Anda di halaman 1dari 17

Makalah: Belajar dan Pembelajaran

PENDEKATAN CARA BELAJAR SISWA AKTIF


(CBSA) DAN KETERAMPILAN PROSES

Disusun oleh:

KELOMPOK IV
AULIA AZIZAH (1414440015)
ANDI DWI MEYTIANA (1414441007)
NUR UMMU PRATIWI A. (1414442007)

PENDIDIKAN BIOLOGI ICP A


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR


2015

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi ALLAH SWT yang telah memberikan segala nikmatnya
kepada hamba-hambanya dan oleh karena itu makalah ini dapat kami selesaikan
dengan baik walaupun dalam penulisan ini masih begitu banyak kekurangan.
Kami ucapakan rasa terima kasih kepada kedua orang tua kami yang selalu
memberi semangat dalam menuntut ilmu sehingga memberikan semangat
motivasi dalam menuntut ilmu.
Kami sebagai penulis sangat menyadari bahwa makalah ini masih sangat
jauh dari kesempurnaan, baik dari isi maupun penyajian. Untuk itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk menuju kesempurnaan
dalam penulisan makalah ini. Semoga hadirnya makalah yang sederhana ini
memberi manfaat untuk pembaca dan terutama untuk penulis.

Makassar, Oktober 2015

Penulis

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan

mempunyai

peranan

yang

sangat

penting

dalam

mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan bangsa


Indonesia. Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah menetapkan sebuah
peraturan tentang masalah pendidikan di Indonesia, yang termuat dalam UU
No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, bahwa:
Pendidikan

Nasional

berfungsi

mengembangkan

kemampuan

dan

membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka


mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Namun seperti diketahui, bahwa salah satu permasalahan pendidikan
yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah mengenai rendahnya kualitas
pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Kualitas pendidikan
pada setiap jenjang dan satuan pendidikan salah satunya dapat dilihat melalui
prestasi belajar yang dicapai siswa karena prestasi tersebut menunjukkan
sejauh mana tingkat penguasan siswa terhadap mata pelajaran yang telah
ditempuh.
Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah cara
belajar mereka. Cara belajar adalah cara atau strategi siswa dalam melakukan
kegiatan belajar untuk mencapai prestasi belajar yang diharapkannya.
Menurut Slameto (2010: 82), cara belajar adalah metode atau jalan yang
harus ditempuh untuk mencapai suatu tujuan dalam belajar, yaitu
mendapatkan pengetahuan, sikap, kecakapan dan keterampilan. Sedangkan
menurut Nasution (2010: 94), cara belajar adalah cara yang konsisten yang
dilakukan oleh seorang murid dalam menangkap stimulus atau informasi, cara
mengingat, berpikir, dan memecahkan soal.

Dalam hal cara belajar tentunya terdapat cara-cara yang baik maupun
tidak baik. Banyak siswa gagal atau tidak mendapat hasil yang baik dalam
pelajarannya karena tidak mengetahui cara-cara belajar yang efektif dan
kebanyakan hanya mencoba menghafal pelajaran. Untuk mencapai prestasi
belajar yang tinggi diperlukan cara belajar yang baik.
Salah satu cara belajar yang sangat efektif diterapkan yakni Cara Belajar
Siswa Aktif (CBSA) yang menempatkan subjek didiknya terlibat secara
intelektual dan emosional serta menuntut keaktifan dan partisipasi peserta
didik seoptimal mungkin. Selain cara belajar, juga diperlukan keterampilan
proses yang mumpuni. Pendekatan keterampilan proses bisa menjadi strategi
dalam mengembangkan kreativitas belajar. Untuk itu, dalam makalah ini akan
dikaji lebih dalam tentang apa dan bagaimana CBSA itu serta pendekatan
keterampilan proses yang seperti apa sehingga bisa menjadi alternatif pilihan
dalam upaya meningkatkan mutu atau kualitas pendidikan.
B. Rumusan masalah
1. Apa pengertian Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)?
2. Apa saja ciri-ciri dari pendekatan CBSA?
3. Apa dasar pemikiran tentang perlunya CBSA?
4. Apa saja prinsip-prinsip CBSA?
5. Apa pengertian pendekatan keterampilan proses?
6. Apa saja komponen mendasar dalam penerapan keterampilan proses?

