Anda di halaman 1dari 9

REFERAT ORAL MEDICINE

PAROTIS SIALOLITHIASIS

Pembimbing : Solva Yuditha. drg, MARS

Disusun Oleh :
1. Danty Melianingrum

2011-16-089

2. Greta Putri Arini

2011-16-103

3. Hafizzuddin bin M. Yusof

2011-16-104

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS PROF.DR.MOESTOPO (BERAGAMA)
JAKARTA
2012

BAB I
PENDAHULUAN

Saliva adalah suatu cairan kompleks yang terdiri atas campuran sekresi dari
kelenjar ludah besar dan kecil yang ada pada rongga mulut. Tiga kelenjar
mukosa mayor yaitu parotis, sub mandibular, dan sub lingual.
Pada kelenjar ludah tersebut dapat terjadi sumbatan yang mengganggu aliran
saliva dari kelenjar. Penyumbatan dari kelenjar ludah dapat disebabkan oleh
sialolithiasis. Sialolithiasis adalah deposit terkalsifikasi di dalam saluran kelenjar
saliva major atau minor atau di dalam kelenjar itu sendiri. Deposit terkalsifikasi
itu terdiri dari bahan organic dan anorganik, dapat berukuran besar atau dan
berada di dalam salauran kelenjar maupun di dalam kelenjar.
Sialolithiasis banyak ditemukan pada kelenjar saliva mayor, paling banyak
pada kelenjar submandibularis kemudian kelenjar parotis dan sub lingualis. Pada
kelenjar saliva minor, bibir atas dan bibir bawah merupakan tempat yang paling
sering terlibat, meskipun bagian mana saja dari rongga mulut dapat terlibat.
Penderita sialolithiasis lebih banyak dialami oleh paseien laki-laki dibandingkan
pasien wanita.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kelenjar Ludah
Kelenjar Ludah terbagi menjadi kelenjar ludah besar dan kelenjar ludah kecil.
1. Kelenjar ludah besar yaitu ;
a.
Parotis1,2,6
Kelenjar Parotis merupakan kelenjar ludah terbesar. Kelenjar parotis terletak di
depan telinga (daerah periauricular) dengan perluasan ke otot digastrikus dan
masseter. Saliva yang berasal dari kelenjar parotis disekresi melalui duktus
Stenson. Muara saluran ini terlihat pada mukosa bukal daerah molar pertama
b.

rahang atas.
Sub Mandibula 2
Kelenjar Sub mandibula adalah sepasang kelenjar ludah yang terletak di rahang
bawah, di atas otot digastrikus. Produksi sekresinya adalah campuran serous dan

c.

mukous dan masuk ke mulut melalui duktus Wharton.


Sub Lingual 6
Kelenjar sub lingual adalah kelenjar yang palin kecil diantara kelenjar ludah
mayor.

Terletak

dekat

otot

mylohioid

dan

pada

dasar

mulut

arah

anterolateral.Sekresi kelenjar ini mukouss dan lebih kental dibandingkan sekresi


kelenjar sub mandibula dan parotis.

Gambar 1
(1) Kelenjar Parotis, (2) Kelenjar Submandibula (3) Kelenjar Sublingual

2. Kelenjar Ludah Kecil 2


Terdapat lebih dari 600 kelenjar liur minor yang terletak di rongga mulut.
Diameternya 1-2 mm. Kelenjar liur minor mungkin mempunyai saluran sekresi
bersama dengan kelenjar minor yang lain, atau mungkin juga mempunyai saluran
sendiri.
B. Sialolithiasis
1.
Definisi
Sialolithiasis adalah deposit terkalsifikasi di dalam saluran kelenjar saliva
major atau minor atau di dalam kelenjar itu sendiri. Batu kelenjar dapat berukuran
kecil dan berada di dalam salauran kelenjar maupun di dalam kelenjar.
Sialolithiasis merupakan penyakit umum yang mengenai kelenjar ludah dan
merupakan penyebab utama disfungsi kelenjar ludah.3

Gambar 2
Sialolithiasis
2.

