Anda di halaman 1dari 21

MINYAK ATSIRI DAN TANAH I

disusun oleh:
Dinda Aqidatul Izzah (10)
Frisca Paramasari (16)
Ivan Fadilah (17)

Pusat Pendidikan Dan Pelatihan Industri


Sekolah Menengah Analisis Kimia Bogor
Bogor
2016

Minyak Atsiri dan Tanah I

-4 / 12.3

KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kami panjatkan atas ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya, sehingga kami dapat menyusun
makalah ini dengan baik dan benar, serta tepat pada waktunya. Dalam makalah ini
saya akan membahas tentang metoda analisis untuk Minyak Atsiri dan Tanah I
.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar dalam
makalah ini. Oleh karena itu, kami mengundang pembaca untuk memberikan
saran serta kritik yang membangun. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami
harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberi manfaat untuk kita semua.

Bogor, Januari 2016

Penyusun

Minyak Atsiri dan Tanah I

-4 / 12.3

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB 1. PENDAHULUAN......................................................................................1
A. Latar Belakang................................................................................................1
a. Minyak Atsiri..............................................................................................1
b. Tanah...........................................................................................................3
B. Pentingnya Masalah........................................................................................5
C. Tujuan Makalah..............................................................................................7
BAB 2. METODE ANALISIS.................................................................................8
A. Minyak Atsiri..................................................................................................8
a. Penetapan Kadar Eugenol dalam Minyak Cengkeh....................................8
1. Dasar......................................................................................................8
2. Reaksi.....................................................................................................8
3. Cara Kerja..............................................................................................8
4. Perhitungan............................................................................................9
B. Tanah...............................................................................................................9
a. Penetapan pH dalam tanah..........................................................................9
1. Dasar......................................................................................................9
2. Reaksi.....................................................................................................9
3. Cara Kerja............................................................................................10
4. Perhitungan..........................................................................................11
b. Penetapan Kadar C-Organik dan Bahan Organik.....................................11
1. Dasar....................................................................................................11
2. Reaksi...................................................................................................11
3. Cara Kerja............................................................................................12
4. Perhitungan..........................................................................................12
ii

Minyak Atsiri dan Tanah I

-4 / 12.3

BAB 3. PEMBAHASAN.......................................................................................13
A. Penetapan Kadar Eugenol.............................................................................13
B. Penentuan pH tanah......................................................................................13
C. Penentuan Kadar C-Organik dan Bahan Organik.........................................14
BAB 4. SIMPULAN..............................................................................................16
BAB 5. SUMBER PUSTAKA...............................................................................17

iii

Minyak Atsiri dan Tanah I

-4 / 12.3

BAB 1. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
a. Minyak Atsiri
Minyak atsiri, minyak eteris, volatile oil atau minyak mudah terbang
adalah istilah yang digunakan untuk minyak yang mudah menguap dan diperoleh
dari tanaman dengan cara penyulingan uap. Minyak-minyak golongan tersebut
mudah menguap. Terdiri dari senyawa organic bergugus alcohol, aldehyde,
ketone, dll dan memilikirantai pendek.
Umumnya, senyawa minyak atsiri merupakan turunan dari senyawa
terpene. Minyak atsiri diperoleh dari penyulingan akar, batang, daun, bunga dan
biji-bijian dengan aroma yang sangat khas. Minyak atsiri yang dihasilkan dari
penyulingan bunga umumnya dipakai untuk parfum karena baunya harum.
Sedangkan yang dihasilkan dari buah, batang, daun, atau akar biasanya dipakai
untuk essens, atau obat gosok karena mampu memberikan rasa hangat, seperti:
minyak akar lawang, minyak kayu putih, minyak pala, minyak sereh, minyak
cengkeh dan sebagainya.
Dari hasil penyulingan, selain diperoleh minyak atsiri, dihasilkan juga
senyawa terpenoid yaitu senyawa hidrokarbon golongan terpene dan turunannya.
Minyak atsiri banyak mengandung berbagai macam komponen kimia yang
berbeda namun komponen tersebut dapat digolongkan ke dalamm kelompok besar
yang dominan menentukan sifat minyak atsiri yaitu terpene, senyawaan rantai
lurus, turunan benzene, dan senyawaan lainnya.
Terpene dalam minyak atsiri adalah senyawa hydrocarbon yang tidak
larut dalam air dan tidak dapat disabunkan. Terpene adalah senyawa polimer yang
tersusun atas minimal 2 molekul isoprene (2-methyl-1,3-butadiene) yaitu C 10H16

Minyak Atsiri dan Tanah I

-4 / 12.3

(2,6-dimethyloxadiene-1,7) sebagai monomernya.


