Anda di halaman 1dari 75

1

2. Proses Terjadinya Kehamilan


Untuk terjadi suatu kehamilan harus

ada

spermatozoa, ovum,

pembuahan ovum (konsepsi), dan nidasi (implantasi) hasil konsepsi. Ovum


yang dilepas oleh ovarium disapu oleh mikrofilamen-mikrofilamen fimbria
infundibulum tuba kearah ostium tuba abdominalis, dan disalurkan terus
kearah medial. Kemudian jutaan spermatozoa ditumpahkan diforniks vagina
dan disekitar porsio pada waktu koitus. Hanya beberapa ratus ribu
spermatozoa dapat terus ke kavum uteri dan tuba, dan hanya beberapa ratus
spermatozoa dapat sampai ke bagian ampula tuba dimana spermatozoa dapat
memasuki ovum yang telah siap untuk dibuahi, dan hanya satu spermatozoa
yang

mempunyai

kemampuan

(kapasitasi)

untuk

membuahi.

Pada

spermatozoa ditemukan peningkatan konsentrasi DNA di nukleusnya, dan


kaputnya lebih mudah menembus dinding ovum oleh karena diduga dapat
melepaskan hialuronidase. (Prawirohardjo, 2009).
Fertilisasi (pembuahan) adalah penyatuan ovum (oosit

sekunder)

dan

spermatozoa yang biasanya berlangsung diampula tuba. Fertilisasi meliputi


penetrasi spermatozoa ke dalam ovum, fusi spermatozoa dan ovum, diakhiri
dengan fusi materi genetik. Hanya satu spermatozoa yang telah mengalami
proses kapasitasi mampu melakukan penetrasi membran sel ovum. Untuk
mencapai ovum, sperma harus melewati korona radiata (lapisan sel diluar
ovum) dan zona pelusida (suatu bentuk glikoprotein ekstraselular), yaitu
lapisan yang menutupi dan mencegah ovum mengalami fertilisasi lebih dari
satu spermatozoa. Spermatozoa yang telah masuk ke vitelus kehilangan

membran nukleusnya, yang tinggal hanya pronukleusnya, sedangkan ekor


spermatozoa dan mitokondrianya berdegenerasi. Itulah sebabnya seluruh
mitokondria pada manusia berasal dari ibu (maternal). Masuknya
spermatozoa kedalam vitelus membangkitkan nukleus ovum yang masih
dalam metafase untuk proses pembelahan selanjutnya (pembelahan mieosis
kedua) sesudah anafase kemudian timbul telofase dan benda kutub (polar
body) kedua menuju ruang perivitelina. Ovum sekarang hanya mempunyai
pronukleus yang haploid. Pronukleus spermatozoa juga telah mengandung
jumlah kromosom yang haploid (Sarwono, 2009).
Kedua pronukleus saling mendekati dan bersatu membentuk zigot yang
terdiri atas bahan genetik dari perempuan dan laki-laki. Pada manusia
terdapat 46 kromosom, ialah 44 kromosom otosom dan 2

kromosom

kelamin; pada seorang laki-laki satu X dan satu Y. sesudah pembelahan


kematangan, maka ovum matang mempunyai 22 kromosom otosom serta
1 kromosom X. Zigot sebagai hasil pembuahan yang

memiliki 44

kromosom otosom serta 2 kromosom X akan tumbuh sebagai janin


perempuan, sedangkan yang memiliki 44 kromosom otosom serta 1
kromosom X dan 1 kromosom Y akan tumbuh sebagai janin laki-laki. Dalam
beberapa

jam setelah pembuahan terjadi, mulailah pembelahan zigot.

Hal ini dapat berlangsung oleh karena sitoplasma ovum mengandung banyak
zat asam amino dan enzim. Segera setelah pembelahan ini terjadi,
pembelahan-pembelahan selanjutnya berjalan dengan lancar, dan selama tiga
hari terbentuk

suatu kelompok sel yang sama besarnya. Hasil konsepsi

berada dalam stadium morula. Energi untuk pembelahan ini diperoleh dari

vitelus, sehingga volume vitelus makin berkurang dan terisi seluruhnya oleh
morula. Dengan demikian, zona pelisida tetap utuh, atau dengan kata lain,
besarnya hasil konsepsi tetap

utuh. Dalam ukuran yang sama ini hasil

konsepsi disalurkan terus ke pars ismika dan pars interstisial tuba (bagianbagian tuba yang sempit) dan terus disalurkan kearah kavum uteri oleh arus
serta getaran silia pada permukaan sel-sel tuba dan kontraksi tuba.
Selanjutnya pada hari keempat hasil konsepsi mencapai stadium blastula yang
disebut blastokista, suatu bentuk yang dibagian luarnya adalah trofoblas dan
dibagian dalamnya disebut massa inner cell ini berkembang menjadi janin
dan trofoblas akan berkembang menjadi plasenta.Dengan demikian,
blastokista diselubungi oleh suatu simpai yang disebut trofoblas. Trofoblas ini
sangat kritis untuk keberhasilan kehamilan terkait dengan
nidasi

keberhasilan

(implantasi), produksi hormon kehamilan, proteksi imunitas bagi

janin, peningkatan aliran darah maternal ke dalam plasenta, dan kelahiran


bayi. Sejak tropoblas terbentuk, produksi hormon human chorionic
gonadotropin (hCG)

dimulai, suatu hormon yang memastikan bahwa

endometrium akan menerima (resesif) dalam proses implantasi embrio


(Prawirohardjo, 2009).
3. Perubahan Fisiologi Kehamilan Trimester III
a. Uterus
Pada akhir kehamilan (40 minggu) berat uterus menjadi 1000 gram (berat
uterus normal 30 gram) dengan panjang 20 cm dan dinding 2,5 cm. Pada
bulan-bulan pertama kehamilan bentuk uterus seperti buah alpukat agak
gepeng. Pada kehamilan 16 minggu, uterus berbentuk bulat. Selanjutnya
pada akhir kehamilan kembali seperti bentuk semula, lonjong seperti telur.

Hubungan antara besarnya uterus dengan tuanya kehamilan sangat penting


diketahui antara lain untuk membentuk diagnosis, apakah wanita tersebut
hamil fisiologik, hamil ganda atau menderita penyakit seperti mola
hidatidosa dan sebagainya.
Pada kehamilan 28 minggu, fundus uteri terletak kira-kira 3 jari diatas
pusat atau 1/3 jarak antara pusat ke prosssus xipoideus. Pada kehamilan 32
minggu, fundus uteri terletak antara

jarak pusat dan prossesus

xipoideus. Pada kehamilan 36 minggu, fundus uteri terletak kira-kira 1 jari


dibawah prossesus xipoideus. Bila pertumbuhanjanin normal, maka tinggi
fundus uteri pada kehamilan 28 minggu adalah 25 cm, pada 32 minggu
adalah 27 cm dan pada 36 minggu adalah 30 cm. Pada kehamilan 40
minggu, fundus uteri turun kembali dan terletak kira-kira 3 jari dibawah
prossesus xipoideus. Hal ini disebabkan oleh kepala janin yang pada
primigravida turun dan masuk kedalam rongga panggul.
b. Serviks Uteri
Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena hormon
estrogen. Akibat kadar estrogen yang meningkat dan dengan adanya
hipervaskularisasi, maka konsistensi serviks menjadi lunak. Serviks uteri
lebih banyak mengandung jaringan ikat yang terdiri atas kolagen. Karena
servik terdiri atas jaringan ikat dan hanya sedikit mengandung jaringan
otot, maka serviks tidak mempunyai fungsi sebagai spinkter, sehingga
pada saat partus serviks akan membuka saja mengikuti tarikan-tarikan
corpus uteri keatas dan tekanan bagian bawah janin kebawah.
Sesudah partus, serviks akan tampak berlipat-lipat dan tidak menutup
seperti spinkter. Perubahan-perubahan pada serviks perlu diketahui sedini
mungkin pada kehamilan, akan tetapi yang memeriksa hendaknya berhati-

hati dan tidak dibenarkan melakukannya dengan kasar, sehingga dapat


mengganggu kehamilan.Kelenjar-kelenjar di serviks akan berfungsi lebih
dan akan mengeluarkan sekresi lebih banyak. Kadang-kadang wanita yang
sedang hamil mengeluh mengeluarkan cairan pervaginam lebih banyak.
Pada keadaan ini sampai batas tertentu masih merupakan keadaan
fisiologik,

karena

peningakatan

hormon

progesteron.

Selain

itu

prostaglandin bekerja pada serabut kolagen, terutama pada mingguminggu akhir kehamilan. Serviks menjadi lunak dan lebih mudah
berdilatasi pada waktu persalinan.
c. Vagina Dan Vulva
Vagina dan vulva akibat hormon estrogen juga mengalami perubahan.
Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vula tampak lebih
merah dan agak kebiru-biruan (livide). Warna porsio tampak livide.
Pembuluh-pembuluh darah alat genetalia interna akan membesar. Hal ini
dapat dimengerti karena oksigenasi dan nutrisi pada alat-alat genetalia
tersebut meningkat. Apabila terjadi kecelakaan pada kehamilan atau
persalinan maka perdarahan akan banyak

sekali, sampai dapat

mengakibatkan kematian. Pada bulan terakhir kehamilan, cairan vagina


mulai meningkat dan lebih kental.
d. Mammae
Pada kehamilan 12 minggu keatas, dari puting susu dapat keluar cairan
berwarna putih agak jernih disebut kolostrum. Kolostrum ini berasal dari
kelenjar-kelenjar asinus yang mulai bersekresi.
e. Sirkulasi Darah
Volume darah akan bertambah banyak 25% pada puncak usia kehamilan
32 minggu. Meskipun ada peningkatan dalam volume eritrosit secara
keseluruhan, tetapi penambahan volume plasma jauh lebih besar sehingga

konsentrasi hemoglobin dalam darah menjadi lebih rendah. Walaupun


kadar hemoglobin ini menurun menjadi 120 g/L. Pada minggu ke-32,
wanita hamil mempunyai hemoglobin total lebih besar daripada wanita
yang tidak hamil. Bersamaan itu, jumlah sel darah putih meningkat (
10.500/ml), demikian juga hitung trombositnya.
Untuk mengatasi pertambahan volume darah, curah jantung akan
meningkat 30% pada minggu ke-30. Kebanyakan peningkatan curah
jantung tersebut disebabkan oleh meningkatnya isi sekuncup, akan tetapi
frekuensi denyut jantung meningkat 15%. Setelah kehamilan lebih dari
30 minggu, terdapat kecenderungan peningkatan tekanan darah.
Sama halnya dengan pembuluh darah yang lain, vena tungkai juga
mengalami distensi. Vena tungkai terutama terpengaruhi pada kehamilan
lanjut karena terjadi obstruksi aliran balik vena (venous return) akibat
tingginya tekanan darah vena yang kembali dari utrerus dan akibat tekanan
mekanik dari uterus pada vena kava. Keadaan ini menyebabkan varises
pada vena tungkai (dan kadang-kadang pada vena vulva) pada wanita yang
rentan.
Aliran darah melalui kapiler kulit dan membran mukosa meningkat hingga
mencapai maksimum 500 ml/menit pada minggu ke-36. Peningkatan
aliran darah pada kulit disebabkanoleh vasodilatasi ferifer. Hal ini
menerangkan mengapa wanita merasa panas mudah berkeringat, sering
berkeringat banyak dan mengeluh kongesti hidung.
f. Sistem Respirasi
Pernafasan masih diafragmatik selama kehamilan,

tetapi

karena

pergerakan diafragma terbatas setelah minggu ke-30, wanita hamil


bernafas lebih dalam, dengan meningkatkan volume tidal dan kecepatan
ventilasi, sehingga memungkinkan pencampuran gas meningkat dan

konsumsi oksigen meningkat 20%. Diperkirakan efek ini disebabkan oleh


meningkatnya sekresi progesteron. Keadaan tersebut dapat menyebabkan
pernafasan berlebih dan PO2 arteri lebih rendah. Pada kehamilan lanjut,
kerangka iga bawah melebar keluar sedikit dan mungkin tidak kembali
pada keadaan sebelum hamil, sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi
wanita yang memperhatikan penampilan badannya.
g. Traktus Digestivus
Di mulut, gusi menjadi lunak, mungkin terjadi karena retensi cairan
intraseluler yang disebabkan oleh progesteron. Spinkter esopagus bawah
relaksasi, sehingga dapat terjadi reguritasi isi lambung yang menyebabkan
rasa terbakar di dada (heathburn). Sekresi isi lambung berkurang dan
makanan lebih lama berada di lambung. Otot-otot usus relaks dengan
disertai penurunan motilitas. Hal ini memungkinkan absorbsi zat nutrisi
lebih banyak, tetapi dapat menyebabkan konstipasi, yang merupakan salah
satu keluhan utama wanita hamil.
h. Traktus Urinarius
Pada akhir kehamilan, kepala janin mulai turun ke PAP, keluhan sering
berkemih timbul karena kandung kemih mulai tertekan. Disamping itu,
terdapat pula poliuri. Poliuri disebabkan oleh adanya peningkatan sirkulasi
darah di ginjal pada kehamilan sehingga laju filtrasi glomerulus juga
meningkat sampai 69%. Reabsorbsi tubulus tidak berubah, sehingga
produk-produk eksresi seperti urea, uric acid, glukosa, asam amino, asam
folik lebih banyak yang dikeluarkan.
i. Sistem Imun
HCG dapat menurunkan respon imun wanita hamil. Selain itu kadar IgG,
IgA dan Ig M serum menurun mulai dari minggu ke-10 kehamilan hingga
mencapai kadar terendah pada minggu ke-30 dan tetap berada pada kadar

ini, hingga aterm.


