Anda di halaman 1dari 35

1.

PRAKTIKUM ELEKTRONIKA TELEKOMUNIKASI


2. KARAKTERISTIK OP-AMP

6.

3.
4.
5. Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah Praktikum Elektronika Telekomunikasi
7. Semester 4
8.
9.
10. PEMBIMBING :

11. Lis Diana M, ST, MT.


12.
13.

14.
15.
16.

17. Kelompok 2 JTD-2A


18.
19. Aulian Fardani
1
.
21. 22. Citra Kusuma Wardani
2
.
24. 25. Ekananda Sulistyo Putra
3
.
27.
28. Iga Revva Princiss
4
Jeinever
.
30.
31. Novan Ferdiansyah
5
.

33.
34.

20. 14411600
82
23. 14411600
79
26. 14411600
13
29. 14411600
99
32. 14411600
96

35.
36. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
37. TEKNIK ELEKTRO
38. POLITEKNIK NEGERI MALANG
39. 2016
40.
41.
42. KARAKTERISTIK OP-AMP
1.1 Tujuan :
Mempelajari Pengoperasian penguat inverting
Mempelajari Pengoperasian penguat Non inverting
Mempelajari Penguat inverting Sebagai Penjumlah
1.2 Alat dan Bahan :
Modul Op-Amp (LM-741)
Osiloskop Dual trace
Power Supply
Generator Fungsi
BNC to BNC
T Connector
Banana to Banana
Kabel Jepit
Jumper
Plat
Multimeter Analog/Digital
1.3 Teori Dasar
43. Karakterisik Op Amp sebagai rangkaian penguat yang baik :
a.
b.
c.
d.
e.

Versatility
Impedansi Input yang Tinggi
Common Mode Rejection
Penguat yang tinggi
Impedansi output yang rendah

44. Opearational Amplifier (Op-Amp)


45.
Op-Amp merupakan rangkaian penguat tegangan dengan elemen tahanan,
kapasitor, dan transistor yang dibuat secara integrated circuit (IC). OpAmp mempunyai lima
terminal dasar yaitu, dua terminal untuk mensuplai daya, dua teminal untuk masukan

(masukan pembalik/ inverting input dan masukan tak membalik/ non-inverting input), dan
satu terminal untuk keluaran (output).

46.
47. Gambar Operational Amplifier (Op-Amp)
48. Op-Amp mempunyai beberapa fungsi, diantara nya sebagai amplifier ( inverting amplifier
dan non-inverting amplifier ) dan sebagai buffer.
49. Karakteristik-karakteristik yang dimiliki oleh Op-Amp sebagai amplifier ideal, yaitu:
Impedansi input yang tinggi (Vi)

Impedansi output yang rendah (Vo)

Mempunyai penguatan tegangan yang tinggi

Tegangan output = 0, jika input = 0

50. Jenis rangkaian op-amp :


A. Inverting Amplifier
51.

Inverting Amplifier merupakan penerapan dari penguat operasional sebagai

penguat sinyal dengan karakteristik dasar sinyal output memiliki phase yang berkebalikan 180 o
dengan phase sinyal input. Pada dasarnya penguat operasional (Op-Amp) memiliki faktor
penguatan yang sangat tinggi (100.000 kali) pada kondisi tanpa rangkaian umpan balik. Dalam
inverting amplifier salah satu fungsi pamasangan resistor umpan balik (feedback) dan resistor
input adalah untuk mengatur faktor penguatan inverting amplifier (penguat membalik) tersebut.
Dengan dipasangnya resistor feedback (RF) dan resistor input (Rin) maka faktor penguatan dari
penguat membalik dapat diatur dari 1 sampai 100.000 kali. Untuk mengetahui atau menguji dari
penguat membalik (inverting amplifier) dapat menggunakan rangkaian dasar penguat membalik
menggunakan penguat operasional (Op-Amp) seperti pada gambar berikut.

52.
53.

Rumus :

58.

Contoh gambar Sinyal Output Dan Sinyal Input Inverting Amplifier :

54.
55.
56.
57.
59.

60.
B. Non-Inverting Amplifier
61.

Penguat Tak-Membalik (Non-Inverting Amplifier) merupakan penguat sinyal

dengan karakteristik dasat sinyal output yang dikuatkan memiliki fasa yang sama dengan sinyal
input. Penguat tak-membalik (non-inverting amplifier) dapat dibangun menggunakan penguat
operasional, karena penguat operasional memang didesain untuk penguat sinyal baik membalik
ataupun tak membalik. Rangkain penguat tak-membalik ini dapat digunakan untuk memperkuat
isyarat AC maupun DC dengan keluaran yang tetap sefase dengan sinyal inputnya. Impedansi
masukan dari rangkaian penguat tak-membalik (non-inverting amplifier) berharga sangat tinggi
dengan nilai impedansi sekitar 100 MOhm. Contoh rangkaian dasar penguat tak-membalik
menggunakan operasional amplifier (Op-Amp) dapat dilihat pada gambar berikut.

62.
63.

Rumus :

64.
65.
66. Contoh gambar Sinyal Output Dan Sinyal Input Non-Inverting Amplifier :
67.
68.
69.
70.
71.
C. Penguat Penjumlah
72.
Rangkaian penjumlah adalah konfigurasi op-amp sebagai penguat dengan
di berikan imput lebih dari satu untuk menghasilkan sinyal output yang linier sesuai
dengan nilai penjumlahan sinyal input dan faktor penguat yang ada. pada umumnya
rangkaian penjumlah adalah rangkaian penjumlah dasar yang disusun dengan penguat
inverting dan non inverting yang diberikan input 1 line.

