Anda di halaman 1dari 7

Ditinjau dari beberapa senyawa dan unsur yang terbentuk pada saat proses coalification,

maka secara umum dikenal beberapa rank batubara yaitu :


1) Peat / Gambut, Tahap pertama terjadinya batubara dimana suatu produk masih
masih dalam tahap awal pembusukan. Disini sisa-sisa tanaman tidak benar-benar
membusuk dam memadat dan masih dalam tahap awal kualifikasi belim terbentuk
batubara sreta terdapaynya selulosa bebas. Bahan ini terbentuk dari dekomposisi
dan disintegrasi tanaman graminae (seperti bambu, tebu, dan alang-alang) oleh
tekanan air dalam rawa. Kandungan abunya tergantung pada lumpur rawa. Bahan
ini bersifat hidroskopis dan memiliki ciri sebagai berikut :
a) Warna cokelat, material belum terkompaksi.
b) Mempunyai kandungan air yang sangat tinggi.
c) Mempunyai kandungan karbon padat yang sangat rendah.
d) Mempunyai kandungan karbon terbang yang sangat tinggi.
e) Nilai panas yang dihasilkan sangat rendah.
2) Brown Coal, merupakan tahap kualifikasi antara peat dan batubara tingkat rendah
dari suatu kandungan alam yang paling lembut dan mengandung air yang tinggi.
3) Lignit, Istilah Amerika untuk batubara tingkat rendah yang mengandung gross
calorific value dmmf kurang dari 19.3 ml/kg (ASTM-D338) serta memilki kandungan
batubara dan volatile yang tinggi. Disini Lignit dibagi menjadi lignit coklat dan brown
coal. Bahan ini terbentuk dari tumbuhan yang mengalami karbonisasi di bawah
lapisan tanah dalam jangka waktu yang lama. Kadar N, O, S tinggi. Lignit memiliki
ciri-ciri sebagai berikut :
a) Warna kecoklatan,material terkompaksi namun sangat rapuh.
b) Mempunyai kandungan air yang tinggi.
c) Mempunyai kandungan karbon padat yang rendah.
d) Mempunyai kandungan karbon terbang yang tinggi.
e) Nilai panas yang dihasikan rendah.
4) Subbituminous - Bituminous, Yaitu terletak antara brown coal dan sub bituminous

dengan cirri-ciri kandungan air sangat masuk dalam golongan hard coal dan tingkat
rendah masuk dalam bagian lignit dan brown coal. Bahan ini telah mengalami

karbonisasi. Biasanya dipakai pada steam power plant. Subbituminous-Bituminous


memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a) Warna hitam, material sudah terkompaksi.
b) Mempunyai kandungan air yang sedang.
c) Mempunyai kandungan karbon padat sedang.
d) Mempunyai kandungan karbon terbang sedang.
e) Nilai panas yang dihasilkan sedang.
5) Bituminus, Suatu gambaran istilah umum dari batubara yang beragam dalam
tingkatan dari sub bituminus sampai antrasit, termasuk COKING COAL.
6) Antrasit, merupakan batubara yang terjadi pada umur geologi yang paling tua.
Antrasit memiliki struktur yang kompak, berat jenis yang tinggi dan mudah ditepung.
Kalau dibakar hampir seluruhnya habis terbakar tanpa timbul nyala. Antrasit memiliki
ciri-ciri sebagai berikut :
a) Warna hitam mengkilap, material terkompaksi dengan kuat.
b) Mempunyai kandungan air rendah.
c) Mempunyai kandungan karbon padat tinggi.
d) Mempunyai kandungan karbon terbang rendah.
e) Nilai panas yang dihasilkan tinggi.
Coking coal atau batubara koking adalah batubara yang mempunyai potensi untuk dibuat
kokas ( coke ) yang utamanya dipergunakan sebagai salah satu bahan penting dalam
pembuatan logam besi dengan cara peleburan oksida besi ( biji besi, pellet, sinter ) dalam
tanur tiup.
Kokas ialah residu padat yang tertinggal bila batubara dipanaskan tanpa udara sampai
sebagian zat yang mudah menguapnya hilang. Batubara kokas adalah batubara yang bila
dipanaskan tanpa udara sampai suhu tinggi akan menjadi lunak, terdevolatilasasi,
mengembang, dan memadat kembali membentuk material yang porous. Material ini
merupakan padatan kaya karbon yang disebut kokas.
Kebanyakan kokas digunakan dalam pembuatan besi dan baja karena memberikan energi
panas dan sekaligus bertindak sebagai zat pereduksi (reduktor) terhadap bijih besi yang
dikerjakan didalam tanur suhu tinggi atau tungku pembakaran (blast furnace). Kokas untuk
keperluan tersebut, umumnya padat dan relatif kuat, dihasilkan dari batubara tertentu., baik

