Anda di halaman 1dari 45

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya sampaikan kehadirat Allah Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat
dan anugerah-Nya lah saya dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Pengujian Beton
(laboratorium) ini.
Laporan ini dibuat dengan tujuan memperoleh ilmu mengenai pengujian beton dalam
Teknik Sipil, yang mana pekerjaan ini dipakai dalam suatu pengujian , sehingga dapat mengetahui
kondisi beton tersebut .
Dalam kesempatan kali ini, saya menyadari bahwa praktikum ini tidak lepas dari
bimbingan dan dorongan dari beberapa pihak, oleh karena itu saya mengucapkan banyak terima
kasih kepada :
1.
2.
3.
4.

Ibu Susi Hariyani .MT, selaku dosen pembimbing,


Ibu Ir. Etty Rabihati, MT, selaku dosen pembimbing,
Ibu Novi, selaku teknisi dilaboratorium ; dan
Teman-teman kelas 4C prodi TPPP, yang memberi masukan unntuk Praktikum
Laboratorium Pengujian Beton .
Mudahmudahan dari hasil praktikum ini, pembaca dapat memberikan penulis saran serta

kritikan membangun yang bisa mengispirasi untuk dapat menciptakan karya yang lebih baik lagi,
sehingga tujuan penulis dapat tercapai, dan semoga laporan ini juga dapat bermanfaat untuk bahan
tambahan materi mata kuliah.
Pontianak, 18 April 2016

Rian Irvandi
NIM : 4201412014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam pekerjaan teknik sipil dikenal 2 jenis pekerjaan konstruksi yaitu konstruksi
berat dan konstruksi ringan. Pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak lepas dari kebutuhan akan
material atau bahan-bahan tertentu. Dalam pelaksanaannya, sehingga suatu konstruksi
bangunan yang kuat dan utuh sesuai dengan yang diharapkan.
Beton merupakan bahan bangunan. Pada umumnya terdiri dari beberapa bahan yaitu
semen (sebagai bahan pengikat ), agregat ( sebagaai bahan pengisi ), dan air ( sebagai bahan
pereaksi ) dan jika diperlukan atau ditambahkan dengan bahan pembantu ( admixture ) untuk
merubah sifat-sifat tertentu dari beton yang bersangkutan. Pada saat sekarang komposisi
dalam pembuatan beton tidak hanya menggunakan bahan-bahan tersebut, namun ditambah
dengan bahan penguat yaitu tulangan baja. Pada dasarnya beton merupakan salah satu bahan
bangunan yang memiliki kemampuan untuk menahan daya tekan. Namun beton tidak
memiliki kemampuan untuk menahan gaya tarik, sehingga membutuhkan bantuan dari bahan
bangunan lainnya yang memiliki kemampuan menahan gaya tarik, yaitu baja tulangan. Oleh
karena itu, untuk mengantisipasi tegangan tarik maupun tengangan tekan yang terjadi secara
bersamaan pada balok lentur, maka balok beton yang mengalami lenturan tersebut perlu
diberikan baja tulangan pada bagian yang mengalami tegangan tarik. Struktur yang demikian
yang dinamakan struktur beton bertulang.
Sekarang ini penggunaan beton banyak digunakan untuk sebagai konstruksi,
misalnya jalan, jembatan, lapangan terbang, waduk, bendungan dan lainya. Dengan
melakukan analisa bahan maka dalam hal pembuatan beton harus lebih teliti dengan berbagai
macam material-material yang digunakan dalam pembuatan tersebut, dikarenakan apabila
suatu material dalam beton itu tidak bagus maka hasil dari beton tersebut tidak akan mencapai
pada hasil yang diinginkan. Sehingga dengan diadakannya analisa bahan terhadap material
yang akan digunakan untuk pembuatan beton maka hasil dapat diperoleh dengan baik.

1.2 Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari praktikum ini, yaitu agar mahasiswa dapat:
a)
b)
c)
d)
e)

Dapat melakukan praktikum pengujian beton dengan prosedur yang baik dan benar.
Dapat mengetahui langkah-langkah kerja dalam pengujian beton di laboratorium.
Dapat mengetahui karakteristik dan mutu beton .
Dapat melakukan pengujian secara langsung di laboratorium.
Dapat mengisi form pengujian bahan 1 ( BETON ).

1.3 Tempat dan Waktu


Praktikum pengujian beton ini dilaksanakan dari tanggal 4 April 12 April 2016, pada pukul
07.30 - 14.00 WIB di Laboratorium Teknik Sipil dan Perencanaan Politeknik Negeri Pontianak.

1.4 Materi Praktikum


Adapun materi yang dipraktekkan adalah sebagai berikut:
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)

Uji kadar air agregat kasar dan agregat halus .


Berat jenis dan penyerapan agregat kasar dan agregat halus .
Uji berat isi agregat
Analisa Ayak / Sieve Analysis SNI M-09-1889-F ( kerikil dan pasir )
Pengujian kehausan atau abrasi agregat kasar dengan mesin Los Angeles.
Formula perencanaan campuran beton
Pengujian Slump
Uji kuat tekan beton (kubus)
Pengujian Hammer

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Pengertian Beton
Beton adalah sebuah bahan bangunan komposit yang terbuat dari kombinasi agregat dan
pengikat semen. Bentuk paling umum dari beton adalah beton semen Portland, yang terdiri dari
agregat mineral (biasanya kerikil dan pasir), semen dan air. Beton merupakan salah satu bahan
konstruksi yang telah umum digunakan untuk bangunan gedung, jembatan, jalan, dan lain lain.
Beton merupakan satu kesatuan yang homogen. Beton ini didapatkan dengan cara mencampur
agregat halus (pasir), agregat kasar (kerikil), atau jenis agregat lain dan air, dengan semen
portland atau semen hidrolik yang lain, kadangkadang dengan bahan tambahan (additif) yang
bersifat kimiawi ataupun fisikal pada perbandingan tertentu, sampai menjadi satu kesatuan yang
homogen. Campuran tersebut akan mengeras seperti batuan. Pengerasan terjadi karena peristiwa
reaksi kimia antara semen dengan air.
Beton yang sudah mengeras dapat juga dikatakan sebagai batuan tiruan, dengan rongga
rongga antara butiran yang besar (agregat kasar atau batu pecah), dan diisi oleh batuan kecil
(agregat halus atau pasir), dan pori pori antara agregat halusdiisi oleh semen dan air (pasta
semen). Pasta semen juga berfungsi sebagai perekatatau pengikat dalam proses pengerasan,
sehingga butiranbutiran agregat saling tereikat dengan kuat sehingga terbentuklah suatu kesatuan
yang padat dan tahan lama.
A. Kelebihan dari beton:

Harganya murah karna menggunakan bahan lokal.

