Anda di halaman 1dari 8

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN
1. Karakteristik umum sampel
Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 30 orang, yaitu seluruh pegawai Puskesmas
Sedayu II Bantul. yang diberi kuesioner. Sampel penelitian sebagai berikut:
Tabel. 1
No
1
2

Jenis Kelamin
Perempuan
Laki-laki
Jumlah

Jumlah
18
12
30

Persentase
60%
40%

Pada tabel diatas terlihat bahwa subjek pada penelitian dengan jenis kelamin
perempuan merupakan proporsi sampel paling tinggi, yaitu sebanyak 60% dari
seluruh sampel penelitian. Adapun proporsi sampel dengan jenis kelamin laki-laki
adalah sebanyak 40%
Tabel 2.
N
o
1
2
3
4

Usia

Jumlah

Persentase

20-30 tahun
30-40 tahun
40-50 tahun
>50 tahun

3
8
10
9
30

10%
27%
33%
30%

Tabel diatas memperlihatkan bahwa kelompok usia 40-50 tahun merupakan


proporsi jumlah sampel terbanyak yaitu sebanyak 10 orang dengan persentase
33% dari seluruh sampel penelitian. Adapun kelompok usia 20-30 tahun sebanyak
10% kelompok usia 30-40 tahun sebanyak 27% dan kelompok >50 tahun
sebanyak 30%
Tabel 3 deskripsi
N
o
1
2

Masa Kerja

Jumlah

Persentase

0-5 tahun
6-10 tahun

4
6

13%
20%

3
4

10-15 tahun
>15 tahun
Jumlah

3
17
30

10%
57%

Tabel diatas memperlihatkan bahwa masa kerja >15 tahun merupakan proporsi
jumlah sampel terbanyak yaitu sebanyak 17 orang dengan persentase 57% dari
seluruh sampel penelitian. Adapun masa kerja 0-5 tahun sebanyak 13% masa
kerja 6-10 tahun sebanyak 20% dan masa kerja 10-15 tahun sebanyak 10%
2. Gambaran Penyakit Akibat Kerja pada Puskesmas Sedayu II.
Dari hasil penelitian ini diperoleh data responden sebagai berikut :
Tabel 4. Penyakit yaang diderita dalam waktu 2 tahun terakhir.
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

Penyakit
Common cold
Nyeri Otot
Diare
Stres akibat Kerja
Nyeri Pinggang
Gangguan Penglihatan
Alergi
Ambeyen
Tifoid
Iritasi Mata
CTS
DKI
a. Gastritis
b. Herpes Zooster
c. Rubella
d. Iritasi Kimia

Jumlah
16
15
14
11
10
5
5
2
2
2
2
1
1
1
1
1

Persentase
53%
50%
47%
37%
33%
17%
17%
7%
7%
7%
7%
3%
3%
3%
3%
3%

Pada penelitian ini didapatkan data penyakit akibat kerja berdasarkan kuesioner
yang dibagikan kepada 30 responden yang terdiri dari seuruh pegawai Puskesmas
Sedayu II berdasarkan kriteria inklusi, didapatkan hasil bahwa penyakit akibat
kerja yang diderita pegawai selama kurun waktu dua tahun terakhir yaitu common
cold dan nyeri otot dengan presentase sebanyak 53% dan 50%

Tabel 5. Faktor Resiko Peyakit Akibat Kerja Berdasarkan Kuesioner


No.
1.

Faktor Biologi

Jenis Paparan
1. Lalat
2. Kecoa
3. Tikus

Jumlah
8
7

Presentase
27%
23%

4. Nyamuk
2.

Faktor Kimia

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Debu
Disinfektan
Kloretil
Larutan Kimia
Reagen
Klorin
Asap

3.

Faktor Fisik

1. Pencahayaan ruangan
a. Terang
b. Gelap
2. Pedingin ruangan
a. AC
b. Kipas Angin
c. Jedela Terbuka
3. Suhu
a. Panas
b. Dingin
c. lembab
4. Listrik
a. Konslet
b. Kabel terkelupas

4.

Faktor
Psikososial

5.

Faktor
Ergonomis

5. Benda tajam/Jarum
suntik
6. Komputer
7. Lantai Licin
8. Tangga Naik
1. Konflik Antar Petugas
2. Beban Kerja
3. Kesejahteraan
4. Kerja Monoton
5. Perilaku Merokok
1. Posisi duduk terlalu
lama (> 6 jam)
2. Posisi statis
3. Gerakan berulang
4. Angkat Angkut

6.

Penggunaan
Alat
Pelindung Diri

1.
2.
3.
4.

Handscoon
Masker
Penutup kepala
Baju Laboratorium

7.

