Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Puskesmas sebagai salah fasilitas pelayanan kesehatan dasar merupakan
ujung tombak terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Puskesmas
berfungsi sebagai pusat pembangunan wilayah berwawasan kesehatan, pusat
pelayanan kesehatan perorangan primer dan pusat layanan kesehatan
masyarakat primer dan pusat pemberdayaan masyarakat. Sebagai unit
pelayanan kesehatan Puskesmas memiliki berbagai potensi bahaya yang
berpengaruh buruk pada tenaga kesehatan dan non kesehatan yang bekerja di
Puskesmas, pasien, pengunjung dan masyarakat sekitarnya. Potensi bahaya
tersebut meliputi golongan fisik, biologis, kimia, ergonomis dan psikososial.
Khususnya golongan biologi merupakan bahaya potensi yang paling sering
menyebabkan gangguan kesehatan di Puskesmas ( Kementerian Kesehatan RI,
2011 ).
Potensi bahaya golongan biologis tersebut antara lain virus, bakteri,
jamur, protozoa, parasit, hewan pengerat. Virus dan bakteri merupakan potensi
bahaya yang paling sering mengancam pada petugas Puskesmas. Hal tersebut
terkait

dengan

masih

tingginya

prevalensi

berbagai

penyakit

yang

disebabkannya yakni TB Paru, Hepatitis B, Hepatitis C dan HIV /AIDS yang


dapat menular dari pasien ke petugas Puskesmas selama menjalankan
pekerjaan. Penyakit-penyakit tersebut digolongkan dalam penyakit akibat
kerja. ( Kepmenkes, 2007).
Pada Tahun 2000 WHO mencatat kasus infeksi akibat tusukan jarum
yang terkontaminisasi virus yang diperkirakan mengakibatkan : Terinfeksi
virus Hepatitis B sebanyak 21.000.000 ( 32 % dari semua infeksi
baru ),Terinfeksi virus Hepatitis C sebanyak 2.000.000 ( 40 % dari semua
infeksi baru ),Terinfeksi HIV sebanyak 260.000 ( 5 % dari seluruh infeksi
baru ) ( WHO, 2000 ).

Di Indonesia jumlah penderita Hepatitis B dan C diperkirakan


mencapai 30.000.000 orang. Sekitar 15.000.000 orang dari penderita Hepatitis
B dan C berpotensi menderita chronik liver diseases. Indonesia sendiri
digolongkan ke dalam kelompok daerah dengan prevalensi hepatitis B dengan
tingkat endemisitas menengah sampai tinggi. Dari total sebanyak 5.870 kasus
hepatitis di Indonesia berdasarkan hasil pendataan tahap pertama yang
dilakukan bulan Oktober tahun 2007 hingga 9 September tahun 2008 40 %
diantaranya berasal dari pengguna jarum suntik. Dari prevalensi yang tinggi
tersebut disisi lain pengendalian bahaya di fasilitas kesehatan khususnya
Puskesmas belum memadai. Hal ini dibuktikan dari berbagai penelitian
pengendalian bahaya anatara lain : Starh dengan Quick Investigation of quality
yang melibatkan 136 fasilitas kesehatan dan 108 diantaranya adalah puskesmas
menunjukan bahwa hampir semua petugas Puskesmas belum memahami dan
mengetahui tentang kewaspadaan universal.
Hasil penelitian di Jakarta Timur yang dilakukan oleh Sri Hudoyo
Tahun 2004 menunjukan bahwa tingkat kepatuhan petugas menerapkan setiap
prosedur tahapan kewaspadaan universal dengan benar hanya 18,3 %, status
vaksinasi hepatitis B pada petugas Puskesmas masih rendah yaitu 12,5 %, dan
riwayat pernah tertusuk jarum bekas sekitar 84,2 %. Petugas Puskesmas di
banyak negara berkembang tidak terlatih dalam hal pencegahan dan
pengendalian sederhana terhadap berbagai masalah kesehatan pekerja.
Mengingat potensi bahaya yang tinggi bagi petugas Puskesmas maka
diperlukan pedoman pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja ( K3 ) di
Puskesmas yang diharapkan dapat dipergunakan sebagai acuan terhadap
perlindungan kesehatan petugas Puskesmas khususnya petugas kesehatan yaitu
mulai dari kegiatan promotif, preventif,kuratif dan rehabilitatif.
Berdasarkan permasalahan di atas tentunya kita perlu menyadari bahwa
dalam lingkup pekerjaan di bidang kesehatan mempunyai banyak risiko
terhadap para pekerjanya. Oleh karena itu diperlukan adanya penelitian
mengenai gambaran penyakit akibat kerja di Puskesmas.