Mempunyai kekuatan tekan yang tinggi.

Mudah di bentuk sesuai ukuran yang di inginkan.

B. Kekurangan dari beton:

Beton mempunyai kuat tarik yang rendah.

Beton sulit kedap air secara sempurna.

Beton bersifat getas sehingga harus dihitung secara detail dan seksama.

2.2 Sifat Sifat Beton


Beton harus memenuhi kekuatan yang direncanakan, campuran beton harus mempunyai
suatu mibilitas tertentu. Campuran beton tidak boleh mengalami segregasi (pemisahan selama
pengecoran). Beton pada dasarnya merupakan campuran antara semen, kerikil, pasir, dan air
dengan perbandingan campuran yang tertentu. Kadang-kadang beberapa bahan tambahan juga
ikut digunakan dalam campuran beton ini untuk membuat beton yang memiliki sifat-sifat yang
diinginkan, misalnya fly ash (abu terbang) atau material kimia lainnya. Air dan semen akan
bereaksi menjadi pasta semen yang bertugas untuk mengikat kerikil dan pasir sehingga terbentuk
struktur yang kaku dan memiliki kekuatan tertentu.
Beton didapat dari pencampuran bahan-bahan agregat halus dan kasar yaitu pasir, batu pecah
atau bahan semacam lainnya, dengan menambahkan secukupnya bahan perekat semen, dan air
sebagai pembantu guna keperluan reaksi kimia selama proses dan perawatan beton berlangsung.
Nilai kuat tekan beton relatif tinggi dibanding kuat tariknya, dan beton merupakan bahan bersifat
getas. Nilai kuat tariknya hanya berkisar 9% 15% saja dari kuat tekannya. Pada penggunaan
sebagai komponen struktur bangunan, umumnya beton diperkuat dengan batang tulangan baja
sebagai bahan yang dapat bekerja sama dan mampu membantu kelemahannya, terutama pada
bagian yang menahan tarik. Dengan demikian tersusun pembagian tugas, dimana tulangan baja
bertugas memperkuat dan menahan gaya tarik, sedangkan beton hanya diperhitungkan menahan
gaya tekan.

2.3 Kekuatan Beton


Kekuatan tekan merupakan salah satu kinerja utama beton. Kekuatan tekan adalah
kemampuan beton untuk dapat menerima gaya per satuan luas (Tri Mulyono, 2004). Nilai
kekuatan beton diketahui dengan melakukan pengujian kuat tekan terhadap benda uji silinder
ataupun kubus pada umur 28 hari yang dibebani dengan gaya tekan sampai mencapai beban
maksimum. Beban maksimum didapat dari pengujian dengan menggunakan alat compression
testing machine.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi mutu dari kekuatan beton, yaitu :
1.

Faktor air semen (FAS)


Faktor air semen merupakan perbandingan antara jumlah air terhadap jumlah semen dalam

suatu campuran beton. Fungsi FAS, yaitu:


a.

Untuk memungkinkan reaksi kimia yang menyebabkan pengikatan dan berlangsungnya

b.

pengerasan.
Memberikan kemudahan dalam pengerjaan beton (workability).
Semakin tinggi nilai FAS, mengakibatkan penurunan mutu kekuatan beton. Namun nilai FAS

yang semakin rendah tidak selalu berarti bahwa kekuatan beton semakin tinggi. Umumnya nilai
FAS yang diberikan minimum 0,4 dan maksimum 0,65 (Tri Mulyono, 2004).
2.

Sifat agregat
Sifat-sifat agregat sangat berpengaruh pada mutu campuran beton. Adapun sifat-sifat agregat

yang perlu diperhatikan seperti, serapan air, kadar air agregat, berat jenis, gradasi agregat,
modulus halus butir, kekekalan agregat, kekasaran dan kekerasan agregat.
3.

Proporsi dan jenis semen


Proporsi semen dan jenis semen yang digunakan berhubungan dengan perbandingan jumlah

semen yang digunakan saat pembuatan mix design dan jenis semen yang digunakan berdasarkan
peruntukkan beton yang akan dibuat. Penentuan jenis semen yang digunakan mengacu pada
tempat dimana struktur bangunan yang menggunakan material beton tersebut dibuat, serta pada
kebutuhan perencanaan apakah pada saat proses pengecoran membutuhkan kekuatan awal yang
tinggi atau normal.
4.

Bahan tambah
Bahan tambah (additive) ditambahkan pada saat pengadukan dilaksanakan. Bahan tambah

(additive) lebih banyak digunakan untuk penyemenan (cementitious), jadi digunakan untuk
perbaikan kinerja. Menurut standar ASTM C 494/C494M 05a, jenis bahan tambah
kimia dibedakan menjadi tujuh tipe, yaitu :
a) water reducing admixtures
b) retarding admixtures
c) accelerating admixtures
d) water reducing and retarding admixtures
e) water reducing and accelerating admixtures
f) water reducing and high range admixtures
g) water reducing, high range and retarding admixtures