Beberapa contoh minyak atsiri antara lain; minyak cengkeh, minyak
kayu putih, minyak sereh, dll. Sifat minyak atsiri ditentukan oleh gugus fungsinya
yang terikat pada minyak atsiri tersebut, Contohnya :
1. Sitronellol; merupakan turunan terpene yang mengandung gugus aldehid pada
minyak mawar.
2. Sitronellal; merupakan turunan terpene yang mengandung gugus aldehid pada
minyak sereh.
3. Geraniol; merupakan turunan terpene yang mengandung gugus alkohol pada
minyak mawar.
4. Eugenol; merupakan turunan terpene yang mengandung gugus alkohol pada
minyak cengkeh.

Parameter dalam minyak astiri antara lain:


1. Kadar Eugenol dalam Minyak Cengkeh
Eugenol tidak larut dalam air karena strukturnya aromatik. Eugenol
terdiri atas 3 gugus fungsi yaitu phenol, metoksi dan propena.

Warna eugenol sedikit kekuningan dan berbau rempah-rempah,. Eugenol


larut dalam alkohol, kloroform, atau pelarut organik lainnya tapi tidak larut dalam
air. Dikarenakan eugenol golongan phenol, maka dapat bereaksi dengan basa
kuat (NaOH) menjadi garam Na-eugenolat yang dapat larut dalam air. Proses
tersebut merupakan proses penyabunan minyak, terpene yang tidak larut akan
2

Minyak Atsiri dan Tanah I

-4 / 12.3

terpisah ke atas dan volumenya dapat terbaca di labu cassia. Volume eugenol
dapat diketahui volumenya dengan mengurangi volume contoh-volume terpene.
Reaksi ini tidak menghasilkan sabun dan asam karboksilat bukan rantai panjang.
Eugenol memiliki sifat asam karena termasuk ke dalam gugus fungsi alkohol.

b. Tanah
Tanah adalah lahan yang sering dimanfaatkan untuk bercocok tanam.
Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dari industri pertanian, sangat
bergantung pada tingkat kesuburan tanahnya. Analisis tanah merupakan cara
umum untuk mengetahui kesuburan dan sifat-sifat tanah. Faktor-faktor yang
mempengaruhi kesuburan tanah yaitu kandungan makro dan mikro, pH serta
kandungan yang tersedia dari bahan organik.
Unsur hara dalam tanah bisa ditambahkan dengan cara memberi pupuk
pada lahan pertanian yang sedang digarap. Bahan organik diperoleh diperoleh dan
dihancurkan senyawa-senyawa organik dalam tanah seperti tumbuhan dan
binatang, sebagai sumber C-Organik. Kebutuhan C-organik juga bisa diadakan
dengan cara penambahan pupuk organik.
pH tanah memiliki peran yang cukup penting dalam kesuburan tanaman.
pH tanah harus netral. Jika terlalu asam dapat mengganggu populasi dan aktivitas
jasad renik yang berperan secara tidak langsung dalam penyediaan unsur hara di
tanah. Keasaman tanah terbagi 2, yaitu:
1. Keasaman aktif yang membebaskan H+ yang ada dalam larutan
2. Keasaman potensial yang dibebaskan oleh ion H + dan Al3+ yang tersekap dalam
permukaan kompdleks serapan.
Lingkungan pH dapat disebabkan oleh:
a. Keasaman air tanah yang disebabkan oleh dekomposisi senyawa yang
mengandung NH3 menjadi HNO3. Dan senyawa yang mengandung S menjadi