j. Kulit
Pada kulit terdapat deposit pigmen dan hiperpigmentasi alat-alat tertentu.
Pigmentasi ini disebabkan oleh pengaruh melanophone stimulating
hormone (MSH) yang meningkat. MSH ini merupakan salah satu hormon
yang juga dikeluarkan oleh lobus anterior hipofisis. Kadang-kadang
terdapat deposit pigmen dahi, pipi, dan hidung, yang dikenal sebagai
kloasma gravidarum.
1. Perubahan Psikologi Pada Trimester III
Trimester III sering disebut sebagai periode penantian, yang mana pada
trimester ketiga ini wanita menanti kehadiran bayinya sebagai bagian dari
dirinya, dia menjadi tidak sabar untuk segera melihat bayinya, dan ada
perasaan yang tidak menyenangkan ketika bayinya tidak lahir tepat waktu.
Trimester III adalah waktu untuk mempersiapkan kelahiran dan
kedudukan sebagai orang tua, dan ini dapat menimbulkan perasaan
khawatir.
Pada trimester III dapat timbul perasaan kekhawatiran terhadap
bayinya, khawatir bayinya mengalami ketidak normalan (kecacatan). Akan
tetapi kesibukan dalam mempersiapkan kelahiran bayinya dapat
mengurangi kekhawatirannya.
Hasrat seksual tidak seperti pada trimester kedua hal ini dipengaruhi
oleh perubahan bentuk perut yang semakin membesar dan adanya perasaan
khawatir terjadi sesuatu terhadap bayinya.
Wanita akan kembali merasakan ketidaknyamanan fisik yang semakin
kuat menjelang akhir kehamilan. Ia akan merasa canggung, jelek,
berantakan, dan memerlukan dukungan dari pasangannya yang sangat
besar. (Varney, 2007)
2. Pemeriksaan dan Pemeriksaan Ibu Hamil
a)

Antenatal Care

Asuhan antenatal adalah pengawasan sebelum persalinan


terutama ditunjukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin
dalam rahim. (Yulaikhah, 2008)
b)

Jadwal pemeriksaan
Ibu hamil dianjurkan untuk melakukan pengawasan antenatal
minimal sebanyak 4 kali, yaitu I kali pada trimester 1, 1 kali pada
pada trimester II, dan 2 kali pada trimester III. (Yulaikhah, 2008)
c) Tujuan
1.

pengawasan serta penanganan wanita hamil dan pada saat


persalinan.

2.

perawatan dan pemeriksaan wanita sesudah persalinan.

3.

perawa tan neonatus bayi.

4.

pemeliharaan dan pemberian laktasi. (Yulaikhah, 2008)

d) Kebijakan program
Pelayanan/asuhan

standar

minimal

asuhan

kehamilan

termasuk 14 T, yaitu :
1)

(Timbang) berat badan ( T1)


a. Dalam keadaan normal kenaikan berat badan ibu dari
sebelum hamil dihitung dari trimester I sampai trimester
II yang berkisar antara 9-13,5 kg. penimbangan berat
badan mulai terimester III bertujusn untuk mengetahui
kenaikan berat badan setiap minggu, yaitu tergolong
normal adalah 0,4-0,5 kg tiap minggu.

10

b. Pengukuran tinggi badan ibu hamil dilakukan untuk


mendeteksi faktor resiko terhadap kehamilan yang sering
berhubungan
2)

Ukur (Tekanan) darah (T2)


Tekanan darah > 140/90 mmHg atau tekanan sistolik
meningkat . 30 mmHg atau tekanan distolik > 15 mmHg yang
diukur setelah pasien beristirahat selama 30 menit. Tekanan
pada diastolic pada trimester kedua yang lebih dari 85 mmHg
patut dicurigai sebagai bakat pre-eklamsi. (Hanifah, 2005)

3)

Nilai status gizi (T3)


Nilai status gizi ibu dilihat dari peningkatan barat badan
ibu dan kecukupan istirahat ibu, serta dilihat dari LILA ibu.
(Mandriwati, 2008)

4)

Ukur (Tinggi) fundus uteri (T4)


Tujuan pemerikasaan TFU mengunakan tehnik Mc
Donald adalah menentukan umur kehamilan berdasarkan
umur kehamilan brdasarkan minggu, dan hasilnya bias
dibandingkan dengan hasil anamnesis dari pertama haid
terakhir (HPHT) dan kapan gerakan janin mulai dirasakan
TFU dalam cm yang normal harus sama dengan umur
kehamilan dalam minggu yang ditentukan berdasarkan
HPHT. (Mandriwati, 2008)

5)

Presentasi kepala dan DJJ (T5)

11

Dilakukanya pemeriksaan presentasi janin yaitu untuk


mengetahui bagian terendah janin. Macamnya adalah
presentasi puncak kepala, presentasi muka dan presentasi
dahi.
Dilakukanya pemeriksaan DJJ yaitu untuk mengetahui
apakah bayi dalm keadaan sehat, bunyi jantungnya teratur
dan frekuensinya berkisar antara 120-160 kali / menit. Kalau
bunyi jantung kurang dari 120 kali/menit. Atau lebih dari 160
kali/menit atau tidak teratur, janin dalam keadaan asfiksi
(kekurangan oksigen) yang disebut gawat janin.
6)

Pemberian imunisasi (Tetanus toksoid) TT lengkap (T6)


Tabel 2.1
Pemberian Imunisasi Tetanus Toxoid
Interval

%
Lama

Imunisasi

(selang waktu

Perlindunga
perlindungan

minim)
Pada kunjungan
TT1

n
-

3 tahun

80

5 tahun

95

10 tahun

99

antenatal
4 minggu
TT2
setelah TT1
6 bulan setelah
TT3
TT2
1 tahun setelah
TT4
TT3
7)

Pemberian Tablet zat besi (T7)

12

Pemberian Tablet zat besi minimum 90 tablet selama


kehamilan.
8)

Tes terhadap penyakit menular seksual (T8)


Pemeriksaan terhadap penyakit menular seksual sangat
penting karena dapat membahayakan perkembangan janin
bahkan kematian janin. Test laboratorium rutin (HB dan
Protein), dilakukan pemeriksaan darah ibu hamil, yaitu untuk
mengetahui Hb ibu hamil apakah ibu anemis atau tidak,
sedangkan dilakukanya pemeriksaan urine pada ibu hamil
yaitu untuk mengetahui apakah urine mengandung protein
atau tidak untuk mendeteksi gejala pre-eklamsi. (Mandriwati,
2008)

9)

Tata laksana kasus (T9)


Untuk mendeteksi apakah terdapat kegawat daruratan
pada ibu hamil serta merencanakan penetalaksanaan kegawat
daruratan tersebut. (Saifudin, 2007)

10)

Temu wicara ( koseling ) (T10)


Temu wicara atau konseling sangat diperlukan karena
dapat menjalin tertatalaksana asuhan yang bai selama
kehamilan bahkan berlanjut pada asuhan intranatal, postnatal
dan asuhan pada bayi baru lahir. Konseling yang perlu
diberikan selama hamil meliputi : konseling mengenai
kebutuhan nutrisi ibu hamil, senam ibu hamil, persiapan
persalinan, tanda bahaya hamil.

13

11) Pemeriksaan protein urine atas indikasi (T11)


12) Pemeriksaan reduksi urine atas indikasi (T12)
13) Pemberian terapi kapsul yodium untuk daerah endemis
gondok (T13)
14) Pemberian terapi anti malaria untuk daerah endemis malaria
(T14)
Apabila suatu daerah tidak bisa melaksanakan 14T sesuai
kebijakan dapat dilakukan standar minimal pelayanan ANC
yaitu 7T (Prawiroharjo,2009).
e. Nasihat-Nasihat Untuk Ibu hamil
1. Nutrisi
Dalam masa kehamilan, kebutuhan zat-zat meningkat. Hal ini
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang janin,
pemeliharaan kesehatan ibu dan persediaan laktasi baik untuk ibu
maupun janin.
Selama kehamilan terjadi peningkatan kalorisekitar 80.000
kilokalori sehingga dibutuhkan penambahan kalori sebanyak 300
kilokalori/hari. Penambahan kalori ini dihitung melalui protein,
lrmak, yang ada pada janin, lemak pada ibu, dan konsumsi O2 ibu
selama 9 bulan. (Yulaikhah, 2008 ).
2. Higiene Personal.
Mandi di perlukan untuk menjaga kebersihan atau higiene
terutama perawatan kulit, karena fungsi ekskresi dan keringat
bertambah. Hal ini yang perlu diperhatikan adalah :

14

1) Tidak mandi air panas


2) Tidak mandi air dingin
3) Pada kehamilan lanjutr, shower lebih aman dari bak mandi.
(Yulaikhah, 2008 ).

15

3. Pakaian
Pakaian yang dikenakan harus longgar, bersih, dan ada ikatan
yang ketat pada daerah perut. Selain itu wanita dianjurkan
mengenakan Bra yang menyokong payudara dan sepatu dengan
hak yang tidak terlalu tinggi karena titik berat wanita hamil
berubah.Dianjurkan pula memeakai pakaian dari bahan katun
yang dapat menyerap keringat. pakaian dalam harus kering dan
harus sering diganti. (Yulaikhah, 2008)
4. Eliminasi
Wanita dianjurkan untuk defekasi teratur dengan mengonsumsi
makanan yang banyak mengandung serat seperti sayuran. Selain
itu perawatan perinium dan vagina dilakukan setelah BAK/BAB
dengan cara membersihkan dari depan kebelakang, mengunakan
pakaian dalam dari bahan katum, sering mengganti pakaian
dalam, dan tidak melakukan docing / pembilasan. (Yulaikhah,
2008 )
5. Seksual
Hubungan seksual saat hamil bukanlah merupakan suatu
halangan, asalkan dilakukan dengan hati-hati. Sering dijumpai
bahwa hubungan seksual dapt menimbulkan abortus, persalinan
prematur.
Karena mempunyai riwayat kehamilan yang buruk, sebaiknya
dinasihati agar berpuasa dalam berhubungn seksual, khususnya
saat hamil muda. Namun ada kemungkinan libido wanita saat

16

hamil

meningkat

seiring

dengan

peningkatan

estrogen.

(Manuaba, 2007 )
6. Mobilisasi Atau Mekanik Tubuh
Postur

tubuh,

lifting

(menangkat),

bangun

dari

posisi

jongkok/duduk (bend kness [ menekuk lutut ], turn side


[berbalik

badan],

menahan

tangan

dari

posisi

duduk).

(Yulaikhah, 2008)
f. Tanda-Tanda Bahaya Kehamilan Trimester III
1) Perdarahan Pervaginam
2) Nyeri perut
3) Rasa kencang di perut yang terus menerus, berkesinambungan
(kontraksi) atau kram.
4) Rabas atau mancurnya cairan dari vagina.
5) Bengkak ata pembesaran tangan, kaki, atau wajah yang tibatiba.
6) Ganguan penglihatan
7) Pusing, sakit kepala yang hebat.
8) Gerakan janin berkurang
9) Daerah sakit dan kemerahan di kaki, atau sakit di kaki jika
berdiri.
10) Nyeri yang hebat di kemaluan dan panggul, denggan gangguan
gerak kaki
11) Nyeri tau panas saat berkemih.
12) Nyeri daerah kemaluan atau gatal.

17

13) Mual atau muntah yang persisten. (Whalley, 2007)


6. Kebutuhan Kesehatan Pada Ibu Hamil Dengan Masalah
Berikut adalah kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan ibu semasa hamil
TM-III (Hani, 2011) :
a) Oksigen
Seorang ibu hamil sering mengeluh tentang rasa sesak dan pendek nafas.
Hal ini disebabkan karena diafragma tertekan akibat membesarnya rahim.
Kebutuhan oksigen meningkat 20%. Ibu hamil sebaiknya tidak berada
ditempat-tempat yang terlalu ramai dan penuh sesak, karena akan
mengurangi masukan oksigen.
b) Nutrisi
Kebutuhan energi pada kehamilan trimester 1 memerlukan tambahan 100
kkal/hari (menjadi 1900-2000 kkal/hari). Selanjutnya pada trimester II dan
III, tambahan energi yang dibutuhkan meningkat menjadi 300 kkal/hari,
atau sama dengan mengkonsumsi tambahan 100gr daging ayam atau
minum 2 gelas susu sapi cair. Idealnya kenaikan berat badan sekitar
500gr/minggu. Kebutuhan makan ibu hamil dengan berat badan normal
per hari.
c) Personal Hygiene
Sebaiknya ibu hamil mandi, gosok gigi dan ganti pakaian minimal 2 x
sehari, menjaga kebersihan alat genetalia dan pakaian dalam, menjaga
kebersihan payudara.