B. Profil Puskesmas Sedayu II


Puskesmas Sedayu II merupakan Puskesmas Rawat jalan yang terletak
di kecamatan sedayu dan mewilayahi 2 desa yaitu desa Argorejo dengan luas
wilayah 7,2 km2 yang mencakup 13 dusun dan desa Argodadi dengan luas
wilayah 11,2 km2 yang mencakup 14 dusun.
Wilayah kerja Puskesmas sedayu II batas sebelah utaraadalah desa
Argodadi, batas sebelah timur adalah kecamatan gamping kabupaten Sleman,
batas sebelah selatan adalah kecamtan Pajangan, dan batas sebelah barat adalah
kabupaten Kulonprogo.
Penduduk pada wilayah desa Argorejo yang dibagi menjadi 13
dusun, mencakup kepala keluarga sebanyak 3427 KK dan penduduk sebanyak
12577 jiwa. Jika dibandingkan dengan luas wilayah desa Argorejo sebesar 7,2
km2 maka didapatkan kepadatan penduduk sebesar 1740/km2.
Desa Argodadi dibagi menjadi 14 dusun dengan jumlah kepala
keluarga sebanyak 3784 KK dan jumlah penduduk sebanyak 10668 jiwa.
Denganluas wilayah yang lebih luas dan jumlah penduduk yang lebih sedikit
dibandingkan dengan desa Argorejo, kepadatan penduduk sebesar 952
jiwa/km2.
Tabel 1. Profil Pegawai Puskesmas Sedayu II.

Profesi
Dokter umum
Dokter Gigi
Bidan
Perawat
Perawat Gigi
Apoteker
Kesehatan Masyarakat
Nutrisi
Analis Lab
Pejabat Struktural
Staf Penunjang Administrasi

Perempuan
2
2
6
3
3
1
0
1
1
1
1

Laki - Laki
0
0
0
3
0
0
1
0
0
1
3

Total
2
2
6
6
3
1
1
1
1
2
4

Petugas non medis


Total Pegawai

0
21

4
12

4
33

Tabel 2. Data Kunjungan Per hari dalam Satu tahun. (7 mei 2014 - 7mei
2015)
Ruangan

Satu Tahun

Rata-rata perhari

BP Umum

22612

62,81111111

BP Gigi

2577

7,158333333

KIA

5915

16,43055556

LAB

135

0,375

C. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas yang menjadi permasalahan dalam
penelitian ini adalah :
1. Apa saja penyakit yang muncul akibat kerja pada pegawai Puskesmas
Sedayu II ?
2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan dan keselamatan
kerja pada pegawai Puskesmas Sedayu II ?
3. Apa saja usaha untuk meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja pada
pegawai puskesmas Sedayu II ?
D. TUJUAN PENELITIAN
Mengetahui gambaran penyakit akibat kerja pada pegawai di Puskesmas
Sedayu 2.
E. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi Dinas Kesehatan dan Puskesmas
Hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan
kebijakan dan program pembinaan untuk menanggulangi kasus yang
berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan kerja pada para pegawai
puskesmas. Diharapkan dapat memberikan gambaran kepada pegawai
tentang melakukan upaya preventif dalam upaya kesehatan dan
keselamatan kerja di puskesmas.
2. Bagi Ilmu Kesehatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi dan ilmu


pengetahuan tentang kesehatan dan keselamatan kerja di puskesmas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja (k3)


Keselamatan dan kesehatan kerja difilosofikan sebagai suatu pemikiran
dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun
rohani tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, Sedangkan
pengertian secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya
dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit
akibat kerja.
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak dapat dipisahkan dengan
proses produksi baik jasa maupun industri. Perkembangan pembangunan
setelah Indonesia merdeka menimbulkan konsekwensi meningkatkan intensitas
kerja yang mengakibatkan pula meningkatnya resiko kecelakaan di lingkungan
kerja. Hal tersebut juga mengakibatkan meningkatnya tuntutan yang lebih
tinggi dalam mencegah terjadinya kecelakaan yang beraneka ragam bentuk
maupun jenis kecelakaannya. Sejalan dengan itu, perkembangan pembangunan
yang dilaksanakan tersebut maka disusunlah UU No.14 tahun 1969 tentang
pokok-pokok mengenai tenaga kerja yang selanjutnya mengalami perubahan
menjadi UU No.12 tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan. Dalam pasal 86 UU
No.13 tahun 2003, dinyatakan bahwa setiap pekerja atau buruh mempunyai hak
untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, moral
dan kesusilaan dan perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat serta
nilai-nilai

agama.Untuk

mengantisipasi

permasalahan

tersebut,

maka

dikeluarkanlah peraturan perundangan-undangan di bidang keselamatan dan


kesehatan kerja sebagai pengganti peraturan sebelumnya yaituVeiligheids
Reglement, STBl No.406 tahun 1910 yang dinilai sudah tidak memadai
menghadapi kemajuan dan perkembangan yang ada. Peraturan tersebut adalah
Undang-undang No.1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja yang ruang
lingkupnya meliputi segala lingkungan kerja, baik di darat, didalam tanah,
permukaan air, di dalam air maupun udara, yang berada di dalam wilayah
kekuasaan hukum Republik Indonesia.Undang-undang tersebut juga mengatur
syarat-syarat keselamatan kerja dimulai dari perencanaan, pembuatan,
pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemasangan, pemakaian, penggunaan,

pemeliharaan dan penyimpanan bahan, barang produk tekhnis dan aparat


produksi yang mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan. (Prof.
Dr. Soekidjo notoamodjo, prinsip-prinsip dasar ilmu kesehatan masyarakat,
jakarta, rineka cipta, 2003).
B.

