Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pelayanan keperawatan merupakan pelayanan utama dari pelayanan rumah sakit.
Hal ini terjadi karena pelayanan keperawatan diberikan selama 24 jam kepada pasien
yang membutuhkannya, berbeda dengan pelayanan medis dan pelayanan kesehatan
lainnya yang hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat dalam memberikan
pelayanan kesehatan kepada kliennya. Dengan demikian pelayanan keperawatan perlu
ditingkatkan kualitasnya secara terus-menerus dan berkesinambungan sehingga pelayanan
rumahsakit akan meningkat juga seiring dengan peningkatan kualitas pelayanan
keperawatan. (Ritizza, 2013)
Kualitas pelayanan keperawatan sangat dipengaruhi oleh proses, peran dan fungsi
dari manajemen pelayanan keperawatan, karena manajemen keperawatan adalah suatu
tugas khusus yang harus dilaksanakan oleh manajer/ pengelola keperawatan yang
meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan serta mengawasi sumber-sumber
yang ada, baik sumber daya maupun sumber dana sehingga dapat memberikan pelayanan
keperawatan yang efektif dan efisien baik kepada klien, keluarga dan masyarakat.
(Donny, 2014)
Mengingat pentingnya peranan manajemen pelayanan keperawatan, maka dalam
makalah ini penulis akan menguraikan tentang pengertian, proses, dimensi, penilaian,
strategi, indikator, standar, dan peran dalam menejemen mutu pelayanan keperawatan
sehingga dapat menggambarkan bagaimana manajemen keperawatan yang bermutu
seharusnya dilaksanakan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian mutu ?
2. Apa pengertian mutu pelayanan kesehatan?
3. Apa dimensi mutu asuhan keperawatan?
4. Apa saja Ciri mutu asuhan keperawatan
5. Apa pengertian standar ?
6. Apa tujuan SAK ( Standar Asuhan Keperawatan ) : SK Dirjen Yanmed :
YM.00.03.2.6.7637/1993) ?
7. Apa saja Komponen SAK ( Standar I-IV )
8. Apa Pelaksanaan Evaluasi Penerapan SAK : Instrumen A,B,C ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian mutu ?
2. Untuk mengetahui pengertian mutu pelayanan kesehatan?
3. Untuk mengetahui dimensi mutu asuhan keperawatan?
4. Untuk mengetahui Ciri mutu asuhan keperawatan
5. Untuk mengetahui pengertian standar ?
6. Untuk mengetahui tujuan SAK ( Standar Asuhan Keperawatan ) : SK Dirjen
Yanmed : YM.00.03.2.6.7637/1993) ?
7. Untuk mengetahui Komponen SAK ( Standar I-IV )
8. Untuk mengetahui Pelaksanaan Evaluasi Penerapan SAK : Instrumen A,B,C ?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Mutu


Mutu merupakan gambaran total sifat dari suatu produk atau jasa pelayanan yang
berhubungan dengan kemampuannya untuk memberikan kebutuhan kepuasan.(American
society for quality control). Mutu adalah fitness for use atau kemampuan kecocokan
penggunaan.(J.M. Juran, 1989).
Azwar (1996) menjelaskan bahwa mutu adalah tingkat kesempurnaan dari
penampilan sesuatu yang sedang diamati dan juga merupakan kepatuhan terhadap
standar yang telah ditetapkan, sedangkan Tappen (1995) menjelaskan bahwa mutu adalah
penyesuaian terhadap keinginan pelanggan dan sesuai dengan standar yang berlaku serta
tercapainya tujuan yang diharapkan.
Mutu adalah tingkat kesempurnaan dari penampilan sesuatu yang sedang dialami
dan juga merupakan kepatuhan terhadap standar yang tlah ditetapkan Azwar (1996).
Mutu adalah kepatuhan terhadap standar yang telah ditetapkan (Crosby, 1984 dalm
djuhaeni, 1999)
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa mutu adalah suatu kondisi
yang menggambarkan tingkat kesempurnaan dari penampilan suatu produk yang berupa
barang atau jasa yang dibuat berdasarkan standar yang telah ditetapkan guna

menyelesaikan dengan keinginan pelanggan , yang tujuan akhirnya adalah terciptanya


