Anda di halaman 1dari 75

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Permintaan informasi yang aktual dan cepat serta hiburan yang
menarik menyebabkan perkembangan teknologi informasi yang begitu
pesat. Televisi merupakan salah satu teknologi yang memberikan
informasi, pendidikan dan juga hiburan. Oleh karena itu Televisi pun
berkembang dengan pesat, baik dari segi teknologi maupun dari segi
bisnis.
Meskipun

perkembangan

teknologi

Televisi

tidak

secepat

perkembangan alat komunikasi yang lainnya tetapi Televisi masih


merupakan suatu media yang masih banyak digemari oleh masyarakat,
selain informasi, pengetahuan dan juga hiburan pada saat ini Televisi juga
merupakan suatu media yang sangat bagus untuk melakukan bisnis yang
menghasilkan keuntungan besar. Maka dari itu stasiun-stasiun televisi
berlomba-lomba untuk memberikan kepuasan kepada pemirsanya dengan
semakin meningkatkan teknologi yang digunakan, memperluas jangkauan
siarannya,

dan

juga

menyajikan

program-program

menarik

bagi

pemirsanya.
TRANS TV adalah salah satu stasiun penyiaran Televisi swasta di
indonesia yang bisa dibilang masih muda tetapi kualitasnya bisa dikatakan
tidak kalah dengan stasiun televisi swasta lainnya yang berdiri sudah
cukup lama. Dalam meningkatkan kualitas siaran agar dapat dinikmati
oleh masyarakat indonesia secara menyeluruh, TRANS TV mendirikan
stasiun-stasiun relay di beberapa kota di Indonesia. Stasiun-stasiun relay in
berfungsi untuk memperluas jangkauan penyiaran agar dapat dinikmati
oleh seluruh masyarakat dengan hanya menggunakan pesawat televisi
tanpa harus menggunakan peralatan tambahan yang harganya cukup
mahal. Untuk menjaga kualitas siaran televisi yang dipancarkan sinyal
yang diterima dari satelit terlebih dahulu diolah, sinyal tersebut dikoreksi
dan diperbaiki jika terjadi cacat pada sinyal. Proses ini dilakukan pada

Exiter. Pada stasiun relay TRANS TV Semarang Exiter yang digunakan


terletak bersamaan dengan penguat TRPA ( Transistor Power Amplifier )
pada sebuah transmitter NEC type PCU-1120 SSP/1.
1.2

Maksud dan Tujuan


Maksud dan Tujuan dilaksanakannya Kerja Praktek di PT. Televisi
Transformasi Indonesia (TRANS TV) stasiun relay semarang adalah:
1. Untuk mengetahui dan memahami prinsip dari sistem
pemancar televisi khususnya pada TRANS TV stasiun relay
Semarang.
2. Untuk mengetahui dan memahami proses pengolahan sinyal
audio dan video ( modulasi ) pada exiter

1.3

Batasan Masalah
Agar ruang lingkup permasalahan lebih jelas serta mempermudah
dalam analisa, maka permasalahan lebih ditekankan pada materi dasar
Modulasi Sinyal Audio Dan Video yang tidak terjadi pada stasiun relay
tetapi yang di olah di studio TransTV di Jakarta.

1.4

Metode
Metode yang digunakan dalam pengumpulan informasi untuk
penyusunan laporan ini adalah sebagai berikut:
a. Observasi
Mengadakan analisa secara langsung dilapangan sehingga
dapat mengetahui seluk beluk dan karakteristik dari peralatanperalatan yang ada di Stasiun Relay TRANS TV Semarang.
b. Wawancara
Menanyakan secara langsung hal-hal yang kurang dimengerti
kepada teman sesama peserta Kerja praktek, kepada teknisi dan
operator Stasiun Relay TRANS TV Semarang.
c. Study literature
Mencari informasi tentang spesifikasi alat. Cara kerja maupun
fungsi dar tiap-tiap bagian alat dengan membaca manual book

alat tersebut yang ada pada TRANS TV Semarang dan juga


dari referensi lain.
1.5

Sistematika Laporan
BAB I Pendahuluan
Dalam bab ini dijelaskan mengenai latar belakang dilaksanakannya
kegiatan ini, tujuan kerja praktek, batasan masalah, metode, serta
sistematika penulisan laporan.
Bab II Tinjauan Umum Perusahaan
Dalam bab ini dibahas mengenai sejarah singkat perusahaan,
struktur organisasi dan sistem siaran, sistem transmisi siaran televisi pada
TRANS TV Semarang, Sistem transmitter pada TRANS TV Semarang,
dan Spesifikasi teknis Tx.
BAB III Sistem Transmisi Siaran Televisi
Dalam bab ini di jelaskan tentang dasar sistem siaran televisi,
sistem pemancar televisi, sistem transmisi siaran televisi pada TRANS TV
Semarang, Spesisfikasi teknis Tx, Teknik televisi, dan sinyal video.
BAB IV Sistem Modulasi Sinyal Audio Dan Video
Dalam bab ini dijelaskan mengenai modulasi, dasar modulasi,
sistem modulasi pada transmitter, modulasi sinyal audio dan video, blok
penyusun exiter dimana sinyal audio dan video dimodulasi dan komposisi
RF Channel.

BAB V Penutup
Didalam bab ini berisi tentang kesimpulan yang didapat dari
seluruh isi dari penulisan Laporan Kerja Praktek yang sudah disusun. Bab
ini juga memuat saran yang disampaikan penulis.

BAB II
TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

2.1

Sejarah Singkat Trans TV


PT. Televisi Transformasi Indonesia ( Trans TV ), berkedudukan di
Jl. Kapt Tendean Kav. 12-14A, Jakarta Selatan didirikan dengan akte
pendirian perusahaan NO.3 Tanggal 23 Desember 1998 Notaris Nelly
Elsye Tahatama, SH. Dan surat pengesahan Menteri Hukum dan
Perundang-undangan Republik Indonesia No.C.9424.01.01. tahun 2000
tanggal 27 April 2000.
Trans TV dididirikan oleh PT Para Inti Investindo dengan direktur
Chairul Tanjung yang berkedudukan di Jakarta. Trans TV merupakan
lembaga penyiaran televisi swasta dengan jangkauan siaran nasional dan

sifat siaran terbuka untuk umum. Pada awal pendiriannya Trans TV


memproleh izin penggunaan dari Menpen saluran kanal 29 UHF untuk
wilayah Jabotabek, dimana penetapan saluran ini hanya bersifat sementara,
kepastian saluran yang dapat digunakan setelah dilakukan survey
lapangan.
Maksud dan tujuan Trans TV adalah berusaha dalam bidang jasa
penyiaran televisi swasta. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut,
maka dilakukan kegiatan usaha sebagai berikut :
1. Menyelenggarakan siaran televisi
2. Usaha lainnya, sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku
dibidang penyiaran.
Untuk menyelenggarakan siaran televisi, maka Trans TV
melakukan pembangunan sarana dan prasarana studio penyiaran dan
stasiun pemancar di Jakarta, dan beberapa daerah anatara lain : Medan,
Bandung, Yogyakarta, Semarang dan Surabaya. Pada bulan Januari 2003
dibangun pemancar stasiun relay di 13 kota di Indonesia. Dengan standar
peralatan siaran televisi PAL B/G sesuai rekomendasi International
Telecomunication Union (ITU) dan sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh
Dirjen Postel dan akan diuji sebelum peralatan beroperasi.
Perkembangan ataupun perubahan yang setiap hari terjadi di
bidang sosial, politik, ekonomi, dan teknologi di Indonesia maupun di
seluruh dunia menjadi tuntutan masyarakat bagi Trans TV untuk dapat
menghadirkan hal-hal baru dalam setiap acaranya, dan juga dunia hiburan
yang semakin menjadi kebutuhan seluruh lapisan masyarakat, maka dari

itu Trans TV berupaya memenuhi tuntutan tersebut dengan berbagai acara


hiburan terbaik sehingga Trans TV mampu menjadi yang terdepan dalam
kancah pertelevisian di Indonesia maupun ASEAN dengan visi akan selalu
memberikan hasil usaha yang positif bagi stakeholders dengan
menyampaikan

program-program

berkualitas

serta

berperilaku

berdasarkan nilai-nilai moral dan budaya kerja yang dapat diterima oleh
stakeholders
Hal ini adalah tugas dari Trans TV untuk dapat meningkatkan
professionalisme dan standart pemrograman yang tinggi didalam
kinerjanya sebagai konsekwensi untuk tercapainya misi sebagai gagasan
dan aspirasi masyarakat untuk mensejahterakan dan mencerdaskan bangsa,
memperkuat persatuan dan menumbuhkan nilai nilai demokrasi yang

sehat melalui penyampaian program-program berkualitas dan yang


mempunyai nilai-nilai moral yang dapat diterima oleh masyarakat dan
mitra kerja.

2.1. Logo TransTV

TRANS TV bersama TRANS7 dan Detikcom di bawah payung


TRANSMEDIA, diharapkan dapat menjadi televisi terdepan di Indonesia,
dengan program-program in-house productions yang bersifat informatif,
kreatif, dan inovatif,

TRANSTV sebagai media terdepan di Indonesia yang selalu konsisten


menghadirkan

karya

penuh

inovasi

dan

menjadi trendsetter untuk

Indonesia lebih baik telah memiliki identitas baru.


Minggu, 15 Desember 2013 TRANSMEDIA me-launching logo baru
bersamaan dengan ulang tahun TRANSMEDIA yang ke-12. Logo dengan
simbol 'Diamond A' ditengah kata TRANS TV merefleksikan kekuatan
dan semangat baru yang memberikan inspirasi bagi semua orang
didalamnya untuk menghasilkan karya yang gemilang, diversifikasi konten
atau keunikan tersendiri serta kepemimpinan yang kuat.
Masing-masing warna dalam logo ini memiliki makna dan filosofi.
Warna kuning sebagai cerminan warna keemasan pasir pantai yang
berbinar dan hasil alam nusantara sekaligus melambangkan optimisme
masyarakat Indonesia. Sedangkan rangkaian warna hijau menggambarkan
kekayaan alam Indonesia yang hijau dan subur, serta memiliki
ketangguhan

sejarah

bangsa.

Warna biru melambangkan

luasnya

cakrawala dan laut biru sekaligus menggambarkan kekuatan generasi


muda bangsa Indonesia yang handal dan memiliki harapan tinggi. Yang
terakhir adalah rangkaian warna ungu, menggambarkan keagungan dan
kecantikan budaya dan seni bangsa Indonesia yang selalu dipuja dan
dihargai sepanjang masa. Semua rangkaian warna yang mengandung
makna cerita didalamnya, menyatu dengan serasi dan membentuk simbol
yang utuh, kuat dan bercahaya didalam berlian berbentuk A ini. Sehingga
bisa dipahami makna dari logo baru TRANSMEDIA ini menjadi tanda
yang menyuarakan sebuah semangat dan perjuangan untuk mencapai

keunggulan yang tiada banding mulai dari sekarang hingga masa


mendatang.