Undang-undang kesehatan kerja


UU Keselamatan Kerja yang digunakan untuk mencegah terjadinya
kecelakaan kerja, menjamin suatu proses produksi berjalan teratur dan sesuai
rencana, dan mengatur agar proses produksi berjalan teratur dan sesuai
rencana, dan mengatur agar proses produksi tidak merugikan semua pihak.
Setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan keselamatan dalam
melakukan pekerjaannya untuk kesejahteraan dan meningkatkan produksi serta
produktivitas nasional. UU Keselamatan Kerja yang berlaku di Indonesia
sekarang adalah UU Keselamatan Kerja (UUKK) No. 1 tahun 1970.Undangundang ini merupakan undang-undang pokok yang memuat aturan-aturan dasar
atau ketentuan-ketentuan umum tentang keselamatan kerja di segala macam
tempat kerja yang berada di wilayah kekuasaan hukum NKRI. Dasar hukum
UU No. 1 tahun 1970 adalah UUD 1945 pasal 27 (2) dan UU No. 14 tahun
1969. Pasal 27 (2) menyatakan bahwa: Tiap-tiap warganegara berhak atas
pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Ini berarti setiap
warga negara berhak hidup layak dengan pekerjaan yang upahnya cukup dan
tidak menimbulkan kecelakaan/ penyakit.UU No. 14 tahun 1969
1. Undang-undang Nomor 14 tahun 1969
menyebutkan bahwa tenaga kerja merupakan modal utama serta
pelaksana dari pembangunan. Adanya undang-undang dan peraturan-peraturan
pemerintah lainya dalam prakte Hygine perusahaan dan kesehatan kerja adalah
keperluan yang tak bisa ditawar tawari lagi atas kekuatan undang-undanglah
pejabat-pejabat departemen tenaga kerja Transkop atau departemen kesehatan
dapat melakukan inspeksi dan memaksakan segala sesuatunya yang diataur
oleh undang-undang atau peraturan-peraturan itu kepada perusahaan. Apa bila
nasehat-nasehat atu peringatan-peringatan tidak dihiraukan, maka atas

kekuatan undang-undang pula dipaksakan sangsi-sangsi menurut undangundang pula.tentang ketentuan-ketentuan pokok mengenai tenaga kerja
mengatur hygene perusahaan dan kesehatan kerja sebagai berikut:
Tiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatan,
kesehatan, kesusilaan, pemeliharaan moral kerja serta perlakuan yang sesuai
dengan martabat manusia dan moral agama (pasal 9).
2. Undang-undang kerja (1948-1951)
Undang-undang kerja diundangkan pada tahun 1948 dan
dinyatakan berlaku, walaupun tidak untuk seluruh pasal-pasalnya, dengan
peraturan pemerintah tahun 1951 NO.1. Undang-undang ini mengatur tentang
jam kerja, cutu tahunan, cuti hamil, cutu haid bagi pekerja-pekerja wanita,
perturan tentang kerja bagi anak-anak, orang muda, dan wanita persyaratan
tempat kerja, dan lain-lain. Tapi ditinjau dari sudut higene perusahatan dan
kesehatan kerja yang menjadi wewenan dan tanggung jawab kerja Transkop
adalah pasal 16 ayat 1 yang menetapkan, bahwa majikan harus mengadakan
tempat kerja dan perumahan yang memenuhi syarat-syatat kebersihan dan
kesehatan, yang syarat-syarat tersebut akan diperinci dalam peraturanperaturan lainnya. Perlu diketahui, bahwa pasal 16 ayat 1 tersebut belum lagi
dinyatakan berlaku.
C.

K3 dalam Pelayanan Kesehatan Puskesmas


Puskesmas merupakan tempat kerja serta tempat berkumpulnya orangorang sehat (petugas dan pengunjung) dan orang-orang sakit (pasien), sehingga
puskesmas merupakan tempat yang mempunyai resiko kesehatan mapun
kecelakaan

kerja

resiko

128/MENKES/SK/II/2004

tertinggi. Berdasarkan
tentang

kebijakan

Kepmenkes

Dasar

Pusat

Nomer

Kesehatan

Masyarakat (Puskesmas) menyatakan bahwa puskesmas merupakan unit


pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaken/kota yang bertanggung jawab
dalam

menyelenggarakan

pembangunan

kesehatan

diwilayah

kerjanya. (Silalahi bennet dkk, manajemen keselamatan dan keselamatan


kerja, jakarta, sbdodadi, 1995)

