Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

HISTOLOGI DAN EMBRIOLOGI


Siklus Reproduksi
Pengamatan Sumbat Vagina Pada Hamster

DISUSUN OLEH :
Reza Panji Susanto
F1071131008
Kelas A
Kelompok 4

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2016

PENGAMATAN SUMBAT VAGINA PADA HAMSTER


A. LATAR BELAKANG
Reproduksi atau perkembangbiakkan merupakan bagian dari ilmu faal
(fisiologi). Organ reproduksi betina terdiri dari : organ primer meliputi ovarium
dan hormon yang dihasilkan serta organ sekunder yang terdiri dari tuba fallopi,
uterus, cervik, vagina dan vulva. Secara anatomik terdiri dari gonad atau ovarium,
saluran reproduksi dan alat kelamin luar. Organ reproduksi primer yaitu ovarium
yang berfungsi ganda, eksokrin (menghasilkan ovum atau sel telur) dan endokrin
(menghasilkan hormon esterogen dan progesteron). Organ reproduksi sekunder
yaitu, oviduk atau tuba fallopi atau Salping atau tuba uterina merupakan tempat
pertemuan antara sperma dan ovum. Siklus reproduksi adalah perubahan siklus
yang terjadi pada sistem reproduksi (ovarium, oviduk, uterus dan vagina) hewan
betina dewasa yang tidak hamil, yang memperlihatkan hubungan antara satu
dengan yang lainnya. Siklus reproduksi pada mamalia primata disebut dengan
silus menstruasi, sedangkan siklus reproduksi pada non primata disebut dengan
siklus estrus. Siklus estrus ditandai dengan adanya estrus (birahi). Pada siklus
estrus ini dikenal adanya empat fase yaitu, fase proestrus, estrus, metaestrus, dan
diestrus. Semua fase ini memiliki ciri-ciri tersendiri dan dapat dilihat dengan
membuat apusan vaginanya. Jadi, pada praktikum kali ini kita akan membahas
tentang pengamatan siklus estrus dengan pengamatan apusan vagina pada hewan
yaitu pada hamster.

B. TUJUAN
Adapun tujuan praktikum ini adalah untuk mengamati adanya sumbat
vagina pada hamster betina.

C. KAJIAN PUSTAKA

Siklus reproduksi adalah perubahan siklus yang terjadi pada sistem


reproduksi (ovarium, oviduk, uterus dan vagina) hewan betina dewasa yang tidak
hamil, yang memperlihatkan hubungan antara satu dengan yang lainnya. Siklus
reproduksi pada mamalia primata disebut dengan silus menstruasi, sedangkan
siklus reproduksi pada non primata disebut dengan siklus estrus. Siklus estrus
ditandai dengan adanya estrus (birahi).
Pada fase estrus yang dalam bahasa latin disebut oestrus yang berarti
kegilaan

atau

gairah,

hipotalamus

terstimulasi

untuk

melepaskan

gonadotropin-releasing hormone (GRH). Estrogen menyebabkan pola perilaku


kawin pada mencit, gonadotropin menstimulasi pertumbuhan folikel yang
dipengaruhi follicle stimulating hormone (FSH) sehingga terjadi ovulasi.
Kandungan FSH ini lebih rendah jika dibandingkan dengan kandungan luteinizing
hormone (LH) maka jika terjadi coitus dapat dipastikan mencit akan mengalami
kehamilan. Pada saat estrus biasanya mencit terlihat tidak tenang dan lebih aktif,
dengan kata lain mencit berada dalam keadaan mencari perhatian kepada mencit
jantan. Fase estrus merupakan periode ketika betina reseptif terhadap jantan dan
akan melakukan perkawinan, mencit jantan akan mendekati mencit betina dan
akan terjadi kopulasi. Mencit jantan melakukan semacam panggilan ultrasonik
dengan jarak gelombang suara 30 kHz 110kHz yang dilakukan sesering
mungkin selama masa pedekatan dengan mencit betina, sementara itu mencit
betina menghasilkan semacam pheromon yang dihasilkan oleh kelenjar preputial
yang diekskresikan melalui urin. Pheromon ini berfungsi untuk menarik perhatian
mencit jantan. Mencit dapat mendeteksi pheromon ini karena terdapat organ
vomeronasal yang terdapat pada bagian dasar hidungnya. Pada tahap ini vagina
pada mencit betinapun membengkak dan berwarna merah. Tahap estrus pada
mencit terjadi dua tahap yaitu tahap estrus awal dimana folikel sudah matang, selsel epitel sudah tidak berinti, dan ukuran uterus pada tahap ini adalah ukuran
uterus maksimal, tahap ini terjadi selama 12 jam. Lalu tahap estrus akhir dimana
terjadi ovulasi yang hanya berlangsung selama 18 jam.
Pada dasarnya dua jenis siklus yang berbeda ditemukan pada mamalia
betina. Manusia dan banyak primata lain mampunyai siklus menstrtuasi
(menstrual cycle), sementara mamalia lain mempunya siklus estrus (estrous