73.
74.
sinyal input pada (V1.V2,V3) diberikan keline input penguat inverting berturutturut melalui R1,R2,R3 . besarnya sinyal input tersebut bernilai negatif karena penguat
operasional dioperasikan pada mode membalik inverting.
besarnya penguatan tegangan (Av) tiap sinyal input mengikuti nilai perbandingan Rf dan
resistor input masing-masing (R1,R2,R3). masing-masing tegangan output dari penguat
masing-masing sinyal input tersebut secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:

75.
1.4 Prosedure Percobaan :
A. Penguat Op-Amp Inverting
1. Hubungkan rangkaian sebagai berikut :
2. Set generator pada frekuensi 1 Khz, serta naikkan amplitudonya sampai diperoleh sinyal
keluaran maksimum tidak cacat, amati serta catat besar Vin , Vout serta fasa yang terjadi.
3. Ganti nilai Rr dengan nilai resistansi seperti tertera dalam table 1.1 serta Amati Vin , Vout
serta fasanya, lengkapi table 1.1

76. Rf

77. Rr

78. Vin p-p

79. Vo p-p

(K)

(V)

(V)

84. 10
85. 16.8
83. 10 91. 4.7
92. 16.8
98.
3.3
99. 16.8
k
105.33
106.16.8
111. Perhitungan :
112.Gain hitung = -Rf /Rr
Pada saat Rr = 3.3 K
113. G = -10/3.3
114.
= -3.03 V
Pada saat Rr = 10 K
115. G = -10/10
116.
= -1V
Pada saat Rr = 33 K

86. 16.8
93. 34.4
100.48.0
107.5.2

80. Gain

81. Gain

Ukur

Hitung

82. Fasa

Vo/Vi (V)
87. 1
94. 2.04
101.2.8
108.0.3

(V)
88. -1
95. -2.12
102.-3.03
109.-0.30

89. 180o
96. 180o
103.180o
110.180o

Gain Ukur = Vout/Vin


Pada saat Rr = 3.3 K
G = 48/16.8
= 2.8
Pada saat Rr = 10 K
G = 16.8/16.8
= 1V
Pada saat Rr = 33 K

117. G = -10/33
118.
= -0.30
Pada saat Rr = 4.7 K
119. G = -10/4.7
120.
= -2.12

G = 5.2/16.8
= 0.30
Pada saat Rr = 4.7 K
G = 34.4/16.8
= 2.04

121.Hasil :
122. 123.Simulasi
No
125.
1

124.Percobaan

126.3.3 K

127.

129.10 k

130.

132.33K

133.

135.4.7K

136.

128.
2

131.
3

134.
4

137.
B. Penguat Op-Amp Non Inverting
1. Menghubungkan rangkaian seperti pada gambar 1.6 berikut:

2. Ulangi langkah pada prosedur percobaan penguat Op-amp untuk langkah2-3 serta
lengkapi table 2.

138.Rf

139.Rr

140.Vin p-p

141.Vo p-p

(K)

(V)

(V)

146.10
147.16.8
145.10 153.4.7
154.16.8
160.3.3
161.16.8
ki
167.33
168.16.8
173.Perhitungan :
174.Gain hitung =1+ (Rf /Rr)
Pada saat Rr = 3.3 K
175. G = 1+ (10/3.3)
176.
= 4.03 V
Pada saat Rr = 10 K
177. G = 1+ (10/10)
178.
= 2V
Pada saat Rr = 33 K
179. G = 1+ (10/33)
180.
= 1.30V
Pada saat Rr = 4.7 K
181. G = 1+ (10/4,7)
182.
= 3.12 V

148.32.6
155.51.2
162.64.0
169.21.4

142.Gain

143.Gain

Ukur

Hitung

Vo/Vi (V)
149.1.94
156.3.04
163.3.8
170.1.2

Gain Ukur = Vout/Vin


Pada saat Rr = 3.3 K
G = 64/16.8
= 3.8
Pada saat Rr = 10 K
G = 32.6/16.8
= 1.94V
Pada saat Rr = 33 K
G = 21.4/16.8
= 1.2
Pada saat Rr = 4.7 K
G = 51.2/16.8
= 3.04

183.Hasil :
184. 185.Simulasi
No
187.
1

(V)
150.2
157.3.12
164.4.03
171.1.3

186.Percobaan

188.3.3 K

189.

191.10 k

192.

190.
2

144.Fasa
151.0o
158.0o
165.0o
172.0o

193.
3

194.33K

195.

197.4.7K

198.

196.
4

199.
C. Penguat Penjumlah
1. Menghubungkan rangkaian seperti pada gambar dibawah ini :

200.
2. Hubungkan saklar S1m hitung tegangan output : .. Volt. Tegangan input adalah 1,5
V.
3. Hubungkan saklar S1 dan S2, hitung tegangan output : Volt. Tegangan input
adalah 3 V. hitung tegangan pada pin 2 Op-Amp :.Volt. Dapatkah anda
menjelaskan pengukuran ini.
4. Balikkan polaritas B1 amati tegangan ouput untuk S1 tertutup dan S2 terbuka:. Volt.
Jika S2 tertutup dan S1 terbuka :.. Volt. Jika kedua saklar tertutup : Volt.
201.N 202.Polarita
O
s
207.1 208.(- , +)
213.2 214.(- , +)

203.Vin S1(v)
209.1.5
215.1.5

204.Vin S2(v)
210.0
216.1.5

205.Vout (V)
211.-1.5
217.-3

206.Vout
(teori)
212.-1.5
218.-6

219.3 220.(+ , -)
225.4 226.(+ , -)
231.Perhitungan :