kepuasan pelanggan
2.2 Pengertian Mutu Pelayanan Kesehatan
1. Pengertian
Pengertian mutu pelayanan kesehatan bersifat multi-dimensional yang
berarti mutu dilihat dari sisi pemakai pelayanan kesehatan dan penyelenggara
pelayanan kesehatan (Azwar, 1996)
a. Dari pihak pemakai jasa pelayanan, mutu berhubungan erat dengan
ketanggapan dan keterampilan petugas kesehatan dalam memenuhi kebutuhan
klien. komunikasi, keramahan dan kesungguhan juga termasuk didalamnya.
b. Dari pihak penyelenggara pelayanan kesehatan, mutu berhubungan dengan
dokter, paramedis, derajat mutu pemakaian dan playanan yang sesuai dengan
perkembangan teknologi.
Menurut Departemen Kesehatan RI (1998), mutu pelayanan didefinisikan
sebagai suatu hal yang menunjukkan kesempurnaan pelayanan kesehatan, yang
dapat menimbulkan kepuasan klien sesuai dengan tingkat kepuasan penduduk, serta
pihak lain, pelayanan yang sesuai dengan kode etik dan standard pelayanan yang
professional yang telah ditetapkan.
Tappen (1995) menjelaskan bahwa mutu adalah penyesuaian terhadap
keinginan pelanggan dan sesuai dengan standar yang berlaku serta tercapainya
tujuan yang diharapkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa mutu pelayanan
kesehatan sesuatu hal yang dapat meningkatkan kepuasan dan kenyamanan klien
dengan menyelenggarakan sebuah pelayanan yang optimal sesuai dengan kode etik
dan standard pelayanan professional yang berlaku serta selalu menerapkan
pelayanan yang dinamis berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Berdasarkan penjelasan mengenai mutu dan pelayanan keperawatan di atas,
maka Mutu Pelayanan Keperawatan dapat merupakan suatu pelayanan keperawatan
yang komprehensif meliputi bio-psiko-sosio-spiritual yang diberikan oleh perawat
profesional kepada pasien (individu, keluarga maupun masyarakat) baik sakit
maupun sehat, dimana perawatan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien
dan standar pelayanan.

2. Strategi Mutu Pelayanan Keperawatan


a. Quality Assurance (Jaminan Mutu)
Quality Assurance mulai digunakan di rumah sakit sejak tahun 1960-an
implementasi pertama yaitu audit keperawatan. Strategi ini merupakan program
untuk mendesain standar pelayanan keperawatan dan mengevaluasi pelaksanaan
standar tersebut (Swansburg, 1999).
Sedangkan menurut Wijono (2000), Quality Assurance sering diartikan
sebagai menjamin mutu atau memastikan mutu karena Quality Assurance
berasal dari kata to assure yang artinya meyakinkan orang, mengusahakan
sebaik-baiknya, mengamankan atau menjaga. Dimana dalam pelaksanaannya
menggunakan teknik-teknik seperti inspeksi, internal audit dan surveilan untuk
menjaga mutu yang mencakup dua tujuan yaitu : organisasi mengikuti prosedur
pegangan kualitas, dan efektifitas prosedur tersebut untuk menghasilkan hasil
yang diinginkan.
Dengan demikian quality assurance dalam pelayanan keperawatan
adalah kegiatan menjamin mutu yang berfokus pada proses agar mutu pelayanan
keperawatan yang diberikan sesuai dengan standar. Dimana metode yang
digunakan adalah :
1) Audit internal dan surveilan untuk memastikan apakah proses
pengerjaannya (pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasien)
telah sesuai dengan standar operating procedure (SOP)
2) .Evaluasi proses
3) Mengelola mutu
4) Penyelesaian masalah. Sehingga sebagai suatu system (input, proses,
outcome), menjaga mutu pelayanan keperawatan difokuskan hanya pada
satu sisi yaitu pada proses pemberian pelayanan keperawatan untuk
menjaga mutu pelayanan keperawatan

b. Continuous Quality Improvement (Peningkatan Mutu Berkelanjutan)