Puskesmas adalah organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusa


tpengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta
masyarakat dan memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada
masyarakat di wilayah kerja nya dalam bentuk kegiatan pokok (Depkes RI,
1991). Dengan

kata

lain

puskesmas

tanggungjawab

atas pemeliharaankesehatan

mempunyai
masyarakat

wewenang
dalam

dan

wilayah

kerjanya. Menurut Kepmenkes RI No. 128/Menkes/SK/II/2004 puskesmas


merupakan Unit Pelayanan Teknis Dinas kesehatan kabupaten/kota yang
bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu
wilayah kerja.
a. Perencanaan Puskesmas
Arah perencanaan puskesmas adalah mewujudkan kecamatan sehat 2010.
Dalam perencanaan puskesmas hendaknya melibatkan masyarakat sejak awal
sesuai kondisi kemampuan masyarakat di wilayah kecamatan. Pada dasarnya
ada 3 langkah penting dalam penyusunan perencanaan yaitu :
1) identifikasi kondisi masalah kesehatan masyarakat dan lingkungan
serta fasilitas pelayanan kesehatan tentang cakupan dan mutu pelayanan
2) identifikasi potensi sumber daya masyarakat dan provider, dan
3)

menetapkan kegiatan -kegiatan untuk menyelesaikan masalah.

Hasil perencanaan puskesmas adalah Rencana Usulan Kegiatan (RUK)


tahun yang akan datang setelah dibahas bersama dengan Badan Penyantun
Puskesmas (BPP). Setelah mendapat kejelasan dana alokasi kegiatan yang
tersedia selanjutnya puskesmas membuat Rencana Pelaksanaan Kegiatan
(RPK). Proses perencanaan dapat menggunakan instrumen Perencanaan
Tingkat Puskesmas (PTP) yang telah disesuaikan dengan kondisi setempat atau
dapat memanfaatkan instrument lainnya.
b. Penggerakkan Pelaksanaan
Puskesmas melaksanakan serangkaian kegiatan yang merupakan
penjabaran lebih rinci dari rencana pelaksanaan kegiatan. Penyelenggaraan

penggerakan pelaksanaan puskesmas melalui instrumen lokakarya mini


puskesmas yang terdiri dari :
1) Lokakarya mini bulanan adalah alat untuk penggerakan pelaksanaan
kegiatan bulanan dan juga monitoring bulanan kegiatan puskesmas dengan
melibatkan lintas program intern puskesmas.
2) Lokakarya

mini

tribulanan

dilakukan

sebagai

penggerakan

pelaksanaan danmonitoring kegiatan puskesmas dengan melibatkan lintas


sektoral, BadanPenyantun Puskesmas atau badan sejenis dan mitra yang lain
puskesmas sebagai wujud tanggung jawab puskesmas perihal kegiatan.
c.

Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian

Untuk

terselenggaranya

penilaiandiperlukan

instrumen

proses
yang

pengendalian,

pengawasan

sederhana. Instrumen

yang

dan
telah

dikembangkan di puskesmas adalah:


1) Pemantauan Wilayah Setempat (PWS)
2) Penilaian/Evaluasi Kinerja Puskesmas sebagai pengganti dan
stratifikasi.
c. Upaya Kesehatan Kerja di Puskesmas
Upaya Kesehatan Kerja Di Puskesmas Ditujukan untuk melindungi pekerja
agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang
diakibatkan oleh pekerja. Upaya kesehatan kerja yang dimaksud meliputi pekerja
disektor fomal dan informal dan berlaku bagi setiap orang selain pekerja yang
berada

dilingkungan

tempat

kerja.

Berdasarkan

Kepmenkes

Nomor

128/MENKES/SK/II/2004 tentang kebijakan dasar puskesmas menyatakan bahwa


puskesmas merupakan unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
yang bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan
diwilayah kerjanya termasuk upaya kesehatan kerja. Menurut International
Labaour Organisation (ILO) diketahui bahwa 1,2 juta orang meninggal setiap
tahun karena kecelakaan kerja atau penyakit akibat hubungan kerja (PAHK). Dari
250 juta kecelakaan, 3000.000 orang meninggal dan sisanya meninggal karena
PAHK oleh sebab itu diperkirakan ada 160 juta PAHK baru setiap tahunnya.
Melihat data tersebut maka sangat perlu diberikan perlindungan kesehatan dan

keselamatan kerja kepada masyarakat pekerja di wilayah kerja puskesmas dengan


tujuan meningkatkan kemampuan pekerja untuk menolong dirinya sendiri
sehingga terjadi peningkatan status kesehatan dan akhirnya peningkatan
produktivitas kerja . Adapun sasaran dari program ini adalah pekerja di sektor
kesehatan

antara

lain

masyarakat

pekerja

di

puskesmas,

balai

pengobatan/poliklinik, laboraturium kesehatan, Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos


UKK), Jaringan dokter perusahaan bidang kesehatan kerja, masyarakat pekerja
diberbagai sektor pembangunan, dunia usaha dan lembaga swadaya masyarakat.
Untuk menerapkan pelayanan kesehatan kerja di puskesmas, secara umum kita
dapat melihat langkah-langkah yang dapat diterapkan sebagaimana yang tertuang
dalam pedoman pelayanan kesehatan kerja yang meliputi perencanaan,
pelaksanaaan dan evaluasi serta memperhatikan aspek indikator yang harus
dipenuhi. Strategi yang dikembangkan adalah dengan cara terpadu dan
menyeluruh dalam pola pelayanan kesehatan puskesmas dan rujukan, dilakukan
melalui pelayanan kesehatan paripurna, yang meliputi upaya peningkatan
kesehatan, pencegahan penyakit akibat kerja, penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan. Serta peningkatan pelayanan kesehatan kerja dilaksanakan
melalui peran serta aktif masyakarat khususnya masyarakat pekerja. (Sumamur,
keselamatan kerja dan pencegahan kecelakaan, jakarta, gunung agung, 1986).
D. Resiko

dan Bahaya akibat Kerja pada Pelayanan Kesehatan


Puskesmas ataupun Rumah sakit adalah sarana upaya kesehatan yang

menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat berfungsi sebagai


tempat pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian. Puskesmas ataupun Rumah
sakit merupakan salah satu tempat bagi masyarakat untuk mendapatkan
pengobatan dan pemeliharaan kesehatan dengan berbagai fasilitas dan peralatan
kesehatannya.Rumah sakit sebagai tempat kerja yang unik dan kompleks tidak
saja menyediakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, tetapi juga merupakan
tempat pendidikan dan penelitian kedokteran.Semakin luas pelayanan kesehatan
dan fungsi suatu rumah sakit maka semakin kompleks peralatan dan fasilitasnya.
Potensi bahaya di sarana pelayanan kesehatan, selain penyakit-penyakit
infeksi juga ada potensi bahaya-bahaya lain yang mempengaruhi situasi dan

kondisi di tempat pelayanan tersebut, yaitu kecelakaan (peledakan, kebakaran,


kecelakaan yang berhubungan dengan instalasi listrik, dan sumber-sumber
cedera lainnya), radiasi, bahan-bahan kimia yang berbahaya, gas-gas anestesi,
gangguan psikososial, dan ergonomi. Semua potensi-potensi bahaya tersebut
jelas mengancam jiwa bagi kehidupan bagi para karyawan di rumah sakit, para
pasien maupun para pengunjung yang ada di lingkungan puskesmas.
Sarana pelayanan kesehatan ini mempunyai karakteristik khusus yang
dapat

meningkatkan

peluang

kecelakaan.

Misalnya,

petugas

acapkali

menggunakan dan menyerahkan instrumen benda-benda tajam tanpa melihat


atau membiarkan orang lain tahu apa yang sedang mereka lakukan. Ruang kerja
yang terbatas dan kemampuan melihat apa yang sedang terjadi di area operasi
bagi sejumlah anggota tim (perawat instrumen atau asisten) dapat menjadi
buruk. Hal ini dapat mempercepat dan menambah streskecemasan, kelelahan,
frustasi dan kadang-kadang bahkan kemarahan.Pada akhirnya, paparan atas
darah acapkali terjadi tanpa sepengetahuan orang tersebut, biasanya tidak
diketahui hingga sarung tangan dilepaskan pada akhir prosedur yang
memperpanjang durasi paparan.Pada kenyataannya, jari jemariacap kali menjadi
tempat goresan kecil dan luka, meningkatkan risiko infeksi terhadap patogen
yang ditularkan lewat darah.Kondisi gawat darurat dapat terjadi setiap waktu dan
mengganggu kegiatan rutin. Mencegah luka dan paparan (agen yang
menyebabkan infeksi) pada kondisi ini sesungguhnya suatu yang menantang
(Advanced Precaution for Todays OR). Dari berbagai potensi bahaya tersebut,
maka perlu upaya untuk mengendalikan, meminimalisasi dan bila mungkin
meniadakannya, oleh karena itu manajemen resiko di tempat pelayanan
kesehatan perlu dikelola dengan baik.Agar penyelenggaraan K3 rumah sakit
lebih efektif, efesien dan terpadu diperlukan sebuah manajemen resiko di rumah
sakit baik bagi pengelola maupun karyawan rumah sakit.
Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) (Adverse Event)
Suatu kejadian yang mengakibatkan cedera yang tidak diharapkan pada
pasien karena suatu tindakan (commision) atau karena tidak bertindak
(ommision), dan bukan karena underlying disease atau kondisi pasien (KKPRS) KTD yang tidak dapat dicegah (unpreventable adverse event): - suatu KTD

