Anda di halaman 1dari 21

Polemik Tenaga Kerja

Asing Wajib Berbahasa


Indonesia
Jum'at, 5 Juni 2015 04:12 WIB http://ekbis.sindonews.com/read/1008963/34/polemiktenaga-kerja-asing-wajib-berbahasa-indonesia-1433438469
JAKARTA - Rencana pemerintah yang ingin mewajibkan tenaga kerja asing (TKA)
berbahasa Indonesia mendapat ganjalan. Kebijakan ini masih menjadi polemik karena
belum ada kesepakatan antara kementerian/lembaga.
Kepala Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)
Mahsun menjelaskan, awalnya pemerintah berharap semua pekerja asing dapat
berbahasa Indonesia dengan baik. Namun, harapan ini mental dalam sidang kabinet
karena ada argumen dari pengusaha yang melihat kebijakan tersebut akan
menghambat penanaman modal asing.
BKPM bilang akan menghambat investor. Namun tidak hanya BKPM yang menolak,
ada pihak-pihak lain juga. Hanya tinggal keberanian moral apakah pemerintah bisa
memukul gong untuk menyatakan bahasa Indonesia dapat menjadi tuan rumah di
negaranya sendiri, ujarnya di Seminar Politik Bahasa Badan Bahasa Kemendikbud,
Kamis (4/6/2015).
Dia menjelaskan, saat ini hanya Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) saja yang
mempunyai niat baik menjadikan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) menjadi
salah satu persyaratan tenaga kerja. Niatan Kemenaker dinilainya cukup bagus namun
tinggal bagaimana memulai implementasinya yang menemui penolakan.
Menurut Mahsun, penolakan ini terkait sikap mental bangsa yang cenderung mengeluelukan sesuatu dari luar yang dinilai lebih hebat. Pemerintah, perlu memperkuat
kemauan apalagi sebelumnya Presiden Jokowi sudah mau menerbitkan Keppres
mengenai kemampuan bahasa Indonesia ini. Meski sekarang kebijakan pemerintah
berubah lagi namun Mahsun bertekad akan mendorong UKBI bagi pekerja asing.

Dia mengatakan, sebenarnya negara lain tidak asing dengan uji kemahiran bahasa bagi
pekerja. Misalnya, ada toefl jika ingin bekerja di negara barat. Bahkan, pekerja medis
dari Indonesia sulit masuk ke Jepang karena Negeri Sakura itu menguji kemampuan
bahasa Jepang dengan passing grade yang tinggi. (HSK bagi yg ingin bekerja di RRT)
Ya memang di kita belum menjadi kewajiban. Namun, kita sedang pelan-pelan
menyosialisasikan pentingnya uji kemahiran ini. Kita yang akan menggerakkan dan
akan berkoordinasi dengan Kemenaker, jelasnya.
Selain itu, dia menggugah pemerintah untuk mengusulkan bahasa Indonesia sebagai
bahasa pengantar di Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Dia sangat menyesali jika
Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara tidak mengajukan usulan tersebut.
Sebab, pada masyarakat ekonomi Eropa saja dimana ada 27 negara eropa yang
bersatu ada 23 bahasa pengantar.
Artinya, hampir setiap negara mengusulkan bahasanya sendiri. Misalnya Latvia sebagai
negara kecil bekas jajahan Soviet mampu menawarkan bahasanya ke negara Eropa
lain.
Mahsun menjelaskan, meski belum menjadi kewajiban namun pihaknya saat ini ingin
menumbuhkan partisipasi semua pekerja asing untuk dites UKBI. Tesnya sendiri bukan
untuk menetapkan kelulusan namun lebih kepada memberi gambaran bahwa UKBI
bukan sesuatu yang mengerikan.
Nanti setelah seluruh masyarakat dan TKA tidak menganggap uji kemahiran ini bukan
sesuatu yang menakutkan maka peraturannya akan diperbaiki kembali dan kategorinya
akan dimantapkan juga. Dengan Kemenaker kami sudah ujicoba di kawasan industri
yang banyak pekerja asingnya. Kita belum jadikan patokan mutlak, namun ingin
menjaring kemauan mereka dulu bahwa ini bukan tes yang menghambat masuk kerja,
tandasnya.--- untuk melindungi TK local juga???

Soal TKA Tanpa Bahasa Indonesia,


Ketua DPR: Pemerintah Tabrak UU
25 Agustus 2015 8:18 AM

Jakarta, Aktual.com Ketua DPR RI Setya Novanto menyatakan sebaiknya pemerintah


menggunakan UU yang ada terkait penggunaan bahasa Indonesia bagi tenaga kerja
asing yang akan bekerja di Indonesia.
Kita ikuti UU yang dulu saja. Kita ikuti UU yang ada, kata Novanto di Gedung DPR RI,
Jakarta, Senin (24/8).
Ia menyebutkan, kalau soal investor, yang penting adalah bagaimana memberikan
kemudahan, fasilitas yang baik.
Karena situasi ekonomi kita yang turun, serta pengaruh dari dunia, untuk itu kita
harus tarik investor sebanyak-banyaknya, karena itu diberikan jalan kemudahankemudahan misalnya kemudahan admintrasi, kata Novanto.
Pemerintah telah menghapus persyaratan wajib berbahasa Indonesia bagi para Tenaga
Kerja Asing.
Ketentuan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor
16 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA) yang baru
menggantikan Permenakertrans Nomor 12 Tahun 2013 tentang Tata Cara Penggunaan
Tenaga Kerja Asing (TKA).

http://www.aktual.com/soal-tka-tanpa-bahasa-indonesia-ketua-dpr-pemerintahtabrak-uu/