Continuous Quality Improvement dalam pelayanan kesehatan merupakan
perkembangan dari Quality Assurance yang dimulai sejak tahun 1980-an.
Menurut Loughlin dan Kaluzny (1994, dalam Wijono 2000) bahwa ada perbedaan
sedikit yaitu Total Quality Management dimaksudkan pada program industry
sedangkan Continuous Quality Improvement mengacu pada klinis. Wijonon
(2000) mengatakan bahwa Continuous Quality Improvement itu merupakan upaya

peningkatan mutu secara terus menerus yang dimotivasi oleh keinginan pasien.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu yang tinggi dalam pelayanan
keperawatan yang komprehensif dan baik, tidak hanya memenuhi harapan aturan
yang ditetapkan standar yang berlaku.
Pendapat lain dikemukakan oleh Shortell dan Kaluzny (1994) bahwa
Quality Improvement merupakan manajemen filosofi untuk menghasilkan
pelayanan yang baik. Dan Continuous Quality Improvement sebagai filosofi
peningkatan mutu yang berkelanjutan yaitu proses yang dihubungkan dengan
memberikan pelayanan yang baik yaitu yang dapat menimbulkan kepuasan
pelanggan (Shortell, Bennett dan Byck, 1998).
Sehingga dapat dikatakan bahwa Continuous Quality Improvement
dalam keperawatan adalah upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan
keperawatan secara terus menerus yang memfokuskan mutu pada perbaikan mutu
secara keseluruhan dan kepuasan pasien. Oleh karena itu perlu dipahami
mengenai karakteristik-karakteristik yang dapat mempengaruhi mutu dari
outcome yang ditandai dengan kepuasan pasien.

c. Total quality manajemen (TQM)


Total Quality Manajemen (manajemen kualitas menyeluruh) adalah
suatu cara meningkatkan performansi secara terus menerus pada setiap level
operasi atau proses, dalam setiap area fungsional dari suatu organisasi, dengan
menggunakan semua sumber daya manusia dan modal yang tersedia dan berfokus
pada kepuasan pasien dan perbaikan mutu menyeluruh. (Windy, 2009)

2.3 Dimensi Mutu Asuhan Keperawatan


Lima dimensi mutu pelayanan (Service Quality), terdiri dan:
a. Wujud nyata (tangibles)
adalah wujud Iangsung yang meliputi fasilitas fisik, yang mencakup
kemutahiran peralatan yang digunakan, kondisi sarana, kondisi SDM perusahaan dan
keselarasan antara fasilitas fisik dengan jenis jasa yang diberikan.
b. Kehandalan (reliability)
adalah aspek-aspek keandalan system pelayanan yang diberikan oleh pemberi
jasa yang meliputi kesesuaian pelaksanaan pelayanan dengan rencana kepedulian
perusahaan kepada permasalahan yang dialami pasien, keandalan penyampaian jasa

sejak awal, ketepatan waktu pelayanan sesuai dengan janji yang dibenikan,keakuratan
penanganan.
c. Ketanggapan (responsiveness)
adalah keinginan untuk membantu dan menyediakan jasa yang dibutuhkan
konsumen. Hai ini meliputi kejelasan informasi waktu penyampaian jasa, ketepatan
dan kecepatan dalam pelayanan administrasi, kesediaan pegawai dalam membantu
konsumen, keluangan waktu pegawai dalam menanggapi permintaan pasien dengan
cepat.
d. Jaminan (assurance)
adalah adanya jaminan bahwa jasa yang ditawarkan memberikan jaminan
keamanan yang meliputi kemampuan SDM, rasa aman selama berurusan dengan
karyawan, kesabaran karyawan, dan dukungan pimpinan terhadap staf. Dimensi
kepastian atau jaminan ini merupakan gabungan dari dimensi :
1) Kompetensi (Competence), artinya keterampilan dan pengetahuan yang
dimiliki oleh para karyawan untuk melakukan pelayanan
2) Kesopanan (Courtesy), yang meliputi keramahan, perhatian dan sikap para
karyawan
3) Kredibilitas (Credibility), meliputi hal-hal yang berhubungan dengan
kepercayaan kepada perusahaan, seperti reputasi, prestasi dan sebagainya.
e. Empati (empathy),
berkaitan dengan memberikan perhatian penuh kepada konsumen yang
meliputi perhatian kepada konsumen, perhatian staf secara pribadi kepada konsumen,
pemahaman akan kebutuhan konsumen, perhatian terhadap kepentingan, kesesuaian
waktu pelayanan dengan kebutuhan konsumen. Dimensi empati ini merupakan
penggabungan dari dimensi :
1) Akses (Acces), meliputi kemudahan untuk memafaatkan jasa yang ditawarkan
2) Komunikasi (Communication), merupakan kemapuan melaukan komunikasi
untuk menyampaikan informasi kepada pelanggan atau memperoleh masukan
dari pelanggan
3) Pemahaman kepada pelanggan (Understanding the Customer), meliputi usaha
perusahaan untuk mengetahui dan memahami kebutuhan dan keinginan
pelanggan
2.4 Ciri Mutu Asuhan Keperawatan
Ciri-ciri mutu keperawatan yang baik antara lain:
1. memenuhi standar profesi yang ditetapkan,
2. sumber daya untuk pelayanan asuhan keperawatan dimanfaatkan secara wajar,
efisiensi dan efektif,
3. aman bagi pasien dan tenaga keperawatan sebagai pemberi jasa pelayanan,
4. memuaskan bagi pasien dan tenaga keperawatan serta,

