Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Allah Swt telah menjadikan manusia masing-masing saling membutuhkan
satu sama lain, supaya saling tolong-menolong, tukar-menukar keperluan
dalam segala urusan dan kepentingan hidup masing-masing baik dengan jalan
jual beli, sewa-menyewa, bercocok tanam, terutama dalam masalah
pengalihan hutang, baik dalam urusan kepentingan sendiri maupun untuk
kemaslahatan umum. Dengan cara demikian kehidupan masyarakat menjadi
teratur dan subur, hubungan yang satu dengan yang lainpun menjadi teguh.
Akan tetapi sifat loba dan tamak tetap ada pada manusia, suka mementingkan
diri sendiri supaya hak masing-masing jangan sampai tersia-sia, dan juga
menjaga kemaslahatan umum agar pertukaran dapat dapat berjlan dengan
lancer dan teratur. Oleh karena itu, agama memberi peraturan yang sebaikbaiknya, karena dengan teraturnya muamalah, maka kehidupan manusia jadi
terjamin pula dengan sebaik-baiknya sehingga perbantahan dan dendammendendam tidak akan terjadi.1
Begitu juga halnya dengan dunia perbankan, terdapat praktek muamalah
yang dijalankan dalam setiap produk yang ditawarkan. Pemerintah telah
mengeluarkan beberapa peraturan sehubungan dengan kegiatan usaha yang
dapat dilakukan oleh Bank Islam, baik Bank Umum Syariah maupun Bank
Perkreditan Rakyat Syariah.2 Perbankan Syriah juga menerima jasa-jasa
seperti Al-Kafalah, Al-Hiwalah, Al-Wakalah, Ar-Rahn dan al-Joalah sebagai
bentuk keikutsertaan dalam kehidupan bermuamalah di tengah masyarakat.

1 H. Sulaiman Rasjid. Fiqih Islam. (Sinar Baru Algesindo : Surabaya).


1994. Hal. 278.
2 Wirdyaningsih, SH., MH. Bank dan Asuransi Islam di Indonesia.
(Prenada Media : Jakarta). 2005. Hal. 125.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa yang dimaksud dengan hiwalah?
1.2.2 Apa landasan hukum, rukun, syarat dan jenis-jenis
hiwalah?
1.2.3 Bagaimana hiwalah dalam perbankan syariah?
1.2.4 Apa yang dimaksud dengan wadiah?
1.2.5 Apa landasan hukum, rukun, syarat dan jenis-jenis
wadiah?
1.2.6 Bagaimana wadiah dalam perbankan syariah?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Mengetahui yang dimaksud dengan hiwalah.
1.3.2 Mengetahui landasan hukum, rukun, syarat dan jenisjenis hiwalah.
1.3.3 Mengetahui hiwalah dalam perbankan syariah.
1.3.4 Mengetahui yang dimaksud dengan wadiah.
1.3.5 Mengetahui landasan hukum, rukun, syarat dan jenisjenis wadiah.
1.3.6 Mengetahui wadiah dalam perbankan syariah.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Hiwalah
2.1.1 Pengertian Hiwalah
Menurut bahasa, yang dimaksud dengan hiwalah ialah
al-intiqal dan al-tahwil, artinya ialah memindahkan atau
mengoperkan. Maka Aburrahman Al-Jaziri,3 berpenapat bahwa
yang dimaksud dengan hiwalah menurut bahasa ialah :









Pemindahan dari satu tempat ke tempat yang lain.
Sedangkan pengertian hiwalah menurut istilah,4 para ulam berbeabeda dalam mendefinisikannya, antara lain sebagai berikut :
1. Menurut Hanafiyah, yang dimaksud hiwalah ialah :

Memindahkan tagihan dari tanggung jawab yang berutang kepada yang
lain yang punya tanggung jawab kewajiban pula.
2. Al-Jazir sendiri sendiri berpendapat bahwa yang dimaksud dengan
hiwalah ialah :


Pernikahan utang dari tanggung jawab seseorang menjadi tanggung
jawab orang lain.
3. Syihab Al-Din Al-Qalyubi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan
hiwalah ialah :


Akad yang menetapkan pemindahan bebean utang dari seseorang kepada
yang lain.5
3 Lihat, al-Fiqh Ala Madzahib al-Arbaah, hal. 210.
4 Ibid.
5 Lihat, Qulyubi wa Umaira, Dar al-Ihya- al-Kutub al-Arabiyah Indonesia,
tth. 318.