tunggal maupun campuran, dalam oven kokas (coke oven). Residu hasil karbonisasi yang
merupakan material serbuk

yang tidak

berlubang atau massanya menggumpal

disebut char. Bahan ini dapat dibuat briket dan digunakan sama seperti kokas (kokas jenis
ini disebut sebagai formed coke) atau langsung dipakai sebagai elektroda karbon.
Umumnya, ada dua istilah yang dapat membingungkan kita, yaitu istilah caking dan
coking. Caking ialah kemampuan batubara untuk meleleh ketika dipanaskan dan kembali
membentuk residu yang koheren ketika didinginkan. Syarat mutlak untuk batubara kokas
ialah batubara itu harus meleleh membentuk cake jika dipanaskan. Tidak semua caking
coal adalah cooking coal. Coking digunakan untuk menerangkan bahwa batubara tersebut
cocok untuk dibuat kokas. Walaupun begitu, keterangan ini berlawanan dengan definisi
klasifikasi batubara hard coal menurut ISO yang mendefinisikan caking kebalikan dari
coking.

Caking

menunjukkan

penggumpalan

(agglomeration)

dan

pengembangan

(swelling). Selama dipanaskan (index crucible swelling number dan Roga), sedangkan
coking menunjukkan penggumpalan dan pengembangan selama pemanasan lambat
(dilatation atau Gray-King coke type). Hal ini menimbulkan kerancuan dalam pemakaian
kedua istilah tersebut.
Batubara yang dapat dibuat kokas harus mempunyai peringkat dan tipe tertentu. Sebagian
zat organik dalam batubara mempunyai peranan dalam sifat-sifat pelelehan tadi. Dalam
batubara kokas yang prima, yaitu yang membentuk kokas metalurgi yang sangat baik,
harus dicapai suatu perbandingan yang optimal antara zat yangreaktif dan zat
yang inert (tidak meleleh).
Berbagai parameter yang menentukan batubara kokas (peringkat dan jenisnya telah
memenuhi syarat), termasuk kokas metalurgi, ialah kandungan ash tidak terlalu tinggi,
hampir tidak mengandung sulfur dan fosfor, serta zat yang mudah menguapnya dalam
kokas harus kecil. Untuk menentukan sifat-sifat batubara kokas digunakan crucible swelling
number, Gray King coke type, plastisitas dan fluiditas.
Sifat coking pada batubara adalah sifat dimana saat batubara di panaskan pada suhu
tertentu akan meleleh, mengembang dan memadat membentuk bongkahan.
Sifat coking diukur dengan pengujian CSN atau FSI , yang dinyatakan dalam satuan index
0-9 dengan kelipatan 1/2 index.
Index ini menggambarkan pembentukan bongkahan, semakin besar indexnya semakin
besar ukurannya.

Menurut klasifikasi ASTM batubara yang memiliki sifat coking adalah jenis bituminus
(Mengenal Batubara).
Idealnya batubara yang cocok untuk dijadikan kokas adalah batubara yang memiliki CSN
4-6, dimana akan menunjang terbentuknya kokas dengan porositas dan kekuatan yang
diperlukan.
Barubara dengan CSN lebih kecil dari 2, mempunyai porositas yang rendah sehingga luas
permukaanya sempit, padahal permukaan yang luaslah yang diperlukan saat terjadinya
reaksi dalam tanur tiup. Batubara dengan CSN seperti ini kurang cocok untuk batubara
coking
Batubara dengan CSN lebih besar dari 8 mempunyai porositas yang terlalu tinggi sehingga
dinding porinya tipis dan fisiknyapun lemah. Batubara dengan CSN seperti inipun kurang
cocok untuk batubara kokas.
Dikarenakan sulitnya mendapatkan batubara yang ideal untuk membuat kokas, maka
biasanya digunakan campuran batubara (blend) untuk mendapatkan nilai CSN ideal.
Banyak istilah komersial digunakan untuk menggambarkan ke idealan suatu batubara jika
akan dijadikan bahan pembuatan kokas, seperti prime coking coal, hard coking coal, soft
coking coal, dan semi coking coal.
Prime coking coal dapat didefinisikan sebagai batubara yang paling cocok dijadikan kokas
tidak hanya dilihat dari nilai CSN nya 4-6 tapi juga dilihat dari parameter lainya ( analisa
dalam batubara ) seperti gross CV, Volatile Matter, Moisture, Ash content, Phosporus dan
coke strainght.
Hard coking coal hampir sama dengan prime coking coal hanya saja kecocokan parameter
yang lainnya harus di lihat. Batubara ini dapat langsung dibuat kokas dengan proses
kombinasi

suhu

tinggi

tanpa

perlu

dicampur

dengan

jenis

batubara

lainnya.