BAB 2
PEMBAHASAN
A. Pengertian Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)

Cara Belajar Siswa Aktif adalah cara mengajar dengan melibatkan


aktivitas siswa secara maksimal dalam proses belajar baik kegiatan mental
intelektual, kegiatan emosional, maupun kegiatan fisik secara terpadu.
Menurut Conny Seniawan, CBSA yang dipraktekkan adalah cara belajar siswa
aktif

yang

mengembangkan

keterampilan

memproseskan

perolehan.

Keterampilan memproseskan perolehan pada siswa meliputi keterampilanketerampilan

mengamati/observasi,

membuat

hipotesis,

merencanakan

penelitian, mengendalikan variabel, menafsirkan data, menyusun kesimpulan,


membuat prediksi, menerapkan dan mengkomunikasikan.
Pendekatan CBSA dapat diartikan sebagai panutan pembelajaran yang
mengarah kepada pengoptimalisasian keterlibatan intelektul-emosional siswa
dalam proses pembelajaran maupun keterlibatan fisik siswa apabila
diperlukan. Keterlibatan intelektual-emosional, fisik, serta optimalisasi dalam
pembelajaran, diarahkan untuk membelajarkan siswa bagaimana memperoleh
dan

memproses

perolehan

belajarnya

yang

mencakup

pengetahuan,

keterampilan dan sikap.


Sebagai suatu konsep, CBSA adalah suatu proses pembelajaran yang
subjek didiknya terlibat secara fisik, mental-intelektual, maupun sosial dalam
memahami ide-ide dan konsep-konsep pembelajaran (Ahmadi, 1991). Dengan
kata lain, arah pembelajaran CBSA mengacu pada siswa atau student
oriented yang bermakna pembentukan sejumlah keterampilan untuk
membangun pengetahuan sendiri baik melalui proses asimilasi maupun
akomodasi. Dalam proses pembelajaran yang seperti ini, siswa dipandang
sebagai objek dan sekaligus sebagai subjek.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa CBSA adalah salah
satu strategi pembelajaran yang menuntut aktivitas atau partisipasi peserta
didik seoptimal mungkin sehingga mereka mampu mengubah tingkah lakunya
dalam proses internalisasi secara lebih efektif dan efisien.
B. Ciri-ciri Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
Mengajar dalam pendekatan ini, menciptakan sistem lingkungan yang
memungkinan semua kemampuan siswa dapat dikembangkan dalam proses
belajar.

Materi

disajikan

secara

merangsang,

kemampuan

siswa

diperhitungkan, guru berfungsi sebagai motivator, organisation, pengarah dan


media pengajaran yang cukup komunikatif. Di dalam sistem ini, salah satu
indikator penting yang harus diperhatikan didalam gerakan meningkatkan
kadar CBSA dalam proses belajar pembelajaran adalah kadar keterlibatan
peserta didik setinggi mungkin.
Ciri pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif dalam proses belajar dan sebagai
hasil belajar:
1. CBSA sebagai proses belajar.
a. Siswa aktif (live-in) mencari atau memberikan informasi, bertanya
bahkan dalam membuat kesimpulan.
b. Adanya interaksi aktif secara terstruktur dengan siswa.
c. Adanya kesempatan bagi siswa untuk menilai hasil kerjanya sendiri.
d. Adanya pemanfaatan sumber belajar secara optimal.
2. CBSA sebagai hasil belajar.
a. Siswa dapat mentransfer kemampuannya kembali (kognitif, afektif dan
psikomotorik).
b. Adanya tindak lanjut berupa keinginan mencari bahan yang telah dan
akan dipelajari. Yakni adanya rasa penasaran diikuti dengan sikap on
the task. Pengalam belajar yang telah dikembangkan didalam kelas
akan diteruskan diluar kelas, baik dalam arti pengalaman belajar
terstruktur maupun pengalaman belajar mandiri
c. Tercapainya tujuan belajar minimal 80%.