VISI:
Menjadi televisi terbaik di Indonesia maupun ASEAN, memberikan hasil
usaha yang positif bagi stakeholders, menyampaikan program-program
berkualitas, berperilaku berdasarkan nilai-nilai moral budaya kerja yang
dapat diterima oleh stakeholders serta mitra kerja, dan memberikan
kontribusi

dalam

meningkatkan

kesejahteraan

serta

kecerdasan

masyarakat.

MISI:
Wadah gagasan dan aspirasi masyarakat untuk mencerdaskan serta
mensejahterakan bangsa, memperkuat persatuan dan menumbuhkan nilainilai demokrasi.
2.2 Struktur Organisasi
Stasiun relay di Semarang adalah merupakan bagian dari
Trasmission Department yang dipimpin seorang Penaggung Jawab Teknik
Stasiun (PJTS) dan membawahi 6 orang staf teknik, 3 orang satpam dan
seorang Office Boy.
Jajaran direksi di PT. Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV)
per 1 Januari 2015 adalah:
a. Komisaris Utama

Chairul Tanjung

b. Komisaris

Chairul Tanjung
Drs. Ishadi SK, Msc.

c. Direktur Utama

Atiek Nur Wahyuni

d.Direktur Operasional

Warnedy

e. Direktur Pemberitaan

Gatot Triyanto

f. Direktur Finansial

Hannibal K. Pertama

Struktur organisasi di Stasiun Relay Trans TV Semarang adalah


sebagai berikut :

KEPALA STASIUN
TRANSMISI
JUMRIANTO
OPERATOR
1.GALUH PINTOKO
2.RIYANTO
3.MISBAKHUD Z
4.ARIF

SECURITY
1. SUPRIYADI
2.TJONDRO
3. PRIMA

OFFICE BOY
1. PARYONO

2.2 Struktur organisasi PJTS

2.3

Sistem Siaran
Dalam melaksanakan operasi penyiarannya Trans TV yang
merupakan stasiun televisi yang menggunakan sistem digital dalam proses
typing serta menggunakan server dalam pengoperasiannya sampai saat ini

10

mempunyai 5 stasiun pemancar relay dan sedang dibangun lagi 13 stasiun


pemancar relay didukung oleh satelit digital Telkom .

Hampir semua pengolahan video dan audio dilaksanakan di studio


di Jakarta. Sedangkan stasiun daerah menerima video dan audio dari satelit
yang kemudian dipancarkan kembali melalui saluran kanal UHF.
Pengiriman data juga dilakukan dari satelit yang akan disimpan di server
masing-masing daerah yang pengembangannya digunakan untuk local
content atau local break. Sedangkan fasilitas yang ada pada transmisi relay
semarang antara lain:

2.4

Transmiter 20Kw NEC

ReceiverDecorder (Barco Stellar IRD MKII)

PIE ( Program Input Equipment )

728 NICAM Encoder

Comtech Data Streaming

Dummy Load.

Antena dengan menara dalam ketinggian 125m.

SOP Teknis Sistem Transmisi

Panduan pengoperasian transmitter secara keseluruhan adalah sebagai berikut :


a. 1 jam sebelum warm start transmitter dilakukan pengecekan :
Visual inspection terhadap pengecekan oli mesin, bahanbakar, air radiator, fan
belt, air accu dan koneksinya.
Memeriksa tegangan input PLN

11

Menyalakan AC dan set hingga suhu ruang antara 22- 25 0 C


Pemeriksaan kondisi fisik kabel, baik kabel power,

kabel video dan audio,

kondisi konektor dan kondisi grounding.


Pemeriksaan tegangan listrik ( R S T ) pada

LVMDP / AVR. Pemeriksaan

pendinginan ruangan, pastikan temperatur dan kelembaban udara dalam kondisi


yang diinginkan.
Pemeriksaan pada circuit breaker pemancar, PIMPIE

peralatan

penunjang

Pastikan semua dalam kondisi ON.


Pemeriksaan signal pada receiver (EbNo dan BER) dan level video dan audio
input pemancar pada PIE/PIM. Standar level video adalah 0.7 V dan 0.3 V untuk
sync. Sedangkan audio adalah 0 dBm.
b. Warm start dilakukan 30 menit sebelum sign on.
c. Sign On dilakukan 30 menit sebelum jadwal siaran yang

oleh divisi

programing.
d. Setelah sign on, harus dilakukan :
Pemeriksaan kondisi pemancar pada front display :

Indikator hijau untuk interlock menyala

Indikator hijau untuk air menyala

Indikator merah untuk TX ON menyala ,Indikator merah untuk


Exciter A atau B (salah satu) menyala

Indikator merah untuk Blower A atau B (salah satu) menyala


Indikator berkedip berkedip sebagai tanda bahwa pemancar dalam
kondisi auto jika ada error pada exciter atau blower yang lain

12

Pemeriksaan kondisi TR PA dengan melihat lampu indikator TR PA warna hijau


Perhatikan suara dan vibrasi dari pemancar ke blower Pemeriksaan kualitas video
dan audio keluaran pemancar pada PIM/PIE
e. Metering dimulai pada saat sign on

(color-bar). Untuk

selanjutnya

dilakukan sesuai dengan form Transmitter Metering yang berlaku.


f. Melakukan sign off setelah jadwal acara habis (pada saat color bar).
g. Pada NEC terdapat 2 exciter (A dan B). Penggantian exciter dilakukan 1
bulan sekali mengikuti jadwal yang

telah ditetapkan

Sub. Dep.

Maintenance
h. Penggantian Blower A dan B juga dilakukan 1 bulan sekali

mengikuti

ditetapkan Sub Dep Maintenance


i. Bila terjadi gangguan pada peralatan pemancar maka

operator harus

segera melaporkan pada KST dan atau sesuai dengan kebijakan Standar
Prosedur Operasional Departemen Transmisi.
j. Bila terdapat program bilingual (sesuai dengan MEMO BILINGUAL),
operator wajib melakukan perubahan mode pada peralatan nicam-encoder,
dan mengembalikannya jika program bilingual berakhir.

Menghidupkan Transmitter

a. Pastikan main breaker AVR pada posisi ON.


b. ON-kan breaker AC mains, control, Exciter A dan B, blower A dan B.
c. Pilih exciter dan blower yang akan digunakan dengan

menekan

tombol control dan EX-A secara bersamaan untuk memilih exciter A

13

kemudian tekan control dan

blower-A secara bersamaan untuk

memilih blower A.
d. ON-kan TX dengan menekan tombol control dan TX ON

secara

bersamaan

Gambar 2.4.1 Tombol Panel Kontrol


e. Tekan tombol monitor untuk mengetahui visual output power, visual
reflected power, audio output power, audio reflected power, absorbing
power, apakah sesuai dengan yang ditentukan

Gambar 2.4.2 Tombol Untuk Metering dan Pengecekan Parameter

14

f. Tekan tombol TR PA untuk mengetahui daya output, daya terpantul,


temperatur, tegangan drain, arus drain Drive PA (DPA) dan arus final
PA (FPA), dari tiap TR PA.
g. Tekan tombol EX untuk mengetahui daya output, deviasi

pada

modulator pada tiap-tiap exciter.


h. Periksa daya keluaran TX (upper dan lower) pada RF switching unit.
i. Pemancar telah bekerja dengan normal.

Mematikan transmitter

a. Tekan tombol Control dan TX OFF secara bersamaan.


b. Tunggu beberapa saat hingga blower berhenti.
c. Switch Off breaker blower A dan B, excitter A dan BAC
d. Memaatikan beberapa AC pada ruangan transmitter untuk
menghindari kondensasi. Dan set AC sehingga suhu ruangan tidak
lebih kecil dari 22 C

Gambar 2.4.3 Mematikan Tx

Change Over Unit Exciter dan Blower

15

a. Tekan tombol control dan exciter yang digunakan untuk memilih exciter
yang akan digunakan. Contoh untuk

menggunakan Exciter A, tekan

tombol control san exciter A secara bersamaan.


b. Untuk memilih blower A atau B, tekan control dan tombol Blower A atau
blower B secara bersamaan.
c. Change over exciter dan blower sebaiknya dilakukan saat transmiter OFF
(sebelum sign ON).

Mode bilingual

Pengubahan mode bilingual dilakukan pada peralatan NICAM ENCODER yang


aktif (sesuai dengan Exiter yang digunakan)
a. Mengubah saklar mode nicam (sesuai dengan NICAM
terdapat dibawah CONTROL UNIT,

yang aktif) yang

sehingga LED Dual Mono pada

NICAM ENCODER menyala hijau.


b. Untuk kembali ke mode stereo. Mengubah saklar (yang diubah ke dual mono
sebelumnya) ke mode Nicam sehingga LED stereo pada NICAM ENCODER
menyala hijau.

Metering Power Transmitter

Pengukuran

dilakukan

metering yang telah ditetapkan Sub. Dept.

Maintenance. Untuk pengukuran power transmitter, dapat dilihat pada monitor


LCD display dengan menekan tombol monitor.

16

Metering DEHYDRATOR

Peralatan dehidrator terpisah dengan transmitter dan berada di ruangan


transmitter. Pengukuran pada peralatan dehydrator dengan cara membaca alat
ukur outlet pressue yang terdapat pada posisi depan Dehydrator. B. Pembacaan
outlet pressue pada skala Psi.

Gambar 2.4.4 Dehydrator

Metering tekanan waveguide

Tekanan pada waveguide dilihat pada display psi meter output dehydrator pada
masing masing waveguide, yaitu Upper dan Lower.

Gambar 2.4.5 Psi Meter Tekanan Wave Guide

17

Switch Frame

Pada stasiun pemancar menggunakan pemancar NEC . Terdapat 2 jenis switch


Frame. Yaitu 3 Port U link dan 6 Port U link. Port U link berfungsi untuk memilih
penyaluran output pemancar ke antena dan Dummy Load.
a. Pada

saat

transmitter

digunakan

memancarkan

sinyalnya

menghubungkan pemancar dengan antena.


b. Untuk mengubah posisi jumper ke dummy load, pastikan terlebih dahulu
transmitter mati kemudian tukar tuas LOCK pada jumper ke kiri, lalu
tarik jumper sampai terlepas dari

konektornya.

Pindahkan pemancar

terhubung dengan dummy load.

c. Untuk mengembalikan ke Antena maka lepaskan jumper dengan cara


yang sama. Sedangkan 6 port U Link berfungsi untuk distributor power
RF ke Upper Half Antena dan lower Half Antena.

