Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH CO-MANAGEMENT

Pengembangan Co-Management Taman Nasional Karimunjawa


disusun untuk memenuhi nilai Ujian Tengah Semester mata kuliah Manajemen
Sumberdaya Perikanan
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Ir. Endang Yuli H., Ms

Oleh :
Hasti Parlitasari
135080101111067
M04

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas berkat dan limpahan rahmat-Nya, maka saya dapat menyelesaikan
sebuah makalah guna melengkapi tugas mata kuliah Mata Kuliah Manajemen
Sumberdaya Perikanan dengan tepat waktu.
Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul
Pengembangan Co-Management Taman Nasional Karimunjawa yang menurut
saya dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita untuk mempelajari
manajemen kolaborasi untuk pengelolaan penyu lebih dalam. Melalui kata
pengantar ini kami lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman bila
mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang saya buat kurang
tepat atau menyinggung perasaan pembaca.
Dengan ini saya mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa
terima kasih dan semoga Tuhan YME memberkahi makalah ini sehingga dapat
memberikan manfaat. Kritik dan saran yang membangun dari para pembaca
sangat saya perlukan guna memperbaiki makalah ini yang jauh dari kata
sempurna.

Malang, 16 April 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................1
DAFTAR ISI.......................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................3
1.1 Latar Belakang............................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................4
1.3 Tujuan..........................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................6
2.1 Keadaan kebijakan dan kelembagaan pengelolaan TNKJ...........................6
2.2 Co- Management (Collaborative Management)...........................................7
2.2.1 Pengertian Co- Management............................................................7
2.2.2 Pentingnya Co- Management...........................................................8
2.2.3 Aplikasi Co-Management di Taman Nasional Karimun Jawa............8
2.3 Kendala Pelaksanaan Co- Management...................................................10
BAB III PENUTUP..............................................................................................12
3.1 Kesimpulan................................................................................................12
3.2 Saran.........................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................13

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Karimunjawa sebagai salah satu obyek wisata di Indonesia yang memiliki
keindahan panorama bawah laut yang masih natural dan kaya akan hutan
tropis dengan satwa aslinya serta keunikan suku bangsanya merupakan aset
wisata yang besar bagi kunjungan wisatawan asing di masa yang akan
datang. Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang dikelola
dengan sistem zonasi yang terdiri atas zona inti, zona pemanfaatan dan zona
lain sesuai dengan keperluan dan dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu
pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, wisata alam serta rekreasi
(Undang-Undang No.5 tahun 1990). Kawasan Taman Nasional Karimunjawa
telah ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor :
78/Kpts-II/1999 Tanggal 22 Pebruari 1999 dengan luas kawasan 111.625 Ha
yang mencakup kawasan perairan seluas 110.117,30 Ha dan kawasan
daratan seluas 1.507,70 Ha yang terdiri atas kawasan hutan hujan tropis di
Pulau Karimunjawa dan hutan mangrove di Pulau Kemujan. Berdasarkan
Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 74 / Kpts-II / 2001 tanggal 15
Januari 2001 kawasan perairan laut di dalam kawasan Taman Nasional
Karimunjawa seluas 110.117,30 Ha yang ditetapkan sebagai kawasan
pelestarian alam (KPA) perairan. Saat ini Taman Nasional Karimunjawa
mempunyai 7 (tujuh) zona yaitu zona inti, zona perlindungan, zona
pemukiman, zona rehabilitasi, zona zona budidaya, zona pemanfaatan
perikanan tradisional dan zona pemanfaatan pariwisata (Purwanti et al.,
2008).
Pelestarian lingkungan hidup sama artinya denga menjaga kelestarian
plasma nutfah yang sangat peting bagi kelestarian kehidupan dan
keberlangsungan generasi berikutnya. Pelestarian lingkungan hidup
memerlukan konservasi ekosistem darat, laut dan udara sebagai pendukung
dan penyangga kehidupan. Pelestarian dan pemeliharaan keanekaragaman
plasma nutfah, jenis dan ekosistemnya termasuk flora dan fauna sangatlah
penting bagi kehidupan manusia. Perairan laut merupakan daerah yang
paling penting karena memiliki banyak fungsi baik ekologi maupun ekonomi.
Karena banyak organisme yang hidup di lautan dan dapat dimanfaatkan
sebagai sumberdaya perikanan yang mempunyai keunggulan maka perairan
laut perlu dijaga dan dikelola dengan baik, salah satu caranya adalah dengan
membentuk kawasan konservasi perairan.