C. Dasar Pemikiran Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)


Usaha penerapan dan peningkatan CBSA dalam Kegiatan Belajar
Mengajar (KBM) merupakan usaha proses pembangkitan kembali atau
proses pemantapan konsep CBSA yang telah ada. Untuk itu perlu dikaji
alasan-alasan kebangkitan kembali dan usaha peningkatan CBSA. Dasar
dan alasan usaha peningkatan CBSA secara rasional adalah sebagai
berikut:
1. Rasionalitas atau dasar pemikiran dan alasan usaha peningkatan CBSA
dapat ditinjau kembali pada hakikat CBSA dan tujuan pendekatan itu
sendiri. Dengan caradapat diketahui potensi, tendensi dan terbentuknya
pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dimiliki peserta didik. Pada

dasarnya dapat diketahui dengan baik kondisi pebelajar, materi


pelajaran, cara penyajian yang akan diterapkan. Jadi hampir semua
komponen proses belajar mengajar mengalami perubahan. Perubahan
ini mengarah ke segi positif yang harus didukung oleh tindakan secara
intelektual, oleh kemauan, kebiasaan belajar yang teratur, serta
kesenangan diri pada waktu belajar yang hendaknya tercipta baik di
sekolah maupun di rumah. Dalam hubungannya dengan CBSA salah
satu kompetensi yang patut dimiliki oleh tenaga pendidik ialah
kemampuan profesional, mampu memiliki strategi dengan pendekatan
yang tepat.
2. Implikasi mental-intelektual-emosional yang semaksimal mungkin
dalam kegiatan belajar mengajar akan mampu menimbulkan nilai yang
berharga dan gairah belajar menjadi semakin meningkat. Sifat ingin
tahu (curionsity) pebelajar dimotivasi oleh aktivitas yang telah
dilakukan. Pengalaman belajar akan memberi kesempatan untuk
rnelakukan proses belajar berikutnya dan akan menimbulkan
kreativitas sesuai dengan isi materi pelajaran.
3. Upaya memperbanyak arah komunikasi dan menerapkan banyak
metode dan media secara bervariasi dapat berdampak positif. Cara
seperti itu juga akan memberi peluang memperoleh feed-back untuk
menilai efektivitas peserta didik. Dengan demikian kesalahankesalahan dan kekeliruan dapat segera diperbaiki. Jadi, CBSA
memberi alasan untuk dilaksanakan penilaian secara efektif, secara
terus-menerus melalui tes akhir tatap muka, tes formatif dan tes
sumatif.
4. Dilihat dari segi pemenuhan meningkatkan mutu pendidikan di LPTK
(Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidik) maka strategi dengan
pendekatan CBSA layak menjadi prioritas utama. Dengan wawasan
pendidikan sebagai proses belajar mengajar menggarisbawahi betapa
pentingnya proses belajar mengajar yang tanggung jawabnya
diserahkan sepenuhnya kepada pebelajar. Dalam hal ini materi peserta
didik harus benar-benar dibuat sesuai dengan kemampuan berpikir

mandiri. Situasi pebelajar mampu menumbuhkan kemampuan dalam


memecahkan masalah secara abstrak, dan juga mencari pemecahan
secara praktik.
D. Prinsip Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
Ada beberapa prinsip belajar yang dapat digunakan dalam menunjang
tumbuhnya CBSA di dalam pembelajaran (Ahmadi, 1991), yaitu:
1. Motivasi Belajar Siswa
Motivasi belajar merupakan prinsip utama dalam CBSA. Tanpa adanya
motivasi, hasil belajar yang dicapai siswa tidak akan optimal. Oleh karena
itu, peranan guru dalam mengembangkan motivasi belajar ini sangat
diperlukan sekali. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk
menumbuhkan motivasi belajar siswa dalam CBSA, antara lain melalui
penggunaan metode atau cara belajar yang bervariasi, mengadakan
pengulangan informasi, menggunakan media dan alat bantu yang
bervariasi, memberikan pertanyaan-pertanyaan pengiring atau pelacak, dan
lain-lain.
2. Pengetahuan Prasyarat
Subjek mata pelajaran disekolah bersifat hirarkis. Untuk menguasai suatu
materi atau topik tertentu, peserta didik harus menguasai terlebih dahulu
materi-materi sebelumnya yang terkait baik langsung maupun tidak
langsung dengan materi yang akan dipelajari tersebut. Oleh karena itu,
tugas