18

Gambar 2.4.6 Switch Frame 3 Port U Link ( SEbeleh Kiri ) dan 6 port U Link
( sebelah Kanan )

Dummy load

Dasarnya merupakan komponen komponen

pasif sehingga memerlukan

peralatan khusus dalam penggunaanya. Di ruang pemancar dummy sudah dalam


terpasang sehingga untuk menggunakannya cukup memindahkan switch frame
(telah dijelaskan diatas) ke sisi dummy load perhatikan indikator air pendingin
pastikan level air dalam keadaan aman, kemudian hidupkan blowernya. Swich
power fan blower terdapat pada sisi samping dibawah konektor.

Gambar 2.4.7 Dummy Load

BAB III

SISTEM TRANSMISI SIARAN TELEVISI

3.1 Dasar Sistem Siaran televisi

Pengiriman sinyal audio dan video adalah merupakan dasar dari siaran
televisi. Proses siaran diawalai dengan pengambilan gambar dengan menggunakan
kamera, Video Tape Recorder (VTR), Telecine, dan juga Slide Scaner dan

19

pengambilan suara dengan menggunakan mikrofon, yang kemudian sinyal gambar


dan sinyal suara tersebut diolah di studio yang selanjutnya dipancarkan melalui
stasiun pemancar. Di stasiun pemancar sinyal audio dan video tersebut dimodulasi
untuk dapat dipancarkan.
Sinyal video dimodulasikan dengan frekuensi pembawa dengan modulasi
amplitudo negatif

(AM-) dengan lebar frekuensi 0 5 MHz sesuai dengan

ketentuan pembagian frekuensi yang telah disepakati. Sedangkan untuk sinyal


suara dimodulasikan dengan frekuensi pembawa

menggunakan modulasi

frekuensi (FM) dengan lebar frekuensi 20Hz 20 KHz. Kemudian dilakukan


proses mixing dari sinyal video dan audio tersebut dilanjutkan dengan
menguatkan sinyal hasil mixing tersebut untuk kemudian dipancarkan.
Pada stasiun pemancar dilakuakan dua jenis transmisi siaran televisi yaitu
dengan menggunakan antena pemancar, pada transmisi ini digunakan gelombang
RF yang dapat diterima oleh rumah rumah dengan hanya menggunakan antena
biasa tanpa memerlukan peralatan khusus, tetapi daya jangkau dari transmisi ini
sangat sempit dan juga sangat bergantung pada topografi disekitar antena
pemancar. Transmisi yang lain adalah menggunakan satelit dengan gelombang
microwave tujuannya agar sinyal dapat menjangkau tempat tempat yang
letaknya sangat jauh dari stasiun pemancar tetapi untuk dapat menerima siaran
dengan transmisi satelit ini diperlukan peralatan khusus yang lebih rumit, mulai
dari antena parabola, dan juga pesawat penerima (receiver) khusus yang
dilengkapi dengan dekoder.
Maka dari itu dibuatlah stasiun transmisi (relay) yang berfungsi
mendekode sinyal transmisi dari satelit dan memancarkannya kembali sehingga

20

tidak diperlukan lagi peralatan peralatan khusus untuk untuk dapat menerima
siaran televisi. Maka jangkauan transmisi akan semakin luas dan juga dapat
diterima oleh konsumen tanpa harus menggunakan receiver khusus.
Dalam jarak tertentu antena penerima televisi dapat menerima sinyal yang
ditransmisikan oleh antena pemancar, kemudian pesawat penerima televisi
menguatkan sinyal tersebut dan memprosesnya lebih lanjut (demodulasi) untuk
kemudian sinyal audio dan sinyal video dipisahkan. Sinyal video yang telah di
demodulasi akan diteruskan ke tabung katoda untuk direproduksi sedapat
mungkin sesuai dengan gambar aslinya, sedangkan sinyal audio yang telah di
demodulasi diteruskan ke loudspeaker untuk menghasilkan kembali informasi
suara yang sedapat mungkin sesuai dengan informasi suara aslinya yang
berhubungan dengan gambar tersebut.

3.2 Sistem Siaran Televisi Pada Trans TV Semarang


TRANS TV merupakan stasiun televisi yang menggunakan sistem digital
dalam proses typing serta menggunakan server dalam pengoperasiannya.
Pada TRANS TV stasiun transmisi Semarang dilengkapi peralatanperalatan yang mendukung transmisi siaran di daerah Semarang dan sekitarnya.
Peralatan-peralatan yang digunakan pada stasiun TRANS TV Semarang antara
lain adalah:

Receiver Decoder (Barco Stellar IRD MKII)

21

728 NICAM Encoder

PIE (Program Input Equipment)

Comtech Data Streaming

Transmitter 20 KW NEC type PCU - 1120SSP/1

Dummy Load

Antena

Generator Set

Pengolahan video dan audio hampir keseluruhannya diolah di studio di


Jakarta, sedangkan stasiun-stasiun di daerah menerima sinyal audio dan video
yang dipancarkan oleh stasiun pusat melalui satelit untuk kemudian dipancarkan
kembali dalam bentuk gelombang UHF. Pengiriman data juga dilakukan dari
satelit yang akan disimpan di server masing-masing stasiun daerah yang
pengembangannya digunakan untuk local content atau local break.
Pada stasiun televisi TRANS TV, pentransmisian sinyal melalui satelit
menggunakan satelit TELKOM I, pada stasiun TRANS TV Semarang sinyal
transmisi dari satelit diterima dengan menggunakan receiver dengan spesifikasi
sebagai berikut :
a. Frekuensi

: 4084 Mhz

b. Polarisasi

: Horizontal

c. Symbol Rate

: 60.000 hsym/s

d. FEC code rate

e. LNB freq

: 05150

22

Gambar 3.1 Skema Transmisi pada stasiun ralay TRANS TV Semarang

23

Sinyal dari studio pusat dikirimkan ke satelit (uplink) dengan sinyal carrier
kurang lebih 6 Ghz, dari satelit sinyal tersebut dikirimkan ke stasiun relay di
bumi (downlink) dengan sinyal carrier 4 Ghz. Sinyal diterima oleh receiver yang
kemudian diteruskan ke PIE rack, dimana sinyal video, audio 1, dan audio 2 akan
diolah dan dimonitoring. PIE rack terdiri dari

VDA (Video Distribution Amplifier) , dan ADA (Audio Distribution


Amplifier)
Pada bagian ini baik sinyal audio maupun sinyal video didistribusikan ke
bagian-bagian yang lain dengan nilai yang sama dengan masukannya.

Server
Bagian server berfungsi sebagai masukan siaran lokal.

Patch Panel
Pada bagian patch panel terdapat beberapa terminal-terminal jumper yang
berfungsi untuk error tester pada PIE rack.

Test Generator
Generator sinyal audio dan video yang berguna sebagai pembangkit sinyal
pengujian. Sinyal video yang diterima oleh receiver dapat dilihat pada
WFM/VSCOPE, yang pada dasarnya adalah sebuah osiloscope. Pada
bagian monitor dapat dilihat tampilan sinyal audio yang diterima oleh
receiver.

NICAM
Pengolahan sinyal pada NICAM dapat mendukung sebuah mode suara dwi
bahasa (Bilingual)

24

Setelah dari PIE rack sinyal dikirimkan ke Transmitter untuk kemudian sinyal
audio dan video tersebut diolah kembali pada bagian exciter dan hasilnya dalam
bentuk gelombang RF dan selanjutnya dikuatkan pada bagian TRPA (Transistor
Power Amplifier) dan digabungkan kemudian dipancarkan melalui antena
pemancar.
Pemancar NEC PCU-1120SSP/1
Secara garis besar, pemancar NEC PCU-1120SSP/1 dibagi menjadi dua bagian,
yaitu Exciter dan Penguat Daya. Exciter untuk memperbaiki kualitas sinyal audio
dan video, memodulasi frekuensi pada tingakat IF, dan memixer sampai pada
frekuensi channel yang diinginkan. Pada penguat daya atau TRPA unit frekuensi
channel diperkuat sampai pada daya yang diinginkan. Kemudian sinyal tersebut
dipancarkan dengan antenna.
Exciter
Pada pemancar NEC PCU-1120SSP/1 mempunyai dua blok Exciter yaitu Exciter
A dan Exciter B yang dioperasikan secara bergantian. Di dalamnya terdapat
bagian HPB-3090 UHF TV Exciter Chassis yang tersusun atas beberapa blok
bagian:

HPB-3101 Aural Modulator

HPB-3112B IM Corrector

HPB-3102 AD/DA Unit

HPB-3103C DVC Unit

HPB-3104 Visual Modulator

HPB-3105B IF Corrector

25

HPB-3107 UHF Mixer Unit

HPB-3108B Synthesizer Unit

HPB-3109 Power Supply

3.2.1 Prinsip kerja dari pemancar:


Sinyal video masuk ke A/D Converter diubah dari analog ke digital, kemudian
masuk Digital Video Compensator untuk diperbaiki, kemudian sinyal digital
dikembalikan menjadi analog pada D/A Converter. Visual Modulator memodulasi
sinyal pada tingkat IF 38,9 MHz secara AM ( - ). IF Corrector untuk mengoreksi
dan memperbaiki kesalahan pada TRPA. Visual Mixer memodulasi sinyal IF
menjadi sinyal RF pada frekuensi channel, kemudian masuk ke TRPA.
Sinyal audio dimodulasi secara FM pada Aural Modulator, lalu diperbaiki pada
IM Corrector. Kemudian menuju Aural Mixer dan diteruskan ke TRPA. Sinyal
audio dan video RF dipancarkan bersama-sama pada antenna.

26

3.2.2

Operasi Dasar Transmiter pada Trans TV Semarang

Gambar 3.2 Diagram Sistem transmitter yang digunakan oleh Trans TV

LPF & GD. Equalizer

a.

LPF 5 MHz berfungsi melewatkan frekuensi rendah s.d 5 MHz dan


meredam frekuensi yang lain.

b.

GD.EQ Berfungsi memperbaiki cacat group delay yang terjadi


karena LPF.
Cacat group delay adalah cacat yang diakibatkan karena perbedaan

kelambatan dari suatu frekuensi terhadap frekuensi yang lain dalam satu
band frekuensi yang ditransmisikan bersama-sama.Pengaruh group delay
pada TV monitor adalah warnanya bergeser dari rangkanya.Timbulnya
group delay akibat karena adanya pembatasan band frekuensi.

27

Gambar 3.3 Hubungan Antara GD Equalizer dan GD Distortion

Color Equalizer
a. Transmitter GD.EQ adalah rangkaian yang berfungsi memperbaii cacat
yang terjadi di pemancar TV yaitu pada : Modulator, Mixer, BPF, PA,
CIND.
b. Receiver

GD.Precorrector

adalah

rangkaian

yang

berfungsi

memperbaiki cacat group delay yang akan terjadi di TV receiver yaitu


pada Sound Trap.

