Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH

MANAJEMEN KEPERWATAN
Tentang
Konsep dan Prinsip Kewenangan dalam Pendelegasian dan Supervisi

OLEH KELOMPOK 3

Amelia Ulfa
Annisa Khaidir
Elsa Abel Nuine
Gita Aprilonia
Refika Rahmi

Riki Alfitra
Sari Afma Yuliane
Sesar Fauza Fatimah
Yendhika Ivo Apsectya
Yolanda Putri D

SEMESTER VI

DOSEN PEMBIMBING
Ibuk Ns. Yasmi, M. M. Kep

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI


SUMATERA BARAT BUKITTINGGI
PRODI S1 KEPERAWATAN
2015 / 2016

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim.
Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
kami dapat menyelesaikan makalah ini. Penyusunan makalah ini disusun untuk
memenuhi tugas Manajemen keperawatan. Selain itu tujuan dari penyusunan
makalah ini juga untuk menambah wawasan secara meluas.
Dalam penulisan makalah ini penulis banyak mendapatkan bantuan,
bimbingan ,dukungan dan arahan dari berbagai pihak yang sangat berharga, baik
secara moril maupun materil, baik langsung ataupun tidak langsung.Dalam
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada kepada: (1) Ibuk
Ns.Yasmi, M.M.Kep selaku dosen Pembimbing mata kuliah manajemen
keperawatan (2) Kedua orang tua penulis (3) Teman-teman dan seluruh pihak
yang telah membantu menyelesaikan makalah ini. Penulis berharap makalah ini
dapat memberikan manfaat bagi semua pihak. Selain itu juga bisa dijadikan
sumber bacaan untuk menambah wawasan.
Penulis menyadari, bahwa apa yang disajikan dalam makalah ini mungkin
belum seperti yang diharapkan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritikan,
saran, dan masukan yang bersifat membangun dari semua pihak.

Bukittinggi, 23 Maret 2016

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................................

DAFTAR ISI ................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang ...............................................................................
1.2 Rumusan masalah ..........................................................................
1.3 Tujuan penulisan ............................................................................

1
2
2

BAB II PEMBAHASAN
2.1.PENDELEGASIAN
1. Pengertian Pendelegasian ...........................................................
3
2. Aspek Penting Dalam Pendelegasian........................................... 4
3. Kosep Dasar Pedelegasian .......................................................... 5
4. Metode Metode Pendelegasian .................................................... 7
5. Komponen Utama Penedelegasian .............................................. 7
6. Pelakasanaan Pendelegasian ....................................................... 8
7. Waktu Dan Tempat Pendelegasian ............................................. 9
8. Wewenang Yang Dideligasikan ................................................... 9
9. Kegiatan Delegasi Wewenang....................................................... 12
10. Jenis Pendelegasian....................................................................... 12
11. Jenis-Jenis Wewenang................................................................... 13
12. Pedoman Pelimpahan Wewenang Yang Efektif............................ 13
13. Prinsip Delegasi............................................................................. 13
14. Prinsip Wewenang........................................................................ 14
15. Cara Melakukan Delegasi.............................................................. 15
16. Cara Pendelegasian...................................................................... 15
17. Manfaat Delegasi.......................................................................... 16
18. Alasan Penting Pendelegasian....................................................... 18
19. Ketidakefektifan Dalam Delegasi................................................... 18
20. Masalah Pendelegasian.................................................................. 19
2.2. SUPERVISI
1. Pengertian supervisi ......................................................................
2. Tujuan superfisi ............................................................................
3. Fungsi dan mamfat superfisi .........................................................
4. Sasaran superfisi ..........................................................................
5. Model-model superfisi .................................................................
6. Peran superfisi .............................................................................
7. Karakteristik superfisi keperawatan ............................................
8. Prinsip-prinsip superfisi keperawatan .........................................
9. Teknik superfisi............................................................................

20
21
21
23
24
25
25
26
27

BAB III PENUTUP


ii

3.1 . KESIMPULAN ...............................................................................


3.2 SARAN ...........................................................................................

28
28

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

29

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

LATAR BELAKANG
Tuntutan Masyarakat terhadap kwalitas pelayanan keperawatan dirasakan

sebagai suatu fenomena yang harus direspon oleh perawat. Oleh karena itu
Pelayanan keperawatan ini perlu mendapat prioritas utama dalam pengembangan
kemasa depan. Perawat harus mau mengembangkan ilmu pengetahuannya dan
berubah sesuai tuntutan masyarakat , dan menjadi tenaga perawat yang
professional. Pengembangan dalam berbagai aspek keperawatan bersifat saling
berhubungan, saling bergantung, saling mempengaruhi dan saling berkepentingan.
Oleh karena itu inovasi dalam pendidikan keperawatan, praktek keperawatan ,
ilmu keperawatan dan kehidupan keprofesian merupakan fokus utama
keperawatan Indonesia dalam proses profesionalitas. Proses profesionalisasi
merupakan proses pengakuan terhadap sesuatu yang dirasakan, dinilai dan
diterima secara spontan oleh masyarakat, maka dituntut untuk mengembangkan
dirinya dalam sistim pelayanan kesehataan.
Keperawatan Indonesia sampai saat ini masih berada dalam proses
mewujudkan keperawatan sebagai profesi, maka akan terjadi beberapa perubahaan
dalam aspek keperawatan yaitu : penataan pendidikan tinggi keperawatan,
pelayanan dan asuhan keperawatan, pembinaan dan kehidupan keprofesian, dan
penataan lingkungan untuk perkembangan keperawatan. Perubahaan-perubahaan
ini akan membawa dampak yang positif seperti makin meningkatnya mutu
pelayanan kesehatan/keperawatan yang diselenggarakan, makin sesuainya jenis
dan keahlian tenaga kesehatan/keperawatan yang tersedia dengan tuntutan
masyarakat, bertambahnya kesempatan kerja bagi tenaga kesehatan .Oleh karena
alasan-alasan di atas maka Pelayanan keperawatan harus dikelola secara
profesional, karena itu perlu adanya Manajemen Keperawatan
Manajemen Keperawatan harus dapat diaplikasikan dalam tatanan
pelayanan nyata di Rumah Sakit, sehingga perawat perlu memahami bagaiman
konsep dan Aplikasinya di dalam organisasi keperawatan itu sendiri. Untuk lebih
1

memahami arti dari Manajemen Keperawatan maka kita perlu mengetahui terlebih
dahulu apa yang dimaksud dengan organisasi keperawatan, bagaimana tugas dan
tanggung-jawab dari masing-masing personil di dalam organisasi yang pada
akhirnya akan membawa kita untuk lebih mengerti bagaimana konsep dasar dari
Manajemen Keperawatan itu.
Pengawasan dan Pengendalian merupakan proses akhir dari proses
manajemen, dimana dalam pelaksanaannya proses pengawasan dan pengendalian
saling keterkaitan dengan proses-proses yang lain terutama dalam perencanaan.
Dalam proses manajemen ditetapkan suatu standar yang menjadi acuan,
diantaranya yaitu : visi-misi, standar asuhan, penampilan kinerja, keuangan, dan
lain sebagainya. Dengan demikian dalam pelaksanaannya perlu dilakukan
pengawasan apakah setiap tahapan proses manajemen telah sesuai dengan standar
atau tidak dan jika ditemukan adanya penyimpangan maka perlu dilakukan
pengendalian sehingga kembali sesuai standar yang berlaku.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Konsep dan prinsip kewenangan dalam pendelegasian dan supervisi
a) Pengertian pendelegasian
b) Aspek penting dalam pendelegasian
a)
b)
c)
d)
e)

Wewenang yang didelegasikan


Pengertiann superfisi
Fungsi dan tujuan supervisi
Prinsip supervisi
Teknik supervisi

1.3 TUJUAN PENULISAN


Mahasiswa mampu memahami tentang konsep teori pendelegasian
dalam

keperawata,

supervisi

dalam

keperawatan

serta

dapat

mengaplikasikannya dalam dunia keperawatan nantinya.