guru

adalah

menyelidiki

pengetahuan,

keterampilan,

dan

pengalaman yang telah dimiliki siswa untuk mempelajari suatu materi.


Dengan cara demikian, siswa akan lebih siap untuk memahami materi
yang akan dipelajarinya.
3. Tujuan yang Akan Dicapai
Pembelajaran yang terencana dengan baik akan memberikan hasil yang
baik pula. Perencanaan pembelajaran ini biasanya diwujudkan dalam
perumusan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tujuan inilah yang
menjadi pedoman bagi guru dalam menentukan keluasan dan kedalaman
materi.
4. Hubungan Sosial

Dalam belajar siswa perlu dilatih untuk bekerja sama dengan


temantemannya agar konsep-konsep yang sulit dipahami oleh siswa secara
mandiri akan menjadi lebih mudah jika dipelajari secara berkelompok.
Latihan bekerja sama ini juga bermanfaat dalam proses pembentukan
kepribadian siswa terutama sikap sosialnya.
5. Belajar Sambil Bekerja
Pada hakikatnya anak belajar sambil bekerja. Semakin banyak aktivitas
fisik siswa, akan semakin berkembang pula kemampuan berpikir siswa.
Apa yang diperoleh siswa dalam pembelajaran yang banyak melibatkan
aktivitas fisiknya, akan lebih lama mengendap dalam memori siswa. Siswa
akan bergembira dalam belajar apabila diberi kesempatan yang sebanyakbanyaknya dalam bekerja. Oleh karena itu, prinsip belajar sambil bekerja
ini merupakan prinsip yang paling banyak mewarnai CBSA.
6. Perbedaan Individu
Setiap anak memiliki karakteristik tersendiri, misalnya dalam kemampuan,
kebiasaan, minat, latar belakang keluarga, dan lain-lain. Dalam
pembelajaran, guru sebaiknya dapat memperhatikan perbedaan individu
pada anak didiknya. Guru tidak boleh memperlakukan semua anak dengan
cara yang sama, walaupun tidak semua perbedaan anak dapat
diakomodasi.
7. Menemukan Menemukan merupakan prinsip yang harus banyak mewarnai
CBSA. Dalam CBSA, siswa harus diberi kesempatan yang seluas-luasnya
untuk mencari dan menemukan sendiri informasi-informasi yang ada di
dalam pembelajaran. Dengan cara demikian, siswa akan merasa lebih
bersemangat dalam belajar dan belajar menjadi pekerjaan yang tidak
membosankan bagi siswa.
8. Memecahkan Masalah
Pembelajaran akan lebih terarah apabila dimulai dengan permasalahan
yang harus dipecahkan siswa. Situasi yang menghendaki siswa harus
memecahkan

masalah

ini

akan

mendorong

siswa

mengembangkan kemampuan berpikirnya secara maksimal.