Etiologi dan epidemiologi


Etiologi terbentuknya sialolithiasis masih belum diketahui, meskipun
demikian beberapa faktor yang menyebabkan tergenangnya saliva di dalam
duktus dapat menyebabkan terbentuknya batu saliva, antara lain sebagai berikut :
inflamasi, sistem duktus yang irregular, iritan lokal, dan obat-obat antikolinergik.1
Banyak teori diperkenalkan untuk menerangkan tentang etiologi dan
patogenesis dari sialolithiasis. Teori pertama berdasarkan adanya mikrokalkuli
intrasel, dimana, sewaktu disekresikan ke saluran kelenjar mikrokalkuli ini
menjadi nidus yang kemudiannya akan mengalami kalsifikasi. Teori kedua

berpendapat bahwa sumbatan lendir yang terdapat di dalam sistem saluran


kelenjar dapat menjadi nidus. Kedua teori ini mengusulkan bahwa, nidus organik
awal tumbuh secara progesif dari pengendapan substansi anorganik dan organik.
Suatu hipotesis lain berkaitan dengan sialolithiasis berpendapat bahwa penyakit,
substansi atau bakteri di dalam rongga mulut dapat bermigrasi di dalam duktus
saliva lalu menjadi nidus yang akan mengalamai klasifikasi.4
Sialolithiasis merupakan penyakit umum kelenjar saliva pada pasien usia
pertengahan, dan diperkirakan sialolithiasis mengenai 1,2% dari populasi. Pada
orang dewasa terutama laki-laki, dua kali lebih sering daripada perempuan. Batu
kelenjar sering terjadi di kelenjar sub mandibular dan duktusnya (83%)
berbanding kelenjar parotis (10%) atau kelenjar sub lingual (7%). Fenomena
penyumbatan sering terjadi pada kelenjar sub mandibular dikarenakan ciri
anatominya yang unik konsentrasi kalsium yang tinggi, pengaruh gravitasi, muara
saluran yang kecil dan pH saliva yang tinggi. 4,5
3.

Komposisi sialolithiasis
Batu sialolithiasis terdiri dari substansi organik dan anorganik dalam
perbandingan yang bervariasi. Substansi organik dapat berupa glikoprotein,
mukopolisakarida, dan debris selular. Substansi anorganik utamanya terdiri dari
kalsium karbonat dan kalsium fosfat. Ion kalsium, magnesium, dan fosfat
membentuk antara 20% sampai 25% massa batu kelenjar, dan sisanya terbentuk
dari mineral lain (Mg, Fe, Cu). Sering substansi organik mendominasi inti dari
batu sementara substansi anorganik membentuk lapisan luarnya. 4

4.

Gambaran Klinis
Kebanyakan pasien dengan sialolithiasis mengeluh pembengkakan yang
sakit yang timbul sebelum, sewaktu dan segera setelah makan. Rasa sakit juga
dapat timbul sewaktu menyikat gigi atau makan makanan masam atau masin
seperti lemon dan permen. Derajat keparahan gejalanya tergantung dari luas
obstruksi duktus kelenjar saliva dan ada tidaknya suatu infeksi. Kelenjar yang
terkena biasanya sakit dan konsistensinya lunak. Kadang batu saliva dapat tanpa
simptom dan hanya terdeteksi dengan palpasi bimanual pada saluran Wharton
atau Stenson atau secara tidak sengaja dari radiografi. 1, 4

5.

