Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN FARMASI I


SUPPOSITORIA

OLEH :
NAMA

KELOMPOK/HARI

: FITRI PUTRI RIFAI


ATIKA SARI SIHOMBING

(151501028)

DHEA NUR FADHILAH

(151501029)

WINA NOVA ZEANA

(151501030)

ULFAH POPPY HASANAH

(151501031)

RAMADHANI SIREGAR

(151501032)

RENNA MELATI

(151501033)

: 5/KAMIS

TANGGAL PERCOBAAN : 25 FEBRUARI 2016

ASISTEN

(151501027)

: SULIYANI

LABORATORIM TEKNOLOGI SEDIAAN FARMASI i


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bentuk dan bobot yang digunakan
melalui anus dan dapat larut pada suhu tubuh. Macambasis supositoria yaitu basis yang
berupa lemak, basis yang larut dalam air, dan basis yang dapat membentuk emulsi.
Penggunaan suppositoria biasanya digunakan pada penderita wasir (ambeien) maupun pada
penderita dalam kondisi tidak sadar (non-kooperatif) yang membutuhkan pertolongan segera.
( Farmakope Indonesia edisi III ).
Bahan dasar suppositoria mempengaruhi pada pelepasan zat terapeutiknya. Lemak co
klat capat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan dengan cairan tubuh, sehingga m
enghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat yang diobati. Polietilen glikol ada
lah bahan dasar yang sesuai dengan beberapa antiseptik, namun bahan dasar ini sangat lambat
larut sehingga menghambat pelepasan zat yang dikandungnya. Bahan pembawa berminyak, s
eperti lemak coklat, jarang digunakan dalam sediaan vagina, karena membentuk residu yang t
idak dapat diserap. Sedangkan gelatin jarang digunakan dalam penggunaan melalui rektal kar
ena disolusinya lambat. (Depkes RI, 1995).

Bobot suppositoria bila tidak dinyatakan lain adalah 3 gr untuk dewasa dan 2 gr untuk
anak. Penyimpanan suppositoria sebaiknya di tempat yang sejuk dalam wadah tertutup rapat.
Bentuknya yang seperti torpedo memberikan keuntungan untuk memudahkan proses masukn
ya obat dalam anus. Bila bagian yang besar telah masuk dalam anus, maka suppositoria akan
tertarik masuk dengan sendirinya. (Moh. Anief, 2007)
Keuntungan penggunaan suppositoria dibanding penggunaan obat per oral atau melalui
saluran pencernaan adalah :
1. Dapat menghindari terjadinya iritasi obat pada lambung.
2. Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan
3. Obat dapat masuk langsung dalam saluran darah dan berakibat obat dapat memberi efek
lebih cepat daripada penggunaan obat per oral
4. Baik bagi penderita atau pasien yang mudah muntah atau tidak sadarkan diri (Anief,
2004)
1.2 Prinsip
Pada pembuatan suppositoria,bahan dasar yang digunakan supaya meleleh pada suhu
tubuh atau larut dalam cairan yang ada dalam rectum.obatnya supaya larut dalam bahan dasar
apabila dasar pahan dipanaskan.Bila obatnya sukar larut dalam bahan dasar maka harus
diserbuk halus.Setelah campuran obat dan bahan dasar melelh dan mencair,dituangkan ke
dalam cetakan suppositoria dan didinginkan.Cetakan tersebut dibuat dari besi dan dilapisi
nikel atau dari logam lain.Cetakan ini mudah dibuka secara longitudional untuk
mengeluarkan suppositoria.Untuk mencetak basila daapat digunakan tube gelas atau gulngan
kertas

1.3 Tujuan Percobaan


1.Untuk mengetahui defenisi suppositoria
2.Untuk mengetahui bahan bahan dasar dan tambahan dalam suppositoria
3.Untuk mengetahui pembuataan sediaan suppositoria
4.Untuk mengetahui evaluasi sediaan suppositoria