untuk

dapat

E. Pengertian Pendekatan Keterampilan Proses


Pendekatan keterampilan proses pada hakikatnya adalah suatu pengelolaan
kegiatan belajar-mengajar yang berfokus pada pelibatan siswa secara aktif dan
kreatif dalam proses pemerolehan hasil belajar (Semiawan, 1992). Pendekatan
keterampilan proses ini dipandang sebagai pendekatan yang oleh banyak pakar
paling sesuai dengan pelaksaksanaan pembelajaran di sekolah dalam rangka
menghadapi pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang semakin cepat dewasa ini. Struktur pelajaran yang berpola deduktif
kadang-kadang memerlukan proses kreatif yang induktif. Untuk sampai pada
suatu kesimpulan, kadang-kadang dapat digunakan pengamatan, pengukuran,
intuisi, imajinasi, penerkaan, observasi, induksi bahkan mungkin dengan
mencoba-coba. Pemikiran yang demikian bukanlah kontradiksi, karena
banyak objek pelajaran yang dikembangkan secara intuitif atau induktif.
Pendekatan keterampilan proses akan efektif jika sesuai dengan kesiapan
intelektual. Oleh karena itu, pendekatan keterampilan proses harus tersusun
menurut urutan yang logis sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengalaman
siswa. Misalnya sebelum melaksanakan penelitian, siswa terlebih dahulu harus
mengobservasi atau mengamati dan membuat hipotesis. Alasannya tentulah
sederhana, yaitu agar siswa dapat menciptakan kembali konsep-konsep yang
ada dalam pikiran dan mampu mengorganisasikannya. Dengan demikian,
keberhasilan anak dalam belajar menggunakan pendekatan keterampilan
proses adalah suatu perubahan tingkah laku dari seorang anak yang belum
paham terhadap permasalahan yang sedang dipelajari sehingga menjadi paham
dan mengerti permasalahannya.
Berdasarkan uraian di atas, terlihat bahwa keunggulan pendekatan
keterampilan proses di dalam proses pembelajaran, antara lain adalah:
1. Siswa terlibat langsung dengan objek nyata sehingga dapat mempermudah
2.
3.
4.
5.
6.

pemahaman siswa terhadap materi pelajaran


Siswa menemukan sendiri konsep-konsep yang dipelajari
Melatih siswa untuk berpikir lebih kritis
Melatih siswa untuk bertanya dan terlibat lebih aktif dalam pembelajaran
Mendorong siswa untuk menemukan konsep-konsep baru
Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar menggunakan metode
ilmiah.

Pendekatan

keterampilan

proses

ini

berbeda

dengan

pendekatan

tradisional, karena di dalam pembelajaran dengan pendekatan tradisional, guru


hanya memberikan materi pelajaran yang berfokus pada pemberian konsepkonsep, informasi, dan fakta yang sebanyak-banyaknya kepada siswa.
Akibatnya, hasil belajar yang diperoleh siswa pun hanya terbatas pada aspek
pengetahuan saja, sedangkan aplikasinya belum tentu dapat dilakukan.
Padahal di dalam pembelajaran, siswa juga dituntut untuk mengalihgunakan
informasi yang diperolehnya pada bidang lain dan bahkan di dalam kehidupan
sehari-hari.
F. Komponen Mendasar dalam Penerapan Keterampilan Proses
1. Rasionalitas Pendekatan Keterampilan Proses
Alasan yang mendasari perlunya diterapkan pendekatan keterampilan
proses adalah sebagai berikut:
a. Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga
tak mungkin lagi para guru mengajarkan semua informasi dan konsep
kepada siswa. Guru hanya dituntut untuk membimbing siswa dalam
menemukan informasi dan konsep yang selanjutnya mengolah
perolehan siswa tersebut.
b. Anak didik mudah memahami konsep yang rumit dan abstrak, jika di
sertai dengan contoh-contoh yang konkrit, contoh-contoh yang wajar
sesuai situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan mempraktekkan
sendiri upaya penemuan konsep melalui perlakuan terhadap kenyataan
fisik, melalui penanganan benda yang benar-benar nyata.
c. Anak didik perlu dilatih untuk aktif, kreatif dan inovatif melalui
latihan

bertanya,

diskusi

mengamati,

mengklasifikasikan,

menginterprestasi, memprediksi, menerapkan, menilai, berfikir kritis


dan mengupayakan berbagai kemungkinan jawaban.
d. Pendekatan keterampilan proses memberikan keluwesan dalam belajar
dan perbedaan individual anak dapat dilayani dalam kegiatan belajar
mengajar.
2. Prinsip Pendekatan Keterampilan Proses
Dalam membahas pendekatan keterampilan proses, prinsip-prinsip
tentang pendekatan tersebut menjadi hal mutlak yang harus Anda pahami.