2.4 Agregat

Pada beton biasanya terdapat sekitar 70% sampai 80 % volume agregat dari volume
keseluruhan beton, karena itu agregat mempunyai peranan yang penting dalam propertis suatu
beton (Mindess et al., 2003). Agregat ini harus bergradasi sedemikian rupa sehingga seluruh
massa beton dapat berfungsi sebagai satu kesatuan yang utuh, homogen, rapat, dan variasi dalam
perilaku (Nawy, 1998). Dua jenis agregat adalah :
a. Agregat halus (pasir alami dan buatan)
Agregat halus disebut pasir, baik berupa pasir alami yang diperoleh langsung dari sungai atau
tanah galian, atau dari hasil pemecahan batu. Agregat halus adalah agregat dengan ukuran butir
lebih kecil dari 4,75 mm (ASTM C 125 06). Agregat yang butir-butirnya lebih kecil dari 1,2 mm
disebut pasir halus, sedangkan butir-butir yang lebih kecil dari 0,075 mm disebut silt, dan yang
lebih kecil dari 0,002 mm disebut clay (SK SNI T-15-1991-03). Persyaratan mengenai proporsi
agregat dengan gradasi ideal yang direkomendasikan terdapat dalam
standar ASTM C 33/ 03 Standard Spesification for Concrete Aggregates
b. gregat kasar (kerikil, batu pecah, atau pecahan dari blast furnance)

Menurut ASTM C 33 - 03 dan ASTM C 125 - 06, agregat kasar adalah agregat dengan ukuran butir
lebih besar dari 4,75 mm. Ketentuan mengenai agregat kasar antara lain :

Harus terdiri dari butirbutir yang keras dan tidak berpori.


Butirbutir agregat kasar harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur oleh

pengaruh cuaca, seperti panas matahari dan hujan.


Tidak boleh mengandung zat zat yang dapat merusak beton, seperti zat zat yang relatif

alkali.
Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 %. Apabila kadar lumpur melampaui 1 %,
maka agregat kasar harus dicuci. Persyaratan mengenai proporsi gradasi saringan untuk
campuran beton berdasarkan standar yang direkomendasikan ASTM C 33/ 03 Standard
Spesification for Concrete Aggregates

2.5 Semen (Portland Cement)


Portland cement merupakan bahan pengikat utama untuk adukan beton dan pasangan batu
yang digunakan untuk menyatukan bahan menjadi satu kesatuan yang kuat. Jenis atau tipe semen
yang digunakan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kuat tekan beton. Hal ini perlu
diketahui tipe semen yang distandardisasi di Indonesia.
Menurut ASTM C150, semen Portland dibagi menjadi lima tipe, yaitu :

Tipe I: Ordinary Portland Cement (OPC), semen untuk penggunaan umum, tidak

memerlukan persyaratan khusus (panas hidrasi, ketahanan terhadap sulfat, kekuatan awal).
Tipe II: Moderate Sulphate Cement, semen untuk beton yang tahan terhadap sulfat sedang

dan mempunyai panas hidrasi sedang.


Tipe III: High Early Strength Cement, semen untuk beton dengan kekuatan awal tinggi

(cepat mengeras).
Tipe IV: Low Heat of Hydration Cement, semen untuk beton yang memerlukan panas

hidrasi rendah, dengan kekuatan awal rendah.


Tipe V: High Sulphate Resistance Cement, semen untuk beton yang tahan terhadap kadar
sulfat tinggi.

Selain semen Portland di atas, juga terdapat beberapa jenis semen lain :
Blended Cement (Semen Campur)

Semen campur dibuat karena dibutuhkannya sifat-sifat khusus yang tidak dimiliki oleh
semen portland. Untuk mendapatkan sifat khusus tersebut diperlukan material lain sebagai
pencampur. Jenis semen campur :
a) Portland Pozzolan Cement (PPC)
b) Portland Blast Furnace Slag Cement
c) Semen Mosonry
d) Portland Composite Cement (PCC)
Water Proofed Cement
Campuran yang homogen antara semen Portland dengan Water proofing agent, dalam
jumlah yang kecil.
White Cement (Semen Putih)

Semen putih dibuat untuk tujuan dekoratif, bukan untuk tujuan konstruktif.
High Alumina Cement
High alumina cement dapat menghasilkan beton dengan kecepatan pengerasan yang cepat
dan tahan terhadap serangan sulfat, asam akan tetapi tidak tahan terhadap serangan alkali.
Semen Anti Bakteri
Semen anti bakteri adalah campuran yang homogen antara semen Portland dengan anti
bacterial agent seperti germicide.

2.6 Air

Fungsi dari air disini antara lain adalah sebagai bahan pencampur dan pengaduk antara
semen dan agregat. Pada umumnya air yang dapat diminum memenuhi persyaratan sebagai air
pencampur beton, air ini harus bebas dari padatan tersuspensi ataupun padatan terlarut yang
terlalu banyak, dan bebas dari material organik (Mindess et al.,2003).
Persyaratan air sebagai bahan bangunan, sesuai dengan penggunaannya harus memenuhi
syarat menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan Di Indonesia (PUBI-1982), antara lain:
1. Air harus bersih.
2. Tidak mengandung lumpur, minyak dan benda terapung lainnya yang dapat dilihat secara
visual.
3. Tidak boleh mengandung benda-benda tersuspensi lebih dari 2 gram / liter.
4. Tidak mengandung garam-garam yang dapat larut dan dapat merusak beton (asam-asam,
zat organik dan sebagainya) lebih dari 15 gram / liter. Kandungan klorida (Cl), tidak lebih
dari 500 p.p.m. dan senyawa sulfat tidak lebih dari 1000 p.p.m. sebagai SO3.
5. Semua air yang mutunya meragukan harus dianalisa secara kimia dan dievaluasi.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1. JOB 1
UJI KADAR AIR AGREGAT KASAR DAN AGREGAT HALUS
3.1.A. Dasar Teori
Kadar air agregat adalah perbandingan antara berat air yang dikandung agregat dengan
berat agregat keadaan kering, dinyatakan dalam persen. Jumlah air yang terkandung di dalam
agregat perlu diketahui, karena akan mempengaruhi jumlah air yang diperlukan didalam
campuran beton. Agregat yang basah (banyak mengandung air), akan membuat campuran juga
lebih basah dan sebaliknya.