221.1.5
227.1.5

222.0
228.1.5

223.1.5
229.3

232.Vout = -[((Rf/R1) x V1) + ((Rf/R2) x V2)]


1. (- , +)
Vin S1 = 1.5 V
Vin S2 = 0 V
233.Vout = -[((Rf/R1) x V1) + ((Rf/R2) x V2)]
234.
= -[((10/10) x 1.5) + ((10/3.3) x 0)]
235.
= -[(1.5) + (0)]
236.
= -1.5
2. (- , +)
Vin S1 = 1.5 V
Vin S2 = 1.5 V
237.Vout = -[((Rf/R1) x V1) + ((Rf/R2) x V2)]
238.
= -[((10/10) x 1.5) + ((10/3.3) x 1.5)]
239.
= -[(1.5) + (4.5)]
240.
= -6
3. (+, -)
Vin S1 = 1.5 V
Vin S2 = 0 V
241.Vout = -[((Rf/R1) x V1) + ((Rf/R2) x V2)]
242.
= -[((10/10) x 1.5) + ((10/3.3) x 0)]
243.
= -[(1.5) - (0)]
244.
= 1.5
245.
4. (+, -)
Vin S1 = 1.5 V
Vin S2 = 0 V
246.Vout = -[((Rf/R1) x V1) + ((Rf/R2) x V2)]
247.
= -[((10/10) x 1.5) + ((10/3.3) x 1.5)]
248.
= -[(1.5) + (4.5)]
249.
=6
250.Hasil :
251. 252.Simulasi
No
254.
1

255.-1.5 & +0

253.Percobaan

256.

224.1.5
230.6

257.
2

258.-1.5 & +1.5

259.

260.
3

261.+1.5 & -0

262.

264.+1.5 & -1.5

265.

263.
4

266.
D. Offset null
1. Menghubungkan rangakain seperti pada gambar 8 (a) dibawah ini :

267.
2. Dalam Kondisi power off gunakan osiloskop atau multimeter untuk mengukur
besarnya output OP-Amp (tanda adanya sinyal masukan). Tegangan output ini sangat
kecil sekali dan dinamakan output offset voltage
3. Dalam kondisi power on, hitung besarnya output offset voltage: Volt

268.
4. Hubungkan rangkaian offset null seperti pada gambar 8 (b) ubah nili potensiometer
sampai diperoleh tegangan output sebesar 0V . dapatkah hal tersebut terjadi?
269.

Table hasil gambar 8 (a)

270.Power
271.Vout
Supply
272.off
273.0 V
274.on
275.0 V
276. Table hasil gambar 8 (b)
277.Power
Supply
280.on
283.

278.Vout

279.Rx (ohm)

281.0.039 V

282.2.42

284.Hasil :

285.

Power off

Power on

286.
287.
null

Hasil dari percobaan

nilai potensiometer untuk offset

E. Common Mode Rejection


1. Menghubungkan rangkaian seperti pada gambar 9 (a) dibawah ini :

288.
2. Set generator frekuensi sebesar 4 Vpp 1Khz kemudian hubungkan ke input rangkaian.
Hitung besarnya tegangan input : Vpp serta tegangan output:. Vpp.
Amati apa yang terjadi ?
289.Hasil
290.N
o
293.1
.

296.

291.Hasil Simulasi

292.Hasil Percobaan
294.

295.

297.Nilai yang didapatkan :


298.
No
302.
1.
306.

299.Generator
Fungsi
303.4Vpp, 1KHz

300.Vin
(V)
304.3.98
V

301.Vout
(V)
305.400
mV

307.

308.
309.
310.
311.
312.
313.
314.
315.
316.
317.
318.
319.

320. ANALISA DAN TUGAS


321.Analisa dan tugas
322.Analisa :
323. Penguat operasional memilki dua masukan dan satu keluaran . penguat
operasional memerlukan tegangan catu yang simetris yaitu tegangan yang bernilai positif (+V)
dan tegangan yang bernilai negatif (-V) terhadapground.
324.
325. Sebuah penguat pembalik menggunakan umpan balik negatif untuk membalik dan
menguatkan tegangan. Resistor Rf melewatkan sebagian sinyal keluaran kembali ke
masukan.Pada Penguat pembalik ini kelompok kami mendapatkan hasil Vout dengan nilai 1,
2.04, 2.08, dan 0.3 V. Setelah itu kelompok kami mengganti colokan multimeter negatif ke

outputa positif di modul dan sebaliknya, dan setelah itu hasilnya berbanding terbalik dengan
hasil sebelumnya / berbanding 180 0.
326.
327. Pada Penguat non inverting berbeda dengan penguat inverting dikarenakan pada
penguat inverting berbanding 1800, sedangkan pada penguat non inverting ini tidak berbanding
1800. Dan pada percobaan yang kami lakukan itu sefasa dangan Vout nya dan nilai Voutnya lebih
dari satu.
328.
329. Pada penjumlahan kelompok kami mendapatkan hasil disaat V1 diinputkan
tegangan sebesar -1.5 V dan V2 0V . dan pada rangkaian penjumlahan ini tegangan yang keluar
merupakan penjumlahan dari sinyal input dan faktor penguat yang ada.
330.
331. Percobaanrangkaian offset null pada kelompok kami mengukur rangakaian tanpa
inputan tegangan atau Generator fungsi dalam keadaan mati hasilnya 0V , dan pada generator
fungsi saat di hidupkan atau di ON kan hasilnya juga sama dengan Generator fungsi dalam
keadaan mati atau OFF.
332. Hasil dari Common mode rejection ini bernilai 400 mV atau 0.4V dimana hal ini
sesuai dengan teori bahwa untuk menekan penguatan tegangan ini (common mode) sekecil
kecilnya.
333.kesimpulan :
1. Pada penguat operasional memerlukan tegangan catu yang simetris yaitu tegangan yang
bernilai positif dan tegangan yang bernilai negativ.
2. Pada penguat inverting dan non inverting outputnya sangatlah berbeda dimana kalo
inverting hasilnya menjadi terbalik menjadi 1800 .
3. Pada penguat operasional ini banyak fungsinya yaitu inverting, non inverting ,
penjumlah, offset null, dan common mode.
334.Aplikasi Dari Op Amp :
335.
336.pengurang
337. Dua sinyal dapat dikurangkan satu terhadap yang lain dengan suatu rangkaian
yang menggunakan Op-Amp. Gambar berikut menunjukkan salah satu rangkaiannya dengan
keluaran sebesar :

