Anda di halaman 1dari 24

Makalah Ilmu Lingkungan

MAKASSAR TIDAK RANTASA (MTR)

Disusun:

ADRI PAUNDANAN

D411 12 280

MUHAMMAD ARIFAI

D411 12

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN

2016BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Masalah kebersihan tidak kunjung selesai hampir di setiap kota di Indonesia. Permasalahan
ini muncul setiap tahun dan terus berlangsung tanpa ada solusi yang tepat dalam pelaksanaannya.
Kondisi perkotaan yang masih jauh dari predikat Kota bersih masih menjadi info yang populer
diangkat oleh banyak media setiap harinya. Ketika sampah masih banyak berserakan dimanamana kerap dianggap tidak sesuai dengan visi Kota yang sebagian besar menekankan aspek
kebersihan, keindahan dan kerapihan Kota atau kita kenal dengan istilah 3K. Oleh karena itu
kebersihan, keindahan dan kerapihan seringkali menjadi target utama kebijakan kebijakan
pemerintah kota.
Hal ini merupakan masalah yang sangat kompleks karena akan menghadapi banyak karakter
atau perilaku masyarakat yang beragam. Perilaku masyarakat perkotaan yang relatif berbeda
dalam menyikapi masalah kebersihan erat relevansinya dengan pendidikan atau pengetahuan
tentang kesehatan yang tidak merata. Hal ini juga bisa dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat
yang sudah berjalan dalam waktu yang lama tanpa adanya aturan atau sanksi yang bisa membuat
jera. Masyarakat yang mempunyai kebiasaan buang sampah bukan pada tempatnya membuat
kondisi

Kota

menjadi

memprihatinkan

baik

dari

segi

kebersihan,

keindahan

dan

kerapihanbegitupun dengan kesehatan masyarakat pada umumnya.


Di Kota Makassar berdasarkan data yang masuk tahun 2014 pada Sub. Bagian Pengaduan
pada Bagian Humas Sekretariat Kota Makassar, total jumlah aduan pada bulan April, sebanyak
133 aduan, enam diantaranya terkait kebersihan. Sedangkan di bulan Mei sebanyak 126 aduan,
sembilan diantaranya terkait masalah kebersihan. Pada tanggal 12 Juni pengaduan tentang
kebersihan mengalami peningkatan menjadi 13 aduan(Makassar, 2014).

Kota Makassar merupakan salah satu kota yang memilki tingkat kepadatan penduduk yang
cukup besar. Kota Makassar terdiri dari 14 kecamatan dan 143 kelurahan salah satunya adalah
kecamatan tamalate yang merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk yang sangat padat.
Padatnya jumlah penduduk mengakibatkan volume sampah yang dihasilkan sangat besar.
Berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah kota untuk mengatasi hal ini salah satu usaha
yang dilakukan pemerintah kota membuat program Makassar Tidak Rantasa sebagai bentuk
solusi menangani permasalahan kebersihan yang ada. Kebijakan atau program Makassar Tidak
Rantasa merupakan kebijakan yang mengatur tentang tata kebersihan kota dimulai dari
kesadaran semua warga kota Makassar untuk mengedepankan aspek kebersihan dalam kehiduan
sehari-hari.
Berangkat dari permasalahan ini dan survey dilapangan, maka Walikota Makassar membuat
kebijakan Makassar Tidak Rantasa (MTR). Sebagai bentuk solusi untuk menangani
permasalahan kebersihan yang ada.

B.

Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh kebijakan Makassar Tidak Rantasa (MTR) menjadi solusi

permasalahan kebersihan di Kota Makassar dan menganalisis perlunya penambahan kebijakan


untuk melengkapi kebijakan tersebut.

C.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dalam penelitian memiliki permasalahan pokok yang
akan di rumuskan, yakni:
1. Bagaimana pemerintah kota mengatasi sampah yang ada di Kota Makassar dalam program
Makassar Tidak Rantasa?