BAB II
2

PEMBAHASAN
2.1 PENDELEGASIAN
2.1.1

PENGERTIAN PENDELEGASIAN
Delegasi (Delegation) secara singkat dapat dikatakan bahwa delegasi

adalahpemberian sebagaian tanggung jawab dan kewibawaan kepada orang


lain (Charles J. Keating : hal. 1991). Lebih lanjut lagi Taiylor, (1993 : 68)
Mengatakan bahwa pendelegasian adalah suatu proses untuk mengembangkan
pegawai pegawai anda.
P. Jenks (1991: 45) Dalam bukunya Delegas kunci management
menyatakan bahwa Menjadi seorang delegator yang baik adalah merupakan
suatu proses belajar maupun sebagai suatu cara untuk memperoleh hasil yang
spesifik
Definisi pendelegasian secara sederhana adalah menyelesaikan tugas
melalui orang lain atau mengarahkan tugas kepada satu orang atau lebih untuk
mencapai tujuan organisasi. Namun, definisi yang lebih komplek dari
pendelegasian, superfisi, dan penugasan telah dibuat oleh American Nurses
Association (ANA) dan National Council of State Boards of Nursing
(NCBSN) sebagai respon terhadap adanya kompleksitas pendelegasian di area
pelayanan kesehatan dewasa ini, yaitu meningkatnya jumlah pekerja, yang
relative tidak terlatih dan tidak memilik izin, yang merawat pasien secara
langsung.
NCBSN

(1995) mendefinisikan

pendelegasian

sebagai

pemberian

wewenang kepada individu yang kompeten untuk melakukan aktivitas


keperawatan tertentu pada situasi yang ditentukan.
ANA (1996) mendefinisikan pendelegasian sebagai pemindahan tanggung
jawab dalam melakukan tugas dari satu orang ke orang lain.
Pendelegasian (pelimpahan wewenang) merupakan salah satu elemen
penting dalam fungsi pembinaan. Sebagai manajer perawat dan bidan
menerima prinsip-prinsip delegasi agar menjadi lebih produktif dalam
melakukan fungsi-fungsi manajemen lainnya.(Handoko.1997).

Pendelegasian adalah bagian dari manajemen yang memerlukan latihan


manajemen

professional

dan

dikembangkan

untuk

dapat

menerima

pendelegasian tanggung jawab secara structural.(Swanbrug. 2000).


2.1.2. ASPEK-ASPEK PENTING PENDELEGASIAN
a. Fokus pendelegasian adalah hasil kerja yang diharapkan tercapai, dalam
upaya menggapai sasaran/tujuan akhir dari organisasi.
b. Pendelegasian dilaksanakan dengan sikap hormat yang didasarkan atas
penghargaan dan kesadaran terhadap diri sendiri sebagai sesuatu yang
"berharga", serta memerhatikan harga diri dan kehendak bebas orang lain,
di mana setiap pekerja dipandang sebagai subjek, dan bukan objek kerja.
c. Pendelegasian yang menghasilkan melibatkan harapan-harapan yang
meliputi bidang berikut :
- Menekankan pada tercapainya hasil-hasil yang didambakan atau
diinginkan pada waktu

depan yang telah ditentukan ("desired

results").
- Pendelegasian menyatakan dengan tegas tentang apa yang harus
dicapai, bukan bagaimana mencapainya, di mana fokus utama
diarahkan kepada hasil produksi.
- Pendelegasian memberikan tugas, wewenang, hak, tanggung jawab,
kewajiban membuat/memberi laporan pada awal tugas, dalam tugas,
dan akhir tugas untuk diketahui dan dievaluasi oleh pemimpin.
- Pelaksanaannya dilandasi pedoman / petunjuk ("guidelines") yang
jelas, baik bagi tugas maupun pelaksana tugas. Artinya pendelegasian
menyatakan pedoman-pedoman, larangan-larangan, dan batas-batas
dimana seseorang harus bekerja/melakukan kewajibannya. Hal ini
menolong setiap orang untuk bekerja dengan baik/patut.
- Melibatkan sumber-sumber daya ("resources") yang

pasti.

Pendelegasian menyatakan (disertai dengan pernyataan) akan adanya


sumber-sumber daya, antara lain sumber daya manusia, keuangan,
teknis, atau organisasi yang dapat dipakai seseorang untuk
menyelesaikan tugas yang didelegasikan kepadanya.
- Dinyatakan dengan adanya tanggung jawab dan pertanggungjawaban
("responsibility" dan "accountability"). Pendelegasian menyatakan
patokan yang akan digunakan untuk menilai hasil/prestasi akhir, yang

diwujudkan dengan adanya tanggung jawab dan pertanggungjawaban


kerja yang dapat dilakukan dengan membuat/memberi pelaporan pada
awal tugas, dalam tugas, dan akhir tugas untuk diketahui dan
dievaluasi oleh pemimpin.
- Mempertimbangkan risiko-risiko yang akan terjadi atau ditindaki
("consequences"). Pendelegasian dapat menyatakan akibat-akibat
yang akan terjadi, yang baik maupun yang tidak baik, sebagai hasil
dari suatu pekerjaan atau tugas yang didelegasikan. Akibat-akibat ini
dapat diukur melalui evaluasi/pengkajian yang dilakukan dengan
meneliti deskripsi tugas dan hasil kerja atau produk yang telah
dilakukan atau dihasilkan. Dengan menanyakan apakah semuanya ini
telah dilakukan dengan baik dan sesuai dengan rencana, ketentuan dan
prosedur, ataukah malah sebaliknya.
2.1.3 KONSEP DASAR PENDELEGASIAN
Pendelegasian yang baik bergantung pada keseimbangan anatara tiga
komponen utama yaitu tanggung jawab, kemampuan, dan wewenang.
Tanggung jawab (responsibility) adalah sutu rasa tanggung jawab terhadap
penerimaan suatu tugas. Kemampuan (accountibility) adalah kemampuan
seseorang dalam melaksanakan tugas yang didelegasikan. Wewenang
(authority) adalah pemberian hak dan kekuasaan kepada delegasi untuk
mengambil suatu keputusan terhadap tugas yang dilimpahkan.
Lima konsep yang mendasari efektivitas dalam pendelegasian. Lima
konsep tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Pendelegasian bukan suatu sistem untuk mengurangi tanggung jawab .
tetapi suatu cara untuk membuat tanggung jawab menjadi bermakna.
Manager keperawatan sering mendelgasikan tanggung jawab kepada
staf dalam melaksanakan asuhan terhadap pasien. Misalnya dalam
penerapan model asuhan keperawatan profesional primer, seorang
perawat primer (PP) melimpahkan tanggung jawabnya dalam
memberikan asuhan keperawatan kepada perawat pendamping atau
assoaciate (PA). Perawat primer memeberikan tanggung jawab yang
penih dalam merawat pasien yang didelegasikan.
5

b. Tanggung jwab dan otoritas harus didelegasikan secara seimbang.