Penghapusan Syarat Wajib


Berbahasa Indonesia
Rendahkan Bangsa Sendiri
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebijakan pemerintah menghapus syarat
kemampuan bahasa Indonesia bagi Tenaga Kerja Asing (TKA) yang ingin
bekerja di Indonesia menimbulkan polemik di masyarakat. Anggota Komisi IX
DPR yang membidangi ketenagakerjaan, Roberth Rouw menilai, kebijakan
tersebut tidak sesuai dengan konsep Trisakti Bung Karno yang selama ini
digadang-gadang Presiden Jokowi.
"Terutama pada poin berkepribadian dalam budaya," kata Roberth di Jakarta,
Sabtu (22/8).
Bukan hanya tak sesuai dengan konsep Trisakti Bung Karno, Roberth
mengatakan, penghapusan syarat wajib berbahasa Indonesia bagi para
tenaga kerja asing juga terkesan merendahkan bangsa sendiri. Oleh karena
itu, ia berharap pemerintah segera merevisi atau membatalkan peraturanperaturan yang merugikan bangsa Indonesia, termasuk peraturan tersebut.
"Penghapusan persyaratan tenaga kerja asing wajib berbahasa Indonesia
tersebut telah merendahkan budaya dan bahasa Indonesia di negara
sendiri," ujarnya.
Politikus Partai Gerindra itu pun mengingatkan pemerintah untuk membatasi
serbuan tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia, khususnya dari Cina.
Menurutnya, pemerintah harus lebih mengutamakan tenaga kerja dalam
negeri.
Apalagi, banyak pekerja di sejumlah daerah di Indonesia yang terkena
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal karena kondisi perekonomian
nasional yang lesu saat ini. Pemerintah, lanjut Roberth, harus segera

membatasi serbuan tenaga kerja asing dan memberikan kesempatan seluasluasnya dan membuka lapangan pekerjaan baru bagi rakyat Indonesia.
"Dengan begitu, konsep Trisakti Bung Karno yang selama ini digadanggadang oleh Presiden Jokowi bisa terwujud di era pemerintahannya saat ini,"
kata Roberth.
Seperti diketahui, pemerintah telah menghapus persyaratan wajib berbahasa
Indonesia bagi para tenaga kerja asing. Ketentuan itu tertuang dalam
Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 16 Tahun 2015
tentang Tata Cara Penggunaan TKA yang menggantikan Permenakertrans
Nomor 12 Tahun 2013 tentang Tata Cara Penggunaan TKA. Dengan adanya
peraturan baru tersebut, tenaga kerja asing kini dapat bekerja di Indonesia
tanpa harus memiliki kemampuan berbahasa Indonesia.
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/08/23/nthgxl349penghapusan-syarat-wajib-berbahasa-indonesia-rendahkan-bangsa-sendiri

Poin apa sajakah yang wajib diketahui seputar Aturan


Ketenagakerjaan Asing ?
Pada 23 Oktober 2015 lalu, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi
(Kemenakertrans) menerbitkan aturan baru terkait tata cara penggunaan
Tenaga Kerja Asing (TKA) di Indonesia yaitu Peraturan Menteri
Ketenagakerjaan Nomor 35 Tahun 2015 (Permenaker 35/2015).
Permenaker 35/2015 ini menghilangkan, menambah, dan mengubah
beberapa pasal dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 16 Tahun
2015 (Permenaker 16/2015).
Keluarnya Permenaker 35/2015 ini menimbulkan polemik setidaknya terkait
2 (dua) hal. Pertama, Permenaker 35/2015 ini dikeluarkan saat Permenaker
16/2015 baru mulai dirasakan efektif implementasinya di lapangan.
Berdasarkan pengalaman Easybiz di lapangan, Permenaker 16/2015 baru
efektif 3 (tiga) bulan setelah diterbitkan. Keluarnya Permenaker 35/2015 ini
dikhawatirkan menimbulkan kebingungan di lapangan, terutama pada
aplikasi permohonan RPTKA (Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing) dan
IMTA (Izin Memperkerjakan Tenaga Kerja Asing) yang baru masuk pada

periode antara September dan Oktober. Kedua, polemik yang timbul dari
hilangnya, bertambahnya, dan berubahnya beberapa pasal dalam
Permenaker 16/2015 yaitu sebagai berikut :
1.

Penghapusan Rasio Jumlah TKA Dengan Tenaga Kerja Lokal

Dalam Pasal 3 Permenaker 16/2015 diatur bahwa perusahaan yang


mempekerjakan 1 (satu) orang TKA harus dapat menyerap sekurangkurangnya 10 (sepuluh) orang tenaga kerja lokal pada perusahaan yang
sama. Memang ada pengecualian atas rasio ini jika TKA tersebut akan
dipekerjakan untuk posisi tertentu, untuk pekerjaan yang sifatnya darurat
dan mendesak, untuk pekerjaan yang sifatnya sementara, dan/atau untuk
usaha jasa impresariat. Pasal 3 Permenaker 16/2015 ini dihapuskan oleh
Permenaker 35/2015. Penghapusan pasal ini artinya menghapuskan aturan
mengenai rasio jumlah TKA dengan tenaga kerja lokal.
Penghapusan diatas dikhawatirkan menghilangkan kesempatan terjadinya
alih pengetahuan dan alih teknologi dari TKA ke tenaga kerja lokal. Meskipun
dalam Pasal 65 Permenaker 16/2015 disebutkan bahwa perusahaan pemberi
kerja dapat menugaskan TKA untuk melakukan alih teknologi dan keahlian di
lembaga pendidikan dan pelatihan, namun bisa jadi hal ini tidak
dilaksanakan jika tidak diwajibkan secara jelas dalam peraturan perundangundangan. Apalagi saat ini Keputusan Direktorat Jenderal yang mengatur
mengenai pendampingan TKA oleh tenaga kerja lokal untuk alih teknologi
dan keahlian belum diterbitkan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 66A
Permenaker 35/2015.
Di sisi yang lain, penghapusan rasio ini memberikan kemudahan bagi
perusahaan yang berbisnis di Indonesia untuk memperkerjakan TKA secara
lebih murah karena tidak perlu memperkerjakan lebih banyak tenaga kerja
lokal dan tidak adanya kewajiban melakukan pelatihan pada tenaga kerja
lokal.
2. Larangan
Komisaris