2. Bagaimana peran masyarakat Kota Makassar dalam mendukung pemerintah kota terhadap
program Makassar Tidak Rantasa?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pentingnya Memiliki Kesadaran Mengelola Sampah


Sampah bukanlah hal yang terlampau sulit untuk dilakukan oleh individual secara mandiri.
Kunci yang harus dipegang adalah kemauan yang kuat untuk memulai dan melestarikannya
kepada kelompok masyarakat lainnya. Pentingnya kepemilikan kesadaran untuk melakukan
pengelolaan sampah terletak pada efek yang dihasilkan oleh sampah terhadap lingkungan.
Pendeknya, pengelolaan sampah akan meminimalisir atau bahkan menghilangkan dampak
negatif yang selama ini lebih sering tertuju pada pencemaran yang berujung kerusakan
lingkungan. Dengan mengetahui cara pengelolaan sampah yang baik dan benar, kita bisa
mengambil langkah tepat terkait bagaimana memperlakukan sampah sehingga tidak merugikan
orang per orang berikut lingkungannya.
Poin berikutnya terkait pentingnya kesadaran pengelolaan sampah adalah fakta bahwa di
sekitar kita atau dalam cakupan yang lebih luas di negara kita, sebagian besar tempat
pembuangan dan pengelolaan sampah belumlah bisa dikatakan memenuhi persyaratan untuk
membangun kesehatan dan keamanan lingkungan berikut penghuninya. Banyak yang bahkan
bisa membahayakan masyarakat dengan gunungan sampahnya yang terlampau tinggi. Oleh
karena itu, jika orang per orang telah memiliki kesadaran untuk mengelola sampah di
lingkungannya sendiri dan/atau sekitarnya, kerja berat pusat-pusat pembuangan dan pegelolaan
sampah ini menjadi lebih ringan. Paling tidak, potensi pencemaran dan kerugian lainnya bisa
diperkecil

B. Peran Serta Masyarakat


Pengumpulan dan pengangkutan sampah tidak dapat berjalan dengan baik, jika tidak adanya
partisipasi masyarakat sebagaimana yang dilakukan di kota-kota di Indonesia, masyarakat
terlibat dalam pengumpulan sampah. Sedangkan peran serta masyarakat adalah sistem
pengumpulan sampah atas kesadaran masyarakat sendiri untuk membawa sampahnya ke TPS
terdekat. Organisasi terasteral (rukun tetangga dan rukun warga) merupakan organisasi penting
yang mengkoordinir pengumpulan sampah dipermukiman-permukiman yang tidak memiliki
akses ke jalan utama.
Berdasarkan hal tersebut, sistem pengumpulan sampah, khususnya sampah rumah tangga yang
saat ini dilakukan didasarkan pada kondisi dan kultur masyarakat. Salah satu pendekatan kepada
masyarakat untuk dapat membantu program pemerintah dalam kebersihan adalah bagaimana
membiasakan masyarakat kepada tingkah laku yang sesuai dengan tujuan program tersebut, yang
menyangkut:
1. Bagaimana merubah persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah yang tertib, lancar,
dan merata.
2. Faktor-faktor sosial, struktur, dan budaya setempat.
3. Kebiasaan dalam pengelolaan sampah selama ini.

Tanpa adanya partisipasi masyarakat, semua program pengelolaan sampah (kebersihan) yang
direncanakan akan sia-sia. Menurut Rukmana, et. all, (1993), partisipasi masyarakat akan
membangkitkan semangat kemandirian dan kerjasama diantara masyarakat akan meningkatkan
swadaya masyarakat, yang pada gilirannya akan mengurangi kebutuhan sumber daya
pemerintah. Kriteria Tingkat Dukungan Pengelolaan Sampah Didalam sistem pengelolaan

sampah terdapat beberapa kriteria tingkat dukungan masyarakat terhadap pengelolaan sampah
yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu :
Membersihkan sampah di pekarangan rumah
Mengumpulkan sampah
Membawa sampah ke TPS
Membungkus sampah pada kantongan
Menempatkan sampah pada tempat sampah
Memisahkan sampah basah dan sampah kering
Menanggapi pelayanan pemerintah
Kerja Bakti