5. aspek sosial, ekonomi, budaya, agama, etika dan tata nilai masyarakat
diperhatikan dan dihormati.
Disamping itu prasyarat untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan antara lain:
1. Pimpinan yang peduli dan mendukung,
2. Ada kesadaran bahwa mutu harus ditingkatkan (standar mutu),
3. Tenaga keperawatan disiapkan melalui upaya peningkatan pengetahuan, sikap
dan keterampilan dengan cara diadakan program diklat,
4. Sarana, perlengkapan dan lingkungan yang mendukung serta,
5. Tersedia dan diterapkannya Standar Asuhan Keperawatan.
2.5 Pengertian Standar
Standar asuhan keperawatan adalah uraian pernyataan tingkat kinerja yang
diingikan, sehingga kualitas struktur, proses dan hasil dapat dinilai. Standar asuhan
keperawatan berarti pernyataan kualitas yang diinginkan dan dapat dinilai pemberian
asuhan keperawatan terhdapa pasien atau klien. Hubungan antara kualitas dan standar
menjadi dua hal yang saling terkait erat, karena melalui standar dapat di kuantifikasi
sebagai pelayanan meningkat dan memburuk (wilkinson,2006).
Sumber standar dalam asuhan keperawatan berupa standar yang dibuat oleh
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Departemen Kesehatan RI, rumah sakit,
Undang-Undang, Keppres, peraturan pemerintah. Tujuan standar keperawatan adalah
meningkatkan kualitas asuhan keperawatan, mengurangi biaya asuhan keperawatan,
melindungi perawat dari kelalaian dalam melaksanakan tugas dan melindungi pasien dari
tindakan yang tidak terapeutik.
Tujuan dan manfaat standar asuhan keperawatan pada dasarnya mengukur
kualitas asuhan kinerja perawat dan efektivitas manajemen organisasi. Dalam
pengembangan standar menggunakan pendekatan dan kerangka kerangka kerja yang
lazim sehingga dapat ditata siapa yang bertanggung jawab mengembangkan standar
bagaimana proses pengembangan tersebut. Standar asuhan berfokus pada hasil pasien
standar praktik berorientasi pada kinerja perawat profesional untuk memberdayakan
proses keperawatan. Standar finansial juga harus dikembangkan dalam pengelolaan
keperawatan sehingga dapat bermanfaat bagi pasien, profesi perawat dan organisasi
pelayanan (kawonal,2000).
Setiap hari perawat bekerja sesuai standar standar yang ada seperti merancang
kebutuhan dan jumlah tenaga berdasarkan volume kerja, standar pemerataan dan
distribusi pasien dalam unit khusus, standar pendidikan bagi perawat profesional

sebagaipersyaratan agar dapat masuk dan praktek dalam tatanan pelayanan keperwatan
profesional (supardi,2005).
Dalam penilian kualitas pelayanan asuhan keperawatan kepada pasien
digunakan standar praktik keperawatan yang merupakan pedoman bagi perawat dalam
melaksanakan asuhan keperawatan telah dijabarkan oleh PPNI (2000) yang mengacu
dalam tahapan proses keperawatan, yang meliputi pengkajian keperawatan diagnosis
keperawatan, perencanaan implementasi dan evaluasi.
2.1 Standar I :
pengkajian keperawatan perawat mengumpulkan data tentang status
kesehatan

pasien

secara

sistematis

menyeluruh,

akurat,

singkat,

dan

berkesinambungan. Criteria pengkajian keperawatan meliputi pengumpulan data


dilakukan dengan cara anamnesis, observasi, pemeriksaan fisik serta dan
pemeriksaan penunjang. Sumber data adalah pasien, keluarga atau orang yang
terkait, tim kesehatan, rekam medis, dan catatan lain.data yang dikumpulkan,
difokuskan untuk mengidentifikasi status kesehatan pasien masalalu, status
kesehatan pasien saat ini, status biologis, psikologis, social, spiritual, respon
terhadap terapi, harapan terhadap tingkat kesehatan yang optimal, resiko tinggi
penyebab masalah.
2.2 Standar II:
diagnosis keperawatan. Perawat menganalisa data pengkajian untuk
merumuskan diagnosis keperawatan,. Criteria proses meliputi analisis data,
intrepretasi dta, identifikasi masalah pasien, dan perumusan diagnosis
keperawatan.
2.3 Standar III:
perencanaan

keperawatan.