Kawasan Taman Nasional Karimunjawa merupakan kawasan pelestarian


alam yang mempunyai ekosistem yang unik dan lengkap. Kawasan ini
mempunyai 5 (lima) tipe ekosistem yaitu ekosistem terumbu karang,
ekosistem padang lamun dan rumput laut, ekosistem mangrove, ekosistem
hutan pantai dan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah. Ekosistem
terumbu karang di kawasan Taman Nasional Karimunjawa terdiri atas 64
genera karang dari tahun ke tahun semakin membaik persentase penutupan
mencapai 54,5 %. Keberadaan ekosistem terumbu karang masih
menghadapi berbagai ancaman yang berdasarkan sumbernya dibedakan
menjadi ancaman yang terjadi secara alami dan ancaman yang terjadi akibat
aktivitas manusia/antropogenik. Ancaman antropogenik terhadap kelestarian
terumbu karang berupa aktifitas wisata yang merusak seperti menginjak
karang, penempatan jangkar kapal di areal terumbu karang, pemakaian alat
tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti bom ikan, penggunaan apotas,
jaring muroami dan sebagainya. Sedangkan ancaman yang bersifat alami
terhadap terumbu karang yaitu perubahan musim (arus atau ombak) , hama
dan penyakit karang, predasi, serta global warming yang menyebabkan
terjadinya pemutihan karang.
Ketidakefektifan pengelolaan Kawasan Konservasi Laut dikarenakan
kurang optimalnya pengelolaan kawasan konservasi laut yang disebabkan
antara lain oleh: 1) Orientasi pengelolaan kawasan konservasi laut lebih
focus pada manajemen teresterial; 2) Pengelolaan bersifat sentralistik dan
belum melibatkan masyarakat setempat; 3) Tumpang tindih pemanfaatan
ruang dan benturan kepentingan para pihak; dan 4) Banyaknya pelanggaran
yang terjadi di kawasan konservasi laut (Harahap et al., 2015).
1.2 Rumusan Masalah
- Bagaimana kebijakan pengelolaan Taman Nasional Karimun Jawa yang
-

terpadu dan berkelanjutan?


Apakah yang dimaksud dengan Co-Management dan bagaimana

aplikasinya di wilayah Taman Nasional Karimun Jawa?


Apa sajakah kendala penerapan Co-Management ?

1.3 Tujuan
Tujuan dari disusunnya makalah ini adalah untuk mengetahui kebijakan yang
diambil dalam pengelolaan Taman Nasional Karimun Jawa dan mengetahui
aplikasi Co-Management di wilayah tersebut serta kendala penerapan CoManagement di wilayah Taman Nasional Karimun Jawa.

II.

PEMBAHASAN

II.1 Keadaan Kebijakan dan kelembagaan pengelolaan TNKJ


Kajian kebijakan dan kelembagaan tidak dapat dipisahkan dengan kajian
desentralisasi dalam pengelolaan kawasan konservasi. Aspek kelembagaan
dalam pengelolaan kawasan konservasi, tidak dapat dilepaskan dari institusi
atau departemen yang mengelola dan membawahi masing-masing sektor
sumberdaya alam. Berbagai ketentuan peraturan di bidang otonomi daerah
maupun di bidang konservasi sumberdaya alam dan ekosistem belum
memberi ketegasan dan kejelasan arah pelaksanaan kebijakan dan peran
yang harus dilakukan oleh berbagai pihak, baik tingkat pusat maupun daerah.
Menurut sistem hukum yang ada di Indonesia (UU no.5/90, UU no.31/ 04, PP
no.32/1990, PP no.68/1998) sumberdaya alam taman nasional dikuasai oleh
negara dimana kewenangan penetapan dan pengelolaan ada ditangan
pemerintah. Akan tetapi pemerintah pusat belum berhasil membentuk
mekanisme pengelolaan taman nasional yang efektif, hal ini dikarenakan
adanya disharmonisasi sistem hukum dalam hal kewenangan pengelolaan.

