Anda di halaman 1dari 23

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam budidaya perairan, pakan memegang peranan penting dalam peningkatan


produksi hasil budidaya. Dalam membuat pakan diperlukan menentukan jenis bahan baku
yang akan dipakai dalam mendesain komposisi pakan, mengetahui teknik-teknik dasar
pembuatan pakan dan bagaiman cara menguji kualitas pakan tersebut.

Langkah utama dalam pembuatan pakan yaitu menyediakan bahan baku yang akan
diformulasikan dengan dasar pertimbangan beberapa persyaratan. Persyaratan pemilihan
bahan baku ini dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu persyaratan teknis dan persyaratan
sosial ekonomis. Persyaratan teknis yang harus diperhatikan dalam memilih bahan baku
untuk pembuatan pakan buatan adalah : mempunyai nilai gizi tinggi dan tidak mengandung
racun yang dilakukan dengan upaya uji proksimat dengan dasar penilaian secara fisik, biologi
dan kimia. Sesuai dengan kebiasaan makan ikan, bahan baku yang digunakan sebaiknya
disesuaikan dengan kebiasaan makan ikan di alam, hal ini dapat meningkatkan selera makan
dan daya cerna ikan. Seperti diketahui bahwa berdasarkan kebiasaan makannya jenis pakan
dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu herbivor, omnivor dan karnivor. Sedangkan
persyaratan sosial ekonomis yang perlu diperhatikan dalam memilih bahan baku untuk
pembuatan pakan buatan adalah mudah diperoleh, mudah diolah, harganya relatif murah dan
bukan merupakan makanan pokok manusia, sehingga tidak merupakan saingan dalam
pembuatan pakan ikan dengan ketersediaan bahan makanan pokok manusia.
Pakan merupakan salah satu kebutuhan budidaya yang sangat fatal dan menentukan
kesuksesan dalam usaha budidaya ikan. Namun dalam menentukan pakan yang akan
diberikan pada ikan agar mengefisiensikan pertumbuhunanya adalah harus melihat
kandungan nutrisi dari pakan tersebut. Kandungan nutrient pakan harus sesuai dengan
kebutuhan ikan serta nutrisi apa saja yang dibutuhkan oleh ikan berdasarkan fungsi dari
setiap nutrient itu sendiri. Kandungan nutrient terpenting bagi ikan yaitu protein dan lemak
yang berfungsi untuk pertumbuhan dan energi. Jadi kita dapat meransang pertumbuhan ikan
berdasarkan kandungan nutrient yang dibutuhkan oleh ikan.

1.2 Tujuan Praktikum


Tujuan dari praktikum ini yaitu :
1.

Untuk mengetahui cara persiapan bahan baku.

2.

Untuk mengetahui cara pengujian proksimat.

3.

Untuk mengetahui tehnik pembutan pakan.

4.

Untuk mengetahui teknik pengujian mutu pakan secara teknis.

5.

Untuk mengetahui teknik pengujian pakan melalui percobaan.

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bahan baku pakan


Berdasarkan sumber bahan baku ikan dibagi menjadi 2 yaitu Bahan hewani adalah
sumbar pakan yang berasal dari hewan. Bahan nabati adalah sumber pakan yang berasal dari
tumbuhan. Kebanyakan sumber pakan yang berasal dari bahan nabati mengandung banayak
karbohidrat sedangkan kandungan proteinnya rendah. Contoh dari pakan yang bersumber
nabati adalah sebagai berikut : Tepung trigu, tepung tapioka, tepung jagung, tepung kedelai,

tepung sagu, tepung beras, dll. (Apriyantono. 2008) Sedangkan pada pakan yang bersumber
dari hewani contohnya antara lain :Tepung darah, tepung ikan, tepung ikan rucah, tepung
tulang, tepung kepala udang, tepung rebon dll (Wurganto,S. 2000)

2.2 Air, Lemak dan Abu


2.2.1 Air
Yang dimaksud air dalam analisis proksimat adalah semua cairan yang menguap pada
pemanasan dalam beberapa waktu pada suhu 1050-1100C dengan tekanan udara bebas
sampai sisa yang tidak menguap mempunyai bobot tetap. Penentuan kandungan kadar air dari
suatu bahan sebetulnya bertujuan untuk menentukan kadar bahan kering dari bahan tersebut
(Kamal, 1998).
Sampel makanan ditimbang dan diletakkan dalam cawan khusus dan dipanaskan
dalam oven dengan suhu 1050C. Pemanasan berjalan hingga sampel tidak turun lagi
beratnya. Setelah pemanasan tersebut sampel bahan pakan disebut sebagai sampel bahan
kering dan penggunaanya dengan sampel disebut kadar air (Tillman et al., 1998).