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Supositoria adalah suatu bentuk sediaan padat yang pemakaiannya dengan cara
memasukkan melalui lubang atau celah pada tubuh, di mana ia akan melebur, melunak atau
melarut dan memberikan efek lokal atau sistemik. Supositoria umumnya dimasukkan melalui
rektum, vagina, kadang-kadang melalui saluran urin dan jarang melalui telinga dan hidung.
Bentuk dan beratnya berbeda-beda. Bentuk dan ukurannya harus sedemikian rupa sehingga
dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam lubang atau celah yang diinginkan tanpa
menimbulkan kejang-kejang dan penggelembungan begitu masuk, harus dapat bertahan untuk
suatu waktu tertentu. Supositoria untuk rectum umumnya dimasukkan dengan jari tangan,
tetapi untuk vagina khususnya vaginal insert atau tablet vagina yang diolah dengan cara
kompresi dapat dimasukkan lebih jauh ke dalam saluran vagina dengan bantuan alat khusus
( Ansel, 2005 ).
Di kalangan umum biasanya supositoria rektum panjangnya

32

mm (1,5 inci),

berbentuk silinder dan kedua ujungnya tajam. Beberapa supositoria untuk rectum di
antaranya ada yang berbentuk seperti peluru, torpedo, atau jari-jari kecil, tergantung kepada
bobot jenis bahan obat dan basis yang digunakan, beratnya pun berbeda-beda. USP
menetapkan beratnya 2 gr, untuk orang dewasa bila oleum cacao yang digunakan sebagai
basis. Sedang supositoria untuk bayi dan anak-anak, ukuran dan beratnya dari ukuran dan
berat untuk orang dewasa, bentuknya kira-kira seperti pensil. Supositoria untuk vagina yang
juga disebut pessarium biasanya berbentuk bola lonjong atau seperti kerucut, sesuai dengan
kompendik resmi beratnya 5 gr, apabila basisnya oleum cacao. Sekali lagi tergantung pada
macam basis dan masing-masing pabrik pembuatnya, berat supositoria untuk vagina ini
berbeda-beda. Supositoria untuk saluran urin yang juga disebut bougie bentuknya ramping
seperti pensil, gunanya untuk dimasukkan ke dalam saluran urin pria atau wanita. Supositoria
saluran urin pria bergaris tengah 3-6 mm dengan panjang

140

mm, walaupun ukuran ini

masih bervariasi satu dengan lainnya. Apabila basisnya dari oleum cacao maka beratnya
4 gr. Supositoria untuk saluran urin wanita panjang dan beratnya dari ukuran untuk
pria, panjang

70

mm dan beratnya 2 gr, ini pun bila oleum cacao sebagai basisnya.

Supositoria untuk hidung dan untuk telinga yang disebut juga kerucut telinga, keduanya