Satu hal yang harus kita sepakati bersama, bahwa dalam pembelajaran
yang dilakukan orientasinya tidak hanya produk belajar, yakni hasil belajar
yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran saja, melainkan lebih dari
itu. Pembelajaran yang dilakukan juga diarahkan pada bagaimana
memperoleh hasil belajar atau bagaimana proses mencapai tujuan
pembelajaran yang diharapkan terpenuhi.
Untuk mencapai tujuan di atas, terdapat sejumlah prinsip yang harus
dipahami (Semiawan, 1992), yang meliputi:
1. Kemampuan Mengamati
Mengamati merupakan salah satu keterampilan yang sangat penting
untuk memperoleh pengetahuan, baik dalam kehidupan sehari-hari
maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Kegiatan ini tidak
sama dengan kegiatan melihat. Pengamatan dilaksanakan dengan
memanfaatkan seluruh panca indera yang mungkin biasa digunakan
untuk memperhatikan hal yang diamati, kemudian mencatat apa yang
diamati, memilah-milah bagiannya berdasarkan kriteria tertentu, juga
berdasarkan tujuan pengamatan, serta mengolah hasil pengamatan dan
menuliskan hasilnya.
2. Kemampuan Menghitung
Kemampuan menghitung dalam pengertian yang luas, merupakan
salah satu kemampuan yang penting dalam kehidupan sehari-hari.
Dapat dikatakan bahwa dalam semua aktivitas kehidupan semua
manusia memerlukan kemampuan ini.
3. Kemampuan Mengukur
Dalam pengertian yang luas, kemampuan mengukur sangat diperlukan
dalam kehidupan sehari-hari. Dasar dari kegiatan ini adalah
perbandingan.
4. Kemampuan Mengklasifikasi
Kemampuan
mengklasifikasi

merupakan

kemampuan

mengelompokkan atau menggolongkan sesuatu yang berupa benda,


fakta, informasi, dan gagasan. Pengelompokan ini didasarkan pada
karakteristik atau ciri-ciri yang sama dalam tujuan tertentu, baik dalam
kehidupan
pengetahuan.

sehari-hari

maupun

dalam

pengembangan

ilmu

5. Kemampuan Menemukan Hubungan


Kemampuan ini merupakan kemampuan penting yang perlu dikuasai
oleh siswa. Yang termasuk dalam kemampuan ini adalah: fakta,
informasi, gagasan, pendapat, ruang, dan waktu. Kesemuanya
merupakan variabel untuk menentukan hubungan antara sikap dan
tindakan yang sesuai.
6. Kemampuan Membuat Prediksi (Ramalan)
Ramalan yang dimaksud di sini bukanlah sembarang perkiraan,
melainkan

perkiraan

yang

mempunyai

dasar

atau

penalaran.

Kemampuan membuat ramalan atau perkiraan yang didasari penalaran,


baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam mengembangkan
ilmu pengetahuan. Dalam teori penelitian, kemampuan membuat
ramalan ini disebut juga kemampuan menyusun hipotesis. Hipotesis
adalah suatu perkiraan yang beralasan untuk menerangkan suatu
kejadian atau pengamatan tertentu. Dalam kerja ilmiah, seorang
ilmuwan biasanya membuat hipotesis yang kemudian diuji melalui
eksperimen.
7. Kemampuan Melaksanakan Penelitian (Percobaan)
Penelitian merupakan kegiatan para ilmuwan di dalam kegiatan ilmiah.
Namun,

dalam

kehidupan

sehari-hari

penelitian

(percobaan)

merupakan kegiatan penyelidikan untuk menguji gagasan-gagasan


melalui kegiatan eksperimen praktis. Kegiatan percobaan umumnya
dilaksanakan dalam mata pelajaran eksakta seperti fisika, kimia, dan
biologi. Sedangkan untuk mata pelajaran non eksakta, kegiatan yang
biasa dilakukan adalah penelitian sederhana yang meliputi perencanaan
dan pelaksanaan.
8. Kemampuan Mengumpulkan dan Menganalisis Data
Kemampuan ini merupakan bagian dari kemampuan melaksanakan
penelitian. Dalam kemampuan ini, siswa perlu menguasai bagaimana
caracara mengumpulkan data dalam penelitian baik kuantitatif maupun
kualitatif.
9. Kemampuan Menginterpretasikan Data