2.2.2 Lemak
Menurut Crayonpedia (2011), pengukuran kadar lemak pakan ikan atau bahan baku
yang akan digunakan untuk membuat pakan ikan dapat dilakukan dengan menggunakan
metode Soxhlet dan metode Weibull. Metode soxlet digunakan jika bahan baku pakan atau
pakan ikan mengandung kadar lemak yang relatif tidak terlalu banyak, dan jika kadar lemak
dalam bahan pakan atau pakan ikan cukup banyak maka bahan pakan dan pakan itu harus
dilakukan hidrolisis terlebih dahulu dan metode yang digunakan adalah metode Weibull.

2.2.3 Abu

Dalam banyak referensi mengenai makanan ternak, jarang sekali abu atau bahan
organik dibahas secara mendalam. Komponen abu pada analisis proksimat tidak memberikan
nilai makanan yang penting karena abu tidak mengalami pembakaran sehingga tidak
menghasilkan energi. Jumlah abu dalam bahan pakan hanya penting untuk menentukan
perhitungan bahan ekstrak tanpa nitrogen. Meskipun abu teridri dari komponen mineral,
namun bervariasinya kombinasi unsur mineral dalam bahan pakan asal tanaman
menyebabkan abu tidak dapat dipakai sebagai indeks untuk menentukan jumlah unsur
mineral tertentu. Kadar abu suatu bahan pakan ditentukan dengan pembakaran bahan tersebut
pada suhu tinggi (500600 oC). Pada suhu tinggi bahan organik yang ada akan terbakar dan
sisanya merupakan abu (Suparjo, 2008).
Menurut Darsudi (2008), penentuan kadar abu (metode pengabuan pada tanur). Alat
yang dipergunakan dalam kegiatan ini dalah: tanur pengabuan, cawan porselen, nampan
stainless, timbangan analitik, desikator dan lain lain.

2.3 Pembuatan pakan


Pembuatan pakan ikan tidak mutlak harus disusun sesuai dengan ketentuan hasil
perhitungan, tetapi komponen-komponennya tidak boleh menyimpang. Misalnya, jumlah
dedak halus dapat dikurangi tetapi sebagai penggantinya ditambahkan tepung jagung. Setelah
semua bahan ditentukan, langkah berikutnya adalah menimbang bahan-bahan tersebut.
Bahan-bahan yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam wadah dan diaduk sampai rata
kemudian tambahkan air secukupnya. Dikukus dalam panci alumunium sampai matang,
kemudian dicetak dan dijemur (Djajasewaka, 1985).

2.4 Pengujian pakan


2.4.1 Uji fisik
Uji coba pakan secara fisik bertujuan untuk mengetahui stabilitas pellet di dalam air
(Water Stability Feed) yaitu daya tahan pakan buatan di dalam air. Selain itu uji fisik dapat
dilakukan dengan melihat kehalusan dan kekerasan bahan baku pakan yang akan sangat
berpengaruh terhadap kekompakan pakan di dalam air. Hal ini dapat dideteksi dengan daya

tahan pakan buatan di dalam air. Dengan mengetahui daya tahan pakan buatan di dalam air
akan sangat membantu para praktisi perikanan dalam memberikan pakan, berapa lama waktu
yang dibutuhkan oleh ikan untuk mengejar pakan dikaitkan dengan lama waktu pakan itu
bertahan di dalam air sebelum dimakan oleh ikan (Handajani, 2010).

2.4.2 Uji kimia


Uji secara kimia bertujuan untuk mengetahui kandungan gizi pada pakan buatan yang
telah dibuat pakan sesuai dengan formulasi pakan yang disusun. Uji coba ini sangat berguna
bagi konsumen dan juga sebagai pengawasan mutu pakan yang diproduksi. Uji pakan secara
kimia meliputi : uji kadar air, uji kadar protein, uji kadar lemak, kadar Serat kasar, dan kadar
abu (Gusrina, 2008).