berbentuk sama dengan supositoria saluran urin hanya ukuran panjangnya lebih kecil,
biasanya 32 mm. supositoria telinga umumnya diolah dengan suatu basis gelatin yang
mengandung gliserin. Seperti dinyatakan sebelumnya, supositoria untuk obat hidung dan
telinga sekarang jarang digunakan ( Ansel, 2005 ).
Aksi Lokal
Begitu dimasukkan, basis supositorium meleleh, melunak atau melarut menyebarkan
bahan obat yang dibawanya ke jaringan-jaringan di daerah tersebut. Obat ini bisa
dimaksudkan untuk ditahan dalam ruang tersebut untuk efek kerja loka, atau bisa juga
dimaksudkan agar diabsorbsi untuk medapatkan efek sistemik. Supositoria rectal
dimaksudkan untuk kerja local dan paling sering digunakan untuk menghilangkan konstipasi
dan rasa sakit, iritasi, rasa gatal, dan radang sehuungan dengan wasir atau kondisi anorektal
lainnya. Supositoria antiwasir seringkali mengandung sejumlah zat, termasuk anestetik local,
vasokonstriktor, astringen, analgesic, pelunak yang menyejukkan dan zat pelindung.
Supositoria laksatif yang terkenal adalah supositoria gliserin, yang menyebabkan laksasi
(mencahar) karena iritasi local dari membran mukosa, kemungkinan besar dengan efek
dehidrasi gliserin pada membrane ini. Supositoria vaginal yang dimaksudkan untuk efek local
digunakan terutama sebagai antiseptik pada hygiene wanita dan sebagai zat khusus untuk
memerangi dan menyerang penyebab penyakit (bakteri pathogen). Obat-obat yang umum
digunakan adalah trichomonas vaginalis, Candida (Monilia) albicans, dan mikroorganisme
lainnya. Supositoria uretral bisa digunakan sebagai antibakteri dan sebagai sediaan anetetik
local untuk pengujian uretral ( Ansel, 2005 ).
Aksi Sistemik
Untuk efek sistemik, membrane mukosa rectum dan vagina memungkinkan absorbsi
dari kebanyakan obat yang dapat larut. Walaupun rectum sering digunakan sebagai tempat
absorbsi secara sistemik, vagina tidak sering digunakan untuk tujuan ini ( Ansel, 2005 )
Untuk mendapatkan efek sistemik, cara pemakaian melalui rectum mempunyai
beberapa kelebihan daripada pemakaian secara oral yaitu:
a. Obat yang dirusak atau dibuat tidak aktif oleh pH atau aktivitas enzim dari lambung atau
usu tidak perlu dibawa atau masuk ke dalam lingkungan yang merusak ini.
b. Obat yang merangsang lambung dapat diberikan tanpa menimbulkan rangsangan.
c. Obat yang dirusak dalam sirkulasi portal, dapat tidak melewati hati setelah absorbs pada
rectum (obat memasuki sirkulasi portal setelah absorbs pada pengggunaan secara oral).
d. Cara ini lebih sesuai untuk digunakan oleh pasien dewasa dan anak-anak yang tidak dapat
atau tidak mau menelan obat.
e. Merupakan cara yang efektif dalam perawatan pasien yang suka muntah (Ansel,2005).

Obat yang digunakan melalui rectum dalam bentuk supositoria untuk mendapatkan efek
sistemiknya terdiri antara lain:
a. Aminofilin dan teofilin dipakai untuk menghilangkan asma
b. Proklorperazin dan klorpromazin untuk menghilangkan rasa mual da muntah, dipakai
c.
d.
e.
f.
g.

juga sebagai obat penenang


Kloralhidrat sebagai hipnotik sedative
Oksidamorfom untuk analgesic narkotik
Belladonna dan opium untuk efek antipasmodik dan analgesik
Ergotamine tartrat untuk meringankan gejala migraine
Aspirin untuk aktivitas antipiretik dan analgesic ( Ansel, 2005 ).

Beberapa Faktor Absorbsi Obat dari Supositoria Rektum


Dosis obat yang digunakan melalui rectum mungkin lebih besar atau lebih kecil
daripada obat yang dipakai scara oral, tergantung kepada factor-faktor seperti keadaan tubuh
pasien, sifat fisika kimia obat dan kemampuan obat melewati penghalang fisiologi untuk
absorbs dan sifat basis supositoria serta kemampuannya melepaskan obat supaya siap untuk
diabsorbsi (Ansel, 2005).
Faktor-faktor yang mempengaruhi absorbsi obat dalam rektum pada pemberian obat
dalam bentuk supositoria dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar : (1) faktor fisiologi dan
(2) faktor fisika kimia dari obat dan bahan dasarnya.
Faktor fisiologi
Rektum manusia panjangnya 15 20 cm. pada waktu isi kolon kosong, rectum
hanya berisi 2 3 mL cairan mukosa inert. Dalam keadaan istirahat, rektum tidak ada
gerakan, tidak ada villi dan mikrovilli pada mukosa rektum. Akan tetapi terdapat
vaskularisasi yang berlebihan dari bagian submukosa dinding rektum dengan darah dan
kelenjar limfe.
Di antara faktor fisiologi yang mempengaruhi absorbsi obat dari rektum adalah
kandungan kolon, jalur sirkulasi, dan pH serta tidak adanya kemampuan mendapar dari cairan
rektum ( Ansel, 2005 ).
Faktor Fisika-Kimia Obat dan Basis
Faktor fisika kimia mencakup sifat-sifatnya seperti:
1. Kelarutan obat: obat yang mudah larut dalam lemak akan lebih cepat terabsobsi
daripada obat yang larut dalam air.
2. Kadar obat dalam basis: jika obat makin besar, absorbs obat semakin cepat.
3. Ukuran partikel: ukuran partikel obat akan mempengaruhi kecepatan larutnya obat ke
cairan rektum.
4. Basis supositoria: obat yang larut dalam air dan berada dalam basis lemak akan segera
dilepaskan ke cairan rektum jika basis dapat segera terlepas setelah masuk ke dalam