4. Ibrahim Al-Bajuri berpendapat bahwa hiwalah ialah :



Pemindahan kewaikban dari beban yang memindahkan menjadi beban
yang menerima pemindahan. 6
5. Menurut Taqiyuddin, yang dimaksud dengan hiwalah ialah :

Pemindahan utang dari beban seseorang menjadi beban orang lain.7
2.1.2 Landasan Hukum Hiwalah
1. Al-Quran

Hai
orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah8 tidak secara
tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan
hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar
2. Hadits

"Menunda (pembayaran hutang) oleh orang yang telah mampu membayar


itu suatu penganiayaan. Apabila salah seorang di antara kamu hutangnya
dilimpahkan kepada orang yang mampu, hendaklah kamu menerima.9
3. Ijma
Kesepakatan ulama (ijma) menyatakan bahwa hiwalah boleh dilakukan

6 Lihat, al-Bajuri, Usaha Keluarga, Semarang. Tth. Hal. 376.


7 Lihat, Kifayah al-Akhyar, hal. 274.
8 Bermuamalh ialah seperti jual beli, hutang-piutang, sewa-menyewa
dan lain sebagainya.
9 HR. Bukhari Muslim.

2.1.3 Rukun dan Syarat Hiwalah


Menurut Hanafiyah, rukun hiwalah hanya satu yaitu ijab dan kabul
yang dilakukan antara yang menghiwalahkan dengan yang menerima hiwalah.
Syarat-syarat hiwalah hiwalah menurut Hanafiyah ialah :
1. Orang yang memindahkan utang (muhil), adalah orang yang berakal, maka
batal hiwalah yang dilakukan muhil dalam keadaan gila atau masih kecil.
2. Orang yang menerima hiwalah (rah al-dayn), adalah orang yang berakal,
maka batallah hiwalah yang dilakukan oleh orang yang tidak berakal.
3. Orang yang di hiwalahkan (muhal alaih) juga harus orang berakal dan
disyaratkan juga ia meridhainya.
4. Adanya utang muhil kepada muhal alaih.10
Menurut Syafiiyah, rukun hiwalah itu ada empat, sebagai berikut :
1. Muhil, yaitu oran yang menghiwalahkan atau orang yang memindahkan
utang.
2. Muhtal, yaitu orang yang dihiwalahkan, yaitu orang yang mempunyai
utang kepada muhil.
3. Muhal alaih, yaitu orang yang menerima hiwalah.
4. Ada piutang muhal alaih kepada muhil.
5. Shigat hiwalah, yaitu ijab dari muhil dengan kata-katanya: aku
hiwalahkan utangku yang hak bagi engkau kepada fulan dan kabul dari
muhtal dengan kata-katanya : aku terima hiwalah engkau.11
2.1.4 Beban Muhil Setelah Hiwalah
Apabila hiwalah berjalan sah, dengan sendirinya tanggung jawab
muhil gugur. Andaikata muhal alaih mengalami kebangkrutan atau
membantah hiwalah atau meninggal dunia, maka muhal tidak boleh kembali
lagi kepada muhil. Hal ini adalah pendapat jumhur ulama.
Menurut madzhab Maliki, bila muhil telah menipu muhal, ternyata
muhal alaih orang kafir yang tidak memiliki sesuatu apapun untuk membayar,
10 Liahat, Abd al-Rahman al-Jazairi, Fiqh Ala Madzahib al-Arbaah,
1969 hal. 212-213.
11 Ahmad Idris dalam, Fiqh al-Syafiiyah, Karya Indah, Jakarta, 1986.
Hal. 57-58.