18

d) Pakaian
Longgar, nyaman, dan mudah di pergunakan, gunakan kutang/ BH dengan
ukuran sesuai ukuran payudara dan mampu menyangga seluruh payudara,
Tidak memakai sepatu tumit tinggi, sepatu berhak rendah, baik untuk
punggung dan postur tubuh dan dapat mengurangi tekanan pada kaki.
e) Eliminasi
Ibu hamil akan sering ke kamar mandi terutama saat malam hingga
menganggu tidur, sebaiknya intake cairan sebelum tidur di kurangi,
gunakan pembalut untuk mencegah pakaian dalam yang basah dan lembab
sehingga memudahkan masuk kuman, setiap habis BAB dan BAK cebok
dengan baik.
f) Seksual
Pilih posisi yang nyaman dan tidak menyebabkan nyeri bagi wanita hamil,
sebaiknya menggunakan kondom karena prostatglandin yang terdapat
dalam semen bisa menyebabkan kontraksi, lakukanlah dalam frekuensi
yang wajar 2 sampai 3 kali seminggu.
g) Mobilisasi dan Body Mekanik
Melakukan latihan/ senam hamil agar otot-otot tidak kaku, jangan
melakukan gerakan tiba-tiba atau spontan, jangan mengangkat secara
langsung benda-benda yang cukup berat, jongkok lah terlebih dahulu lalu
kemudian mengangkat benda, apabila bangun tidur miring dulu baru
kemudian bangkit dari tempat tidur.

19

h) Istirahat atau Tidur


Ibu hamil sebaiknya memiliki jam istirahat/ tidur yang cukup. Kurang
istirahat/ tidur, ibu hamil akan terlihat pucat, lesu dan kurang gairah.
Usahakan tidur malam lebih kurang 8 jam dan tidur siang lebih kurang 1
jam. Umumnya ibu mengeluh susah tidur kerena rongga dadanya terdesak
perut yang membesar atau posisi tidurnya jadi tidak nyaman. Tidur yang
cukup dapat membuat ibu menjadi relaks, bugar dan sehat. Solusinya saat
hamil tua, tidurlah dengan menganjal kaki ( dari tumit hingga betis)
menggunakan bantal. Kemudian lutut hingga pangkal paha diganjal
dengan satu bantal. Bagian punggung hingga pinggang juga perlu diganjal
bantal. Letak bantal bisa di sesuaikan, jika ingin tidur miring ke kiri,
bantal diletakkan demikian rupa sehingga ibu nyaman tidur dengan posisi
miring ke kiri. Begitu juga bila ibu ingin tidur posisi ke kanan.Dalam
proses kehamilan terjadi perubahan sistem dalam tubuh ibu yang
semuanya membutuhkan suatu adaptasi, baik fisik maupun psikologis.
Dalam proses adaptasi tersebut tidak jarang ibu akan mengalami
ketidaknyamanan yang meskipun hal itu adalah fisiologis namun tetap
perlu

diberikan

suatu

pencegahan

dan

perawatan.

Beberapa

ketidaknyamanan dan cara mengatasinya adalah sebagai berikut :


Tabel 1.1 Ketidaknyamanan Masa Hamil dan Cara Mengatasinya
No

Ketidaknyamanan

Cara Mengatasi

.
1.

Sering

air

Penjelasan

kecil. Trimester I dan

terjadinya
Kosongkan

III

buang

mengenai
saat

ada

sebab
dorongan

20

untuk kencing
Perbanyak minum pada siang hari
Jangan kurangi minum untuk
mencegah nokturia, kecuali jika
nokturia sangat mengganggu tidur
di malam hari
Batasi minum kopi, teh, dan soda
Jelaskan tentang bahaya infeksi
saluran kemih dengan menjaga
posisi tidur, yaitu dengan berbaring
miring ke kiri dan kaki ditinggikan
2.

Striae gravidarum
Tampak jelas pada
bulan ke 6-7

3.

Hemoroid
Timbul

pada

Trimester II dan III

untuk mencegah diuresis


Gunakan emolien topikal

antipruritik jika ada indikasinya


Gunakan baju longgar yang dapat
menopang payudara dan abdomen
Hindari konstipasi
Makan makanan yang berserat dan
banyak minum
Gunakan kompres es atau air
hangat
Dengan

4.

Kelelahan / Fatigue
Pada Trimester I

5.

perlahan

masukkan

kembali anus setiap selesai BAB


Yakinkan bahwa ini normal pada
awal kehamilan
Dorong
ibu

untuk

sering

beristirahat
Hindari istirahat yang berlebihan
Tingkatkan kebersihan dengan

Keputihan
Terjadi

atau

pada

Trimester I, II, atau

mandi tiap hari


Memakai pakaian dalam dari bahan

21

III

katun dan mudah diserap


Tingkatkan daya tahan

tubuh

dengan makan buah dan sayur


6.

Keringat bertambah

Pakailah pakaian yang tipis dan

Secara perlahan terus

longgar
Tingkatkan asupan cairan
Mandi secara teratur

meningkat
7.

sampai

akhir kehamilan
Sembelit
Trimester II dan III

Tingkatkan diet asupan cairan


Buah prem atau jus prem
Minum cairan dingin atau hangat,
terutama saaat perut kosong
Istirahat cukup
Senam hamil
Membiasakan buang air

besar

secara teratur
Buang air besar segera setelah ada

8.

dorongan
Kurangi konsumsi susu (kandungan

Kram pada kaki


Setelah

usia

kehamilan 24 minggu

9.

Napas sesak
Trimester II dan III

fosfornya tinggi)
Latihan dorsofleksi pada kaki dan
meregangkan otot yang terkena
Gunakan penghangat untuk otot
Jelaskan penyebab fisiologisnya
Dorong agar secara sengaja
mengatur

laju

dan

dalamnya

pernafasan pada kecepatan normal


yang terjadi
Merentangkan tangan di atas kepala
serta menarik nafas panjang
Mendorong postur tubuh yang baik,

22

10.

Nyeri

ligamentum

rotundum
Trimester II dan III

melakukan pernapasan interkostal


Berikan
penjelasan
mengenai
penyebab nyeri
Tekuk lutut ke arah abdomen
Mandi air hanga
Gunakan bantalan pemanas pada
area yang terasa sakit hanya jika
tidak terdapat kontraindikasi
Gunakan sebuah bantal untuk
menopang uterus dan bantal lainnya
letakkan di antara lutut sewaktu

11.

Berdebar-

debar

dalam posisi berbaring miring.


Jelaskan bahwa hal ini normal pada

(palpitasi jantung)

12.

Mulai

akhir

Trimester I
Panas

perut

(heartburn)
Mulai

bertambah

kehamilan

Makan sedikit-sedikit tapi sering


Hindari makan berlemak dan
berbumbu tajam
Hindari rokok, asap rokok, alkohol

sejak Trimester II dan


bertambah

semakin

lamanya kehamilan.

dan cokelat
Hindari berbaring setelah makan
Hindari minum air putih saat makan
Kunyah permen karet
Tidur dengan kaki ditinggikan

Hilang pada waktu


13.

persalinan
Perut kembung
Trimester II dan III

Hindari makan yang mengandung


gas
Mengunyah

makanan

sempurna
Lakukan senam secara teratur

secara

23

Pertahankan saat buang air besar

14.

Pusing / sinkop
Trimester II dan III

yang teratur
Bangun secara perlahan dari posisi
istirahat
Hindari berdiri terlalu lama dalam
lingkungan yang hangat dan sesak
Hindari berbaring dalam posisi
telentang

15.

Sakit punggung atas


dan bawah
Trimester II dan III

16.

Varises pada kaki


Trimester II dan III

Gunakan posisi tubuh yang baik


Gunakan bra yang menopang
dengan ukuran yang tepat
Gunakan kasur yang keras
Gunakan bantal ketika tidur untuk
meluruskan punggung
Tinggikan kaki sewaktu berbaring
Jaga agar kaki tidak bersilangan
Hindari berdiri atau duduk terlalu
lama
Senam

untuk

melancarkan

peredaran darah
Hindari pakaian atau korset yang
ketat
(Sulistyawati, 2009)

24

2.1.2 Persalinan
1. Pengertian Persalinan
Persalinan

adalah

rangkaian

proses

yang

berakhir

dengan

pengeluaran hasil konsepsi oleh ibu. Proses ini dimulai dengan kontraksi
persalinan sejati yang ditandai oleh perubahan progresif pada serviks dan
diakhiri dengan pelahiran plasenta.(Varney, 2007)
Persalinan disertai (inpartu) sejak uterus

berkontraksi

dan

menyebabkan perubahan pada servik (membuka dan menipis) dan


berakhirnya dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu belum inpartu
jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan penambahan servik. (APN,
2007)
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran yang
terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan
dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam waktu 24-48
jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin. (Sumarah,2008)
2. Tujuan
Tujuan Asuhan persalinan normal adalah menjaga kelangsungan
hidup dan memberikan derajat kesehatah yang tinggi bagi ibu dan
bayinya, melalui upaya yang terintegrasi dan lengkap tetapi dengan
intervensi yang seminal mungkin agar prinsip keamanan dan kualitas
pelayanan dapt terjaga pada tingkat yang diinginkan ( Optimal ). (APN,
2007)

25

3. Bentuk- Bentuk Persalianan


a. Persalinan spontan, bila persalinan seluruhnya berlangsung dengan
kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir.
b. Persalinan buatan, bila proses persalinan dengan bantuan tenaga dari
luar, misalnya: ekstrasi dengan forsep atau dilakukan operasi SC atau
VE.
c. Persalinan anjuran, bila persalinan berlangsung tidak mulai dengan
sendirinya tetapi berlangsung setelah pemecahan ketuban atau
pemberian pitosin atau prostaglandin. (Mira, 2009)
4. Tanda-Tanda Persalinan
1)

Penipisan dan pembukaan serviks.

2)

Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan serviks


(frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit )

3)

Keluarnya lendir bercampur darah (show) melalui vagina.


(Mira, 2009)

5. Deteksi Dini Komplikasi Persalinan


Deteksi Dini Pada Kala I
a Insersia Uteri
Tanda dan gejala:
1 His tidak adekuat
2 < 2 kali dalam 10 menit
3 < 20 detik

26

Manajemen:

b
1
2
1
2
3
4
c
1
2

1 Memberikan nutrisi cukup pada ibu


2 Mobilisasi/ubah posisi
3 Upayakan kandung kemih kosong/rectum kosong
4 Rangsang putting susu
Denyut jantung janin
Tanda dan gejala:
< 120 kali dalam 1 menit
> 160 kali dalam 1 menit
Manajemen:
Beri oksigen
Baringkan ibu miring ke kiri
Pantau DJJ tiap 15 menit
Bila dalam 1 jam tidak normal, rujuk
Dilatasi serviks
Tanda dan gejala:
Fase laten > 8 jam
Dilatasi serviksdi kanan garis waspada dalam partograf
Manajemen: Rujuk

d
1
2

Cairan ketuban
Tanda dan gejala:
Bercampur mekonium
Air ketuban hijau kental
Manajemen : Rujuk dengan ibu miring kiri

e
1
2
3
4

Tekanan darah
Tanda dan gejala:
Bila TD naik hingga >160/110 mmHg
Pusing hebat
Mata berkunang-kunang
Kejang
Manajemen:

1
2
f
1
2
3
4

Infuse cairan RL
Rujuk
Ring bandle
Tanda dan gejala:
Nyeri hebat pada bagian perut bagian bawah
Kontraksi hipotinik
Muncul tanda-tanda pre-syok
Fetal distress
Manajemen :

27

1
2
g

Infuse cairan RL
Rujuk
Suhu
Tanda dan gejala : Suhu > 38C
Manajemen:

1
2
3
4
h
1
2
3

Istirahat baring
Minum yang banyak
Kompres untuk menurunkan suhu
Bila dalam 4 jam suhu tidak turun, beri antibiotic dan rujuk
Nadi
Tanda dan gejala:
>100 x/menit
Urine pekat
Suhu > 38C
Manajemen:

1
2
3
4

Beri minum banyak/cukup


Pantau 2 jam
Bila tidak ada perbaikan beri antibiotic, pasang infus RL
Rujuk
Deteksi Dini Pada Kala II
a. Tali pusat membumbung
Tanda dan gejala : Teraba tali pusat saat pemeriksaan dalam
Manajemen :

Bila DJJ ( + ), rujuk dengan posisi terlentang dan kepala janin

2
3

ditahan oleh 2 jari penolong dari dalam vagina


Ibu dengan posisi sujud bokong lebih tinggi dari kepala
Bila DJJ( - ), beritahu ibu/keluarga tentang kondisinya dan

a
1
2

penatalaksanaannya sesuai kala II


Perubahan DJJ
Tanda dan gejala:
Takikardi ( >160 dalam 10 menit)
Bradikardi ( < 100 dalam 10 menit)
Manajemen:

1
2

Pantau DJJ tiap 15 menit


O2
Beri

3
4

Ubah posisi ibu dengan miring ke kiri


Periksa adanya prolapsus tali pusat

28

5
6
b
1
2
3

Pastikan lamanya persalinan yang diharapkan


Bila tidak ada perubahan, segera rujuk
Kelelahan maternal
Tanda dan gejala:
Ibu tampak lemas
Dehidrasi
Suhu dana nadi meningkat
Manajemen:

1
2
3

Pencegahan adalah cara yang terbaik


Koreksi ketidak seimbangan cairan elektrolit
Rujuk bila keadaan menurun
Deteksi Dini Pada Kala III
a Tidak adanya tanda-tanda pelepasan plasenta
b Plasenta tidak lepas dalam 15 menit setelah bayi lahir dan
c
d

diberi oksitosin
Uterus tidak berkontraksi
Perdarahan yang abnormal

29

6. Permulaan Terjadinya Persalinan


Penyebab mulainya persalinan diuraikan oleh beberapa teori:
Teori hormon progesteron dan estrogen
Progesteron menimbulkan strogen meninggikan kerentanan
otot rahim. hormon
Relaksasi otot-otot rahim, sedangkan estrogen meninggikan
kerentanan otot rahim. Hormon yang dominan saat hamil adalah
estrogen dan progesteron. Pengaruh hormon progesteron tersebut
antara lain:
a. Hormon estrogen meningkatkan sensitivitas otot rahim dan
memudahkan

rangsangan

dari

luar

seperti

rangsangan

oksitosin, prostaglandin, dan rangsangan mekanis.


b. Hormon progesteron menurunkan sensitivitas otot rahim,
menyulitkan otot rahim menerima rangsangan dari luar seperti
oksitosin,dan prostaglandin mekanik.
c.