BAB III
PEMBAHASAN

A. Program Makassar Tidak Rantasa


Program Makassar tidak Rantasa (2014 ) merupakan bagian dari visi dan misi walikota Makassar
Muh. Ramadhan Pumanto yang ingin menjadikan kota Makassar sebagai kota yang nyaman
ditempati yang jauh dari sampah. Pemerintah Kota Makassar menghimbau dan mengajak seluruh
masyarakat berpartisipasi aktif untuk bersama melakukan pengawasan dilingkungan masingmasing guna mewujudkan Makassar Tidak Rantasa (MTR) .
Program MTR suatu gerakan yang mengedepankan aspek kebersihan, keindahan dan
kenyamanan, tidak hanya faktor kebersihan gerakan tersebut juga diharapkan mengubah sikap
dan prilaku masyarakat mengenai pentingnya hidup bersih bebas dari sampah. Program MTR
merupakan gerakan yang mengatur tentang tata kebersihan kota dimulai dari kesadaran semua
warga kota Makasar untuk mengedepankan aspek kebersihan dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan UU RI no 18 Tahun 2008 serta pelaksanaan program MTR didukung oleh Peraturan
Daerah Kota Makassar Nomor 4 Tahun 2011 tentang pengelolaan sampah dan langkah teknis
pelaksanaan Program Makassar Tidak Rantasa yaitu melaksanakan Kerja Bakti disetiap
kelurahan, mengumpulkan sampah, membawa sampah ke TPS, membungkus sampah pada
kantongan, menempatkan sampah pada tempat sampah, memisahkan sampah basah dan sampah
kering, menanggapi pelayanan pemerintah.

1.

Timbulan Sampah Perkotaan di Kota Makassar

Seiring dengan berkembangnya kota Makassar maka perkembangan penduduk Kota Makassar
pun akan semakin meningkat, hal tersebut tentu saja meningkatkan jumlah timbulan sampah
yang dihasilkan oleh masyarakat Kota Makassar.
Dari hasil perhitungan dan pemantauan secara langsung layu timbulan sampah perkotaan di
Kota Makassar dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 1
LAJU TIMBULAN SAMPAH PERKOTAAN DI KOTA MAKASSAR 2013
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Kecamatan
Ujung Tanah
Tallo
Wajo
Makassar
Bontoala
Mariso
Mamajang
Ujung Pandang
Rappocini
Pannakukang
Tamalate
Manggala
Tamalaranrea
bringkanaya
Total

Jml pddk

Laju timbulan

48.729
137.336
35.331
82.199
64.331
54.222
60.332
28.391
143.519
133.683
154.381
102.103
89.776
135.469
1.269.182

(Liter/hari)
146.187
412.007
105.992
246,567
192.992
162.667
180.997
85.174
430.557
401.049
463.163
306.309
269.328
406.408
3.807.186

Pada tabel 1 ialah hasil proyeksi penduduk tahun 2010 dan proyeksi timbulan sampah. Dapat
dilhat pada tabel diatas jumlah timbulan sampahterbesar dihasilkan oleh Kecamatan Tamalate
yaitu 463.143 liter/hari. Sedangkan jumlah timbulan sampah terkecil dihasilkan oleh Kecamatan
Ujung Pandang yaitu 85.174 iter/hari. Sedangkan volume timbulan sampah Kota Makassar pada
tahun 2010 diproyeksikan sebesar 3.807.546 liter/hari untuk 1.269.182 jiwa penduduk.
Tabel 2
Keadaan Sampah Yang Bertumpuh di beberapa Lokasi Kota Makassar
Kondisi Lapangan

Lokasi

Pola

Masaalah

Jl.

Pengelolaan
Pola
Sampah

Monumen

komunal

menumpuk di

Emmy

Tidak

bahu jalan dan

Saelan

langsung

sampah tidak

Kecamatan

dikemas sehingga

Rappocini

menyusahkan
pengangkutan

Jl. Inspeksi

Pola

sampah.
Sampah dibuang

Kanal

Komunal

ke kanal

Kecamatan

Tidak

sehingga

Tallo

Langsung

kanal menjadi
kotor dan bau,
terjadi
penumpukan

Jl.

Pola

sampah dikanal.
Sampah dibuang

Timungan

Komunal

diluar kontainer

Lompoa

Langsung

dan tidak dikemas

Kecamatan

dengan baik

Tallo

sehingga
menyulitkan
pengangkutan
sampah

Jl.