Perawat

membuat

rencana

tindakan

keperawatan untuk mengatasi masalah dan peningkatan kesehatan pasien. Criteria


prosesnya,

penetapan

prioritas

masalah,

tujuan

dan

rencana

tindakan

keperawatan. Bekerjasama dengan pasien dalam menyusun rencana tindakan


keperawatan. Perencanaan bersifat individual sesuai dengan kondisi atau
kebutuhan pasien, mendokumentasikan rencana keperawatan.
2.4 Standar IV:
implementasi tindakan keperawatan. Perawat mengimplementasikan
tindakan yang telah diidentifikasi dalam rencana asuhan keperawatan. Criteria
proses meliputi bekerjasama dengan pasien dalam melaksanakan tindakan
keperawatan, kolaborasi dengan tim kesehatan lain, melakukan tindakan
keperawatan untuk mengatasi masalah pasien, memberikan pendidikan kesehatan
kepada pasien dan keluarga mengenai konsep. Keterampilan asuhan diri serta

membantu pasien memodifikasi lingkungan yang digunakan, mengkaji ulang dan


merevisi pelaksanaan tindakan keperawatan berdasarkan respons pasien.
2.5 Standar V:
evaluasi keperawatan. Perawat mengevaluasi kemajuan pasien terhadap
tindakan keperawatan dalam pencapaian tujuan dan merevisi data dasar dan
perencanaan yang sudah ada. Adapun criteria prosesnya adalah menyusun
perencanaan evaluasi hasil dan intervensi secara komprehensif, tepat waktu dan
terus menerus, menggunakan data dasar dan respons pasien dalam mengukur
perkembangan kearah pencapaian tujuan, melakukan validasi dan menganalisis
data baru dengan teman sejawat, bekerjasama dengan pasien dan keluarga untuk
memodifikasi rencana asuhan keperawatan, melakukan pendokumentasian hasil
evaluasi dan memodifikasi perencanaan.
Dengan standar asuhan keperawatan tersebut, maka pelayanan keperawatan
menjadi lebih terarah. Masalah dalam penilaian pelaksanaan kerja perawat sering
ditemukan berbagai permasalahan antara lainpengaruh hallo effect. Pengaruh hallo
effect adalah tendensi untuk menilai pelaksanaan kerja bawahannya terlalu tinggi
karena salah satu alasan.

2.6

Tujuan

Sak

Standar Asuhan

Keperawatan

Sk

Dirjen Yanmed

Ym.00.03.2.6.7637/1993)
Standar praktek keperawatan telah disahkan oleh MENKES RI dalam Surat
Keputusan Nomor : 660/Menkes/SK/IX/1987. Kemudian diperbaruhi dan disahkan
berdasarkan SK DIRJEN YANMED RI No : OO.03.2.6.7637, tanggal 18 Agustus 1993.
Kemudian pada tahun 1996, DPP PPNI menyusun standar profesi keperawatan SK No :
03/DPP/SK/I/1996

yang

terdiri

dari

standar

pelayanan

keperawatan,

praktek

keperawatan, standar pendidikan keperawatan dan standar pendidikan keperawatan


berkelanjutan.
Tujuan standar keperawatan menurut Gillies (1989) adalah :
1. Meningkatkan asuhan keperawatan.
2. Mengurangi biaya asuhan keperawatan
3. Melindungi perawat dari kelalaian dalam melaksanaka tugas dan melindungi
pasien dari tindakan yang tidak terapeutik.
Standar pelayanan keperawatan menurut Depkes RI 1996 adalah meliputi:
1. Standar 1 : falsafah keperawatan
2. Standar 2 : tujuan asuhan keperawatan.
3. Standar 3 : pengkajian keperawatan

4.
5.
6.
7.
8.

Standar 4 : diagnosa keperawatan.


Standar 5 : perencanaan keperawatan.
Standar 6 : intervensi keperawatan
Standar 7 : evaluasi keperawatan.
Standar 8 : catatan asuhan keperawatan.