Kebiasaan
Cuci Tangan

1. Selalu
2. Kadang-kadang
3. Tidak Pernah

12
7
20
16
9
7
4
6
9

40%
23%
67%
53%
30%
23%
13%
20%
30%

19
3

63%
10%

3
23
15

10%
77%
50%

19
2
5

63%
7%
17%

4
2
14

13%
7%
47%

19
9
16
8
13
9
13
5
6

63%
30%
53%
27%
43%
30%
43%
17%
20%

4
13
5
19
22
2
3
23
6
0

13%
43%
17%
63%
73%
7%
10%
77%
20%

Dari tabel diatas didapatkan data faktor resiko terjadinya penyakit akibat kerja
berdasarkan kuesioner yang terdiri dari faktor biologi, faktor kimia, faktor fisik,
faktor psikososial, faktor ergonomis, penggunaan APD dan kebiasaan cuci tangan.
Pada faktor biologi didapatkan hasil paparan oleh tikus memiliki proporsi
terbanyak yaitu sebanyak 40% , pada faktor kimia didapatkan hasil paparan oleh
debu memiliki proporsi terbanyak yaitu sebanyak 67% , pada faktor fisik
didapatkan hasil paparan suhu ruangan yang panas, penggunaan pendingin ruangan
kipas angin, paparan oleh komputer dan tangga naik dengan presentase masingmasing.63%,77%,63%, dan 53% pada faktor psikososial didapatkan hasil beban
kerja dan kerja monoton dengan proporsi terbanyak yaitu 43%, pada faktor
ergonomis didapatkan hasil gerakan berulang dengan presentase sebanyak 43%,
pada penggunaan APD didapatkan responden yang menggunakan handscoon
sebanyak 63%dan masker sebanyak 73% serta kebiasaan selalu cuci tangan
sebanyak 77%
No
1.
2.

Ketersediaan panduan kesehatan kerja


Ketersediaan
panduan
penanganan

3.
4.

kecelakaan kerja
Sosialisasi dan pelatihan K3
Pemantauan K3 di unit kerja

Jumlah
22
18

Presentase
73%
60%

24
22

80%
73%

Pada tabel diatas menunjukan data pengetahuan responden tentang K3 yang


terdiri dari ketersediaan panduan kesehatan kerja, ketersediaan panduan
penanganan kecelakaan kerja, sosialisasi dan pelatihan K3 dan pemantauan K3 di
masing-masing unit kerja.

B. PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil yang bervariasi dari tiap faktor yang
diteliti. Dari kuesioner didapatkan beberapa penyakit akibat kerja (PAK) di
Puskesmas Sedayu II dengan presentasi terbanyak yaitu common cold, nyeri otot,
diare dan stress akibat kerja dibandingkan penyakit lainnya seperti TBC, Tifoid, DBD,
cacar dan lain-lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa di Puskesmas Sedayu II masih
terdapat penyakit akibat kerja yang harus mendapatkan perhatian untuk menurunkan
angka kejadian PAK.
Dari data kuesioner menunjukkan hasil berupa faktor-faktor potensi bahaya yang
dimungkinkan berkaitan dengan terjadinya PAK di Puskesmas Sedayu II. Faktorfaktor tersebut berupa faktor Biologi, faktor Kimia, faktor Fisik, faktor Psikososial
dan faktor Ergonomi.
Lingkungan kerja pada Pelayanan Kesehatan favorable bagi berkembang biaknya
strain kuman yang resisten, terutama kuman-kuman pyogenic, colli, bacilli dan
staphylococci, yang bersumber dari pasien, benda-benda yang terkontaminasi dan
udara. Virus yang menyebar melalui kontak dengan darah dan sekreta (misalnya HIV
dan Hep. B) dapat menginfeksi pekerja hanya akibat kecelakaan kecil dipekerjaan,
misalnya karena tergores atau tertusuk jarum yang terkontaminasi virus.
Angka kejadian infeksi nosokomial di unit Pelayanan Kesehatan cukup tinggi.
Secara teoritis kemungkinan kontaminasi pekerja LAK sangat besar, sebagai contoh
dokter di RS mempunyai risiko terkena infeksi 2 sampai 3 kali lebih besar dari pada
dokter yang praktek pribadi atau swasta, dan bagi petugas Kebersihan menangani
limbah yang infeksius senantiasa kontak dengan bahan yang tercemar kuman patogen,
debu beracun mempunyai peluang terkena infeksi
Pada faktor kimia dan biologi didapatkan paparan debu memiliki peresentase
terbesar dibandingan dengan paparan kimia lainnya. Hal ini menggambarkan bahwa
paparan debu tersebut adalah salah satu faktor terjadinya PAK. Salah satu penyakit
yang disebabkan oleh faktor tersebut berupa gangguan pernapasan (ISPA). Comond
cold merupakan angka tertinggi PAK faktor biologis di Puskesmas Sedayu II yang
diikuti dengan Diare.
Penyebab diare adalah multifaktorial, diantaranya dari faktor kebersihan
lingkungan dan kebersihan pribadi. Kebersihan lingkungan dapat dilihat dari adanya
hewan seperti tikus, kecoa, lalat yang merupakan pembawa sumber kuman.
Sedangkan pada kebersihan diri dapat dilihat dari kebiasaan cuci tangan yang baik
dan benar.