Minyak Atsiri dan Tanah I

-4 / 12.3

H2SO4.
b. Keasaman air tanah yang disebabkan oleh gas CO 2 dan SO2 yang akan
mengakibatkan H2CO3 dan H2SO4, bila hujan turun asam-asam tersebut akan
larut dalam air,sehingga menyebabkan keasaman air tanah.
c. Kation yang mudah terhidrolis dan membebaskan ion H + Kation ini teradsorb
oleh tanah dan tidak dapat dibebaskan bila tanah hanya dikocok oleh air.
Penetapan pH tanah berguna untuk menentukan tinggi rendahnya unsurunsur hara yang diserap oleh tanah. Umumnya unsur hara mudah diserap oleh
akar tanaman karena pH tanah netral. Untuk mempengaruhi perkembangan
mikroorganisme pH tanah dapat diubah dengan:
1. Jika terlalu asam, pH tanah dinaikkan dengan penambahan kapur;
2. Jika terlalu basa, pH tanah dapat diturunkan dengan penambahan belerang.
Parameter uji yang dilakukan meliputi:
1. Uji pH tanah dan pH air tanah
Pada pengukuran pH tanah ini digunakan kertas pH universal dengan
pengocokan menggunakan air atau KCl, maka ion H+ dari tanah akan terlepas
sehingga nilai keasaman dapat diukur.
Bila pH KCl < pH air, maka terkandung Al 3+ dalam air tanah tersebut karena
mengandung kation-kation logam yang menyebabkan derajat keasaman
tanah. Kemudian dilanjutkan dengan menetapkan kadar Al3+ dan H+ yang
dapat dipertukarkan.
Bila pH KCl = pH air, maka tidak terkandung kation-kation logam seperti
Al3+ , sehingga tidak perlu menetapkan kadar Al3+
Tidak mungkin, jika pH KCl > pH air, karena dengan KCl banyak
melepaskan asam dan menghasilkan HCl serta AlCl 3. Al3+ akan terhidrolisis
membentuk Al(OH)3 dan membebaskan H+ sehingga pH makin rendah
4

Minyak Atsiri dan Tanah I

-4 / 12.3

2. Penetapan kadar C-Organik


Bila bahan organic didekomposisi oleh H2SO4 pekat maka akan dibebaskan Corganik yang bersifat pereduksi. Oleh karena itu, maka dapat ditetapkan
kadarnya dengan titrasi redoks. C-organik yang bebas dioksidasikan oleh
K2Cr2O7 berlebih, dan sisa K2Cr2O7 direduksi oleh FeSO4 berlebih, kelebihan
FeSO4 kemudian dititar oleh KMnO4. Dilakukan blanko untuk mengetahui
jumlah C yang terkandung dalam air. Sebelum penitaran oleh KMnO4, larutan
harus berwarna hijau yang berarti masih ada kelebihan FeSO 4 yang dapat
bereaksi dengan KMnO4. Bila larutan tak berwarna/sedikit hijau maka harus
ditambahkan FeSO4. Beberapa cara penetepan bahan organik:
1.Berdasarkan jumlah bahasan organic yang mudah teroksidasi
2. Berdasarkan kadar unsur C dalam bahan organik.

B. Pentingnya Masalah
Minyak atsiri yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat dunia yang biasa
dimanfaatkan dan memliki nilai ekonomis yang cukup tinggi (sebagai essence
ataupun bahan campuran parfum). Namun dalam pemanfaatannya perlu dilakukan
penanganan-penanganan khusus. Karena sifat dari minyak atsiri yang cukup
berbeda, maka diperlukan pengujian yang tepat demi mengetahui kualitas maupun
kuantitas minyak tersebut secara efisien dan tepat.
Minyak atsiri yang banyak dihasilkan di Indonesia diantaranya Eugenol,
yaitu minyak yang dihasikan dari bunga cengkeh. Pengujian Eugenol yang baik
dan benar diperlukan agar eugenol yang dihasilkan benar benar memiliki kualitas
tinggi.

Minyak Atsiri dan Tanah I

-4 / 12.3

Dalam menunjang kualitas perkebunan diperlukan media tanah yang baik


yang dapat dilihat dalam berbagai parameter. Parameter parameter tersebut
dapan dianalisa secara kimia dan parameter parameter uji tersebut nanti akan
menggambarkan keadaan tanah maupun kebutuhan tanah akan asupan nutrisi
yang akan ditambahkan nantinya.
Informasi mengenai metode pengujian minyak atsiri didasarkan pada
struktur kimia/gugus fungsi yang terdapat di masing-masing minyak yang
dihasilkan. Tiap gugus fungsi memiliki metode pengujian masing-masing.
Sedangkan pengujian tanah didasarkan atas keadaan tanah maupun kebutuhan
jenis tanaman tertentu dan dalam makalah ini, kami akan membahas mengenai
metoda pengujian jenis minyak atsiri yang didapat dari cengkeh (eugenol), dan
analisa tanah parameter pH, C-Organik metode kompleksometri dan parameter
bahan organik yang akan diujikan di laboratorium PKT.