2.4.3 Uji biologi


Uji coba pakan secara biologis dilakukan untuk mengetahui beberapa parameter
biologis yang sangat diperlukan untuk menilai apakah pakan ikan yang dibuat dapat
memberikan dampak terhadap ikan yang mengkonsumsinya (Gusrina, 2008).

III Metode Praktikum

3.1 Waktu dan tempat

Praktikum Nutrisi dan teknik makanan ikan ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal
15 November 2013 dengan acara persiapan bahan baku, hari Jumat tanggal 15 November
2013 acara uji proksimat, hari Sabtu tanggal 16 November 2013 acara pembuatan pakan, dan
hari Rabu tanggal 20 November 2013 acara pengujian mutu pakan, yang semuanya dilakukan
di Laboratorium Perikanan Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram.

3.2 Alat dan bahan


Tabel 1. Alat-alat praktikum.
No

Alat-Alat

Fungsi

.
1.

Panci

Untuk mengukus bahan baku

2.

Kompor

Untuk merebus bahan baku

3.

Mesin penggiling

Untuk menghaluskan bahan baku

4.

Timbangan

Sebagai alat timbang

5.

Wadah

Sebagai tempat menaruh bahan yang sudah di


rebus

6.

Cawan porselen

Tempat menaruh sampel

7.

Oven

Tempat pemanasan dan pengeringan sampel

8.

Tanur

Sebagai alat pembakar elektrik, diset pada suhu


600 oC

9.

Penjepit

Sebagai

alat

penjepit

sampel

pada

saat

pengangkatan sampel
10.

Desikator

Sebagai tempat pendinginan sampel

11.

Labu ekstraksi

Menganalisa kadar lemak

12.

Soxhlet extractor

Untuk mengukur kadar air

13.

Baskom

Tempat pakan yang di olah

14.

Mesin pencetak pellet

untuk mencetak pellet

15.

Akuarium dan ember Sebagai tempat pengamatan kelayakan suatu


kecil

pakan

16.

Stopwatch

Pengatur lama waktu pengamatan

17.

Saringan, tali rapia, Untuk membuat uji coba anco.


dan batu

18.

Aluminium foil

Pengganti cawan porselen

19.

Kantong saring/kain

Menyaring serbuk ikan saat uji lemak

20.

Gelas ukur

Untuk mengukur jumlah air

Tabel 2. Bahan-bahan praktikum


No

Bahan-Bahan

Fungsi

.
1.

Ikan runcah

Bahan baku

2.

Kedelai

Bahan baku

3.

Dedak

Bahan baku

4.

Jagung

Bahan baku

5.

Air

Media percobaan

6.

N-hexan

Bahan pelarut

7.

Vitamin mix

Pelengkap bahan baku

8.

Minyak ikan

Tambahan bahan pakan

9.

Tepung tapioca

Perekat pakan

3.3. Prosedur Praktikum


3.3.1. Penyiapan Bahan Baku

1. Pembuatan Tepung Ikan


a.

Ikan kecil dibersihkan dari kotoran yang akan dibuat tepung.

b.

Ikan dikukus selama 25 menit dan dibiarkan.

c.

Ikan yang telah matang dimasukkan dalam alat pengepres diperas untuk mengeluarkan air
dan minyak.

d.

Ampas yang telah tersisa dalam saringan kemudian dikeringkan hingga kadar air sekitar 8%
( 3 hari), selama pengeringan diadakan pengadukan agar pengeringan dapat merata.

e.

Ikan yang sudah kering kemudian ditepungkan.

1.

Pembuatan Tepung Kedelai

a.

Kedelai dibersihkan dan direndam selama 30 menit.

b.

Kedelai dikukus selama 30 menit.

c.

Kedelai ditiriskan kemudian diperas untuk dihilangkan airnya.

d.

Kedelai dikeringkan.

e.

Kedelai yang telah kering kemudian ditepungkan.

2.

Pembuatan Tepung Jagung

a.

Jagung yang digunakan sudah dikeringkan

b.

Jadi bisa dilakukan lansung penepungan.