maka muhal boleh kembali lagi kepada muhil. Menurut Imam Malik, orang
yang menghiwalahkan utang kepada orang lain, kemudian muhal alaih
mengalami kebagnkrutan atau meniggal dunia ia belum membayar kewajiban,
maka muhal tidak boleh kembali kepada muhil.
Abu Hanifah, Syarih, dan Utsman berpendapat bahwa dalam keadaan
muhal alaih mengalami kebangkrutan atau meninggal dunia maka orang yang
mengutangkan (muhal) kembali lagi kepada muhil untuk menagihnya.12
2.1.5 Hiwalah dalam Perbankan Syariah
Al-Hiwalah,

yaitu

jasa

pengalihan

tanggung

jawab

pembayaran utang dari seseorang yang berutang kepada orang


lain.13 Contoh : Tuan A karena transaksi perdagangan berutang
kepada Tuan C. Tuan A mempunyai simpanan di Bank, maka atas
permintaan tuan A, bank dapat melakukan pemindahbukuan
dana pada rekening tuan A untuk keuntungan rekening C. Atas
jasa pengalihan utang ini bank memperoleh fee.
Muhal Alaih
(Factor/Bank)
2. invoice

5. Bayar
3. Bayar

4. Tagih

Muhal al-hiwalah ini diatur dalam


MuhilFatwa DSN No.
Ketentuan umum
(Penyuplai)
(Pembeli)
1. Suplai Barang
12/DSN-MUI/IV/2000, dengan isi ketentuannya
sebagai berikut :
1) Rukun hiwalah adalah muhil yaitu orang yang berutang dan sekaligus
berpiutang kepada muhal, muhal atau muhtal adalah orang yang
berpiutang kepada muhil, muhal alaih yaitu orang yang berutang kepada
muhil dan wajib membayar utang kepada muhtal, dan sighat (ijab kabul).
12 Lihat, Syyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, hal. 44.
13 Wirdyaningsih, SH., MH. Bank dan Asuransi Islam di Indonesia.
(Prenada Media : Jakarta). 2005. Hal. 164.

2) Pernyataan ijab dan kabul harus dinyatakan oleh

para pihak untuk

menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad).


3) Akad dituangkan secara tertulis, melalui korespondensi,

atau

menggunakan cara-cara komunikasi modern.


4) Hiwalah dilakukan harus dengan persetujuan muhil, muhal/muhtal, dan
muhal alaih.
5) Kedudukan dan kewajiban para pihak harus dinyatakan kdlam akad secara
tegas.
6) Jika transaksi hiwalah telah dilakukan, pihak-pihak yang terlibat hanyalah
muhal dan muhal alaih dan hak penagihan muhal berpindah kepada
muhal alaih.
2.2 Wadiah (Petaruh)
2.2.1 Pengertian Wadiah (Petaruh)
Wadiah (Petaruh) adalah menitipkan suatu barang kepada
orang lain agar diaa

dapat memelihara

sebagaimana mestinya.

14

dan menjaganya

Kata wadiah berasal dari wadaasy

syai-a, yaitu meninggalkan sesuatu. Sesuatu yang seseorang


tinggalkan pada orang lain agar dijaga disebut wadiah, karena
dia meninggalkannya pada orang yang sanggup menjaga. Secara
harfiah, Al-wadiah dapat diartikan sebagai titipan murni dari satu
pihak ke pihak yang lain, baik individu maupun badan hukum,
yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip
menghendakinya.
Sabda Rasulullah Saw:
Dari

Abu

Hurairah,Nabi

Saw.

telah

bersabda,Bayarkanlah

petaruh itu kepada orang yang mempercayai engkau, dan


jangan sekali-kali engkau berkhianat, meskipun terhadap orang
yang telah berkhianat kepadamu. (Riwayat Tarmizi)
14

Madzhab Hanafi mendefinisikan :



Mengikut sertakan orang lain dalam memelihara harta baik
dengan ungkapan yang jelas maupun isyarat. Umpamanya
ada seseorang menitipkan sesuatu pada seseorang dan si
penerima titipan menjawab ia atau mengangguk atau dengan
diam yang berarti setuju, maka akad tersebut sah hukumnya.

