Anda di halaman 1dari 6

CRITICAL REVIEW

ANALISIS PENGARUH PAJAK DAN MEKANISME BONUS TERHADAP


KEPUTUSAN TRANSFER PRICING
(Studi Empiris Pada Seluruh Perusahaan Yang Listing Di Bursa Efek Indonesia)

Oleh :
KELOMPOK 7

NI NYOMAN DESI ANTARI

1306305044

(13)

NI KADEK SRI UDAYANI

1306305073

(24)

MANDUR BOZNAI MORIN

1306305089

(05)

IBRATUL ULFA

1306305166

(23)

NI PUTU BELLA NOVINDRA

1306305216

(30)

LUH PUTRI SWANDEWI

1306305221

(31)

PROGRAM REGULER
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2016

Judul Artikel : ANALISIS PENGARUH PAJAK DAN MEKANISME BONUS


TERHADAP

KEPUTUSAN

TRANSFER

PRICING

(Studi

Empiris Pada Seluruh Perusahaan Yang Listing Di Bursa Efek


Indonesia)
Nama Penulis : Winda Hartati, Desmiyawati, Nur Azlina (Universitas Riau)

A. Ringkasan
Globalisasi ekonomi telah membawa dampak semakin meningkatnya transaksi
internasional atau cross border transaction. Arus barang, orang, jasa, dan permodalan
(investasi) antarnegara telah menjadi berlipat ganda. Saat ini pergerakan modal dan
dana dari satu negara ke negara lain menjadi lebih besar dari sebelumnya. Lahirnya
General Agreement on Trade and Tariff (GATT) dan World Trade Organisation
(WTO) telah mengurangi kendala-kendala dalam pergerakan barang, jasa dan modal
antar negara. Perusahaan-perusahaan tidak lagi membatasi operasinya hanya di negara
sendiri, akan tetapi merambah ke mancanegara dan menjadi perusahaan multinasional
dan transnasional. Mereka beroperasi melalui anak usaha dan cabang-cabangnya di
hampir semua negara berkembang dan pasar-pasar yang sedang tumbuh.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 diatur di Pasal 18 ayat (4)
yaitu: hubungan istimewa antara Wajib Pajak Badan dapat terjadi karena pemilikan atau
penguasaan modal saham suatu badan oleh badan lainya sebanyak 25% (dua puluh lima
persen) atau lebih, atau antara beberapa badan yang 25% (dua puluh lima persen) atau
lebih sahamnya dimiliki oleh suatu badan. Hubungan istimewa dapat mengakibatkan
ketidakwajaran harga, biaya, atau imbalan lain yang direalisasikan dalam suatu
transaksi usaha. Secara universal transaksi antarwajib pajak yang mempunyai hubungan
istimewa tersebut dikenal dengan istilah transfer pricing. Hal ini dapat mengakibatkan
terjadinya pengalihan penghasilan, dasar pengenaan pajak (tax base) atau biaya dari
satu wajib pajak kepada wajib pajak lain yang dapat direkayasa untuk menekan
keseluruhan jumlah pajak terutang atas wajib pajak yang mempunyai hubungan
istimewa tersebut.
Permasalahan Transfer Pricing menjadi isu yang sangat menarik dan semakin
mendapatkan perhatian dari otoritas perpajakan di berbagai belahan dunia. Semakin
banyak negara di dunia yang mulai memperkenalkan peraturan tentang Transfer
Pricing. Bahkan menurut Suandy (2011: 74), penelitian akhir akhir ini telah
menemukan bahwa lebih dari 80% perusahaan perusahaan multinasional (MNC)
1

melihat harga transfer (transfer pricing) sebagai suatu isu pajak internasional utama,
dan lebih dari setengah perusahaan ini mengatakan bahwa isu ini adalah isu yang paling
penting. Hal ini tidak terlepas dari semakin berkembangnya globalisasi ekonomi yang
ditandai dengan munculnya banyak perusahaan multinasional (Multi National
Enterprise) yang beroperasi di manca negara.
Beberapa penelitian mengenai motivasi pajak serta kaitannya terhadap
keputusan transfer pricing telah dilakukan. Diantaranya oleh Bernard et al., (2006)
yang menemukan bahwa harga transaksi pihak terkait berhubungan dengan tingkat
pajak dan tariff rate negara tujuan. Kemudian Yuniasih et al., (2012) juga mengatakan
bahwa pajak berpengaruh pada keputusan transfer pricing. Besarnya keputusan untuk
melakukan praktik transfer pricing akan mengakibatkan pembayaran pajak menjadi
lebih rendah secara global pada umumnya.
Selain