Pola Door to

Sampah dibuang

Sabutung

Door

di

Kecamatan

kanal sehingga

Ujung

sampah memenuhi

Tanah

kanal sehingga
menyebabkan air
kanal meluap pada
musim hujan

Dapat dilihat pada gambar diatas masih banyak sampah yang berserakan dan dibuang di
sembarang tempat. Beberapa dampak yang akan ditimbulkan ialah akan menimbulkan bau,
mengurangi nilai estetika dan khusus pada daerah kanal dapat menyebabkan air kanal meluap
sewaktu-waktu.

2.

Timbulan sampah dan Status Kesehatan Masyarakat


Manusia setiap harinya menghasilkan sampah baik itu sampah organic maupun sampah
anorganik, sampah juga dapat mengakibatkan terjadinya letusan wabah penyakit, untuk di Kota
Makassar sampah adalah masaalah yang cukup kompleks dan mempunyai pengaruh signifikan
terhadap kesehatan ( Abses dari pintu masuknya penyakit berbasis sampah).
Berdasarkan hasil penelitian dari beberapa peneliti yang meneliti tentang sampah kejadia
penyakit berbasis sampah di Kota Makassar adalah sebagai berikut :

a.

Akibat pencemran yang diakibatkan sampah

: 65 %

b.

Vector dari sampah

: 45 %

3.

Partisipasi Masyarakat Kota Makassar

Sampah yang menjadi permasalahan di kota Makassar dapat diatasi dengan sikap dan tindakan
yang bershabat dengan sampah, diantaranya partisipasi masyarakat, turut sertanya pihak
kelembagaan (swasta) dan pemerintah agar permaslahan persampahan dapat teratasi secara
menyeluruh.
Tabel 3
Peranan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah
No

Kondisi Lapangan

Lokasi

Keteranga

Keluraha

n
Penggunaa

n botol

Karang

plastik

Anyar,

bekas,

Kecamat

sebagai pot

an

bekas.

Mamajan

Botol

plastik
dibersihka
n secara
seksama,
di
cat, diberi
lubanglubang
kecil
kemudian
sudah

dapat
digunakan
kembali
sebagai pot
2

Keluraha

sederhana
Kerajinan

tangan dari

Kapasa,

sampah

Kecamat

anorganik

an

terutama

Tamalanr

jenis

ea

plastik
dan kertas
koran yang
didaurulan
g menjadi
tas,
dompet,
tempat
tissue, dan
tatakan
gelas.

Keluraha

Penghijaua

Malimon

dilakukan

gan,

untuk

Kecamat

menciptak

an

an

Wajo

lingkungan
bersih dan
sehat.
Dilakukan
pengompo
san dengan
mengumpu
lkan
sampah
organic
yang akan
diolah
sedemikian
rupa
menjadi

Keluraha

kompos.
Pendaurula

ngan

Ujung

kemasan

Tanah,

plastik,

Kecamat

pelepah

an

pisang,

Ujung

karung dan

Tanah

kertas
semen
bekas
menjadi
baju anak
yang
diperlomba
kan dalam
peragaan
busana
sampah.

4.

Pembuangan Limbah Industri dan TTU Kota Makassar


Berdasarkan hasil pemantauan sementara pembuangan limbah industry dan TTU dari beberapa
titik pemantauan dapat dilihat tidak memenuhi syarat dan dapat menyebabkan adanya
pencemaran lingkungan, yang akan berdampak negative pada kelangsungan keseimbangan
ekologis.

No

Kondisi

Lokasi

Masaalah

Pantai Losari

Ada beberapa
industry yang
pembuangan air
limbahnya itu
langsung di
buang ke

pantai,hal ini
akan
mengakibatkan
kelangsungan
ekosistem biota
laut dan nilai
estetika pantai
berkurang

Tabel 4
Hasil Pemantauan proses Pembuangan Limbah Industri Kota Makassar yang Kurang
memenuhi syarat

5.