338.
339. Persambungan lain untuk mengurangkan dua sinyal diperlihatkan pada gambar
berikut yang hanya menggunakan sebuah Op-Amp. Dengan prinsip superposisi keluarannya
dapat dinyatakan sebagai :
340.
341.
342.
343.
344.
345.
346.
347.
348.
349.
350.
351.
352.Analisa dan Tugas :
353. Operasional amplifier (Op-Amp) adalah suatu penguat berpenguatan tinggi yang
terintegrasi dalam sebuah chip IC yang memiliki dua input inverting dan non-inverting dengan

sebuah terminal output, dimana rangkaian umpan balik dapat ditambahkan untuk mengendalikan
karakteristik tanggapan keseluruhan pada operasional amplifier (Op-Amp).
354. Rangkaian inverting atau rangkaian pembalik adalah rangkaian dimana tegangan
akan berbeda 180 derajat dan mengalami penguatan. Pada hasil praktikum yang telah kami
lakukan menunjukkan nilai yang sama dengan perhitungan secara teori yakni sebesar 1V, 2V,
2.8V dan 0.3V namun probe pada multimeter kami balik sebab jika probe tidak dibalik maka
skala atau jarum pada multimeter akan ke bawah menunjukkan tanda (-) dan angka tidak dapat
dibaca, sehingga kami membalik probe agar kami bisa membaca nilai tegangan yang keluar
sehingga didapatkan hasil -1V, -2V, -2.8V dan -0.3. dengan catatan dimana tanda (-) merupakan
tanda bahwa mengalami perbedaan fasa 180 derajat.
355. Rangkaian non inverting atau rangkaian tidak pembalik adalah rangkaian dimana
tegangan keluaran akan sefasa dan mengalami penguatan. Pada hasil praktikum yang telah kami
lakukan menunjukkan nilai yang sama dengan perhitungan secara teori yakni sebesar 1.94V,
3.04V , 3.8V dan 1.2V namun probe pada multimeter tidak kami balik.
356. Pada rangkaian penjumlahan dapat kita ketahui bahwa diberikan input lebih dari
satu untuk menghasikan sinyal ouput yang linier sesuai dengan nilai penjumlahan sinyal input
dan faktor penguatan yang ada. Pada umumnya rangkaian penjumlah dengan Op-Amp adalah
rangkaian penjumlah dasar yang disusun dengan penguat inverting atau non inverting. Hal ini
merupakan percobaan yang telah kami lakukan, dimana masing masing sumber tegangan
diberikan nilai 1.5V dan hasilnya menunjukkan 6V sesuai dengan polaritasnya.
357. Rangkaian offset null menunjukkan bahwa saat posisi sumber di off maka nilai
tegangan outputnya bernilaii 0V tetapi saat sumber on nilai tegangan 0V, hal tersebut
dikarenakan pengaruh dari potensiometernya yang dapat mengatur tegangan sekecil - kecilnya.
Berdasarkan teori menunjukkan bahwa 2 tegangan yang masuk harus seimbang maka input
offset harus bernilai 0
358. Hasil dari percobaan Common mode rejection yang kami lakukan menunjukkan
nilai output 400 mV atau 0.4V dimana hal tersebut sesuai dengan teori Common mode rejection
yang menunjukkan bahwa Common mode rejection menekan penguatan tegangan sekecil
kecilnya.
359.Kesimpulan :
360. Penguat Op-amp memiliki beberapa pengaplikasian yaitu dalam praktikum ini
penguatan inverting ,non inverting, penjumlahan, offset null, common mode rejection. Pada
inverting mengalami penguatan selain itu hasil hamper sama namun antara gain pengukuran
dengan gain perhitungan berbanding terbalik sedangkan pada non inverting hanya terjadi
pengutan dimana hasil antara gain pengukuran dan perhitungan mendekati sama dengan nilai

sama sama positif. Dikarenakan pada penguat non inverting input masuk melalui sisi positif
dan tidak terjadi pembalik fasa
361.Tugas :
1. Komparator (rangkaian pembanding ) .
362. Merupakan salah satu aplikasi yang memanfaatkan penguatan terbuka
(open-loop gain) penguat operasional yang sangat besar. Ada jenis penguat operasional
khusus yang memang difungsikan semata-mata untuk penggunaan ini dan agak berbeda
dari penguat operasional lainnya dan umum disebut juga dengan komparator .
Komparator membandingkan dua tegangan listrik dan mengubah keluarannya untuk
menunjukkan tegangan mana yang lebih tinggi.