Minyak Atsiri dan Tanah I

-4 / 12.3

C. Tujuan Makalah
Adapun tujuan kami membuat makalah ini adalah :
1. Sebagai bahan untuk persiapan praktikum di Laboratorium Praktik Kimia
Terpadu, khususnya pada analisis minyak astiri dan tanah.
2. Sebagai bahan penelitian dalam pengujian minyak astiri dan tanah yang
akan dilakukan di laboratorium.
3. Sebagai bahan acuan informasi pengujian minyak atsiri dari cengkeh
(eugenol) dan tanah parameter C-organik, pH, dan bahan organik di
laboratorium.

Minyak Atsiri dan Tanah I

-4 / 12.3

BAB 2. METODE ANALISIS


A. Minyak Atsiri
a. Penetapan Kadar Eugenol dalam Minyak Cengkeh
1. Dasar
Eugenol merupakan golongan phenol yang dapat bereaksi dengan NaOH
membentuk garam Na-eugenolat yang larut dalam air. Sedangkan terpene tidak larut
dalam air, sehingga dapat dibaca dan kadar eugenol dapat dihitung.

2. Reaksi

Eugenol

C10H16

Na-Eugenolat

NaOH

tidak bereaksi

3. Cara Kerja
Cara kerja yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Dipipet 10 ml contoh minyak cengkeh dan dimasukkan kedalam labu cassia.
2. Ditambahkan 30 ml larutan NaOH 1N, kemudian dikocok 5 menit.
3. Dididihkan dengan penangas air sampai terpene terpisah mengapung di
permukaan.

Minyak Atsiri dan Tanah I

-4 / 12.3

4. Ditambahkan lagi NaOH 1N hingga terpene yang bebas berada diantara skala
pada leher labu.
5. Dibaca volume terpene.

4. Perhitungan
Kadar Eugenol =

V c o n t o h V t e r p e n e
x 100 %
V cont oh

B. Tanah
a. Penetapan pH dalam tanah

1. Dasar
pH tanah adalah tingkat keasaman air tanah yag disebabkan oleh asam-asam
yang mudah larut dalam air pada tanh dan kation-kation yang mudah terhidrolisis
menghasilkan ion H+. Dengan cara pengocokan (baik dengan air maupun KCl), ion
H+ dari tanah akan terlepas sehinga nilai keasaman dapat diukur. Konsentrasi H+
yang diekstrak dengan air menyatakan kemasaman aktif (aktual) sedangkan
pengekstrak KCl 1 N menyatakan kemasaman cadangan (potensial).

2. Reaksi
pH tanah dengan pelarut air :

Minyak Atsiri dan Tanah I

-4 / 12.3

H+
Al3+ + H2O + H+ ( Diperiksa dengan pH meter )

+ H2O

Al3+

pH tanah dengan pelarut KCl:


H+
4K+ + HCl + AlCl3

+ 4KCl

Al3+

AlCl3 +

3 H2O

Al(OH)3

3 HCl

3. Cara Kerja
Cara kerja yang dilkukan adalah sebagai berikut :

Uji pH dengan pelarut air

1. Ditimbang kasar 1 gram contoh tanah halus.


2. Ditmbahkan 10 ml air suling.
3. Dikocok 15 menit dengan mesin pengocok (250 rpm)
4. Dienapkan kemudian disaring.
5. Diukur pH dengan pH universal.

Uji pH dengan pelarut KCl


1. Ditimbang kasar 1 gram contoh tanah halus.
2. Ditambahkan 10 ml larutan KCl 1 N
10

Minyak Atsiri dan Tanah I

-4 / 12.3

3. Dikocok 15 menit dengan mesin pengocok (250 rpm)


4. Dienapkan kemudian disaring.
5. Diukur pH dengan pH universal.

4. Perhitungan
Tidak ada rumus perhitungan. pH tanah dapat dilihat pada pH universal.

b. Penetapan Kadar C-Organik dan Bahan Organik


1. Dasar
Karbon yang terkandung dalam senyawa organik pada tanah
dioksidasikan oleh K2Cr2O7 dalam suasana asam kuat. Sisa K2Cr2O7
direaksikan dengan FeSO4 berlebih terukur. Kelebihan FeSO4 dititar dengan
KMnO4 dengan TA lembayung. Blanko dilakukan untuk menghitung
banyaknya K2Cr2O7 yang bereaksi dengan contoh.
Jumlah bahan organik yang terkandung dapat dihitung menggunakan
bantuan faktor konversi.