Kadar Polutan Kota Makassar

Kota Makassar merupakan salah satu kota metropolitan di Indonesia, yang mengalami
permasalahan pencemaran udara dengan racun timbal asap kendaraan bermotor. Peningkatan
jumlah kendaraan bermotor menyebabkan semakin tingginya tingkat kemacetan disejumlah ruas
jalan, yang berdampak pada peningkatan polutan (racun) di udara.
Data dari Dinas Perhubungan Kota Makassar (2009) menunjukkan tren peningkatan jumlah
kendaraan bermotor, pada tahun 2006 tercatat 296.931 unit, tahun 2007 tercatat 319.038 unit
dan pada tahun 2008 tercatat 360.122 unit kendaraan.
Permasalahan pencemaran udara khususnya timbal (Pb) telah mengkhawatirkan di beberapa
kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Makassar. Hal ini didasarpan pada
beberapa hasil pemantauan kualitas udara dengan parameter timbal (Pb) yang terkandung dalam
bensin (premium) (Zaenab, 2008). Berdasarkan dari beberapa hasil penelitian dilaporkan bahwa
kualitas udara di Kota Makassar sudah mengkhawatirkan. Sebagaimana diketahui bahwa Kota
Makassar merupakan ibukota Sulawesi Selatan yang menjadi pusat kegiatan perekonomian dari
berbagai daerah disekitarnya, dan menjadi pusat kegiatan perekonomian di kawasan timur
Indonesia.Menurut Asnida (2004), kadar CO udara ambien dikota Makassar pada siang hari ratarata mencapai 11.013,33 g/Nm3. Hasil penelitian Hermanto (2006), rata-rata pengukuran CO
dijalan Perintis Kemerdakaan pada siang dan sore hari mencapai 6860-8870 g/Nm3.

D.

Kebijakan Makassar ta Tidak Rantasa


Untuk mengatasi masalah kebersihan Kota Makassar makaPemerintah Kota (Pemkot)
Makassar melakukan gerakan revolusi kebersihan di bawah kepemimpinan Walikota dan Wakil
Walikota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto dan Syamsu Rizal. Maka dikeluarkanlah kebijakan
yang disebut dengan Makassar Tidak Rantasa. Kebijakan ini mulai diperkenalkan didepan
warga Kota Makassar pada hari Minggu tanggal 15 Juni 2014dalam acara Akbar A'bbulo

Sibatang Lompoayang digelar di Celebes Convention Centre (CCC) Jalan Metro Tanjung
Bunga.
Kebijakan Makassar Tidak Rantasa merupakan kebijakan yang mengatur tentang tata
kebersihan Kota dimulai dari kesadaran semua warga Kota Makassar untuk mengedepankan
aspek kebersihan dalam kehidupan sehari-hari.
Ke depan kontainer sampah yang ada di ruang kota tidak akan digunakan, pasalnya dengan
program tersebut, setiap rumah akan disediakan kantong plastik sampah. Sampah tersebut akan
langsung diangkut armada kebersihan dan langsung dibuang ke Tempat Pembuangan
Akhir (Upeks, 2014).
Menindaklanjuti kebijakan tersebut, walikota Makassar mengingatkan kepada Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD)nya agar tidak saling mengharap dalam program ini. SKPD hingga
camat dan lurah se-Kota Makassar wajib membersihkan ketika mendapati sampah. Khusus lurah,
bertugas sosialisasi Gemar MTR dari rumah ke rumah (door to door) melalui brosur-brosur,
sebelum aksi aksi bersama.
Masyarakat Kota Makassar perlu waspada apabila tidak mengubah perilaku Pemerintah Kota
Makassar menerapkan sanksi denda hingga Rp. 5 juta untuk pelanggaran membuang sampah
sembarangan dan mengangkut sampah pada siang hari.Pemberlakuan sanksi denda itu seiring
dengan kebijakan pengalihan operasional truk pengangkut sampah yang hanya beroperasi pada
malam hari.
Menurut Sekretaris Kota Makassar Ibrahim Saleh, dengan kebijakan tersebut maka sampah yang
dihasilkan rumah tangga maupun Kantor hanya bisa dikeluarkan pada malam hari mulai pukul
20.00 hingga pukul 21.00 WITA. Dan pemberlakuan aturan ini dimulai sejak tanggal 18
Agustus 2014.

Di sisi lain, penerapan denda tersebut juga diharapkan mampu menekan terjadinya
penumpukan sampah di seluruh tempat pembuangan sementara (TPS) seiring dengan
pemberlakukan kebijakan jam operasional truk(Batua, 2014).

E.