363.di mana Vs adalah tegangan catu daya dan penguat operasional beroperasi di antara + Vs dan
Vs.)
2. Penguat differensiator
364.Penguat diferensial digunakan untuk mencari selisih dari dua tegangan yang telah dikalikan
dengan konstanta tertentu yang ditentukan oleh nilai resistansi yaitu sebesar
untuk
dan
. Penguat jenis ini berbeda dengan diferensiator.Rumus yang
digunakan adalah sebagai berikut:

365.

366.Sedangkan untuk R1 = R2 dan Rf = Rg maka bati diferensial adalah:

367.
368.
3. Rangkaian penguat penjumlah (Summing amplifier )
369.Penguat penjumlah menjumlahkan beberapa tegangan masukan, dengan persamaan sebagai
berikut:

370.

Saat

, dan Rf saling bebas maka:

371.
372.

Saat

, maka:

373.
374.
1. Keluaran adalah terbalik.
2. Impedansi masukan dari masukan ke-n adalah
Virtual ground).
4. Penguat integrator (Integrator Amplifier )

(di mana

adalah

375.Penguat ini mengintegrasikan tegangan masukan terhadap waktu, dengan persamaan:

376.

377.di mana adalah waktu dan

adalah tegangan keluaran pada

378.Sebuah integrator dapat juga dipandang sebagai tapis pelewat-tinggi dan dapat digunakan
untuk rangkaian tapis aktif.
5.

Differensiator

379.Mendiferensiasikan sinyal hasil pembalikan terhadap waktu dengan persamaan:

380.
381.di mana

dan

adalah fungsi dari waktu.

382.Pada dasarnya diferensiator dapat juga dibangun dari integrator dengan cara mengganti
kapasitor dengan induktor, namun tidak dilakukan karena harga induktor yang mahal dan
bentuknya yang besar.Diferensiator dapat juga dilihat sebagai tapis pelewat-rendah dan dapat
digunakan sebagai tapis aktif.
6. Buffer
383. Buffer tegangan disediakan untuk tujuan mengisolasi sinyal masukan dari beban
dengan menggunakan rangkaian yang memiliki penguatan tegangan satu kali, tanpa
pembalikan fase atau polaritas, dan berkelakuan sebagai rangkaian ideal impedansi masukan
sangat tinggi dan impedansi keluaran sangat rendah. Gambar berikut menunjukkan

persambungan Op-Amp yang bekerja sebagai penguat buffer. Tegangan keluarannya


diberikan sebagai :
384.
385.
386.
387.
388.
389.

390. Gambar berikut menunjukkan bagaimana sinyal masukan dapat disediakan


kepada dua keluaran yang terpisah. Keuntungan dari persambungan ini adalah suatu beban yang
disambungkan menyilang pada salah satu keluaran tidak memiliki (kecil) pengaruh pada
keluaran lain. Sehingga semua keluaran dibuffer atau diisolasi datu dari yang lain.
391.

392.

7. Rangkaian instrumentasi

393.
394.Op-Amp banyak diaplikasikan pada rangkaian instrumentasi, seperti voltmeter dc ataupun
ac. Op-Amp digunakan sebagai penguat dasar pada milivoltmeter dc. Penguat tersebut
memberikan inpedansi masukan tinggi,faktor skala yang hanya tergantung pada suatu nilai
resistor, dan akurasi (ketepatan). Perlu diingat bahwa pembacaan meter menampilkan besaran
milivolt sinyal pada masukan rangkaian tersebut.
395. a. Milivoltmeter DC Gambar berikut merupakan Op-Amp yang digunakan
sebagai penguat dasar dalam milivoltmeter dc. Fungsi transfer rangkaian berikut adalah :

396.
397.
398.
399.
400.
401.
402.
403.
404.
405.
406.Analisa dan Tugas :
407.Analisa :
Operational Amplifier atau yang di singkat op-amp merupakan salah satu
komponen analog yang sering digunakan dalam berbagai aplikasi rangkaian elektronika. Aplikasi
op-amp yang paling sering dipakai antara lain adalah rangkaian inverter, non-inverter, adder
(penjumlah), offset null dan common mode rejector. Penguat operasional (op-amp) adalah
penguat diferensial dengan dua masukan dan satu keluaran yang mempunyai penguatan tegangan
yang amat tinggi.
408.

409.
Inverting

410.
Penguat membalik adalah penggunanan op- amp sebagai penguat sinyal dimana
sinyal outputnya berbalik fasa 180 derajat. Pada penguat ini dimana, masukannya melalui
input membalik pada penguat operasional, dan keluarannya berlawanan fasa dengan
masukan. Pada saat percobaan inverting ini didapatkan hasil (secara urut) Vout = 1; 2,12; 3,03
dan 0,3. Jika ingin meng-invertingkan, dalam percobaan kita harus membalik kabel positif
(pada multimeter) ditancapkan pada output modul op-amp negatif dan kabel negatif (pada
multimeter) ditancapakan pada output modul op-amp positif. Setelah itu kita dapat
mengetahui hasil pembalik dengan didapatkannya hasil (secara urut) Vout = -1; -2,12; -3,03
dan -0,3. Perubahan dari nilai positif menjadi negatif ini merupakan kebenaran dari teori
diatas bahwa sinyal outputnya berbalik fasa 1800.( Kabel multimeter positif (merah), negatif
(hitam))
Non Inverting