Akan tetapi pemerintah pusat belum berhasil membentuk mekanisme


pengelolaan taman nasional yang efektif, hal ini dikarenakan adanya
tumpang tindih kewenangan pengelolaan antara UU 5/1990 (Konservasi
Sumberdaya Alam dan Ekosistemnya, UU 31/2004 (Perikanan) dan UU 32/
2004 (Pemerintahan Daerah).
Kajian terhadap tujuh UU (Konservasi, Pengelolaan LH, Kepariwisataan,
Perikanan, Pemerintahan Daerah, Penataan Ruang, Pengelolaan P3K) dan
enam PP turunannya (Pengawetan jenis Tumbuhan dan Satwa, KSA dan
KPA, Pengusahaan Pariwisata Alam di Zona Pemanfaatan TN,
Penyelenggaraan Kepariwisataan, RTRW Nasional, Konservasi SDI)
menunjukkan bahwa peran pemerintah masih besar (67,74%), sedangkan
masyarakat (22,66%) dan lembaga lain (8,60%), sehingga mendorong
tumbuhnya sikap merasa tidak memiliki dari masyarakat yang
mengakibatkan upaya konservasi kawasan Taman Nasional Karimunjawa
(TNKJ) kurang berhasil. Substansi regulasi diatas yang banyak
mengkonsentrasikan kewenangan pada pemerintah pusat, sehingga
mendorong tumbuhnya sikap merasa tidak memiliki dari pemerintah daerah
dan masyarakat lokal, sehingga upaya konservasi kawasan TNKJ kurang
berhasil. Hal ini dapat dibuktikan dari banyaknya pelanggaran yang terjadi,
seperti kegiatan penangkapan dengan apotas maupun pengambilan biota
yang dilindungi. Menurut Hardjasoemantri (1993), salah satu kelemahan
dalam pengawasan taman nasional adalah lemahnya penegakan hukum.
2.2 Co- Management (Collaborative Management)
2.2.1 Pengertian Co-Management
Co-management atau collaborative management, sering disebut juga
participatory management, joint management, shared-management, multistakeholder management atau round-table agreement. Di Indonesia istilah
co-management

sering

diartikan

sebagai

pengelolaan

kolaboratif,

pengelolaan bersama, pengelolaan berbasis kemitraan atau pengelolaan


partisipatif. Akan tetapi ada yang membedakan karena ada mekanisme
pelembagaan yang menuntut kesadaran dan distribusi tanggung-jawab
pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya secara formal (Pomeroy & Berkes,
1997). Pendekatan co-management mulai muncul pada awal tahun 1980-an
di Amerika dan Eropa dan menjadi paradigma baru untuk pengelolaan
sumberdaya alam di Indonesia akibat tuntutan atas respon desentralisasi.
Penerapan konsep co- management antara lain di TN Bunaken (TNC, 2006),

dan TN Wakatobi (Clifton, 2003) kurang efektif karena appropriate sharing


kurang diakomodir dalam penataan kelembagaannya. Untuk itu konsep comanagement akan ditelaah kemungkinannya untuk dikembangkan di Taman
Nasional Karimunjawa (TNKJ) sesuai dengan kemampuan dan sumberdaya
yang ada.
Tidak dapat dipungkiri bahwa perikanan merupakan sistem yang kompleks
dan melibatkan banyak pihak. Pengelolaan perikanan tidak dapat terlepas
dari peran banyak pihak seperti nelayan, pemerintah, lembaga/institutsi nonpemerintah, akademisi, pelaku perikanan lainnya (pedagang, kelompok
pengelolah ikan, dan lain-lain). Dalam konteks tersebut, maka pemahaman
bahwa perikanan melibatkan banyak pihak harus merupakan suatu hal yang
wajar. Kerangka ini lah yang menjadi pendorong pentingnya ko-manajemen
sebagai salah satu proses mempertemukan keinginan seluruh pihak yang
terkait (stakeholders).
2.2.2 Pentingnya Co-Managemet
Menurut Adrianto et al. (2010), Pengelolaan perikanan bersama (komanajemen perikanan) dapat menjadi alternatif bagi pengelolaan perikanan di
Indonesia karena pada dasarnya ko-manajemen perikanan menitikberatkan pada
pembagian tanggung jawab antara pemerintah (government) dan pengguna
sumberdaya (resources users).
Menurut Alains et al. (2009), Pelaksanaan Co-Management ini diyakini akan
memberikan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik yaitu:
(1) Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya sumberdaya
pesisir dan laut dalam menunjang kehidupan,
(2) Meningkatkan kemampuan masyarakat, sehingga mampu berperan serta
(3)

dalam setiap tahapan pengelolaan secara terpadu,


Meningkatkan pendapatan masyarakat dengan
pemanfaatan

yang

lestari

dan

berkelanjutan

serta

bentuk-bentuk
berwawasan

lingkungan.
Pengelolaan kolaboratif yang di dalamnya terdapat hubungan antar
stakeholder adalah suatu bentuk pengelolaan yang dapat memadukan hal-hal
kompleks terkait politik, ekonomi, dan lingkungan dalam suatu pengelolaan
sumber daya perikanan (Harahap et al. 2015).
2.2.3 Aplikasi Co-Management di Taman Nasional Karimun Jawa
Berdasarkan kondisi di lapangan dan hasil wawancara

dengan

memperhatikan prinsip co- management (Wiratno et al , 2004) didapatkan


delapan faktor pengembangan co-management TNKJ yaitu : persamaan

persepsi dan visi, regulasi dan aturan main yang jelas, partisipasi aktif dan
komitmen stakeholders , mekanisme komunikasi dan negosiasi, koordinasi lintas
sektor, kepemimpinan; pembentukan forum organisasi, dan

pendanaan.