rektum; obat segera diabsorbsi dan aksi kerja awal obat akan segera muncul. Jika obat
larut dalam air dan terdapat dalam basis larut air, aksi kerja awal obat akan segera
muncul jika basis tadi cepat larut dalam air (Syamsuni, 2006 ).
Keuntungan penggunaan obat dalam bentuk supositoria di banding per oral, yaitu:
1. Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung
2. Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan dan asam lambung.
3. Obat dapat masuk langsung ke dalam saluran darah sehingga obat dapat berefek lebih
cepat daripada penggunaan obat per oral.
4. Baik bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar ( Anief, 1987 ).
Tujuan Penggunaan Obat Bentuk Supositoria adalah sebagai berikut :
1. Supositoria dipakai untuk pengobatan lokal, baik di dalam rektum, vagina, atau uretra,
seperti pada penyakit haemoroid/wasir/ambeien, dan infeksi lainnya.
2. Cara rectal juga digunakan untuk distribusi sistemik, karena dapat diserap oleh membrane
mukosa dalam rektum.
3. Jik penggunaan obat secara oral tidak memungkinkan, misalnya pada pasien yang mudah
muntah atau tidak sadarkan diri.
4. Aksi kerja awal akan cepat diperoleh, karena obat diabsorbsi melalui mukosa rektum dan
langsung masuk ke dalam sirkulasi darah.
5. Agar terhindar dari perusakan obat oleh enzim di dalam saluran gastrointestinal dan
perubahan obat secara biokimia di dalam hati manusia

( Syamsuni, 2006 ).

Metode pembuatan supositoria


1. Dengan tangan
Pembuatan dengan tangan hanya dapat dikerjakan untuk supositoria yang menggunakan
bahan dasar oleum cacao berskala kecil, dan jika bahan obat tidak tahan terhadap
pemanasan. Metode ini kurang cocok untuk iklim panas.
2. Dengan mencetak hasil leburan
Cetakan harus dibasahi lebih dahulu dengan paraffin cair bagi yang memakai bahan dasar
gliserin-gelatin, tetapi untuk oleum cacao dan PEG tidak dibasahi karena akan mengerut
pada proses pendinginan dan mudah dilepas dari cetakan.
3. Dengan kompresi
Pada metode ini, proses penuangan, pendinginan dan pelepasan supositoria dilakukan
dengan mesin secara otomatis. Kapasitas untuk menampung sedian supositoria bisa
sampai 3500-6000 supositoria/jam (Syamsuni, 2004).
Pengemasan supositoria
Supositoria gliserin dan supositoria gelatin gliserin umumnya dikemas dalam wadah
gelas tertutup rapat supaya mencegah perubahan kelembapan dalam isi supositoria.
Supositoria yang telah diolah dengan basis oleum cacao biasanya dibungkus terpisah-pisah
atau dipisahkan satu sama lainnya pada celah-celah dalam kotak untuk mencegah terjadinya