Bagi

PMDN

Untuk

Memperkerjakan

TKA

Sebagai

Dalam Permenaker 16/2015 tidak ada larangan bagi perusahaan PMDN


(Penanaman Modal Dalam Negeri) untuk memperkerjakan TKA sebagai
Komisaris. Namun dalam Permenaker 35/2015 ditambahkan pasal baru
antara Pasal 4 dan Pasal 5, yaitu Pasal 4A. Di Pasal 4A ini diatur bahwa
perusahaan yang berbentuk PMDN dilarang memperkerjakan TKA dengan

jabatan Komisaris. Larangan ini menambah daftar pekerjaan yang tidak


boleh diduduki TKA. Sebelumnya dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun
2003 tentang Ketenagakerjaan (UU 13/2003) hanya diatur bahwa yang
dilarang adalah jabatan yang mengurusi personalia atau sumber daya
manusia.
3. Penghapusan dan Perubahan Aturan Mengenai Pemberian RPTKA
dan IMTA Untuk Pekerjaan Yang Bersifat Sementara
Dalam Permenaker 16/2015 diatur bahwa izin RPTKA dan izin IMTA untuk
pekerjaan sementara diberikan untuk:
1.

Memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pelatihan dalam penerapan dan


inovasi teknologi industri untuk meningkatkan mutu dan desain produk
industri serta kerja sama pemasaran luar negeri bagi Indonesia;

2.

Pembuatan film yang bersifat komersial dan telah mendapat izin dari
instansi yang berwenang;

3.

Memberikan ceramah;

4.

Mengikuti rapat yang diadakan dengan kantor pusat atau perwakilan di


Indonesia;

5.

Melakukan audit, kendali mutu produksi, atau inspeksi pada cabang


perusahan di Indonesia;

6.

TKA dalam uji coba kemampuan dalam bekerja;

7.

Pekerjaan yang sekali selesai; dan

8.

Pekerjaan yang berhubungan dengan pemasangan mesin, elektrikal,


layanan purna jual, atau produk dalam masa penjajakan usaha.

Sementara Permenaker 35/2015 mengatur pemberian izin RPTKA dan izin


IMTA untuk pekerjaan yang sementara diberikan untuk:
1.

Pembuatan film yang bersifat komersial dan telah mendapat izin dari
instansi yang berwenang;

2.

Melakukan audit, kendali mutu produksi, atau inspeksi pada cabang


perusahan di Indonesia untuk jangka waktu lebih dari 1 (satu) bulan; dan

3.

Pekerjaan yang berhubungan dengan pemasangan mesin, elektrikal,


layanan purna jual, atau produk dalam masa penjajakan usaha.

Perubahan ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana alih


pengetahuan dan alih teknologi dapat terjadi serta izin yang harus
dikantongi TKA yang mengikuti rapat pekerjaan di Indonesia.
4. Penghapusan Keharusan Memiliki IMTA Bagi TKA Yang Tidak
Berdomisili Di Indonesia
Di Pasal 37 Permenaker 16/205 diatur bahwa perusahaan pemberi kerja bagi
TKA wajib mengurus izin IMTA, terlepas dari jabatan apapun yang akan
diberikan pada TKA tersebut. Pengecualian kewajiban ini hanya berlaku bagi
pemberi kerja yang berupa perwakilan negara asing yang mempekerjakan
TKA sebagai pegawai diplomatik dan konsuler. Permenaker 35/2015
menambahkan pengecualian kewajiban memiliki IMTA ini bagi perusahaan
pemberi kerja yang memperkerjakan TKA sebagai anggota Direksi, anggota
Dewan Komisaris atau anggota Pembina, anggota Pengurus, dan anggota
Pengawas yang berdomisili di luar negeri. Sementara bagi TKA yang
berdomisili di Indonesia tetap wajib untuk memiliki IMTA.
Penambahan pengecualian ini menimbulkan pertanyaan mengenai izin yang
harus dikantongi jika TKA yang berdomisili di luar negeri tersebut kemudian
datang ke Indonesia untuk urusan pekerjaan yang sementara seperti rapat,
memberikan ceramah, atau melakukan pekerjaan lain yang bisa sekali
selesai dalam waktu singkat. Jangan sampai orang asing yang datang
dengan visa turis kemudian malah melakukan pekerjaan di Indonesia.
Memang, di satu sisi penghapusan kewajiban mengurus izin IMTA ini
membantu mengurangi anggaran dan waktu yang harus disiapkan
perusahaan dalam mengurus izin bagi TKA yang hendak diperkerjakannya,
kecuali bagi perusahaan yang telah mengajukan permohonan IMTA pada
periode Oktober sebelum terbitnya Permenaker 35/2015. Tapi di sisi lain
perbedaan perlakuan terhadap TKA berdasarkan domisili ini juga berpotensi
mengurangi pendapatan negara dari dana kompensasi penggunaan tenaga
kerja asing.
5. Penghapusan Aturan Mengenai Konversi Iuran DKP-TKA Ke Rupiah
Dalam Pasal 40 ayat (2) Permenaker 16/2015 diatur bahwa DKP-TKA yang
dibayarkan harus dikonversi ke Rupiah. Permenaker 35/2015 menghapuskan
ketentuan ini.
Penghapusan ini bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011
tentang Mata Uang (UU 7/2011). Dalam Pasal 21 UU 7/2011 diatur bahwa

mata uang Rupiah wajib digunakan dalam tiap transaksi yang memiliki
tujuan pembayaran dan penyelesaian kewajiban yang harus dipenuhi
dengan uang. Pengecualian atas kewajiban menggunakan Rupiah hanya
berlaku atas:
1.

Transaksi tertentu dalam rangka pelaksanaan APBN (Anggaran


Pendapatan dan Belanja Negara);

2.

Penerimaan atau pemberian hibah dari atau ke luar negeri;

3.

Transaksi perdagangan internasional;

4.