Pilihan Kebijakan
Kebijakan penanggulangan kebersihan yang dilaksanakan selama ini seperti melaksanakan

sosialisasi tentang pentingnya kebersihan dan manfaatnya terhadap kesehatan sebagai langkah
antisipatif agar timbulnya penyakit dapat dihindari serta dapat memberikan manfaat terhadap
keindahan Kota. Namun hal tersebut sepertinya belum maksimal dikarenakan masih banyaknya
sampah yang sering dijumpai disekitar kita. Hal tersebut terjadi disebabkan karena masih
kurangnya kesadaran masyarakat untuk meningkatkan pola hidup sehat.
Perilaku sebagian masyarakat yang sudah terbiasa melakukan pembiaran terhadap pola
hidup tidak bersih menjadikan mereka tidak merespon kebijakan-kebijakan terkait dengan
kebersihan atau kesehatan yang sudah ada.
Alternatif kebijakan yang kami tawarkan adalah kebijakan tentang pentingnya memelihara
kebersihan disertai dengan adanya efek jera kepada masyarakat yang biasanya tidak disiplin
untuk lebih sadar dalam penerapan pola hidup sehat.
Masyarakat yang kedapatan membuang sampah disembarang tempat akan dikenakan denda
hingga Rp. 5.000.000,-baik mereka ditemukan oleh pemerintah (Dinas terkait) ataupun
masyarakat biasa. Orang yang menemukan dan melaporkan hal tersebut kepada petugas akan
mendapatkan reward berupa uang sebesar seperdua dari total jumlah denda terlapor dan
perlindungan dari pemerintah.
Pemberlakuan kebijakan yang demikian menurut kami dapat memberikan efek jera kepada
masyarakat untuk mengubah perilaku yang sebelumnya terbiasa dengan pola hidup tidak bersih.

Sehingga ekspektasi dari pemberlakuan penambahan kebijakan tersebut dapat memicu


terciptannya tatanan Kota Makassar yang indah, rapih, sehat dan jauh dari sumber penyakit.
Tetapi dengan belum meratanya proses sosialisasi tidak rantasa kepada masyarakat di Kota
Makassar, sehingganya masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang kebijakan
tidak rantas tersebut. Selain itu kebijakan tersebut harus dibarengi dengan kebijakan-kebijakan
lainnya sebagai kebijakan pendukung yaitu :
1.

RT RW perkotaan Kota Makassar. RT RW perkotaan telah mengatur bagaimana tata letak


perkotaan, dengan adanaya lajur pertumbuhan Kota yang cukup dasyat sehingganya ruang gerak
perkotaan semakin sempit, hal ini yang dapat berdampak pada kemacetan lalu lintas, kemacetan
lalu lintas, serta berkurangnya ruang terbuka hijau untuk menangkal polutan yang ada, RT RW
yang ada kami menggap belum maksimal berjalan karena kebijakan-kebijakan pembangunan
lainnya belum dapat berjalan sebagaimana mestinya

2.

AMDAL. Amdal adalah suatu rekomdeasi izin lingkungan yang dimana suatu kegiatan yang
dapat berdampak lingkungan wajib memiliki AMDAL, fungsi AMDAL adalah untuk melindungi
dan melestarikan kelestarian dan keseimbangan ekologi, pengembangan perkotaan tidak terlepas
dari AMDAL, kesalahan pengeanlisisan AMDAL akan mempunyai dampak negative secara
langsung terhadap keseimbangan ekologi. Untuk kota Makassar ada beberapa lokasi titik
pemantauan yang kami observasi terjadi kesalahan yang dimana pembangunan kawasan TTU
yang wajib AMDAL tidak mengikuti apa yang tertera di dalam dokumen, seperti pembuangan air
limbah langsung di buang ke laut, dll.

