Anda di halaman 1dari 27

BAB II

TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Dasar Lekorhea
2.1.1 Pengertian Leukorhea
Leukorhea adalah cairan putih yang dapat keluar dari liang senggama
secara berlebihan. (manuaba, 2004)
Leukorhea adalah semua pengeluaran cairan alat genetalia bukan darah
(manuaba, 2002)
Leukorhea adalah yang keluar dari vagina, pengertian lain:

Setiap cairan yang keluar dari vagina selain darah, dapat berupa secret,
transudasi atau eksudat dar organ atau lesi dari saluran genital.

Cairan normal vagina yang berlebih, hanya meliputi sekresi dan transudasi
yang berlebih, tidak termasuk eksudat (Kapita Selekta Kedokteran, 2001)

2.1.2

Jenis-Jenis Leukorhea

a. Leukorhea normal
Dapat terjadi pada masa menjelang dan sesudah menstruasi pada akhir fase
sekresi antara lain hari ke 10-16 menstruasi, juga terjadi melalui masa
rangsang seksual.
b. Leukorhea abnormal
Dapat terjadi pada injeksi otot kelamin. Leukorhea bukan penyakit tetapi
merupakan gejala penyakit sehingga sebab yang pasti perlu ditetapkan.
Leukorhea sebagai gejala penyakit dapat ditentukan melalui anamnesa.
2.1.3 Etiologi Leukorhea / Fluor Albus
a.

Ketidakseimbangan pada menstruasi, penyakit kencing


manis, pemakaian obat-obata hormonal.

b.

Kelelahyan dan stress sehingga keasaman terganggu dan


kuman-kuman yang dapat menyebabkan infeksi.

c.

Kurang bersihnya menjaga kebersihan dari terutama vagina

d.

Infeksi yang biasanya menimbulkan fluor yang berwarna


kuning / hijau.

e.

Bertambahnya secret normal yang sifatnya jernih.

f.

Konstitusional : pada keadaan asthenia, anemia, nephritis


kronis dan bandungan umum (decompensation cordis, Cirrhosis hepatic).

g.

Kelainan endokrin seperti pada functional bleeding (kadar


estrogen tinggi) pada kehamilan karena hydraemia dan pengaruh endokrin.

h.

Infeksi
Vulvitisvulvo vaginitis
Disebabkan oleh :
- Kuman-kuman

streptococcus,

staphylococcus,

haemophilus

vaginalis, becil coli.


- Protozoa : trichomonas vaginalis
- Fungus : monilia
- Cacing oxyuris (pada anak)
-

Vaginitis (colpitis)

Vagina pada wanita dewasa agak resisten terhadap infeksi yang ditimbulkan
oleh : becil doserlein, micrococcus catarrhalis, basil coli. Kemungkinan infeksi
lebih besar pada anak dan wanita dalam menopause (vaginitis senilis).
Servicitis
Oleh gonococcus, staphylococ dan streptococ .
Endometritis
Terutama terjadi kalau ada sisa palsenta atau neoplasema.
Salpingitis
Gonococ, streptococ, stanpylococ, bae tbe.
Penyebab lain leukorea atau keputihan antara lain:
a. Corpus allienum : possarium, rambut kemaluan, rambut wol, kain atau
kapas.
b. Adanya benda asing seperti tertinggalnya kondom atau benda tertentu yang
dipakai pada waktu senggama,
c. Adanya cincin pesarium yang digunakan wanita dengan prolapsus uteri
dapat merangsang pengeluaran cairan vagina yang berlebihan. Jika
rangsangan ini menimbulkan luka akan sangat mungkin terjadi infeksi
penyerta dari flora normal yang berada di dalam vagina sehingga timbul
keputihan

d. Kanker

akan

menyebabkan

leukorea

patologis

akibat

gangguan

pertumbuhan selnormal yang berlebihan sehingga menyebabkan sel


bertumbuh sangat cepat secara abnormaldan mudah rusak, akibatnya terjadi
pembusukan dan perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah yang
bertambah untuk memberikan makanan dan oksigen pada sel kanker
tersebut.Pada keadaan seperti ini akan terjadi pengeluaran cairan yang banyak
disertai bau busuk akibat terjadinya proses pembusukan dan seringkali
disertai oleh adanya darah yang tidak segar.
e. Alat- alat atau obat- obat kontrasepsi.
2.1.4

Asal Leukorhea/Fluor Albus

a.

Vulva
Sekret dalam vulva dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar Bartholini dan Skene.
Sekret ini bertambah pada perangsangan misalnya sewaktu coitus. Kalau
kelenjar-kelenjar tersebut diatas meradang misalnya karena infeksi dengan
gonococcus, maka secret berubah menjadi fluor.

b.

Vagina
Vagina tidak mempunyai kelenjar dan dibasi oleh cairan transudat dan oleh
lendir dari serviks. PH dalam vagina kurang lebih 5 disebabkan karena
kegiatan hasil doderlein yang mengubah glycogen yang terdapat dalam epitel
vagina menjadi acidum lacticum. Dalm kehamilan cairan bertambah secara
fisilogis.

c.

Cervix
Secret cervix yang normal bersifat jernih, liat dan alkalis. Secret ini
dipengaruhi hormon-hormon avarium baik kuantitas mapun kualitasnya.
Secret bertambah juga pada infeksi (cervicitis) yang dipermudah kejadiannya
oleh robekan cervix dan tumor cervix.

d.

