Anda di halaman 1dari 2

PRINSIP-PRINSIP MEMPERLAKUKAN ALAM

Oleh: M.Mahlani

Islam mengajarkan bahwa alam dan seisinya diciptakan Allah sebagai ladang bagi
kita, yaitu sebagai tempat tumbuh dan berkembang menjadi makhluk yang bermartabat,
berkeadaban, santun, cerdas dan kreatif-inovatif serta sekaligus sebagai tempat untuk
menikmati anugerah Allah secara etis berharga.
Ada empat prinsip yang harus ditanamkan dalam kesadaran kita dalam
memperlakukan alam seisinya, sehingga kita bisa menikmati anugerah Allah secara etis
berharga.
Alam bukanlah milik manusia melainkan milik Allah. Kita hanya diberi izin tinggal di
dalamnya untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan Allah.

‫مى‬
ّ ‫س‬
َ ‫م‬
ّ ‫ل‬ َ َ ‫حقّ وَا‬
ٍ ‫ج‬ َ ْ ‫ماا ِل ِّبال‬
َ ُ‫ماب َي ْن َه‬ َ ‫ت وَا ْل َْر‬
َِ َ‫ض و‬ ّ ‫خل َْقَناال‬
ِ ‫سمو‬ َ ‫ما‬
َ

"Tiadalah Kami menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di
antara keduanya melainkan dengan kebenaran dan untuk jangka
waktu yang telah ditentukan". (QS. Al Ahqaaf, 46:3)

Hak untuk memanfaatkan alam, tidaklah memberikan kepada kita untuk merusaknya,
atau mengeksploitasinya sehingga mengacaukan dan mengganggu keseimbangan
ekologisnya. Hak pemanfaatan yang kita miliki adalah hak individual yang diberikan Tuhan
kepada tiap individu di saat kelahirannya. Hak tersebut tidak diwariskan kepada orang lain.
Jadi tidak memberikan hak kepada manusia untuk “memakan” jatah generasi yang akan
datang.
Sebagai pengurus bumi seisinya, kita diharapkan – di saat meninggal nanti – agar
mengembalikan amanat yang kita pegang dalam keadaan yang lebih baik daripada ketika
kita menerimanya dari Allah SWT.

 Tatanan alam tunduk pada manusia, yang dapat mengubahnya seperti yang
dikehendakinya. Alam telah diciptakan lunak , dapat menerima campur tangan manusia
dalam proses-prosesnya. Tidak ada bidang dari alam ini yang berada di luar jangkauannya.
Penggunaan sepenuhnya diserahkan pada kebijaksanaan manusia.

 Dalam pemanfaatan dan menikmati alam, kita diperintahkan untuk menjaga


sesuai dengan aturan moral. Pencurian dan penipuan, paksaan dan monopoli, penumpukan
dan pemerasan, egoisme dan ketidakpekaan terhadap kebutuhan orang lain adalah tidak
layak dilakukan oleh manusia sebagai wakil Tuhan, dan secara tegas dilarang. Kita dilarang
boros dan mengkonsumsi yang mubazir dan bersifat pamer.

 Penyelidikan alam harus dengan memahami pola-pola Tuhan dalam alam, tidak
hanya pola-pola yang terkandung dalam ilmu-ilmu kealaman, tapi juga pola-pola yang
terkandung dalam tatanan umum

Jadi, alam tidak boleh dirusak, diperas atau disalahgunakan, meskipun ia boleh
dimanfaatkan. Kepekaan terhadap alam dan perawatan penuh kasih, entah alam itu sebagai
taman atau hutan, sungai, sawah, gunung dan sebagainya, adalah tindakan terpuji dan
tehormat yang sesuai dengan tujuan Ilahi.