Simpanan di bank dalam bentuk valuta asing; atau

5.

Transaksi pembiayaan internasional.

Di sisi lain, penghapusan kewajiban konversi ini memberikan kemudahan


bagi perusahaan yang akan menjadi sponsor bagi TKA.
Terbitnya peraturan yang baru memang kerap menimbulkan pro dan kontra.
Permenaker
35/2015
memang
mencoba
menyederhanakan
prosedur pengurusan izin TKA sehingga dapat menguntungkan kalangan
pebisnis di Indonesia dan TKA yang berminat untuk bekerja di Indonesia. Di
sisi yang lainnya, jangan sampai peraturan baru ini bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Terakhir, kita berharap
bahwa kemudahan ini jangan sampai mengurangi akses tenaga kerja lokal
atas kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keahlian.
http://easybiz.id/poin-poin-penting-terbaru-yang-wajib-diketahui-seputar-aturanketenagakerjaan-asing/

Jumat, 07 Pebruari 2014

Inilah Aturan Baru Penggunaan


Tenaga Kerja Asing
Pemberi kerja harus berbadan hukum. Pengecualian dibenarkan hanya jika disebut
dalam undang-undang.
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengeluarkan beleid baru penggunaan pekerja
warga negara asing. Diundangkan pada 30 Desember 2013, Peraturan Menteri Tenaga Kerja
(Permenakertrans) No. 12 Tahun 2013mengatur tentang Tata Cara Penggunaan Tenaga Kerja

Asing (TKA). Permenakertrans ini menggantikan beleid serupa yang terbit 2008 silam.
Menurut Diar Riga Pasaribu, Kabag Hukum dan Kerjasama Luar Negeri Ditjen Binapenta
Kemenakertrans, salah satu aturan baru yang berbeda dari Permenakertrans No. 2 Tahun
2008 adalah pemberi kerja bagi TKA. Beleid terbaru, kata Diar, perusahaan pemberi kerja harus
berbadan hukum. Kalaupun ada pengecualian buat badan usaha bukan badan hukum, harus
dinyatakan
dalam
undang-undang.
Dalam peraturan lama, persekutuan komanditer (CV), misalnya, diperkenankan menggunakan
TKA. Dalam beleid baru, kata Diar, tidak diperkenankan lagi sepanjang tak disebut dalam
undang-undang. Kalau dulu CV boleh pekerjakan TKA. Tepi sekarang harus berbadan hukum,
ujarnya
saat
ditemui
di
gedung
Kemenakertrans,
Kamis
(06/2)
kemarin.
Ia menunjuk larangan itu dalam Pasal 4 Permenakertrans No. 12 Tahun 2013. Rumusannya
begini: Pemberi kerja TKA yang berbentuk persekutuan perdata, firma (Fa), persekutuan
komanditer (CV), dan usaha dagang (UD) dilarang mempekerjakan TKA kecuali diatur dalam
undang-undang. Rumusan ini berarti CV, UD, atau Firma hanya boleh menggunakan TKA jika
diatur
dalam
undang-undang.
Diar berharap Permenakertrans baru bisa menutupi kekurangan beleid sebelumnya. Apalagi
dalam rentang waktu 2008-2013 banyak perubahan terjadi di masyarakat, yang memungkinkan
penggunaan TKA semakin banyak. Berlakunya kerangka perdagangan bebas seperti Masyarakat
Ekonomi ASEAN diyakini semakin meningkatkan kebutuhan atas pekerja asing.
Kompetensi
Ketentuan lain yang diperbarui adalah izin Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA)
untuk pekerjaan sementara. Beleid lama tak membuat rincian yang jelas. Kini, Pasal 8
Permenakertrans menyebut empat jenis pekerjaan yang bersifat sementara yaitu pemasangan
mesin, elektrikal, layanan purnajual, dan produk dalam masa penjajakan usaha. Meski lebih
rinci, tidak ada perubahan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) untuk pekerjaan
sementara.
Perubahan penting lainnya adalah mengenai kompetensi. Dalam beleid lama, hanya pekerjaan
yang mensyaratkan kompetensi TKI yang dipekerjaan harus kompeten. Dalam beleid baru, TKA
harus menunjukkan sertifikat kompetensinya. Sesuai pasal 26 Permenakertrans, ini menjadi
syarat untuk mempekerjakan TKA. Diar mengakui syarat ini dicantumkan untuk menindaklanjuti
hasil monitoring KPK terhadap lembaga negara termasuk Kemenakertrans. Ini juga sejalan
dengan spirit UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang mendorong kompetensi
kerja. Kompetensi itu antara lain dibuktikan lewat sertifikat kompetensi. Menurut Diar, kalau
sertifikat kompetensi tak ada, maka TKA harus sudah punya pengalaman di bidang tersebut
minimal
lima
tahun
sebelum
menduduki
jabatan
tertentu.
Pemberi kerja juga harus mencermati pasal 32 Permenakertrans TKA yang mengatur tentang
besaran kompensasi penggunaan TKA. Menurut Diar besaran kompensasi senilai 100 dolar AS
berlaku untuk satu jabatan dan per bulan untuk setiap TKA. Dengan begitu maka TKA yang
memegang dua jabatan di perusahaan berbeda sebagaimana diatur dalam pasal 33 ayat (3)