Perawat primer menyusun tujuan tindakan keperawatan. Tanggung
jawab untuk melaksanakan tuuan atau rencana didelegasikan kepada
satf yang sesuai atau menguasai kasusu yang dilimpahkan.kemudian
PP memberikan wewenang kepada PA untuk mengambil semua
kepputusan yang menyangkut keadaan klien dalam mencapai tujuan
yang telah ditetapkan, proses tersebut harus meliputi :
Pengkajian kebutuhan klien
Identifikasi tugas yang dapat dilaksanakan dengan bantuan

c. Proses

orang lain
Mendidik dn memberikan pelatihan supaya tugas dpat
dilaksanakan dengan aman dan kompeten.
Proses menentukan kompetensi dalam membantu seseorang
Ketersediaan supervisi yang cukup oleh PP
Proses evaluasi yang terus menerus dalam membantu seseorang
Proses komunikasi tentang keadaan pasien antara PP dan PA
pelimpahan membuat seseorang melaksanakan tanggung

jawabnya, mengembangkan wewenang yang dilimpahkan, dan


mengembangkan kemampuan dalam mencpia tujuan organisasi.
Keberhasilan pelimpahan ditentukan oleh :
a. Intervensi keperawatan yang diperlukan
b. Siapa yang siap dan sesuai dalam melaksanakan tugas tersebut
c. Bantuan apa yang diperlukan
d. Hasil apa yang diharapkan
d. Konsep tentang dukungan perlu diberikan kepada semua anggota.
Dukungan yang penting adalah menciptakan suasana yang asertif.
Setelah PA melaksanakan tugas yang dilimpahkan, maka PP harus
menunjukkan rasa percaya kepada PA untuk melaksanakan asuhan
keperawatan secara mandiri. Jika masalah timbul maka PP harus selalu
menanyakn apa yang bisa kita lakukan? empowering meliputi
pemberian wewenang seseorang untuk melaksanakan tugas serta
membangun rasa kebersamaan dan hubungan yang serasi.
e. Seorang delegasi harus terlibat aktif. Ia harus dapat menganilisis
otonomi yang dilimpahkan untuk terlibat aktif. Keterbukaan akan
mempermudah komunikasi antara PP san PA.
2.1.4

METODE PENDELEGASIAN
6

a. Cara bijaksana, yaitu sikap bertanggung jawab penuh dari pemimpin dan
bawahan.Pemimpin melaksanakan pendelegasian serta memberi dukungan,
sementara bawahan siap serta taat kepada pemimpin dalam melaksanakan
tugas/tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.
b. Cara konsistensi, yaitu sikap pasti yang terus-menerus dipertahankan oleh
pemimpin dan bawahan.
c. Efektif dan efisien, yaitu memperhitungkan faktor kualitas dan kuantitas
kerja.
d. Pragmatis dan produktif, yaitu berorientasi kepada hasil atau produksi
tinggi, sesuai dengan perencanaan.
2.1.5. KOMPONEN UTAMA DALAM DELEGASI
A. Delegator
Delegator memiliki wewenang untuk mendelegasikan, karena posisinya di
suatu organisasi dan danmemiliki ijin pemerintah untuk melakukan tugastugas tertentu. kebijakan lembaga menjelaskan bahwa delegator dapat
mendelegasikan tugas dan tanggung jawab (responsibility), tapi tanggung
gugat (accountability) tetap pada delegator.
B. Delegatee
Sebuah delegatee menerima arah untuk apa yang harus dilakukan dari
delegator. Hubungan antara dua individu yang ada dalam lingkungan kerja
atau melalui badan kebijakan. Delegatee memiliki kewajiban untuk
menolak utau menerima tugas-tugas yang diberikan oleh delegator,
kemampuan atau deskripsi pekerjaan.
C. Tugas
Tugas adalah aktivitas yang didelegasikan. Aktivitas yang didelegasikan
umumnya harus sebuah tugas rutin. Tugas-tugas rutin memiliki hasil yang
diprediksi, dan ada metode langkah demi langkah untuk menyelesaikan
tugas. Pengambilan keputusan pada bagian dari delegatee untuk
didelegasikan tugas itu terbatas bagaimana untuk mengatur waktu dan
menyelesaikan tugas dengan berbagai pasien atau variasi dalam peralatan.
D. Klien/ Situasi
Identifikasi klien tertentu atau situasi agar pendelegasikan perawatan
dilakukan untuk memastikan bahwa tujuan untuk perawatan pasien dapat
dipenuhi oleh delegatee. Situasi baru memerlukan orientasi.
2.1.6.
PELAKSANAAN PENDELEGASIAN (Lima benar

untuk

pelaksanaan delegasi ) :
a. Tugas yang benar (Right Task)
7

Salah satu alasan untuk mendelegasikan adalah bahwa masingmasing perawat memiliki waktu terbatas dan energi untuk merawat klien,
Jangan mendelegasikan hanya untuk tugas-tugas yang remeh, karena
pelaksanaan delegasi adalah membagi pekerjaan kepada anak buah
termasuk tugas penting yang sangat menonjol dan juga tugas rutin.
b. Benar Orangnya (Right Person)
Delegasi melibatkan perawat sebagai salah satu delegator atau
delegatee. Tetapkan tujuan perawatan klien tertentu dan kegiatan dengan
orang untuk mempercayakan dengan tanggung-jawab sesuai otoritas
sebuah tantangan.
c. Keadaan yang benar (Right Circumstance)
Situasi untuk didelegasikan perawatan

diperlukan

untuk

memastikan bahwa tujuan untuk perawatan pasien dapat dipenuhi oleh


perawat. Ketika satu perawat merawat satu klien, ada sedikit kebutuhan
untuk mendelegasikan perawatan.
d. Arah/komunikasi yang benar (Right direction/communication)
Komunikasi harus Jelas, akurat, petunjuk yang disampaikan juga
harus jelas dan dimengerti oleh delegatee. komunikasi yang baik sangat
diperlukan dalam pendelegasikan tugas, sebaiknya dijelaskan secara
menyeluruh, agar yang bersangkutan tidak perlu bertanya-tanya dan
melakuakn kesalahan dalam melaksanakan wewenang tersebut.
e. Pengawasan yang benar (Right Supervision)
Pengawasan personil penting untuk memastikan keselamatan dan
kelengkapan perawatan klien. Bila terjadi kesalahan sebaiknya diberikan
umpan balik dalam bentuk saran terbaik dan beri kritik & keluhan.
2.1.7.

WAKTU DAN TEMPAT PENDELEGASIAN


`Di bawah ini merupakan tempat dan waktu pendelegasian dapat
dilaksanakan :

a) Tugas rutin
Tugas rutin seperti wawancara lamaran pekerjaan, tanggung jawab
terhadap masalah-masalah yang kecil, dan menyeleksi surat merupakan
tugas biasa dan dapat didelegasikan kepad staf.
b) Tugas yang tidak mencukupi waktunya
Pendelegasian dapat dilaksanakan pada tugas-tugas tertentu karena
meneger tidak mempunyai cukup waktu untuk mengerjakannya. Tugas-

tugas tersebut akan dilaksanakan oleh meneger jika mempunyai waktu


untuk menyelesaikannya.
c) Penyelesaian masalah
Pendelegasian diberikan dengan tujuan memberikan pengalaman atau
tantangan kepada staf untuk menyelesaikannya. Staf akan termotivasi
apabila mereka menerimanya sebagai suatu tantangan. Oleh karena itu
perlu perhatian dan bimbingan khusus dalam membantu staf untuk
menyelesaikan tugas yng dilimpahkan kepadanya.
d) Peningkatan kemampuan
Pendelagasian ini bertujuan untuk eningktkan kemampuan staf pada tim.
Dengan pengelolaan yang sesuai, pendelegsian akan menjadikan suatu
latihan bagi staf untuk belajar.
e) Kapan pendelegasian tidak diperlukan
Tidak semua jenis tugas dapat dijelaskan. Seorang meneger harus berhatihati dalam mendelegasikan jenis tugas tertentu, yaitu :
Tugas yang terlalu teknis, misalnya jadwal staf dan anggaran yang
merupakan tugas rutin meneger, tetapi terlau teknis dan perlu

keterampian khusus untuk dilaksanakan staf.