411.
Penguat non inverting ini hampir sama dengan rangkaian inverting hanya
perbedaannya adalah terletak pada tegangan inputnya dari masukan non inverting. Hasil
tegangan output noninverting lebih dari satu dan selalu positif. Penguat ini dimana

masukannya melalui input tak membalik (non inverting) pada penguat operasional dan
keluarannya sefasa dengan masukan, dan dari percobaan ini kami dapatkan hasil Vout
sebagaimana rangkaian tak membalik (Non Inverting) tetap sefasa dan nilai Vout lebih dari
satu. Hasil (secara urut) yang kita dapatkan antara
lain 2V,3.12V,4.03V dan 1,3V.
Penjumlahan
412.
Pada percobaan rangkaian penjumlahan kami mendapatkan hasil saat V1
diinputkan tegangan sebesar -1,5V dan V2 0V hasil output bernilai -1,5V. Hal ini terjadi
karena rangkaian penjumlah diberi inputan lebih dari satu untuk menghasilkan sinyal output
sesuai dengan nilai penjumlahan dari sinyal input dan faktor penguatan yang ada.
Offset Null
413.
Pada percobaan rangkaian offset null kami ukur rangkaian tanpa inputan tegangan
(GF off) hasilnya 0V (output sangat kecil). Dan pada saat GF di-onkan hasil output juga
0V. Hal ini diperoleh karena percobaan ini menggunakan potensio untuk
mengatur besar kecilnya tegangan. Dan pada percobaan ini potensio
meter diatur
sampai tegangan sesekecil mungkin.
Common Mode Rejection
414.
Pada percobaan Common Mode Rejection ini kami mendapatkan
hasil 0,4V. Hasil ini sesuai dengan teori bahwa pada teori ini bertujuan untuk
menekan penguatan
tegangan sekecil-kecilnya.
KESIMPULAN
415. Penguat op-amp (Operational Amplifier) ini befungsi sebagai Penguat
Non Inverting, Penguat Inverting dan penjumlah.
416. Kestabilan komponen dalam rangkaian sangat berpengaruh terhadap suatu hasil
pengamatan
417.
TUGAS
418.
419.

420.

Contoh lain Aplikasi Operational Amplifier (op-amp) :


Penguatan berganda
421.
Jika sejumlah rangkaian penguat tunggal dihubungkan secara seri, maka
penguatan totalnya merupakan perkalian dari penguatan individualnya. Gambar
berikut memperlihatkan sambungan tiga tingkat. Tingkat pertama dalam
konfigurasi tak membalik dengan penguatan A1, dua tingkat berikutnya dalam
konfigurasi membalik dengan penguatan masing-masing A2 dan A3. Penguatan
keseluruhannya adalah tak membalik dengan penguatan sebesar :

422.

423.
424.
425.
426.
427.
428.
429.
430.
431.
432.
433.
434.
435.

A = A1 A2 A3

436.
437.
Sejumlah Op-Amp dapat juga dirangkai untuk menghasilkan
penguatan yang berbeda-beda secara terpisah seperti diperlihatkan pada
gambar
berikut :
438.

439.
440.
441.

442.
Untuk semua rangkaian penguat yang menggunakan Op-Amp berlaku
bahwa :
443.

V0 = A V1

444.
445.

446.
447.
448.
449.
450.
451.
452.
453.
454.
455.
456.Analisa dan Tugas :
457.Analisa :
458.

Op-amp adalah salah satu rangkaian terintegrasi (IC, integrated circuit) yang

banyak digunakan pada sistem instrumentasi, khususnya untuk pembuatan pengkondisi


sinyal.Op-amp memiliki 5 pin utama yaitu input inverting, input non-inverting, tengangan
masukan positif, tegangan masukan negative, dan output. Seperti gambar dibawah ini :

459.
460.

Pada percobaan penguat inverting sinyal masukan dihubungkan dengan RR yang

tersambung pada input negative IC 741 dan RF seperti gambar dibawah.

461.
462.

Tegangan yang keluarakan dikuatkan sesuai dengan Rf dan Ri yang digunakan

Rf
pada rangkaian sesuai dengan rumus Vout= Ri Vin serta sinyal akan berbeda fasa sebesar
180 .

463.

Pada percobaan penguat non-inverting sinyal masukan dihubungkan dengan pin

masukan positif (pin 3) pada IC 741 seperti gambar dibawah

464.
465.

Tegangan yang keluarakan dikuatkan sesuai dengan Rf dan Ri yang digunakan

Rf
pada rangkaian sesuai dengan rumus Vout = Ri +1 Vin

serta sinyal tidak ada perbedaan fasa.

466.Op-Amp juga dapat digunakan sebagai rangkaian penjumlah.Dengan cara menyambungkan


secara parallel 2 atau lebih input ke pin masukan negative IC 741 (pin 2). Dengan begitu
tegangan keluar (Vout) penjumlahan dari tegangan input yang telah diubah polaritasnya
dikarenakan terhubung dengan pin masukan negative IC 741 sehingga tengangan input

diinverting terlebih dahulu. Yang awalnya berpolaritas negative akan dibalik menjadi positif dan
sebaliknya.
467.

IC Op-Amp juga mempunyai pin yang digunakan untuk offset null yaitu pada pin

1 dan pin 5. Offset null digunakan untuk mengatur arus internal pada IC 741. Dengan cara
mengatur potensio yang terhubung dengan pin 1 dan pin 5 IC 741. Sehingga tegangan output
dapat menjadi 0V ketika tidak ada sinyal input
468.

Hasil dari percobaan common mode rejection bernilai 400mV. Nilai ini sesuai

dengan perhitungan yang menyatakan nilai dari common mode rejection bernilai sekecil
mungkin
469.Kesimpulan :

Op-amp adalah salah satu rangkaian terintegrasi (IC) yang berfungsi untuk
mengkondisikan suatu sinyal tertentu. Op-Amp dapat digunakan untuk berbagai
macam keperluan seperti penguat inverting, buffer, penjumlah, dan lain-lain.