akibat komplikasi yang tidak dapat dicegah dengan pengetahuan yang mutakhir
(KKP-RS). Masalah KTD bisa terjadi dikarenakan (AHRQ Publication No.04RG005, Agency for Healthcare Research and Quality December 2003):
1. Masalah komunikasi. Penyebab yang paling umum terjadi medical errors.
Kegagalan komunikasi: verbal/tertulis, miskomunikasi antar staf, antar shif,
informasi tidak didokumentasikan dengan baik / hilang, masalah-masalah
komunikasi: tim layanan kesehatan di 1 lokasi, antar berbagai lokasi, antar tim
layanan dengan pekerja non klinis, dan antar staf dengan pasien.
2. Masalah SDM. Gagal mengikuti kebijakan, SOP dan proses-proses, dokumentasi
suboptimal dan labeling spesimen yang buruk, kesalahan berbasis pengetahuan,
staf tidak punya pengetahuan yang adekuat, untuk setiap pasien pada saat
diperlukan. Hal-hal yang berhubungan dengan pasien. Idenifikasi pasien yang
tidak tepat, asesmen pasien yang tidak lengkap, kegagalan memperoleh consent,
pendidikan pasien yang tidak adekuat
3. Pola SDM / alur kerja. Para dokter, perawat,, dan staf lain sibuk karena SDM
tidak memadai, pengawasan / Supervisi yang tidak adekuat. Kegagalankegagalanteknis. Kegagalan alat / perlengkapan: pompa infus, monitor.
Komplikasi / kegagalan implants atau grafts. Instruksi tidak adekuat, peralatan
dirancang secara buruk bisa sebabkan pasien cidera. Kegagalan alat tidak
teridentifikasi secara tepat sebagai dasar cideranya pasien, dan diasumsikanstaf
yang buat salah. RCA yang lengkap, sering tampilkankegagalanteknis, yang
mula-mula tidak tampak, terjadi pada suatu KTD
4. Kebijakan dan prosedur yang tidak adekuat. Pedoman cara pelayanan dapat
merupakan faktor penentu terjadinya banyak medical errors. Kegagalan dalam
proses layanan dapat ditelusurisebabnya pada buruknya dokumentasi, bahkan
tidak ada pencatatan, atau SOP klinis yang adekuat
Tabel 1. Perencanaan Proaktif Untuk Mengurangi Faktor Resiko Yang
Berhubungan Dengan High-Alert Medications
Tipe obat
Insulin

Faktor Resiko Umum


Rencana Proaktif
Tidak ada system cek dosis

Menetapkan
sistem
botol-botol insulin dan heparin
pengecekan yang mana satu
dicampur
dan dijaga
dalam
perawat membuat preparat
kedekatantertutup satu sama lainnya
dosis dan perawat lainnya

pada unit keperawatan.


melakukan
review
untuk unit-unit dalam order.
terhadapnya.
(dapat dibingungkan dengan O,
Menyimpan insulin dan
mudah overdosis 10x lipat).
heparin tidak berdekatan.

Angka kesalahan terjadi ke


Melakukan ejaan untuk
dalam cairan infus
setiap unit lebih baik
daripada menyingkatnya

Menetapkan
sebuah
sistem pengecekan yang
independen untuk angka
pompa
infuse
dan
pengaturan konsentrasi.
Faktor resiko umum

Membatasi ketersediaan
Opiates dan

Narkotik
parenteral
disimpan
opium
dan narkotik dalam
narkotik
sebagai stok dasar di area
stok dasar.
keperawatan.

Mengajarkan para staff

Hydromorphinedibingungkan
tentang
kemungkinan
dengan morphine
pencampuranhydromorphone

Patient-controled
analgesia
dan morphine.
(PCA) mengacaukan konsentrasi.

Menyediakan Protocol
peralatan PCA untuk dua kali
cek obat, pengaturan pompa,
dan dosis.
Penyuntikan
Menyimpan
concentrated
Memindahakan potassium
potassium
potassium chloride/phosphate di
chloride/phosphate dari stok
chloride/phosp
luar farmasi.
dasar.
hate

Mencampur tanpa persiapan dari


Memindahakanpreparasi
concentrate
potassium chloride/phosphate
obat dan gunakan pra

Reguests
for
unusual
campuran komersial dari IV.
concentrations

Menetapkan standard an
batasi konsentrasi obat.
Sodium

menyimpan sodium chloride Membatasi jalan masuk


chlorine
solution di atas 0.9 % di atas
sodium chloride solutions di
solutions
di
nursing unit.
atas
0.9%:
pindahkan
atas 0.9%

Tersedianya
banyak
solutions ini dari nursing
konsentrasi/formula
unit.

Tidak ada sistem pengecekan Membuat satandar dan


dua kali.
batasan obat dan konsentrasi.
Menyediakan
protokol
peralatan untuk doublecheck angka pompa obat,
konsentrasi,
dan
garis
tambahan.

Berikut ini adalah faktor bahaya biologis yang mungkin timbul:


1.