3.1.B. Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa dapat:
1. Mengehataui jumlah kadar air agregat.
2. Menjelaskan prosedur pelaksanaan pengujian kadar air agregat.
3. Menggunakan peralatan dengan terampil.
4. Mengolah data kedalam form pegujian.
3.1.C Alat dan bahan
Alat Yang Digunakan
1. Timbangan

2. Oven

3. Talam

Bahan bahan Pengujian


1. Agregat kasar

2. Agregat halus

3.1.D. Langkah Kerja


1. Timbang berat talam (W1).

2. Masukkan benda uji kedalam talam 1 dan 2 .

3. Timbang berat talam yang berisi benda uji tersebut (W2).

4. Setelah ditimbang, masukan benda uji kedalam oven selama 18-24 jam dengan suhu
105C.
5. Keluarkan benda uji dari oven lalu di anginkan sampai sama dengan kondisi suhu
ruangan.
6. Menimbang berat talam dan benda uji setelah dikeringkan (W4).
7. Menghitung berat benda uji kering oven.
8. Kemaskan alat dan bahan setelah praktikum.
3.1.E. Hasil Uji Kadar Air Agregat (Data)

3.1.F. Kesimpulan
Setelah dilakukan pengujian diatas, dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan kadar air
agregat kasar rata-rata sebesar 1,75 gram, sedangkan pemeriksaan kadar air agregat halus rata-rata
sebesar 1,30 gram. Jadi, kadar air agregat kasar lebih besar dari agregat halus.

3.2. JOB 2
BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AGREGAT KASAR DAN AGREGAT HALUS
3.2.1.A. Dasar Teori
Berat jenis agregat adalah rasio antara massa padat agregat dan massa air dengan volume
sama pada suhu yang sama. Sedangkan penyerapan adalah kemampuan agregat untuk menyerap
air dalam kondisi kering sampai dengan kondisi jenuh permukaan kering ( SSD = Saturated
Surface Dry )
3 2.B. Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa dapat:
a. Menentukan berat jenis dan penyerapan agregat kasar dan agregat halus.
b. Menjelaskan prosedur pelaksanaan pengujian berat jenis dan penyerapan agregat kasar dan

agregat halus.
c. Menggunakan peralatan dengan terampil.
d. Mengisi form dengan benar.
3.2.C. Alat dan Bahan
Alat
1. Timbangan digital

4. Penumbuk

2. Oven (pengering)

3. Talam

5. Gelas ukur (1000 ml) 6. Kerucut Terpancung (cone) 7.Piknometer

Bahan
1. Agregat kasar (kerikil)

2. Agregat halus (pasir)

3. Air

3.2.D. Langkah Kerja


3.2.D.1. Agregat kasar (kerikil)
1. Benda uji dicuci untuk menghilangkan debu atau bahan-bahan lain yang melekat pada
permukaan agregat.

2. Benda uji direndam dalam air pada suhu ruangan selama 18 - 24 jam.
3. Benda uji dikeluarkan dari perendaman, dan dilap dengan kain penyerap sampai
selaput air pada permukaan agregat hilang ( agregat ini dinyatakan dalam kondisi
jenuh permukaan kering / SSD ).

4. Sediakan 2 talam dan di tandai.


5. Timbang benda uji sebanyak 500 gram (Bj).

6. Benda uji dimasukkan kedalam gelas ukur, tambahkan air hingga benda uji terendam
dan permukaan air sampai tanda batas ( 1000 ml ), kemudian timbang beratnya (B1).

7. Benda uji dikeluarkan dan dikeringkan benda uji dengan talam didalam oven dengan
suhu ( 105 ) C, sampai beratnya tetap, kemudian dinginkan dan timbang beratnya
(B2).
8. Gelas ukur diisi dengan air sampai pada tanda batas, kemudian timbang beratnya (B3).

3.2.D.2 Agregat Halus (pasir)


1. Sediakan satu talam pasir dan satu talam kosong .
2. Memindahkan sebagian pasir ke benda uji ke talam kosong.
3. Tambahkan air secukupnya .
4. Siapkan kerucut dan stik penumbuk .
5. Masukan benda uji tersebut dalam kerucut sebanyak tiga lapisan. Lapisan pertama di
tumbuk sampai 25 kali tumbukan di berbagai arah dan lakukan penumbukan yang sama
sebanyak 3 lapis sebanyak 25 kali tumbukan dan dilapisan terakhir juga seperti itu sampai
penuh dan di tumbuk di bagian akhir satu kali tepat dibagian tengah.
6. Kemudian angkat kerucut secara perlahan dan lihat apakah kondisi pasir tersebut sudah
memenuhi kriteria SSD.

7. Sediakan talam lain juga diberi air lebih dari campuran air yang pertama dan melakukan
sama seperti yang dilakukan pada tahap sebelumnya untuk membedakan dua benda uji
yang berbeda.
8. Timbang piknometer yang berisi air sampai batas 500 ml (B3).

9. Pasir tadi dimasukan ke dalam piknometer sebanyak 500 gram (SSD).


10. Dan tambahkan air sampai piknometer penuh (500 ml) dan timbang (B1).

11. Buang air dalam piknometer tersebut lalu tuang benda uji kedalam talam yang telah
disediakan.
12. Keringkan kedua benda uji selama 18-24 jam dengan suhu 105C.
13. Dan keluarkan kembali benda uji dari dalam oven dan kemudian timbang (B2).

3.2.E. Hasil Berat Jenis Dan Penyerapan Agregat Kasar (Data)

3.2.F. Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan dan menghitung data, didapatkan hasil:
1. Agregat kasar (kerikil)
a. Berat jenis Bulk/ov dengan rata-rata 2,89 gram,
b. Berat jenis SSD dengan rata-rata 2,91 gram,
c. Berat jenis app dengan rata-rata 2,94 gram,
d. Penyerapan dengan rata-rata 0,67 gram.
2. Agregat halus (pasir)
a. Berat jenis Bulk/ov dengan rata-rata 2,61 gram,
b. Berat jenis SSD dengan rata-rata 2,63 gram,
c. Berat jenis app dengan rata-rata 2,67 gram,
d. Penyerapan dengan rata-rata 0,82 gram.