Madzhab

Hambali,

SyafiI

dan

Maliki

(jumhur

ulama)

mendefinisikan wadiah sebagai berikut :



Mewakilkan orang lain untuk memelihara harta tertentu
dengan cara tertentu.
Tokoh-tokoh

ekonomi

perbankan

berpendapat

bahwa

wadiah adalah akad penitipan barang atau uang kepada pihak


yang

diberi

keselamatan,

kepercayaan
keamanan

dengan

dan

tujuan

keutuhan

untuk

barang

menjaga

atau

uang

tersebut.
2.2.2 Landasan Syariah Wadiah
Firman Allah Swt :
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat
kepada yang berhak menerimanya. (An-Nisa: 58)

Firman Allah dalam Q.S Al Baqarah ayat 283:


Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara
tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka
hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang
berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai
sebagian

yang

lain.

Maka

hendaklah

yang

dipercayai

itu

menunaikan amanahnya (utangnya) dan hendaklah ia bertakwa


kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi)
menyembunyikan

persaksian.

Dan

barang

siapa

yang

menyembunyikan, maka sesungguhnya ia adalah orang yang


berdosa hatinya dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.
Dalam Hadits Rasulullah SAW juga berbunyi :
Serahkanlah amanat kepada orang yang mempercayai anda
dan janganlah anda mengkhianati orang yang mengkhianati
anda. (HR. Abu Daud, Trimidzi, dan Hakim).
Berdasarkan ayat dan Hadits di atas, para ulama sepakat
mengatakan bahwa akad Wadiah (titipan) hukumnya mandub
(disunahkan), dalam rangka tolong-menolong sesama manusia.
Ijma Para ulama daria zaman dulu sampai sekarang telah
menyepakati akad wadiah ini karena manusia memerlukannya
dalam kehidupan muamalah.
Hukum Menerima Wadiah
1. Sunat
Bagi orang yang percaya kepada dirinya bahwa dia sanggup
menjaga petaruh yang diserahkan kepadanya. Memang
menerima petaruh adalah sebagian dari tolong-menolong
yang dianjurkan oleh agama Islam. Hukum ini (sunat) apabila

ada orang lain yang dapat dipetaruhi; tetapi jika tidak ada
orang lain, hanya dia sendiri, ketika ia wajib menerima
petaruh yang dititipkan kepadanya.
2. Haram
Apabila dia tidak kuasa atau tidak sanggup menjaganya
sebagaimana mestinya, karena seolah-olah ia membukakan
pintu untuk kerusakan atau lenyapnya barang yang dititipkan
itu.
3. Makruh
Yaitu bagi orang yang dapat menjaganya, tetapi ia tidak
percaya kepada dirinya; boleh jadi di kemudian hari hal itu
akan menyebabkan dia berkhianat terhadap barang yang
dititipkan kepadanya.
2.2.3 Rukun dan Syarat Wadiah
a. Rukun Wadiah (Petaruh)
-

Muwaddi (Orang yang menitipkan)

Wadii (Orang yang dititipi barang)

Wadiah (Barang yang dititipkan)

Shighot (Ijab dan qobul).


Dengan dijelaskan bahwa:

1. Ada barang yang dipetaruhkan. Syaratnya, merupakan


milik yang sah.
2. Ada yang berpetaruh dan yang menerima petaruh. Syarat
keduanya seperti keadaan wakil danyang berwakil; tiaptiap orang yang sah berwakil atau menjadi wakil, sah pula
menerima petaruh atau berpetaruh.
3. Lafaz, seperti: Saya terima petaruhmu.

Menurut

pendapat yang sah tidak disyaratkan adanya lafaz kabul,


tetapi cukup dengan perbuatan (menerima barang yang
dipetaruhkan).habis masa akad wadiah ialah dengan
matinya salah seorang dari yang berpetaruh atau yang
menerima petaruh, begitu juga apabila salah seorang gila
atau minta berhenti.

Akad petaruh adalah akad percaya atau mempercayai.


