Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH SWAMEDIKASI

DIARE NON SPESIFIK


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah swamedikasi
Dosen pengampu : Dra. Rina Melani, Apt

Disusun oleh :
Nur Laili Felayati

155020072

Annisa Puteri Handoyo

155020075

Hayva

155020077

Sofa Rohmaniyah

155020078

Salamah Farichatus S

155020081

Diana Cholida

155020091

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS WAHID HASYIM
SEMARANG
2016

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Diare adalah buang air besar dalam bentuk cairan lebih dari tiga kali dalam
satu hari dan biasanya berlangsung selama dua hari atau lebih. Orang yang
mengalami diare akan kehilangan cairan tubuh sehingga menyebabkan dehidrasi.
Hal ini membuat tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik dan dapat
membahayakan jiwa, khususnya pada anak dan orang tua.
Diare secara umum terjadi karena meningkatnya sekresi dan menurunnya
resorpsi. Diare dibagi menjadi 2 golongan yaitu diare non spesifik dan diare
spesifik. Sebagian besar diare akut disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau
parasit. Diare akut dapat menyebar dari satu orang ke orang lain. Sedangkan diare
kronik biasanya disebabkan oleh faktor bawaan dari pasien yaitu kelainan
mekanisme transport ion gastrointestinal, toxin, penyakit kronik atau pemakaian
antibiotik. Diare kronik tidak dapat menyebar dari satu orang ke orang lainnya
(Dipiro et al, 2008).
Jenis-jenis diare yaitu :
1) Diare akut, disebabkan oleh infeksi usus, infeksi bakteri, obat-obat tertentu
atau penyakit lain. Gejala diare akut adalah tinja cair, terjadi mendadak, badan
lemas

kadang demam dan

muntah, berlangsung beberapa jam sampai

beberapa hari.
2) Diare kronik, yaitu diare yang menetap atau berulang dalam jangka waktu
lama, berlangsung selama 2 minggu atau lebih.
3) Disentri adalah diare disertai dengan darah dan lendir (Abdul, 2006).

Penyebab Diare :
Berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan beberapa jenis diare sebagai

berikut:
1) Diare akibat virus, misalnya influenza perut dan travellers diarrhea yang
disebabkan antara lain oleh rotavirus dan adenovirus. Virus melekat pada mukosa
usus, merusak, sehingga kapasitas resorpsi menurun. Diare yang terjadi bertahan
sampai beberapa hari, sesudah virus lenyap akan sembuh dengan sendirinya,
biasanya 3-6 hari.
2) Diare bakterial (invasif), agak sering terjadi tetapi mulai berkurang
berhubung semakin meningkatnya derajat higiene masyarakat. Bakteri tertentu
pada keadaan tertentu, misalnya pada bahan makanan yang terinfeksi kuman
menjadi invasif dan menyerbu ke dalam mukosa. Penyebab terkenal dari jenis
diare ini ialah bakteri Salmonella, Shigella, Campylobacter, dan jenis Coli
tertentu.
3) Diare parasiter, seperti protozoa Entamuba histolytica, Giardia lambia,
dan Cyclospora yang terutama terjadi di daerah subtropis. Diare ini biasanya
bercirikan mencret cairan yang intermiten dan bertahan lebih lama dari satu
minggu.
4) Diare akibat enterotoksin, diare jenis ini lebih jarang terjadi.
Penyebabnya adalah kuman yang membentuk enterotoksin, yang terpenting
adalah E.coli dan Vibrio cholerae, jarang terjadi oleh Salmonella dan Shigella.
Diare jenis ini juga bersifat self limiting yang akan sembuh dengan sendirinya
lebih kurang 5 hari. Penyebab diare lainnya diantaranya alergi makanan atau
minuman, gangguan gizi, kekurangan enzim tertentu, dan dapat pula pengaruh
psikis (diare non spesifik), (Tjay dan Rahardja, 2002).
Swamedikasi
Swamedikasi dapat diartikan sebagai upaya seseorang untuk mengobati
dirinya sendiri (Kartajaya, 2011). Tujuan dari pengobatan sendiri atau
swamedikasi diare adalah untuk (1) mengontrol kehilangan air dan elektrolit, (2)
meringankan gejala, (3) mengidentifikasi dan menghilangkan penyebab, dan (4)
mencegah morbiditas dan mortalitas (Cohn dkk, 2004).
Pengobatan sendiri ini meliputi terapi non farmakologi dan terapi farmakologi.
Terapi non farmakologi di sini adalah pemberian Oral Rehydration Therapi