Video Corrector
a. Rangkaian white clipper : rangkaian yang berfungsi memotong level
video sinyal pada sisi putih sesuai dengan standar agar residual carrier
dapat dipertahankan pada 10%-12,5%. Pemotongan pada level tertentu
diatur secara manual dengan potensio.
b. Rangkaian Video Level : untuk mengatur level video pada level 75 %.
c. Rangkaian sync level : untuk mengatur level sync pada level 25 %.
d. Back porch clamper : untuk memegang level back porch pada level
tertentu. Tujuan back porh clamper adalah

28

Agar titik kerja pada amplifier tidak berubah-ubah.

Untuk menghilangkan hum (noise / dengung)


e. Clamper Sync Tip : memegang sync tip agar selalu berada pada level
tertentu. Tujuan Sync Tip Clamper adalah agar peak power stabil.

Video IF Modulator
Memodulasikan signal video composite pada IF 38,9 MHz secara AM
negative modulation. VIDEO IF OSC digunakan untuk membangkitkan
frekuensi video IF sebesar 38,9 MHz.

Vestigial SBF & GD.Equalizer


VSBF

: Memfilter double side band menjadi VSB.

GD EQ : Memperbaiki/mengkompensasi cacat group delay yang terjadi


karena VSBF.

Linear Corrector
a. Diff. phase corrector : untuk memperbaiki cacat differensial phase.
Diff phase adalah perbedaan phase dari color sub carrier 4,43
MHz karena perbedaan luminan level ( Brightness ).
Pengaruh diff phase pada monitor adalah perubahan corak warna
karena perbedaan luminan level.
Yang menyebabkan cacat diff gain dan diff phase adalah karena
ketidak lineran transfer elemen.
b. Diff. gain corrector : untuk memperbaiki cacat diff.gain
c. Fungsi color Burst : untuk sinkronisasi warna yaitu phasenya untuk
menentukan corak warna ( HUE ) gainnya untuk menentukan
saturation.

29

d. Fungsi Color Sub Carrier adalah sebagai pembawa informasi warna.

Vision Mixer
Mencampur frekwensi RF Oscilator dengan video IF yang telah termodulir
oleh sinyal video secara AM modulasi negatif.
BPF

Melewatkan satu band frekwensi channel yang diinginkan dan


mengattenuasi frekuensi-frekuensi lain.

TR.PA
Penguat daya menggunakan transistor.

Circulator

Sebagai pengaman agar, jika terjadi refleksi dari PA tidak kembali ke


TR.PA.

PA
Penguat daya yang menggunakan tabung electron.

Audio Limiter
Membatasi level signal audio input. Lebar band = 2( fm+df )
Perlu adanya audio limiter agar lebar band dari pemancar audio dapat
dibatasi karena amplitudo dari signal audio mempengaruhi lebar band.
Besar kecilnya perubahan frequecy carrier ditentukan oleh amplitudo
signal audio. Kecepatan perubahan frekuensi carrier ditentukan oleh
frekuensi audio.

Pre Emphasis
Untuk menaikkan level frekuensi tinggi.

30

Tujuan dipasang pre-emph pada TX FM dan De Emph pada receiver FM


adalah untuk membuat agar S/N signal audio pada setiap frekuensi sama.

Audio IF Modulator
Memodulasikan sinyal audio pada frekuensi IF 33,4 MHz secara FM.

Aural Mixer
Mencampur frekuensi RF oscillator dengan audio IF 33,4 +(-) F.

CIND ( Constant Impedance Notch Diplexer )


Menggabungkan video carrier yang telah termodulir oleh sinyal video
secara AM - VSB dengan audio carrier termodulir oleh sinyal audio secara
FM.

Antenna
Memancarkan signal audio dan video yang telah dimodulasi.
3.2.3 Prinsip Kerja Operasi Modulasi
Sinyal video dengan frekuensi 7 MHz dipotong menjadi 5 MHz
sesuai standart sinyal video dan dikoreksi oleh Video Corrector. Warna
dikoreksi oleh Color Equalizer, lalu masuk ke Video IF Modulator
menghasilkan DSB ( Double Side Band ) dengan frekuensi 38,9 MHz.
Sinyal DSB masuk ke VSBF untuk diubah menjadi VSB ( Vestigial Side
Band ). Linn Corrector memperbaiki VSB sebelum masuk Mixer. Pada
Mixer sinyal video IF 38,9 MHz dicampur dengan carrier Fvc 535,25
MHz, lalu masuk ke BPF untuk mengatenuasi sesuai kebutuhan, lalu
menuju penguat.
Sinyal input audio masuk ke Audio Limitter dan Pre Emphasis.
Kemudian masuk Audio IF Modulator menghasilkan IF 33,4 MHz. Pada

31

Mixer, sinyal IF 33,4 MHz dicampur dengan carrier Fac 540,75 MHz, dan
menghasilkan sinyal RF lalu dikuatkan.
Sinyal RF Video dan Audio digabungkan di Diplexer dan
dipancarkan melalui antenna.
3.2.4

Spesifikasi Teknis TX (Transmitter)

SPESIFIKASI

KETERANGAN
Video : 1 Vp p

Input Level
Audio : 0 atau +6 dBm
Video : 75
Input Impedansi
Audio : 600
Itermediate Frekuensi Video : 38,9 MHz
(IF)

Audio : 33,4 MHz


Video : AM ( - )

Sistem Modulasi
Audio : FM
Video : 50
Audio : 50
Output Power

Derajat Modulasi
(Modulasi Dept)

Bandwidth : 7 MHz
Vision

: 535,25 Mhz

Sound

: 540,75 MHz

Itercarrier
Video

: 5,5 MHz
: RC 10%

BL

: 75 %

Luminance : 65 %
Synch

: 25 %

Audio : F 50 KHz pada input 1KHz/0 dBm atau +6 dBm

32

Tabel 3.1 Spesifikasi TX (Transmitter)

BAB IV
MODULASI SINYAL AUDIO DAN VIDEO

4.1 Dasar Modulasi


Semua proses modulasi video dan audio dilaksanakan di studio di Jakarta.
Sedangkan stasiun relay hanya menerima video dan audio dari satelit yang
kemudian dipancarkan kembali, di sini penulis membatasi pembahasan pada
materi dasar Modulasi Sinyal Audio dan Video.

33

Modulasi adalah proses penumpangan sinyal informasi yang berfrekuensi


rendah ke sinyal yang frekuensi tinggi. Sinyal frekuensi yang lebih tinggi disebut
carrier atau pembawa. Kebutuhan akan modulasi pertama timbul sehubungan
dengan adanya transmisi radio dari sinyal informasi frekuensi yang relatif rendah.
Dengan panjang gelombang yang relatif pendek pada gelombang pembawa
frekuensi tinggi (carrier) akan memungkinkan penggunaan antena yang efisien
sehingga menghasilkan transmisi efisien pula, untuk pelaksanaan modulasi sinyal
modulasi frekuensi pembawa harus lebih besar daripada frekuensi tertinggi dalam
sinyal modulasi.
Pada prakteknya, carrier selalu berupa sinusoidal yang dapat dijelaskan dengan
persamaan berikut.

ec (t) E c max sin( 2fct c )


(4.1)

Parameter-parameter yang dapat dimodulasi adalah amplitudo Ec

max

c
phasa

, dan frekuensi fc .
Modulasi digunakan dengan tujuan:

Mentransmisi beberapa sinyal informasi dalam waktu yang bersamaan dengan


menggabungkan beberapa sinyal yang berbeda menjadi sebuah baseband
waveform dengan teknik multiplexing.
Modulasi memberikan suatu media untuk menentukan frekuensi band dan
sebagai acuan untuk penterjemahan sinyal informasi yang ditransmisikan.

34

Efisiensi antenna.
Modulasi memungkinkan untuk dapat dilakukan pengontrolan bandwidth baik
memperlabar maupun memperkecil sesuai dengan yang dibutuhkan.
Gangguan yang terjadi pada modulasi disebabkan oleh:
1. Adanya gangguan luar.
2. Penyetelan alat yang berlangsung hingga berjam-jam.
Akibat dari gangguan modulasi tersebut:
1. Cacat atau distorsi pada gambar.
2. Gangguan pewarnaan.
3. Terjadi clips ( pemotongan pada bagian putih saja ).
Asas penumpangan frekuensi dalam modulasi ada tiga, yaitu:
1. Asas Interferensi, adalah penumpangan dua frekuensi yang sama.
2. Asas Superposisi, adalah penumpangan dua frekuensi yang
berbeda, yang hasilnya berfrekuensi sama dengan salah satu
frekuensi tersebut.
3. Asas Konversi, adalah penumpangan dua frekuensi yang jauh
berbeda pada komponen alat non-linear. Hasilnya selain frekuensi
yang sama juga ada frekuensi baru.
.

4.2 .Sistem Modulasi Pada Transmitter


Pada dasarnya sistem modulasi pada transmitter dibagi menjadi 3, yaitu :

High Level Modulation

35

Pada jenis ini sistem modulasi terjadi pada tingkat akhir yaitu
antara fc termodulasi sinyal video dan fc termodulasi sinyal audio dan
combinned di diplexer.

Gambar 4.1 High Level Modulation

IF Modulation Split Carrier


Pada jenis ini sistem modulasi terjadi pada tingkat IF, dan IF video dan IF
audio diperkuat secara terpisah dan kemudian digabungkan di diplexer.

36

Gambar 4.2 IF Modulation Split Carrier

IF Modulation Combined Carrier


Pada jenis ini sistem modulasi terjadi pada tingkat IF, dan hasil dari
penggabungan video IF dan audio IF diteruskan ke mixer untuk mendapatkan
frekuensi kanal. Lalu diperkuat secara bersama dalam satu amplifier untuk
ditransmisikan.

Gambar 4.3 IF Modulation Combined Carrier

4.3 Modulasi Sinyal Audio Dan Video


Proses modulasi pada pemancar terjadi dua kali yaitu modulasi pada
tingkat IF baik sinyal audio maupun audio akan dimodulasi. Untuk sinyal video di
modulasi menggunakan modulasi AM (-) dengan frekuensi 38,9 MHz, sedangkan
sinyal audio di modulasi menggunakan modulasi FM dengan frekuensi 33,4 MHz.
Sedangkan proses modulasi yang berikutnya terjadi pada tingkat RF dimana

37

sinyal audio dalam bentuk sinyal FM dan sinyal video dalam bentuk AM tersebut
digabungkan dan dimodulasi sesuai dengan frekuensi chanel yang diinginkan.

4.3.1

Modulasi Video
Sistem modulasi pada sinyal video menggunakan modulasi amplitudo.

Berbeda dengan sistem modulasi pada sinyal suara, untuk siaran televisi modulasi
amplitudo pada sinyal video menggunakan sistem modulasi amplitudo ( - )
negative.