cycle). Pada kedua kasus ini ovulasi terjadi pada suatu waktu dalam siklus ini
setelah endometrium mulai menebal dan teraliri banyak darah, karena menyiapkan
uterus untuk kemungkinan implantsi embrio. Satu perbedaan antara kedua siklus
itu melibatkan nasib kedua lapisan uterus jika kehamilan tidak terjadi. Pada siklus
mnestruasi endometrium akan meluruh dari uterus melalui serviks dan vagina
dalam pendarahan yang disebut sebagai menstruasi. Pada siklus estrus
endometrium diserap kembali oleh uterus, dan tidak terjadi pendarahan yang
banyak (Campbell, 2004).
Siklus estrus dapat dibagi dalam beberapa tahap yaitu tahap diestrus,
proestrus, estrus, dan metestrus. Tahap-tahap siklus dapat ditentukan dengan
melihat

gambaran

sitologi

apusan

vagina.

Paad

saat

estrus,

vagina

memperlihatkan sel-sel epitel yang menanduk. Apusan vagina biasanya dibuat


pada hewan hewan laboratorium, umpanya mencit dan tikus, sebelum hewan
jantan dan betina disatukan, penyatuan sebaiknya dilakukan pada saat estrus awal.
Pada saat estrus, vulva hewan betina biasanya merah dan bengkak. Adanya
sumbat vagina setelah penyatuan menandakan bahjwa kopulasi telah berlangsung,
dan hari itu ditentukan sebagai hari kehamilan yang ke nol (Adnan, 2006). Pada
fase estrus, terlihat pengaruh estrogen dan dikarakteristikkan oleh sel kornifikasi
yang nyata (jelas) dan hilangnya leukosit. Pada akhir fase estrus, lapisan
kornifikasi tampak sloughed off dan invasi leukosit terjadi. Selama diestrus,
leukosit tampak berlimpah. Fase proestrus, tanpa leukosit dan dikarakteristikkan
oleh sel epitel yang dinukleasi. Fase estrus terjadi dengan pengaruh hormon
gonadotropin dan sekresi estrogen mempunyai pengaruh yang besar. Fase
metestrus, selama fase ini dimana sinyal stimulasi estrogen turun. Uterus
dipengaruhi oleh progesteron dan menjadi sikretori. Tipe fase ini adalah jelas dan
mungkin berakhir 1-5 hari. Beberapa hewan mengeluarkan akibat penurunan
tingkatan estrogen. Pada fase metestrus dimana uterus dipengaruhi oleh
progesteron dan menjadi sikretori. Tipe fase ini adalah jelas dan mungkin berakhir
1-5 hari.Fase diestrus dikarakteristikkan oleh aktivitas corpus luteum dimana
dalam memproduksi progesteron (Hill, 2006).
D. METODOLOGI
1. Waktu dan Tempat

Praktikum Pengamatan sumbat vagina hamster dilaksanakan pada


Hari / tanggal

Minggu - Senin, 10 - 11 April 2016

Waktu

Pukul 19.00 07.00 WIB

Tempat

Laboratorium Pendidikan Biologi Fkip Untan

2. Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah
Alat :

Bahan :

Cotton Bud

Hamster betina
Hamster jantan

3. Cara Kerja
Adapun cara kerja Pengamatan Sumbat Vagina Hamster adalah sebagai berikut
1. Hamster betina yang sudah siap kawin disatukan dengan hamster jantan.
2.

Keesokan harinya ( 12 jam) hamster betina diambil, dipegang dengan tangan

kiri, kemudian tengkuknya atau leher dorsal dipegang dengan ibu dan telunjuk
jari. Badan dan ekor dipegang dengan jari tengah, jari manis, dan kelingking.
3.