Soft coking dan semi coking coal dapat diartikan sebagai batubara yang kurang cocok
untuk dibuat kokas tanpa dicampur dengan batubara jenis lain. Sesuai dengan namanya
soft coking batubara ini nilai CSN nya lebih besar dari 8.

Tabel 1. Kualitas Batubara yang dibutuhkan untuk pembuatan Kokas

Parameter
Total moisture

Yang
Diinginkan
5 10

(%-ar)

Keterangan

Limit Tipikal
max 12

Akan

menimbulkan

(max 15)

pada penggilingan dan

masalah

penanganan.
Ash

Rendah

(%-ad)

max 6 8

Kandungan abu kokas

(max 10 hendaknya rendah untuk


12)

mengurangi kerak pada blast


furnace.

Volatile matter

Beragam

(%-dmmf)

Total sulphur

Rendah

(%-ad)

16 21

low volatile coal

21 26

medium volatile coal

26 31

high volatile coal

max 0.6

Kandungan sulfur kokas

0.8

hendaknya rendah agar

(max 1.0)

penyerapan sulfur oleh pig


iron dalam blast furnace
dikurangi.

Phosphorus

Rendah

max 0.1

(%-ad)

Phosphorus dalam baja akan


membuat baja cepat rapuh.

Free swelling index

79

min 6

Roga test

60 90

min 50

Gray-King coke type

G6 G14

min G4 G5

Audibert-Arnu

25 70

min 20

low volatile coal

dilatometry

80 140

min 60

medium volatile coal

max dilatation (%)

150 350

min 100

high volatile coal

Gieseler plastometry

above 80

min 70

low volatile coal

Fluidity range

above 100

min 80

medium volatile coal

above 130

min 100

high volatile coal

( C)

Tabel 1. Kualitas Batubara yang dibutuhkan untuk Pabrik Semen

Parameter
Total moisture
(%-ar)
Free moisture
(%-ar)

Yang
Diinginkan
48
rendah

Limit Tipikal
max 12
(max 15)
max 10 12

Ash
(%-ad)

< 15

max 20
(max 40 50)

Volatile matter
(%-dmmf)
Gross Calorivic Value
(MJ/kg-ad)

Beragam

(max 24)

Beragam

(min 21.0)

Total Sulphur
(%-ad)

< 2%

max 2 5

Chlorine
(%-ad)

Rendah

(max 0.1)

P2O5
Ash analysis (%)
Hardgrove grindability
index

< 2%

(max 6 8)

Tinggi

Min 50 55
(min 40)

Max particle size (mm)

25 30

35 40

Fines content
(<0.5mm)
(%)

15 20

25 30

Keterangan
Nilai kalori net berkurang. Akan
menimbulkan
masalah
pada
penggilingan dan
penanganan. Limit untuk low
rank coal lebih tinggi.
Pengaruh abu kecil tetapi kadarnya
harus tetap (+2%). Komposisi abu
harus
konsisten karena diperlukan dalam
pengaturan
penambahan bahan baku.
Tergantung sistem
pembakaran tetapi biasanya fleksibel.
Basis yang diinginkan
konsumen
bermacam-macam
(gross/net, ad/ar).
Tergantung dari kandungan sulfur
bahan baku.
Kadar sulfur clinker < 1.3%
Dalam proses kering,
kandungan chlorine dalam
clinker < 0.03%. Tergantung dari
kandungan chlorine
bahan baku, maksimum
dalam batubara beragam
sampai 0.01%.
Kandungan P2O5 dalam
clinker < 1%
Tergantung dari kapasitas
penggerusan serta jumlah
produksi yang diinginkan.
Tergantung limit ukuran
partikel yang dapat diterima
oleh alat penggerus.
Terlalu banyak yang halus akan
menimbulkan masalah pada waktu
penanganannya terutama kalau basah,
bahkan total moisture akan lebih besar
apabila terlalu banyak yang halus.