Corpus Uteri
Hanya menghasilkan secre pada fase post ovulatoir. Sekre bertambah pada
endometri akut, kalau ada sisa plasenta, polip, nyoman dan carcinoma.

2.1.5 Komplikasi Leukorhea / Flour Albus


1. Pada kasus yang tidak diobati, infeksi vagina sederhana dapat
menyebar ke traktus reproduksi bagian atas dan menyebabkan penyakit
lain yang lebih serius, dan dalam waktu yang lama dapat terjadi infertilitas
2. Seperti halnya apabila benda asing bertahan di dalam tubuh dapat terjadi
toxic shock syndrome
3. Polip servikalis umumnya tidak membahayakan walaupun dapat
menyebabkan infertilitas pada waktu berkembang sangat besar
4. Adanya komplikasi yang spesifik berhubungan dengan leukorea pada
kehamilan seperti kelahiran prematur, ruptur membrane yang prematur,
berat badan bayi lahir rendah, dan endometritis paska kelahiran.
peradangan vagina dapat menyebabkan komplikasi kehamilan seperti
pecahnya plasenta terlalu dini, infeksi di kantung ketuban, yang dapat
menjurus pada kelahiran prematur.
2.1.6 Tanda dan Gejala Leukorhea
Gejala klinis dari leukorea atau keputihan antara lain:
1. Gatal, berbau, dan berbuih.
2. Sekret vagina bertambah banyak.
3. Bergumpal, campur darah
4. Dispareunia / sakit pada waktu koitus.
5. Disuria / rasa panas saat kencing.
2.1.7 Pencegahan Leukorhea
Leukorea dapat dicegah dengan berbagai cara, diantaranya :
Obat antiseptik
Jangan membersihkan vagina dengan obat-obatan antiseptik setiap hari
atau sebentar-sebentar dicuci. Bila hendak membersihkan dengan
menggunakan obat-obatan cukup dilakukan dua minggu sekali, yaitu di
pertengahan siklus menstruasi.
Harus steril
Penggunaan tisu basah atau produk panty liner harus betul-betul steril.
Bahkan, kemasannya pun harus diperhatikan. Jangan sampai menyimpan
sembarangan, misalnya tanpa kemasan ditaruh dalam tas bercampur

dengan barang lainnya. Karena bila dalam keadaan terbuka, bisa saja panty
liner atau tisu basah tersebut sudah terkontaminasi.
Tidak lembab
Perhatikan kebersihan setelah buang air besar atau kecil. Setelah bersih,
jangan lupa untuk mengelapnya dengan tisu kering atau handuk khusus.
Jangan dibiarkan dalam keadaan lembab.
Kebersihan air
Bila buang air kecil di tempat umum, perhatikan kebersihan airnya. Bila
ragu, sebaiknya dilap saja dengan tisu.
Gunakan bahan katun
Jangan sekali-kali menggunakan celana yang berbahan nilon. Bahan katun
lebih baik karena menyerap keringat.
Tak perlu dibedaki
Jangan memberi bedak/talk pada daerah vagina. Karena bisa menimbulkan
keganasan (kanker) di indung telur.
Berkaitan dengan sanggama
Bila melakukan senggama, usahakan sebelum dan sesudahnya baik isteri
maupun suami, menjaga kebersihan alat kelaminnya.
2.1.8 Pemeriksaan Lekorhea
1) Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan dalam
Pemeriksaan yang khusus harus dilakukan adalah pemeriksaan genitalia
yang meliputi: inspeksi dan palpasi genitalia eksterna; pemeriksaan
spekulum untuk melihat vagina dan serviks; pemeriksaan pelvis bimanual
untuk menilai cairan dinding vagina.
2) Pemeriksaan penunjang
a) Nilai sekresi dinding vagina ( warna, konsistensi, bau )
b) Penentuan pH. Penentuan pH dengan kertas indikator pH ( N = 4 - 4,5 )
c) Swab untuk pemeriksaan dengan larutan garam fisiologis dan KOH 10 %
d) Kultur ( bila perlu )
e) Pewarnaan gram
f) Serologis sifilis VDRL ( Venereal disease research laboratory) dan TPHA
( Microhemagglutination assay for antibodies to
5

treponema pallidum )