F. Sarana pengelolaan sampah di Makassar


1. Pengangkutan sampah
Keberhasilan penanganan sampah bisa dilihat dari efektivitas dan efisiensi pengangkutan sampah
dari sumber ke TPA. Pengangkutan tidak boleh ditunda karena hal ini akan menambah beban

pengangkutan berikutnya dan beresiko menimbulkan gangguan kenyamanan lingkungan di


sekitar tempat penyimpanan. Tahap ini istimewa karena dibutuhkan banyak porsi biaya, waktu,
tenaga, koordinasi, evaluasi dan perencanaan terhadap jenis sarana, jadwal operasi, serta rute
pengangkutan merupakan hal penting dalam pengangkutan. Ada beberapa jenis sarana
pengangkutan sampah yang digunakan di Kota Makassar, yaitu:
Truck biasa. Kendaraan jenis ini masih digunakan di Kota Makassar. Pemakaiannya tidak praktis
karena proses bongkar muat sampah perlu waktu lama dan tenaga manusia lebih banyak.
Kelebihannya adalah pada kapasitas tampung yang besar (16 m3) dan harga yang relatif lebih
murah dari jenis lainnya.
Dump Truck.
Kendaraan ini merupakan modifikasi dari truck biasa, bak truck dapat digerakkan secara hidrolik
sehingga proses bongkar sampah bisa fektif, sedangkan lama operasionalisasi sama dengan truck
biasa. Bak terbuat dari baja dengan kapasitas bervariasi 8 m3, harganya relatif lebih mahal dari
truck biasa. Kapasitas operasional adalah 2-3 rit perhari. Untuk jenis kendaraan ini digunakan
pada pola operasional sistem door to door, jemput bola, transfer depo, dan juga sistem TPSS atau
container yang berfungsi sebagai TPSS.
Arm-Roll Truck.
Yaitu truck tanpa bak dengan lengan hidrolik untuk menggerakkan Dengan kendaraan ini,
operasi pengangkutan dan pembuangan sampah menjadi lebih praktis. Bentuk dan ukurannya
bervariasi menurut container. Harga kendaraan relatif lebih mahal dari dump truck. Kapasitas
operasional adalah 3-4 rit perhari, tergantung pada jarak pengangkutan. Jenis kendaraan ini
digunakan pada pola operasional sistem transfer depo dan container.
Lain-lain (mobil pick-up, motor roda 3 dan sepeda sampah).
Sarana pengangkutan lainnya yang biasa digunakan untuk pengangkutan sampah di Kota
Makassar adalah mobil jenis pick-up, motor roda 3 dan sepeda sampah, yang biasanya digunakan

secara insidental dan untuk melayani sampah pada wilayah yang sulit dijangkau kendaraan
pengangkut sampah pada umumnya.

2. Jenis pewadahan yang ada di Kota Makassar adalah sebagai berikut:


1. Tong (Bin)
Penggunaan wadah dari tong besi ataupun plastik, juga digunakan dalam pewadahan sampah di
Kota Makassar. Wadah ini masuk kategori cukup baik, terutama yang terbuat dari plastik. Hal ini
karena tong ini mempunyai kelebihan yaitu tidak mudah rusak serta kedap air, harganya
ekonomis serta mudah diperoleh. Karena biasanya tong ini menggunakan penutup, maka sampah
yang ada tidak akan menjadi media penyebaran penyakit sehingga dapat memenuhi aspek
kesehatan dan dari sisi estetika dapat memenuhi sisi keindahan lingkungan. Penggunaan tong
sampah juga memudahkan operasional pengumpulan sampah oleh petugas karena mudah
dikosongkan. Tong sampah yang terbuat dari besi juga mempunyai kekurangan yaitu mudah
berkarat yang menyebabkan kerusakan dan sulit atau bahkan tidak dapat diperbaiki. Dengan
mempertimbangkan kelebihan dan kekurangannya, wadah dari tong sampah terutama yang
terbuat dari plastik sangat dianjurkan.

2. Bak terbuka (Pasangan batu bata)


Salah satu wadah sampah yang sering digunakan oleh masyarakat di Kota Makassar adalah
menggunakan bak sampah dari pasangan batu bata, yang pada umumnya digunakan pada daerah
permukiman. Disamping sebagai wadah individual, beberapa bak sampah juga merupakan wadah
komunal sebelum sampah diangkut ke TPS atau kontainer. Penggunaan bak pasangan batu bata
sebenarnya mempunyai kelebihan karena sudah memenuhi aspek kesehatan dan keindahan
lingkungan. Hal ini karena sampah tidak mudah berserakan dan tidak menjadi sarang penyakit.
Disamping itu bak pasangan batu bata mempunyai keuntungan tidak mudah rusak dan kedap air.