Menyebabkan otot rahim dan otot polos relaksasi.


2. Teori oksitosin internal
Pada akhir kehamilan kadar oksitosin bertambah sehingga
timbul kontraksi. oksitosin di hasilkan oleh kelenjar hipofise parss
posterior.
Perubahan keseimbangan progesteron dan estrogen mengubah
sensitivitas sehingga sering terjadi kontraksi Braxton Hicks.
Menurunya progesteron akibat tuanya kehamilan maka oksitosin
dapat meningkatkan aktifitas kontraksi sehingga terjadi persalinan.

30

3. Teori prostaglandin
Prostaglandin dihasilakan oleh desidua, meningkat setelah usia
kehamilan 15 minggu. Pemberian prostaglandin saat hamil dapat
menimbulakn kontraksi otot rahim sehingga hassil konsepsi
dikeluarkan.
4. Teori kerengangan.
Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas
tertentu. Setelah melewati batas terjadinya kontraksi sehingga
persalinan dimulai. Contohnay pada kehamilan ganda.
5. Pengaruh janin
Hipotalamus,

hipofise,

dan

kelenjar

suprarenalis

janin

merupakan pemicu terjadinya persalinan. Oleh karena itu bayi


anensepalus, kehamilanya sering lebih lama karena tidak terbentuk
hipotalamus. (Mira, 2009)
7. Tahapan Persalinan
Kala I
Dapat dinyatakan partus lama dimana bila timbulnya his wanita
tersebut mengeluarkan lendir darah ( blood show ). Lendir ini berasal
dari lendir kanalis serviks karena servik mulai membuka tau mendatar.
Sedangkan darahnya berasal dari pembuluh-pembuluh kapiler yang
berada pada di sekitar kanalis servikalis itu pecah karena pergeseranpergeseran ketika servik membuka.
Proses pembukaanya servik sebagai akibat his dibagi 2 fase, yaitu
a.Fase laten

31

Berlangsung selama 8 jam. Pembukaan terjadi sangat lambat


sampai mencapai ukuran diameter 3 cm.
b.

Fase Aktif

Dibagi dalam 3 fase yaitu :


1. Fase akselerasi. Dalam waktu 2 jam pembukaan 2 jam
pembukaan 3 cm tadi menjadi 4 cm.
2. Fase dilatasi. Dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung
sangat cepat, dari 4 cm menjadi 9 cm.
3. Fase deselerasi. Pembukaan menjadi lambat kembali. Dalam
waktu 2 jam pembukaan 9 cm menjadi pembukaan lengkap.
(Sarwono, 2009)
Kala II
Kala II persalinan adalah di mulai dengan dilatasi lengkap servik di
akhiri dengan kelahiran bayi. (Varney, 2007).
Pada kala II his menjadi lebih kuat dan lebih cepat, kira-kira 2
sampai 3 menit sekali. Karena biasanya dalam hal ini kepala janin
sudah masuk di ruang panggul, maka pada his dirasakan tekanan pada
otot-otot dasar panggul, yang secara reflektoris menimbulkan rasa
ingin mengedan (Wiknjosastro, 2007)
Kala III
Kala III adalah setelah plasenta lahir, uterus teraba keras dengan
fundus diatas pusat. Beberapa menit kemudian uterus berkontraksi lagi
untuk melepaskan plasenta dari dindingnya. Biasanya plasenta lepas

32

dalam 6 jam sampai 15 menit setela bayi lahir dan keluar spontan atau
dengan tekanan pada fundus uteri. (Wiknjosastro, 2007)
Tujuan manajemen adalah untuk menghasilkan kontraksi uterus
yang lebih efektif sehingga dapat mempersingkat waktu, mencegah
perdarahan dan mengurangi kehilangan darah pada kala III persalinan
jika dibandingakan dengan penatalaksanaan fisiologis. Sebagian besar
kasus kesakitan dan Kematian ibu di Indonesia disebabkan oleh
perdarahan pasca persalinan dimana sebagian besar disebabkan oleh
atonia uteri dan retensi plasenta, yang yang sebenarnya dapat di cegah
dengan melakukan manajemen aktif kala III. (APN, 2007)
Fisiologi persalinan kala III yaitu otot uterus ( miometrium )
berkontraksi mengikuti penyusutan volume rongga uterus setelah
lahirnya bayi. Penyusutan ukuran ini menyebabkan berkurnagnya
ukuran tempat perlekatan plasenta. Karena tempat peerlekatan menjadi
semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah maka plasenta
akan terlipat, menebal dan kemudian lepas dari dinding uterus. Setelah
lepas, plasenta akan turun ke bagian bawah uterus atau kedalam
vagina. (APN, 2007)
Tanda dan Gejala Kala II persalinan :
1) Ibu merasa ingin meneran bersama dengan terjadinya kontraksi.
2) Ibu merasakan adanya peningkatan pada rektum dan vaginanya.
3) Perineum menonjol.
4) Vulva-vagina dan spingter ani membuka.
5) Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah.

33

6) Tanda pasti kala II ditentukan melalui periksa dalam (informasi


objektif) yang hasilnya adalah :
a) Pembukaan serviks telah lengkap, atau
b) Terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina. (APN,
2007)
Kala IV
Kala IV yait disebut kala pemantuan atau untuk mengamati apakah
ada perdarahan postpartum. (Wiknjosastro, 2007)
Dalam kala IV yang harus dipantau kontraksi uterus, tinggi fundus,
perdarahan, dan mengevaluasi kondisi ibu secara umum. (APN, 2007)
8. Partograf
Partograf adalah alat bantu untuk memantau kemajuan kala
persalinan dan informasi untuk membuat keputusan klinik.
Tujuan utama penggunaan partograf :
1. Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai
pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam.
2. Mendeteksi apakah persalinan berjalan normal
3. Data pelengkap yang terkait dengan pemantauan kondisi ibu, bayi,
kemajuan persalinan dan proses persalinan. (APN, 2007)
Kondisi ibu dan janin harus dinilai dan dicatat secara seksama,
yaitu :
1. Denyut jantung janin dicatat setiap 30 menit.
2. Air ketuban, catat dengan lambang-lambang berikut :
a.U : Selaput ketuban Utuh (belum pecah)

34

b.

: Selaput ketuban pecah dan air ketuban Jernih


c.M

Selaput ketuban pecah dan air

ketuban bercampur Mekonium


d. D

Selaput ketuban pecah dan air

ketuban bercampur
e.

Darah

: Selaput ketuban pecah dan air ketuban Kering


Penyusupan (Molase) tulang kepala janin, catat dengan lambanglambang berikut :
1) 0 : Tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura dengan
mudah dipalpasi.
2) 1 : Tulang-tulang kepala janin hanya terpisah.
3) 2 : Tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih namun
masih bisa dipisahkan.
4) 3 : Tulang-tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak
dapat dipisahkan.
3.

Pembukaan serviks dinilai setiap 4 jam dan diberi tanda


(X).

4.

Penurunan bagian terbawah janin


Tulisan Turunnya kepala dan garis tidak putus dari 05, tertera disisi yang sama dengan angka pembukaan
serviks. Berikan tanda O yang ditulis pada garis waktu
yang sesuai.

5.

Jam : catat jam yang sesungguhnya.

35

6.

Waktu : menyatakan berapa jam waktu yang dijalani


sesudah pasien diterima.

7.

Kontraksi uterus, catat setiap 30 menit. Lakukan palpasi


untuk menghitung banyaknya kontraksi dalam 10 menit dan
lamanya tiap-tiap kontraksi dalam hitungan detik :
a. Beri titik-titik di kotak yang sesui untuk menyatakan
kontraksi yang lamanya <20 detik.
b. Beri garis-garis di kotak yang sesui untuk menyatakan
kontraksi yang lamanya 20-40 detik.
c. Isi penuh di kotak yang sesui untuk menyatakan kontraksi
yang lamanya >40 detik.

8.

Nadi dicatat setiap 30 menit

9.

Tekanan darah dicatat setiap 4 jam

10.

Suhu badan dicatat setiap 2 jam.

11.

Protein, aseton, dan volume urin dicatat setiap 2 jam

(APN, 2007)
9. Kebutuhan Kesehatan Pada Ibu Bersalin Dengan Masalah
Asuhan sayang ibu adalah pendamping persalinan, KIE, membantu
ibu memilih posisi, mengajari cara meneran, dukungan psikologi dan
pemberian nutrisi. Kebutuhan fisiologis adalah makan dan minum,
oksigen, istirahat selama tidak ada his, BAB dan BAK, pertolongan
persalinan yang berstandar. Kebutuhan rasa aman adalah memilih tempat
dan penolong persalinan, informasi tentang proses persalinan, posisi yang
dikehendaki ibu, pemamntauan selama persalinan, intervensi yang

36

diperlukan. Kebutuhan harga diri adalah merawat bayi sendiri dan


menetekkan, asuhan kebidanan dengan memperhatikan privasi ibu,
pelayanan yang bersifat simpati dan empati, informasi bila akan
melakukan tindakan, memberikan pujian pada ibu terhadap tindakan
positif yang ibu lakukan. Kebutuhan aktualisasi diri adalah Memilih
tempat dan penolong persalinan yang diinginkan, memilih pendamping
selama perslinan, bounding attachment, ucapan selamat atas kelahiran
bayinya (Sumarah, 2009).
2.1.3 Nifas
1.Pengertian Nifas
Pengeluaran hasil konsepsi oleh ibu. Proses ini dimulai dengan kontraksi
persalinan sejati yang ditandai oleh perubahan progresif pada serviks dan
diakhiri dengan pelahiran plasenta (Varney, 2007)
Masa nifas (Puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta
keluar dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan
semula (sebelum hamil). Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu
(Sulistyawati, 2009)
2. Tujuan Asuhan Masa nifas
Asuhan yang diberikan kepada ibu nifas bertujuan untuk :
1) Meningkatkan kesejahteraan fisik dan psikologis bagi ibu dan bayi
Dengan diberikanya asuhan, ibu akan mendapatkan fasilitas dan
dukungan dalam upayanya untuk menyesuaikan peran barunya
sebagai ibu (pada kasus ibu dengan kelahiran anak pertama) dan
pendampingan keluarga dalam membuat bentuk dan pola baru dengan
kelahiran anak berikutnya. Jika ibu dapat melewati masa ini dengan
baik maka kesejahteraan fisik dan psikologis bayipun akan meningkat
2) Pencegahan, diagnosa dini, dan pengobatan komplikasi pada ibu

37

Dengan diberikanya asuhan pada ibu nifas, kemungkinan munculnya


permasalahan dan komplikasi akan lebih cepat terdeteksi sehigga
penanganyapun dapat lebih maksimal.
3)

Merujuk ibu dan asuhan tenaga ahli bilaman perlu


Meskipun ibu dan keluarga mengetahui ada permasalahan kesehtan
pada ibu nifas yang memerlukan rujukan, namun tidak semua
keputusan yang diambil tepat.