Permenakertrans maka yang harus dibayar yaitu dua kali besaran kompensasi. Misalnya, seorang
TKA menjabat sebagai direksi di perusahaan A dan sebagai komisaris di perusahaan B. Dengan
kondisi itu maka kompensasi yang dibayar untuk seorang TKA 200 dolar AS setiap bulan.
Namun, yang tak kalah penting adalah pengawasan TKA. Kepala Bidang Pengawasan
Disnakertrans DKI Jakarta, Mujiyono, mengatakan selama ini pemantauan dilakukan terhadap
perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan TKA. Namun, ia menjelaskan rata-rata perusahaan
yang mempekerjakan TKA sudah memenuhi aturan sehingga tergolong minim pelanggaran. Saat
pengawas melakukan pemeriksaan ke perusahaan, yang dilakukan adalah pemeriksaan secara
umum terkait ketenagakerjaan, termasuk penggunaan TKA. Kalau di perusahaan ditemukan
TKA
ya
kami
periksa,
katanya.
Kemenakertrans mencatat tahun 2013 jumlah IMTA yang diterbitkan sebanyak 68.957.
Sedangkan TKA yang bekerja di Indonesia paling banyak berasal dari China, Jepang, Korea
Selatan, India dan Malaysia.
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt52f4b985f1512/inilah-aturan-barupenggunaan-tenaga-kerja-asing

Pro dan Kontra Pembebasan Syarat


Bahasa Indonesia untuk Naker Asing
Baru-Baru ini, Masyarakat Indonesia sedang dihebohkan dengan wacana
Presiden untuk membebaskan Bahasa Indonesia bagi tenaga kerja
asing. Dalam hal ini terjadi pro kontra di masyarakat, ada yang setuju
ada yang menolak ada yang tak peduli bahkan tidak mengetahui akan
hal ini.
Ditinjau dari pandangan kontra kebijakan ini, diperkirakan adanya
dampak negatif bagi pekerja Indonesia bila kebijakan ini
diimplementasikan. Salah satunya, lapangan pekerjaan yang semakin
sedikit bagi masyarakat Indonesia yang mana mereka harus bersaing
secara langsung dengan para pekerja asing. Hal ini kemudian dapat
memberikan dampak yang lebih besar lagi yaitu semakin meningkatnya
pengangguran di Indonesia. Pandangan kontra ini menjadi cukup logis

bila dilihat saat ini banyak perusahaan yang meminta calon pekerja
untuk bisa secara fasih berbahasa Inggris. Menjadi keberuntungan bagi
para pekerja asing yang bahasa ibunya yaitu bahasa inggris, karena sulit
nampaknya walaupun warga asli Indonesia telah cukup fasih dalam
menggunakan bahasa inggris untuk dapat mengalahkan mereka yang
memang native speaker. Dengan begitu, akan terjadi gempuran tenagatenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia. Padahal masih cukup
banyak masyarakat Indonesia yang menjadi pengangguran. Selain itu,
mungkin berdampak langsung bagi para Guru Bahasa Indonesia bagi
orang asing dengan tidak diberlakukannya lagi persyaratan wajib
berbahasa Indonesia, para pekerja asing mungkin akan enggan untuk
mengambil les bahasa Indonesia. Dengan kata lain apabila kebijakan ini
diimplementasikan dapat mengurangi lapangan pekerjaan.
Selanjutnya ditinjau dari pendapat yang cenderung mendukung, dengan
dibebaskannya syarat berbahasa Indonesia tersebut diharapkan dapat
menarik minat pekerja asing ke Indonesia sebagai tempat untuk
berinvestasi dengan kata lain menarik investor asing dengan jalan
memberikan kemudahan bagi mereka. Bila hal ini dapat berjalan positif,
kemungkinan keinginan untuk meningkatkan perekonomian Indonesia
dapat terwujud. Selain itu pendapat mendukung mungkin akan menilai
nantinya para pekerja asing ini juga akan tetap berusaha belajar bahasa
Indonesia untuk bertahan hidup di Indonesia. Hal ini dikarenakan di
beberapa ruang publik tertentu masih tetap menjunjung tinggi
penggunaan bahasa Indonesia.Jadi identitas penggunaan bahasa
Indonesia sebagai bahasa nasional tetap terjaga.
Saya cukup netral akan kebijakan ini namun dengan beberapa kondis.
Pertama apabila pemerintah ingin menerapkan kebijakan tersebut
sebaiknya diadakan suatu analisis yang cukup terkait dengan

kemungkinan kemungkinan baik keuntungan maupun kerugian bukan


hanya dampak yang berhubungan langsung dengan kesuluruhan negara
namun juga dampak langsung ke masyarakat di semua level khususnya
para pekerja. Apabila setelah diadakan analisis ternyata ditemukan
bahwa dampak positif lebih dominan bisa saja kebijakan ini diterapkan
namun harus diadakan dahulu masa percobaan misalnya tiga bulan
sembari ditinjau ulang. Selain itu, masyarakat harus diberitahukan
terlebih dahulu dengan pemaparan alasan- alasan yang konkret
mengapa kebijakan ini harus diterapkan. Bukan hanya saat kebijakan ini
diputuskan saja, namun pada prosesnya perumusannya masyarakat juga
diberitahukan dan diikutsertakan, sehingga nilai-nilai demokrasi yang
selalu dibangga-banggakan Indonesia memang benar-benara
terealisasikan. Adanya penjelasan lebih detail kebijakan pembahasan
Bahasa Indonesia bagi pekerja asing nantinya akan diimplementasikan,
saya rasa masyarakat Indonesia akan jauh lebih dapat menerima.
Selain itu, walaupun adanya kebijakan ini harus ada kebijakan
pembatasan tenaga kerja asing di Indonesia. Pemerintah juga harus
memastikan bahwa jumlah tenaga kerja asing jumlahnya tidak jauh lebih
besar dibanding pekerja Indonesia. Kemudian terkait dengan upah
setidaknya pemerintah juga dapat meninjau pemberian gaji yaitu adanya
kesetaraan gaji antara pekerja Indonesia dan Asing dengan tingkat
kualifikasi yang setara atau kemampuan yang setara terutama mereka
yang bekerja dalam sektor publik atau yang berhubungan langsung
dengan pemerintah. Sehingga, pekerja Indonesia tetap merasa dihargai
bekerja di Indonesia, bukan justru merasa sebagaibabu di negaranya
sendiri.
https://evanipertikastory.wordpress.com/2015/09/01/pro-dan-kontrapembebasan-syarat-bahasa-indonesia-untuk-naker-asing/