Tugas ang berhubungan dengan kepercayaan dan kerahasiaan,
misalnya kerahasiaan suatu informasi dari institusi berhubungan
dengan terjadinya perselingkuhan staf.

Pendelegasian

dapat

mengakibatkan

masalah

jika

tugas

yang

didelegasiakn tidak dilaksanakan sesuai harapan. untuk menghindari kesalahan


tersebut maka meneger mempunyai tanggung jawab sebagai berikut :
1)
2)
3)
4)

Disiplin dalam pemberian wewenang


Bertanggung jawab terhadap pembinaan moral staf
Perlunya suatu kontrol
Hindari kesalahan dalam penyampaian pendelegasian.

2.1.8 WEWENANG YANG DIDELEGASIKAN


a. Pengertian Wewenang
Wewenang (authority) adalah hak untuk melakukan sesuatu atau
memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu

agar tercapai tujuan tertentu (T. Hani Handoko).


Sedangkan menurut
Harold Koontz and

Cyril

ODonnel

pendelegasian wewenang merupakan pokok yang didapat kembali oleh


pemberi wewenang.
9

Hal itu adalah suatu sifat wewenang, si pemilik wewenang (pemimpin)


tidak selamanya menyelesaikannya sendiri kekuasaan ini dengan menyerahkan
wewenang itu. Dengan demikian maka proses Pendelegasian wewenang itu
merupakan hubungan atasan dengan bawahan, merupakan mata rantai yang
terus-menerus bersambung. Seseorang pemimpin baru dapat melakukan
kegiatan atau memerintah setelah ia memperoleh wewenang. Bawahan tidak
akan melakukan kegiatan dalam perusahaan, jika tidak ada perintah dari atasan,
sehingga tidak ada kegiatan dalam perusahaan atau perusahaan tidak dapat
merealisasi tujuannya. Delegation of authority sulit untuk diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia secara tepat, karena dalam Delegation of authority ini
terdapat sifat Du Characteristic. Du Characteristic, artinya pihak bawahan
menerima wewenang dari atasan tetapi pada saat yang sama atasan yang
bersangkutan tetapi memiliki wewenang tersebut. Pemimpin (delegator) tidak
hilang haknya terhadap wewenang yang telah didelegasikan itu.
b. Hirarki Wewenang
Manajer (administrative management)
Yaitu pemimpin yang titik berat pekerjaannya dalam bidang pikiran,
manajerial, fungsi-fungsi manajemen serta menentukan kebijakan,

prosedur yang kan ditempuh untuk mencapai tujuan organisasi.


Pelaksana (operative management)
Yaitu pejabat yang titik pekerjaanya dalam bidang teknis dalam

melaksanakan pekerjaan utnuk mencapai tujuan organisasi.


Interpreter
Yaitu pejabat manajemen yang berperan ganda, artinya pada suatu saat
sebagai administrative management dan pada saat lain sebagai
operative management. Sebab pejabat manajemen ini menterjemahkan
hasil kerja manajer ke dalam bahasa operatif.

Menurut Taiylor, (1993 : 55-66) wewenang yang didelegasikan itu ialah


wewenang yang termasuk :

Pekerjaan rutin

Pekerjaan yang merupakan harus

Pekerjaan yang terlalu banyak

10

Hal-hal yang khusus

Pekerjaan terus menerus sama

Sedangkan wewenang yang tidak boleh didelegasikan yaitu :

Upacara

Menentukan kebijakan

Masalah-masalah personal yang khusus

Krisis

Masalah-masalah rahasia

2.1.9 KEGIATAN DELEGASI WEWENANG


a. Manager perawat / bidan menetapkan dan memberikan tugas dan tujuannya
kepada orang yang diberi pelimpahan kewenangan.
b. Manajer melimpahkan wewenang yang diperlukan untuk mencapai tujuan
c. Perawat yang menerima delegasi memiliki kewajiban dan tanggung jawab
d. Manajer perawat menerima pertanggung jawaban atas hasil yang telah
dicapai.
2.1.10. JENIS PENDELEGASIAN
Dalam bukunya yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective People,
Stephen R. Covey menyatakan bahwa ada 2 jenis pendelegasian, yaitu :
a. Pendelegasian Suruhan (Gofer Delegation)
Pendelegasian suruhan berarti :kejar ini, kejar itu, kerjakan ini, kerjakan
itu, dan beritahu saya ketika sudah selesai. Pendelegasian suruhan
berprinsip pada metode, yaitu semua didikte secara rinci dan spesifik step
by step cara melakukannya. Pendelegasian dengan cara ini banyak
digunakan oleh manager karena mereka berpikir metode yang dilakukan
pasti tidak akan keluar dari jalur, minim kesalahan dan sesuai dengan apa
yang diinginkan. Tapi kelemahannya adalah bahwa mereka tidak
melatih creative thinking anak buah mereka dan bila terjadi kesalahan si
anak buah akan merasa tidak bertanggung jawab kepada hasil yang
didapat.
b. Pendelegasian Pengurusan (Stewardship Delegation)
Pendelegasian pengurusan berfokus pada hasil dan bukan pada metode,
memberikan secara rinci hasil yang diinginkan, bukan memberikan secara
rinci apa yang harus dilakukan. Pendelegasian ini memberi pilihan metode
kepada anak buah dan membuat mereka bertanggung jawab atas hasil.
11

2.1.11. JENIS-JENIS WEWENANG


a. Line authority
Wewenang manajer yang bertanggung jawab langsung, diseluruh rantai
komando organisasi, untuk mencapai sasaran organisasi.
b. Staff authority
Wewenang kelompok individu yang menyediakan sasaran dan jasa kepada
manajer lini.
c. Fungsional authority.
Wewenang anggota staff departemen untuk mengendalikan aktivitas
departemen lain karena berkaitan dengan tanggung jawab staff khusus.
2.1.12. PEDOMAN PELIMPAHAN WEWENANG YANG EFEKTIF
Proses pendelegasian harus didahului dengan informasi yang jelas.
Pendelegasian yang jelas harus mengandung informasi mengenai tujuan
spesifik , target waktu, dan pelaksanaan tindakan keperawatan.
1. Tujuan spesifik
Tujuan yang spesifik dn jelas tidak secara fisik maupun psikis harus jelas
sebagai parameter kepada siapa pendelegasian itu diberikan.
2. Target waktu
Seorang PP atau Ners harus memberikan target waktu dalam memberikan
pendelegasian kepada PA. pada perencanaan keperawatan kepada klien ,
PP harus menuliskan target waktu yang jelas sebagai indikator
keberhasilan ashuan keperawatan.
3. Pelaksanaan tindakan keperawatan
PP harus mengidentifikasi dan

memberikan

petunjuk

intervensi

keperawatan yang sesuai terhadap kebutuhan klien. Tahap pengkajian dan


pengambilan

keputusan

harus

didiskusikan

sebelum

tindakan

dilaksanakan.
2.1.13. PRINSIP DELEGASI
A. PRINSIP UTAMA PENDELEGASIAN
Supervisi dalam praktik keperawatan profesional adalah suatu proses
pemberian berbagai sumber yang dibutuhkan perawat untuk menyelesaikan