3.3 JOB 3
PENGUJIAN BERAT ISI AGREGAT
3.3.A. Dasar Teori
Berat isi atau disebut juga sebagai berat satuan agregat adalah rasio antara berat agregat
dan isi atau volume. Berat isi agregat diperlukan dalam perhitungan bahan campuran beton, ketika
jumlah bahan ditakar dengan ukuran volume.
3.3.B. Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa dapat :
1. Menentukan berat isi agregat halus dan kasar.
2. Menjelaskan prosedur pelaksanaan pengujian berat isi agregat halus dan kasar.
3. Membedakan pengujian berat isi padat dan lepas.
4. Menggunakan peralatan dengan terampil.
5. Mengisi form pengujian dengan benar.
3.3.C. Alat dan Bahan
Alat
1. Timbangan

2.Talam

3. Tongkat pemadat

4. Mistar perata

5. Sendok/spesi

6. Wadah (mould)

Bahan
1. Agregat kasar (kerikil)

2. Agregat halus (pasir)

3.3.D. Langkah Kerja


1. Menyiapkan alat yaitu mould, 2 buah.
2. Menyiapkan bahan yaitu agregat kasar dan agregat halus
3. Siapkan mould dan 2 talam, bersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Dan memberi
tanda benda uji pada talam dengan nama benda uji 1 dan benda uji 2, menggunakan kertas
dan spidol.
4. Timbang berat mould dengan timbangan (W1).
5. Memasukkan bahan uji kedalam dua mould tersebut.

6. Masukkan isi dari benda uji 1 kedalam mould sebanyak 1/3 dari tinggi mould dan tumbuk
dengan tongkat pemadat sebanyak 25 kali pukulan (pukulannya harus merata), lakukan
sebanyak tiga kali hingga mould penuh. Dan terakhir gilas bahan uji itu dan harus rata
dengan mulut mould.

7. Timbang berat benda uji 1 yang berisi agregat kasar dan agregat halus tersebut (W2).

8. Begitu juga degan pengujian benda uji 2 langkah sama dengan no 6 dan 7, yang
membedakannya hanya pengujian dengan cara padat batu yang dimasukan kedalam mould
harus ditumbuk dengan tongkat pemadat, sedangkan pengujian dengan cara lepas batu
yang dimasukkan kedalam mould tidak ditumbuk dengan tongkat pemadat.
9. Keluarkan isi yang ada didalam mould. Masukkan air kedalam mould sampai rata dengan
bibir mould dan kemudian timbang (W4).

3.3.E. Hasil Uji Berat Isi Agregat (Data)


3.3.F. Kesimpulan
Setelah melakukan pengujian dan menghitung data diperoleh:
1. Berat isi agregat kasar (kerikil)
a. kondisi padat rata-rata 1,56 kg/dm
b. kondisi lepas rata-rata 1,41 kg/dm

c. rata-ratanya adalah 1,49 kg/dm


2. Berat isi agregat halus (pasir)
a. kondisi padat rata-rata 1,62 kg/dm
b. kondisi lepas rata-rata 1,50 kg/dm
c. rata-ratanya adalah 1,56 kg/dm

3.4 JOB 4
PENGUJIAN ANALISA AYAKAN AGREGAT KASAR DAN AGREGAT HALUS
3.4.A. Dasar Teori
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan gradasi atau pembagian butir agregat kasar
dan dengan menggunakan saringan. Gradasi agregat adalah distribusi ukuran butiran dari agregat.
Bila butir-butir agregat mempunyai ukuran yang sama (seragam), maka volume pori akan besar.
Sebaliknya bila ukuran butir-butirnya bervariasi akan terjadi volume pori yang kecil. Hal ini
karena butiran yang kecil, akan mengisi pori diantara butiran yang lebih besar, sehingga poriporinya menjadi sedikit, dengan kata lain kemampatannya tinggi. Pada agregat untuk pembuatan
mortar atau beton, diinginkan suatu butiran yang kemampatannya tinggi, karena volume porinya
sedikit dan ini berarti hanya membutuhkan bahan pengikat saja.
3.4.B. Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa dapat :
1. Menentukan gradasi butiran agregat kasar dan agregat halus
2. Menjelaskan prosedur pelaksanaan pengujian gradasi butiran agregat kasar dan agregat
halus.
3. Menggunakan peralatan dengan terampil.
4. Mengisi form analisa ayak (sieve analysis).
5. Dapat menggambarkan diagram sesuai dengan data yang diperoleh.

3.4.C. Alat dan Bahan


Alat
1. Saringan ukuran 31,5 mm sampai pan

2. Timbangan digital

3. Talam

Bahan
1.

Agregat kasar

2. Agregat halus

3.4.D. Langkah Kerja


3.4.D.1. Agregat kasar
1. Siapkan saringan dengan ukuran (31,50 mm; 25,40 mm; 19,10 mm; 16,00 mm; 12,70
mm; 9,50 mm; 4,750 mm dan Pan)
2. Siapkan bahan yaitu agregat kasar.
3. Siapkan ketujuh saringan dan talam, bersihkan saringan, kemudian susun sesuai dengan
urutannya masing masing.
4. Masukan agregat (batu) kedalam saringan paling atas yang telah disusun sebelumnya
sebanyak 4143,05 gram.

5. Mulai goyangkan saringan secara perlahan hingga keras agar agregat tersebut dapat
tersaring hingga ke dasar (pan) selama 5 menit.
6. Lepaskan susunan saringan perlahan-lahan.
7. Timbang hasil ayakan tiap saringan kemudian catat hasilnya lalu masukan dalam form.

3.4.D.2 Agregat halus


1. Siapkan saringan ukuran (4,750mm; 2,360mm; 1,180mm; 0,600mm; 0,300mm;
0,150mm; 0,075mm dan Pan)
2. Menyiapkan bahan yaitu agregat halus.
3. Menyiapkan kedelapan saringan, kemudian bersihkan saringan tersebut.
4. Masukan agregat (pasir) kedalam saringan paling atas yang telah disusun sebelumnya
sebanyak 498,02 gram.
5. Mulai goyangkan saringan secara perlahan hingga keras agar agregat tersebut dapat
tersaring hingga ke dasar (pan) selama 5 menit.
6. Lepaskan susunan saringan perlahan-lahan.
7. Timbang hasil ayakan yang tertahan tiap saringan kemudian catat hasilnya lalu
masukan dalam form.

