Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
Perubahan iklim sekarang sering terjadi tidak menentu,
termasuk

meningkatnya

membuat

kemungkinan

kejadian
kejadian

banjir

di

seluruh

Leptospirosis

dunia,

global

akan

meningkat. WHO percaya angka kematian Leptospirosis mungkin


antara 5% sampai 25% dari pasien yang terinfeksi. Ini tidak
berarti bahwa orang yang terinfeksi dengan akses ke pelayanan
kesehatan yang tepat memiliki risiko kematian yang sama.
Leptospirosis merupakan penyakit global, tetapi lebih
sering terjadi pada daerah tropis dan subtropis. Leptospirosis
dapat juga terjadi di pemukiman miskin di kota-kota besar
negara berkembang yang tidak berada di daerah tropis.
Filariasis merupakan salah satu penyakit yang termasuk
endemis di Indonesia. Seiring dengan terjadinya perubahan pola
penyebaran penyakit di negara-negara sedang berkembang,
penyakit menular masih berperan sebagai penyebab utama
kesakitan dan kematian. Salah satu penyakit menular adalah
penyakit kaki gajah (Filariasis). Penyakit ini merupakan penyakit
menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria. Di dalam
tubuh manusia cacing filaria hidup di saluran dan kelenjar getah
bening(limfe), dapat menyebabkan gejala klinis akut dan gejala
kronis. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk. Akibat
yang

ditimbulkan

menimbulkan

cacat

pada

stadium

menetap

lanjut

seumur

(kronis)

hidupnya

dapat
berupa

pembesaran kaki (seperti kaki gajah) dan pembesaran bagian


bagian tubuh yang lain seperti lengan, kantong buah zakar,
payudara dan alat kelamin wanita.

Di Indonesia penyakit kaki gajah pertama kali ditemukan di


Jakarta pada tahun 1889. Berdasarkan rapid mapping kasus klinis
kronis filariasis tahun 2000 wilayah Indonesia yang menempati
ranking tertinggi kejadian filariasis adalah Daerah Istimewa Aceh
dan Propinsi Nusa Tenggara Timur dengan jumlah kasus masingmasing 1908 dan 1706 kasus kronis. Menurut Barodji dkk (1990
1995) Wilayah Kabupaten Flores Timur merupakan daerah
endemis

penyakit

kaki

gajah yangdisebabkan oleh

cacing

Wuchereria bancrofti dan Brugia timori. Selanjutnya oleh Partono


dkk (1972) penyakit kaki gajah ditemukan di Sulawesi. Di
Kalimantan oleh Soedomo dkk (1980) Menyusul di Sumatra oleh
Suzuki dkk (1981) Sedangkan penyebab penyakit kaki gajah
yang ditemukan di Sulawesi, Kalimantan dan Sumatra tersebut
adalah dari spesies Brugia malayi.

BAB II
MASALAH
A. Leptospirosis
1. Bagaimana keluhan terhadap penyakit leptospirosis?
2. Bagaimana pemeriksaan terhadap penyakit leptospirosis?
3. Bagaimana etiologi pada leptospirosis?
4. Bagaimana cara pencegahan penyakit leptospirosis?
5. Bagaimana pengobatan terhadap penyakit leptospirosis?
6. Bagaimana prognosis leptospirosis?
B. Filariasis
1. Bagaimana
2. Bagaimana
3. Bagaimana
4. Bagaimana
5. Bagaimana

keluhan terhadap penyakit filariasis?


pemeriksaan terhadap penyakit filariasis?
etiologi pada filariasis?
cara pencegahan penyakit filariasis?
pengobatan terhadap penyakit filariasis?

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. Leptospirosis
1. Keluhan Leptospirosis
Gejala dan tanda yang timbul tergantung kepada
berat ringannya infeksi, maka gejala dan tanda klinik dapat
berat, agak berat atau ringan saja. penderita mampu
segera mambentuk antibodi (zat kekebalan). Sehingga
mampu menghadapi bakteri Leptispira, bahkan penderita
dapat menjadi sembuh. Menurut WIDARSO, gejala klinis
dari Leptospirosis pada manusia bisa dibedakan menjadi
tiga stadium, yaitu:
a. Stadium pertama
1) Demam, menggigil
2) Sakit kepala
3) Malaise dan Muntah
4) Konjungtivis serta kemerahan pada mata
5) Rasa nyeri pada otot terutama otot betis dan
punggung.