Pengembangan Standar Pelayanan Keperawatan


1. Standar 1
Falsafah dan tujuan Pelayanan keperawatan diorganisasi dan dikelola agar
dapat memberikan asuhan keperawatan yang optimal bagi pasien sesuai dengan
standar yang ditetapkan.
Kriteria:
a. Dokumen

tertulis

yang

memuat

tujuan

pelayanan

keperawatan

harus

mencerminkan peran rumah sakit, dan harus menjadi acuan pelayanan


keperawatan serta diketahui oleh semua unit lain. Dokumen ini harus selalu
tersedia untuk semua petugas pelayanan keperawatan
b. Setiap unit keperawatan dapat mengembangkan sendiri tujuan khusus pelayanan
keperawatan.
c. Dokumen ini harus disempurnakan paling sedikit setiap 3 tahun.
d. Bagan struktur organisasi harus memperlihatkan secara jelas garis
e. Komando, tanggung jawab, kewenangan serta hubungan kerja dalam pelayanan
keperawatan dan hubungan dengan unit lain.
f. Uraian tugas tertentu yang tertulis harus diberikan kepada setiap petugas hal hal
sebagai berikut :
1) Kualifikasi yang dibutuhkan untuk jabatan petugas yang bersangkutan
garis kewenangan
2) Fungsi dan tanggungjawab
3) Frekuensi dan jenis penilaian kemamapuan staf
4) Masa kerja dan kondisi pelayanan (Etika LavleeHongki, 2012)

2. Standar 2
Administrasi dan pengelolaan Pendekatan sistematika yang digunakan untuk
memberikan asuhan keperawatan yang berorientasi pada kebutuhan pasien.

Kriteria:
a. Asuhan keperawatan mencerminkan standar praktek keperawatan yang berlaku
dan ditujukan pada pasien atau keluarganya, yang mencakup asuhan keperawatan
dasar, penugasan pasien atau keperawatan terpadu.
b. Perawat bertanggungjawab terhadap semua aspek asuhan keperawatan
c. Staff keperawatan senantiasa harus menghormati hak keleluasaan pribadi,
martabat dan kerahasiaan pasien.
d. Staff keperawatan berpartisipasi pada berbagai pertemuan tentag asuhan pasien
e. Penelitian keperawatan
f. Bila penelitian keperawatan dilakukan, hak asasi pasien harus dilindungi sesuai
dengan pedoman yang berlaku dengan menjunung tinggi etika profesi (Etika
LavleeHongki, 2012)
3. Standar 3
Staff dan pimpinan Pelayanan keperawatan dikelola untuk mencapai tujuan
pelayanan. Kriteria:
a. Pelayanan keperawatan dipimpin oleh seorang perawat yang mempunyai
kualifikasi manager.
b. Kepala keperawatan mempunyai kewenangan atau bertanggungjawab bagi
berfungsinya pelayanan keperawatan ; sebagai anggota pimpinan harus aktif
menghadiri rapat pimpinan.
c. Apabila kepala perawatan berghalangan harus ada seorang perawat pengganti
yang cakap dapat diserahi tanggungjawab dan kewenangan.
d. Setiap perawat harus mempunyai izin praktek perawat yang masi berlaku dan
berkualifikasi professional sesuai jabatan yang didudukinya.
e. Jumlah dan jenis tenaga keperawatan disesuaikan dengan kebutuhan pasien
fasilitas dan peralatan (Etika LavleeHongki, 2012)

4. Standar 4
Fasilitas dan peralatan harus memadai untuk mencapai tujuan peayanan keperawatan.
Kriteria:
a. Tersedianya tempat dan peralatan yang sesuai untuk melaksanakan tugas
b. Bila digunakan peralatan khusus, peralatan tersebut dijalankan oleh staf yang
telah mendapatkan pelatihan. (Etika LavleeHongki, 2012)