3.3.2. Analisa Proksimat


1. Analisa Proksimat : Kadar Air
a.

Kertas aluminium foil dioven pada suhu (110 0C) selama 1 jam lalu ditimbang, pemindahan
jangan menggunakan tangan tapi menggunakan penjepit.

b.

Bahan/sampel dimasukkan ke dalam kertas aluminium sebanyak kurang lebih 1 gram

c.

Kemudian dimasukkan ke dalam oven 110 0C selama 1 jam

d.

Setelah itu, segera dipindahkan ke desikator untuk didinginkan selama 5 menit.

e.

Setelah dingin, kertas aluminium diangkat dari desikator lalu ditimbang dan hasil beratnya
dicatat.

f.

Setelah selesai penimbangan, lalu dimasukkan ke dalam oven lagi selama 1 jam dan
prosedur sebelumnya diulangi lagi sampai menghasilkan pengeringan yang maksimal, dan
dalam mengangkat kertas aluminium harus menggunakan penjepit agar bahan tidak
terkontaminasi.

g.

Terakhir, setiap kali penimbangan hasilnya di catat.

2. Analisa Proksimat : Kadar Lemak


a.

Ikan ditimbang 3,0513 gr

b.

Labu dioven selama 30 menit pada suhu 110oC, selanjutnya didiamkan di dalam desikator
selama 5 menit

c.

Sampel dimasukkan dan dibungkus ke dalam soxhlet

d.

Ditambahkan N-hexan hingga batas atas selonsong

e.

Dipanaskan bagian bawah labu dengan hotplate 2 jam 18 menit

f.

Setelah cairan N-hexan telah dijernihkan, N-hexan dituang/dikeluarkan dan disisakan


beberapa ml (sedikit)

g.

Dipanaskan kembali untuk mendapatkan lemak ikan hingga berwarna coklat pekat

h.

Dioven selama 30 menit

i.

Didinginkan dalam desikator selama 10 menit

j.

Ditimbang berat akhir

3. Analisa Proksimat : Kadar Abu

a.

Dipanaskan cawan pada oven selama 1 jam pada suhu 1100C

b.

Didinginkan dalam desikator selama 5, setelah dingin ditimbang cawan tersebut dan dicatat
beratnya.

c.

Dimasukkan bahan/sampel dengan berat 1 gram kedalam cawan porselen.

d.

Bahan yang berisi cawan tadi dipanaskan dalam tanur pada suhu 6000C hingga mencapai
berat konstan.

e.

Dinginkan cawan dalam desikator selama 5 menit, setelah dingin timbang cawan tersebut
dan catat beratnya.

f.

Digunakan penjepit dalam mengangkat cawan.

3.3.3. Pembuatan Pakan


a.

Ditentukan kadar lemak, kadar air dan kadar abu dari setiap bahan baku.

b.

Dilakukan perhitungan matematis untuk menentukan jumlah setiap bahan baku agar pakan
yang terbentuk mencapai kadar nutrisi tertentu.

c.

Masing-masing bahan baku ditimbang dengan berat yang digunakan yaitu g/2 kg pakan.

d.

Dicampur bahan yang memiliki jumlah paling sedikit dan diaduk sampai rata, dan
dicampurkan bahan yang lainnya hingga merata.

e.

Dimasukkan air sebanyak 900 ml/kg pakan.

f.

Pada saat pakan mau dicetak terlebih dahulu ditambahkan air lagi sebanyak 400 ml.

g.

Dimasukkan adonan kedalam mesin pencetak pellet.

h.

Pellet dikeringkan selama 3 hari.

3.3.4. Pengujian Mutu Pakan Secara Tekhnis


1. Pengamatan dengan indera penglihatan
a.

Diambil pakan sebanyak 100 gram secara acak dari wadah pakan kemudian disebarkan di
atas kertas putih.

b.

Pakan tersebut diamati dengan seksama kemudian dicatat hasilnya.

2. Pengujian dengan indera penciuman


a.

Diambil sejumlah pakan dan didekatkan pakan tersebut ke hidung dan dicatat hasilnya.

3. Pengujian dengan indera pengecap


a.

Diambil sedikit pakan dan kemudian diletakkan di lidah untuk dikecap dan di rasa.

b.

Dicatat rasa pakan tersebut dan dicatat hasilnya pada lembar kerja.

4. Pengujian daya apung dan laju tenggelam pakan


a.