Gejala-gejala

tersebut

akan

tampak

antara 4-9 hari.


b. Stadium kedua
1) Pada stadium ini biasanya telah terbentuk antibodi di
dalam tubuh penderita
2) Gejala-gejala yang tampak pada stadium ini lebih
bervariasi dibanding pada stadium pertama antara
lain ikterus (kekuningan)
3) Apabila demam dan gejala-gejala lain timbul lagi,
besar kemungkinan akan terjadi meningitis
4) Biasanya stadium ini terjadi antara minggu kedua
dan keempat Stadium ketiga

c. Stadium Ketiga
4

Menurut beberapa klinikus, penyakit ini juga dapat


menunjukkan

gejala

klinis

pada

(konvalesen phase). Komplikasi

stadium

ketiga

Leptospirosis

dapat

menimbulkan gejala-gejala berikut :


1) Pada ginjal,renal failure yang dapat menyebabkan
kematian
2) Pada
mata,

konjungtiva

menggambarkan
hubungannya

fase
dengan

yang

septisemi
keadaan

tertutup
yang

erat

fotobia

dan

konjungtiva hemorrhagic
3) Pada hati, jaundice (kekuningan) yang terjadi pada
hari

keempat

dan

keenam

dengan

adanya

pembesaran hati dan konsistensi lunak


4) Pada jantung, aritmia, dilatasi jantung dan kegagalan
jantung

yangd

mendadak
5) Pada paru-paru,

apat

menyebabkan

kematian

hemorhagic pneumonitis dengan

batuk darah, nyeri dada, respiratory distress dan


cyanosis
6) Perdarahan

karena

adanya

kerusakan

pembuluh

darah (vascular damage) dari saluran pernapasan,


saluran pencernaan, ginjal dan saluran genitalia
7) Infeksi pada kehamilan menyebabkan abortus, lahir
mati, premature dan kecacatan pada bayi.
Sedangkan pada hewan ternak ruminansia dan
babi yang hamil, gejala abortus, pedet lahir mati atau
lemah sering muncul pada kasus leptospirosis . Pada
sapi,muncul demam dan penurunan produksi susu
sedangkan

pada

babi,

sering

muncul

gangguan

reproduksi .
Pada

kuda,

conjunctivitis,iridocyclitis,

terjadi
jaundice

sampai

keratitis,
abortus.

Sedangkan pada anjing, infeksi leptospirosis sering


5

bersifat subklinik; gejala klinis yang muncul sangat


umum seperti demam, muntah, jaundice.
Gejala

klinis

leptospirosis

pada

sapi

dapat

bervariasi mulai dari yang ringan, infeksi yang tidak


tampak, sampai infeksi akut yang dapat mengakibatkan
kematian . Infeksi akut paling sering terjadi pada
pedet/sapi muda.
2. Pemeriksaan Leptospirosis
Salah satu kendala penanganan leptospirosis adalah
kesulitan

dalam

melakukan

diagnosis

awal.

Biasanya

pasien datang dengan berbagai macam keluhan dari


berbagai sistem organ seperti: demam, sakit kepala,
hepatitis,
bahkan

nefritis,

meningitis,

pankreatitis.

Pada

pneumonia,

anamnesis,

influenza,

penting

untuk

menanyakan identitas pasien, misalnya pekerjaan dan


tempat tinggal. Itu dapat menunjukkan apakah pasien
termasuk orang berisiko tinggi atau tidak. Gejala demam,
sakit kepala frontal, nyeri otot, mual, muntah, dan foto
fobia

dapat

dicurigai

kearah

leptospirosis.

Pada

pemeriksaan fisik dijumpai demam, bradikardia, nyeri


tekan otot, hepatomegali, dan lainlain.
Diagnosis
mikroskopik

dapat

langsung,

dilakukan
spesimen

dengan
darah

pemeriksaan
segar

(pada

permukaan masa infeksi) yang dibuat sediaan darah tebal


dengan teknik Giemsa, juga dilakukan dengan pembiakan
leptospira, berasal dari darah dan cairan serebrospinal
(minggu pertama masa sakit) dan urin (sesudah minggu
pertama sampai hari ke 40). Spesimen tersebut ditanam
pada media Fletchers atau media EMJH. Pada media in

Diagnosis
mikroskopik

dapat

langsung,

dilakukan
spesimen

dengan
darah

pemeriksaan
segar

(pada

permukaan masa infeksi) yang dibuat sediaan darah tebal


dengan teknik Giemsa, juga dilakukan dengan pembiakan
leptospira, berasal dari darah dan cairan serebrospinal
(minggu pertama masa sakit) dan urin (sesudah minggu
pertama sampai hari ke 40). Spesimen tersebut ditanam
pada media Fletchers atau media EMJH. Pada media ini,
pertumbuhan akan terlihat dalam beberapa hari sampai 4
minggu. Adanya leptospira pada media ini dapat dilihat
dengan menggunakan mikroskop lapangan gelap atau
menggunakan mikroskop fluoresen (fluorerescent antibodi
stain).
Pemeriksaan uji imunoserologi sangat penting untuk
diagnosis leptospirosis. Pada umumnya antibodi baru
ditemukan setelah hari ke-7 atau ke-10. Titernya akan
meningkat dan akan mencapai puncaknya pada minggu ke3 atau ke-4 masa sakit.
3. Etiologi Leptospirosis
Bakteri Leptospira sebagai penyebab Leptospirosis
berbentuk spiral termasuk ke dalam Ordo pirochaetales
dalam family Trepanometaceae. Lebih dari 170 serotipe
leptospira yang patogen telah diidentifikasi dan hampir
setengahnya terdapat di Indonesia. Bentuk spiral dengan
pilinan yang rapat dan ujung-ujungnya yang bengkok,
seperti kait dari bakteri Leptospria menyebabkan gerakan
leptospira sangat aktif, baik gerakan berputar sepanjang
sumbunya, maju mundur, maupun melengkung, karena
ukurannya yang sangat kecil.

