepat layu untuk
mempertahankan/memperpanjang kesegaran bunga tersebut dihamparkan dalam
tampah beralas lembar plastik kemudian disimpan di ruangan bersuhu udara
dingin antara 0-5C.
7

2. Perompesan
Perompesan yaitu kegiatan memisahkan atau membuang bagian produk
yang tidak diinginkan seperti memotong tangkai, membuang daun, akar, dan
bagian tertentu yang tidak diperlukan. Perompesan sebaiknya menggunakan cara
dan alat yang tidak merusak produk dan menyediakan wadah/tempat untuk
menampung sampah/sisa-sisa bagian tanaman yang dibuang.
3. Sortasi

Penyortiran merupakan kegiatan pemilahan hasil panen yang baik dari


yang rusak atau cacat, yang sehat dari yang sakit, dan benda asing lainnya. Sortasi
harus dilakukan dengan hati-hati agar hasil panen tidak rusak. Sortasi dapat
menggunakan alat dan/atau mesin sesuai sifat dan karakteristik produk
hortikultura. Di lapangan, kegiatan sortasi dan grading sering dilakukan secara
bersamaan, yaitu di rumah pengumpulan. Di rumah pengumpulan, bunga Melati
dihamparkan kemudian dilakukan sortasi untuk memisahkan bunga mekar, daun
dan bila perlu tajuk bunga dilepaskan.
4. Grading
Penggolongan atau grading berdasarkan ukuran kuntum bunga hanya
dilakukan untuk eskpor. Melati untuk jenis Jasminum sambac untuk ekspor
memiliki standar panjang kuntum lebih dari 20 mm, diameter kuntum lebih dari
7,5 mm dengan berat tiap 100 kuntum lebih dari 15 gram.
5. Pendinginan awal (pre-cooling)
Penyejukan/Pre Cooling merupakan upaya untuk menghilangkan panas
lapang pada produk yang baru dipanen. Penyejukan harus dilakukan dengan
memperhatikan sirkulasi udara atau air yang baik, merata, waktu yang cukup dan
tidak menggunakan bahan yang dapat mencemari produk. Pendinginan awal (precooling) dengan melakukan perendaman air es.
6. Pewarnaan
Pewarnaan bunga merupakan suatu kegiatan melalui proses biologis yang
dilakukan secara artificial dengan pemberian warna baru pada bunga
menggunakan zat warna tertentu agar menjadi lebih beragam warnanya sehingga
penampilan menjadi lebih asri dan menarik. Metode pewarnaan dapat dilakukan

dengan perendaman atau penyemprotan dengan pewarna bentuk cair maupun


padat yang dicairkan.
7. Pengemasan
Pengemasan merupakan kegiatan untuk mewadahi dan/atau membungkus
sesuai dengan karakteristik produk. Pengemasan produk hortikultura dapat
dilakukan secara manual maupun mekanis tergantung dari jumlah dan jenis
produk hortikultura yang bersangkutan. Pengemasan Melati dengan menggunakan
plastik sebagai kemasan primer dan styrofoam kemasan sekundernya. Cara

mengemas (es-melati yang dikemas dengan plastik-es-melati yang dikemas plastik


dan seterusnya dengan yang paling atas es).
Minyak Melati
Suyanti et al (2003) Salah satu produk pengolahan pascapanen bunga
melati adalah Jasmine Oil.
1. Teknik enfleurage disebut teknik olesan
Prinsip kerja ekstraksi bunga melati dengan teknik olesan adalah sebagai
berikut:
a) Oleskan lemak muri pada permukaan kaca tipis.
b) Letakan bunga melati yang masih segar (baru petik) diatas permukaan kaca .
c) Simpan kaca tipis bersama bunga melati dalam rak-rak penyimpanan yang
terbuat dari plastik, kayu/logam tahan karat.
d) Biarkan bunga melati selama 3-4 hari sampai bunga tersebut layu.
e) Bunga melati yang telah layu segera dibuang untuk diganti dengan bungabunga baru/masih segar.
f) Lakukan cara tadi secara berulang-ulang selama 2-3 bulan hingga lemak
dipenuhi minyak wangi bunga melati.
2. Tabung Hampa
Teknik ekstraksi minyak melati dapat dilakukan dengan teknik tabung
hampa.
a) Masukan bunga melati segar ke dalam tabung, kemudian alirkan bahan
pelarut (alkohol, ether, chlorofrom, ecetone, lemak murni, ether minyak
bumi) secara berkesinambungan.
b) Salurkan cairan ekstrak yang mengandung bahan pelarut dan unsur-unsur

bunga melati ke tabung hampa udara yang dipanaskan sekedarnya untuk


menguapkan bahan pelarut. Uap pelarut diallirkan kembali ke kondensor
agar menjadi cairan.
c) Tambahkan ethanol ke dalam unsur bunga melati. Unsur bunga melati
biasanya berupa lilin padat (concrete) yang masih mengandung zat pewarna,
damar dan unsur lain yang tidak menguap.
d) Campurkan minyak tadi dengan alkohol kemudian saring kembali untuk
menghilangkan kandungan damar.
e) Lakukan penyulingan absolut dengan menggunakan sthlene glycol
penyinaran dengan sinar ultra violet untuk menghilangkan zat pewarna.

10

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1. Tanaman melati mulai berbunga pada umur 7-12 bulan setelah tanam.
2. Panen bunga melati dapat dilakukan sepanjang tahun secara berkali-kali
sampai umur tanaman antara 5-10 tahun.
3. Setiap tahun berbunga tanaman melati umumnya berlangsung selama 12
minggu (3 bulan).
4. Untuk mempertahankan/memperpanjang kesegaran bunga melati dengan
dihamparkan dalam tampah beralas lembar plastik kemudian disimpan di
ruangan bersuhu udara dingin antara 0-5C.
5. Salah satu produk pengolahan pascapanen bunga melati adalah Jasmine
Oil.

DAFTAR PUSTAKA
Deputi Menegristek, 2015. MELATI (Jasmine officinalle). Bidang Pendayagunaan
dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Jakarta.
Kitinoja, L dan A, A. Kader Diterjemahkan oleh I Made S. Utama, 2003. Praktikpraktik Penanganan Pascapanen Skala Kecil: Manual untuk Produk
Hortikultura (Edisi ke4). Davis Postharvest Technology Research and
Information Center. California.
PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR
73/Permentan/OT.140/7/2013 Tentang Pedoman Panen, Pascapanen, Dan
Pengelolaan Bangsal Pascapanen Hortikultura Yang Baik.
Suyanti., S, Prabawati., dan Sjaifullah, 2003. Sifat Fisik dan Komponen Kimia
Bunga Melati Jasminum officinale. Balai Penelitian Pascapanen Pertanian.
Jakarta.
Wediyanto, A. 2008. Standar Operasional Prosedur Melati. Direktorat Budidaya
Tanaman Hias. Jakarta.

Wulandari, R. C., R, Linda., dan Mukarlina, 2013. Pertumbuhan Stek Melati Putih
(Jasminum sambac (L) W. Ait.) dengan Pemberian Air Kelapa dan IBA
(Indole Butyric Acid ). Universitas Tanjungpura. Pontianak.