Ditaruh beberapa pakan di atas permukaan air dan dilepaskan.

b.

Dibiarkan pakan hingga akhirnya jatuh ke dasar. Dicatat lama waktu pakan mengapung.

c.

Dihitung rata-rata lama waktu mengapung setiap butir pakan.

d.

Dicatat juga lama waktu pakan mulai pada saat tenggelam hingga mencapai dasar.

5.

Pengujian daya tahan pakan dalam air

a.

Dimasukkan 1 butir pakan dalam ember yang berisi air. Diaktifkan stopwatch sejak
pertama kali pakan menyentuh air.

b.

Setiap 30 detik, diguncangkan gelas ukur dengan lembut beberapa kali.

c.

Catat pada menit keberapa pakan tersebut akan hancur.

d.

Ulangi beberapa kali dan hitunglah rata-ratanya.


6. Pengujian dengan anco

a.

Pakan dimasukkan dalam kolam yang berisi air dan ikan yang telah dipuasakan selama 1
hari.

b.
c.

Diberikan 2 jenis pakan sebanyak 20 gram untuk 2 unit anco


Diperhatikan pakan jenis mana yang paling cepat habis, dan dicatat lama waktu pakan
habis.

3.3.5. Pengujian Pakan Melalui Percobaan


a.

Pada pengujian pakan melalui percobaan, kegiatan pengujian ini dilakukan melalu
tanya jawab atau wawancara.

b.

Pada pengujian pakan ini menggunakan data simulasi.

IV Hasil dan Pembahasan

4.1. Hasil Praktikum

4.1.1. Hasil acara I ( penyiapan bahan baku) kelompok 2


a. Tabel data berat bahan baku yang digunakan
No
.

Bahan baku

Berat (kg)

1.

Ikan runcah

4 kg

2.

Kedelai

1 kg

3.

Jagung

1 kg

4.

Dedak

2 kg

4.1.2. Hasil Acara II analisa proksimat (data pengukuran kadar air, kadar abu, dan kadar
lemak)
a. Tabel data pengukuran kadar air kelompok 2
N
o

Berat
cawa
n
awal
(g)

0,239 0,820
0

Berat
samp
el (g)

0,274 0,756
5

Berat
cawa
n
akhir
I (g)

Berat
cawa
n
akhir
II (g)

Berat
cawa
n
akhir
III
(g)

Perhit
ungan
(%
kadar
air)

Perhit
ungan
(%
kadar
air)

Perhit
ungan
(%
kadar
air)

II

III

1,022 1,020 1,025 4,557


6
2
2
5

4,801
3

4,155
4

0,996 0,994 0,999 4,612


7
2
8
1

4,797
7

4,229
4

v Analisis data pengukuran kadar air


Kadar air (%) = B (C-A)X 100%
B

Keterangan = A = Berat cawan awal (g)


B = Berat sampel (g)
C = Berat cawan akhir (g)

Hitungan = a. Kadar air (%) I = B (C-A)X 100%


B

= 0,8206 (1,0222-0,2390) X 100%


0,8206
= 0,8206 0,7832 X 100%
0,8206

= 4,5576 %

Kadar air (%) II = B (C-A)X 100%


B

= 0,8206 (1,0202-0,2390) X 100%


0,8206
= 0,8206 0,7812 X 100%
0,8206

= 4,8013 %

Kadar air (%) III = B (C-A)X 100%


B

= 0,8206 (1,0255-0,2390) X 100%


0,8206
= 0,8206 0,7865 X 100%
0,8206

= 4,1554 %

b. Kadar air (%) I = B (C-A)X 100%


B

= 0,7566 (0,9962-0,2745) X 100%


0,7566
= 0,7566 0,7217 X 100%
0,7566

= 4,6127 %
Kadar air (%) II = B (C-A)X 100%
B

= 0,7566 (0,9948-0,2745) X 100%


0,7566
= 0,7566 0,7203 X 100%
0,7566

= 4,7977 %
Kadar air (%) III = B (C-A)X 100%
B

= 0,7566 (0,9991-0,2745) X 100%


0,7566
= 0,7566 0,7246 X 100%
0,7566

= 4,2294 %

b. Tabel data pengukuran kadar abu kelompok 2


No.

1.