4)

Mendukung

dan

memperkuat

keyakinan

ibu,

serta

memungkinkan ibu untuk mampu melaksanakan peranya dalam


situasi keluarga dan budaya yang khusus
Pada saat memberikan asuhan, keterampilan seorang bidan sangat
dituntut dalam memberikan pendidikan kesehatan terhadap ibu dan
keluarga. Keterampilan yang harus dikuasai oleh bidan, antara lain
berupa materi pendidikan yang sesuai dengan kondisi pasien, teknik
penyampaian, media yang digunakan dan pendekatan psikologis yang
efektif sesuai dengan budaya setempat. Hal tersebut sangat penting
diperhatikan karena banyak pihak yang beranggapan jika bayi telah
lahir dengan selamat, serta fisik ibu dan bayi tidak ada masalah maka
tidak perlu lagi dilakukan pendampingan bagi ibu. Padahal bagi para
ibu (terutama ibu baru), beradaptasi dengan peran barunya sangatlah
berat dan mebutuhkan kondisi mental yang maksimal.
5)Imunisasi ibu terhadap tetanus

38

Dengan pemberian asuhan yang maksimal pada ibu nifas, kejadian


tetanus dapat dihindari, meskipun saat ini angka tetanus sudah banyak
mengalami penurunan
6)

Mendorong pelaksanaan metode yang sehat tentang pemberian


makan anak, serta peningkatan pengembangan hubungan yang baik
antara ibu dan anak
Saat bidan memberikan asuhan pada mas nifas, materidan pemantauan
yang diberikan tidak hanya sebatas pada lingkup permasalan ibu, tapi
bersifat menyeluruh terhadap ibu dan anak.(Sulistyawati, 2009)

3. Perubahan Fisiologis Pada Masa Nifas


1. Uterus
a. pengerutan rahim
Involusi merupakan suatu proses kembalinya uterus pada
kondisi sebelum hamil. Dengan involusi uterus ini, lapisan luar
dari desidus yang mengelilingi situs plasenta akan menjadi
neurotic ( layu/mati ).
Perubahan ini diketahui dengan melakukan pemeriksaan
palpasi dimana TFU nya ( tinggi fundus uteri ).

39

Tabel 2.3
Tinggi Fundus Uteri dan Berat Uterus Menurut
Masa Involusi
Involusi

Tinggi Fundus Uterus

Berat Uterus

Bayi lahir

Setinggi pusat

1000 gram

Uri lahir

2 jari bawah pusat

700 gram

1 minggu

Pertengahan pusat simfisis

500 gram

Tidak teraba diatas


2 minggu

300 gram
simfisis

6 minggu

Bertambah kecil

40-60 gram

8 minggu

Sebesar normal

30 gram

(Saleha, 2009 )
b. Lokhea
Lokhea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas.
Lokhea mengandung darah dan sisa jaringan desidua yang
nekrotik dari dalam uterus.
Lokhea dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan warna dan
waktu keluarnya :
1. Lokhea rubra/merah
Lokhea ini keluar dari hari pertama sampai hari ke masa
post partum .

40

2. Lochea sanguinolenta
Lochea ini berwarna merah kecoklatan dan berlendir, serta
berlangsung dari hari ke-4 sampai hari ke-7 post pastum.
3. Lochea serosa
Lochea

ini

berwarna

kuning

kecoklatan

karena

mengandung serum, leukosit, dan robekan atau laserasi


plasenta. Keluar pada hari ke-7 sampai hari ke-14.
4. Lochea alba/putih
Lochea ini mengandug leukosit, sel desidua, sel epitel,
selaput lendir servik, dan serabut jaringan yang mati.
Lochea alba ini dapat berlangsung selama 2-6 minggu post
partum. (Sulistyawati, 2009 )
c.

Perubahan pada servik


Perubahan yang terjadi pada servik ialah bentuk servik agak
menganga seperti corong, segera setelah bayi baru lahir. Bentuk
ini disebabkan oleh corpus uteri yang dapt mengadakan
kontraksi sehingga seolah-olah pada perbatasan antara korpus
dan servik berbentuk semacam cincin.
Muara servik yang berdilatasi sampai 10 cm sewaktu
persalinan akan menutup secara perlahan dan bertahap. Setelah
bayi baru lahir, tangan dapat masuk kedalam rongga rahim.
Setelah 2 jam, hanya dapat dimasuki 2-3 jari. Pada minggu ke6 post partum, servik sudah menutup kembali. (Sulistyawati,
2009 )

41

42

d. Vulva dan vagina


Vulva dan vagina mengalami penekanan, sera peregangan
yang sangat besar selama proses melahirkan bayi. Dalam
bebrapa hari pertama sesudah proses tersebut, kedua organ ini
tetap dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu, vulva dan
vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam
vagina

secara

berangsur-angsur

akan

muncul

kembali,

sementara labia menjadi lebih menonjol.


(Sulistyawati, 2009)
e. Sistem pencernaan
Seorang wanita dapat merasa lapar dan siap menyatap
makananya dua jam setelah persalinan. Kalsium mat sangat
penting untuk gigi pada kehamilan, masa nifas, dimana pada
massa ini terjadi penurunan konsentrasi ion kalsium karena
meningkatnya kebutuhan kalsium pada ibu, teruutama pada
bayi yang dikandunganya untuk proses pertumbuhan janin juga
pada ibu pada massaa laktasi. (Saleha, 2009)
f.

Sistem perkemihan
Pelvis ginjal dan ureter yang teregang dan berdilatasi
selama kehamilan kembali normal pada akhir minggu keempat
setelah melahirkan. Pemeriksaan sistokopik segera setelah
melahirkan menunjukan tidak saja edema dan hyperemia
dinding kendung kemih, tetapi sering kali terdapat ekstavasai
darah pada submukosa.

43

Kurang lebih 40% wanita nifas mengalami proteinuria yang


non patologis sejak pasca melahirkan sampai dua hari post
partum agar dapat dikendalikan.
Diuretis yang normal dimulia segera setelah bersalin
sampai hari kelima setelah persalinan. Jumlah urine yang
keluar dapat melebihi 3.000 ml perharinya. Hal ini diperkirakan
merupakan salah satu cara untuk menghilangkan peningkatan
cairan ekstraseluler yang merupakan bagian normal dari
kehamilan. Selain itu juga di dapati adanya keringat yang
banyak pada beberapa hari pertama setelah persalinan. (Saleha,
2009 )
g. Sistem muskuloskeletal
ligamen-ligamen,

fasia,

dan

diafragma

pelvis

yang

meregang sewaktu kehamilan dan persalinan berangsur-angsur


kembali seperti sediakala. Tidak jarang ligament rotundum
mengendur,sehingga uterus jatuh ke belakang. Fasia jaringan
penunjang alat genetalia yang mengendur dapat di atasi dengan
latihan-latihan tartentu. (Saleha, 2009)
sistem endokrin
Selama

proses

kehamilan

dan

persalinan

terdapat

perubahan pada system endokrin, terutama pada hormonehormon yang berperan pada proses tersebut.

44

a. Oksitosin
Oksitosin disekresikan dari kelenjar otak bagian
belakang. Selama tahap ke 3 persalinan,hormone oksitosin
berperan dalam pelepasan plasenta dan mempertahankan
kontraksi,sehingga mencegah pendarahan. Isapan bayi
dapat merangsang produksi asi dan sekresi oksitosin. Hal
tersebut membantu uterus kembali ke bentuk normal
b. Prolaktin
Menurunya kadar estrogen menimbulkan terangsangnya
kelenjar pituitary bagian belakang untuk mengeluarkan
prolaktin, hormone ini beraperan dalam pembesaran
payudara untuk merangsang produksi susu. Pada wanita
yang menyusui bayinya, kadar prolaktin cepat tinggi dan
pada permulaan ada rangsangan folikel dalam ovarium
yang di tekan. (Saleha, 2009)
c. Kadar estrogen
Setelah persalinan,terjadi penurunan kadar estrogen
yang bermakna sehingga aktifitas prolaktin yang juga
sedang meningkat dapat mempengaruhi kelenjar mamae
dalam menghasilkan ASI. (Sulistyawati, 2009)
b.

Perubahan tanda tanda vital


Tanda tanda vital yang harus dikaji pada masa nifas adalah
sebagai berikut :
a)

Suhu

45

Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2 derajat


celsius, sesudah partus dapat naik kurang lenih 0,5 derajat
celsius dari keadaan normal, namun tidak akan melebihi 8
derajat celsius. Sesudah dua jam pertama melahirkan
umumnya suhu badan akan kembali normal. Bila suhu lebih
dari 38 derajat celsius, mungkin terjadi ionfeksi pada klien.
b)

Nadi dan pernapasan


Nadi berkisar antara 60 80 denyut per menit setelah
partus, dan dapat terjadi bradikardia. Bila terdapat
takikardia dan suhu tubuh tidak panas mungkin ada
perdarahan

berlebihanatau

ada

vitium

kordis

pada

penderita. Pada masa nifas umumnya denyut nadi labil


dibandingkan dengan suhu tubuh, sedangkan pernapasan
akan sedikit meningkat setelah partus kemudian kembali
seperti keadaan semula.
c) Tekanan Darah
Pada beberapa kasusu ditemu8kan keadaan hipertensi
postpartum akan menghilang dengan sendirinya apabila
tidak terdapat penyakit penyakit lain yang menyertainya
dalam bulan tanpa pengobatan.
d) Sistem Hematologi dan Kardiovaskular
Leukositosis adalah meningkatnya jumlah

sel sel

darah putih sampai sebanyak 15.000 selama masa


persalinan. Leukosit akan tetap tinggi jumlahnya selama

46

beberapa hari pertama masa postpartum. Jumlah sel sel


darah putih tersebut semacam itu. Jumlah hemoglobin dan
hematokrit serta eritrosit akan sangat bervariasi pada awal
awal masa nifas sebagai akibar dari volume darah, volume
plasma, dan volume sel darah yang berubah ubah. Sering
dikatakan bahwa jika hematokrit pada hari pertama atau
kedeua lebih rendah dari titik 2 % atau lebih tinggi daripada
saat memasuki persalinan awal, maka klien dianggap telah
kehilangan 500 ml darah. Biasanya terdapat suatu
penurunan besar kurang lebih 1.500 ml dalam jumlah darah
keseluruhan selama kelahiran dan masa nifas. Rincian
jumlah darah yang terbuang pada klien ini kira - kira 200
500 ml hingga masa persalinan, 500 800 ml hingga
selama minggu pertama postpartum, dan terakhir 500 ml
selama sisa masa nifas
4. Proses Adaptasi Psikologis Pada Masa Nifas
Periode masa nifas merupakan waktu dimana ibu mengalami stres
pascapersalinan, terutamapada ibu primipara.
Hal-hal yang dapat membantu ibu dalam beradaptasi pada masa nifas
adalah sebagai berikut:
1. Fungsi yang mempengaruhi untuk sukses dan lancarnya masa
transisi menjadi orang tua.
2. Respons dan dukungan dari keluarga dan teman dekat.
3. Riwayat pengalaman hamil dan melahirkan sebelumnya.

47

4. Harapan, keinginan dan aspirasi ibu saat hamil juga melahirkan.


Periode ini diekspresikan oleh reva rubin yang terjadi pada tiga
tahap berikut ini:
1. Talking in period
Terjadi pada 1-2 hari setelah persalinan, ibu masih pasif dan
sangat tergantung pada orang lain, fokus perhatian terhadap
tubuhnya, ibu lebih mengingat pengalaman melahirkan dan
persalinan yang dialami, serta kebutuhan tidur dan nafsu makan
meningkat.
2.

Talking hold period


Berlangsung 3-4 hari post partum, ibu lebih berkonsentrasi
pada

kemampuanya

dalam

menerima

tanggung

jawab

sepenuhnya terhadap perawatan bayi, pada masa ini ibu


menjadi sangat sensitif, sehingga membutuhkan bimbingan dan
dorongan perawatan untuk mengatasi kritikan yang dialami ibu
3. Letting go period
Dialami setelah tiba ibu dan bayi tiba di rumah mulai secara
penuh menerima tanggungjawab sebagai sebagai ibu dan
menyadari atau merasa kebutuhan bayi sangat tergantung pada
diriya. (Saleha, 2009 )
5. Program dan Kebijakan Teknis Masa Nifas
Kunjungan masa nifas dilakukan paling sedikit 4 kali Kunjungan
ini bertujuan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir juga untuk

48

mencegah, mendeteksi, serta menangani masalah masalah yang


terjadi.
Tabel 2.4
Kunjungan masa nifas
Kunjunga
Waktu

Tujuan

n
I

6-8 jam
setelah
persalinan

- Mencegah terjadinya perdarahan


pada masa nifas.
- Mendeteksi dan merawat penyebab
lain perdarahan, dan memberikan
rujukan bila perdarahan berlanjut.
- Memberikan konseling kepada ibu
atau salah satu anggota keluarga
mengenai bagaimana mencegah
perdarahan

masa

nifas

karena

atonia uteri.
- Pemberian ASI pada masa awal
menjadi ibu.
- Mengajarkan

cara

mempererat

hubungan antara ibu dan bayi baru


lahir.
- Menjaga bayi tetap sehat dengan
cara mencegah hipotermia.
Jika bidan menolong persalinan,
maka bidan harus menjaga ibu dan

49

Kunjunga
Waktu

Tujuan

n
bayi untuk 2 jam pertama setelah
kelahiran atau sampai keadaan ibu
II

6 hari

dan bayi dalam keadaan stabil.