3.4.E. Hasil Pengujian Analisa Ayakan Agregat Kasar dan Agregat Halus (Data)

3.4.F. Kesimpulan
Setelah melakukan pengujiaan dan pengolahan data, maka diperoleh:
1. Agregat kasar (kerikil) jumlah masing-masing tertahan adalah 4143,05 gram.
2. Agregat halus (pasir) jumlah masing-masing tertahan adalah 498,02 gram

3.5.

JOB 5
PENGUJIAN ABRASI

3.5.A. Dasar Teori


Metode pengujian abrasi ini meliputi prosedur untuk pengujian keausan agregat kasar
dengan dengan berbagai macam ukuran dari saringan terbesar dan halus pun dapat dengan
menggunakan mesin abrasi Los Angeles ini.
3.5.B. Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa dapat :
1. Menentukan abrasi butiran agregat kasar dan agregat halus sesuai dengan nomor
ayakannya.
2. Menjelaskan prosedur pelaksanaan pengujian gradasi butiran agregat kasar dan agregat
halus.
3. Menggunakan peralatan Los Angeles dengan terampil.
4. Mengisi form pengujian beton .

3.5.C. Alat dan Bahan


Alat
1. Alat Los Angeles

2. Saringan

3. Talam

4. Timbangan Digital

Bahan
Agregat Kasar

3.5.D. Langkah Kerja


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Menyiapkan saringan ukuran (3,81 mm; 25,4 mm; 19,1 mm; 12,7 mm; 9,50 mm dan Pan).
Mengayak dan ditimbang sebanyak 5000 gram (yang tertahan).
Disatukan semua batu dan masukkan kemesin los angles abrasi.
Masukkan bola besi sebanyak 11 buah dan tutup.
Nyalakan mesin dan seting selama 500 putaran.
Buka mesin untuk mengeluarkan bahan dan masukkan ke dalam talam, pastikan talam

bersih.
7. Putar mulut mesin menghadap kebawah, agar benda uji jatuh keluar mesin.
8. Saring benda uji dengan saringan no.12
9. Setelah di ayak dan di saring, timbang benda uji yang tertahan.
Berat agregat

= 5000 gram

Berat bersih

= 3714 gram
5000 3714 x 100% = 25,72%
5000

3.5.E Hasil Pengujian Abrasi (Data)

3.5.F Kesimpulan
Setelah melakukan pengujian dan perhitungan data, didapat nilai kehausan atau abrasi
yaitu sebesar 25,72%.

3.6 JOB 6
PERENCANAAN CAMPURAN BETON
3.6.A. Dasar Teori
Beton adalah campuran antara semen portland atau semen hidrolik yang lain, agregat
halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa bahan tambahan yang membentuk massa padat
(SNI-03-2847-2002). Seiring dengan penambahan umur, beton akan semakin mengeras dan akan
mencapai kekuatan rencana pada usia 28 hari.
3.6.B. Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa dapat :
1. Mengisi daftar isian formula perencanaan campuran beton.
2. Menghitung perencanaan campuran beton.
3. Mengahataui komposisi berat unsure adukan beton.
4. Dapat membuat beton menggunakan cetakan kubus baja.
5. Menggunakan peralatan dengan baik dan benar.

3.6.C. Alat dan Bahan


Alat
1. Timbangan.

2. Kubus baja

3. Talam

4. Kuas

5.Set kunci pas 6.Oli atau pelumas 7.Sekop 8.Tongkat pemadat 9.Spesi atau sendok beton

Bahan
1.Agregat halus

2.Agregat kasar

3. Air gambut

4. Semen Portland

3.6.D. Langkah Kerja


1.
2.
3.
4.

Membuat formula perencanaan campuran sesuai data yang sudah diambil.


Menghitung kebutuhan material.
Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
Menimbang semua bahan, pertama meletakkan talam diatas timbangan dan baca hasilnya
kemudian masukkan pasir dengan perlahan lahan kedalam talam menggunakan skop
sebanyak yang diperlukan dan baca hasil berat isi tersebut. Pasir yang tersisa
dikembalikan ketempat asal.

5. Kedua meletakkan talam di diatas timbangan dan baca hasilnya kemudian masukkan
kerikil dengan perlahan kedalam talam menggunakan skop sebanyak yang diperlukan dan
baca hasil berat isi tersebut. Kembalikan kerikil yang tersisa ketempat asal.

6. Ketiga meletakkan talam di diatas timbangan dan baca hasilnya kemudian masukkan
semen dengan perlahan kedalam talam menggunakan skop sebanyak yang diperlukan dan
baca hasil berat isi tersebut. Kembalikan semen yang tersisaketempat asal.

7. Menyiapkan 4 kubus, bersihkan sisa beton yang menempel pada kubus. Kencangkan
setiap baut kubus dengan kunci dan di lumuri dengan oli di setiap permuakaan kubus
dengan kuas.
8. Meletakkan pasir didalam talam dan semen aduklah sampai rata setelah rata buatlah
lingkaran dan ditengahnya di kasi lubang kemudian masukkan air secara bertahap kedalam
adukan semen + pasir tersebut, aduklah sampai rata. Sudah menyatu air + Pasir + Semen
kemudian masukkan lagi batu kedalam adukan dan aduk sampai rata. Dan adonan pun siap
digunakan.

9. Menyiapkan 4 cetakan kubus yang siap dipakai yang telah dibersihkan dan dikunci setiap
bautnya.

10. Memasukkan adonan setiap cetakan dari 1-4 cetakan peroses pemasukan adonan sambil di
tumbuk dan sisi kubus di ketok ketok supaya merata dan padat.

11. Beri tanda benda uji setiap kubus.


12. Simpan 4 benda uji dan dibiarkan selama 18-24 jam.
13. Setelah benda uji mengeras, benda uji siap untuk dikeluarkan dari cetakan kubus.
14. Kendorkan semua baut dan keluarkan isi beton tersebut dari cetakkan.