(ORT) atau oralit yang diimbangi dengan diet spesifik untuk beberapa makanan
tertentu,untuk kasus diare ringan sampai sedang. ORT memiliki keefektifan
sebanding dengan terapi larutan elektrolit intravena pada pengatasan dehidrasi
ringan sampai sedang. ORT mengandung konsentrasi rendah glukosa
atau dextrosa (2 sampai 2,5%). Pada terapi rehidrasi oral ini jika diare dapat
teratasi sebelum 48 jam maka terapi sudah bisa dihentikan, namun jika setelah 48
jam diare belum juga teratasi maka perlu rujukan medis. Pada terapi farmakologi,
obat yang direkomendasikan untuk mengatasi diare akut yaitu Loperamid atau
Adsorben. Obat pilihan lain yaitu Bismuth Subsalicylate, namun pengobatan
sendiri dengan obat ini hanya banyak digunakan di Amerika. Loperamid
merupakan obat yang populer, efektif, dan aman untuk digunakan pada
pengobatan sendiri diare akut non spesifik. Efek terapinya yaitu mereduksi
volume fecal harian dan meningkatkan viskositas. Loperamid tidak
direkomendasikan untuk anak di bawah 6 tahun, karena efeknya pada ileus dan
toxic megacolon. Adsorben yang sering digunakan adalah Attapulgite, Kaolin, dan
Pectin yaitu pada kasus diare nonspesifik ringan (Cohn dkk, 2004).
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud diare non spesifik ?
2. Apa terapi farmakologi dan non farmakologi pada penyakit diare non spesifik ?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengerrtian diare non spesifik
2. Untuk mengetahui terapi farmakologi dan non farmakologi.

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN DIARE

Diare adalah keadaan buang-buang air dengan banyak cairan (mencret) dan
merupakan gejala dari penyakit-penyakit tertentu atau gangguan lain, seperti
diuraikan dibawah ini (Yun diarrea: mengalir melalui). Kasus ini banyak terdap
dinegara-negara berkembang dengan standart hidup yang rendah, dimana
dehidrasi akibat diare merupakan salah satu penyebab kematian penting pada
anak-anak (Tjay, 2007).
Diare non spesifik dapat terjadi akibat salah makan (makanan terlalu pedas
sehingga mempercepat peristaltik usus), ketidak mampuan lambung dan usus
dalam memetabolisme laktosa (terdapat dalam susu hewan) disebut lactose
intolerance, ketidak mamapuan memetabolisme sayuran atau buah tertentu (kubis,
kembang kol, sawi, nangka, durian), juga infeksi virus-virus noninvasive yang
terjadi pada anak umur di bawah 2 tahun karena rotavirus. Pengobatan diare
harus tepat pada sasarannya. Sasaran yang dituju dalam pengobatan diare yaitu
dehidrasi.
B. PATOFISIOLOGI
Diare terjadi bila terdapat gangguan transpor terhadap air dan elektrolit pada
saluran cerna. Mekanisme gangguan tersebut ada 5 kemungkinan:
1. Osmolalitas intraluminer yang meninggi, disebut diare osmotik.
2. Sekresi cairan dan elektrolit meninggi, disebut diare sekretorik.
3. Absorbsi elektrolit berkurang.
4. Motilitas usus yang meninggi hiperperistalsis, atau waktu transit yang pendek.
5. Sekresi eksudat disebut diare eksudatif.
C.
1.
2.
D.
1.

GEJALA DAN TANDA


Tidak terjadi kenaikan suhu tubuh penderita.
Tidak ditemukan lendir dan darah pada feses.
TERAPI FARMAKOLOGI
Opiat dan derivatnya.
Opiat dan derivatnya meringankan gejala diare dengan cara menunda transit isi

intraluminal atau dengan meningkatkan kapasitas usus, sehingga memperpanjang


waktu kontak dan penyerapan. Enkefalin, suatu zat opiat endogen, yang mengatur
gerakan fluida didalam mukosa dengan merangsang proses penyerapan. Dampak
buruk penggunaan opiat adalah adanya resiko ketergantungan dan kemungkinan
memperburuk diare akibat infeksi. Opiat umumnya bekerja melalui mekanisme
sentral dan perifer kecuali pada loperamid. Loperamid merupakan antisekretori