g) Tes Pap smear


2.1.9 Diagnosa Leukorhea
Diagnosis ditegakkan dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan dalam serta pemeriksaan laboratorium
2.6.1 Anamnesa
Yang harus diperhatikan dalam anamnesis adalah:
a. Usia.
Harus dipikirkan kaitannya dengan pengaruh estrogen. Bayi wanita atau
pada wanita dewasa, leukorea yang terjadi mungkin karena pengaruh
estrogen yang tinggi dan merupakan leukorea yang fisiologis. Wanita
dalam usia reproduksi harus dipikirkan kemungkinan suatu penyakit
hubungan seksual (PHS) dan penyakit infeksi lainnya. Pada wanita dengan
usia yang lebih tua harus dipikirkan kemungkinan terjadinya keganasan
terutama kanker serviks.
b. Metode kontrasepsi yang dipakai.
Pada penggunaan kontrasepsi hormonal dapat meningkatkan sekresi
kelenjar serviks. Keadaan ini dapat diperberat dengan adanya infeksi
jamur. Pemakaian IUD juga dapat menyebabkan infeksi atau iritasi pada
serviks yang merangsang sekresi kelenjar serviks menjadi meningkat.
c. Kontak seksual.
Untuk mengantisipasi leukorea akibat PHS seperti gonorea ,kondiloma
akuminata, herpes genitalis, dan sebagainya. Hal yang perlu ditanyakan
adalah kontak seksual terakhir dan dengan siapa dilakukan.
d. Perilaku.
Pasien yang tinggal di asrama atau bersama dengan teman-mungkinan
tertular penyakit infeksi yang menye babkan terjadinya leukorea cukup
besar. Contoh kebiasaan yang kurang baik adalah tukar menukar peralatan
mandi atau handuk.
e. Sifat leukorea.
Hal yang harus ditanyakan adalah jumlah, bau, warna, dan konsistensinya,
keruh/jernih, ada/tidaknya darah, frekuensinya dan telah berapa lama
kejadian tersebut berlangsung. Hal ini perlu ditanyakan secara detail

karena dengan mengetahui hal hal tersebut dapat diperkirakan


kemungkinan etiologinya.
2.1.10 Penatalaksaan Leukorhea
2.1.10.1 Preventif
Pencegahan dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya :
a) Memakai alat pelindung.
Hal ini dilakukan untuk mencegah kemungkinan tertularnya penyakit karena
hubungan seksual, salah satunya dengan menggunakan kondom.Kondom dinilai
cukup efektif dalam mencegah penularan PMS
b) Pemeriksaan dini.
Kanker serviks dapat dicegah secara dini dengan melakukan pemeriksaan pap
smear secara berkala. Dengan pemeriksaan pap smear dapat diamati adanya
perubahan sel-sel normal menjadi kanker yang terjadi secara berangsur-angsur,
bukan secara mendadak.
2.1.10.2 Kuratif
Terapi leukorea harus disesuaikan penyebabnya :
a) Bakteri
Gonokokkus dapat diberikan: Tetrasiklin 4x 250 mg peroral/hari
selama10 hari atau dengan kanamisin dosis 2 gram IM. Obat lainnya
adalah sefalosporin dengan dosis awal 1 gram selanjutnya 2 x 500
mg/hari selama 2 hari. Sedangkan pada wanita hamil dapat diberikan
eritromisin 4x250 mg per oral/hari selama 10 hari
Gardnerella vaginalis dapat diberikan clindamycin 2 x 300 mg per
oral/ hari selama 7 hari. Obat lainnya metronidazole 3 x 250 mg per
oral/hari selama 7 hari (untuk pasien dan suaminya).
b) Jamur
Candida Albicans :
Dapat diberikan
-

Nistatin 3 X 500.000 U/ hari oral ( 7 10 hari ) atau 2 X 100.000

U / hari prevaginam ( 14 hari )


Klotimazol : pervaginam 100 mg ( 7 hari )
Gentian violet 5 %
Mikonazol : Krim pervaginam ( 7 14 hari )

Krem hidrokortison 0,5 %


Sumber infeksi di usus

Obati partner

c) Parasit
Trikomonas vaginalis
-

Metronidazol 3 X 250 mg (10 hari )


Pemakaian kondom
Obati partner
Perhatikan kronis

d) Virus
Neisseria gonorrhoeae : Ampisillin 3,5 gr oral atau tetrsasiklin 4 X 500
mg ( 10 hari )
Klamidia trakomatis : Diberikan tetrasiklin 4 x 500 mg per oral / hari
selama 7 10 hari
Treponema pallidum : Benzatin Penisilin G 2,4 juta unit IM dosis
tunggal atau Doksisiklin 2 x 200 mg peroral selama 2 minggu.
Selain itu, dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan daerah intim sebagai
pencegahan sekaligus mencegah berulangnya keputihan, yaitu:
1. Pola hidup sehat yaitu diet yang seimbang, olahraga rutin, istirahat cukup,
hindari rokok dan alkohol serta hindari stress berkepanjangan.
2. Setia kepada pasangan. Hindari promiskuitas atau gunakan kondom untuk
mencegah penularan penyakit menular seksual.
3. Selalu menjaga kebersihan daerah pribadi dengan menjaganya agar tetap
kering dan tidak lembab.
4. Hindari penggunaan bedak talkum, tissue atau sabun dengan pewangi pada
daerah vagina karena dapat menyebabkan iritasi.

2.1.11 Tabel Penggolongan Leuchorea

Leuchorea / Keputihan
2

Jernih, berlendir
Susu kental,
banyak,
lengket,
bausangat
(-)
Coklat,
banyak,seperti
bau
Abu-abu
(-),
airmerangsang
sangat
dengan
banyak,
garis darah,
lembabencer, sa

Ovulasi hiperewstrogen
Senvisitis
stress
Vaginitis
Ulkus vagina servisitis piogonik
Vaginitis
Servitis
(corinobactireum vaginalo)
Stenosis serviks
Endometritis
Neoplasma

Putih encer berbintik


Merah muda
banyak,
Kuning
serosa
bau
kehijauan,
banyak
apek dibau
berbusa,
sertai penyakit
merah,
Kuning
sistemik
sangat
kental,
banyak,
buang
sangat
air
gatal,
banyak,
kecilberbau
panas
panas,
pruritis
busuk,
gatal,
nyeri
vulva
ny

Infeksi bakteri non spesifik hipoestrogen


Candida Albicans Tricchomonas VaginalisNiesseria Gonorr

Tetraiklin eritromisin 4 x 5
Medikamentosa
Vaginitis
nistalinAtrofi
klotrimazol gentian violet 5%Metrodonazol
mokonazol krem
3 x 25
hidrokorstison
mg (oral) 0,5%
Sumber infeksi di usus
Pemakaian kondom
Obati partner
Obati partner
Anjuran
Dispareunia gatal vagina kering

Estrogen oral suppositoria/ krem estrogen (dienestrol premaoor)

2.2

Konsep Dasar Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Kespro

1.