- Memastikan
involusi
uterus

setelah

berjalan

normal

persalinan

berkontraksi,

fundus

uterus
dibawah

umbilikus, tidak ada perdarahan


abnormal, tidak ada bau.
- Menilai

adanya

tanda-tanda

demam, infeksi, atau kelainan


pasca melahirkan.
- Memastikan ibu
cukup

makanan,

mendapatkan
cairan

dan

istirahat.
- Memastikan ibu menyusui dengan
baik dan tidak ada kesulitan.
- Memberikan konseling pada ibu
mengenai asuhan pada bayi, tali
pusat, menjaga bayi tetap hangat
dan merawat bayi sehari-hari.
III

minggu - Sama dengan di atas (6 hari setelah

setelah
persalinan

persalinan).
- Memastikan Diasthasis rektus

50

Kunjunga
Waktu

Tujuan

n
abdomonalis
IV

minggu - Menanyakan pada ibu tentang

setelah

penyulit-penyulit yang ia atau bayi

persalinan

alami.
- Memberikan konseling KB secara
dini.
- Memberikan konseling tentang
hubungan sexual.
- Menganjurkan/mengajak ibu
membawa bayinya ke posyandu
atau puskesmas untuk
penimbangan dan imunisasi

(Saleha, 2009)
6. Tanda bahaya masa nifas
Tanda-tanda bahaya berikut merupakan hal yang sangat penting, yang
harus disampaikan kepada ibu dan keluarga. Jika ia mengalami salah satu
atau lebih keadaan berikut maka ia harus secepatnya dating kebidan atau
kedokter.
a. Perdarahan pervaginam yang luar biasa atau tiba-tiba bertambah
banyak ( lebih dari perdarahan haid biasa atau memerlukan ganti
pembalut 2 hari dalam setengah jam ).
Pengeluran pervaginam yang berbau menusuk ( menyengat ).
b. Rasa sakit dbagian bawah abdomen atau punggung.

51

c. Rasa sakit kepala yang terus menerus atau masalah penglihatan


d. Pembengkakan diwajah atau ditangan.
Demam, muntah , rasa sakit waktu buang air kecil, atau merasa
tidak enak badan
e. Payudarah yang berubah menjadi merah, panas dan sakit.
f. Kehilangan nafsu makan dalam jangka waktu yang lama.
g. Rasa sakit, warna merah, pembengkakan di kaki.
h. Merasa sedih dan tidak mampu merawat bayinya atau dirinya
sendiri
i. Merasa sangat letih atau nafas terengah-engah.(Sulistyawati, 2009 )
7. Proses Laktasi
A. Anatomi dan Fisiologi Payudara
Payudara terdiri dari beberapa bagian, yaitu diantaranya :
1. Pabrik ASI (alveoli)
a. Berbentuk seperti buah anggur
b. Dindingnya terdiri dari sel-sel yang memproduksi ASI apabila
dirangsang oleh hormone prolaktin.
2. Saluran ASI (duktus lactiferous)
Saluran ini berfungsi untuk menyalurkan ASI dari pabrik ke gudang.
3. Gudang ASI (sinus lactiferous)
Gudang ASI merupakan tempat penyimpanan ASI yang terletak di
bawah kalang payudara (alveoli)
4. Otot polos (myoepithel)
a. Otot yang mengelilingai pabrik ASI
b. Jika di rangsang oleh hormone oksitosin maka otot yang melingkari
pabrik ASI akan mengerut dan menyemprotkan ASI di dalamnya.
c. Selanjutnya, ASI akan mengalir ke saluran payudara dan berakhir
di gudang ASI
B. Fisiologi Laktasi
Proses ini timbul setelah plasenta lepas. Plasenta mengandung hormon
penghambat

prolaktin

(hormon

plasenta)

yang

menghambat

52

pembentukan ASI setelah plasenta lepas, hormon plasenta tersebut tak


ada lagi, sehingga susu pun keluar.
Hormon hormon yang terlibat dalam pembentukan ASI adalah
sebagai berikut:
a) Progesterone
Mempengaruhi tumbuh dan ukuran alveoli. Kadar progesterone dan
estrogen menurun sesaat setelah melahirkan. Hal ini menstimulus
produksi ASI secara besar-besaran.
b) Estrogen
Menstimulus system saluan ASI untuk membesar. Kadar estrogen dalam
tubuh menurun saat melahirkan dan tetap rendah untuk beberapa ulan
selama tetap menyusui
c) Prolaktin
Berperan dalam membesarnya alveoli pada masa kehamilan
d) Oksitosin
Mengencangkan otot halus dalam rahim pada saat melahirkan dan
setelahnya, seperti halnya juga dalam organisme. Setelah melahirkan,
oksitosin juga mengencangkan otot halus disekitar alveoli untuk
memeras ASI menuju saluaran susu. Oksitosin berperan dalam proses
turunnya susu (let-down/milk ejection reflex)
e) Human Placental Lactogen (HPL)
Sejak bulan kedua kehamilan, plasenta mengeluarkan banyak HPL yang
berperan dalam pertumbuhan payudara, putting dan areola sebelum
melahirkan. Pada bulan kelima dan keenam kehamilan, payudara siap
memproduksi ASI. Namun, ASI juga bisa diproduksi tanpa kehamilan
(induced lactation). (Saleha, 2009)
C. Proses Produksi Susu
Pada seorang ibu yang hamil dikemal dua refleks yang masing-masing
berperan dalam pembentukan dan pengeluaran air susu, yaitu: refleks
prolaktin dan refleks let down.
a. Refleks Prolaktin

53

Akhir kehamilan hormon prolaktin memegang peranan untuk membuat


kolostrum, tetapi jumlah kolostrum terbatas dikarenakan aktivitas
prolaktin dihambat oleh estrogen dan progesteron yang masih tinggi.
Hormon ini merangsang sel-sel alveoli yang fungsinya membuat air susu.
Kadar prolaktin pada ibu yang menyusui akan normal kembali yiga bulan
setelah melahirkan sampai penyapihan anak.
b. Refleks let down
Bersamaan dengan pembentukan prolaktin

oleh

adenohipofisis,

rangsangan yang berasal dari isapan bayi ada yang dilanjutkan


neurohipofisis yang kemudian dikeluarkan oksitosin.
Oksitosin yang sampai pada alveoli akan mempengaruhi sel mioepitelin.
Kontraksi dari sel akan memeras air susu yang telah terbuat keluar dari
alveoli dan masuk ke sistem duktus yang selanjutnya mengalir melalui
duktus laktiferus masuk kemulut bayi.
Faktor-faktor yang meningkatkan refleks let down adalah:
a) Melihat bayi
b) Mendengar suara bayi
c) Mencium bayi
d) Memikirkan untuk menyusui bayi
Beberapa refleks yang memungkinkan bayi baru lahir untuk memperoleh
ASI:
a) Refleks rooting : refleks ini memungkinkan bayi baru lahir untuk
menemukan puting susu apabila ia diletakkan di payudara.
b) Refleks menghisap : yaitu saat bayi mengisi mulutnya dengan puting
susu sampai kelangit-langit dan punggung lidah. Refleks ini melibatkan
rahang, lidah dan pipi.
c) Refleks menelan : yaitu gerakan pipi dan gusi dalam menekan aerola,
sehingga refleks ini merangsang pembentukan rahang bayi. ( Saleha,
2009)
Pengeluaran ASI (Oksitosin)

54

Apabila bayi disusui, maka gerakan menghisap yang berirama akan


menghasilkan rangsangan saraf yang terdapat pada glandula pituitaria
posterior, sehingga keluar hormon oksitosin. Hal ini menyebabkan sel-sel
miopitel di sekitar alveoli akan berkontraksi dan mendorong ASI masuk
dalam pembuluh ampula. Pengeluaran oksitosin selain dipengaruhi oleh
isapan bayi, juga oleh reseptor yang terletak pada duktus. Bila duktus
melebar, maka secara reflektoris oksitosin dikeluarkan oleh hipofisis.
(Saleha, 2009)
D. Teknik Menyusui
Teknik menyusui yang benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi
dengan perleketan dan posisi ibu dan bayi dengan benar.
(Dewi dkk, 2011)
a) Mengajarkan kepada ibu tentang tehnik menyusui yang benar
1. Duduk dengan posisi santai dan tegak
2. Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada
putting susu dan areola sekitarnya
3. Bayi dipegang dengan satu lengan, kepala bayi diletakkan pada
lengkung siku ibu dan bokong bayi diletakkan pada lengan. Kepala bayi
tidak boleh tertengadah atau bokong bayi ditahan dengan telapak tangan
ibu
4. Satu tangan bayi diletakkan dibelakang badan ibu dan yang satu
didepan
5. Perut bayi menempel badan ibu, kepala bayi menghadap payudara
6. Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis luru.
7. Ibu menatap bayi dengan kasih sayang.
8. Tangan kanan menyangga payudara kiri dan keempat jari dan ibu jari
menekan payudara bagian atas areola.
9. Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rooting reflek) dengan
cara menyentuh pipi dengan putting susu atau menyentuh sisi mulut bayi.
10. Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan
ke payudara ibu dengan putting serta areola dimasukkan ke mulut bayi.
11. Melepas isapan bayi.

55

Setelah menyusui pada satu payudara sampai terasa kosong, sebaiknya


diganti menyusui pada payudara yang lain.Cara melepas isapan bayi :
a. Jari kelingking ibu dimasukkan kemulut bayi melalui sudut mulut
b. Dagu bayi ditekan kebawah
12. Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian
dioleskan pada putting susu dan areola sekitarnya. Biarkan kering dengan
sendirinya.(Ambarwati, 2009)
13. Mengajarkan kepada ibu tentang cara menyendawakan bayi
Tujuan menyendawakan bayi adalah mengeluarkan udara dari lambung
supaya bayi tidak muntah (gumoh) setelah menyusui.

56

Cara menyendawakan bayi :


1. Bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu ibu kemudian
punggungnya ditepuk perlahan-lahan
2. Dengan cara menelungkupkan bayi di atas pangkuan ibu, lalu usapusap punggung bayi sampai bayi bersendawa.
(Ambarwati, 2009; h. 40).
E. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Menyusui
a. Cara Menyusui Yang Baik Dan Benar
1) Posisi badan ibu dan bayi
2) Ibu harus duduk atau berbaring dengan santai
3) Pegang bayi pada belakang bahunya, tidak pada dasar kepala
4) Putar seluruh badan bayi sehingga menghadap ke ibu
5) Rapatkan dada bayi dengan dada ibu atau bagian bawah payudara
6) Tempelkan dagu bayi pada payudara ibu
7) Dengan posisi seperti ini maka telinga bayi akan berada dalam satu
garis dengan leher dan lengan bayi
8) Jauhkan hidung bayi dari payudara ibu dengan cara menekan pantat
bayi dengan lengan ibu bagian dalam
a. Posisi Mulut Bayi Dan Putting Susu Ibu
1) Payudara dipegang dengan ibu jari di atas jari yang lain menopang di
bawah (bentuk C) atau dengan menjepit payudara dengan jari telunjuk
dan jari tengah (bentuk gunting), di belakang areola (kalang payudara).
2) Bayi diberi rangsangan agar membuka mulut (rooting reflek).
3) Posisikan putting susu di atas bibir atas bayi dan berhadapan dengan
hidung bayi.
4) Kemudian masukkan putting susu ibu menelusuri langit-langit mulut
bayi.
5) Setelah bayi menyusu/menghisap payudara dengan baik, payudara
tidak perlu di pegang atau disangga lagi.
6) Dianjurkan tangan ibu yang bebas dipergunakan untuk mengelus-elus
bayi.
b. Posisi Menyusui Yang Benar
1) Tubuh bagian depan bayi menempel pada tubuh ibu
2) Dagu bayi menempel pada payudara
3) Dagu bayi menempel pada dada ibu yang berada di dasar payudara
(bagian bawah)
4) Telinga bayi berada dalam satu garis dengan leher dan lengan bayi.

57

5) Mulut bayi terbuka dengan bibir bawah yang terbuka.


6) Sebagian besar areola tidak nampak.
7) Bayi menghisap dalam dan perlahan.
8) Bayi puas dan tenang pada akhir menyusu.
9) Terkadang terdengar suara bayi menelan.
10) Putting susu tidak terasa sakit atau lecet
(Ambarwati, 2009; h.41-43)
c. Apabila bayi telah menyusui dengan benar, maka akan memperlihatkan
tanda-tanda sebagai berikut :
1)
2)
3)
4)
5)

Bayi tampak tenang


Badan bayi menempel pada perut ibu
Mulut bayi terbuka lebar
Dagu bayi menempel pada payudara ibu
Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola bawah lebih

banyak yang masuk


6) Bayi Nampak menghisap dengan ritme perlahan-lahan
7) Putting susu tidak terasa nyeri
8) Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus
9) Kepala bayi agak menengadah. (Saleha, 2009)
8. Kebutuhan Kesehatan Pada Ibu Nifas Dengan Masalah
1)
Nutrisi dan cairan
Pada masa nifas masalah diet perlu mendapat perhatian yang khusus, karena
dengan nutrisi yang baik dapat mempercepat penyembuhan ibu yan sangat
mempengaruhi susunan air susu. Diet yang diberikan harus bermutu, bergizi
tinggi, cukup kalori, tinggi protein dan banyak mengandung cairan.
Ibu yang menyusui harus memenuhi akan kebutuhan gizi sebagai berikut:
a)
b)

Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari.


Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral

c)
d)

dan vitamin yang cukup.


Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari.
Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi, setidaknya 40

e)

hari pasca persalinan.


Minum kapsul vitamin A 200.000 unit agar dapat membetikan vitamin
A kepada bayinya melalui ASI.

2) Ambulasi

58

Ambulaasi dini (early ambulation) ialah kebijaksanaan agar secepat


mungkin bidan membimbing ibu postpartum bangun dari tempat tidurnya
dan membimbing ibu secepat mungkin untuk berjalan.
Sekarang tidak perlu lagi menahan ibu postpartum terlentang ditempat
tidurnya selama 7-14 hari setelah melahirkan. Ibu postpartum sudah
diperbolehkan bangu dari tempat tidurnya dalam 24-48 jam postpartum.
Keuntungan (early ambulation) adalah sebagai berikut:
a) Ibu merasa lebih sehat dan kuat dengan early ambulation.
b) Faal usus dan kandung kemih lebih baik.
c) Early ambulation memungkinkan kita mengajarkan ibu cara merawat
anaknya selama ibu masih di rumah sakit. Misalnya memandikan,
d)

mangganti pakaian dan memberi makan.


Lebih sesuai dengan keadaan Indonesia ( sosial ekonomis). Menurut
penalitian-penelitian yang seksama, early ambulation tidak mempunyai
pengaruh yang buruk, tidak menyebabkan

perdarahan yang abnormal,

tidak memengaruhi penyembuhan luka episiotomi atau luka diperut, serta


tidak memperbesar kemungkinan prolapsus atau retrotexto uteri.
Early ambulation tentu tidak dibanarkan pada ibu postpartum dengan
penyulit, misalnya anemia, penyakit jantung, penyakit paru-paru, demam
dan sebagainya.Panambahan kegitan dengan early ambulation harus
berangsur-angsur, jadi bukan maksudnya ibu segera setelah bangun
dibanarkan mencuci, memasak dan sebagainya.
3) Eliminasi
Buang air kecil
Ibu diminta untuk buang air kecil (miksi) 6 jam postpartum. Jika dalam 8
jam postpartum belum berkemih atau sekali berkemih belum melebihi 100
cc, maka dilakukan kateterisasi. Akan tetapi jika kandung kenih penuh, tidak
perlu menunggu 8 jam untuk berkemih.

59

Berikut ini sebab-sabab terjadinya kesulitan berkemih (retensio urine) pada


ibu postpartum..
a) Berkurangnya tekanan intraabdominal
b) Otot-otot perut masih lemah
c) Edema dan uretra
4) Buang air besar
Pada masa postpartum, seorang ibu sangat rentan terhadap infeksi. Oleh
karena itu, kebersihan diri sangat penting untuk mencegah terjadinya
infeksi. Kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur, dan lingkungan sangat
penting untuk dijaga.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan diri ibu
postpartum adalah sebagai berikut.
a) Anjurkan kebersihan seluruh tubuh, terutama perineum.
b) Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan
sabun dan air.
c) Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya
dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang setelah dicuci dengan baik
dan dikeringkan dibawah matahari dan disetrika.
d) Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan
sesudah membersihkan alat kelaminnya.
e) Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu
untuk menghindari menyantuh daerah tersubut.
5) Istirahat dan tidur
Hal-hal yang bias dilakukan pada ibu untuk memenuhi kebutuhan istirahat
dan tidur adalah sebagai berikut.
a) Anjurkan ibu untuk istiraht cukup untuk mencegah kelelahan yang
berlebihan.
b) Sarankan ibu untuk kembali pada kegiatan-kegiatan rumah tangga secar
perlahan-lahan, serta untuk tidur siang selagi bayi tidur.
c) Kurang istirahat dapat memengaruhi ibu dalam beberapa hal:

60

1. Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi.


2. Memperlambat proses involusi uterus

dan

memperbanyak

perdarahan.
3. Menyebabkan depresi dan ketidakmaamuan untuk merawat bayi
dan dirinya sendiri.
6) Aktivitas seksual
Aktifitas seksual yang dapat dilakukan oleh ibu nifas harus memenuhi
syarat sebagai berikut.
a) Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah
merah berhenti dan ibu dapat memasukkan sau atau dua jarinya
kedalam vagina tanpa rasa nyeri, maka ibu aman untuk memulai
melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap.
b) Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri
sampai masa waktu terrtentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu
setelah persalinan. Keputusan ini bergantung pada pasangan yang
bersangkutan.
2.1.4 Bayi Baru Lahir
1. Pengertian Bayi Baru Lahir
Neonatus adalah bayi baru lahir dari kehamilan 37 minggu sampai 42
minggu dan berat badan lahir 2500 gram sampai 4000 gram (Depkes RI,
2002
2. Tujuan Asuhan Bayi Baru Lahir
Mengetahui derajat vitalitas dan mengukur reaksi bayi terhadap tindakan
resusitas. Derajat vitalitas bayi adalah kemampuan sejumlah fungsi tubuh
yang bersifat esensial dan kompleks untuk berlangsungnya kelangsungan
hidup bayi seperti pernafasan, denyut jantung, sirkulasi darah dan reflekrefleks primitive seperti menghisap dan mencari puting susu. (Saifuddin,
2006 )
3. Penilaian Asuhan Bayi Baru Lahir

61

Penilaian awal bayi baru lahir haru segera dilakukan secara tepat dan tepat
(0-30 detik), dengan cara menilai:
a. Apakah bayi mengis dengan kuat atau bernafas tanpa kesulitan?
b. Apakah bayi bergerak aktif?
c. Apakah kulit bayi berwarna merah muda, pucat, atau biru?
Identifikasi bayi baru lahir yang memerlukan asuhan tambahan adalah bila
bayi tidak menagis kuat, kesulitan bernafas, gerak bayi tidak aktif, warna
kulit bayi pucat. (APN, 2007)
4. Pencegahan Kehilangan Panas
Pada waktu baru lahir, bayi belum mampu mengatur tetap suhu badannya,
dan membutuhkan pengaturan dari luar untuk membantunya tetap hangat.
Bayi baru lahir harus dibungkus hangat , suhu tubuh bayi merupakan tolak
ukur kebutuhan akan tempat tidur yang hangat sampai suhu tubuhnya sudah
stabil, suhu bayi harus dicatat.
5. Pemotongan dan Perawatan Tali Pusat
Tali pusat dipotong 5 cm dari dinding perut bayi dengan menggunakan
gunting steril dan diikat dengan pengikat steril, tali pusat dibersihkan dan
dirawat dengan kassa steril.
6. Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
a. Pengertian IMD
Inisiasi Menyusu dini (early initiation) adalah bayi diberi kesempatan
mulai atau inisiasi menyusui sendiri segera setelah lahir/dini dengan cara
membiarkan kulit bayi melekat pada kulit ibu setidaknya satu jam atau
sampai menyusu awal selesai, dengan cara merangkak mencari payudara
(The Breast Crawl).

62

b. Tahapan Perilaku Bayi Sebelum Menyusui


Untuk mencari payudara, bayi merangkak melalui 5 tahapan, yaitu:
1) Dalam 30 menit pertama : istirahat siaga, sekali-kali melihat
ibunya, menyesuaikan dengan lingkungannya.
2) 30-40 menit : mengeluarkan suara, gerakan menghisap,
memasukan tangan ke mulut.
3) Mengeluarkan air liur
4) Kaki menekan-nekan perut ibu untuk bergerak kearah payudara.
5) Menjilat-jilat kulit ibu, menyentuh puting susu dan tangannya
6) Menghentakan kepala ke dada ibu, menoleh ke kanan dan kiri
7) Menemukan puting, menjilat, mengulum puting susu.
8) Membuka mulut lebar dan melekat dengan baik serta menghisap
dengan kuat pada puting susu ibu.
c. Manfaat IMD
1) Dada ibu menghangatkan bayi dengan tepat, sehingga
menurunkan AKB karena hypotermia.
2) Ibu dan bayi merasa tenang.
3) Memindahkan bakteri kulit ibu ke kulit bayi, dengan menjilat kulit
ibu maka bayi menelan bakteri berkoloni dan bakteri yang berada
diusus bayi akan menyaingi bakteri ganas dari lingkungannya.
4) Jalinan kasih sayang ibu-bayi lebih baik sebab bayi siaga 1-2 jam
pertama.
5) Mendapat colostrum, kaya anti bodi, penting untuk pertumbuhan
usus, ketahanan infeksi, kehidupan bayi.

63

6) IMD lebih berhasil menyusui eksklusif dan lebih lama disusui.


7) Sentuhan, emutan, jilatan pada puling merangsang pengeluaran
hormon oksitosin, penting untuk :
8) Kontraksi rahim, membantu mengurangi pendarahan.
9) Merangsang hormon lain membuat ibu tenang, rileks, mencintai
bayinya, meningkatkan ambang nyeri, kebahagiaan.
10) Merangsang pengeluaran ASI.
d. Tatalaksana Inisiasi Menyusu Dini
1) Dianjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu saat
melahirkan.
2) Dalam menolong ibu saat melahirkan, disarankan untuk tidak
atau mengurangi mempergunakan obat kimiawi.
3) Dikeringkan, kecuali tangannya, tanpa menghilangkan lemak
putih (vernix).
4) Tengkurupkan bayi di dada atau perut ibu dengan kulit bayi
melekat pada kulit ibu. Selimuti keduanya. Kalau perlu
menggunakan topi bayi
5) Biarkan

bayi

mencari

putting

susu

ibu

sendiri

Ibu

dapat merangsang bayi dengan sentuhan lembut. Bila perlu ibu


boleh mendekatkan bayi pada puting tapi jangan memaksakan
bayi ke puting susu
6) Biarkan bayi dalam posisi kulit bersentuhan dengan kulit ibu
sampai proses menyusu pertama selesai atau setelah satu jam
pertama IMD.

64

7) Tunda menimbang, mengukur, suntikkan vitamin K dan


menetesi dengan obat tetes mata sampai proses menyusu awal
selesai.
8) Ibu melahirkan dengan proses operasi berikan kesempatan skin
to skin contact.
9) Berikan ASI saja tanpa minuman atau makanan lain kecuali atas
indikasi medis. Rawat gabung ibu : ibu-bayi dirawat dalam satu
kamar dalam jangkauan ibu selama 24 jam.
10) Bila inisiasi dini belum terjadi dikamar bersalin : bayi tetap
diletakkan didada ibu waktu dipindah dikamar perawatan. Usaha
menyusu dini dilanjutkan dikamar perawatan ibu.
7. Pencegahan Perdarahan
Kejadian perdarahan karena defisiensi vitamin K pada bayi baru lahir
dilaporkan cukup tinggi, berkisar antara 0,25-0,5 %. Untuk mencegah
terjadinya perdarahan tersebut, diberi vitamin k parenteral dengan dosis
0,5-1 mg secara IM
8. Pencegahan Infeksi Mata
Cara mencegah infeksi pada mata bayi baru lahir adalah merawat mata
bayi baru lahir dengan mencuci tangan terlebih dahulu, membersihkan
kedua mata bayi segera setelah lahir dengan kapas atau sapu tangan halus
dan bersih yang telah dibersihkan dengan air hangat. Dalam waktu 1 jam
setelah bayi lahir, berikan salep/obat tetes mata untuk mencegah oftalmia
neonatorum (Tetrasiklin 1%, Eritromisin 0.5% AtauNitrasn, Argensi 1%),
biarkan obat tetap pada mata bayi dan obat yang ada di sekitar mata

65

jangan dibersihkan. Setelah selesai merawat mata bayi, cuci tangan


kembali. Keterlambatan memberikan salep mata, misalnya bayi baru
lahir diberi salep mata setelah lewat 1 jam setelah lahir, merupakan sebab
tersering kegagalan upaya pencegahan infeksi pada mata bayi baru lahir.
9. Kebutuhan Kesehatan Pada Bayi Baru Lahir Dengan Masalah
2.1.5

Keluarga Berencana
1. Pengertian Keluarga Berencana
Keluarga Berencana merupakan salah satu usaha untuk mencapai
kesejahteraan dengan jalan memberikan nasehat perkawinan, engobatan
kemandulan dan penjarangan kelahiran (Depkes RI, 2010).
2. Tujuan Keluarga Berencana
a. Tujuan Demografis
Yaitu dapat dikendalikan tingkat pertumbuhan penduduk sebagai
patokan dalam usaha mencapai tujuan tersebut telah ditetapkan suatu
target Demografi berupa penurunan angka fertilisasi dari 44 permil
pada tahun 1971 menjadi 22 permil 1990.
b. Tujuan Normatif
Yaitu dapat dihayati norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera
(NKKBS) yang pada waktunya akan menjadi falsafah hidup
masyarakat Indonesia.
3. Macam Kontrasepsi dan Cara Kerjanya
1. Metode Kontrasepsi Sederhana
Metode kontrasepsi sederhana ini terdiri dari 2 yaitu metode kontrasepsi
sederhana tanpa alat dan metode kontrasepsi dengan alat.
Metode kontrasepsi tanpa alat antara lain:
Metode Kontrasepsi Sederhana Tanpa Alat
1. Metode Amenorhoe Laktasi (MAL)