12

tugas-tugas dalam mencapai tujuan organisasi. Supervisi dapat dibedakan


menjadi dua kategori, yaitu tugas teknik dan manegerial. Hampir semua tugas
teknis dapat didelegasikan oleh supervisor kepada stafnya. Sementara, tidak
semua tugas menegerial dapat didelegasikan karena memerlukan supervisi dan
pemberian wewenang. Misalnya, staf dalam menyusun suatu perencanaan,
anggaran pembelian, dan kegiatan lainnya tetapi tugas untuk membuat
persetujuan , rekomendasi , pelaksanaan masih merupakan hak dan wewenang
seorang supervisior.
B. PRINSIP SCALAR
Proses scalar adalah mengenai perkembangan rantai perintah yang
menghasilkan pertambahan tingkat tingkat pada struktur organisasi.Proses
skalar dicapai melalui pendelegasian wewenang dan tanggung jawab
C. PRINSIP KESATUAN PERINTAH
Dalam melaksanakan pekerjaan ,karyawan harus memperhatikan prinsip
kesatuan perintah sehingga pelaksanaan kerja dapat dijalankan dengan
baik.Karyawan harus tahu kepada siapa ia harus bertanggung jawab sesuai
dengan wewenang yang diperolehnya.Perintah yang datang dari manajer lain
kepada seorang karyawan akan merusak jalannya wewenang dan tanggung
jawab serta pembagian kerja.
2.1.14. PRINSIP-PRINSIP WEWENANG
Proses pelimpahan wewenang harus mencakup yaitu adanya :
-

Tugas
Kekuasaan
Pertanggung Jawaban.
Wewenang yang didelegasikan harus kepada orang yang tepat
Pelimpahan wewenang harus disertai pemberian motivasi
Adanya hubungan dan pengawasan pada penerima pelimpahan
wewenang.

2.1.15. CARA MELAKUKAN DELEGASI


a. Membuat perencanaan ke depan dan mencegah masalah
b. Menetapkan tujuan dan sasaran yang realistis
c. Menyetujui standar kerja
13

d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

Menyelaraskan tugas dan kewajiban dengan kemampuan bawahan


Memberikan reward atas hasil yang dicapai
Jangan mengambil kembali tugas yang sudah didelegasikan
Membuat perencanaan ke depan dan mencegah masalah
Menetapkan tujuan dan sasaran yang realistis
Menyetujui standar kerja
Menyelaraskan tugas dan kewajiban dengan kemampuan bawahan
Memberikan reward atas hasil yang dicapai
Jangan mengambil kembali tugas yang sudah didelegasikan
Manajer perawat pada seluruh tingkatan dapat menyiapkan tugas-tugas

yang dapat didelegasikan dari eksekutif departemen atau kepala unit,dan dari
kepala unit sampai perawat. Delegasi mencakup kewenangan untuk
persetujuan, rekomendasi atau pelaksanaan.Tugas-tugas seharusnya di samakan
dengan waktu yang diperlukan untuk melaksanakannya dan sebaiknya satu
kewajiban didelegasikan pada satu waktu.
2.1.16. CARA PENDELEGASIAN :
b. Seleksi Dan Susun Tugas
Sediakan waktu yang cukup untuk menyusun daftar tugas-tugas yang
harus dilimpahkan secara rasional dan dapat dilaksanakan oleh staf. Tahap
berikutnya yang harus dikerjakan secara otomatis adalah menyiapkan laporan
yang kontinu, menjawab semua pertanyaan, menyiapkan jadwal berurutan,
memesan alat-alat, presentasi pada komisi yang bertanggung jawab, dan
melaksanakan asuhan keperawatan dan tugas teknis lainnya. Menyusun suatu
daftar secara berurutan dengan dua kriteria, yakni waktu yang diperlukan dan
pentingnya bagi institusi. Hal yang terpenting dalam mendelegasikan tugas
adalah menentukan suatu tugas pendelegasian dan wewenang secara bertahap.
Hal ini akan menghindari terjadinya suatu penyalahgunaan wewenang.
b. Seleksi Orang Yang Tepat
Pilih orang yang sesuai untuk melaksanakan tugas tersebut berdasarkan
kemampuan dan persyaratan lainnya. Tepat atau tidaknya dalam memilih staf
tergantung dari kemampuan meneger mengenal kinerja staf, kelebihan,
kelemahan, dan perilakunya.
Hati-hati terhadap pendelegasian yang berlebihan atau yang terlalu
sedikit. Jika kita memberikan pendelegasian terlalu berlebih maka staf tidak
akan siap untuk menerima keadan tersebut dan akan berdampak terhadap
14

kegagalan staf dalam melaksanakan tanggung jawab ntuk tugas yang pertama
kali diterimanya. Sebaliknya, pendelegasian yang terlalu sedikit akan menjadi
hal yang sangat buruk efeknya terhadap staf maupun institisi. Pendelegasian
jenis ini akan menghabiskan waktu dan sering berakibat terhadap beban bagi
staf.
c. Berikan Arahan Dan Motifasi Bagi Staf
Salah satu kesalahan dalam pendelegasian adalah ketiadaan arahan
yang jelas. Lebih baik pendelegasian dilakukan secara tertulis, dan ajarkan
pula bagaimana melaksankan tugas tersebut. Jika anda sudah siap untuk
memberikan pendelegasian, mka anda harus mampu menjawab pertanyaanpertanyaan sebagai berikut :
a. Apakah saya sudah menjelaskan alasan pendelegasian dan mengpa
tugas ini penting dilakuakan?
b. Apakah semua tugas sudah jelas dalam ingatan kita? Haruskah saya
menuliskan secara rinci?
c. Jika kawabanya ya, dapatkah saya memberikan instruksi dan prosedur
secara rinci terhadap tingkatan pemehaman staf?
d. Apakah tugas yang dilimpahkan dapat memberikan staf kesempatan
untuk berkembang dan memotivasi staf secara tepat?
e. Apakah staf anda sudah mendapatkan latihan, pengalaman, dan
keterampilan yang diperlukan dalam melaksanakan tugas tersebut?
Hal penting dalam pendelegasian adalah kesepakatan antara meneger
keperawatan dan staf mengenai hasil yng diharapkan.
2.1.17. MANFAAT DELEGASI
Melaksanakan

delegasi

tidaklah

mudah.

Pelaksanaan

delegasi

memerlukan waktu, upaya dan motivasi. Jika kita tidak yakin akan adanya
manfaat dalam pelaksanaan delegasi, anda tidak akan termotivasi untuk
melaksanakannya. Berikut ini adalah beberapa keuntungan besar yang dapat
dipertimbangkan :
a. Memiliki lebih banyak waktu untuk melaksanakan fungsi manajerial. Oleh
para

manajer

seharusnya

menjalankan

fungsi

perencanaan,

pengorganisasian, penempatan staf, pengarahan, pengendalian dan inofasi.


Namun sebaliknya, tanpa adanya delegasi mereka akan terperangkap
15

kedalam berbagai pekerjaan yang remeh, mengatasi kesulitan-kesulitan,


menanggapi gangguan, dan memperbaiki kesalahan yang dilakukan oleh
orang lain.
b. Meringankan tekanan. Kebanyakan manajer berorientasi kepada tindakantindakan (action oriented). Mereka lebih senang berada ditengah kegiatan,
lebihsenang bertindak ketimbang mengawasi. Tidak adanya pelaksanaan
delegasi menyebabkan kecendrungan tersebut tidak dapat di kndalikan.
c. Mengembangkan manusia. Pelaksanaan delegasi juga memungkinkan
mereka untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar secara perlahanlahan dalam lingkungan yang penuh pengertian, untuk mempersiapkan
mereka bagi perkembangan lebih lanjut. Pelaksanaan delegasi mendorong
mereka untuk lebih kreatif dan menggunakan bakat yang mereka miliki
untuk mmpraktekkan keterampilan dalam menyelesaikan persoalan.
d. Menciptakan suasana penuh motivasi. Motivasi hanyalah membantu orang
lain untuk meraih apa yang dapat mereka capai. Kaena pelaksanaan
delegasi memerlukan pengetahuan tentang tujuan, kemampuan, dan
keinginan pribadi karyawan, maka akan lebih baik jika manajer dapat
memberikan peluang kepada para individu untuk menonjol dalam bidang
yang sesuai dengan kemampuan mereka khususnya.