Pengkajian
A.

Data Subyektif

1.

Biodata
Nama

Untuk menghindari kesalahan-kesalahan dalam pemberian


asuhan.
o Umur
Untuk mengetahui keadaan reproduksi klien.
o Suku/ bangsa
Untuk mengetahui apakah ada kebiasaan-kebiasaan atau adat
istiadat.
o Agama
Untuk

mengetahui

kemungkinan

pengaruhnya

terhadap

kesehatan klien, mempermudah dalam melakukan tindakan.


o Pendidikan
Untuk mengetahui tingkat pendidikan yang mempengaruhi
sikap atau keadaan.
o Pekerjaan
Untuk mengetahui keadaan sosial ekonomi.
o Alamat
Untuk menghindari kesalahan dalam memberikan asuhan.
2.

Keluhan utama
Hal yang dirasakan ibu setelah ber KB meliputi:
o

Spoting ( perdarahan sedikit- dikit )

Mual dan pusing

Tidak haid

3.

Riwayat kehamilan, persalinan, nifas dan meneteki


yang lalu
Untuk mengetahui adakah faktor resiko, penyulit atau komplikasi yang
berhubungan dengan kondisi klien dan mengetahui apakah proses
persalinan berjalan normal/ tidak serta berapa lama meneteki.
10

4.

Status perkawinan
Untuk mengetahui umur pertama kali menikah dan lamanya umur
pernikahannya.

5.

Riwayat kesehatan/ penyakit klien


Untuk mengetahui apakah klien mempunyai penyakit yang menular
dan menurun atau tidak.

6.

Riwayat kesehatan/ penyakit keluarga


Untuk mengetahui apakah keluaraga klien mempunyai penyakit yang
menular dan menurun atau tidak.

7.

Pola kehidupan sehari-hari


Kebutuhan nutrisi dan cairan

Untuk mengetahui nutrisi yang masuk ke dalam tubuh apakah


sudah mencukupi atau tidak.
Pola Eliminasi

Untuk mengetahui apakah klien sudah BAB/ BAK.


Pola istirahat

Untuk mengetahui apakah klien dapat beristirahat cukup atau tidak.


Pola hygiene

Untuk mengetahui apakah ibu mampu menjaga kebersihan


tubuhnya atau tidak.
8.

Data psikososial
Untuk mengetahui apakah suami dan keluarga mendukung ibu ikut KB
atau tidak.

B.

Data Obyektif

1.

Pemeriksaan fisik umum


o

Keadaan umum

Kesadaran

Tekanan darah :

Nadi

Suhu :

2.

Pemeriksaan fisik khusus


a. Inspeksi (mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki).
11

Kepala/ muka : simetris/ tidak, ada perubahan pada


kulit/ tidak, oedema/ tidak, pucat/ tidak.

Mata : Konjungtiva merah muda/ tidak, warna skelera


putih/ tidak, luka/ tidak.

Telinga : ada lesi/ tidak, infeksi/ tidak, ada serumen/


tidak

Hidung : simetris/ tidak, ada sekret/ tidak, ada polip/


tidak.

Mulut/ tenggorokan : simetris/ tidak, bau mulut/ tidak,


ada luka (bibir, gusi, mukosa, lidah)/ tidak, ada
pembesaran tonsil/ tidak.

Leher : ada pembesaran kelenjar thyroid/ tidak, ada


distensi vena jugularis/ tidak, ada keterbasan gerak/
tidak.

Buah dada : ada pembesaran/ tidak, simetris/ tidak,


warna areola hitam/ tidak, puting menonjol/ tidak,
bersih/ tidak, ada benjolan abnormal/ tidak.

Abdomen : simetris/ tidak, ada luka/ tidak, ada striae/


tidak.

Genito urinaria : ada verices/ tidak, ada kemerahan/


tidak, oedema pada saluran urinaria / tidak.

Anus : ada haemorid/ tidak

Ektrimitas atas : oedema/ tidak, simetris/ tidak, acral


hangat/ tidak.

Ekstrimitas bawah : oedema/ tidak, simetris/ tidak, acral


hangat/ tidak, reflek patella +/+ atau tidak.

b. Palpasi
-

Leher : ada pembesaran kelenjar Thyroid/


tidak, ada distensi vena jugularis/ tidak,
ada keterbatasan gerak/ tidak.

12

3.

Payudara : ada benjolan abnormal/ tidak.