Virus

Di lingkungan puskesmas mungkin akan banyak sekali ditemukan virus. Seperti


virus Hepatitis yang merupakan bahaya potensial bagi petugas kesehatan dan
mereka yang bekerja di lingkungan rumah sakit.Virus Hepatitis B merupakan
salah satu faktor resiko gangguan kesehatan yang ditularkan dengan kontak
melalui cairan tubuh. Sedangkan untuk virus Hepatitis C merupakan jenis
pathogen yang tinggi resiko penularannya pada kelompok pekerja rumah
sakit. Risiko penularan Hepatitis C ini tergantung pada frekuensi terkena
darah dan produk darah dan termasuk dengan cara tertusuk jarum suntik.
(Kepmenkes RI, 2007)
2.

Bioaerosol
Salah satu faktor biologis yang mengganggu kesehatan dapat masuk kedalam
tubuh melaluiinhalasibioaerosol. Bioaerosol adalah disperse jasadrenik atau
bahan lain dari bagian jasadrenik di udara. Sumber bioaerosol adalah kapang,
jamur, protozoa dan virus.Sumbersumber tersebut menimbulkan bahanbahanalergen, pathogen dan toksindilingkungan.

3.

Bakteri dan Patogen lainnya


Petugas kesehatan dan pekerjalain di puskesmas mempunyai resiko terinfeksi
beberapa jenis

bakteri dan pathogen lainnya. Salah

satunya

adalah

Mycobacterium tuberculosis.Beberapa patogen penyebab infeksi saluran nafas


yang banyak terdapat di puskesmas dan laboratorium dapat dilihat dari tabel
berikut.
Tabel 2. Patogen penyebab infeksi saluran nafas pada pekerja di puskesmas
(Kepmenkes RI, 2007)
Namaumum
Qfever
Psittacosis
Histoplasmosis
Blastomycosis
Coccidioidomycosis
Anthrax
Demamhemoragicdengansindrom
Renal

Organismepenyebab
Coxiellaburnetti
Chlamidyapsittacia
Histoplasmacapsulatum
Blastomycesdermatitidis
Coccidioidesimmitis
Bacillusanthracis
Fransicellatularensis

Selain virus, jamur, bakteri dan parasit faktor biologis penyebab penyakit
akibat kerja yang lain berasal dari binatangpengganggu seperti serangga, tikus,
dan binatang pengganggu lainnya. Untuk binatang pengganggu jenis serangga
memang memerlukan pengawasan lebih dari binatang yang lain karena sifatsifatnya

lebih banyak

mendatangkan penyakit. Diantara jenis serangga

yang bisa menyebabkan infeksi bila menggigit manusia karena bibit penyakit
yang dibawa serangga masuk ke tubuh manusia, contohnya adalah nyamuk
aedesaegypti pembawa virus DHF. Jenis serangga lain yang hidup ditempattempat

kotor seperti kecoa, sangat berbahaya bila merayapdialatalatdapur

seperti piring,

cangkir

dan

lainlain

karena

alat

dapur

tersebut

bisa

terkontaminasi oleh bibit penyakit.


Kemudian serangga yang suka hinggap pada kotoran yang mengandung
bibit penyakit, lalu terbang dan hinggap pada makanan yang menyebabkan
makanan tersebut terkontaminasi bibit penyakit.Contohnyalalat.

Untuk

itu

pengendalian terhadap serangga, tikus dan binatang pengganggu lainnya


perlu dilakukan untuk mengurangi populasinya sehingga keberadaannya
tidak menjadi vektorpenularan penyakit.

Tabel 3. Bahaya potensial berdasarkan lokasi dan pekerjaan di RS meliputi:


(Kepmenkes, 2007).
No
1

Bahaya
Potensial

Lokasi

Pekerjaan yang paling


beresiko

Fisik:
Bising

gedung genset

Karyawan
yang
dilokasi tersebut

bekerja

Getaran

Ruang mesinmesin dan


peralatan yang
menghasilkan getaran
(ruang gigi dll)

Perawat,
dll.

service

cleaning

Debu

Genset,
bengkel
kerja, Petugas sanitasi, teknisi gigi,
laboratorium gigi, gudang
petugas IPS dan
rekam medis, incenerator.
rekam medis.

Kimia:
Disinfektan

Semua area

Petugas kebersihan, perawat

Cytotoxics

Farmasi, tempat
pembuangan limbah,
bangsal

Pekerja farmasi, perawat,


petugaspengumpul sampah.

Formaldehyde

Laboratorium,
gudangfarmasi.

Petugas laboratorium
danfarmasi.

Methyl:
Methacrylate, Hg
(amalgam)
Solvents

Ruang pemeriksaan gigi.

Petugas/dokter gigi, dokter


bedah, perawat..
Teknisi, petugas
laboratorium, petugas
pembersih.

Cytomegalovirus

Ruang kebidana , ruang


anak.

Perawat, dokter yang bekerja


dibagian ibu dan anak.

Rubella

Ruang ibu dan anak

Dokter dan perawat.

Tuberculosis

Bangsal, laboratorium,
ruangisolasi.

Perawat, petugas
laboratorium, fisioterapis.

Ergonomik:
Pekerjaan yang
dilakukan secara
manual

Area pasien dan tempat


penyimpanan barang
(gudang).

Petugas yang menangani


pasien dan barang.