Oleh

karena

itu,

yang

menerima

petaruh

tidak

perlu

menggantinya apabila barang yang dipetaruhkan hilang atau


rusak. Kecuali apabila rusak karena ia lalai atau kurang
penjagaan, berarti tidak dijaga sebagaimana mestinya.
b. Syarat Wadiah
Syarat wadiah yang dimaksud adalah persyaratan yang
harus dipenuhi oleh rukun wadiah. Dalam hal ini persyaratan
itu mengikat kepada Muwaddi, wadii dan wadiah. Muwaddi
dan wadii mempunyai persyaratan yang sama yaitu harus
balig, berakal dan dewasa. Sementara wadiah disyaratkan
harus berupa suatu harta yang berada dalam kekuasaan/
tangannya secara nyata.
Sifat akad wadiah termasuk akad yang tidak lazim,
maka kedua belah pihak dapat membatalkan perjanjian akad
ini

kapan

saja.

Karena

dalam

wadiah

terdapat

unsur

permintaan tolong, maka memberikan pertolongan itu adalah


hak dari wadii. Jika ia tidak mau, maka tidak ada keharusan
untuk menjaga titipan.
Namun

jika

wadii

mengharuskan

pembayaran,

semacam biaya administrasi misalnya, maka akad wadiah ini


berubah menjadi akad sewa (ijaroh) dan mengandung unsur
kelaziman. Artinya wadii harus menjaga dan bertanggung
jawab terhadap barang yang dititipkan. Pada saat itu wadii
tidak dapat membatalkan akad ini secara sepihak karena dia
sudah dibayar.
2.2.4 Jenis-jenis Wadiah

1. Wadiah yad amanah


Pada keadaan ini barang yang dititipkan merupakah bentuk
amanah belaka dan tidak ada kewajiban bagi wadii untuk
menanggung kerusakan kecuali karena kelalaiannya.
2. Wadiah yad dhomanah
Wadiah dapat berubah menjadi yad dhomanah, yaitu
wadii harus menanggung kerusakan atau kehilangan pada
wadiah, oleh sebab-sebab berikut ini:
- Wadii menitipkan barang kepada orang lain yang tidak
biasa dititipi barang.
- Wadii meninggalkan barang titipan sehingga rusak.
- Memanfaatkan barang titipan.
- Bepergian dengan membawa barang titipan.
- Jika wadii tidak mau menyerahkan barang ketika diminta
muwaddi, maka ia harus menanggung jika barang itu
rusak.
- Mencampur

dengan

barang

lain

yang

tidak

dapat

dipisahkan.
2.2.5Wadiah dalam Praktek Perbankan
Dalam perbankan Syariah terdapat beberapa prinsip yang
diadobsi

dalam

pengelolaanya,

yang

ditujukan

untuk

menggalang dana untuk membiayai operasinya. Sumber dana


dalam perbankan secara umum ada 3, yaitu dari bank sendiri,
yang

berupa

modal

setoran

dari

pemegang

saham,

masyarakat, yang berupa simpanan dalam bank tersebut.

dari

Dalam

rangka

menghimpun

modal,

bank

syariah

melakukan pendekatan tunggal dalam menyediakan produk


penghimpunan dana bagi nasabahnya. Wadiah merupakan salah
satu

produk

penghimpun

dana/

modal bank

Syariah

dari

nasabah/ masyarakat.
1. Bentuk Wadiah dan Jenis Transaksinya
Dalam aplikasinya di perbankan, wadiah secara
fungsional dapat dibagi

menjadi dua, yaitu pertama,

wadiah (titipan). Terdapat dua katagori titipan dalam


prakteknya di bank syariah yaitu :
-

Wadiah jariyah (tahta tholab) yaitu suatu titipan, di mana


penyimpan berhak mengambilnya kapan saja baik cash
ataupun dengan cek atapun melalui nasabah pihak ketiga.

Wadiah Iddikhoriyah (at taufir), Ciri-ciri simpanan ini


adalah kecilnya simpanan dan banyaknya jumlah nasabah
penyimpan

dan bank menyalurkannya untuk investasi

dengan akad mudhorobah muthlaqoh.


Dua jenis simpanan ini pada prakteknya, bank
memanfaatkannya
mengembalikan

untuk

keperluan

simpanan.