Pemeriksaan Penunjang :
HB

: tidak dilakukan

Protein

: tidak dilakukan

Urine

: tidak dilakukan

Reduksi

: tidak dilakukan

II. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH


Menilai dan menganalisa data yang telah dikaji sehingga menjadi rumusan
diagnosa sehingga dalam membuat perencanaan.
Diagnosa : Ny N usia 25 tahun dengan leukorhea.
III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL
Mengidentifikasi

kemungkinan-kemungkinan

yang

akan

terjadi

berdasarkan identifikasi diagnosa/ masalah.


IV. KEBUTUHAN TINDAKAN SEGERA
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan/ dokter atau
untuk dikosultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan
yang lain sesuai dengan kondisi pasien.
V. INTERVENSI/ PLANNING
Merencanakan asuhan menyeluruh yang rasional dengan temuan dari
langkah-langkah sebagai berikut :
1)
2)
3)
4)

Lakukan pendekatan terapeutik


Jelaskan hasil pemeriksaan
Anjurkan pasien menaga vulva hygiene
Anjurkan ibu untuk menggunakan celana dalam yang dapat menyerap

5)
6)
7)
8)

keringat
Anjurkan pada ibu tidak menggunakan cairan pembersih vagina
Anjurkan ibu untuk melakukan pap smear
Anjurkan ibu untuk minum obat secara teratur
Anjurkan ibu kontrol ulang

VI. IMPLEMENTASI
Pada langkah ini rencana asuhan yang menyeluruh seperti yang telah
diuraikan pada langkah lima dilaksanakan secara efisien dan aman.
VII. EVALUASI
13

Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan.


S = Data Subyektif
Data pelaksanaan yang didapat dari anamnesa bidan dengan ibu
O = Data Obyektif
Hasil pemeriksaan fisik beserta pemeriksaan diagnostik, dan
pendukung lain juga catatan medik lain
A = Analisa dan Interpretasi berdasarkan data yang terkumpul dan dibuat
kesimpulan
P

= Planning / perencanaan mempunyai gambaran pendokumentasian


dari tindakan (implementasi) didalamnya termasuk asuhan
mandiri,kolaborasi, test diagnostik atau laboratorium, konseling
dan follow up.

14

BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA NY V USIA 25 TAHUN
P10001 DENGAN LEUKORHEA
DI BPS ARIFIN
SURABAYA
No.register/RM
: 118/247
Nama Pengakaji

: Ribka Iis A.Nggeo

Tanggal Pengakajian

: 28-7-2015

Jam Pengkajian

: 18.30 WIB

Tempat Pengakajian

: BPS Ny. Arifin

I.

Pengkajian

A. Data Subyektif
1. Biodata
Nama Klien

: Ny. A

Nama Suami : Tn. R

Umur

: 25 Tahun

Umur

: 28 tahun

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: IRT

Pekerjaan

: swasta

Penghasilan

:-

Penghasilan

: Rp. 3.000.000/bln

Alamat

: Jl. Wonorejo

Alamat

: Jl.Wonorejo

2. Alasan Datang
Ibu mengatakan datang ke BPM untuk memeriksakan keputihannya.
3. Keluhan Utama
Ibu mengatakan mengalami keputihan setiap kali setelah berhubungan
seksual dengan suami, serta merasa sakit pada saat buang air kecil.
4. Riwayat Kesehatan
a. penyakit sekarang
Ibu mengatakan mengalami keputihan sejak 3 bulan yang lalu,keputihan
ini terjadi setiap kali setelah selesai berhubungan seksual dengan suami,
keputihan tersebut berwarna putih kekuningan,terasa sedikit gatal dan
tidak berbau serta ibu mengatakan merasa sakit pada lubang kencing
(meatus uretra) saat buang air kecil.
b. Riwayat penyakit lalu

15

Ibu mengatakan tidak pernah menderita apapun seperti hipertensi,


penyakit jantung, diabetes serta penyakit menular seksual (PMS) yang
dapat mempengaruhi dan memperparah keputihannya.
c. Riwayat penyakit keluarga
Ibu mengatakan dari pihak ibu maupun suami tidak ada yang menderita
penyakit menular, menurun ataupun menahun seperti hipertensi, diabetes,
penyakit jantung maupun penyakit menular seksual (PMS)
5. Riwayat pernikahan
Menikah

: 1 kali

Umur menikah

: 23 tahun

Lama menikah

: 2 tahun

6. Riwayat haid
Menarche

: 12 tahun

Nyeri haid

: Tidak ada

Lama haid

: 5 hari

Siklus haid

: 28 hari

Banyaknya

: 2-3 pembalut
Hari ke 1-3 = 3X ganti pembalut (penuh)
Hari ke 5

Flour Albus

= 2X ganti pembalut (sedang)

: Ibu mengatakan mengalami keputihan berwarna putih

kekuningan,tidak terasa gatal dan tidak berbau


7. Riwayat KB
Ibu mengatakan sejak menikah belum pernah menjadi akseptor kontrasepsi
apapun.
8. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang lalu :
Penol
No Tgl/ thn UK
Tempat
Penyulit
ong
Jenis
Persalin
Persalin
Kehamil
Persalinan
an
an
an
11-1240
Tidak
1
BPM
SptB
Bid
12
mggu
ada
9. Pola kebiasaan sehari-hari
Kebiasaan yang dilakukan ibu

16

Anak
J
PB
K

BB

3 kg

52

Nifas

U
a

baik

Nutrisi : Ibu mengatakan makan 3 x sehari, dengan menu yang


seimbang(nasi, lauk seperti tahu,tempe,ikan,daging, sayur-sayuran)
dan buah-buahan dengan porsi sedang dan minum air putih 7-8
gelas sehari.