Keempat faktor dalam kuadran I dan II yaitu persamaan persepsi dan visi,
koordinasi, partisipasi dan komitmen, dan komunikasi dan negosiasi
merupakan elemen kunci pengembangan co-management yang dapat menjadi
indikator kinerja suatu lembaga. Clifton (1993) menyebutkan bahwa faktor yang
menghambat pelaksanaaan co- management di Indonesia adalah kelembagaan
pengelolaan taman nasional. Untuk itu maka salah satu prakondisi bagi
keberhasilan pelaksanaan co- management adalah menciptakan kelembagaan
penuh yang akuntabel dan diakui secara hukum.
Pengelolaan TNKJ secara kolaboratif berorientasi

pada

tercapainya

koordinasi antara para pihak sehingga tercapai sinergi dalam pelaksanaan


program. Dalam proses kolaborasi, kompromi merupakan kata kunci yang harus
dicapai dan dituangkan dalam rencana pengelolaan kawasan konservasi yang
bersifat dinamis. Sesuai pendapat Suporahardjo (2005), pencapaian kompromi
hanya akan dicapai bila tujuan pengelolaan kawasan konservasi dapat disepakati
dan dipahami konsekuensinya oleh seluruh para pihak. Dalam hal ini perlu ada
komitmen untuk bekerjasama berbagi tugas dalam pengelolaan kolaboratif TNKJ
dengan berpegang teguh pada prinsip konstituensi yang mengedepankan
pelayanan publik ( public service ) yang berorientasi pada kemanfaatan bersama
(mutual

benefits)

berdasarkan

prinsip-prinsip

saling

menghargai,

saling

mempercayai, saling bertanggung gugat, saling berbagi tanggung jawab dan


berbagi keuntungan.
Berdasarkan syarat kelayakan co-management dari Borrini-Feyerabend
(1996), upaya pengembangan co- management TNKJ dapat dilakukan antara
lain dengan membuat aturan representasi bagi stakeholder, koordinasi
pemberian ijin usaha perikanan & pariwisata antara Pemda Kabupaten Jepara
dengan Badan Taman Nasional Karimunjawa (BTNK); penyusunan program kerja
dan pendanaan bersama antara Pemda Provinsi Jawa Tengah, Pemda
Kabupaten Jepara dan BTNK berdasarkan kebutuhan lokal sebagai payung
kegiatan pengembangan TNKJ; monitoring bersama untuk kegiatan pemanfaatan
perikanan dan pariwisata Sumber

Daya Alam TNKJ; mengembangkan

pendidikan dan latihan ketrampilan bagi masyarakat Karimunjawa di bidang


usaha perikanan dan pariwisata; dan membentuk forum stakeholder pengelolaan
TNKJ untuk mengorganisir dan mensinergikan kegiatan stakeholders. Dalam

pelaksanaannya, co-management TNKJ memerlukan kesediaan dan kerjasama


berbagai pihak untuk berbagi peran dan tanggung jawab yang diatur dalam
aturan main sebagai bentuk kesepakatan bersama yang dituangkan diatas kertas
sebagai lampiran dari suatu MOU antara Kepala BTNK dengan Kepala Daerah
Kabupaten Jepara menggunakan prinsip-prinsip co-management. Oleh karena
itu, agar co-management TNKJ memberikan daya guna sebagaimana yang
diharapkan, semua pihak harus mengedepankan koordinasi dan kesediaan untuk
melaksanakan tugas dan fungsi sesuai dengan pembagian kewajiban dan
kewenangan dalam pengembangan TNKJ.
2.3 Kendala Pelaksanaan Co-Management
Terdapat disharmonisasi aturan hukum

dalam

pengelolaan

dan

pemanfaaatan sumberdaya Taman Nasional Karimun Jawa (TNKJ) dimana


implementasi dari kebijakan dan regulasi yang ada tidak cukup mendukung
mekanisme

pelaksaanaan

kolaborasi.