Gambar 4.4 Modulasi Amplitudo ( - ) pada sinyal video

Gambar 4.5 Modulasi Amplitudo (+) pada sinyal video

Modulasi video secara umum digunakan Modulasi amplitudo negatif


(AM-) daripada Modulasi Amplitudo Positif (AM +) karena :
1. Pada AM ( - ) level tertinggi dari sinyal termodulasi adalah level sync,
sehingga level tertingginya konstant dan dayanya pun bisa
dipertahankan konstant.

38

2.

Daya pada AM ( - ) 50 % lebih kecil daripada AM (+).

3.

Noise yang dapat diatur secara manual.

4.

Memungkinkan untuk digunakan sinyal yang sinkron yang akan


menjaga amplitudo secara konstant sebagai sinyal reverensi, dan
bekerja sebagai Automatic Gain Control (AGC).

4.3.1.1 Sistem Modulasi AM


Dalam modulasi amplitudo suatu tegangan yang sebanding dengan sinyal
modulasi ditambahkan kepada amplitudo pembawa. Bila suatu gelombang
pembawa dimodulasi amplitudo, maka amplitudo bentuk gelombang pembawa
dibuat berubah sebanding dengan tegangan yang memodulasi.

Gambar 4.6 Proses modulasi AM

39

Gambar 4.7 Sinyal Video Termodulasi AM

4.3.1.2 Index Modulasi AM Sinusoidal

Gambar 4.8 Bentuk dasar gelombang sinyal AM

Perhitungan Modulasi Amplitudo adalah sebagai berikut dengan sinus


sebagai sinyal informasinya :
Persamaan unutk sinyal carrier ( pembawa ) :

e Ec max Sin ct c
(4.2)
Persamaan untuk sinyal inforamsinya adalah

em E m max cos m t m

m 2f c
dimana

(4.3)

karena gelombang pembawa dimodulasi amplitudo, maka amplitudo


bentuk gelombang tegangan pembawa diubah sebanding dengan tegangan yang
memodulasi sehingga :

ec ( E cmaks em ) cos ( c t c )
(4.4)
puncak puncak dari siklus carrier ( pembawa ) jika dihubungkan akan
membentuk sebuah gelombang selebung (envelope) dengan persamaan :

eenv Ec max em
(4.5)

40

m
Pada umumnya sudut fase tetap

tidak berhubungan dengan sudut fase

c
tetap

untuk carriernya, hal ini menunjukkan bahwa kedua sinyal ini tidak saling

berkaitan dalam waktu. Namun hasil modulasi amplitudo tidak bergantung pada
sudut fase ini , sehingga dapat dianggap nol. Dengan menggantikan e m dari
persamaan (4.3) ke dalam persamaan (4.5) dan e env dari persamaan (4.5) ke dalam
persamaan (4.4) maka persamaan untuk gelombang termodulasi secara sinusoidal
menjadi :

e eenv cos c t
( Ecma ks Emma ks cos m t ) cos c t
(4.6)
Index Modulasi m adalah suatu perbandingan antara amplitudo sinyal
informasi dengan amplitudo sinyal carrier yang didefinisikan sebagai :

E max E min
E
m m max
E max E min
E c max
(4.7)

Sehingga persamaan (4.7) dapat juga ditulis :

e Ecmaks ( 1 m cos m t ) cos c t


(4.8)
Prosentase modulasi amplitudo dapat ditentukan dengan persamaan
berikut:
Untuk amplitudo (+): m = [ ( Emax Ec ) / Ec ] x 100%

(4.9)

Untuk amplitudo (-): m = [ ( Ec Emin ) / Ec ] x 100%

(4.10)

41

Walaupun bentuk gelombang termodulasi mengandung dua frekuensi fc


dan fm, namun proses modulasinya membangkitkan frekuensi baru yang berupa
jumlah dan selisihnya.

4.3.1.3 Over Modulasi


Dalam sebuah kasus sinyal modulasi periodik, tegangan maksimum dan
minimum gelombang termodulasi dapat dengan mudah diidentifikasi. Dengan
suatu sinyal nonperiodik, kuantitasnya akan berubah oleh karena itu indeks
modulasinya juga akan berubah. Hal yang perlu diperhatikan adalah indeks
modulasi tidak boleh melebihi satu. Apabila indeks modulasi nilainya melebihi
satu maka akan terjadi over modulasi.
Over modulasi adalah suatu keadaan dimana Sinyal Audio lebih dari
1Vpp, sehingga pada pemancar televisi mengalami gangguan. Gangguan yang
dialami:
1. Distorsi: sinyal informasi dalam keadaan cacat dan menimbulkan cacat
hamonik yang menggangu station lain ( interferensi ).
2. Video clips: sinyal video terpotong, sehingaga terjadi gangguan pada video.
Cara mengatasinya dengan mengatur kembali video processor.

42

Gambar 4.9 Over modulasi

Dari gambar diatas terlihat bahwa modulasi berlebihan (m>1) terjadi


apabila besarnya tegangan negatif puncak gelombang modulasi melebihi tegangan
carrier puncak yang berakibat terjadinya pemotongan pada puncak gelombang
modulasi yang akan menyebabkan terjadinya cacat.
4.3.1.4 Residual Carrier

Gambar 4.10 Residual Carrier

Disebut juga modulation depth.

Standar CCIR: 10% - 12,5%

Jika kurang dari 10% maka sinyal video akan kabur karena kurang dari 0,7
Vpp, tapi jika lebih dari 12,5% akan terjadi over modulasi.

Batas 10% diperoleh dengan memotong level video 65% yang


terjadi di video processor.

4.3.1.5 Modulasi Sideband Tunggal


Sistem sideband tunggal sinyal AM hanya memerlukan setengah dari
bandwidth sinyal AM normal dan daya yang lebih kecil. Setiap sideband
mengandung semua informasi yang diperlukan untuk transmisi dan pemulihan
sinyal. Untuk modulasi sinusoidal 100% setiap sideband berisi seperenam daya

43

sinyal totalnya, sedangkan carrier berisi duapertiga dari daya sinyal totalnya.
Selanjutnya, carrier itu sendiri tidak membawa informasi yang disumbangkan
oleh sinyal modulasi.
Bila sinyal modulasi mengandung suatu band frekuensi maka disebut
dengan istilah Upper sideband (USB) dan lower sideband (LSB). Demodulasi
sinyal tunggal ini didapat dengan mengalikan sinyal carrier sinkron yang
dibangkit secara local pada penerima. Detector yang menggunakan prinsip ini
dinamakan product detector (detektor perkalian), dan rangkaian modulator
berimbang digunakan untuk maksud ini. Penting bahwa carrier tersebut sepersis
mungkin mungkin tersinkron dalam frekuensi dalam frekuensi dan fase dengan
carrier aslinya untuk menghindarkan distorsi keluaran termodulasi.
Pemborosan daya dari modulasi amplitudo dapat dikurangi dengan
menghilangkan sinyal carrier. Karena masing-masing sideband membawa
informasi

yang

sama

maka

bandwidth

juga

dapat

diperkecil

dengan

menghilangkan salah satu upper sideband atau lower sideband dari sinyal.

Gambar 4.11 Sinyal Double Sideband terdiri dari dua buah Single Sideband

em E m max cos m t m
Dengan masukan sinusoidal

keluaran dari

modulator akan menghasilkan suatu double sideband supressed carrier (DSBSC)


yang mengandung dua frekuensi sisi.

44

e Emax [cos(c m )t ]

e kEm max cos ct

(4.11)

dimana Emax = k(Em max/2). Apabila salah satu dalam DSBSC tersebut dihilangkan,
maka
untuk sinyal upper frekuensinya dilukiskan sebagai berikut.

eUSF Emax cos(c c m )t


(4.12)
sedangkan untuk lower side frekuensinya adalah.

eUSF Emax cos(c m )t


(4.13)

4.3.1.6 Modulasi Vestigial Sideband


Pada keenyataan sistem double sideband memiliki respon frekuensi rendah
yang bagus tetapi bandwidth yang dibutuhkan lebih besar. Sedangkan pada sistem
single sideband memiliki respon frekuensi rendah yang kurang bagus tetapi sangat
effisien untuk bandwidthnya yaitu hanya setengah dari double sideband. Dimana
sangat sulit untuk mencapai ketajaman cut-off sesuai dengan yang diinginkan
untuk menghilangkan salah satu band dari doble sideband secara sempurna.
Dari kedua sistem tersebut digabungkan dimana memiliki respon frekuensi
rendah yang bagus tetapi juga masih memiliki bandwith yang cukup kecil, sistem
ini disebut sistem modulasi vestigial sideband.

45

Gambar 4.12 FCC standard gelombang untuk transmisi TV monochrome dan berwarna.
(FCC Rules, Sec. 73.699.)

Jika filter vestigial sideband diterapkan pada double sideband supressed


carrier (DSBSC) maka akan menghasilkan modulasi vestigial sideband murni
tanpa carrier. Tetapi jika filter vestigial sideband diterapkan pada AM sederhana
maka akan mengahilkan modulasi vestigial sideband dengan disertai carrier
(VSB+C)
Sistem modulasi vestigial sideband dengan deteksi envelope, akan
menghasilkan distorsi sinyal yang cukup besar, tetapi akan mengirimkan sinyal
turun ke DC dan akan mengirimkan sinyal frekuensi tinggi dengan bandwidth
yang tidak terlalu besar. Sistem ini biasanya dipakai pada pentransmisian gambar
televisi yang menjaga ketajaman gambar yang disebabkan oleh respon frekuensi
tinggi yang cukup baik.

46

Gambar 4.13 Vestigial sideband filtering

4.3.1.7 Perhitungan Umum Modulasi AM


1. Daya rata-rata untuk AM Sinusoidal
Suatu hasil umum teori rangkaian ac ialah bahwa daya rata-rata yang
diberikan pada suatu beban R oleh sumber sinusoidal dengan frekuensi
berbeda-beda yang dihubungkan secara seri adalah jumlah daya rata-rata
dari setiap sumber. Maka persamaan untuk daya carrier rata-ratanya
adalah:
Pc

E 2 c max
2R

(4.15)

dan untuk setiap sisi frekuensinya :


mEc max

2
PSF
2R
2
m

Pc
4

(4.16)

maka daya rata-rata totalnya adalah:


PT Pc 2 PSF

m2

Pc 1
2

2. Tegangan dan arus efektif untuk AM sinusoidal


Tegangan efektif (rms E) gelombang termodulasi didefinisikan :

(4.17)

47

E2
PT
R

(4.18)

Demikian pula dengan tegangan efektif (rms Ec) didefinisikan:


E 2c
Pc
R

(4.19)

dari persamaan (4.17)

E2
m2

Pc 1
R
2

E 2c
m2
1

R
2

(4.20)

m2
E Ec 1
2
dimana

(4.21)

dimana I adalah arus rms gelombang termodulasi dan Ic adalah arus rms
carrier tidak termodulasi.