Aturan untuk Tenaga Kerja Asing Makin


Longgar
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah kembali melonggarkan aturan mengenai penempatan
tenaga kerja asing (TKA).
Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 35
tahun 2015, yang merevisi aturan sebelumnya yakni Permenaker tahun 16 tahun 2015 tentang
tata cara penggunaan tenaga kerja asing.
Permenaker yang mulai berlaku sejak 23 Oktober 2015 ini memiliki beberapa poin krusial.
Pertama, aturan baru ini menghapus ketentuan tentang kewajiban perusahaan merekrut 10
pekerja lokal jika perusahaan mempekerjakan satu orang TKA.
Sebelumnya, pada Permenker Nomor 16 tahun 2015, kewajiban untuk merekrut pekerja lokal
tertuang dalam pasal 3 ayat 1. Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri beralasan, kewajiban itu
tidak dapat disamaratakan bagi seluruh bidang usaha dan perusahaan.
Akibatnya ketentuan ini tidak bisa diterapkan sehingga dicabut. "Tidak bisa diterapkan ke semua
sektor usaha," kata Hanif, Selasa (27/10/2015).
Dengan longgarnya aturan tenaga kerja asing ini, banyak perusahaan bisa memilih
menggunakan tenaga kerja asing. Namun Hanif berdalih, kebanyakan pimpinan perusahaan
sebenarnya tak sembarangan memilih warga asing bekerja di perusahaan.
Hanif beralasan, kemudahan bagi pekerja asing ini untuk memudahkan alih teknologi di
berbagai perusahaan.
Semakin terbuka
Selain menghapus kebijakan soal persyaratan bagi tenaga kerja asing yang masuk Indonesia,

dalam Permenaker tentang tata cara penggunaan pekerja asing juga mendapat penambahan
pasal baru.
Bunyinya: "Pemberi kerja TKA yang berbentuk penanaman modal dalam negeri dilarang
mempekerjakan tenaga kerja asing dengan jabatan komisaris." Di aturan sebelumnya, tidak ada
ketentuan ini.
Artinya perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh pemegang saham lokal, tidak dapat
memberikan jabatan komisaris kepada warga asing.
Sebenarnya selama ini pun, jarang ada perusahaan lokal yang menempatkan tenaga kerja
asing di posisi komisaris, biasanya malah ada di jajaran direksi perusahaan.
Selain dua poin di atas, ada ketentuan lainnya yang perlu mendapatkan perhatian berkenaan
dengan tenaga kerja asing. Yaitu, kewajiban pembayaran Dana Kompensasi Penggunaan
(DKP) tenaga kerja asing sebesar 100 per dollar AS jabatan setiap bulan dalam bentuk mata
uang rupiah.
Kementerian Ketenagakerjaan kini lebih memilih mencabut ketetapan ini. Dengan demikian,
maka perusahaan yang membayarkan DKP tenaga kerja asing tidak perlu lagi mengonversi ke
mata uang rupiah karena bisa dalam dollar AS.
Alasan perubahan merujuk peraturan Bank Indonesia (BI) Izin Menggunakan Tenaga Kerja
Asing (IMTA) yang memasukkan DKP ke dalam Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Akibatnya, perusahaan tidak diharuskan menggunakan mata uang rupiah.
Sekretaris Jenderal Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Muhammad Rusdi kecewa
dengan peraturan Menaker ini.
"Kami kecewa, tiba-tiba pemerintah merevisi Permenaker 16/2015. Ini menunjukkan
ketidakmatangan pemerintah," ujar Rusdi.
Dalam revisi Permenaker Nomor 16 tahun 2015 itu, pemerintah juga telah menghapus aturan
kewajiban bagi TKA untuk dapat berbahasa Indonesia. Sehingga, tenaga kerja asing kini lebih
leluasa untuk berkarir di Indonesia.

Rusdi khawatir, dengan dicabutnya ketentuan yang membatasi tenaga asing tersebut, banyak
TKA yang tidak memiliki keahlian masuk dan bekerja di dalam negeri. Apalagi tahun depan,
Indonesia masuk dalam pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN. Artinya, kian bebas orang
asing masuk Indonesia. (Handoyo)

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/10/28/073800426/Atur
an.untuk.Tenaga.Kerja.Asing.Makin.Longgar

Ternyata Aturan Pekerja Asing


Wajib Bahasa Indonesia Sudah
Dicabut
Neneng Zubaidah
Minggu, 23 Agustus 2015 15:41 WIB
JAKARTA - Pemerintah ternyata telah merevisi Peraturan Menteri Tenaga Kerja
(Permenaker) Nomor 12 Tahun 2013 yang isinya mengatur tentang syarat bagi pekerja
asing memiliki kemampuan berbahasa Indonesia.
Peraturan tersebut direvisi dengan Permenaker Nomor 16 Tahun 2015 pada Juni lalu.
Dengan demikian, pekerja asing tidak lagi diwajibkan untuk memiliki kemampuan
berbahasa Indonesia. (Baca juga: Aturan Pekerja Asing Wajib Berbahasa Indonesia
Dihapus)
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri mengakui penghapusan syarat
yang merupakan permintaan Presiden Jokowi itu sudah diakomodasi dengan
diterbitkan Permenaker Nomor 16/2015 tentang Tata Cara Penggunaan Tenaga Kerja
Asing.