Eliminasi :Ibu mengatakan BAK 5-6x sehari dengan warna kuning


jernih,berbau khas urin dan BAB 1x dengan konsistensi lunak,
warna kuning.

Istirahat :Ibu mengatakn tidur siang 1-2 jam (pukul 12.00-13.00).


Tidur malam 7-8 jam (pukul 21.30-05.30).

Aktifitas :Ibu tidak bekerja dan dirumah menyapu, mencuci,


mengepel serta melakukan Pekerjaan rumah tangga yang lain.

Personal hygiene : ibu mengatakan mandi 2x sehari,gosok gigi 2x


sehari, ganti celana dalam 3x sehari dan mencuci rambut 3x
seminggu,membersihkan daerah genetalia dengan air dan sabun
sehabis BAK/BAB dari arah depan kebelakang secara searah

Pola hubungan seksual


Ibu mengatakan sebelum hamil berhubungan seksual 1-2x/minggu
dan tidak ada kekerasan

10. Pola Psikologi


Ibu bertanya apakah penyakit disembuhkan dan apakah nanti ibu akan sulit
untuk mendapatkan anak. Hubungan ibu dengan keluarga baik terutama
dengan suami.
11. Budaya
Ibu tidak minum jamu-jamuan untuk mengobati keputihannya.
12. Pola spiritual
Ibu beragama Islam, Sholat 5 waktu dan mengerjakan ajaran agama.
B.

DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan umum
Keadaan umum

: baik

Kesadaran

: Composmentis

Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 88 x/menit
17

Suhu

: 364 oC

Pernapasan

: 22 x/menit

2. Pemeriksaan fisik
a. Inpeksi

Kepala
Bentuk normal, rambut berwarna hitam, distribusi lebat, kulit kepala
bersih, tidak ada ketombe dan tidak rontok

Muka
Warna kuning langsat, tidak ada cloasma gravidarum, tidak ada jerawat

Mata
Bentuk simetris, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,tidak
ada secret,penglihatan normal,tidak ada strabismus,katarak dan
glukoma
Hidung
Tidak ada secret, septum berada ditengah, tidak ada pernapasan cuping
hidung,tidak ada polip
Mulut & Gigi
Bersih,mukosa mulut lembab,tidak ada stomatitis, lidah bersih, tidak
ada caries gigi
Telinga
Bentuk simetris, bersih, tidak ada serumen, membran timpani utuh
Leher
Bersih, tidak ada lesi,tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan vena
jugularis,tidak terdapat hiperpigmentasi
Dada& Payudara
Bentuk dada normal,bentuk payudara simetris,tidak ada striae putting
susu menonjol, bersih, hiperpigmentasi pada areola dan putting susu,

Abdomen
Simetris, tidak ada luka bekas operasi.

Genetalia

18

Terdapat

pengeluaran

pervaginam

berwarna

putih

kekuningan,konsistensi sedikit kental dan tidak berbau,kulit perineum


berwarna cokelat dan rambut pubis terlihat kotor terutama disekitar
vulva
Rectum
Tidak ada hemorroid

Ekstremitas
Atas

: tidak ada oedem, simetris, jari-jari lengkap, ujung jari

tidak pucat,tidak ada syndaktili/polydaktili.


Bawah

: tidak ada oedem, tidak ada varises, simetris, jari-jari

lengkap,tidak ada syndaktili/polydaktili.


b. Palpasi

Kepala

: tidak terdapat nyeri tekan

Mata

:tidak ada oedem palbebra, tidak terdapat nyeri tekan

Hidung

: tidak terdapat nyeri tekan

Leher

: tidak ada bendungan vena jugularis,tidak ada pembesaran

kelenjar tiroid,tidak ada pembesaran kelenjar limfe

Dada & Payudara : tidak ada benjolan dan massa pada payudara

c.Auskultasi
Dada

: Tidak terdapat ronchi dan wheezing

Abdomen

: Bising usus 20 x/menit

d.Perkusi
Reflek patella : +/+
II. INTERPRETASI DATA DASAR
Dx : Ny V Usia 25 tahun P10001 dengan leukorhea.
Ds : -

Ibu mengatakan mengalami keputihan setiap kali setelah selesai

berhubungan seksual dengan suami. keputihan tersebut berwarna putih


kekuningan, terasa sedikit gatal dan tidak berbau
-

Ibu mengatakan merasa sakit pada lubang kencing (meatus uretra)

saat buang air kecil.


Do :

19

Keadaan umum : baik


Kesadaran

: Composmentis

Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 88 x/menit

Suhu

: 36,4 C

Pernapasan

: 22 x/menit

Pemeriksaan Fisik

Genetalia
Terdapatpengeluaran pervaginam berwarna putih kekuningan,konsistensi
sedikit kental dan tidak berbau, kulit perineum berwarna cokelat dan
rambut pubis terlihat kotor terutama disekitar vulva

Masalah

: - Ibu mengatakan cemas dengan keadaanya


- Ibu merasa tidak nyaman dan malu pada suaminya

Kebutuhan : - Konseling akan kondisi ibu saat ini


- Konseling tentang personal hygiene
III.