Diamati terjadinya sumbat vagina pada hamster tersebut.

E. HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Hasil Pengamatan

Gambar

1.

Gambar

hasil

pengamatan sumbat vagina pada


hamster
2.

Pembahasan
Praktikum ini bertujuan untuk

mengamati ada tidaknya sumbat vagina. Praktikum ini kita menggunakan hamster
sebagai bahan.

Sumbat vagina dapat dilihat setelah hamster melakukan

perkawinan. Namun sebelum memahami sumbat vagina, kita perlu mengetahui


siklus reproduksinya terlebih dahulu. Siklus reproduksi tersebut dikenal dengan
siklus estrus.
Siklus estrus merupakan periode ketika betina reseptif terhadap jantan dan
akan melakukan perkawinan, hamster jantan akan mendekati hamster betina dan
akan terjadi kopulasi. Pada kedua kasus ini ovulasi terjadi pada suatu waktu dalam
siklus ini setelah endometrium mulai menebal dan teraliri banyak darah, karena
menyiapkan uterus untuk kemungkinan implantsi embrio. Satu perbedaan antara
kedua siklus itu melibatkan nasib kedua lapisan uterus jika kehamilan tidak

terjadi. Pada siklus mnestruasi endometrium akan meluruh dari uterus melalui
serviks dan vagina dalam pendarahan yang disebut sebagai menstruasi. Pada
siklus estrus endometrium diserap kembali oleh uterus, dan tidak terjadi
pendarahan yang banyak (Campbell, 2004).
Struktur sel luteal dan fungsi dipelajari dengan mikroskop elektron dalam
hubungannya dengan pengukuran produksi progesteron oleh corpora lutea yang
diisolasi dan diinkubasi in vitro pada hari-hari berturut-turut hamster siklus estrus
empat hari. Sel Granulosal yang terutama bertanggung jawab untuk pembentukan
korpus luteum. (Leavitt, W.W dkk. 1973)
Siklus estrus hamster tergantung pada jam biologis dan memiliki jangka
waktu yang merupakan kelipatan empat kali lipat dari bersamaan direkam ritme
aktivitas lokomotor. (M. Fitzgerald, 1976)
Berikut adalah fase-fase dalam siklus estrus hamster :
1.

Fase proestrus
Proestrus merupakan periode persiapan yang ditandai dengan pemacuan

pertumbuhan folikel oleh FSH sehingga folikel tumbuh dengan cepat. Proestrus
berlangsung selama 2-3 hari. Pada fase kandungan air pada uterus meningkat dan
mengandung banyak pembuluh darah dan kelenjar-kelenjar endometrial
mengalami hipertrofi.
2.

Fase estrus
Estrus adalah masa keinginan kawin yang ditandai dengan keadaaan tikus

tidak tenang, keluar lendir dari dalam vulva, pada fase ini pertumbuhan folikel
meningkat dengan cepat, uterus mengalami vaskularisasi dengan maksimal,
ovulasi

terjadi

dengan

cepat,

dan

sel-sel

epitelnya

mengalami

akhir

perkembangan/terjadi dengan cepat.


3.

Fase metaestrus
Metaestrus ditandai dengan terhentinya birahi, ovulasi terjadi dengan

pecahnya folikel, rongga folikel secara berangsur-ansur mengecil,dan pengeluaran


lendir terhenti. Selain itu terjadi penurunan pada ukuran dan vaskularitas.
4.