Dalam Permenaker baru itu tidak ada aturan yang mewajibkan tenaga kerja asing
(TKA) memiliki kemampuan berbahasa Indonesia.
"Arahan Presiden itu sudah ditindaklanjuti dengan Permenaker Nomor 16 yang
disahkan oleh Menkumham 29 Juni kemarin. Dalam regulasi itu TKA tidak lagi
dikenakan syarat berbahasa Indonesia," katanya melalui pesan singkat, Minggu
(23/8/2015).
Menurut Hanif, seluruh pihak tidak perlu khawatir penghapusan syarat tersebut akan
mengancam pekerja dalam negeri. "Jangan khawatir," ujarnya.
Dia mengungkapkan masih banyak syarat wajib dalam Permenaker 16/2015 yang
menjadi instrumen perlindungan pekerja dalam negeri.
Dalam Pasal 38 Permenaker 16/2015 disebutkan setiap pemberi kerja bagi tenaga
kerja asing (TKA) wajib memiliki Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA).
Sementara untuk mendapatkan IMTA, pemberi kerja wajib mengajukan permohonan
secara online dengan mengunggah bukti pembayaran Dana Kompensasi Penggunaan
TKA (DKP-TKA), keputusan pengesahan Rencana Penggunaan TKA (RPTKA), paspor
pekerja asing, foto, surat penunjukan TKI pendamping.
Selain itu, TKI diwajibkan memiliki pendidikan sesuai dengan syarat jabatan yang akan
diduduki oleh pekerja asing, memiliki sertifikat kompetensi atau pengalaman kerja
sesuai jabatan minimal lima tahun, draft perjanjian kerja atau perjanjian melakukan
pekerjaan, bukti polis asuransi di perusahaan asuransi berbadan hukum Indonesia dan
rekomendasi dari instansi yang berwenang apabila diperlukan untuk TKA yang akan
dipekerjakan oleh pemberi kerja TKA.
Hanif mengakui, pemerintah dalam hal ini hanya ingin mempermudah pelayanan bagi
TKA dengan posedur yang sederhana dan cepat.
Hanif menjelaskan permintaan Presiden itu sebetulnya hanya ingin memberi contoh
tentang deregulasi yang diperlukan untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif. Di
antaranya soal tenaga kerja asing yang terkena syarat bahasa Indonesia itu.

Dia mengatakan, pelayanan terkait tenaga kerja asing tidak manual lagi
melainkansecara online. Menurut dia, sistem pelayanan TKA sudah diperbaiki dan
memudahkan pelayanan. Hanif mengingatkan seluruh stakeholder untuk benar-benar
mematuhi regulasi yang ada.
"Jangan sampai ada TKA yang bekerja tanpa izin lagi. Kalau sudah dimudahkan tapi
ada yang masih melanggar itu kebangetan namanya," ungkapnya.
Informasi tentang penghapusan syarat memiliki kemampuan berbahasa Indonesia bagi
pekerja asing kali pertama terungkap dari pernyataan Sekretaris Kabinet (Seskab)
Pramono Anung pada Jumat 21 Agustus 2015.
Kebijakan yang diduga baru rencana itu telah mengundang kritik dari berbagai pihak.
Pasalnya, kebijakan itu dianggap dapat mengancam kesempatan kerja bagi tenaga
kerja lokal.
http://nasional.sindonews.com/read/1036111/15/ternyata-aturan-pekerja-asingwajib-bahasa-indonesia-sudah-dicabut-1440319282
Pekerja Asing Wajib Berbahasa Indonesia
Pro :
Menurut Mustakim ketentuan itu sesuai dengan Undang Undang Nomor 24 Tahun 2009.
Undang-undang ini mewajibkan orang asing yang akan bekerja di Indonesia atau yang akan
mengikuti studi di Indonesia atau yang akan menjadi warga negara Indonesia itu harus
mempunyai kemampuan berbahasa Indonesia
Jika pekerja asing tidak menggunakan bahasa Indonesia akan terjadi salah pengertian dengan
yang dimaksud dan akan menimbulkan konflik.
("Bayangkan, seorang atasan memberikan sebuah perintah kepada bawahannya. Karena
bawahan tidak mengerti bahasa, bawahan tak menjalankan perintah yang sesuai dengan
keinginan atasan sehingga terjadilah konflik,")
Hal ini tidak adil untuk masyarakat Indonesia karena sebelum Tenaga Kerja Indonesia (TKI)
diberangkatkan ke Negera tujuan, mereka terlebih dahulu dibekali dengan Bahasa Negara
setempat.
(Seperti, TKI yang dikirim ke Timur Tengah dibekali dulu dengan Bahasa Arab. Jika TKI
tersebut dikirim ke Taiwan, di bekali dulu dengan Bahasa China.)
kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan yang sedang merevisi Permenakertrans No 12/2013
tentang Tata Cara Penggunaan Tenaga Kerja Asing.

(Mulai awal tahun ini, para Tenaga Kerja Asing (TKA) yang hendak bekerja di Indonesia harus
belajar dan mahir berbahasa Indonesia. Tes kemampuan bahasa Indonesia atau TOIFL (Test of
Indonesian as Foreign Language) . segera diberlakukan dan menjadi salah satu syarat yang
wajib dipenuhi para TKA.)

Kontra :
Jangan sampai karena adanya paksaan untuk berbahasa Indonesia, membuat TKA enggan
datang ke Indonesia untuk menginvestasikan modalnya. Juga jika aturan ini tidak hati-hati
diterapkan, bisa saja ekspatriat yang sudah lama bekerja di Indonesia, segera meninggalkan
negeri ini, karena khawatir tidak bisa memenuhi kewajibannya untuk bisa berbahasa Indonesia.
Kalau ini sampai terjadi, tentunya akan berpengaruh secara luas terhadap perusahaan tempat
ekspatriat itu bekerja.
meskipun banyak ekspatriat yang bekerja di sini dan tidak bisa berbahasa Indonesia, namun
mereka tetap bisa berkomunikasi dengan buruh. Caranya melalui penerjemah di masingmasing perusahaan.---peluang bagi orang Indonesia untuk jadi penerjemah mereka
Tenaga Kerja asing yang bekerja di Indonesia tanpa harus menguasai Bahasa Indonesia.
Anehnya, perusahana dimana Ekspatriat itu bekerja memiliki karyawan yang dapat berbahasa
Asing. Sehingga, memudahkan Tenaga Asing itu bekerja di Indonesia.
Karena bahasa Indonesia bukan bahasa internasional. Maka banyak warga asing yang tidak
mengetahui adanya bahasa Indonesia.
( masyarakat Jepang yang terlalu menjunjung bahasanya sendiri bahkan di sekolah-sekolah
Negara Jepang pun tidak ada pelajaran bahasa asing/internasional seperti bahasa inggris)