5. Standar 5
Kebijakan dan prosedur Adanya kebijakan dan prosedur secara tertulis yang
sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan prinsip praktek keperawatan yang
konsisten dengan tujuan pelayanan keperawatan.
Kriteria:
a. Kepala keperawatan bertanggung jawab terhadap perumusan dan pelaksanaan
kebijakan dan prosedur keperawatan.
b. Staf keperawatan yang aktif terlibat dalam asuhan langsung kepada pasien harus
diikut sertakan dalam perumusan kebijakan dan prosedur keperawatan.
c. Ada bukti bahwa staf keperawatan bertindak berdasarkan ketentuan hukum yang
mengatur standar pratek keperawatan dan berpedoman pada etika profesi yang
berlaku.
d. Ada kebijakan mengenai ruang lingkup dan batasan tanggung jawab serta
kegiatan staf keperawatan Pengertian: Sebagai contoh kebijakan ialah
penyuntikan/ pengobatan pada terapi intravena, pemberian darah dan produk
darah, menerima pesan melalui telepon, pemberian informasi kepada mass media
dan polisi, pencatatan dan pelaporan, pelaksanaan prosedur kerja.
e. Tersedianya pedoman praktek keperawatan yang meliputi:
1) Prinsip-prinsip yang mendasari prosedur
2) Garis besar prosedur
3) Kemungkinan perawat menyesuaikan prosedur terhadap kebutuhan
pasien. (Etika LavleeHongki, 2012)

6. Standar 6
Pengembangan

staf

dan

program

pendididkan

Harus

ada

program

pengembangan dan pendidikan berkesinambungan agar setiap keperawatan dapat


meningkatkan kemampuan profesionalnya.
Kriteria:
a. Program pengembangan staf dikoordinasi oleh seorang perawat terdaftar
b. Tujuan program orientasi dan pelatihan harus mengacu pada efektifitas program
pelayanan.

c. Tersedianya program orientasi bagi smua staf keperawatan yang baru dan bagi
perawat yangbaru ditempatkan pada bidang khusus, meliputi :
1) Informasi tentang hubungan antara pelayana keperawatan dengan rumah
sakit
2) Penjelasan mengenai kebijakan dan prosedur kerja dirumah sakit dan
pelayanan keperawatan
3) Penjelasan mengenai metode penugasan asuhan keperawatan dan standar
praktek keperawatan.
4) Prosedur penilaian terhadap staf keperawatan
5) Penjelasan mengenai tugas dan fungsi khusus , garis kewenangan, dan
ruang lingkup tanggung jawab
6) Cara untuk mendapatkan bahan sumber yang tepat
7) Identifikasi kebutuhan belajar bagi tiap individu
8) Petunjuk mengenai prosedur pengamanan yang harus diikuti
9) Pelatihan mengenai tekhnik pertolongan hidup dasar (basic life support).
d. Pencatatan kehadiran staf dalam program pengembanagan harus disimpan
dengan baik. (Etika LavleeHongki, 2012)
7. Standar 7
Evaluasi dan pengendalian mutu Pelayanan keperawatan menjamin adanya
asuhan keperawatan yang mutu tinggi dengan terus menerus melibatkan diri dalam
program pengendalian mutu dirumah sakit.
Kriteria:
a. Adanya rencana tertulis untuk melaksanakan program pengendalian mutu
keperawatan.
b. Program pengendalian mutu keperawatan meliputi:
1) Pelayanan keperawatan terhadap standar yang telah ditetapkan.
2) Penampilan kerja semua tenaga perawat.
3) Proses dan hasil pelayanan keperawatan.
4) Tersedianya pendayagunaan sumber daya dari rumah sakit.
c. Perawat terdaftar ditugaskan untuk mengkoordinasi program ini. Kegiatan
pengendalian mutu meliputi hal-hal:
1) Pemantauan: pengumpulan informasi secara rutin tentang pemberian
pelayanan yang penting. Pengkajian: pengkajian secara periode tentang
2) Informasi tersebut diatas untuk mengidentififkasi maslaah penting dalam
pemberian pelayanan dan kemungkinan untuk mengatasinya.
3) Tindakan : bila dan kemungkinan untuk mengatasi telah diketahui maka
4)

tindakan harus diambil.


Evaluasi : keefektifan tindakan yang diambil harus di efaluasi untuk
dimanfaatkan dalam jangga panjang.

5) Umpan balik : hasil kegiatan dikomunikasikan kepada staf secara teratur .


d. Daftar hadir dan periksalah pertemuan disimpan,yang secara teliti mencerminkan
transaksi , kesimpulan , rekomendasi ,tindakan yang diambil, dan hasil tindakan
tersebut,sebagaihasil

dari

kegiatan-kegiatan

pengendalian

mutu.