66

MAL merupakan metode kontrasepsi alamiah yang mengandalkan


pemberian ASI pada bayinya
Mekanisme kerja:
Menekan perkembangan folikel diovarium dan menekan ovulasi
2. Coitus Interuptus
Adalah pengeluaran penis dari vagina sesaat sebelum terjadinya
ejakulasi
3. Metode Kalender
Menghindari senggama dalam periode subur dalam siklus menstruasi
untuk menghindarkan terjadinya kehamilan
4. Metode Lendir Serviks (MOB)
Menunjukkan masa subur dari lendir serviks adalah lendir basah,
jernih, licin dan elastis(hari pantang senggama) dan lendir kental,
keruh, kekuningan dan lengket menunjukkan masa tidak subur.
5. Metode Suhu Basal Badan
Pantang senggama dilakukan mulai ada kenaikan suhu basal 3 hari
berurutan dan hari puncak subur
6. Simptotermal
Yaitu perpaduan antara suhu basal dan lendir serviks.
Metode Kontrasepsi Sederhana Dengan Alat yaitu:
1) Kondom
Selubung tipis terbuat dari karet, plastik atau bahan ilmiah lainnya
tanpa atau diberi spermisida untuk menambah efek kontrasepsi.
Mekanisme kerja:

67

Mencegah sperma masuk kesaluran reproduksi wanita

Sebagai kontrasepsi yang melindungi dari penyakit menular


seksual

2.) Diafragma
Lateks (karet) yang berbentuk kubah yang dimasukkan kedalam
vagina untuk menutupi serviks sebelum senggama
Mekanisme kerja : Mencegah masuknya sperma melalui kanalis
servikalis keuterus dan saluran telur
3) Spermisida
Bahan kimia yang dapat menonaktifkan atau membunuh sperma
Mekanisme kerja:
Menyebabkan selaput sel sperma pecah sehingga motilitas dan
aktifitas dalam transportasi dan fertilisasi menjadi terganggu
4)

Metode Kontrasepsi Hormonal


Metode kontrasepsi hormonal pada dasarnya dibagi menjadi 2 yaitu
kombinasi (mengandung hormon progesteron dan esterogen
sintetik) dan yang hanya berisi progesteron saja.
Kontrasepsi hormonal kombinasi terdapat pada pil dan suntikan/
injeksi. Sedangkan kontrasepsi hormon progesteron terdapat pada
pil, suntik dan implant.
Mekanisme Kerja :

Mencegah lender serviks sehingga menurunkan kemampuan

penetrasi sperma
Menjadikan selaput lender rahim tipis dan atropi
Menghambat transportasi garnet oleh tuba
5) Metode Kontrasepsi dengan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

68

Metode kontrasepsi ini secara garis besar dibagi menjadi 2 yaitu


AKDR yang mengandung hormon (sintetik progesteron) dan yang
tidak mengandung hormon.
Mekanisme kerja:

Menurunkan motilitas sperma melalui kavum uteri

Mengentalkan lendir serviks

Mengganggu proses reproduksi sebelum sel telur mencapai


kavum uteri

6) Implan
Jenis implan:

Norplant: 6 batang yang berisi levonogestrel (5 tahun)

Implanon: 1 batang yang berisi 68 mg-keto-desogestrel (3


tahun)

Jedena dan implanon: 2 batang, berisi 75 mg levonogestrel (3


tahun)

Mekanisme kerja:

Menekan ovulasi

Mengurangi motilitas tuba

Mengganggu pertumbuhan endometrium

Menebalkan mukus serviks

7) Metode Kontrasepsi Mantap


Metode kontrasepsi mantap terdiri dari 2 macam yaitu Metode
Operatif Wanita (MOW) dan Metode Operatif Pria (MOP). MOW

69

sering dikenal dengan Tubektomi karena prinsip metode imi adalah


memotong atau mengikat saluran tuba/ tuba falopii sehingga
mencegah pertemuan antara ovum dan sperma. Sedangkan MOP
sering dikenal dengan Vasektomi yaitu memotong atau mengikat
saluran vas deferens sehingga cairan sperma tidak diejakulasikan.
4. Indikasi dan Kontraindikasi Kontrasepsi
5. Efek Samping Kontrasepsi
6. Konseling
Konseling merupakan aspek yang sangat penting dalam pelayanan
keluarga berencana. Dengan melakukan konseling berarti petugas
membantu klien dalam memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang
akan digunakan sesuai pilihannya.
Jika klien belum mempunyai keputusan karena disebabkan ketidaktahuan
klien tentang kontrasepsi yang akan digunakan, menjadi kewajiban bidan
untuk

memberikan

informasi

tentang

kontrasepsi

yang

dapat

dipergunakan oleh klien, dengan memberikan informasi tentang


kontrasepsi yang dapat dipergunakan oleh klien, dengan memberikan
beberapa alternative sehingga klien dapat memilih sesuai dengan
pengetahuan dan keyakinan yang dimilikinya.
1) Tujuan Konseling:
a. Calon peserta KB memahami manfaat KB bagi dirinya maupun
keluarganya.
b. Calon peserta KB mempunyai pengetahuan yang baik tentang alasan
berKB, cara menggunakan dan segala hal yang berkaitan dengan
kontrasepsi.
c. Calon peserta KB mengambil keputusan pilihan alat kontrasepsi
2) Sikap Bidan Dalam Melakukan Konseling Yang Baik Terutama Bagi
Calon Klien Baru
a. Memperlakukan klien dengan baik
b. Interaksi antara petugas dan klien

70

Bidan harus mendengarkan, mempelajari dan menanggapi keadaan klien


serta mendorong agar klien berani berbicara dan bertanya
c. Member informasi yang baik kepada klien
d. Menghindari pemberian informasi yang berlebihan
Terlalu banyak informasi yang diberikan akan menyebabkan kesulitan
bagi klien untuk mengingat hal yang penting.
e.Tersedianya metode yang diinginkan klien
3) Langkah Konseling
Dalam memberikan konseling, khususnya bagi calon klien baru,
hendaknya dapat dierapkan 6 langkah yang sudah dikenal dengan kata
kunci SATU TUJU. Penerapan SATU TUJU tersebut tidak perlu
dilakukan secar berurutan karena harus disesuaikan dengan kebutuhan
klien. Beberapa klien membutuhkan lebih banyak perhatian pada langkah
yang satu dibanding dean langkah yang lain. Kata kunci SATU TUJU
adalah sebagai berikut:
SA

= SApa dan SAlam kepada klien secara terbuka dan sopan. Berikan

perhatian sepenuhnya kepada mereka dan berbicara di tempat yang


nyaman serta terjamin terjamin privasinya. Yakinkan klien untuk
membangun rasa percaya diri. Tanyakan kepada klien apa yang perlu
dibantu serta jelaskan pelayanan apa yang dapat diperolehnya.
T

= Tanyakan pada klien informasi tentang dirinya. Bantu klien

untuk berbicara mengenai pengalaman keluarga berencana dan kesehatan


reproduksi, tujuan, kepentingan, harapan, serta keadaan kesehatan dan
kehidupan keluarganya. Tanyakan kontrasepsi yang diinginkan oleh
klien. Berikan perhatian kepada klien apa yang disampaikan klien sesuai
dengan kata-kata, gerak isyarat dan caranya. Coba tempatkan diri kita

71

didalam hati klien. Perlihatkan bahwa kita memahami. Dengan


memahami pengetahuan, kebutuhan dan keinginan klien, kita dapat
membantunya.
U

= Uraikan kepada klien mengenai pilihannya dan beritahu apa

piihan reproduksi yang paling mungkin, termasuk pilihan beberapa jenis


kontrasepsi. Bantulah klien pada jenis kontresepsi yang paling dia ingini,
serta jelaskan pula jenis-jenis kontrasepsi lain yang ada. Juga jelaskan
alternatif kontrasepsi lain yang mungkin diinginkan oleh klien. Uraikan
juga mengenai risiko penularan HIV/AIDS dan pilihan metode ganda.
TU

=BanTulah klien menentukan pilihananya. Bantulah klien berpikir

mengenai apa yang paling sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya.


Doronglah klien untuk menunjukkan keinginannya dan mengajukan
pertanyaan. Tanggapilah secara terbuka. Petugas membantu klien
mempertimbangkan kriteria dan keinginan klien terhadap setiap jenis
kontrasepsi. Tanyakan juga apakah pasangannya juga memberikan
dukungan dengan pilihan tersebut. Jika memungkinkan diskusikan
mengenai pilihan tersebut kepada pasangannya. Pada akhirnya yakinkan
bahwa klien telah membuat suatu keputusan yang tepat. Petugas dapat
menanyakan: Apakah Anda sudah memutuskan pilihan jenis kontrasepsi?
Atau apa jenis kontrasepsi terpilih yang akan digunakan?
J

= Jelaskan secara lengkap bagaimana cara menggunakan

kontrasepsi pilihannya. Setelah kien memilih jenis kontrasepsinya, jika


diperlukan, perlihatkan alat/obat kontrasepsinya. Jelaskan bagaimana
alat/obat

kontrasepsi

tersebut

digunakan

dan

bagaimana

cara

72

penggunaannya. Sekali lagi doronglah klien untuk bertanya dan petugas


menjawab secara jelas dan terbuka. Beri penjelasan juga tentang manfaat
ganda metode kontrasepsi, misalnya kondom yang dapat mencegah
infeksi menular seksual (IMS). Cek pengetahuan klien, tentang
penggunaan kontrasepsi pilihannya dan puji klien apabila dapat
menjawab dengan benar.
U

= Perlunya dilakukan kunjungan Ulang. Bicarakan dan buatlah

perjanjian kapan klien akan kembali untuk melakukan pemeriksaan


lanjutan atau permintaan kontrasepsi jika dibutuhkan. Perlu juga selalu
mengingatkan klien untuk kembali apabila terjadi suatu masalah.

Manajemen kebidanan
1.

Proses Manajemen Kebidanan


Menurut Varney (2007), manajemen kebidanan adalah prosess
pemecahan

masalah

yang

digunakan

sebagai

metode

untuk

mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah,


temuan, keterampilan dalam rangkaian atau tahapan yang logis untuk
mengambil suatu keputusan yang terfokus pada klien.
Proses manajemen kebidanan terdiri dari langkah langkah
sebagai berikut :
a. Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk menilai
keadaan klien secara keseluruhan.
b. Menginterpretasikan data untuk menidentifikasi diagnosa dan
masalah.

73

c. Mengidentifikasi

diagnosa atau masalah potensial

dan

mengantisipasi penanganannya.
d. Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, konsultasi,
kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain serta rujukan berdasarkan
kondisi klien.
e. Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan mengulang
kembali manajemen proses untuk aspek aspek asuhan yang tidak
efektif.
f. Melihat dari penjelasan diatas maka proses manajemen kebidanan
merupakan suatu langkah sistematis yang menjadi pola pikir bidan
dalam

melaksanakan

asuhan

kepada

klien

diharapkan

menggunakan pendekatan pemecahan masalah yang sistematis dan


rasional sehingga semua asuhan yang diberikan bidan pada klien
akan efektif.
2.

Dokumentasi Asuhan Kebidanan


Dokumentasi adalah catatan tentang interaksi antara tenaga
kesehatan, pasien, keluarga pasien, keluarga pasien dan tim kesehatan
yang mencatat tentang hasil dari pemeriksaan prosedur, pengobatan
pada pasien dan pendidikan pada pasien serta respon terhadap semua
asuhan yang telah dilakukan.
Alur berfikir saat menghadapi klien meliputi 7 langkah Varney dan
di dokumentasikan dalam bentuk SOAP, yaitu :

74

a.

(Subjektif),

menggambarkan

pendokumentasian

hasil

pengumpulan data klien melalui anamnesis sebagai langkah 1


Varney.
b. O

(Objektif),

menggambarkan

pendokumentasian

hasil

pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorrium dan uji diagnostik lain


yang merumuskan dalam data fokus untuk mendukung asuhan
sebagai langkah 1 Varney.
c.A

(Analisa), menggambarkan pendokumentasian hasil analisis

dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi


1) Diagnosis atau masalah potensial
2) Antisipasi diagnosis atau masalah potensial
3) Perlunya tindakan segera oleh bidan/ dokter, konsultasi atau
kolaborasi serta rujukan sebagi 2, 3 dan 4 Varney.
d. P

(Penatalaksanaan), menyusun suatu rencana secara

menyeluruh dan melaksanakan asuhan asuhan secara efisien


dan aman serta mengevaluasi keefektifan
diberikan. Sebagai langkah 5, 6 dan 7 Varney.

asuhan yang

75