2.1.18. ALASAN PENTING NYA PENDELEGASIAN.


Ada alasan delegasi itu diperlukan,di antaranya :
a.

Memungkinkan atasan dapat mecapai lebih dari pada mereka


menangani setiap tugas sendiri

b) Agar organisasi dapat berfungsi lebih efisien


c) Atasan dapat memusatkan tenaga kepada suatu tugas yang lebih
diprioritaskan
d) Dapat mengembangkan keahlihan bawahan sebagai suatu alat
pembelajaran dari kesalahan.
e)

Karena atsan tidak mempunyai kemampuan yang dibutuhkan dalam


pembuatan keputusan.
16

f)

Pendelegasian memungkinkan manajer perawat mencapai hasil yang


lebih baik dari pada semua kegiatan ditangani sendri.

g) Agar organisasi berjalan lebih efisien.


h) Ppendekatan memungkinkan manajer perawatvdapat memusatkan
perhatian terhadap tugas tugas prioritas yang lebih penting.
i)

Dengan pendelegasian,memungkinkan bawahan untuk tumbuh dan


berkembang,bahkan dapat dipergunakan sebagai bahan informasi untuk
belajar dari kesalahan atau kerberhsilan.

2.1.19. KETIDAKEFEKTIFAN DALAM PENDELEGASIAN


Pendelegasian dalam praktik keperawatan profesional sering ditemukan
mengalami masalah, dimana proses pendelegasian tidk dilaksanakan secara
efektif. Ketidakefektifan atau kesalahan yang sering ditemukan dapat
dibedakan menjadi tiga hal, yaitu under-delegation, over-delegation, dan
improper-delegation.
a. Pendelegasian Yang Terlalu Sedikit (Under-Delegation)
Meneger keperawatan sering beramsumsi bahwa jika mereka
melakukannya sendiri,maka akan menjadi lebih baik dan lebih cepat
daripada didelegasikan keoranglain. Misalnya, meneger yang sering
berfikir

saya bisa mengerjakan ini lebih baik, bila staff yang

mengerjakan akan memerlukan waktu yang lama. Keadaan ini


berdampak terhadap proses pendelegasian wewenang, dimana orang
yang menerima tugas hanya diberikan wewenang yang sangat terbatas
dan sering terjadi ketidakjelasan wewenang yang harus dilakukan,
sehingga tugas tersebut tidak dapat diselesaikan dengan baik.
Masalah lain adalah kakhawatiran seseorang bahwa mereka tidak
mampu melakukan seperti apa yang dilakukan staf atau orang yang
didelegasikan, karena tanggung jawab yang diberikan hanya sedikit
dan sering merasa bosan, malas, dan tidak efektif. Pendelegasian yang
tepat akan dapat meningkatkan kepuasaan kerja dan meningkatkan
hubungan yang kondusif antara meneger dan staf.
17

b.

Pendelegasian Yang Berlebihan (Over-Delegation)


Pendelegasian yang berlebihan kepada staf, akan berdampak

terhadap penggunaan waktu yang sia-sia. Hal ini disebabkan karena


keterbatasan meneger untuk memonitor dan menghabiskan waktu
dalam tugas organisasi. Staf akan merasa terbebani dan sering
ditemukan penyalahgunaan wewenang yang diberikan. Mislanya staf
sering bertanya saya tidak tahu apa yang meneger harapkan atau
saya lebih senang bantuan supervisi dari meneger terus-menerus.
c. Pendelegasian Yang Tidak Tepat (Improper- Delegation)
Pendelegasian menjadi tidk efektif bila diberikan kepada orang
yang tidak tepat, karena alasan faktor suka atau tidak suka.
Pendelegasian tersebut tidak akan memperoleh hasil yang baik karena
adanya kecenderungan meneger menilai pekerjaan staf berdasarkan
unsur subjektivitas.
2.1.20. MASALAH PENDELEGASIAN
Dalam pendelegasian, sering kali timbul masalah yang bersumber
pada fakta berikut :

Tugas yang didelegasikan terlampau banyak, atau terlalu sedikit,

yang dalam kenyataannya tidak sesuai dengan kapasitas bawahan.


Tidak ada pelatihan bagi tugas, baik pelatihan tugas, atau latihan di

dalam tugas ("in-service training").


Informasi yang kabur. Yang bersumber dari pemimpin yang
"kurang jelas" dalam berkomunikasi dengan para bawahan, atau
gengsi dari bawahan, yang walaupun tidak memahami suatu

informasi, tetapi malu untuk bertanya.


Komando dari atas yang datang dari dua sumber yang berbeda. Ini
menciptakan kebingungan bagi dan di antara para bawahan yang
dihadapkan dengan pertanyaan, "perintah yang mana yang harus

dituruti?"
Bawahan tidak mengerti nilai dari tugas yang diinformasikan.
Apakah tugas tersebut sangat mendesak karena bernilai primer atau
dapat ditunda karena sifatnya yang kurang penting, dsb.

18

Harapan pemimpin yang berlebihan, tanpa mengetahui dengan

jelas akan kemampuan para bawahannya dengan pasti.


Motivasi dan harapan para bawahan yang bersifat kompleks
terhadap pemimpin, tugas, imbalan, situasi/kondisi, dsb.

2.2. SUPERVISI
2.2.1. PENGERTIAN SUPERVISI
Kron T.(1987), supervisi adalah merencanakan, mengarahkan,
membimbing, mengajar, mengobservasi, mendorong dan memperbaiki,
mempercayai, mengevaluasi secara terus-menerus pada setiap tenaga
keperawatan dengan sabar, adil serta bijaksana sehingga setiap tenaga
keperawatan dapat memberikan asuhan keperawatan dengan baik, trampil,
aman, cepat dan tepat secara menyeluruh sesuai dengan kemampuan dan
keterbatasan yang mereka miliki.
Supervisi adalah melakukan pengamatan secara langsung dan berkala
oleh atasan terhadap pekerjaan yang dilaksanakan oleh bawahan untuk
kemudian apabila ditemukan masalah, segera diberikan petunjuk atau bantuan
yang bersifat langsung guna mengatasinya (Page S.,& Wosket, 2000).
Dalam kegiatan supervisi semua orang yang terlibat bukan sebagai
pelaksana pasif, namun secara bersama sebagai mitra kerja yang memiliki
ide-ide, pendapat, dan pengalaman yang perlu didengar, dihargai, dan
diikutsertakan dalam usaha perbaikan proses kegiatan termasuk proses
keperawatan. Dengan demikian, supervisi merupakan suatu kegiatan dinamis
yang mampu meningkatkan motivasi dan kepuasan di antara orang-orang
yang terlibat baik pimpinan, anggota, maupun klien dan keluarganya
(Arwani, 2005).
Dalam pelaksanaannya, supervisi bukan hanya apakah seluruh staf
keperawatan menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan
instruksi atau ketentuan yang telah digariskan, tetapi juga bagaimana
memperbaiki proses keperawatan yang sedang berlangsung (Suyanto, 2008).
2.2.2. TUJUAN SUPERVISI

19

Tujuan supervisi diarahkan pada kegiatan, mengorientasikan staf dan


pelaksana keperawatan, memberikan arahan dalam pelaksanaan kegiatan
sebagai upaya untuk menimbulkan kesadaran dan mengerti akan peran dan
fungsinya sebagai staf dan difokuskan pada kemampuan staf dan pelaksanaan
keperawatan dan memberikan asuhan keperawatan (Gillies, 1996).
Swansburg & Swansburg (1999) menyatakan bahwa tujuan supervisi
keperawatan antara lain:

Memperhatikan anggota unit organisasi disamping itu area kerja dan

pekerjaan itu sendiri.