Postur yang
salah dalam
melakukanyang
Pekerjaan
berulang

Semua area

Semua Karyawan

Semua area

Dokter gigi, petugas


pembersih, fisioterapis, sopir,
operator computer, yang
berhubungan dengan
pekerjaan juru tulis.

Psikososial:
Sering kontak
dengan pasien,

Semua area

Semua karyawan

Laboratorium, bengkel
kerja, semua area

E. Manajemen

Upaya pengendalian untuk virus, bakteri,


dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu:
1. Upaya pengendalian dengan Eliminasi

jamur dan parasit dapat

Eliminasi merupakan pengendalian resiko faktor bahaya yang


harus diterapkan pertama kali. Eliminasi dilakukan dengan cara
meniadakan atau menghilangkan objek yang menyebabkan kecelakaan
atau penyakit akibat kerja. Tetapi kita tahu bahwa objek utama yang
menyebabkan penyakit akibat kerja adalah pasien itu sendiri, jadi sangat
tidak mungkin kalau kita menghilangkan pasien sebagai penyebab utama.
Jadi dalam hal ini eliminasi tidak dapat dilaksanakan.
2. Upaya pengendalian dengan Subtitusi
Jika eliminasi tidak berhasil untuk mengendalikan faktor resiko maka
subtitusi merupakan langkah yang harus diambil selanjutnya. Subtitusi
dilakukan dengan cara mengganti bahanbahan dan peralatan yang
berbahaya dengan bahanbahan dan peralatan yang kurang berbahaya.
3. Upaya pengendalian dengan Rekayasa Teknik
Rekayasa Teknik untuk pengendalian faktor bahaya biologis dapat
dilakukan dengan caramemisahkan alatalat bekas perawatan pasien,
seperti

jarum

suntik,

perban

kedalam

wadah tersendiri. Hal ini

dimaksudkan untuk memudahkan dalam proses pembuangan dan


pengolahannya, selain itu juga untuk menghindarkanmenyebarnya virus
dari pasien.
4. Upaya PengendalianAdministratif
Pengendalian

administrasi

dilakukan

dengan

menyediakan

suatu

sistem kerja yang dapat mengurangi kemungkinan seseorang terpapar


potensi bahaya. Di Instalasi Rawat Inap I bangsal penyakit dalam, upaya
untuk pengendalian secara administratif sudah dilakukan misalnya dengan
perputaran jadwal kerja bagi petugas kesehatan yang dibagi dalam
tiga shift kerja. Hal inidimaksudkan untuk mengurangi pajanan bahaya
kepada tenaga kerja.
5. Upaya pengendalian dengan Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD)
Alat Pelindung Diri merupakan pilihan terakhir dari suatu sistem
pengendalian resiko. Untuk pengendalianfaktor

bahayabiologis dapat

menggunakan Alat Pelindung Diri berupa masker, sarung tangan, penutup

kepala, yang sesuai dengan jenis pekerjaannya. Pemakaian APD


tersebut

dapat mengurangi resiko paparanpenularan penyakit kepada

petugas kesehatan.
Sedangkan untuk pengendalian dan pemberantasan serangga, tikus
dan binatang pengganggu lainnya di bangsal penyakit dalam Instalasi
Rawat Inap sudah dilakukan sebagaimana mestinya. Misalnya dengan
menjaga kebersihan lingkungan. Hal tersebut dilakukan dengan cara
menyapu dan mengepellantai setiap

hari, membuang dan mengolah

sampah sesuai dengan syarat kesehatan, menutup celah atau lubang yang
berpotensi sebagai tempat tinggal serangga dan tikus.Hal ini dilakukan
untuk

mengurangi

keberadaan

serangga,

tikus

dan

binatang

pengganggu lainnya di lingkungan puskesmas.

Daftar Pustaka

Depnaker RI, 1970. Undangundang No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan


Kerja. Jakarta :Depnaker.
Depnaker RI, 1970. Undangundang No. 2 Tahun 1970 Tentang Pembentukan
PK3. Jakarta :Depnaker.
Kepmenkes RI, 2007. Pedoman Manajemen K3 di Rumah Sakit.Jakarta :Menkes.
Kepmenkes RI, 2004. Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.
Jakarta: Menkes
Permenaker RI, 1987. Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Serta Tata Cara Penunjukan Ahli Keselamatan. Jakarta: Menkes.

Sumamur, 1996.Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta : PT. Toko


Gunung Agung. Sumamur, 1996.Keselamatan dan Pencegahan
Kecelakaan Kerja.Jakarta : CV. Haji Masagung.
Rudi Suardi, 2005. Panduan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja Berdasarkan OHSAS 18001 dan Permenaker 05/Men/19996.
Jakarta: PPM PRESS.
Morison, MJ , 1992, A.colour guide to the nursing management of wounds, alih
bahasa Monica Ester ,Jakarta :EGC Nanang Fattah, Landasan Manajemen
Pendidikan, (Bandung : Rosdakarya, 1996)