IDENTIFIKASI DIAGNOSA / MASALAH POTENSIAL


a.
b.
c.

IV.

Erosi Portio
Infeksi Radang Panggul
Ca Serviks

IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA


a.

Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian


terapi obat

b.
V.

Rujuk ke Puskesma

INTERVENSI
Tanggal

: 28-07-2015

Jam

: 18:30 WIB

1. Jelaskan keadaan ibu saat ini dan tindakan yang harus dilakukan.
R/ Penjelaan yang baik dapat menambahkan pengetahuan ibu, jika ibu baik
maka diharapkan ibu lebih bersifat kooperatif.
2. Anjurkan ibu untuk menggunakan celana dalam yang dapat menyerap
keringat.
R/ Daerah genetalia tetap kering dan tidak lembab
3. KIE pada ibu tentang

20

a.Vulva hygiene.
R/ Terhindar dari infeksi dan memberi rasa nyaman.
b. Nutrisi
R/ Pengetahuan ibu yang baik tentang nutrisi akan membantu ibu dalam
menangani masalahnya
4. Lakukan rujukan ke puskesmas untuk melakukan IVA Test
R/ Mendeteksi dini penyebab terjadinya keputihan.
5. Berikan terapi obat dan cara meminumnya.
R/ Meminimalkan penyebaran infeksi.
6. Anjurkan ibu kontrol ulang.
R/ Memeriksa keadaan pasien.
VI. IMPLEMENTASI
Tanggal : 28-07-2015
Pukul : 19.05 WIB
N

Jam

Implementasi

o
1

19.05

Menjelaskan hasil pemeriksaan pada ibu


Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Composmentis

Tekanan Darah

: 110/70 mmhg

Nadi

: 88 x/Menit

Suhu

: 364 Oc

Pernapasan

: 22 X/menit

Pemeriksaan Fisik

Genetalia
Terdapat pengeluaran pervaginam berwarna putih
kekuningan,konsistensi sedikit kental dan tidak berbau,
kulit perineum berwarna cokelat dan rambut pubis

19.08

terlihat kotor terutama disekitar vulva


Menganjurkan ibu untuk menggunakan celana dalam yang dapat
menyerap keringat terutama dari bahan katun untuk menjaga
daerah genetalia tetap kering/tidak lembab, karena media yang

19.11

lembab merupakan media yang baik bagi berkembangnya kuman.


Memberikan KIE pada ibu
21

1)Vulva Hygiene : Anjurkan Ibu

untuk membersihkan alat

genetalia sehabis BAK/BAB dengan menggunakan air dan sabun


dari arah depan ke belakang secara searah
2)Gizi : Ibu sebaiknya mengkonsumsi makanan dengan menu
seimbang. Konsumsi makanan yang banyak mengandung protein
seperti tahu,tempe,ikan dan daging karena protein berfungsi
untuk membangun antibodi/kekebalan terhadap infeksi. Anjurkan
ibu untuk mengurangi konsumsi makanan berkadar gula tinggi
karena ini menjadi faktor risiko keputihan. Sebagai contoh:
donat, permen, dan makanan manis lainnya yang dikonsumsi
secara berlebihan karena kebanyakan wanita yang mengalami
4

19.15

keputihan disebabkan oleh infeksi dari jamur.


Lakukan rujukan ke puskesmas untuk melakukan IVA Test
karena test sederhana ini dapat mendeteksi adanya kelainan pada

19.20

alat genetalia
Memberikan terapi obat dan cara meminumnya
Grafazol 3X 500mg /hari untuk pencegahan dan pengobatan
akibat infeksi yang disebabkan bakteri. Obat ini harus diminum
secara teratur dan diminum sampai habis
Alleron 2X 4mg /hari untuk mengatasi rasa gatal pada organ

19.21

genetalia
Menganjurkan ibu untuk kontrol ulang 7 hari kemudian yaitu

tanggal 4 agustus 2015 atau sewaktu-waktu jika ada keluhan


EVALUASI

VII.
S:

Ibu mengatakan mengerti tentang penjelasan dari bidan.

Ibu sudah mendapatkan penanganan & mendapat terapi

Ibu mengatakan terlihat sudah tidak cemas lagi akan keadaanya dan
dapat mengulangi kembali penjelasan dari bidan.

22

Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Composmentis

Tekanan Darah

: 110/70 mmhg

Nadi

: 88 x/Menit

Suhu

: 364 Oc

Pernapasan

: 22 X/menit

Pemeriksaan Fisik

Genetalia

Terdapat pengeluaran pervaginam berwarna putih kekuningan,konsistensi


sedikit kental dan tidak berbau, kulit perineum berwarna cokelat dan
rambut pubis terlihat kotor terutama disekitar vulva
A : Ny N usia 25 tahun P10001 dengan leukorhea
P:

Lakukan rujukan untuk melakukan IVA test

Anjurkan minum obat secara teratur

Anjurkan kontrol ulang seminggu kemudian yaitu tanggal 4 agustus


2015 atau sewaktu-waktu jika ada keluhan

23

BAB IV
PEMBAHASAN
Pembahasan merupakan bagian dari studi kasus yang membahas
kesenjangan dan persamaan yang telah ditemukan antara tinjauan kasus teori.
Untuk memudahkan dalam penyusunan bab pembahasan maka penulis
mengelompokkanpermasalahan sesuai dengan langkah-langkah managemen
kebidanan varney yang meliputi Pengkajian, Identifikasi diagnosa dan masalah,
antisipasi

masalah

potensial,

identifikasi

kebutuhan

segera,

Intervensi,

Implementasi dan Evaluasi.