motivasi

pajak,

keputusan

untuk

melakukan

transfer

pricing

juga dipengaruhi oleh mekanisme bonus (bonus scheme). Menurut Purwanti (2010),
Tantiem/ bonus merupakan penghargaan yang diberikan oleh RUPS kepada anggota
Direksi setiap tahun apabila perusahaan memperoleh laba. Sistem pemberian
kompensasi bonus ini akan memberikan pengaruh terhadap manajemen dalam
merekayasa laba. Manajer akan cenderung melakukan tindakan yang mengatur
laba bersih untuk dapat memaksimalkan bonus yang akan mereka terima.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka penelitian ini akan menguji kembali
pengaruh pajak dan mekanisme bonus pada keputusan perusahaan untuk melakukan
transfer pricing. Penelitian ini menggunakan seluruh perusahaan yang listing di Bursa
Efek Indonesia sebagai sampel. Perusahaan asing yang berada di Indonesia, adalah
cabang dari induk perusahaan di luar negeri.

B. Telaah Kritis Artikel


B.1. Kesesuai Judul Dengan Pembahasan
Judul merupakan bagian yang mencakup keseluruhan dari apa yang di bahas
dalam penetilian, baik objek penelitian dan variabel penelitian. Judul penelitian tidak
boleh menimbulkan multitafsir sehingga menghasilkan pemahaman yang berbeda dari
pembaca. Oleh karena itu, diperlukan kesesuaian antara judul dengan pembahasan.
Pada artikel penelitian ini, judul dengan pembahasan sudah sesuaian, karena
penulisan artikel penelitian ini sudah menjelaskan beberapa variabel
mempengaruhi keputusan transfer pricing.
2

yang

B.2. Kesesuaian Teori yang Digunakan


Dalam artikel yang kami review tidak dijelaskan secara jelas mengenai landasan
teori dan teori pendukung yang digunakan. Berikut adalah landasan teori dan teori
pendukung yang seharusnya dijelaskan.

Landasan Teori
Agency Theory atau Teori Keagenan adalah teori yang mencoba menjelaskan
bagaimana pihak-pihak yang terlibat dalam perusahaan (manajer, pemilik, dan
kreditor) akan berperilaku karena mereka pada dasarnya memiliki kepentingan
yang berbeda.

Teori Akuntansi Positif yaitu teori yang berupaya menjelaskan sebuah proses,
yang menggunakan kemampuan, pemahaman, dan pengetahuan akuntansi serta
penggunaan kebijakan akuntansi yang paling sesuai untuk menghadapi kondisi
tertentu dimasa mendatang. Teori akuntansi positif pada prinsipnya beranggapan
bahwa tujuan dari teori akuntansi adalah untuk menjelaskan dan memprediksi
praktik-praktik akuntansi.

B.3. Kesesuaian Metodelogi


B.3.1. Metode Pengambilan Sampel
Metode yang digunakan dalam penelitian ini sudah sesuai. Teknik yang
digunakan dalam pengambilan sampel adalah purposive sampling, yang merupakan
pengambilan sampel secara sengaja sesuai dengan persyaratan sampel yang diperlukan.
Penelitian ini menggunakan data sekunder (secondary data), yakni data dari laporan
keuangan (annual report) pada tahun 2012.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 109 pengamatan
seluruh perusahaan pada tahun 2012. Penelitian ini dilakukan pada seluruh perusahaan
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, kecuali perusahaan yang bergerak di bidang
keuangan. Adapun kriteria penentuan sampel dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Penelitian ini menggunakan seluruh perusahaan yang listing di Bursa Efek
Indonesia.
2. Data laporan keuangan perusahaan sampel tersedia untuk tahun pelaporan 2012.
3. Perusahaan sampel tidak mengalami kerugian selama periode pengamatan. Hal
ini karena perusahaan yang mengalami kerugian tidak memiliki kewajiban
perpajakan di tingkat perusahaan sehingga motivasi pajak menjadi tidak

relevan. Oleh karena itu perusahaan yang mengalami kerugian dikeluarkan dari
sampel.