hubungan antar supositoria tersebuh dan mencegsh perekatan. Supositoria dengan kandungan
bahan obat yang sedikit pekat biasanya dibungkus satu per satu dalam bahan tidak tembus
cahaya seperti lembaran metal (alufoil). Kebanyakan supositoria yang terdapat di pasaran
dibungkus dengan alufoil atau bahan plastik satu per satu. Beberapa diantaranya dapat
dikemas dalam strip kontinu berisi supositoria yang dipisahkan dengan merobek lubanglubang yang terdapat di antara supositoria tersebut. Supositoria ini biasa juga dapat dikemas
dalam kotak dorong (slide box) atau dalam kotak plastik (Syamsuni, 2005).
Pemeriksaan Mutu Supositoria
Setelah dicetak, dilakukan pemeriksaan sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Penetapan kadar zat aktifnya dan disesuaikan dengan yang tertera pada etiketnya.
Uji terhadap titik leburnya, terutama jika menggunakan bahan dasar oleum cacao.
Uji kerapuhan, untuk menghindari kerapuhan selama pengangkutan.
Uji waktu hancur, untuk PEG 1000 15 menit, sedangkan untuk oleum cacao dingin 3

menit.
5. Uji homogenitas (Syamsuni, 2007).
Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat (oleum cacao) :
1. Merupakan trigliserida dari asam oleat, asam stearat, asam palmitat; berwarna putih
kekuningan; padat, berbau seperti coklat, dan meleleh pada suhu 310-340C.
2. Karena mudah berbau tengik, harus disimpan dalam wadah atau tempat sejuk, kering, dan
terlindung dari cahaya.
3. Oleum cacao dapat menunjukkan polimorfisme dari bentuk kristalnya pada pemanasan
tinggi. Di atas titik leburnya, oleum cacao akan meleleh sempurna seperti minyak dan
akan kehilangan inti Kristal stabil yang berguna untuk membentuk kristalnya kembali.
4. Untuk menghindari bentuk-bentuk Kristal tidak stabil diatas dapat dilakukan dengan
cara :
a. Oleum cacao tidak dilelehkan seluruhnya, cukup 2/3 nya saja yang dilelehkan.
b. Penambahan sejumlah kecil bentuk Kristal stabil kedalam lelehan oleum cacao untuk
mempercepat perubahan bentuk karena tidak stabil menjadi bentuk stabil.
c. Pembekuan lelehan selama beberapa jam atau beberapa hari.
5. Lemak coklat merupakan trigliserida, berwarna kekuningan, memiliki bau khas, dan
bersifat polimorf (mempunyai banyak bentuk Kristal). Jika dipanaskan, pada suhu 30 0C
akan mulai mencair dan biasanya meleleh sekitar 340-350C, sedangkan pada suhu
dibawah 300C berupa massa semipadat. Jika suhu pemanasannya tinggi, lemak coklat
akan mencair sempurna seperti minyak dan akan kehilangan semua inti Kristal stabil yang
berguna untuk memadat. Jika didinginkan dibawah suhu 150C, akan mengkristal dalam
bentuk Kristal metastabil. Agar mendapatkan suppositoria yang stabil, pemanasan lemak
coklat sebaiknya dilakukan sampai cukup meleleh saja sampai dapat dituang, sehingga
tetap mengandung inti Kristal dari bentuk stabil.