2. Reaksi
3C + 2 K2Cr2O7 + H2SO4

3 Cr2(SO4)3 + 2K2SO4 + 2 H2O + 3 CO2

K2Cr2O7 + 6 FeSO4 + H2SO4


10FeSO4 + 2 KMnO4 + 8 H2SO4

Cr2(SO4)3 + K2SO4 + Fe2(SO4)3 + 7 H2O


K2SO4 + MnSO4 + 5 Fe2(SO4)3 + 8 H2O

11

Minyak Atsiri dan Tanah I

-4 / 12.3

3. Cara Kerja
Cara kerja yang dilkukan adalah sebagai berikut :
1. Ditimbang 1 gram contoh tanah halus dan dimasukkan ke labu 100 ml.
2. Dipipet 10 ml K2Cr2O7 2N (berlebih terukur)
3. Ditambahkan 15 ml H2SO4 pekat .
4. Didihkan di penangas air 1,5 jam, digoyangkan setiap 15 menit
5. Didinginkan, dihimpitkan, dan disaring.
6. Filtrat dipipet 10 ml, dimasukkan kedalam erlenmeyer.
7. Ditambahkan 15 ml FeSO4 2N (larutan menjadi hijau).
8. Dititar dengan KMnO4 0,1 N hingga TA lembayung.

4. Perhitungan
Kadar C Organik =

( V bV p ) x N p x f p x b st C
m g c on t o h

x 100 %

Kadar Bahan Organik = 100 x k a d a r C O r g a ni k


58

12

Minyak Atsiri dan Tanah I

-4 / 12.3

BAB 3. PEMBAHASAN
A. Penetapan Kadar Eugenol
Eugenol merupakan suatu alkohol siklis monohidroksi atau fenol sehingga
dapat bereaksi dengan basa kuat. Eugenol dari minyak daun cengkeh dapat
diisolasi dengan penambahan larutan encer dari basa kuat seperti NaOH, KOH
atau Ca(OH)2 (Majalah Eksata, 1989 : 71). Menurut Guenther, NaOH 3% dapat
dipakai untuk mengisolasi komponen eugenol dari minyak daun cengkeh.
Eugenol dan NaOH akan membentuk natrium eugenolat yang larut dalam
air. Bagian non eugenol diekstrak dengan eter. Dengan penambahan asam
anorganik akan menghasilkan garam natrium eugenol bebas. Eugenol ini
kemudian dimurnikan dengan penguapan dan penyulingan (Guenther, 1950).
Penetapan kadar eugenol dalam minyak cengkeh didasarkan pada perbedaan
kelarutan antara terepene yang tidak larut dengan air dengan eugenol dari minyak
cengkeh yang memiliki gugus phenol, sehingga dapat bereaksi dengan basa dan
menghasilkan garam yang larut dalam air. Eugenol dapat direaksikan dengan basa
dari minyak dengan pengocokan dan pemanasan pada saat reaksi berlangsung.
Kadar eugenol pada minyak cengkeh yang masih baik biasanya berkisar 78,95%.

B. Penentuan pH tanah
Derajat keasaman pada tanah (pH) biasanya menggambarkan keadaan tanah.
Rata-rata pH tanah yang baik berkisar antara 5-6, tergantung kepada jenis
tumbuhan yang tumbuh maupun penggunaan tumbuhan itu nantinya. Sebagai
contoh, kedelai tumbuh dengan baik pada tanah dengan kisaran pH 6-7, kacang
tanah tumbuh pada tanah dengan pH 5.3 6.6, tanaman pakan ternak tumbuh
pada pH 5.6 - 6.0.
13

Minyak Atsiri dan Tanah I

-4 / 12.3

pH yang terlalu rendah pada tanah dapat menyebabkan tanaman tidak dapat
memanfaatkan Na, K, dan P secara efektif, dan pada tanah yang asam
kemungkinan untuk tercemar oleh logam berat seperti Pb, Hg, dll. Jika pH tanah
terlalu basa biasanya tanah tersebut mengandung logam Kalsium yang tinggi
sehingga terjadi fiksasi terhadap pospat, dan makanan ternak pada tanah tersebut
seringkali mengalami defisiesi P.
Unsur hara seperti N meningkat jika pH diatas 5.5, sedangkan P di pH 6-7.