yang bekerja pada sistem perifer dengan menghambat pengikatan protein kalsium
pada kalmodulin dan mengendalikan sekresi klorida. Loperamid tersedia dalam
sediaan kapsul 2 mg atau larutan 1 mg/5 ml. Dosis lazim dewasa adalah 4 mg
peroral pada awal pemakaian diikuti 2 mg setiap setelah devekasi hingga 16 mg
perhari. Dephenoksilat adalah agen opiat lain yang digunakan dalam penanganan
diare. Tersedia dalam sediaan tablet 2,5 mg atau larutan 2,5 mg/5 ml. Dosis pada
orang dewasa 3 sampai 4 kali sehari 2,5-4 mg, dengan maksimum dosis 20 mg
perhari. Selain itu defoksin, suatu turunan defenoksilat juga sering digunakan
sebagai kombinasi dengan atropin. Dosis pemakaian pada dewasa adalah 2 mg
pada awal pemakaian selanjutnya 1 mg setiap setelah devekasi, dosis maksimum 8
mg perhari.
2. Adsorben.
Adsorben digunakan untuk mengatasi munculnya gejala diare. Dalam
kerjanya, absorben bekerja secara tidak spesisfik dengan menyerap air, nutrisi,
racun, maupun obat. Pemberian adsorben bersama obat lain, akan menurunkan
bioavailabilitas obat lain tersebut. Polikarbofil terbukti efektif mampu menyerap
60 kali beratnya. Dosis pada orang dewasa adalah 4 kali sehari 500 mg hingga
maksimum 6 gram perhari. Adsorben lain yang dapat digunakan adalah Campuran
kaolin-pektin dengan dosis 30-120 ml setiap setelah buang air besar, atau
attapulgit dengan dosis 1200-1500 mg setiap setelah buang air besar.
3. Antisekretori.
Bismut subsalisilat terbukti memeliki efek antisekretori, antiinflamasi dan
antibakteri. Sediaan obat ini adalah tablet kunyah 262 mg/tablet atau 262 mg/5 ml
larutan. Dosis pada orang dewasa adalah 2 tablet atau 30 ml larutan setiap 30
menit untuk 1 sampai 8 dosis perhari. Oktreotide suatu analog somatostatin
endogen sintesis digunakan untuk mengatasi gejala karsinoid tumor dan vasoaktif
peptida yang disekresikan tumor. Dosis oktreotide bervariasi tergantung indikasi.
Oktreotide menghambat banyak aktivitas hormon gastrointestinal sehingga
penggunaanya banyak menimbulkan efek samping.
4. Produk Lain.

Sediaan laktobacilus dapat menggantikan mikroflora usus, sehingga membantu


mengembalikan fungsi normal usus dan mencegah pertumbuhan mikroorganisme
patogen. Namun, diet produk yang mengandung 200-400 mg laktosa atau dekstrin
sama efektifnya dengan memproduksi rekolonisasi flora normal. Selain itu
antikolinergik seperti atropin juga dapat membantu memperpanjang transit usus.
5. bulking agent
Adsorben seperti kaolin dan attapulgit bekerja dengan cara menyerap toksin,
obat dan cairan digestif. Bersifat non toksik, tetapi efektivitasnya belum
dibuktikan (Dipiro, 2009).
a. Attapulgit
Attapulgit terutama bekrja dengan jalan menyerap cairan didalam usus dan
mengurangi likuiditas dari tinja. Efek samping yang terjadi adalah kembung,
gangguan pencernaan, sembelit, mual. Dosis untuk diare adalah 1,2-1,5 gram
diberikan secara per oral.
b. Antisekretorik (obat-obat yang mengubah transpor cairan dan elektrolit)
Garam garam bismuth digunakan salah satunya untuk terapi diare.
Mekanisme kerjanya belum diketahui. Tetapi mekanisme yang mungkin adalah
efek perlindungan lokal pada pencernaan dan stimulasi prostaglandin endogen
(Anderson, 2002).
Percobaan dan observasi klinis menyatakan bahwa antiinflamasi non steroid
(NSAID) seperti aspirin dan indometasin efektif dalam mengendalikan diare. Efek
antidiare ini mungkin karena penghambatan sintesis prostaglandin.Bismuth
subsalisilat, digunakan untuk travelers diarrhea, menurunkan sekresi cairan
dalam usus, efeknya ini mungkin karena komponen salisilatnya (Mycek J Mary,
2001).
E. TERAPI NON FARMAKOLOGI
Diet merupakan prioritas utama dalam penanganan diare. Menghentikan
konsumsi makanan padat dan susu perlu dilakukan. Rehidrasi dan maintenance air
dan elektrolit merupakan terapi utama yang harus dilakukan hingga episode diare
berakhir. Jika pasien kehilangan banyak cairan, rehidrasi harus ditujukan untuk
menggantikan air dan elektrolit untuk komposisi tubuh normal. Sedangkan pada

pasien yang tidak mengalami deplesi volume, pemberian cairan bertujuan untuk
pemeliharaan cairan dan elektrolit.
Pemberian cairan parenteral perlu dilakukan untuk memasok air dan
elektrolit jika pasien mengalami muntah dan dehidrasi berat, selain untuk
mencegah terjadinya hipernatremia.
Apabila seseorang terkena diare berarti jumlah cairan dalam tubuh yang
dapat diserap sanga tsedikit. Hal ini menimbulkan kondisi kekurangan cairan atau
dehidrasi. Pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah mengganti cairan
tubuh yang hilang dengan minum banyak air dan oralit. Tindakan lain yang dapat
dilakukan bila seseorang terkena diare adalah:

Hindari kopi dan susu. Pada bayi ASI boleh tetap diberikan tetapi untuk
susu formula harus dibuat lebih encer sampai dua kali lipat. Hindari

makanan padat ganti dengan bubur, roti ataupun pisang.


Memeriksa penyebab diare sehingga terjadinya diare kembali dapat

dihindari.
Memeriksa tinja apakah mengandung lendir atau darah.
Cuci tangan tiap selesai BAB untuk mencegah penularan.
Menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
Memeriksa dehidrasi ringan sampai berat antara lain haus, mulut kering,
lesu, pucat, mengantuk, mata cekung, elastisitas kulit menurun,dan air seni
sedikit dan pekat.

Beberapa ramuan alami untuk mengatasi diare ( Manan, 2014):


1. Ramuan I
Bahan : 30 gram daun jambu biji dan Air secukupnya
Cara membuat dan menggunakan:

2.

Siapkan 30 gram daun jambu biji, kemudiaan dicuci bersih.


Rebus bahan dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc.
Minum air rebusan selagi hangat secara teratur dua kali sehari.
Ramuan II
Bahan : 5 lembar daun jambu biji beserta 1 potong akar, kulit dan batangnya,
air secukupnya.
Cara membuat dan menggunakan :

Cuci bersih daun, akar, kulit, dan batang jambu biji.


Rebus semua bahan dengan 1,5 liter air sampai mendidih.

Setelah dingin, saring dan minum dua kali sehari pada pagi dan sore hari.
waktu yang tepat pasien ke dokter banyak kasus diare tidak lebih dari gangguan
sesaat yang tidak signifikan. Tetapi terkadang diare merupakan peringatan dari
kondisi yang serius. Segera konsultasi ke dokter jika terjadi diare pada bayi,
pada anak terjadi lebih dari 1 hari, pada dewasa lebih dari 3 hari. Serta jika
muncul gejala-gejala:

Bertambah parahnya nyeri perut atau nyeri rektum


Adanya darah di fases
Fases kehitaman
Demam
Adanya tanda-tanda dehidrasi

Gejala-gejala diare tersebut dapat merupakan peringatan dari penyakit infeksi,


IBD, pankreatitis atau bahkan kanker usus.

BAB III
KESIMPULAN
1. Diare non spesifik dapat terjadi akibat salah makan (makanan terlalu pedas
sehingga mempercepat peristaltik usus), ketidak mampuan lambung dan usus
dalam memetabolisme laktosa (terdapat dalam susu hewan) disebut lactose
intolerance, ketidak mamapuan memetabolisme sayuran atau buah tertentu
(kubis, kembang kol, sawi, nangka, durian), juga infeksi virus-virus non
invasive yang terjadi pada anak umur di bawah 2 tahun karena rotavirus.
2. Adapun tujuan terapi untuk pengobatan diare, yaitu rehidrasi untuk mengatasi
gangguan keseimbangan elektrolit dalam tubuh, mengobati diare dan
mencegah kematian akibat diare.
3. Usaha untuk mengatasi diare yaitu dengan cara memberi minuman, larutan
oralit, biasanya juga larutan larutan gula garam. Yang harus diperhatikan dalam

pemberian makanan dan minuman pada penderita diare adalah yang tidak
memperparah kondisi diare.

DAFTAR PUSTAKA
Anderson, P.O., Knoben, J.E., Troutman, W.G. 2002. Handbook of clinical drug
data. 10th edition.USA : The McGraw-Hill Companies, Inc.
Dipiro, Joseph T., Robert .L., Talbert, Gary C., Yee, Gary. R., Matzke, B.G.,
Wells, Posey, L.M. 2009. Pharmacotherapy: A Pathophysiologic
Approach. 7th Ed., New York: McGraw-Hill.
Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting, Khasiat,
Penggunaan, dan Efek-Efek Sampinya Edisi VI. Jakarta: PT Elex
Media Komputindo.
World

Gastroenterology

Organization.

2008.

World

Gastroenterology

Organization Global Guidelines Acute Diarrhea in adults and


Children : a Global Perspective. 2012. World Gastroenterology
Organization Global Guidelines Acute Diarrhea in adults and
Children : a Global Perspective.