Berat
cawan
awal (g)

Berat
sampel
(g)

11,3361

0,9317

Berat cawan
akhir (g)

Perhitungan
(% kadar
abu)

11,4334

v Analisis data kadar abu


% Kadar abu = (C - A) X100%
B
Keterangan = A = Berat cawan awal (g)
B = Berat sampel (g)
C = Berat cawan akhir (g)

10,4432

Hitungan

= % Kadar abu = (C - A) X100%


B

= (11,4334 - 11,3361)X100%
0,9317

= 10,4432%

c. Tabel data pengukuran kadar lemak kelompok 2


No.

1.

Berat
sampel
(g)
3,0513

Berat
labu
awal (g)

Berat labu akhir


(g)

188,12

189,21

v Analisis data % kadar lemak


% kadar lemak = X2 X1x100%
A

Keterangan = A = Berat sampel (g)


X1 = Berat labu awal (g)
X2 = Berat labu akhir (g)
Hitungan = % kadar lemak = X2 X1x100%

Perhitungan
(% kadar
lemak)
35,72

A
= 189,21 - 188,12X100%
3,0513
= 35,72%

4.1.3. Hasil Acara III (data pembuatan pakan) dalam 2 kg pakan


a. Tabel berat bahan baku yang digunakan
No.

Bahan baku yang


digunakan

Beratbahan baku yang


digunakan (g/kg pakan)

Berattotal bahan
baku (g)

1.

Vitamin mix

15

30

2.

Minyak ikan

15

30

3.

Dedak

220

440

4.

Tepung ikan

320

640

5.

Tepung kedelai

380

760

6.

Tepung tapioca

50

100

7.

Air

65 ml/kg pakan

130

4.1.4. Hasil Acara IV (data pengujian pakan secara teknis)


a. Tabel hasil pengamatan dengan indera penglihatan
No
.
1.

Uraian
Ada tidaknya benda lain dalam
pakan

Hasil pengamatan
Tidak ada benda lain dalam pakan

2.

Tingkat kehalusan permukaan


butiran pakan

Permukaan kurang halus

3.

Warna pakan

Warna merata

4.

Morfologi pakan

Pakan memiliki lubang di permukaannya

b. Tabel hasil pengujian dengan indera penciuman


No
.

Uraian

Hasil pengamatan

1.

Aroma

Memiliki aroma khas yang kuat

2.

Bau tengik

Tidak ada bau tengik

c. Tabel hasil pengujian dengan indera pengecapan


No
.

Uraian

Hasil pengamatan

1.

Rasa

Terasa gatal di lidah setelah di buang

2.

Butiran pakan

Terasa ada seperti pasirnya

d. Tabel hasil pengujian dengan indera anco


No
.
1.

Uraian

Hasil pengamatan

Pakan yang lebih cepat habis

e. Tabel hasil pengujian dengan daya tahan pakan air


Uraian

Hasil Pengamatan Percobaan (menit)

1
1.

Partikel pakan
mulai terlepas

2.

Pakan sudah mulai


hancur

3.

Pakan sudah tidak


berbentuk

f.

Ratarata

Tabel hasil pengujian daya apung pakan dan kecepatan tenggelam


No. Uraian

1.

Hasil pengamatan percobaan


1

Rata-rata

1:50

03:31

1:09

04:38

2,7675

13:87

10:75

8:92

12:19

11,4325

Lama waktu
mengapung
(detik)

2.

Kecepatan
tenggelam
(cm/menit)

Tingkat konversi pakan x 100


= x 100
= x 100
= 0,8 x 100
= 80

Berat rata-rata awal ikan Nila = 10 g


Berat akhir rata-rata ikan = 30 g
Jumlah konsumsi pakan rata-rata = 25
Waktu pemeliharaan = 30 hari
Tidak ada ikan yang mati selama pemeliharaan

4.2. Pembahasan
Acara I persiapan bahan baku
Persiapan bahan baku merupakan langkah awal dalam membuat pakan. Bahan
baku yang digunakan dalam prakikan ini yaitu ikan rucah seberat 4kg, jagung 1kg, kedelai
1kg dan dedak 2kg. Dari semua bahan baku yang dipakai dalam praktikum ini bukan
merupakan makanan pokok manusia, sehingga ketersediaannya cukup baik untuk jangka
panjang. Penggunaan bahan baku ikan untuk pembuatan pakan disebabkan nutrien dari
ikan sangat baik untuk ikan itu sendiri, sedangkan bahan baku kedelai, jagung dan dedak
merupakan bahan baku yang tinggi protein dan lemak agar mampu berkonsentrasi pada
pertumbuhan ikan. Pertimbangan lain dalam memilih bahan baku tersebut dikarenakan
faktor harga yang relatif murah.