Sebagian besar pekerja di perkantoran atau Pelayanan Kesehatan pemerintah,


bekerja dalam posisi yang kurang ergonomis, misalnya tenaga operator peralatan, hal
ini disebabkan peralatan yang digunakan pada umumnya barang impor yang disainnya
tidak sesuai dengan ukuran pekerja Indonesia. Posisi kerja yang salah dan dipaksakan
dapat menyebabkan mudah lelah sehingga kerja menjadi kurang efisien dan dalam
jangka panjang dapat menyebakan gangguan fisik dan psikologis (stress) dengan
keluhan yang paling sering adalah nyeri pinggang kerja (low back pain).
Berdasarkan data yang didapat, PAK dari faktor ergonomis berupa nyeri otot yang
merupakan angka tertinggi dan disertai nyeri pinggang. Hal ini berkaitan dengan
pekerjaan para pegawai puskesmas yang melakukan masing-masing pekerjaannya
dengan gerakan berulang bahkan posisi duduk yang terlalu lama, seperti pegawai
yang bekerja di bagian administrasi dan apoteker.
Faktor psikososial yang dapat menyebabkan stress seperti pelayanan kesehatan
sering kali bersifat emergency dan menyangkut hidup mati seseorang. Untuk itu
pekerja di laboratorium kesehatan di tuntut untuk memberikan pelayanan yang tepat
dan cepat disertai dengan kewibawaan dan keramahan-tamahan. Pekerjaan pada unitunit tertentu yang sangat monoton. Hubungan kerja yang kurang serasi antara
pimpinan dan bawahan atau sesama teman kerja. Beban mental karena menjadi
panutan bagi mitra kerja di sektor formal ataupun informal
Faktor Psikososial yang didapatkan di Puskesmas Sedayu II adalah beban kerja
dan pekerjaan yang monoton. Hal ini bisa menunjukan keterkaitannya tingginya
angka stres akibat pekerjaan. beberapa pegawai puskesmas memiliki tugas tambahan
selain tugas utama.

Tabel 6. Alternatif Jalan Keluar Permasalahan Penyakit Akibat Kerja pada


Pegawai Puskesmas Sedayu II
MASALAH
Penyakit akibat kerja pada

PENYEBAB
Faktor resiko yang masih

ALTERNATIF
a. Identifikasi penyakit

pegawai Puskesmas Sedayu


II

akibat kerja dan faktor


resiko yang
mendasarinya.
b. Penerapan Standar
Operasional Pelayanan
mengenai K3 disetiap
unit kerja

ditemukan di lingkup kerja


Puskesmas Sedayu II

Tabel 7. Penentuan Prioritas Jalan Keluar


No
1.

2.

Alternatif jalan
keluar
Penerapan SOP
tentang K3 di 3
setiap unit kerja
Identifikasi
Penyakit
dan 5
Faktor resiko

Efektivitas
I

Efesiensi
C

Jumlah

15

12

Berdasarkan matriks prioritas jalan keluar, maka urutan pilihan yang diambil
untuk mengatasi masalah penyakit akibat kerja pada penelitian ini adalah :
1. Penerapan SOP tentang K3 di setiap unit kerja
2. Identifikasi penyakit dan faktor resiko
3. Meningkatkan kesadaran dan motivasi pegawai puskesmas untuk menerapkan
SOP K3
Diharapkan jika alternatif pemecahan masalah yang telah dijelaskan diatas, dapat
dijalankan dengan rutin, maka dapat menekan angka kejadian penyakit akibat
kerja di lingkungan puskesmas.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan gambaran penyakit akibat kerja
dipuskesmas sedayu II adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan faktor kimia dan biologi adalah common cold dan diare
2. Berdasarkan faktor ergonomi adalah nyeri otot dan nyeri pinggang
3. Berdasarkan faktor psikososial adalah stres akibat pekerjaan
B. SARAN
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka peneliti memberikan saran sebagai
berikut:

1. Laporan penelitian ini hanya bersifat deskriptif saja, sehingga untuk


menindak lanjuti hubungan faktor resiko dengan penyakit akibat kerja
perlu dilakukan pengkajian lebih dalam dengan penelitian yang bersifat
analitik.
2. Kuisioner yang dibagikan adalah kuisioner yang belum ada validasinya,
untuk penelitian selanjutnya jika akan menggunakan instrumen yang sama
disarankan agar menggunakan kuisioner yang sudah ada validasinya.
3. Dalam penelitian ini memiliki kekurangan dalam pengisian kuisioner
sehingga menimbulkan bias dalam menjawab pertanyaan kuisioner, Untuk
penelitian selanjutnya akan lebih baik jika pengisian kuisioner dibantu
oleh peneliti.