6. Untuk menaikkan titik lebur lemak coklat digunakan tambahan cera atau cetasium
(spermaseti). Penambahan cera flava tidak boleh lebih dari 6% sebab akan menghasilkan
campuran yang mempunyai titik lebur diatas 370C dan tidak boleh kurang dari 4% karena
akan diperoleh titik lebur < 330C. Jika bahan obat merupakan larutan dalam air, perlu
diperhatikan bahwa lemak coklatnya hanya sedikit menyerap air. Oleh karena itu
penambahan cera flava dapat juga menaikkan daya serap lemak coklat terhadap air.
7. Untuk menurunkan titik lebur lemak coklat dapat juga digunakan tambahan sedikit
kloralhidrat atau fenol, atau minyak atsiri.
8. Lemak coklat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan dengan cairan tubuh, oleh
karena itu dapat menghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat yang
diobati.
9. Lemak coklat jarang dipakai untuk sediaan vagina karena meninggalkan residu yang tidak
dapat terserap, sedangkan gelatin tergliserinasi jarang dipakai untuk sediaan rectal karena
disolusinya lambat.
10. Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat dapat dibuat dengan mencampurkan bahan
obat yang dihaluskan kedalam minyak lemak padat pada suhu kamar, dan massa yang
dihasilkan dibuat dalam bentuk yang sesuai atau dibuat dengan cara meleburkan minyak
lemak dengan obat kemudian dibiarkan sampai dingin dalam cetakan. Suppositoria ini
harus disimpan dalam wadah tertutup baik, pada suhu dibawah 300C.
11. Pemakaian air sebagai pelarut obat dengan bahan dasar oleum cacao sebaiknya dihindari
karena :
o Menyebabkan reaksi antara obat-obatan didalam suppositoria.
o Jika airnya menguap, obat tersebut akan mengkristal kembali dan dapat keluar
dari suppositoria.
12. Keburukan oleum cacao sebagai bahan dasar suppositoria :
Meleleh pada udara yang panas.
Dapat menjadi tengik pada penyimpanan yang lama.
Titik leburnya dapat turun atau naik jika ditambahkan bahan tertentu.
Tidak dapat bercampur dengan cairan sekresi (Syamsuni, 2007).
Ovulae
Ovulae adalah sediaan padat, umumnya berbentuk telur, mudah melemah (lembek)
dan meleleh pada suhu tubuh, dapat melarut dan digunakan sebagai obat luar khusus untuk
vagina (Anief, 2004).
Sebagian bahan dasar yang digunakan untuk ovula harus dapat larut dalam air atau
meleleh pada suhu tubuh. Sebagian bahan dasar dapat digunakan untuk coklat atau campuran
P.E.G. dalam berbagai perbandingan. Bobot ovula adalah 3 g sampai 6 g dan umumnya 5 g.
ovula harus disimpan dalam wadah tertutup baik dan di tempat yang sejuk (Anief, 2004).
Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat (oleum cacao) :

1.Merupakan trigliserida dari asam oleat,asam stearat, asam palmitat;


b e r w a r n a p u t i h kekuningan; padat, berbau seperti coklat.
2.Karena mudah berbau tengik, harus disimpan dalam wadah atau tempat sejuk,
kering dan erlindung cahaya.
3.Oleum cacao dapat menunjukkan polimorfisme dari bentuk kristalnya pada
pemanasan tinggi.

BAB III
METODE PERCOBAAN

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil
Diperolah sediaan suppositoria dengan bobot rata-rata ( b)g dengan penyimpanga

bobot (c1)% dan (c2)% memenuhi persyaratan, pada uji homogenitas serbuk tercampur
sempurna hal ini dapat dilihat dari ratanya partikel bahan dasar salep dengan bahan obat .
Evaluasi Supositoria
Keseragaman bobot
Untuk pengujian kandungan bahan obat dari suppositoria, yaitu suppositoria yang
mewakili ditimbang, kandungannya ditentukan dengan metode yang cocok dan dihitung
persentase penyimpangan dari seharusnya, dari 4 suppositoria ditimbang masing masing
sampai ketelitian 2 desimal dan dihitung bobot rata-rata yang diizinkan untuk 3 suppositoria
tidak boleh melampaui 5 % dan 1 suppositoria tidak boleh melampaui 10%.
-

Bobot 10 supp. (A)


Bobot rata-rata (B)
Bobot tiap supp. (C)

= 13,833 g
= 1,383 g
= 1,276 g ; 1,324 g
BC
Rumus Penyimpangan =
x 100%
B

C1 = 2,492
1,3831,276
=
1,383

x 100%

= 0,077 %
C2 = 2,483
1,3831,324
=
1,383

x 100%

= 0,042 %

Uji Homogenitas
-

meneteskan campuran obat dengan bahan dasar sebanyak 1 tetes pada permukaan
object glass kemudian tutup dengan menggunakan object glass yang lain. Periksalah
homogenitasnya di daerah yang terang.