470.
471.
472.Analisa dan Tugas :
473.Analisa :
474. Penguat Operasional adalah suatu blok penguat dengan dua masukan dan satu
keluaran tunggal yang yang ditambah dua terminal untuk mensuplai daya Pada penguat
membalik sumber isyarat berupa arus dan tegangan yang kecil dan jika dihubungkan dengan
masukan yang besar maka akan menghasilkan tegangan yang lebih besar pada keluarannya.
475. Pada penguat tak membalik, op-amp dapat dipasang untuk membentuk penguat
tak membalik dimana isyarat dihubungkan dengan masukan tak membalik (+) pada op-amp.
Balikan melalui R2 dan R1 tetap dipasang pada masukan membalik agar membentuk balikan
negative
476. Tegangan yang dihasilkan pada rangkaian penguat membalik didapatkan hasil
Vuot sebesar (1V),( 2.13V) ,(3.03V) dan (0.3) Volt namun untuk mengetahui apakah Vout
tersebut merupakan hasil pembalik maka kami membalik probe pada multimeter sehinggan kita
mengetahui Vout merupakan hasil pembalik sehinnga didapatkan nilai (-1),(- 2.13) ,(-3.03) dan (-

0.3) V dimana tandan (-) disini digunakan sebagai tanda jika keluaran berbeda fasa
180o(Keluaran Terbalik) .
477.
Sedangkan pada rangkaian non inverting, menghasilkan Vout sebesar (2V),
(3.2V),(3.87) dan (1V) (secara pengukuran daan perhitungan). Dari hasil pengukuran tersebut
menunujukkan kebenaran secara teori jika Vout dari rangkaian tak membalik tetap sefasa dan
nilai Vout lebih dari satu.
478. Pada rangkaian penjumlahan dapat kita ketahui bahwa tegangan yang keluar pada
rangkaian merupakan penjumlahan dari sinyal input dan faktor penguat yang ada. Dapat
diketahui bahwa saat salah satu sumber yang hidup maka hasilnya merupakan jumlah dari
penguatan dan sinyal masukan, seperti pada percobaan yang pertama untuk rangkaian
penjumlahan dimana saat V1 diberi tegangan -1.5 V dan V2 0V dimana hasil atau tegangan
output bernilai -1,5V . dan apabila keduan sumber tegangan diberi output sebesar 1.5 V dengan
polaritas (+ -) maka hasil keluaran tegangan yang terukur sebesar 6 V.
479. Rangkaian offset null juga demikian bahwa saat posisi sumber di off kan maka
nilai tegangan output 0V namun saat dihidupkan nilai tegangan 0V hal tersebut karena pengaruh
dari potensiometer yang dapat mengatur tegangan sekecil mungkin. Hal ini seduai dengan teori
bahwa 2 tegangan yang masuk harus seimbang maka dari itu input offset harus nol.
480. Hasil dari Common mode rejection ini bernilai 400 mV atau 0.4V dimana hal ini
sesuai dengan teori bahwa untuk menekan penguatan tegangan ini (common mode) sekecil
kecilnya.
481.Kesimpulan :
1. Penguat operasional dapat berfungsi sebagai penguat membalik (inverting)
2. Penguat operasional dapat berfungsi sebagai penguat tidak membalik (non
inverting)

3. Penguat operasional dapat berfungsi sebagai penguat penjumlah.


4. Penguat operasional tergantung dari loop feedback negative eksternal.
482.Tugas :
1. Komparator (rangkaian pembanding ) .
483. Merupakan salah satu aplikasi yang memanfaatkanpenguatan terbuka
(open-loop gain) penguat operasional yang sangat besar. Ada jenis penguat operasional
khusus yang memang difungsikan semata-mata untuk penggunaan ini dan agak berbeda
dari penguat operasional lainnya dan umum disebut juga dengan komparator .
484. Komparator membandingkan dua tegangan listrik dan mengubah
keluarannya untuk menunjukkan tegangan mana yang lebih tinggi.


485. di mana Vs adalah tegangan catu daya dan penguat operasional beroperasi
di antara + Vs dan Vs.)
2. Penguat Differensiator
486.Penguat diferensial digunakan untuk mencari selisih dari dua tegangan yang telah dikalikan
dengan konstanta tertentu yang ditentukan oleh nilai resistansi yaitu sebesar
untuk
dan
. Penguat jenis ini berbeda dengan diferensiator.Rumus yang
digunakan adalah sebagai berikut:
487.
488.
489.
490.
491.
492.Sedangkan untuk R1 = R2 dan Rf = Rg
493.maka bati diferensial adalah:
494.
495.
496.
497.
498.
3. Penguat Integrator (Integrator Amplifier )
499.
persamaan:

Penguat ini mengintegrasikan tegangan masukan terhadap waktu, dengan

500.

504.

501.

di mana adalah waktu dan

adalah tegangan keluaran pada

502.

Sebuah integrator dapat juga dipandang sebagai tapis

503.

pelewat-tinggi dan dapat digunakan untuk

rangkaian tapis aktif.

4. Penguat Instrumentasi
505.
Penguat instrumentasi adalah suatu penguat loop tertutup (closed loop)
dengan masukan difrensial, dan penguatannya dapat diatur tanpa mempengaruhi nisbah
penolakan modul bersama (common mode rejection ratio CMRR). Fungsi utama
penguat instrumentasi adalah untuk memperkuat tegangan yang tepat berasal dari sensor
atau transduser secara akurat. Rangkaian equivalen penguat instrumentasi adalah seperti
gambar xxx

506.

5.