4.3.2 Modulasi Audio


Pada pemancar televisi saat ini Modulasi Audio tidak hanya modulasi
analog tetapi juga telah menggunakan modulasi digital. Modulasi audio pada
pemancar televisi awalnya menggunakan FM ( Frequency Modulation ) tetapi
setelah adanya system audio NICAM maka pada pemancar televisi menggunakan
FM dan NICAM dimana pada system NICAM modulasinya sudah digital yaitu
QPSK ( Quadratur Phase Shift Keying ).

48

NICAM (Near Instantaneous Companded Audio Multiplex) adalah suatu


system audio transmisi digital pada TV Broadcast yang digunakan untuk
memperbaiki kualitas sinyal audio ,selain itu juga untuk mendukung siaran
dwibahasa (bilingual). Program acara dwibahasa biasanya merupakan program
asing yang telah disulihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia.

4.3.2.1 Sistem Modulasi FM


Pada sistem modulasi ini sinyal informasi digunakan untuk mengubah
frekuensi pada sinyal pembawa.

Gambar 4.14 Proses Modulasi FM

Pada modulasi FM beberapa pasangan sideband dihasilkan, jumlah


sideband sebenarnya yang menyusun gelombang termodulasi ditentukan dengan
Index Modulasi. Misal sinyal informasi kita misalkan dengan persamaan :

49

em Em max Sinmt
(4.22)

em
perubahan pada frekuensi pembawa adalah k

dimana k dikenal sebagai

konstanta deviasi frekuensi , maka frekuensi pembawa sesaat (instatanceous)


adalah:

f l f c kem
(4.23)
dari persamaan 1 dan 2 frekuensi sesaatnya didapat :

f l f c kEmmax sin mt
(4.24)
Deviasi frekuensi puncak dari sinyal didefinisikan sebagai

f kEmmax
(4.25)
sehingga

f l f c f sin mt
(4.26)
Sedang persamaan untuk sinyal pembawanya adalah :

ec Ecmax sin c
(4.27)
Persamaan sinyal yang telah dimodulasi frekuensi adalah :

f
e sin ct
cos mt
fm

(4.28)

indeks modulasi pada modulasi frekuensi adalah :


mf

f
fm

(4.29)

50

persamaan dapat menjadi


e sin c t m f cos m t
(4.30)
Bandwidth untuk FM adalah

BEM 2 m f 1 f m
(4.31)

4.3.2.2 Index Modulasi FM


Index Modulasi FM adalah perbandingan antara frekuensi deviasi dengan
frekuensi sinyal informasi.
fc
fm
m=

(4.32)

Sistem defiasi (fd) adalah frekuensi defiasi maksimum yang diizinkan


untuk digunakan dalam suatu sistem FM yang nilainya sama dengan 100%
modulasi.
Hal tersebut terjadi apabila fc = fd 100% modulasi.
fc
fd
K=

K=

Em
Em max

(4.33)

Dimana faktor K adalah prosentase Modulasi.

Jadi prosentase Modulasi FM


fc
fd
% Mod =

Em
Em max

(4.34)

51

Semakin tinggi index modulasi akan menghasilkan sideband-sideband


semakin banyak pula sejalan dengan frekuensi modulasi yang semakin tinggi
untuk deviasi yang diberikan. Untuk menentukan spektrum frekuensi FM dapat
ditentukan dengan metode bessel function. Amplitudo dan fasa dari carrier dan
juga sideband dapat dituliskan secara matematis dengan mencari index modulasi
untuk menjelaskan penyederhanaan fungsi bessel. Secara umum dapat dituliskan
sebagai berikut:
RF output voltage Et Ec S1u S1l S 2u S 2l S 3u S 3l Snu Snl
(4.35a)
Carrier amplitude Ec A J 0( M ) sin c(t )

(4.35b)

First order upper sideband S1u J 1( M ) sin( c m)t


(4.35c)
First order lower sideband S1l J 1( M ) sin( c m)t
(4.35d)
Second order upper sideband S 2u J 2( M ) sin( c 2m)t
(4.35e)
Second order lower sideband S 2l J 2( M ) sin( c 2m)t
(4.35f)
Third order upper sideband S 3u J 3( M ) sin( c 3m)t
(4.35g)
Third order lower sideband S 3l J 3( M ) sin( c 3m)t
(4.35h)

52

Gambar 4.15 Plot fungsi bessel & tiga sisi frekuensi pertama carrier termodulasi FM Sinusoidal

Dimana :
A

= Amplitudo carrier tak termodulasi

J0

= Amplitudo carrier termodulasi

J1,J2,..Jn = Amplitudo sideband ke n

= (2Fc) frekuensi carrier

= (2Fm) frekuensi modulasi.

Meskipun kompleksitas modulasi FM yang mengasilkan peningkatan


jumlah komponen frekuensi pada hasil gelombang termodulasi tetapi tidak
menyebabkan pelebaran band frekuensi. Pada umumnya pelebaran band frekuensi
disebabkan oleh energi dari gelombang tersebut. Band ini kira-kira dua kali dari
jumlah deviasi maksimum frekuensi pada siklus modulasi puncak ditambah
dengan frekuensi modulasi tertinggi.
Tidak seperti pada AM, FM merupakan proses modulasi yang rumit yang
menghasilkan komponen-komponen frekuensi yang baru. Pada umumnya
spektrum ini lebih lebar daripada sinyal modulasi aslinya. Bandwidth yang

53

membesar ini dapat digunakan untuk meningkatkan signal to noise ratio (S/N)
dari transmisi. Dengan demikian FM dapat dimungkinkan pertukaran bandwidth
untuk menaikkan S/N.
Selama proses modulasi daya dari sistem FM adalah tetap. Tidak seperti
pada proses modulasi AM dimana dayanya meningkat selama proses modulasi,
pada sistem FM dayanya didistribusikan ke seluruh komponen frekuensi yang
dihasilkan pada proses modulasi.
Amplitudo yang tetap pada sistem FM memberikan keuntungan pada
penerima FM dengan low noise. Pada saat proses penerimaan dan penguatan
sinyal FM biasanya dilakukan pemotongan pada semua variasi amplitudo yang
ada yang melebihi batas yang ditentukan untuk menghilangkan noise yang terjadi
pada sinyal. Sumber noise dari sinyal atmosfir tidak mempengaruhi frekuensi dari
sinyal yang terpengaruh hanyalah amplitudo dari sinyal tersebut.dengan
menggunakan hard limitting pada receiver akan memotong gangguan yang terjadi.

4.3.2.3 Modulasi Digital


Sebelum proses Modulasi Digital sinyal analog terlebih dahulu harus di
digitalkan. Proses perubahan dari analog ke digital dikenal dengan ADC ( Analog
to Digital Converter ). Proses ADC akan dibahas dibawah ini :

ADC
Bentuk umum diagram blok sederhana dari pengubah analog ke digital
ditunjukkan pada Gambar 4.16. Pengubah analog ke digital mengambil
masukan analog, mencupliknya, kemudian mengubah amplitudo dari setiap

54

cuplikan menjadi sandi digital. Keluarannya adalah sejumlah bit-bit digital


paralel yang status logikanya menunjukkan amplitudo dari setiap cuplikan.
Berbagai sandi dapat digunakan untuk menyajikannya, dan yang paling
popular adalah sandi biner yang akan digunakan.
s a m p le s
s a m p le s
3

MSB
1 2 3
f o u r b it
d ig it a l
o u tp u t

a n a lo g in p u t
s a m p lin g

c o n v e r s io n

LSB

Gambar 4.16 Pengubah Analog ke Digital (ADC)

Pencuplikan
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, isyarat analog harus dicuplik
dengan laju paling sedikit dua kali frekuensi tertinggi dari masukan analog
aslinya. Laju pencuplikan ini disebut sebagai laju Nyquist. Pada saat cuplikancuplikan tersebut disatukan kembali dengan cara menghubungkan titik-titik
ujung dari setiap cuplikan, gelombang yang terbentuk harus berisi informasi
yang sama dengan bentuk gelombang semula.
Jika laju pencuplikan lebih rendah dibandingkan dengan frekuensi syarat
analog maka akan terjadi efek aliasing. Karena hasil pencuplikan terlalu
renggang maka hanya disajikan sebuah nilai dari isyarat tetapi pada titik yang

55

sedikit berbeda pada setiap putarannya, sehingga menghasilkan gelombang


sinus yang mempunyai frekuensi sama dengan selisih dua frekuensi.
Sebelum pengubahan terjadi, isyarat analog diumpankan ke gerbang
pencuplikan. Gerbang akan menutup untuk waktu yang pendek, yang disebut
apertur. Untuk mempertahankan cuplikan pada nilai yang tetap selama waktu
yang cukup supaya pengubah dapat melakukan proses pengubahan. Waktu
apertur dibatasi oleh dua pertimbangan yang saling bertolak belakang. Di satu
sisi waktu apertur yang pendek diperlukan jika isyarat analog berubah dengan
cepat. Waktu apertur yang lama akan menyebabkan perbedaan amplitudo pada
awal dan akhir dari sebuah cuplikan. Di sisi lain, untuk laju pencuplikan lebih
besar dari 3 KHz, waktu apertur yang diperlukan untuk proses pengubahan
yang sempurna terlalu besar dibandingkan frekuensi pencuplikan sehingga
tidak dapat dipenuhi pada selang waktu antara cuplikan. Untuk alasan ini
digunakan rangkaian sample and hold seperti tampak pada Gambar 4.17.
Rangkaian ini terdiri dari saklar MOSFET cepat, T1, bersama-sama dengan
kapasitor low-leakage dan penguat penyangga (buffer amplifier). Pada
kedatangan pulsa pencuplikan T1 menutup, pada waktu itu juga kapasitor
dapat mengisi masukan analog sampai batas amplitudonya. Setelah selang
waktu akuisisi, kapasitor telah terisi penuh dan tetap menjaga muatannya
sampai pulsa pencuplikan berikutnya. Seperti dapat dilihat, waktu apertur
sedikit lebih panjang dibanding dengan waktu akuisisi, ini memberikan batas
yang aman. Penguat penyangga adalah sebuah unity gain voltage follower
yang mempunyai impedansi masukan sangat tinggi sehingga dapat mencegah
kapasitor melucuti muatannya selama saklar transistor terbuka. Dalam