4.2

Pembahasan
Pembuatan supositoria untuk bahan obat theophyllin dan benzocain dibuat dengan

cara mencampurkan kedua bahan obat ini ke dalam oleum cacao yang telah dileburkan
terlebih dahulu. Oleum cacao meleleh antara 30 0 sampai 360C merupakan basis supositoria
yang ideal, yang dapat melumer pada suhu tubuh tapi tetap dapat bertahan sebagai bentuk
padat pada suhu kamar biasa. Akan tetap, oleh karena kandungan trigliserida nya, oleum
cacao menunjukkan sifat polimorfisme, atau keberadaan zaat tersebut dalam berbagai bentuk
kristal. Oleh karena itu bila oleum cacao tergesa-gesa atau tidak hati-hati dicairkan pada suhu
yang melebihi suhu minimumnya, lalu segera didinginka, maka hasilnya berbentuk kristal
mentastabil (suatu bentuk kristal) dengan titik levbur yang lebih rendah dari titik lebur oleum
cacao asalnya. (Ansel, 2005)
Diperolah sediaan suppositoria dengan bobot rata-rata 1,383 g dengan penyimpanga
bobot c1% dan c2% memenuhi persyaratan. Persyaratan suppositoria adalah tidak lebih dari
2 suppositoria yang penyimpangan bobotnya tidak lebih dari 5% dan tidak lebih dari 1
suppositoria penyimpangan bobotnya tidak lebih dari 10%..

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Suppositoria adalah sediaan obat yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra
yang umumnya berbentuk torpedo yang dapat melarut, melunak, atau meleleh pada
suhu tubuh sebagai bahan pembawa zat terapetik yang bersifat lokal atau sistemik.
2. Bahan dasar suppositoria yang digunakan harus mempunyai sifat:
Berwujud padat pada suhu kamar dan melunak pada suhu tubuh
Dapat bercampur dengan bahan obat dan dengan cairan tubuh
Pada pembuatan suppositoria dibuat dengan basis oleum cacao.
3. Sediaan suppositoria dibuat dengan menggunakan cetakan suppositoria yang terbuat
dari besi yang dilapisi nikel. Obat diusahakan agar larut dalam bahan dasar berupa
Oleum Cacao dengan cara meleburkan dahulu Oleum Cacao pada suhu di bawah
39C agar suppositoria dapat memadat saat pendinginan, kemudian bahan obat yg
telah halus dicampurkan ke dalam Oleum Cacao hingga homogen, kemudian dicetak
dan didinginkan agar memadat.
4. Evaluasi sediaan suppositoria dilakukan dengan uji homogenitas dan uji keseragaman
bobot.
Uji homogenitas, sediaan suppositoria telah memenuhi syarat, pada saat

diamati pada object glass tidak ada bahan yang menggumpal.


Uji keseragaman bobot, sediaan suppositoria memenuhi/tidak memenuhi uji
karena penyimpangan bobot dari suppositoria lebih/ tidak lebih dari 5-10%.

5.2 Saran

1. Pada percobaan selanjutnya sebaiknya digunakan bahan dasar selain Oleum Cacao
seperti PEG atau Tween.
2. Pada percobaan selanjutnya sebaiknya dibuat dua suppositoria dengan dua bahan obat
yang berbeda agar praktikan mengetahui perbedaan kelarutan obat yg berbeda dalam
bahan dasar yang sama.

DAFTAR PUSTAKA
Anief, Moh, (2004), Ilmu Meracik Obat, Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Halaman 158-165.

Ansel C. Howard. (1982). Introduction to Pharmaceutical dosage forms.Lea and


Febiger. Philadelphia. Halaman
Depkes R.I. (1995). Farmakope Indonesia edisi IV. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia : Jakarta. Halaman
Syamsuni, H.A. (2005). Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Penerbit Kedokteran:
Jakarta. Halaman 152-164.

Syamsuni, H.A. (2007). Ilmu Resep. EGC. Editor : Ella Elviana. Jakarta. Halaman 152-164.