Acara II uji proksimat


Dalam uji proksimat ada tiga unsur yang diukur dalam acara ini, yaitu mengukur
kadar air, kadar abu dan kadar lemak.
a.

Pengukuran kadar air


Berdasarkan hasil pengamatan mengukur kadar air, ada 3 sampel dengan 2 kali
ulangan dengan jarak satu jam perubahan kadar air dan hasilnya pun berubah ubah tiap
kali ulangan. Pengukuran kadar air dari bahan baku bertujauan agar dapat mengetahui

kandungan nutrient dari bahan baku bersih. Perhitungan kadar air menggunakan rumus .
Dari hasil perhitungan itu terdapat hasil rata-rata 4.5256 %, dengan begitu untuk menguji
kandungan nutrient bersih dari bahan baku dapat ditentukan dengan dikurangi jumlah
kadar air tersebut.

b.

Pengukuran kadar abu


Pengukuran kadar abu dilakukan dengan motode perhitungan menggunanakan
rumus . Berdasarkan hasil pengamatan analisis kadar abu yaitu 10.4432 %

dengan

menggunakan satu sampel dalam suhu 600C. Kadar abu yang diperoleh dari pengamatan
tersebut merupakan hasil akurat yang diperoleh dari analisis kadar abu karena
menggunakan suhu 600C yang sesuai dengan teori yang dituliskan oleh suparjo, 2008
pada jurnal yang berjudul analisis secara kimiawi. Namun untuk menentukan bahwa itu
jumlah kadar abu yang ditoleransi pada pakan belum terdapat standar kadar abu tertentu
pada jurnal yang diambil untuk tinjauan pustaka pada laporan ini, hanya saja disebutkan
kadar abu terdiri dari komponen mineral akan tetapi tidak dipakai sebagai indeks untuk
menentukan kandungan mineral suatu pakan.

c.

Pengukuran kadar lemak


Analisis kadar lemak dilakukan agar dapat mengetahui jumlah kadar lemak serta
menentukan jumlah kadar lemak yang ingin diformulasikan terhadap pakan yang akan
dibuat. Pengujian kadar lemak yang dilakukan dalam praktikum ini menggunakan sampel
ikan seberat 3.0513 g yang dipanaskan pada suhu 110C selama 2 jam 18 menit yang
dikonsentrasikan dengan cairan N-hexan yang telah dijernihkan. Perhitungan kadar lemak
menggunakan rumus , sehingga terdapat hasil 35.72 % untuk kadar lemak dalam bahan
baku. Hasil kadar lemak tersebut tergolong kadar lemak yang lumayan tinggi untuk
dikonsumsi oleh ikan karena mendekati jumlah protein dari bahan bahan baku tersebut.
Kandungan lemak bagi ikan digunakan sebagai sumber energi dan pertumbuhan cadangan
setelah protein, akan tetapi lemak difokuskan untuk sumber energi dan protein sebagai
pertumbuhannya.

V KESIMPULAN

Dari hasil dan pembahasan terdapat beberapa kesimpulan yang dapat diambil antara lain :
1.

Penentuan bahan baku merupakan faktor terpenting dalam pembuatan pakan agar
mengandung nutrient tinggi.

2.

Dalam memilih bahan baku, diupayakan bukan merupakan makanan poko manusia agar
tidak menjadi daya saing dalam ketersediaan bahan serta mengupayakan harga bahan yang
relative murah.

3.

Dalam pembuatan pakan harus memakai berat kering, karena kadar air yang terkandung
dalam bahan ataupun pakan bukan merupakan nutrient untuk ikan.

4.

Warna pakan setelah dicetak harus merata, sebab apabila warna pakan itu tidak merata
maka pasti terdapat beberapa benda asing yang bukan dari bahan baku tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Effendi, 2007 Dasar dasarAkuakultur. Penebar Swadaya Jakarta.