Karekteristik pencitraan
Pemeriksaan ini dilakukan jika diindikasikan secara klinis. 80% hingga
85% kasus sialolithiasis memberikan gambaran radioopak. Derajat radioopaksitas
bervariasi, tergantung komposisi mineral kalkuli. 15% hingga 20% kasus
sialolithiasis terlihat radiolusen dan tidak terlihat dengan radiografi rutin. 90%
batu parotis terlihat radiolusen; karena batu saliva pada kelenjar parotis akan lebih
sulit terlihat karena letaknya yang superimpose dengan struktur anatomi lainnya.
Radiografi AP (antero-posterior) wajah sangat berguna untuk melihat batu
kelenjar parotis. Batu submandibular dapat terlihat dengan radiografi oklusal.
Pemeriksaan radiografis di dasar mulut bagian anterior diperlukan untuk
mengevaluasi jumlah dan ukuran batu di dalam saluran kelenjar. 1, 3, 4
CT scan, MRI, ultrasound, sialoendoscopy dan sialografi mungkin
diperlukan pada batu yang tidak terlihat secara radiografi maupun secara palpasi
atau untuk mendeteksi beberapa sialolit dan untuk melihat sistem saluran kelenjar.
Pada CT scan atau MRI, kelenjar yang terinflamasi terlihat membesar dengan
intensitas yang abnormal. Pemeriksaan CT scan berguna untuk mengevaluasi batu
yang lebih besar di dalam kelenjar parenkim atau hilum (daerah pertemuan
saluran utama kelenjar dengan badan kelenjar), atau untuk mendeteksi adanya
abses atau tumor. Sialografi sudah jarang dilakukan, namun dapat diindikasikan
pada situasi yang memerlukan gambaran lebih detail pada struktur internal
saluran.3,4

6.

Diagnosis
Komponen yang penting dalam mendiagnosa penyakit obstruksi kelenjar saliva
adalah riwayat kesehatan pasien dan pemeriksaan klinis. Kebanyakan pasien
mengalami simptom sakit dan pembengkakan pada kelenjar. Pemeriksaan
extraoral dan palpasi dapat dilakukan untuk mendeteksi pembengkakan kelenjar
sub mandibular atau parotis, dengan penurunan aliran saliva yang keruh atau

bersifat mukopurulen hasil dari pjiatan pada kelenjar. Pada kebanyakan kasus,
radiografi konvensional, CT scan, atau ultrasonografi dapat digunakan untuk
7.

8.

menidentifikasi kalkuli. 4
Diagnosis Banding4
a) Nodus limfe yang terkalsifikasi,
b) Gigi avulsi atau impaksi,
c) Benda asing,
d) Phlebolit,
e) Kalsifikasi di dalam arteri fasial.
Perawatan 2,3,4
Penatalaksanaan batu kelenjar tergantung durasi simptom, ukuran dan
lokasi batu.
Pada fase akut, perawatan yang dilakukan terutama adalah perawatan
suportif. Perawatan standar termasuk analgesik, hidrasi, antibiotik, dan antipiretik
dapat diberikan. Dalam kasus eksaserbasi yang berat, intervensi bedah untuk
drainase atau pengangkatan batu saliva mungkin diperlukan. Setelah fase akut
mereda, pembedahan dapat dilakukan.
Batu kecil dapat lepas sendiri atau dibuang secara intraoral dari orifise
saluran kelenjar. Untuk batu yang lebih besar mungkin perlu dilakukan
pembuangan kelenjar itu sendiri secara extraoral. Pembuangan batu secara
extraoral di bawah anestesi lokal dan memelihara kelenjar submandibular
merupakan perawatan pilihan pada pasien dengan batu kelenjar submandibular
yang dapat dipalpasi secara bimanual dan dapat dideteksi dengan ultrasound.
Letak batu saliva didalam duktus menentukan tipe perawatan bedah yang
akan dilakukan. Batu saliva pada atau yang dekat dengan orifice duktus kadang
dapat diangkat langsung pada rongga mulut dengan cara memijat kelenjar yang
terlibat, tetapi batu saliva yang terletak lebih dalam memerlukan pengangkatan
secara bedah atau sialoendoskopi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Greenberg, Martin S, dkk. 2008. Burkets Oral Medicine.11th. Hamilton : BC Decker inc
2. http://id.wikipedia.org/wiki/Kelenjar_liur akses 2-04-2012 8.18
3. Clinical Oral Medicine and Pathology, Jean M. Bruch
4. Clinical Images in Oral Medicine and Maxillofacial Radiology
5. Cawson
6. Clinical oral medicine