Berbeda

investasi
dengan

dan

konsep

wadiah dalam fiqh di manawad (penerima titipan) harus


mengembalikan barang simpanan tersebut. Maka dengan
begitu yad (kepemilikan) bank syariah terhadap simpanan
tersebut adalah yad dhomanah/ guarantee Depository
(penjamin).
Lebih lanjut Syafii Antonio menjelaskan karakteristik
kedua jenis simpanan ini yaitu:

1. Harta

dan

barang

yang

dititipkan

boleh

dan

dapat

dimanfaatkan oleh yang menerima titipan.


2. Karena dimanfaatkan, barang dan harta yang dititipkan
tersebut tentu dapat menghasilkan manfaat. Sekalipun
demikian tidak ada keharusan bagi penerima titipan untuk
memberikan hasil pemanfaatan kepada si penitip.
3. Produk perbankan yang sesuai dengan akad ini adalah
yaitu giro dan tabungan.
4. Bank konvensional memberikan jasa giro sebagai imbalan
yang

dihitung

berdasarkan

presentase

yang

telah

ditetapkan. Adapun pada bank syariah, pemberian bonus


(semacam jasa giro) tidak boleh disebutkan dalam kontrak
ataupun

dijanjikan

dalam

akad,

tetapi

benar-benar

pemberian sepihak sebagai tanda terima kasih dari pihak


bank.
5. Jumlah

pemberian

kewenangan

bonus

manajemen

sepenuhnya

bank

syariah

merupakan
karena

pada

prinsipnya dalam akad ini penekanannya adalah titipan.


6. Produk tabungan juga dapat menggunakan akad wadih
(titipan) karena pada prinsipnya tabungan mirip dengan
giro, yaitu simpanan yang bisa diambil setiap saat.
Perbedaanya, tabungan tidak dapat ditarik dengan cek
atau alat lain yang dipersamakan.
Pada aplikasinya, sebagiamana di atas telah dijelaskan oleh
Antonio, dua katagori wadiah di atas diaplikasikan pada produk
yang umumnya berupa giro dan tabungan.

Rekening Giro Wadiah


Bank syariah memberikan jasa simpanan giro dalam

bentuk

rekening

wadiah.

Dalam

hal

ini

bank

syariah

menggunakan prinsip wadiah yad dhomanah. Dengan prinsip


ini bank sebagai custodian harus menjamin pembayaran
kembali nominal simpanan wadiah. Dana tersebut dapat
digunakan oleh bank untuk kegiatan komersial dan bank
berhak atas pendapatan yang diperoleh dari pemanfaatan
harta titipan tersebut dalam kegiatan kegiatan komersial.
Namun demikian bank, atas kehendaknya sendiri, dapat
memberikan imbalan berupa bonus (hibah) kepada pemilik
dana (pemegang rekening wadiah).
Perbedaan antara jasa giro (konvensional) dan bonus :
No
1
2
3

Jasa Giro
Diperjanjikan
Disebutkan dalam akad
Ditentukan

Bonus (Athoya)
Tidak diperjanjikan
Benar-benar merupakan budi

baik
dalam Ditentukan

persentase tetap
-

sesuai

dengan

keuntungan riil bank

Rekening Tabungan Wadiah


Prinsip wadiah yad dhomanah ini juga dipergunakan

oleh bank dalam mengelola jasa tabungan. Bank memperoleh


izin dari nasabah untuk menggunakan dana tersebut selama
mengendap di bank. Bonus (hibah) dapat diberikan oleh bank
sebagai imbalan yang berasal dari keuntungan bank.
2. Titipan Investasi (Wadah istismriyah)
Ciri khas wadiah ini adalah nasabah penitip (mudi)
menyerahkan

dananya

ke

bank

dengan

niat

untuk

di

investasikan. Dengan begitu nasabah penitip sebagai pemilik

modal sedangkan bank sebagai wakil atau pemanfaat dana.