56

praktek, tegangan pada kapasitor sedikit menurun karena adanya arus yang
bocor dari saklar MOSFET, pelucutan sendiri (self discharge) melewati
dielektriknya dan arus masukan dari penguat penyangga. Turunnya tegangan
ini disebut droop.
a m p lif ie r
a n a lo g
in p u t

s a m p le d
o u tp u t

T1

s a m p li n g
p u ls e

h o ld
c a p a s it o r

Gambar 4.17 Rangkaian Sample and Hold

Proses Pengubahan
Langkah terakhir dalam ADC adalah proses pengubahan. Sejumlah aras
misalnya 0.25, 0.5, 0.75, 1.0, dan seterusnya, disusun dengan sandi binernya.
Langkah ini disebut sebagai kuantisasi cacah aras kuantum seperti ditunjukkan
pada Tabel 3.1. Kuantisasi ini ditentukan oleh cacat bit pada keluaran
pengubah. Sebagai contoh, untuk ADC 3 bit, keluaran biner dapat bernilai 000
sampai 111, yaitu sejumlah 8 aras. Dimisalkan digunakan skala atau kuantum
sebesar 250 mV. Kuantum sebesar 250 mV menunjukkan resolusi pengubah
yang didefinisikan sebagai langkah terkecil dari tegangan masukan yang dapat
dikenal dan secara akurat diubah menjadi keluaran digital. Dengan masukan
yang analog (kontinyu), tegangan-tegangan cuplikan akan bernilai diantara
aras kuantum. Sehingga selalu ada elemen yang tidak jelas dalam nilai bit

57

signifikan terkecil. Ini akan selalu tampak pada sembarang penyandian digital
atau penampilan digital nilai-nilai analog. Hal ini disebut kesalahan kuantisasi.
Kesalahan kuantisasi tidak dapat dihilangkan, tetapi dapat dikurangi dengan
meningkatkan resolusi pengubah dengan cara menaikkan cacah bit yang
digunakan sehingga mengurangi aras kuantum dan kesalahan kuantisasi.

Tegangan Cuplikan

Kode Biner

Aras
0

(V)
0.00

MSB
0

LSB
0

0.25

0.50

0.75

1.00

1.25

1.50

1.75

Tabel 4.1 Kuantisasi Cacah Aras Kuantum

QPSK
Prisip kerja dari QPSK dapat dijelaskan dengan diagram blok dibawah ini:
Modulator QPSK
R/2

Biner Digital

Sin c t

Sin c t
I
BUFFER
INPUT

Penggeser
90

Cos c t

Clock
R/2

Cos ct

BPF

58

Gambar 4.18 Modulator QPSK

I = Inphase Channel
Q = Quadrature Channel
Dari gambar 4.18 diketahui bahwa :

Sin ct
Inphase

(4.36)

Cos ct
Quadrature =

(4.37)

Dari kedua persamaan diatas di jumlahkan maka akan didapatkan :

Sin ct Cos ct
I.

(4.38a)

Sin ct Cos ct
II.

(4.38b)

Sin ct Cos ct
III.

(4.38c)

Sin ct Cos ct
IV.

(4.38d)

Dengan merubah persamaan 4.38 (a), (b), (c), (d) menjadi bentuk
persamaan :

C sin ( c t )
(4.39)
maka didapatkan :
Sin c t Cos ct 2 Sin ( ct 45 )

I.

(4.40a)
Sin c t Cos ct 2 Sin ( ct 45 )

II.

(4.40b)
Sin ct Cos ct 2 Sin ( ct 135 )

III.

(4.40c)

59

Sin ct Cos ct 2 Sin ( ct 135)

IV.

(4.40d)

Dari persamaan diatas maka


terlihat adanya perbedaan Phase, sehingga dapat dibuat diagram konstilasinya
sebagai berikut:

Gambar 4.19 Diagram konstilasi QPSK

60

Dari gambar diagram konstilasi 4.19 diketahui bahwa pentransmisian data


dengan menggunakan QPSK memanfaatkan adanya perbedaan phase. Dan
pembacaanya dengan 2 bit seperti pada diagram konstilasi diatas.
4.4 Modulasi Sinyal Audio Dan Video Pada Transmiter
4.4.1 Visual Modulator (HPB 3104)
Modulator video HPB-3104 mempunyai tiga fungsi, yaitu untuk
memodulasi pembawa IF dengan ring modulator, untuk memindahkan satu
sideband dengan VSBF dan untuk koreksi awal ICPM dengan modulator fasa IF
Spesifikasi Kinerja
Level input IF

: +10 dBm (+4dBm s/d 10dBm)

Level input Video

: 1.0Vp-p

Level output IF

: +10 dBm

Perbaikan ICPM

10 derajat

Pemodulasi video HBP-3104 digunakan untuk merubah base band sinyal


video menjadi sinyal IF termodulasi dengan Ring modulator yang mana pembawa
IF juga dimodulasi fasanya oleh pengolahan sinyal video untuk perbaikan awal
ICPM (incidental carrier phase modulation)
Sinyal video untuk modulasi fasa IF dibagi menjadi tiga bagian yaitu sync,
hitam dan putih, yang mana setiap amplitudo sinyal diperbesar atau diperkecil
sendiri, kemudian ditambahkan kedalam pengolahan sinyal video oleh pembawa
untuk ring modulator adalah fasa termodulasi.

61

62

Gambar 4.20 Diagram Blok Unit Visual Modulator

Ring modulator dilengkapi oleh pin rangkaian pensaklaran dioda melalui filter
harmonik, kemudian sinyal melewati filter VSBF (vestigial-sidedand filter) yang
menggunakan filter SAW (surface acoustic wave) untuk mendapatkan bentuk
nyquist.
Selanjutnya unit tersebut mempunyai rangkaian pemisah sync, dan
rangkaian pengatur level untuk gambar, pedestal, pembawa sinyal dan kedalaman
modulasi.

4.4.1.1 Ring Modulator

63

Pada CN-101-2 digunakan sinyal video sync negatif yang kemudian sinyal
dipisah menjadi dua bagian, satu untuk modulasi sinyal IF, dan yang lainnya
untuk modulasi fasa IF.
Penguat non-inverting IC 101 menerima video melalui blok pelemah R
105~107 dan jalur tunda DL 101 yang mengkompensasi untuk perbedaan waktu
tunda antara dua bagian tersebut. Input video yang menuju IC 101 dicabang
untuk menyesuaikan levelnya.
Keluaran IC 101 dilewatkan melalui penguat diferensial TR 101 dimana
sinyal video dipotong oleh FET TR 104.
Kedua sumber dari TR 101, diikuti oleh TR 102 pengikut emiter dan TR
103 dihubungkan melalui R 126 ke Ring Modulator terdiri dari transformer
seimbang, T 501 dan T 502 dan konfigursi jembatan D 501- D 504 yang mana
arusnya akan mengalir dalam satu arah. Sinyal Pembawa IF digunakan pada satu
jembatan melalui T 501 dan keluaran termodulasi dapat keluar dari jembatan yang
lain ke T 502 yang terhubung.
Untuk menghasilkan tingkat modulasi yang benar, beberapa ofset arus
harus ditambahkan pada sinyal video. Level

DC potensiometer VR 104

menyesuaikan ofset ini untuk memberikan arus sinyal video ke modulator.


Kemudian potensiometer level AC VR 102 menyesuaikan arus ofset ketika
pedestal clamp tidak bekerja. Potensiometer level CW VR 104 mengizinkan
penyesuaian dari tingkat keluaran sama dengan tingkat pedestal pada keadaan
tidak ada masukan video. Kepastian ini menahan penerima level AGC selama
interupsi video pendek.

64

untuk menyeimbangkan ring modulator digunakan Variabel kapasitor VC 501


dengan tujuan untuk memperkecil nilai keseimbangan residual carrier, karena
kesalahan perbedaan fasa dihubungkan dengan ICPM.

4.4.1.2 Vestigial-sideband Filter (VSBF)


Keluaran Ring modulator dilewatkan melalui pin saklar dioda yang terdiri
dari D511,D512,D513,D514 dan D516 melalui pelemah level keluaran dan filter
harmonik VL 501, VL 502, dan C502 s/d C 506. Ketika saklar on/off VSBF
dimatikan secara manual dengan saklar S 511, dua set dioda D 511, D 512, D 513
dan D 514 dibias maju dan dua set dioda yang lain D 515 dan D 516 dibias
mundur. Memungkinkan penyesuaian transmitter dimana demodulator eksternal
mengizinkan karakteristik VSBF dimatikan. Ini memberikan penyesuaian
transmitter terbaik untuk penghapusan kesalahan tracking pada filter VSBF.
Sebaliknya, ketika saklar on/off VSBF diaktifkan, keluaran modulator
dilewatkan melalui VSBF, sebagai hasil dari VSBF, diikuti oleh respon frekuensi
tepat (ketepatan respon frekuensi) membentuk rangkaian IF TILT yang terdiri dari
VL 601, VL 602, C 606-C 604, R 602- R604, R 605 dan dan VR 601, keluaran
dapat mencukupi respon sideband yang diperlukan.

4.4.1.3 IF Modulation Phase (Pemodulasi Fasa IF)

65

Ketika sinyal melewati seluruh penguat nonlinier pada rangkaian


pemancar berikut, rotasi fasa tergantung pada level luminance, ini dikarenakan
tambahan kesalahan fasa diferensial dan ICPM.
ICPM disebabkan oleh ketidaklinieran fasa sebagai koreksi awal dari
rangkaian pemodulasi fasa IF IC 401, IC 402, dan IC 403 dan rangkaian
pengolahan sinyal video.
Karena ICPM bergantung level, sinyal video digunakan untuk pemodulasi
fasa harus diseleksi untuk menyesuaikan modulasi fasa sinyal RF yang
menyebabkan ICPM. Teknik atau cara menggunakan rancangan rangkaian terpadu
pengklem video pada pokoknya bertanggungjawab untuk operasi pengoreksian
awal dari tipe ini.
Pemodulasi fasa IF terdiri dari IC 401, IC 402, IC 403, dioda variabel
kapasitor D 401, D 402, dan transformer T 401 dan T 402, dan ini dimungkinkan
untuk dilakukan penyesuaian atau pengukuran.

66

Gambar 4.21 Rangkaian terintegrasi video slice

4.4.1.4 Rangkain Lain


Sinyal video untuk Ring modulator dan modulator fasa IF diperlukan
untuk mengklem pada level pedestal. Sinyal video sync negatif digunakan pada
rangkaian sync SEPA (pemisah sync) melalui penguat tak membalik IC 201. Pulsa
klem untuk pewaktuan sync back porch dibangkitkan oleh rangkaian sync SEPA.
Ketika ring modulator tidak memerlukan pengkeleman pedestal (seperti pada
kasus penyesuaian atau pengukuran pemancar) pengkeleman digerakkan dengan
saklar CLAMP ON/OFF S 201, relay RL 201 dan RL 101. Ketika Rl 201
dimatikan, kedua rangkaian modulator IF sebaik rangkaian terintegrasi
pengkeleman video yang dikeluarkan dari rangkaian.

