Anda di halaman 1dari 2

BAB III

MENGAMBIL RESIKO (RISK TAKING)


A. Pendahuluan
Para wirausahawan menyukai mengambil resiko realistik karena mereka ingin
berhasil. Mereka mendapat kepuasan besar dalam melaksanakan tugas-tugas yang
sukar tetapi realistik dengan menerapkan keterampilan-keterampilan mereka. Jadi,
situasi resiko kecil dan situasi tinggi dihindari karena sumber kepuasan ini tidak
mungkin terdapat pada masing-masing situasi ini. Ringkasnya, wirausaha menyukai
tantangan yang sukar namun dapat dicapai.
Resiko lahir sebagai akibat kelalaian orang (SDM), proses yang tidak sesuai
dengan sistem, prosedur atau penggunaan teknologi baru. Selain itu resiko juga
disebabkan oleh faktor eksternal misalnya pesaing baru mampu mengubah paradigma
bisnis atau bencana alam. Pada pokok bahasan ini akan menyajikan tentang pengertian
dan identifikasi resiko bisnis, tipologi pengambilan resiko bisnis, dan mengevaluasi
resiko bisnis.
B. Pengertian dan Identifikasi Resiko Bisnis
Para wirausaha menyukai mengambil resiko realistik karena merea ingin
berhasil. Mereka mendapat kepuasan besar dalam melaksanakan tugas-tugas yang
sukar tetapirealistik dengan menerapkan keterampilan-keterampilan mereka. Jadi,
situasi resiko kecil dan situasi resiko tinggi dihindari karena sumber kepuasan ini tidak
mungkin terdapat pada masing-masing situasi itu. Ringkasnya, wirausaha menyukai
tantangan yang sukar namun dapa dicapai (Meredith et al., 1988).
Hisrich & Peters (1992), menyatakan bahwa jiwa wirausaha ditimbulkan dari
berbagai latar belakang pendidikan, lingkungan keluargadan pengalaman kerja.
Wirausaha adalah proses dinamik dalam tahapan pencapaian kesejahteraan
dengan resiko waktu dan resiko lainnya. Wirausahawan dikenal sebagai pengambil
resiko (risk taker) sejati, hasilnya adalah kemampuan memndapatkan keuntungan, dan
hal ini memiliki peranan penting dalam pencapaian lapangan kerja.
Glancey, dan Pattigrew (1998) mengemukakan bahwa terdapat dua kelompok
wirausahawan yang satu sama lian berlawanan, yaitu kelompok opportunist dan
craft etrepreneur.
1. Kelompok wirausahawan opputurnist dicirikan oleh rendahnya tingkat pendidikan
(terutama pendidikan teknis) dan kurangnya pengalaman manajerial, mereka
enggan untuk menggunakan bantuan dari luar, dan melakukan reaksi terhadap

perubahan berdasarkan kebutuhan pasar ketimbang proaktif dalam menciptakan


usaha baru.
2. Kelompok craft enterpreneur adalah kelompok wirausaha yang memiliki latar
belakang pendidikan tinggi, pengalaman manajerial yang baik dan proaktif
menciptakan usaha baru.
Penilaian situasi seorang wirausaha berlainan sekali dari dua tipe orang di atas.
Perbedaan hakiki terletak pada kenyataan bahwa seorang wirausaha akan menilai
kemungkinann sukses perusahaan itu, secara sistematik dan menyeluruh serta sampai
keberanian mengambil resiko yang dapat mempengaruhi kemungkinan tersebut.
Resiko bisnis adalah tingkat resiko yang terkandung dalam operasi perusahaan
apabila ia tidak menggunakan utang. Makin besar resiko bisnis perusahaan, makin
rendah rasio utang yang optimal. Pengidentifikasian resiko merupakan proses
penganalisaan untuk menemukan secara sistematis dan berkesinambungan resiko
(kerugian

yang

potensial)

yang

menantang

perusahaan.

Langkah-langkah

mengidentifikasi resiko, yaitu :


a. Menjelaskan jenis-jenis kerugian ynag dihadapi, meliputi : kerugian hak milik,
kerugian personal dan kewajiban mengganti kerugian.
b. Menggunakan checklist.
C. Tipologi Pengambilan Resiko
Pada umumnya, ciri-ciri wirausaha saling berkaitan, terutama pada perilaku
pengambil resiko. Ada tiga tipologi pengambilan resiko, antara lain :
1. Pengambilan resiko berkaitan dengan kreativitas dan inovasi serta merupakan
bagian penting dalam mengubah ide menjadi realitas.
2. Pengambil resiko berkaitan dengan kepercayaan pada diri sendiri. Semakin besar
keyakinan seorang pada kemampuan diri sendiri, semakin besar pula keyakinannya
dan semakin besar kesediaanya untuk mencoba apa yang dilihat orang lain
beresiko.
3. Pengetahuan realistik mengenai kemapuan-kemampuan wirausaha juga sangat
penting. Realisme demikian akan membatasi kegiatan-kegiatan wirausaha pada
situasi-situasi yang dapat mempengaruhi hasilnya. Hisrich & Petter (1992).
Seseorang yang memilki jiwa wirausaha sudah pasti akan memiliki kreativitas
yang tinggi untuk mencitapkan sesuatu yang belum pernah ada atau sesuatu yang baru.
Untuk itu dibutuhkan kemauan dan keberanian untuk menghitung dan mengambil
resiko yang moderat, dalam arti mengambil resiko yang sesuai (tidak terlalu berat dan
tidak terlalu ringan).