Dalam prakteknya, bank syariah menyediakan dua bentuk
penerapan

titipan

investasi yaitu :
a. General investment (investasi umum)
Ciri bentuk ini adalah shohibu al-mal (pemilik dana) tidak
membatasi bank syariah dengan batasan-batasan tertentu
tetapi

diberi

wewenang

untuk

menginvestasikan modalnya dalam waktu dan jenis usaha yang


di pilih oleh bank itu sendiri. Aplikasi perbankan yang sesuai
dengan akad ini adalah time deposit biasa. Atau secara umum,
bentuk wadiah ini lebih dikenal dengan wadiah yad adhdhomanah (Guarante Depository).
Syafii Antonio menjelaskan bahwa dalam skema tersebut
terdapat

beberapa

hal

yang

sangat

berbeda

secara

pundamental dalam hal nature of relationshif between bank and


costumers pada bank konvensional, yaitu:
1) Penabung atau deposan di bank syariah adalah investor
dengan sepenuh-penuhnya makna investor. Dia bukanlah
lender atau creditor bagi bank seperti halnya bank umum.
Dengan demikian, secara prinsip, penabung dan deposanentit
led untukrisk danreturn dari hasil bank.
2) Bank memiliki dua fungsi: kepada deposan atau penabung, ia
bertindak sebagai pengelola (mudhorib), sedangkan kepada
dunia

usaha,

ia

berpungsi sebagai pemilik dana (shohibul mal). Dengan


demikian

baik

ke

kiri maupun ke kanan, bank harus sharing risk danreturn.


3) Dunia usaha berpungsi sebagai pengguna dan pengelola
dana yang harus berbagi hasil dengan pemilik dana, yaitu

bank. Dalam pengembangannya, nasabah pengguna dana


dapat juga menjalin hubungan dengan bank dalam bentuk
jual beli, sewa dan fee based services.
Di samping itu pada prakteknya, jumlah nasabah penitip
(deposan) jumlahnya puluhan bahkan ratusan begitu pula halnya
dengan nasabah pemanfaat dana. Hal ini terjadi dalam satu
bidang investasi. Oleh karena itu Dr. Abd. Munim Abu Zaid
mengusulkan beberapa hal berkaitan dengan ini yaitu :
1. Ada menajemen khusus terhadap modal ini.
2. Menyatakan waktu di mulai modal ini di pakai investasi.
3. Pembagian keuntungan secara independen pada setiap
proyek
Mengingat wadiah yad dhamanah ini mempunyai implikasi
hukum yang sama dengan qardh, maka nasabah penitip dan
pihak

Bank

tidak

boleh

saling

menjanjikan

untuk

membagihasilkan keuntungan harta tersebut. Namun demikian,


pihak Bank diperkenankan memberikan bonus kepada pemilik
harta titipan selama tidak disyaratkan di muka. Dengan kata lain,
pemberian bonus merupakan kebijakan Bank semata yang
bersifat sukarela.
b. Special investment (investasi khusus).
Bentuk ini mempunyai karakteristik: Shhib al-ml (pemilik
dana) memberikan batasan atas dana yang diinvestasikannya.
Mudhorib hanya bisa mengelola dana tersebut sesuai dengan
batasan yang diberikan oleh shhib al-ml. Misalnya hanya
bentuk jenis usaha tertentu saja, tempat tertntu, waktu tertentu

dan lain-lain. Aplikasi perbankan yang sesuai dengan akad ini


adalah special investment

(investasi khusus). Secara umum,

bentuk ini dikenal dengan wadiah yad al-amanah (trustee


Depository).

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Hiwalah adalah memindahkan utang dari tanggungan
seseorang kepada tanggungan orang lain. Rukun hiwalah :
1. Muhil
2. Muhal
3. Muhal alaih

4. Utang muhil kepada muhal


5. Utang muhal alaih kepada muhal
6. Sighat
Praktek hiwalah tidak hanya dilakukan oleh masyarakat
pada umumnya namun praktek ini juga diterapkan oleh Bank
Syariah sebagai salah satu bentuk pelayanan jasa dengan
ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam Fatwa DSN
No. 12/DSN-MUI/IV/2000.

Daftar Pustaka
http://pasar-islam.blogspot.com/2010/10/bab-10-hiwalah-pemindahan
hutang.html.
Rasjid, Sulaiman. Fiqih Islam (Hukum Fiqih Lengkap). Bandung : Sinar Baru
Algesindo. 1994.
Suhendi, Hendi. Fiqih Muamalah. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 2011.
Wirdyaningsih. Bank dan Asuransi Islam di Indonesia. Jakarta : Kencana. 2005.