Fase diestrus

Diestrus adalah periode terakhir dari estrus, pada fase ini corpus luteum
berkembang dengan sempurna dan efek yang dihasilkan dari progesteron (hormon
yang dihasilkan dari corpus luteum) tampak dengan jelas pada dinding uterus
serta folikel-folikel kecil dengan korpora lutea pada vagina lebih besar dari
ovulasi sebelumnya.
Pada fase estrus, terlihat pengaruh estrogen dan dikarakteristikkan oleh sel
kornifikasi yang nyata (jelas) dan hilangnya leukosit. Pada akhir fase estrus,
lapisan kornifikasi tampak sloughed off dan invasi leukosit terjadi. Selama
diestrus, leukosit tampak berlimpah. Fase proestrus, tanpa leukosit dan
dikarakteristikkan oleh sel epitel yang dinukleasi. Fase estrus terjadi dengan
pengaruh hormon gonadotropin dan sekresi estrogen mempunyai pengaruh yang
besar. Fase metestrus, selama fase ini dimana sinyal stimulasi estrogen turun.
Uterus dipengaruhi oleh progesteron dan menjadi sikretori. Tipe fase ini adalah
jelas dan mungkin berakhir 1-5 hari.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap estrus adalah histologi dan fungsi
hipotalamus serta hipofisis dalam kaitannya dengan proses reproduksi, terjadinya
pubertas pada hewan betina termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi siklus
estrus serta proses pembentukan sel kelamin (gametogenesis). Selain itu terdapat
faktor-faktor lain yang lebih berpengaruh yaitu hormone.
Seperti semua mamalia betina, hamster betina memiliki siklus reproduksi
biasa yang memungkinkan dia untuk hamil dan memiliki anak. Wanita memiliki
siklus menstruasi ditandai dengan perdarahan vagina bulanan, tapi hamster
memiliki siklus estrus sampai tujuh kali setiap bulan. Estrus dibedakan dengan
debit keputihan, bukan oleh perdarahan yang terkait dengan siklus menstruasi
wanita.
Pada saat estrus, vulva hewan betina biasanya merah dan bengkak.
Adanya sumbat vagina setelah penyatuan menandakan bahjwa kopulasi telah
berlangsung, dan hari itu ditentukan sebagai hari kehamilan yang ke nol (Adnan,
2006).
Namun pada hasil pengamatan tidak menunjukkan adanya sumbat vagina.
Pada pengamatan sumbat vagina hamster, hamster betina yang sudah siap
kawin disatukan dengan hamster jantan pada jam tujuh malam sampai jam 7 pagi

dan dibiarkan selama kurang lebih 12 jam dengan harapan terjadi perkawinan
pada kedua hamster tersebut. Pada hari pertama tepatnya jam 7 pagi setelah
hamster betina dan jantan disatukan, tidak terdapat sumbat vagina pada hamster.
Hal ini menandakan bahwa hamster belum memasuki fase estrus dimana menurut
Yatim (1994) pada masa inilah betina siap menerima jantan, dan pada saat ini pula
terjadi ovulasi.

F. KESIMPULAN
1. Siklus estrus merupakan periode ketika betina reseptif terhadap jantan dan
akan melakukan perkawinan.
2. Pada siklus estrus ini dikenal adanya empat fase yaitu, fase proestrus,
estrus, metaestrus, dan diestrus.
3. Pada pengamatan tidak terjadi sumbat vagina pada hamster.
4. Hal ini disebabkan hamster belum memasuki fase estrus.
5. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap estrus adalah histologi dan
fungsi hipotalamus serta hipofisis dalam kaitannya dengan proses
reproduksi, terjadinya pubertas pada hewan betina termasuk faktor-faktor
yang mempengaruhi siklus estrus serta proses pembentukan sel kelamin
(gametogenesis). Selain itu terdapat faktor-faktor lain yang lebih
berpengaruh yaitu hormone.
DAFTAR PUSTAKA
Adnan. 2010. Penuntun Praktikum Perkembangan Hewan. Makassar: UNM.
Berg, Mary Helen. 201 Do Hamster Have Menstrual Cycle?. Fast Review,
Publishing & Printing International Journal (US Published). (online)
(http://animals.pawnation.com/hamsters-menstrual-cycles-1772.html
diakses 18 April 2016)
Campbell, dkk. 2004. Biologi Jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Hill, Mark. 2006. Estrous Cycle. The university of new south wales. Sidney.
http://www.lpp.uns.ac.id/web/moodle/moodledata/125/3Oogenesis.pdf.
Tanggal akses 18 April 2016
Leavitt, W.W, dkk. 1973. Structure and function of the hamster corpus luteum
during the estrous cycle. Issue American Journal of Anatomy American
Journal of Anatomy. Volume 136, Issue 2, pages 235249.

M. Fitzgerald, Kathleen. 1976. Physiology. Circadian organization of the estrous


cycle of the golden hamster Proc. Natl. Acad. Sci. USA Vol. 73, No. 8,
pp. 2923-2927, August 1976 (online)
(http://www.jstor.org/discover/10.2307/11298?
sid=21105837794381&uid=3738224&uid=4&uid=2 diakses 18 April
2016)
Yatim, W. 1994. Reproduksi dan Embriologi. Tarsito: Bandung.