C. Penentuan Kadar C-Organik dan Bahan Organik

Bahan organik di dalam tanah memegang peranan penting dalam


menentukan kesuburan tanah meskipun kandungannya hanya sekitar 5%.
Komposisi biokimia bahan organik menurut Waksman (1948) bahwa biomasa
bahan organik terdiri dari air 75%, karbon 11%, oksigen 10%, hidrogen 8%, dan
mineral 2%.
Penetapan bahan organik metode kompleksometri dilakukan dengan cara
megoksidasi bahan organik menggunakan K2Cr2O7 berlebih terukur. FeSO4 yang
ditambahkan bertujuan untuk menitrasi K2Cr2O7 berlebih. Dan karena reaksi
oksidasi bahan organik berjalan lambat, maka larutan didihkan di penangas air
dan digoyangkan. Setelah proses oksidasi selesai, larutan ditambahkan FeSO 4 dan
larutan menjadi hijau. Hal itu menjadi indikator bahwa bahan organik dalam
larutan tersebut cukup untuk dianalisa. Kemudian dititar dengan KMnO 4 hingga
TA lembayung.
Kadar C organik yang

didapat dapat dikonversi menjadi kadar bahan

organik dengan mengalikan persen C organik dan 1,724 (faktor konversi - kadar
organik rata-rata di dalam tanah-).

14

Minyak Atsiri dan Tanah I

-4 / 12.3

. Sumber bahan organik dibagi menjadi dua yaitu primer dan sekunder.
Secara umum sumber primer berasal dari jaringan tanaman yang terdekomposisi.
Sedangkan sumber sekunder berasal dari jaringan hewan.

15

Minyak Atsiri dan Tanah I

-4 / 12.3

BAB 4. SIMPULAN

Suatu komoditi dikatakan memiliki kualitas yang baik jika parameter yang
diujikan memenuhi standar SNI. Standar untuk parameter-parameter berikut ini
antara lain :
a. SNI No. 06-2387-2006 tentang kadar Eugenol dalam minyak cengkeh yaitu
minimal 78%
b. SNI No. 940-0296-1994 tentang analisis tanah:

Standar pH untuk pelarut air yaitu 5.6 7.5.

Standar pH untuk pelarut KCl yaitu 4.1 6.0.

Kategori untuk parameter C-organik pada tanah sebagai berikut:

Parameter
Tanah

Nilai
Sangat
Rendah

C (%)

<1

Rendah

Sedang

Tinggi

1-2

2-3

3-5

Sangat
Tinggi
>5

16

Minyak Atsiri dan Tanah I

-4 / 12.3

BAB 5. SUMBER PUSTAKA


Rayment, G.E. and F.R. Higginson. 1992. Australian laboratory handbook of soil and water
chemicals methods. Australian soil and land survey handbook. Inkata Press,
Melbourne, Sydney.
van Reeuwijk, L.P. 1993. Procedures for Soil Analysis. 4th ed. Technical Paper, International
Soil Reference and Information Centre. Wageningen, The Netherlands.
Black, C.A. 1965. Methods of Soil Analysis, Part 2, Agronomy 9. American Society of
Agronomy, Madison,Wis.
Graham, E.R. 1948. Determination of soil organik mater by means of a photoelectric
colorimeter. Soil Sci. 65: 181 - 183.
Page, A.L. , Miller R.H.and Keeney D.R. (Eds.). 1982. Methods of Soil Analysis, Part 2Chemical and microbiological properties, 2nd Edition. American Society of Agronomy,
Madison, Wisconsin. 31
Rayment, G.E. and F.R. Higginson. 1992. Australian laboratory handbook of soil and water
chemicals methods. Australian soil and land survey handbook. Inkata Press,
Melbourne, Sydney.
Agus Kardinan, 2005. Tanaman Penghasil Minyak Atsiri, Agro media Pustaka
Rusli, 1980 Pengaruh suhu dan kosentrasi NaOH pada isolasi eugenol dari

minyak daun

cengkeh BALITARO, Bogor hal 51 57.


Vogel, A E.1989 Text Book of Practical Organic Chemestry Longman Book Co, London, pp
161-162
Guenther, E.1950. Minyak Astiri Jilid IV. Jakarta : UniversitasIndonesia

17