(Etika

LavleeHongki, 2012)
2.7 Komponen SAK ( Standar I-IV )
2.8 Pelaksanaan Evaluasi Penerapan SAK : Instrumen A,B,C

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Manajemen Mutu dalam Pelayanan Keperawatan merupakan suatu pelayanan
keperawatan yang komprehensif meliputi bio-psiko-sosio-spiritual yang diberikan oleh
perawat profesional kepada pasien (individu, keluarga maupun masyarakat) baik sakit
maupun sehat, dimana perawatan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien dan

standar pelayanan. Secara sederhana proses kendali mutu ( Quality Control ) dimulai dari
menyusun

strandar

standar

mutu,

selanjutnya

mengukur

kinerja

dengan

membandingkan kinerja yang ada dengan standar yang telah ditetapkan. Apabila tidak
sesuai, dilakukakn tindakan koreksi. Bila diinginkan peningkatan kinerja perlu menyusun
standar baru yang lebih tinggi dan seterusnya.
Dalam Manajemen Mutu dalam Pelayanan Keperawatan ada beberapa Dimensi
mutu yang mencerminkan segala pelayanan keperawatan tersebut diantaranya yaitu
Dimensi Tangible atau bukti fisik, Dimensi Reliability atau keandalan, Dimensi
Responsiveness atau ketanggapan, Dimensi Assurance atau jaminan dan kepastian, dan
Empati.
Penilaian Mutu Pelayanan Keperawatan berupa Audit Struktur (Input, Proses
(Process), Hasil (Outcome). Dalam Manajemen Mutu dalam Pelayanan Keperawatan
terdapat Strategi Mutu Pelayanan Keperawatan, diantaranya Quality Assurance (Jaminan
Mutu), Total quality manajemen (TQM). Peran sebagai seorang pemimpin dalam
pelayanan kesehatan adalah menjadi model kepemimpinan yang berpusat pada prinsip
(principle centered leadership).
Dari permasalahan tersebut dapat dirumuskan yang menjadi penyebab dari
permasalahan tersebut adalah Perawat tidak bersikap baik terhadap pasien dan Kondisi
ruang rawat yang buruk. Maka dari itu untuk mengatasi penyebab permaslaahan tersebut
harus dilakukan penyelesaian alternatif, diantaranya untuk perawat tidak bersikap baik
terhadap pasien dapat dilakukan penyelesaian alternatif yaitu memberikan surat
peringatan dan dilakukan coaching oleh kepala ruangan, tapi dengan catatan tetap dalam
pengawasan, agar tidak terulang kembali. Sedangkan untuk Kondisi ruang rawat yang
buruk yang dapat dijadikan alternatife penyelesaiaan masalah adalah adalah
berkoordinasi dengan kepala ruangan agar menyampaikan keluhan pasien kepada pihak
manajemen rumah sakit terkait dengan terganggunya kenyamanan pasien berhubungan
dengan fasilitas yang kurang memadai.
Pada kasus dapat disimpulkan bahwa rumah sakit X tempat Ny. C dirawat
Manajemen Mutu dalam pelayanan keperawatan masih buruk karena belum memenuhi,
standar pelayanan keperawatan, belum memenuhi hak-hak pasien dan juga belum
memenuhi kelima dimensi Mutu dalam pelayanan keperawatan tersebut sehingga perlu
alternatif penyelesaian masalah untuk meningkatkan menejemen mutu dalam pelayanan
keperawatan di rumah sakit X.

3.2 Kritik dan Saran


Adapun saran yang diharapkan penulis kepada pembaca agar pembaca dapat
mulai menerapkan manajemen mutu di kehidupan sehari-hari. Mulai meningkatkan
manajemen mutu dan dapat menjaga kualitas mutu dengan sebaik mungkin. Terutama
manajemen mutu dalam pelayanan keperawatan yang diberikan kepada klien maupun
pasien sehingga dapat menjadi perawat yang professional.

DAFTAR PUSTAKA

Wijono, Djoko. 1999. Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan Vol.1. Surabaya : Airlangga
University Press.

Anggri. (2011). Peran dan Pemimpin dalam Meningkatkan Mutu.

http://anggri-

healthsystemdisaster.blogspot.com/2011/02/peran-pemimpin-dalam-meningkatkanmutu.html
Di akses pada tanggal 30 September 2014
Tappen 1995. Nursing Leadership and Management: Concepts & Practice. Philadelphia :
F.A. Davis Company.

Tjiptono, F. 2004. Prinsip-prinsip Total Quality Service (TQS).Yogyakarta : Andi Press

Wijono, D. 2000. Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan. Teori, Strategi dan Aplikasi.
Volume.1. Cetakan Kedua.Surabaya : Airlangga University Press.

file:///G:/MK/Ayu%20Lestari.htm