1.
Latar belakang
Dalam era globalisasi, ekspatriat atau tenaga pekerja asing (TKA) yang masuk ke indonesia
tidak dapat dibendung kehadirannya, terlebih dengan diterapkannya Asean China Free Trade
Agreement (ACFTA). Setiap tahun, ada ribuan TKA di Indonesia yang bekerja di berbagai
sektor. Pekerja asing yang bekerja di Indonesia sebagian besar sektor manufaktur dan
pertambangan. TKA terbanyak berasal dari Cina, Jepang, Malaysia, Thailand dan Korea
Selatan.
2.
Rumusan masalah
v Untuk mengetahui daripada Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing?
v Untuk mengetahui daripada implementasi UU RI No. 24 Tahun 2009?
v Untuk mengetahui daripada Kesiapan Tenaga Kerja Asing dalam menghadapi Undangundang?

3.
Tujuan
Para TKA ketika bekerja ke Negara Indonesia harus bisa berkomunikasi dengan memakai
Bahasa Indonesia, sama halnya dengan TKI yang akan bekerja ke Negara lain seperti
Singapura wajib mampu berbahasa Inggris.
4.
Manfaat penulisan
Penulis tertarik dengan pasal 33 yang isinya adalah sebagai berikiut:
Bahasa indonesia wajib digunakan dalam komunikasi resmi di lingkungan kerja pemerintah
dan swasta.
Pegawai di lingkungan kerja lembaga pemerintah dan swasta sebagaimana dimaksud atau
diikut sertakan dalam pembelajaran untuk meraih kemampuan berbahasa Indonesia.
5.
Penelitian terdahulu
UU RI. Nomor 24 tahun 2009, menurut orang asing yang bekerja di Indonesia baik di
perusahaan Indonesia maupun di perusahaan asing harus mampu berbahasa Indonesia. Untuk
mendukung hal tersebut diperlukan fasilitas dan konsesi bahasa Indonesia bagi ekspatriat.
6.
Teori
Umumnya, para TKA mendapat jabatan dan fasilitas lebih baik daripada tenaga kerja Indonesia.
Hal ini menimbulkan hubungan yang tidak harmonis di antara pekerja, seperti yang terjadi di
bebererapa daerah di tanah air.pemberlakuan perdangan bebas harus disikapi dengan cermat
oleh semua pihak, termasuk bidang ketenagakerjaan.tenaga kerja di Indonesia akan
dihadapkan pada persaingan dan kompetisi secara terbuka.

7.
Metodologi
Di mana cara untuk menjadi TKA harus wajib mampu berbahasa Indonesia begitupun untuk
menjadi TKI wajib mampu menguasai bahasa inggris supaya mudah dipahami oleh masyarakat
pada umumnya.
Kesiapan Tenaga Kerja Asing pada menhadapu Undang-undang
Pemerintah Indonesia telah mengatur syarat untuk dapat menggunakan tenaga kerja warga
negara asing dengan beberapa peraturan dan undang-undang.
Pertama,keputusan presiden No. 75 Tahun 1995 tentang pengunaan Tenaga Kerja Warga
Negara Asing pendatang. Kepres No. 75/1995 tersebut hanya mengatur tentang TKA harus
mendapat izin dari pemerintah sebelum bekerja di Indonesia, kewajiban administrasi yang
harus dilakukan dan kerelaan TKA untuk mendidik tenaga kerja Indonesia sebagai
penggantinya. Kepres tersebut tidak mengatur standar kompetensi yang harus dimiliki TKA
atau tes yang harus diikuti sebelum bekerja di Indonesia.
Kedua, Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Tradisional Republik Indonesia Nomor: Kep20/men/III/2004 tentang tata cara memperoleh izin mempekerjakan Tenaga Kerja Asing dan
mengatur persyaratan yang harus dimiliki adalah dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.
Walaupun pada kenyataanya, implementasi dari syarat tersebut hampir tidak pernah
dilaksanakan.
Ketiga,Pemanfaatan Tenaga Kerja Asing oleh Bank diatur dalam peraturan Bank Indonesia
(BPI) No. 9/8/PBI/2007. Surat edaran tersebut mensyaratkan pejabat eksekutif dan penasehat
atau konsultan asing harus mampu berbahasa Indonesia (BI). Memberi waktu paling lambat

satu tahun untuk melengkapi syarat tersebut setelah para Bankir asing tersebut menduduki
jabatannya.
Keempat, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa
dan Lambang Negara serta lagu Kebangsaan. Dalam pasal 33 menurut para pekerja di
Indonesia wajib mampu berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.
Fasilitas yang harus ada agar undang-undang tersebut terlaksana seperti:

Lembaga-lembaga penyelenggara BIPA

Bahan-bahan ajar BIPA dan bahan-bahan penunjang

Pengajar BIPA

Kurikulum dan silabus

Alat evaluasi

Pertukaran pelajar, mahasiswa dan pengajar

Pementasan seni budaya Indonesia di lembaga-lembaga penyelenggara pengajaran


BIPA.

Pemberian beasiswa kepada pelajar/mahasiswa.


C. PENUTUP
1.
Kesimpulan
Agar UU No. 24 tahun 2009, khususnya pasal 33 tersebut dapat terlaksana, pemerintah
sebaiknya menyiapkan sarana dan prasarana. Adapun fasilitas-fasilitas yang mendasar yang
harus disiapkan antara lain, lembaga-lembaga penyelenggara BIPA baik di dalam maupun di
luar negeri. Lembaga tersebut adalah wadah bagi orang asing untuk belajar bahasa Indonesia.
Lembaga tersebut dapat berbentuk pendidikan formal maupun informal.
http://widyasuhandi.blogspot.co.id/2015/03/pekerja-asing-wajib-berbahasaindonesia.html