Diferensiator
507.
Diferensiator mendiferensiasikan sinyal hasil pembalikan terhadap waktu.
Pada dasarnya diferensiator dapat juga dibangun dari integrator dengan cara mengganti
kapasitor dengan induktor, namun tidak dilakukan karena harga induktor yang mahal dan
bentuknya yang besar. Diferensiator dapat juga dilihat sebagai tapis pelewat-rendah dan
dapat digunakan sebagai tapis aktif.

508. DAFTAR PUSTAKA


509. https://elkaanalogitn.wordpress.com/2011/11/23/macam-macam-aplikasidari-op-amp/
510. http://momentumsudutdanrotasibendategar.blogspot.co.id/2013/03/op-ampoperational-amplifier.html

511.Analisa dan Tugas :


512.Analisa :

513. Op-amp inverting


514. Sinyal keluaran berbeda fasa 180 dari sinyal inputan , karna sinyal input di
masukkan ke negatif( kaki 2) dari op-amp.
515.

Maka dari itu mendapat rumus Vout = - (Rf/Rr)x Vin.

516. Op-amp Non-inverting


517. Sinyal se fasa dengan sinyal input, karna sinyal masukkan masuk ke positif
(kaki 3) dari op-amp.
518. Rumus Vout = (Rf/Rr)x Vin , sama dengan inverting tapi hanya di hilangkan
(negatif).
519. Penguat Penjumlah

520. Dalam penjumlah karna terdapat 2 inputan. Dengan begitu Vout


penjumlahan dari tegangan input yang telah diubah polaritasnya
dikarenakan terhubung dengan negative (kaki 2)sehingga sinyal input
diinverting dahulu. Yang awalnya berpolaritas negative akan dibalik menjadi
positif dan sebaliknya.
521. Offset Null
522. Rangkain ini digunakkan ketika tidak ada tegangan dan sinyal
masukkan dan IC op-amp tidak bernilai sangat kecil (teganan), jika nilai
tegangan output tidak kecil udah potesiometer sampai menemukan nilai
mendekati 0V.
523. Common Mode Rejection
524. Hasil dari common mode rejection dalam percobaan memiliki nilai
400mV. Nilai ini sesuai dengan perhitungan yang menyatakan nilai dari
common mode rejection bernilai sekecil mungkin.
525. Kesimpulan :

Op-amp adalah salah satu rangkaian terintegrasi (IC) yang berfungsi untuk
mengkondisikan suatu sinyal tertentu. Op-Amp dapat digunakan untuk berbagai
macam keperluan seperti penguat inverting, buffer, penjumlah, dan lain-lain.

526.

527. Tugas :
528. Komparator (rangkaian pembanding )
529. Merupakan salah satu aplikasi yang memanfaatkanpenguatan terbuka
(open-loop gain) penguat operasional yang sangat besar. Ada jenis penguat
operasional khusus yang memang difungsikan semata-mata untuk
penggunaan ini dan agak berbeda dari penguat operasional lainnya dan
umum disebut juga dengan komparator .
530. Komparator membandingkan dua tegangan listrik dan mengubah
keluarannya untuk menunjukkan tegangan mana yang lebih tinggi.

531. di mana Vs adalah tegangan catu daya dan penguat operasional


beroperasi di antara + Vs dan Vs.)
532. Penguat differensiator
533. Penguat diferensial digunakan untuk mencari selisih dari dua tegangan
yang telah dikalikan dengan konstanta tertentu yang ditentukan oleh nilai
resistansi yaitu sebesar
untuk
dan
. Penguat jenis ini
berbeda dengan diferensiator.Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

534.

535. Sedangkan untuk R1 = R2 dan Rf = Rg maka bati diferensial adalah:

536.
537.
538. penguat integrator (Integrator Amplifier )
539. Penguat ini mengintegrasikan tegangan masukan terhadap waktu,
dengan persamaan:

540.

541. di mana adalah waktu dan

adalah tegangan keluaran pada

542. Sebuah integrator dapat juga dipandang sebagai tapis pelewat-tinggi


dan dapat digunakan untuk rangkaian tapis aktif.
543.
544. Differensiator
545. Mendiferensiasikan sinyal hasil pembalikan terhadap waktu dengan
persamaan:

546.

547.

548. di mana

dan

adalah fungsi dari waktu.

549. Pada dasarnya diferensiator dapat juga dibangun dari integrator


dengan cara mengganti kapasitor dengan induktor, namun tidak dilakukan
karena harga induktor yang mahal dan bentuknya yang besar.Diferensiator
dapat juga dilihat sebagai tapis pelewat-rendah dan dapat digunakan
sebagai tapis aktif.
550. Buffer
551. Rangkaian buffer adalah rangkaian yang inputnya sama dengan hasil
outputnya. Dalam
552. hal ini seperti rangkaian common colektor yaitu berpenguatan = 1.
553. Rangkaiannya seperti pada gambar berikut ini

554.
555. Nilai R yang terpasang gunanya untuk membatasi arus yang di
keluarkan. Besar nilainya tergantung
556. dari indikasi dari komponennya, biasanya tidak dipasang alias arus
dimaksimalkan sesuai dengan
557. kemampuan op-ampnya
558.
559. Subtractor/ Pengurang
560. Rangkaian pengurang ini berasal dari rangkaian inverting dengan
memanfaatkan masukan
561. non-inverting, sehingga persamaannya menjadi sedikit ada perubahan.

562.
563. Rangkaian pengurang dengan op-amp ini memanfaatkan kaki inverting
dan kaki noninverting.
564. Supaya benar benar terjadi pengurangan maka nilai dibuat seragam
seperti gambar. Rumusnya
565. adalah:

566.
567. sehingga
568. Vo = (Vb -Va)
569.
570.
571.