B.3.2. Metode Analisis Data


Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis regresi logistik
(Binary Logistic Regresion). Teknik ini digunakan karena variabel terikat dalam
penelitian ini yaitu transfer pricing bersifat dikotomus atau merupakan variabel dummy.
Menurut Ghozali (2006: 71), teknik analisis ini tidak memerlukan lagi uji normalitas
dan uji asumsi klasik pada variabel bebasnya.

B.4. Simpulan Menjawab Pertanyaan


Dalam artikel ini tidak tertera secara implisit pertanyaan dari penelitiaan ini.
Namun, dari hipotesis penelitian yang ada dapat diketahui pertanyaan dalam penelitian
ini adalah bagaimana pengaruh pajak

dan mekanisme bonus terhadap keputusan

transfer pricing pada seluruh perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia.
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang disajikan, dapat disimpulkan bahwa pertanyaan
penelitian telah terjawab. Dengan hasil yaitu pajak berpengaruh positif terhadap transfer
pricing dan mekanisme bonus berpengaruh positif terhadap trasfer pricing.

B.5. Redaksional
Dari sisi redaksional, penulisan artikel ini masih perlu untuk diperbaiki. Seperti
pemakaian tanda baca (.) dan (,), tanda penghubung (-) dan pemakaian huruf kapital.
Contohnya pada kalimat berikut: Menurut Purwanti (2010), Tantiem / bonus
merupakan penghargaan yang diberikan oleh RUPS kepada anggota Direksi setiap
tahun apabila perusahaan memperoleh laba. Seharusnya, kalimat tersebut diperbaiki
menjadi: Menurut Purwanti (2010), tantiem/bonus merupakan penghargaan yang
diberikan oleh RUPS kepada anggota Direksi setiap tahun apabila perusahaan
memperoleh laba. Dalam penelitian terdapat kata berulang, contohnya undang
undang dan sebesar besarnya. Sebaiknya, kata berulang ditulis seperti berikut:
Undang-Undang dan sebesar-besarnya. Kemudian terdapat beberapa singkatan,
misalnya OECD dan RUPS, yang seharusnya dituliskan kepanjangannya terlebih dahulu
yaitu, Organization of Economic Co-operation Development (OECD) dan Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS) agar tidak menimbulkan pertanyaan bagi pembaca.

C. Simpulan
Penelitian ini memberikan bukti empiris tentang pengaruh Pajak dan Mekanisme
Bonus terhadap keputusan Transfer Pricing pada seluruh perusahaan yang listing di
Bursa Efek Indonesia. Analisis dilakukan dengan menggunakan analisis regresi logistik
(binary logistic). Data sampel diperoleh sebanyak 109 perusahaan dari seluruh
perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pajak berpengaruh positif terhadap
keputusan Transfer Pricing, dimana Besarnya keputusan untuk melakukan praktik
transfer pricing akan mengakibatkan pembayaran pajak menjadi lebih rendah secara
global pada umumnya. Hal ini disebabkan karena perusahaan multinasional yang
memperoleh keuntungan akan melakukan pergeseran pendapatan dari negara negara
dengan tarif pajak tinggi ke negara - negara dengan tarif pajak yang rendah. Sehingga
semakin tinggi tarif pajak suatu negara maka akan semakin besar kemungkinan
perusahaan melakukan praktik transfer pricing.
Selain itu, Mekanisme Bonus berpengaruh positif terhadap keputusan Transfer
Pricing, dimana Besarnya Mekanisme Bonus yang dilihat dari Indeks Trend Laba
Bersih akan berpengaruh terhadap keputusan Transfer Pricing. Karna dalam
memberikan bonus kepada direksi, pemilik perusahaan tentu akan melihat kinerja para
direksi dalam mengelola perusahaanya. Dalam hal ini, pemilik perusahaan akan melihat
laba perusahaan yang dihasilkan secara keseluruhan sebagai penilaian untuk kinerja
para direksinya. Untuk itu, para direksi tentu akan berusaha semaksimal mungkin agar
laba perusahaan secara keseluruhan mengalami peningkatan termasuk dengan cara
melakukan praktik Transfer Pricing.