15. Rendam 5 benda uji kedalam bak air selama 4 hari.


16. Benda uji siap untuk pengujian.
3.6.E. Hasil Perencanaan Campuran Beton (Data)

3.6.F. Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan dan perhitungan perencanaan beton, didapatkan hasil:
1. Semen

= 341,67

kg/m

2. Air (gambut)

= 205

kg/m

3. Agregat halus kondisi SSD

= 713,85

kg/m

4. Agregat kasar kondisi SSD

= 1215,48

kg/m

Koreksi jumlah air


1. Agregat kasar
a. Kadar air

1,757 %

b. Penyerapan

0,67

c. Kekurangan air

1,087 %

2. Agregat halus
a. Kadar air

1,31

b. Penyerapan

0,82

c. Kekurangan air

0,49

Perhitungan (per m)
Air

= 205 (1,087% X 1215,48) (0,49% X 713,85)

= 188,29 Kg

Agregat kasar = 1215,48 + (1,087% X 1215,480)

= 1228,70 Kg

Agregat halus = 713,85 + (0,49% X 713,85)

= 717,35 Kg

Ada 4 buah benda uji 15 x 15 x 15 cm


Volume kubus beton = 0,15 x 0,15 x 0,15 m = 0,003375 m
4 buah benda uji = 4 x Volume = 4 x 0,003375 = 0,0135 m
Semen = (341,67 x 0,0135) + 10% (341,67 x 0,0135) = 5,07
Kekurangan air = (188,29 x 0,0135) + 10% (188,29 x 0,0135) = 2,80
Kekurangan agregat kasar = (1228,70 x 0,0135) + 10% (1228,70 x 0,0135) = 19,05
Kekurangan agregat halus = (717,35 x 0,0135) + 10% (717,35 x 0,0135) = 10,65

3.7 JOB 7
PENGUJIAN SLUMP TEST

3.7.A. Dasar Teori


Slump dapat dilakukan di laboratorium maupun di lapangan (biasanya ketika ready mix
sampai, diuji setiap kedatangan). Hasil dari Uji Slump beton yaitu nilai slump. Nilai yang tertera
dinyatakan dalam satuan internasional (SI) dan mempunyai standar.
3.7.B. Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa dapat :
1. Dapat mengetahui proses kerja pengujian slump.
2. Untuk memperoleh angka slump beton.
3. Dapat menggunakan peralatan dengan baik dan benar.
4. Mengisi form pengujian beton.
3.7.C. Alat dan Bahan
Alat
1. Alat Slump

2. Talam

4. Mistar perata

5. Spesi/sendok

3. Tongkat penumbuk

6. Sekop

Bahan
Adukan dari perencanaan campuran beton (telah dibuat sebelumnya)

3.7.D. Langkah Kerja


1. Siapakan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Memasukkan adukan kedalam slump sebanyak 3 lapisan . lapisan pertama sebanyak 1/3
slump kemudian tumbuk dengan stik penumbuk sebanyak 25 kali, masukan lagi adukan
kedalam slump sebanyak 1/4 slump kemudian tumbuk dengan stik penumbuk sebanyak
25 kali, masukan lagi adukan kedalam slump sebanyak full sampai bibir slump kemudian
tumbuk dengan stik penumbuk sebanyak 25 kali, masukan lagi sedikit adukan kemudian
ratakan dengan stik pemukul.
3. Dan angkat slump dengan perlahan untuk memeriksa slump apakah sudah sampai dengan
kondisi SSD.

4. Letakkan slump disamping hasil cetakan kemudian ukur penurunan hasil cetakan dengan
menggunakan penggaris, dan baca hasilnya. (sebelum pengukuran didiamkan selama 1
menit baru di ukur tinggi slump yang sudah dibuka tadi)

3.7.E. Hasil Pengujian Slump Test (Data)


3.7.F. Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan slump test maka hasil yang didapatkan adalah
Pemeriksaan 1 = 6 mm

Pemeriksaan 2 = 8 mm
Pemeriksaan 3 = 10 mm
Jadi hasil pemeriksaan tersebut dirata-ratakan dengan hasil 8 mm.

3.8 JOB 8
PENGUJIAN HAMMER TEST
3.8.A. Dasar Teori
Hammer test yaitu suatu alat pemeriksaan mutu beton tanpa merusak beton. Disamping itu
dengan menggunakan metode ini akan diperoleh cukup banyak data dalam waktu yang relatif
singkat dengan biaya yang murah. Metode pengujian ini dilakukan dengan memberikan beban
intact (tumbukan) pada permukaan beton dengan menggunakan suatu massa yang diaktifkan
dengan menggunakan energi yang besarnya tertentu. Jarak pantulan yang timbul dari massa
tersebut pada saat terjadi tumbukan dengan permukaan beton benda uji dapat memberikan
indikasi kekerasan juga setelah dikalibrasi, dapat memberikan pengujian ini adalah jenis
"Hammer". Alat ini sangat berguna untuk mengetahui keseragaman material beton pada struktur.
Karena kesederhanaannya, pengujian dengan menggunakan alat ini sangat cepat, sehingga dapat
mencakup area pengujian yang luas dalam waktu yang singkat.
3.8.A. Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa dapat :
1. Dapat mengetahui proses kerja hammer test
2. Dapat menggunakan peralatan dengan baik dan benar.
3. Mengisi form pengujian beton hammer test .
3.8.B. Alat dan Bahan
Alat
Alat hammer test

Bahan
1. Balok
2. Kolom
3. Tangga
4. Lantai

3.8.C. Langkah Kerja


1. Menyiap alat yaitu hammer test.
2. Tandai 9 titik yang akan ditembak untuk diuji.

3. Letakkan ujung plunger yang terdapat pada ujung alat hammer test pada titik yang akan
ditembak dengan memegang hammer dengan arah tegak lurus atau miring bidang
permukaan beton yang akan ditest.

4. Plunger ditekan secara perlahan - lahan pada titik tembak dengan tetap menjaga kestabilan
arah dari alat hammer. Pada saat ujung plunger akan lenyap masuk kesarangnya akan
terjadi tembakan oleh plunger terhadap beton, dan tekan tombol yang terdapat dekat
pangkal hammer.

