Anda di halaman 1dari 2

Pepaya (Carica papaya L.

), atau betik adalah tumbuhan yang berasal dari


Meksiko bagian selatan dan bagian utara dari Amerika Selatan, dan kini menyebar
luas dan banyak ditanam di seluruh daerah tropis untuk diambil buahnya. C.
pepaya adalah satu-satunya jenis dalam genus Carica. Nama pepaya dalam bahasa
Indonesia diambil dari bahasa Belanda, "papaja", yang pada gilirannya juga
mengambil dari nama bahasa Arawak, "pepaya". Dalam bahasa Jawa pepaya
disebut "kats" dan dalam bahasa Sunda "gedang".
Pestisida merupakan senyawa kimia yang disusun untuk mengendalikan hama
dan penyakit yang menyerang tanaman. Di Indonesia pestisida sering digunakan
untuk mengendalikan hama dan penyakit yang menyerang tanaman tetapi pada
saat ini pestisida banyak ditemukan residu khususnya di tanaman dan tanah
sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan terutama pestisida kimia. Pada
dasarnya pestisida dibagi menjadi 2 menurut jenisnya yaitu pestisida kimia dan
pestisida alami atau nabati. Pestisida kimia merupakan pestisida yang dibuat dari
bahan kimia oleh manusia yang berguna dalam pengendalian hama dan penyakit
tanaman. Pestisida kimia ini sering memiliki residu kimia yang tinggi baik
didalam tanaman ataupun didalam tanah sehingga mengganggu lingkungan.
Banyaknya terjadi gangguan lingkungan akibat pestisida kimia sehingga
memunculkan suatu ide yaitu Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang salah satu
tujuannya adalah mengendalikan hama dengan menggunakan musuh alami dan
penggunaan pestisida nabati.
Pestisida nabati merupakan pestisida yang digunakan untuk pengendalian
hama dan penyakit bagi tanaman yang terbuat dari bahan alami seperti organ
tanaman, atau minyak yang dihasilkan oleh tanaman. Pestisida nabati memiliki
beberapa keunggulan seperti mudah terurai oleh sinar matahari, tidak
menyebabkan gangguan lingkungan dan lin-lain sedangkan untuk kerugian bagi
penggunaan pestisida nabati ini yaitu cara aplikasiannya harus berulang kali
karena mudah terurai oleh sinar matahari, harganya tidak terjangkau oleh petani
karena pembuatan pestisida ini menggunakan bahan dari alam yang memiliki stok
yang tidak mencukupi bagi pembuatan pestisida nabati secara masal. Pestisida
memiliki beberapa jenis menurut hama yang akan dikendalikan yaitu insektisida,
nematisida, bakterisida dan lain-lain.

Tujuan penggunaan pestisida adalah untuk mengurangi populasi hama. Akan


tetapi dalam kenyataannya, sebaliknya malahan sering meningkatkan populasi
jasad pengganggu tanaman, sehingga tujuan penyelamatan kerusakan tidak
tercapai. Hal ini sering terjadi, karena kurang pengetahuan dan perhitungan
tentang dampak penggunaan pestisida. Ada beberapa penjelasan ilmiah yang dapat
dikemukakan mengapa pestisida menjadi tidak efektif, dan malahan sebaliknya
bisa meningkatkan perkembangan populasi jasad pengganggu tanaman.
Berkembangnya penggunaan pestisida sintesis yang dinilai praktis oleh para
petani dan pecinta tanaman untuk mencegah tanamannya dari serangan hama,
ternyata membawa dampak negatif yang cukup besar bagi manusia dan
lingkungan. Menurut WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) tercatat bahwa di
seluruh dunia terjadi keracunan pestisida antara 44.000 - 2.000.000 orang setiap
tahunnya.
Dampak negatif dari penggunaan pestisida sintetis adalah meningkatnya daya
tahan hama terhadap pestisida (resistansi hama), membengkaknya biaya
perawatan akibat tingginya harga pestisida dan penggunaan yang kurang tepat
dapat mengakibatkan keracunan bagi manusia dan ekosistem di lingkungan
menjadi tidak stabil atau tidak seimbang. Cukup tingginya dampak negatif dari
penggunaan pestisida sintetis, mendorong berbagai usaha untuk menekuni
pemberdayaan atau pemanfaatan pestisida alami sebagai alternatif pengganti
pestisida sintesis. Salah satu pestisida alami yang dapat digunakan adalah ekstrak
daun pepaya. Selain ramah lingkungan, pestisida alami merupakan pestisida yang
relatif aman dalam penggunaannya dan ekonomis.