Namun demikian, wadah jenis ini mempunyai kekurangan yaitu sulit dioperasionalkan serta
membutuhkan waktu yang lebih lama dalam operasional pengumpulan sampah. Selain itu,
seringkali bak sampah ini disamping untuk menampung sampah juga digunakan untuk
membakar sampah oleh masyarakat. Hal ini terjadi karena waktu pengambilan sampah oleh
petugas terlalu lama sehingga sampah menumpuk dan busuk. Dari sisi harga bak jenis ini
sebenarnya juga kurang ekonomis. Dari beberapa dan kelebihan dan kekurangan sistem ini, maka
penggunaan bak batu bata kurang dianjurkan.

3. Kantong plastik
Bagi masyarakat yang tidak mempunyai wadah/tempat sampah yang permanen biasanya
menggunakan kantong plastik sebagai wadah sampah untuk diambil langsung oleh petugas
pengumpul sampah. Penggunaan kantong plastik di Kota Makassar, biasanya digunakan pada
daerah permukiman maupun non permukiman.
Kantong plastik mempunyai keunggulan yaitu dari sisi ekonomis, karena harganya murah serta
mudah diperoleh. Disamping itu mudah dalam operasional pengumpulan/pengambilan sampah
oleh petugas. Namun dari sisi kesehatan dan keindahan, wadah ini kurang memenuhi karena
mudah terkoyak sehingga menyebabkan sampah mudah berserakan.

4. Lubang tanah/penimbunan
Selain menggunakan wadah seperti tersebut di atas, masyarakat Kota Makassar yang tidak
mempunyai wadah sampah tetapi mempunyai lahan yang cukup luas, membuat lubang di tanah
sebagai sarana pembuangan sampah. Penggunaan lubang tanah maupun penimbunan ini,
merupakan sarana pengelolaan sampah secara langsung (on site) oleh masyarakat yang tidak
mendapatkan pelayanan sampah. Biasanya lubang sampah ini juga digunakan sebagai sarana
pembakaran sampah. Penggunaan sistem ini baik apabila digunakan pada daerah yang memiliki

kepadatan kurang dari 50 jiwa per hektar. Hal ini karena daerah tersebut memiliki daya dukung
lingkungan yang masih cukup tinggi, namun apabila digunakan pada daerah yang cukup padat
dapat mencemari lingkungan.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
1.

Kesimpulan

a.

Masalah kebersihan lingkungan adalah masalah yang kompleks dan mempunyai pengaruh
pada kesehatan masyarakat sehingganya perlu adanya penanganan yang efektif

b.

Kebijakan penanggulangan kebersihan yang dilaksanakan selama ini seperti melaksanakan


sosialisasi tentang pentingnya kebersihan dan manfaatnya terhadap kesehatan sebagai langkah
antisipatif agar timbulnya penyakit dapat dihindari serta dapat memberikan manfaat terhadap
keindahan Kota. Namun hal tersebut sepertinya belum maksimal dikarenakan masih banyaknya
sampah yang sering dijumpai disekitar kita. Hal tersebut terjadi disebabkan karena masih
kurangnya kesadaran masyarakat untuk meningkatkan pola hidup sehat.

c.

Kebijakan tidak rantasa belum efektif berjalan, karena masih banyak masyarakat yang masih
membuang sampah bukan pada tempatnya

d.

Kebijakan tidak rantasa di dukung oleh kebijakan-kebijakan lainnya sebagai pendukung


kebijakan yang ada.

2.

Saran

a.

Pemerintah Kota dan SKPD nya serta Dinas terkait harus saling bersinergi dalam mewujudkan
tujuan dari kebijakan Makassar Tidak Rantasa dengan mulai mengimplementasikan kebijakan
tersebut mulai dari diri dan lingkungannya.

b.

Pemerintah Kota dan SKPD nya serta Dinas terkait harus saling bersinergi dalam
mensosialisasikan kebijakan ini dan melakukan evaluasi secara berkala.

c.

Kebijakan yang ada harus seiring dengan kebijakan-kebijakan lainnya seprti RT RW


perkotaan, serta AMDAL kawasan perkotaan.