67

4.4.2

Aural Modulator (HPB-3101)


Secara umum fungsi dari aural modulator HPB-3101 yaitu untuk

memodulasi sinyal audio secara FM pada tingkat IF, dimodulasi oleh VCO (volt
control oscilator) dengan audio input. Ada dua pasang input audio yaitu jalur
balanced (seimbang) 600 untuk line stereo, dan jalur unbalanced 75 untuk
sistem audio broadcast yang termultiplex. Untuk jalur 600 balanced preemphasis (untuk menaikkan level frekuensi tinggi ) bisa dipilih salah satu dan 50
s / 75 s. Untuk memperbaiki frekuensi rata - rata dari modulator oscilator
digunakan automatic phase control (APC) yang telah disediakan.
Spesifikasi Kinerja
Level output IF

: +10dBm

Level input audio

:-10 s/d +10dBm pada masukan 600-ohm


1Vpp pada masukan 75-ohm

Deviasi

: 50kHz atau 25kHz

Pre-emphasis

: 50 mikrodetik atau 75 mikrodetik

Distorsi

: kurang dari 0,5%

SNR

: lebih baik daripada 66dB (Ref. 50kHz)


atau 60dB (Ref. 25kHz)

Level input NICAM

: +4dBm ~ +13dBm

Jika terjadi kesalahan (error) akan ditampilkan dengan sebuah LED ketika
sebuah bagian output yang salah / APC tidak mengkoreksi.

68

Untuk monitor sinyal output dilengkapi dengan rangkaian tambahan,


untuk menentukan nilai titik puncak dari sinyal output dan untuk menentukan titik
deviasi frekuensi.
Empat penyearah tegangan DC yang dikembangkan oleh HPB 3109
(power supply) bagian yang digunakan di aural modulator: +12,-12.
Aural modulator mempunyai rangkaian audio input yang berfungsi untuk
transformasi dari keadaan unbalanced menjadi balanced, pre-emphasis (untuk
menaikkan level frekuensi tinggi) dan amplification. Modulator IF menghasilkan
frekuensi IF yang telah terkunci yang telah ditentukan oleh sinyal sebuah
rangkaian PLL dan HPB 3108 synthesizer.
Frekuensi modulasi terjadi dengan cara menginputkan sinyal audio ke
dioda varicap. Frekuensi tengah pada oscilator diatur oleh rangkaian automatic
phase control (APC).
Output dari frekuensi modulasi dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian
pertama untuk rangkaian APC dan bagian kedua untuk monitor yang digunakan
sebagai tampilan deteksi nilai titik puncak dan untuk nilai titik deviasi.
Untuk menentukan sinyal frekuensi oscilator digunakan IC untuk
automatic phase control (APC) dan outputnya sebagai pendeteksi tingkatan
kontrol sinyal yang akan mengumpan balik ke IF oscilator.
Input audio 600 (line setereo / balanced) digunakan ke CN 101-16 A dan
CN 101-16 C. lalu melalui IC 101-2 dan IC 101-3 dimana frekuensi level telah
tinggi, selanjutnya dari 50s sebagai pembawa output dan transformasi input
stereo ke sebuah output unbalanced. Untuk pre-emphasis (PRE-EM switch slO1)
digunakan untuk saklar OFF. Pre-emphasis off normal loop adalah output yang

69

dikirim ke jack CN 101-18 A. Jika pre-emphasis yang diinginkan 75, maka


digunakan kapasitor C 110 dengan cara menjumper connector JP 101.
Input audio yang lain yaitu 75 dari line unbalanced digunakan ke CN
101-2, lalu dibesarkan dengan IC 121 dan dikirim ke INPUT-SELECT jumper JP
131.
Berikut adalah gambar blok bagian aural modulator.

70

Gambar 4.22 Diagram sistem Aural Modulator


Output dari IC 1-1 melalui non-inverting sebagai input dari audio amplifier IC 3.
Output frekuensi modulasi dari modul FM oscilator akan didistribusikan ke
rangkaian APC dengan menghitung pembagian dan frekuensi 1/32 dalam IC 6 dan
1/256 dalam IC 302. Pedoman dari bagian nilai digunakan untuk melemahkan
nilai modulasi ke batas bagian titik puncak deviasi.
Kedua dari frekuensi dan sinyal menentukan titik puncak deviasi, dan sinyal
modulasi adalah bentuk deteksi bagian hitung dalam IC 302 yang mana bagian
diantara dua frekuensi sumber adalah pendeteksi yang diminta dari hasil sinyal
kontrol DC. Sinyal kontrol melalui bagian daerah filter yang tertutup terdiri dari R
306 sampai R 308 dan kapasitor C 309 sampai C 310, maka dari itu sebagai
umpan balik ke module FM oscilator.
Output modulasi frekuensi dari FM oscilator module selanjutnya
didistribusikan ke rangkaian yang terdiri dari output level ATT 401, IC 401, IC
402 dan low-pass filter VL 401 dan VL 402. Bila terjadi sesuatu yang tidak
diinginkan pada IC 401 dan IC 402 diproteksi oleh relay Rl 301 yang digerakkan
oleh APC ketika terjadi sebuah kesalahan (error). Selanjutnya sinyal yang melalui
low-pass filter didistribusikan ke empat output yaitu CN 101-25 output, J 401
monitor dan CN 10l-12A deviation. Det volt adalah pendeteksi titik puncak dan
output unit. Det volt bekerja dengan cara membandingkan tegangan preset DC
yang terdeteksi sebagai error output.
Output dari deviation CN 101-12A digunakan untuk mengukur
deviasi dengan indikasi dalam tampilan EL. Banyaknya deviasi frekuensi ini
dideteksi oleh rangkaian detektor kemiringan.

71

4.5 Komposisi RF Chanel


Aural Mixer berfungsi untuk mencampur frekuensi RF oscillator
dengan audio IF 33,4 MHz. Vision Mixer berfungsi untuk mencampur frekuensi
RF Oscilator dengan Video IF 38,9 MHz yang telah termodulir oleh sinyal video
secara AM- moduliation. UHF Mixer sebagai pencampur gelombang menjadi
sinyal UHF guna pentransmisian pada channel yang sesuai.

Gambar 4.23 Komposisi RF Channel VSB

Jarak Intercarrier adalah jarak antara carrier video dan carrier audio, yaitu
sebesar 5,5 MHz.
Dengan pemancaran gelombang VHF, channel televisi berkapasitas
sebesar 7 MHz. Sedang dalam pemancaran gelombang UHF, channel televisi
berkapasitas 8 MHz.

72

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Setelah menyelesaikan penyusunan laporan Kerja Praktek ini yang berjudul
Stasiun Relay Trans TV Semarang (Study Tentang Modulasi Sinyal Audio
Dan Video) dalam melaksanakan kegiatan Kerja Praktek di Stasiun Relay Trans
TV Semarang dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.

Modulasi merupakan proses penumpangan suatu sinyal informasi pada


suatu sinyal carrier untuk dapat di transmisikan.

2.

Pada proses transmisi proses modulasi terjadi dua kali, yaitu modulasi
pada tingkat IF dimana sinyal audio dimodulasi secara FM dengan
frekuensi 33,4 MHz dan sinyal video dimodulasi secara AM (-) dengan
frekuensi 38,9 MHz dan modulasi pada tingkat RF dimana terlebih
dahulu sinyal audio (FM) dan sinyal video (AM-) di gabungkan yang
kemudian di modulasi dengan frekuensi sesui dengan frekuensi channel
yang diinginkan.

3.

Exciter merupakan salah satu dari bagian penyusun transmitter NEC


PCU-1120 SSP/1 yang berfungsi sebagai tempat pengolahan sinyal
video dan audio, modulasi sinyal audio dan video sekaligus sebagai
perbaikan dan pengoreksi sinyal-sinyal.

73

5.2 Saran
Beberapa saran yang dapat penulis sampaiakan mudah-mudahan dapat
berguna dalam peningkatan kualitas siaran dari Trans TV Semarang.
1.

Pada EL Control Transmiter NEC PCU 1120 SSP/1 masih dioperasikan


manual akan lebih baik apabila pencatatan data bisa diotomatisasi
sehingga pencatatan datanya lebih akurat dan juga pencatatan data bisa
dilakukan secara real time yang akan lebih mempermudah dalam
pengorganisasian log history dari sistem.

2.

Peralatan server yang selama ini belum difungsikan secara maksimal


dapat dengan segera di maksimalkan, sehingga ide-ide kreatif dari
daerah bisa diaspirasikan.

3.

Referensi alat-alat maupun manual book perlu dipertahankan dan


dikembangkan, bukan hanya sebatas alat-alat yang ada tetapi perlu juga
perkembangan-perkembangan yang terjadi, dan juga semua materi yang
berkaitan dengan dunia telekomunikasi khususnya penyiaran baik dalam
bentuk fisik seperti buku, gambar, miniatur alat, maupun dalam bentuk
file digital.

4.

Setidaknya pihak TRANS TV Semarang memberikan tugas kepada


peserta KP bukan hanya untuk mengumpulkan Laporan KP semata
tetapi juga mengumpulkan artikel-artikel yang berhubungan dengan
telekomunikasi untuk dapat menambah referensi semata-mata untuk
kepentingan bersama.

74

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonym, PCU-1120SSP/1 20 KW UHF TV TRANSMITTER Instruction


Manual Vol.1, NEC Corporation Tokyo Japan, 2001.
2. Anonym, PCU-1120SSP/1 20 KW UHF TV TRANSMITTER Instruction
Manual Vol.II, NEC Corporation Tokyo Japan, 2001.
3. Carlson, Bruce Communication systems, McGraw Hill, 1975.
4. Rooddy, Dennis & John Coolen. Electronic Communication, 4th Edition,
Prentice Hall mc, 1995 .
5. Usman. Usrin, Teknik Pemancar TV, Materi Diklat Teknik Transmisi
TRANS TV, 2001.

75

DAFTAR SINGKATAN

International Telecomunication Union (ITU)

PIE ( Program Input Equipment )

Video Tape Recorder (VTR),

TRPA (Transistor Power Amplifier)

CIND ( Constant Impedance Notch Diplexer )

DSB ( Double Side Band )

VSB ( Vestigial Side Band )


Automatic Gain Control (AGC)
Upper sideband (USB)
lower sideband (LSB)
double sideband supressed carrier (DSBSC)
FM ( Frequency Modulation )
QPSK ( Quadratur Phase Shift Keying )
NICAM (Near Instantaneous Companded Audio Multiplex)
ADC ( Analog to Digital Converter )
ICPM (incidental carrier phase modulation)
VSBF (vestigial-sidedand filter)
SAW (surface acoustic wave)
VCO (volt control oscilator)

Anda mungkin juga menyukai