Memperhatikan rencana, kegiatan dan evaluasi dari pekerjaannya.
Meningkatkan kemampuan pekerjaan melalui orientasi, latihan dan
bimbingan individu sesuai kebutuhannya serta mengarahkan kepada
kemampuan ketrampilan keperawatan.
Tujuan dalam supervisi kinerja perawat dalam pendokumentasian

adalah peningkatkan

ketrampilan dalam pendokumentasian asuhan

keperawatan. Hasil akhir yang dicapai adalah meningkatnya kepuasan kerja


perawat dan kualitas layanan (Muncul-Wiyana,2008).
Tujuan pokok dari supervisi ialah menjamin pelaksanaan berbagai
kegiatan yang telah direncanakan secara benar dan tepat, dalam arti lebih
efektif dan efesien, sehingga tujuan yang telah ditetapkan organisasi dapat
dicapai dengan memuaskan (Suarli & Bachtiar, 2008).
2.2.3. FUNGSI DAN MANFAAT SUPERVISI
a. FUNGSI SUPERVISI
Untuk mengatur dan mengorganisasi proses pemberian pelayanan
keperawatan yang menyangkut pelaksanaan kebijakan pelayanan

keperawatan tentang staf dan SOP.


Menilai dan memperbaiki factor-faktor yang mempengaruhi proses

pemberian pelayanan asuhan keperawatan.


Briggs, mengungkapkan bahwa fungsi utama supervisi dalam
keperawatan ialah mengkoordinasi, menstimuli dan mendorong

kearah peningkatan kwalitas asuhan keperawatan.


b . MANFAAT SUPERVISI
Muninjaya (1999) mengemukakan bahwa melalui

pelaksanaan

supervise yang tepat, organisasi akan memperoleh manfaat yakni,


20

1) dapat mengetahui sejauh mana kegiatan program sudah dilaksanakan


oleh staf, apakah sesuai dengan standar atau rencana kerja, apakah
sumber dayanya (staf, sarana, dana dan sebagainya) sudah digunakan
sesuai dengan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini, fungsi
pengawasan dan pengendalian bermanfaat untuk meningkatkan
efisiensi kegiatan program.
2) dapat mengetahui adanya penyimpangan pada pemahaman staf
melaksanakan tugas-tugasnya. Jika hal ini diketahui, pimpinan
organisasi akan memberikan pelatihan lanjutan bagi stafnya. Latihan
staf digunakan untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan dan
keterampilan staf yang terkait dengan tugas-tugasnya,
3) dapat mengetahui apakah waktu dan sumber daya lainnya mencukupi
kebutuhan dan telah dimanfaatkan secara efisien,
4) dapat mengetahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan,
5) dapat mengetahui staf yang perlu diberikan penghargaan,
dipromosikan atau diberikan pelatihan lanjutan.
Apabila supervisi dapat dilakukan dengan baik, akan diperoleh
banyak manfaat. Manfaat tersebut diantaranya adalah sebagai berikut
(Suarli & Bachtiar, 2009) :
1) Supervisi dapat meningkatkan efektifitas kerja. Peningkatan efektifitas
kerja ini erat hubungannya dengan peningkatan pengetahuan dan
keterampilan bawahan, serta makin terbinanya hubungan dan suasana
kerja yang lebih harmonis antara atasan dan bawahan.
2) Supervisi dapat lebih meningkatkan efesiensi kerja. Peningkatan
efesiensi kerja ini erat kaitannya dengan makin berkurangnya
kesalahan yang dilakukan bawahan, sehingga pemakaian sumber daya
(tenaga, harta dan sarana) yang sia-sia akan dapat dicegah.
2.2.4. SASARAN SUPERVISI
Secara Umum Sasaran yang harus dicapai dalam supervisi adalah
sebagai berikut:
- Pelaksanan tugas sesuai dengan pola
- Struktur dan hirarki sesuai dengan rencana
- Staf yang berkualitas dapat dikembangkan secara kontinue/sistematis
- Penggunaan alat yang efektif dan ekonomis.
- Sistem dan prosedur yang tidak menyimpang
- Pembagian tugas, wewenang ada pertimbangan objek/rational
21

Tidak terjadi penyimpangan/penyelewengan kekuasaan, kedudukan


dan keuangan.
Arwani (2005) mengemukakan bahwa supervisi yang dilakukan

memiliki sasaran dan target tertentu yang akan dicapai. Setiap sasaran dan
target dilaksanakan sesuai dengan pola yang disepakati berdasarkan struktur
dan hierarki tugas.
Sasaran yang menjadi target dalam kegiatan supervise adalah
terbentuknya staf yang berkualitas dan berkesinambungan, penggunaan alat
yang efektif dan ekonomis, tersedianya sistem dan prosedur yang tidak
menyimpang, adanya pembagian tugas dan wewenang yang proporsional,
dan tidak terjadinya penyelewengan kekuasaan, kedudukan, dan keuangan.
Sasaran atau objek dari supervisi adalah pekerjaan yang dilakukan oleh
bawahan, serta bawahan yang melakukan pekerjaan (Suarli dan Yanyan,
2009; Depkes, 2008).
2.2.5. MODEL-MODEL SUPERVISI
Model supervisi diterapkan dalam kegiatan supervisi antara lain
(Suyanto, 2008):
a. Model konvensional
Model supervisi dilakukan melalui inspeksi langsung untuk
menemukan

masalah

dan

kesalahan

dalam

pemberian

asuahan

keperawatan. Supervisi dilakukan untuk mengoreksi kesalahan dan


memata-matai staf dalam mengerjakan tugas. Model ini sering tidak adil
karena hanya melihat sisi negatif dari pelaksanaan pekerjaan yang
dilakukan para perawat pelaksana sehingga sulit terungkap sisi positif, halhal yang baik ataupun keberhasilan yang telah dilakukan.
b. Model ilmiah
Supervisi dilakukan dengan pendekatan yang sudah direncanakan
sehingga tidak hanya mencari kealahan atau masalah saja. Oleh karena itu
supervisi yang dilakukan dengan model ini memilki karasteristik sebagai
berikut yaitu, dilakukan secaraberkesinambungan, dilakukan dengan

22

prosedur, insrument dan standar supervisi yang baku, menggunakan data


yang objektif sehingga dapat diberikan umpan balik dan bimbingan.
c.

Model Klinis
Supervisi model klinis bertujuan untuk membantu perawat

pelaksana dalam mengembangkan profesionalisme sehingga penampilan


dan kinerjanya dalam pemberian asuahn keperawatan meningkat.
Supervisi dilakukan secara sistematis melalui pengamatan pelayanan
keperawatan

yang

diberikan

oleh

seorang

perawat

selanjutnya

dibandingkan dengan standar keperawatan.


d. Model artistic
Supervisi model artistic dilakukan dengan pendekatan personal
untuk menciptakan rasa aman sehingga supervisor dapat diterima oleh
perawat pelaksana yang disupervisi. Dengan demikian akan tercipta
hubungan saling percaya sehingga hubungna antara perawat dan
supervisor akan terbuka dam mempermudah proses supervisi.
2.2.6. PERAN SUPERVISI
Menurut Bowe dan Deas Lore, dikutip Yuslis ( 1995), menyatakan
peranan supervisor dalam keperawatan menitik beratkan kepada perencanaan,
pelaksanaan tugas, pelimpahan tanggung jawab, memberi kesempatan pada
staf untuk dapat menyelesaikan tugasnya sesuai dengan standar asuhan
keperawatan, memberi support, mempertahankan kebersamaan.
Olivia (1976) mengatakan bahwa peranan supervisor adalah koordinator,
konsultan, pemimpin kelompok evaluator.
Secara umum peranan supervisor dalam keperawatan adalah leader,
koordinator, pembantu/pelayan, pelatih, pembimbing, evaluator, peneliti dan
inspektur.
2.2.7. KARAKTERISTIK SUPERVISI KEPERAWATAN
Dalam keperawatan, supervisi yang baik apabila memiliki karekteristik :
1)
2)
3)
4)

Mencerminkan kegiatan asuhan keperawatan yang sesungguhnya.