Dalam kemampuan ini, siswa perlu menginterpretasikan hasil yang


diperoleh dan disajikan dalam bentuk tabel, diagram, grafik, atau
histogram.
10. Kemampuan Mengkomunikasikan Hasil
Kemampuan ini merupakan salah satu kemampuan yang juga harus
dikuasai siswa. Dalam kemampuan ini, siswa perlu dilatih untuk
mengkomunikasikan

hasil penemuannya kepada orang lain dalam

bentuk laporan penelitian, paper, atau karangan.

BAB 3
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) adalah salah satu strategi pembelajaran
yang menuntut aktivitas atau partisipasi peserta didik seoptimal mungkin
sehingga mereka mampu mengubah tingkah lakunya dalam proses
internalisasi secara lebih efektif dan efisien.

2. Di dalam sistem CBSA, salah satu indikator penting yang harus


diperhatikan didalam gerakan meningkatkan kadar CBSA dalam proses
belajar pembelajaran adalah kadar keterlibatan peserta didik setinggi
mungkin.
3. Dasar pemikiran pendekatan CBSA:
a. Rasionalitas atau dasar pemikiran dan alasan usaha peningkatan CBSA
dapat ditinjau pada hakikat CBSA dan tujuan pendekatan itu sendiri.
b. Implikasi mental-intelektual-emosional yang semaksimal mungkin
dalam kegiatan belajar mengajar.
c. Upaya memperbanyak arah komunikasi dan menerapkan banyak
metode dan media secara bervariasi.
d. Pemenuhan peningkatan mutu pendidikan di LPTK (Lembaga
Pendidikan Tenaga Pendidik)
4. Prinsip belajar yang dapat digunakan dalam menunjang tumbuhnya CBSA
di dalam pembelajaran (Ahmadi, 1991), yaitu: (a). motivasi belajar siswa,
(b). pengetahuan prasyarat, (c). tujuan yang akan dicapai, (d). hubungan
sosial, (e). belajar sambil bekerja, (f). perbedaan individu, (g).
menemukan, dan (h). pemecahan masalah.
5. Pendekatan keterampilan proses pada hakikatnya adalah suatu pengelolaan
kegiatan belajar-mengajar yang berfokus pada pelibatan siswa secara aktif
dan kreatif dalam proses pemerolehan hasil belajar.
6. Beberapa komponen yang juga menjadi bagian dari Pendekatan
Keterampilan Proses yakni rasionalitas serta prinsip penerapannya.
B. Saran
Sebagai peserta didik dalam ruang lingkup formal maupun informal yang
diharapkan menjadi output yang sebaik dan semaksimal mungkin, maka
materi pelajaran yang disajikan harus benar-benar dibuat sesuai dengan
kemampuan berpikir mandiri. Situasi yang baik antara peserta didik dan
tenaga pengajar mampu menumbuhkan kemampuan dalam memecahkan
masalah secara abstrak, dan juga mencari pemecahan secara praktik.
Disamping itu juga, guru diharapkan dapat merangsang siswa untuk mampu
menampilkan

potensinya,

serta

dapat

menumbuhkan

keterampilan-

keterampilan pada siswa sesuai dengan taraf perkembangannya, sehingga

mereka memperoleh konsep pembelajaran dengan kapasitas yang mampu


dikuasai.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 1991. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta


Haling, Abdul. 2007. Belajar dan Pembelajaran. Makassar: Badan Penerbit
Universitas Negeri Makassar
Semiawan,

Conny. 1992.

Pendekatan

Ketrampilan

Mengaktifkan Siswa dalam Belajar. Jakarta: Gramedia

Proses:

Bagaimana

Slameto. 2010. Belajar & Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka


Cipta
Nasution, S. 2010. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar & Mengajar.
Jakarta: Bumi Aksara