5. Lakukan pengetesan terhadap masing-masing titik tembak yang telah ditetapkan semula
dengan cara yang sama.
6. Tarik garis vertikal dari nilai pantul yang dibaca pada grafik 1 yaitu hubungan antara nilai
pantul dengan kekuatan tekan beton yang terdapat pada alat hammer sehingga memotong
kurva yang sesuai dengan sudut tembak hammer.

7. Besar kekuatan tekan beton yang ditest dapat dibaca pada sumbu vertikal yaitu hasil
perpotongan garis horizontal dengan sumbu vertikal.

8. Lakukan pengujian dengan langkah yang sama terhadap objek yang akan diuji.
9. Objek yang akan diuji adalah kolom, tangga, balok, dan lantai.
3.8.E. Hasil Pengujian Hammer Test (Data)
3.8.F. Kesimpulan
Setelah melakukan pengujian didapat hasil pengujian beton (kuat tekan beton) dengan alat uji
Hammer Test:

1. Tangga

= 304,28

kg/cm

2. Kolom

= 146,72

kg/cm

3. Lantai

= 330,93

kg/cm

4. Balok

= 187,28

kg/cm

Jadi kuat tekan beton yang paling besar adalah pada lantai di gedung laboratorium teknik sipil.

3.9.

JOB 9
PENGUJIAN KUAT TEKAN BETON

3.9.A. Dasar Teori


Kekuatan tekan adalah kemampuan beton untuk menerima gaya tekan persatuan luas.
Kuat tekan beton mengidentifikasikan mutu dari sebuah struktur. Semakin tinggi kekuatan
struktur dikehendaki, semakin tinggi pula mutu beton yang dihasilkan (Mulyono, 2004). Nilai
kuat tekan beton didapat dari pengujian standar dengan benda uji yang lazim digunakan berbentuk
kubus. Dimensi benda uji standar adalah berukuran 15cm x 15cm x 15cm atau setara dengan 3375
cm. Tata cara pengujian yang umumnya dipakai adalah standar ASTM C39-86. Kuat tekan
masing-masing benda uji ditentukan oleh tegangan tekan tertinggi (fc) yang dicapai benda uji
umur 28 hari akibat beban tekan selama percobaan (Dipohusodo, 1996).
3.9.B. Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa dapat :
1. Dapat mengetahui uji tekan beton.
2. Dapat mengahataui tata cara pengujian kuat tekan beton.
3. Dapat menggunakan mesin uji kuat tekan beton dengan baik.
4. Mengisi form uji kuat tekan beton.
3.9.C. Alat dan Bahan
Alat
1. Mesin uji kuat tekan beton

2. Kain majun

Bahan
Beton K-300 umur 4 hari

3.9.D. Langkah Kerja


1.
2.
3.
4.

Menyiapkan mesin uji kuat tekan beton.


Ambil beton dari bak perendam dan lap dengan kain majun.
Nyalakan mesin uji kuat tekan beton tersebut.
Masukkan beton ke dalam mesin uji pastikan beton pada posisi yang tepat.

5. Jalankan mesin tekan dengan penambahan beban yang konstan berkaisar antara 2 sampai 4
kg/cm per detik.
6. Lakukan pembebanan sampai benda uji menjadi hancur dan catatlah beban maksimum
yang ditunjukan oleh jarum warna merah pada alat uji.

3.9.E. Hasil Pengujian Kuat Tekan Beton (Data)


3.9.F. Kesimpulan

Setelah melakukan pengujian kuat tekan pada kubus beton, maka didapatkan hasil dari
perhitungan beton yang memiliki kuat tekan selama 28 hari adalah:
1. Beton 1 (A1) = 177,78

kg/cm

2. Beton 2 (A2) = 177,78

kg/cm

3. Beton 3 (A3) = 200

kg/cm

4. Beton 4 (A4) = 200

kg/cm

Jadi jumlah kuat tekan keempat kubus beton tersebut adalah sebesar 755,56 kg/cm.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah melakukan praktikum pengujian beton ini, dapat disimpulkan bahwa:

1.

Kadar air agregat kasar lebih besar dari kadar air agregat halus.

2.

Berat jenis agregat kasar lebih besar dari pada berat jenis agregat halus, sedangkan
penyerapan agregat kasar lebih kecil dari penyerapan agregat halus.

3.

Berat isi agregat kasar lebih kecil dari berat isi agregat halus.

4.

Persentase lolos (%) agregat kasar pada analisa ayak lebih mengalami penurunan drastis dari
pada agregat halus.

5.

Jumlah bola didalam mesin Los Angeles pada saat pengujian keausan atau abrasi sangat
mempengaruhi material yang lolos dan material yang tertahan.

6.

Menggunakan air gambut dalam perencanaan campuran beton lebih kuat dari pada
menggunakan air PDAM.

7.

Menggunakan air gambut dalam pengujian slump menghasilkan campuran yang kurang baik
dibandingkan dengan air PDAM.

8.

Dalam pengujian hammer test, kuat tekan beton lebih besar pada lantai dibandingkan dengan
tangga, kolom dan balok.

9.

Besar kecil kuat tekan beton tergantung pada beban yang didapat oleh beton tersebut.

B.
1.

Saran

2.

Pemeriksaan kadar air agregat, berat jenis dan penyerapan agrega dan uji berat isi agregat
dilakukan minimal 2 kali, kemudian diambil rata ratanya.
Setelah semua peralatan digunakan harus segera dibersihkan dari agar alat benda uji tidak

3.

mudah rusak.
Pelaksanaan pengujian yang dilakukan dengan cermat dan ketelitian akan mendapatkan hasil

4.

yang maksimal.
Kerjasama antar kelompok sangat diperlukan agar mendapatkan hasil yang sempurna dan

5.
6.

meminimalkan kesalahan dalam praktek berlangsung.


Gunakan pakaian praktikum yang telah ditetapkan.
Sebelum dan sesudah praktikum sebaiknya diawali dan diakhiri dengan berdoa sesuai agama
dan kepercayaan masing-masing.