Dari kasus tersebut tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus.
Adapun hasil yang dicapai oleh penulis selama melaksanakan asuhan kebidanan
pada Ny A usia 25 tahun P10001 dengan leukorhea adalah :
4.1 Pengkajian
Pengkajian pada kasus ini, data subyektif maupun obyektif sudah lengkap
karena ibu klien sangat kooperatif untuk bekerjasama dalam pengumpulan
datadan sesuai dengan teori bahwa dengan data yang benar akan
mempermudah bidan dalam menegakkan diagnosa.
4.2 Interpretasi Data Dasar
Dari hasil data subyektif dan obyektif didapatkan diagnosa Ny A usia
25 tahun P10001 dengan leukorhea sehingga tidak ditemukan kesenjangan
antara teori dengan lahan praktek.
4.3 Diagnosa Masalah Potensial
Setelah dilakukan pengkajian dan asuhan pada Ny N Usia 25 tahun
P10001 dengan Leukorhea terdapat diagnosa masalah potensial yaitu Erosi
portio,infeksi radang panggul dan ca serviks. Tetapi diagnosa masalah potensial
tidak terjadi
4.4 Identifikasi Kebutuhan Segera
Berdasarkan diagnosa masalah potensial maka pada identifikasi kebutuhan
segera dilakukan kolaborasi dengan dokter dan rujukan ke fasilitas kesehatan
dasar. Tetapi diagnosa masalah potensial tidak terjadi

24

4.5 Intervensi
Dalam penyusunan rencana asuhan terdapat kesenjangan antara teori
dengan lahan praktek di lapangan dimana seharusnya berdasarkan teori dan
protap asuhan kebidanan kesehatan reproduksi harus dilakukan pemeriksaan
laboratorium pada kasus Ny V usia 25 tahun P10001 dengan leukorhea tetapi
tidak dilaksanakan di lahan praktek
4.6 Implementasi
Dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada Ny

V Usia 25 tahun

P10001 dengan leukorhea pelaksanaan dilakukan sesuai yang sudah di rencanakan


sehingga terdapat kesenjangan antara teori dan lahan praktek
4.7 Evaluasi
Merupakan langkah akhir dari proses asuhan kebidanan berdasarkan
tujuan dari kriteria hasil yang ditetapkan dalam manajemen varney. Pada kasus ini
tidak ada masalah yang dialami dan dilakukan oleh ibu/keluarga. Menurut teori
dalam intervensi diharapkan ibu dan keluarga dapat memenuhi dan melakukan
penjelasan yang dilakukan oleh bidan dalam bentuk SOAP.

25

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Leukorhea adalah cairan putih yang dapat keluar dari liang senggama
secara berlebihan setiap cairan yang keluar dari vagina selain darah dapat
berupa sekret, transudasi atau eksudat, dari organ atau lesi dari saluran
genital.
Demikian pula pada kasus Ny. V Usia 25 tahun P10001 dengan
Leukorhea. Penulis dapat melakukan pengkajian berdasarkan data subjektif
dan data objektif dengan baik dan benar. Dari data tersebut penulis dapat
menegakkan diagnosa sehingga penulis dapat merencanakan dan memberikan
asuhan kepada klien dengan baik dan benar. Evaluasi yang dilakukan
menggunakan bentuk SOAP. Hasilnya ditemukan kesenjangan antara teori
dan lahan praktek pada intervensi dan implementasi karena tindakan
pemeriksaan yang seharusnya dilakukan tetapi tidak dilakukan
5.2 Saran
5.2.1 Bagi Tenaga Kesehatan

Diharapkan dapat memberikan layanan kebidanan pada ibu dengan


leukorhea sesuai dengan protap.

Diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan pada ibu dengan


leukorhea untuk mengurangi angka kesakitan pada ibu.

5.2.2 Bagi Mahasiswa


Diharapkan kepada seluruh mahasiswa untuk lebih memperhatikan ilmu
pengetahuan khususnya ilmu tentang kebidanan dan mampu menerapkan
asuhan kebidanan khususnya pada ibu dengan gangguan kesehatan reproduksi
Leukorhea secara teori ataupun dalam praktek lapangan.
5.2.3 Klien
Diharapkan agar secara teratur memeriksakan kondisi kesehatannya di
petugas kesehatan agar masalah kesehatan reproduksi dapat ditangani secara
cepat dan tepat

26

5.2.4 Institusi Pendidikan


Diharapkan Institusi Pendidikan secara konsisten menganggarkan koleksi
buku-buku kebidanan yang menggunakan bahasa asing serta melengkapi dan
memperbaharui buku kebidanan yang sudah tidak dapat digunakan lagi terkait
segi tahun terbitan yang sudah lama agar mahasiswa dapat menggunakan
referensi terbaru sebagai acuan dalam melaksanan asuhan kebidanan
komprehensif.
5.2.5 Masyarakat
Diharapkan mampu untuk mencari dan menemukan tenaga kesehatan dan
fasilitas kesehatan jika mengalami gangguan kesehatan dan tidak mencari
pengobatan alternatif lain yang justru akan membahayaka n

27