Kapasitas

Balai

Taman

Nasional

Karimunjawa (BTNK) dalam menjalankan fungsi pengelolaan kurang efektif


karena keterbatasan SDM (skill dan knowledge) dan alokasi penggunaan dana.
Berhasil atau tidaknya pengelolaan dengan model Co-Management ini
sangat dipengaruhi oleh kemauan pemerintah untuk mendesentralisasikan
tanggung jawab dan wewenang dalam pengelolaan kepada nelayan dan
stakeholder lainnya. Oleh karena Co-Management membutuhkan dukungan
secara legal maupun finansial seperti formulasi kebijakan yang mendukung ke
arah Co-Management, mengijinkan dan mendukung nelayan dan masyarakat
pesisir untuk mengelola dan melakukan restrukturisasi peran para pelaku
pengelolaan perikanan.

III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Adanya ketidaksepahaman antara aturan hukum dalam pengelolaan dan
pemanfaatan sumberdaya Taman Nasional Karimun Jawa (TNKJ), dimana
implementasi dari kebijakan dan regulasi yang ada tidak mencukupi untuk
mendukung mekanisme pelaksanaan manajemen kolaborasi. Dalam
menjalankan fungsi pengelolaan kurang efektif karena keterbatasan SDM
dan alokasi penggunaan dana. Untuk itu diperlukan pengaturan koordinasi
yaitu pembentukan forum stakeholder dari MOU antara Balai Taman Nasional
Karimunjawa (BTNK) dan Pemerintah Kabupaten Jepara, pembuatan aturan
main dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya TNKJ. Serta
membuat aksi kegiatan kolaborasi strategis yang komprehensif dengan kerja
sinergi stakeholders sesuai kapasitas dan kemampuannya.
3.2 Saran
Akan lebih baik apabila pihak pemerintah dan stakeholders dapat
melaksanakan pembicaraan yang lebih baik dan serius, agar kolaborasi
manajemen untuk Taman Nasional Karimun Jawa (TNKJ) dapat berjalan
lebih baik demi kelestarian ekosistem di dalamnya.

DAFTAR PUSTAKA
Adrianto, L., M. A. A. Amin., A. Solihin dan D. I Hartono. 2010. Konstruksi
Kelembagaan dalam Pengelolaan Perikanan di Era Desentralisasi.
WORKING PAPER PKSPL-IPB. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan
Lautan IPB. Bogor.
Alains, A. M., S. E. Putri dan P. Haliawan. Pengelolaan Sumberdaya Perikanan
Berbasis Masyarakat (PSPBM) Melalui Model Co- Management
Perikanan. Jurnal Ekonomi Pembangunan. 10(2) : 172-198.

Balai Taman Nasional Karimunjawa (BTNK). 2008. Statistik BTNK tahun 2007.
Balai Taman Nasional Karimunjawa, Semarang.
Borrini-Feyerabend. 1996. Collaborative Management of Protected Area:
Tailoring the Approach to the Context. Social Policy Group, IUCN.
Clifton, J. 2003. Prospect for Co-management in Indonesias Marine Protected
Area. Marine Policy. 27:389-395.
Harahap, I. M., A. Fachrudin dan Y. Wardianto. 2015. Pengelolaan Kolaboratif
Kawasan Konservasi Penyu Pengumbahan Kabupaten Sukabumi.
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia (JIPI). 20(1) : 39-46.
Hardjasoemantri, K. 1993. Hukum Perlindungan Lingkungan : Konservasi
Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Gadjahmada Univ. Press,
Yogyakarta.
Hardjoamidjojo, H. 2004. Panduan Lokakarya Analisa Prospektif. Bahan Kuliah
Rekayasa Manajemen Lingkungan.

Program Studi Pengelolaan

Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor.


Purwanti, F., H. S. Alikodra., S. Basuni dan D. Soedharma. 2008. Pengembangan
Co-Management Taman Nasional Karimunjawa. Ilmu Kelautan. 13 (3) :
159 166.
TNC (the Nature Concervation). 2006. Collaborative Park Management
Partnerships, Financing and Ecotourism at Komodo National Park http://
www.tnc-seacmpa.org/downloads/CTC-Co- Management.pdf
Wiratno, D. Indriyo, A. Syarifudin & A. Kartikasari. 2004. Berkaca di Cermin
Retak: Refleksi Konservasi dan Implikasi Bagi Pengelolaan Taman
Nasional. Forest Press, The Gibbon Foundation Indonesia, Departemen
Kehutanan, PILI-NGO Movement. Jakarta.