Mencerminkan pola organisasi/struktur organisasi keperawatan yang ada.
Kegiatan yang berkesinambungan yang teratur atau berkala.
Dilaksanakan oleh atasan langsung (Kepala unit/Kepala Ruangan atau
penanggung jawab yang ditunjuk).
23

5) Menunjukkan kepada kegiatan perbaikan dan peningkatan kualitas asuhan


keperawatan.

2.2.8. PRINSIP SUPERVISI KEPERAWATAN


Menurut Keliat (1993) prinsip supervisi keperawatan adalah sebagai
berikut:
a) Supervisi dilakukan sesuai dengan struktur organisasi RS.
b) Supervisi memerlukan pengetahuan dasar manajemen, ketrampilan
hubungan

antar

manusia,

kemampuan

menerapkan

prinsip

manajemen dan kepemimpinan.


c) Fungsi supervisi diuraikan dengan jelas dan terorganisir dan
dinyatakan melalui petunjuk, peraturan dan kebijakan dan uraian
tugas standar.
d) Supervisi adalah proses kerjasama yang demokratis antara supervisor
dan perawat pelaksana.
e) Supervisi menggunakan proses manajemen termasuk menerapkan
misi, falsafah, tujuan dan rencana yang spesifik untuk mencapai
tujuan.
f) Supervisi menciptakan lingkungan yang mendukung komunikasi
efektif, merangsang kreativitas dan motivasi.
Prinsip-prinsip supervisi keperawatan dijelaskan oleh beberapa ahli
sebagai sebagi berikut: didasarkan atas hubungan profesional dan bukan
pribadi, hubungan profesional disini adalah hubungan saling percaya, hal ini
dijelaskan oleh (Bernard dan Jenine, 1998) untuk menjadi konselor dalam hal
ini supervisor harus mampu meyakinkan orang lain. Kegiatan profesional dan
bukan suatu cara mengekploitasi hubungan dalam rangka menemukan
kebutuhan diri sendiri dan orang lain.
Kegiatan yang direncanakan secara matang merupakan kegiatan
supervisi yang berkaitan dengan rencana yang mencakup metode siapa yang
melakukan, kapan dilakukan, rencana biaya, serta peralatan yang diperlukan.
Selain itu supervisi bersikap edukatif, sportif dan informal. Supervisi
24

ditekankan pada perencanaan yang memperhatikan tujuan bekerja bagi


pelaksana, menulis catatan khusus, pembahasan kasus dan meminta umpan
balik pada pelaksana (Bernard dan Jenine, 1998).
Hal tersebut diatas dapat membantu pelaksana untuk memahami
maksud yang tekandung pada aktifitas tersebut diatas yang meliputi edukatif,
supportif, dan informal. Supervis juga memberikan perasaan aman pada staf
dan perawat pelaksana (Bernard dan Jenine, 1998). Pada bahasa awal supervisi
kelompok, supervisor harus memperhatikan dan memelihara emosi karena
pada fase ini anggota kelompok mudah menjadi emosi. Oleh karena itu
menjadi tanggung jawab supervisor untuk memelihara agar tercipta perasaan
aman pada anggota kelompok.
2.2.9. TEKNIK SUPERVISI
Supervisi dalam keperawatan memerlukan teknik khusus dan bersifat
klinis. Menurut Swansburg (2000), supervisi dalam keperawatan mencakup
hal-hal di bawah ini.
1. Proses supervisi dalam praktik keperawatan meliputi tiga elemen
yaitu:
a. Pertama, standar praktik keperawatan sebagai acuan.
b. Kedua, fakta pelaksanaan praktik keperawatan sebagai
pembanding

dalam

menetapkan

pencapaian

atau

kesenjangan dan tindak lanjut.


c. Ketiga,

upaya

mempertahankan

kualitas

maupun

upayamemperbaiki.
2. Area yang disupervisi
Area supervisi dalam keperawatan mencakup pegetahuan dan
pengertian tentang tugas yang dilaksanakan, keterampilan yang
dilakukan yang disesuaikan dengan standar, sikap dan
penghargaan terhadap pekerjaan misalnya kunjungan empati.

25

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
pendelegasian secara sederhana adalah menyelesaikan tugas melalui
orang lain atau mengarahkan tugas kepada satu orang atau lebih untuk
mencapai tujuan organisasi. Namun, definisi yang lebih komplek dari
pendelegasian, superfisi, dan penugasan telah dibuat oleh American Nurses
Association (ANA) dan National Council of State Boards of Nursing
(NCBSN) sebagai respon terhadap adanya kompleksitas pendelegasian di area
pelayanan kesehatan dewasa ini, yaitu meningkatnya jumlah pekerja, yang
relative tidak terlatih dan tidak memilik izin, yang merawat pasien secara
langsung.
Supervisi adalah melakukan pengamatan secara langsung dan berkala
oleh atasan terhadap pekerjaan yang dilaksanakan oleh bawahan untuk
kemudian apabila ditemukan masalah, segera diberikan petunjuk atau bantuan
yang bersifat langsung guna mengatasinya (Page S.,& Wosket, 2000).
3.2. SARAN
Sebagai seorang calon perawat yang nantinya akan bekerja di suatu
institusi Rumah Sakit tentunya kita akan dihadapkan kepada berbagai persoalan,
termasuk terjadinya pelimpahan weweang dalam pemberian asuhan keperawatan
kepada pasien antara seorang perawat primer kepada perawat sekunder, maka agar
hal tersebut dapat berjalan dengan lancar maka diperlukan pemahaman kita semua
mengenai pendelegasian keperawatan.
Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan
dan kesalahan dalam tulisan maupun penyusunannya, karena selain penulis masih
dalam tahap belajar, penulis juga manusia biasa yang tidak akan lepas dari salah

26

dan dosa. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran konstruktif
pembaca demi perbaikan penyusunan makalah kami selanjutmya.

DAFTAR PUSTAKA
Nursalam (2002) Manajemen Keperawatan; Aplikasi pada praktek perawatan
profesional, Salemba Medika, Jakarta
Brown, Montague. 1997. Manajemen Perawatan Kesehatan. Jakarta : EGC
Kuntoro, Agus. 2010. Buku Ajar Manajemen Keperawatan. Yogyakarta : Nuha
Medika
Potter dan Perry. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC
www.google.com//pendelegasian dalam keperawatan
www.google.com//supervisi keperawatan
Suarli dan Bahtiar, Yanyan. 2002. Manajemen Keperawatan. Jakarta :
Erlangga
Nursalam, 2002. Manajemen Keperawatan : Aplikasi Dalam Praktik
Keperawatan Profesional. Jakarta : Salemba Medika.
Nursalam, 2007. Manajemen Keperawatan : Aplikasi Dalam Praktik
Keperawatan Profesional. Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika.
Gillies, 19VIII9. Managemen Keperawatan Suatu pendekatan Sistem, Edisi
Terjemahan. Alih Bahasa Dika Sukmana dkk. Jakarta.
FKp, 2009. Buku Panduan Manajemen Keperawatan : Program Pendidikan
Ners. Surabaya.
Douglass (1992), The effective nurse ; leader and manager 4th, St Lonis,
Masby Year Book.
Kron and Gray (1987), The management of patient care putting leadership
skills to work. 6th ed.W.B.Sounders,Philadelphia.

27