Leptospira menyukai tinggal dipermukaan air dalam


waktu lama dan siap menginfeksi calon korbanya apabila
kontak dengannya, karena itu Leptospirosis sering pula
disebut sebagai penyakit yang timbul dari air (water born
deseasei).
Menurut DHARMOJONO (2001) bakteri ini berbentuk
benang berplintiran (filament) yang ujungnya seperti kait,
berukura panjang 6-20 mikrometer dan diameter 0,1-0,2
mikrometer. Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis Bakteri
ini dapat bergerak maju mundur memutar sepanjang
sumbunya.
Leptospira peka terhadap asam dan dapat hidup di
dalam air tawar selama kurang lebih satu bulan, tetapi
dalam air laut, air selokan dan air kemih yang tidak
diencerkan akan cepat mati. Hewan-hewan yang menjadi
sumber penularan Leptospirosis ialah tikus, babi, sapi,
kambing, domba, kuda, anjing, kucing, serangga, burung,
insektivora (landak, kelelawar, tupai), sedangkan rubah
dapat menjadi karier leptospira (WIDARSO et al, 2005).
Sejauh ini tikus merupakan reservoir dan sekaligus
penyebar utama leptospirosis karena bertindak sebagia
inang alami dan memiliki daya reproduksi tinggi. beberapa
hewan lain yang juga merupakan sumber penularan
leptospira memiliki potensi penularan ke manusia tidak
sebesar tikus.
Leptospirosis tersebar baik di Indonesia maupun di
luar negeri. Di Indonesia Leptospirosis ditemukan antara
lain di propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Lampung,
Sumatera

Selatan,

Bengkulu,

Riau,

Sumtera

Barat,

Sumatera Utara, Bali, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi


Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat
4. Pencegahan Leptospirosis
Menurut WIDARSO pencegahan Leptospirosis dapat
dilakukan dengan cara:
a. Pendidikan kesehatan mengenai bahaya serta cara
menular penyakit, berperan dalam upaya pencegahan
penyakit Leptospirosis
b. Usaha-usaha lain yang dapat dianjurkan antara lain
mencuci kaki, tangan serta bagian tubuh lainnya
dengan sabun setelah bekerja di sawah
c. Pembersihan tempat-tempat air dan

kolam-kolam

renang sangat membantu dalam usaha mencegah


penyakit Leptospirosis
d. Melindungi pekerja-pekerja yang dalam pekerjaannya
mempunyai resiko yang tinggi terhadap Leptospirosis
dengan penggunaan sepatu bot dan sarung tangan
e. Vaksinasi terhadap hewan-hewan peliharaan dan hewan
ternak dengan vaskin strain lokal
f. Mengisolasi hewan-hewan sakit
masyarakat,

rumah-rumah

guna

penduduk

melindungi

serta

daerah-

daerah wisata dari urine hewan-hewan tersebut


g. Pengamatan terhadap hewan rodent yang ada disekitar
penduduk,

terutama

di

desa

dengan

melakukan

penangkapan tikus untuk diperiksa terhadap kuman


Leptospirosis
h. Kewaspadaan terhadap Leptospirosis pada keadaan
banjir
i. Pemberantasan rodent (tikus) dengan peracunan atau
cara-cara lain
5. Pengobatan Leptospirosis
Cara
mengobati penderita

Leptospirosis

yang

dianjurkan adalah sebagai berikut :


a. Pemberian suntikan Benzyl (crystal) Penisilin akan
efektif jika secara dini pada hari ke 4-5 sejak mulai sakit
9

atau

sebelum

terjadi

jaundice

dengan

dosis

6-8

megaunit secara 1.v, yang dapat secra bertahap selama


5-7 hari
b. Selain cara diatas, kombinasi crystalline dan procaine
penicillin dengan jumlah yang sama dapat diberikan
setiap hari dengan dosis 4-5 megaunit secara i.m,
separuh dosis dapat Diberikan selama 5-6 hari. Procaine
penicillin 1,5 megaunit i.m, dapat diberikan secara
kontinue selama 2 hari setelah terjadi albuminuria
c. Penderita yang alergi terhadap penicilline dapat
diberikan

antibiotik

lain

yaitu

etracycline

atau

Erythromycine, tetapi kedua antibiotik tersebut kurang


efektif dibanding Penicilline. Tetracycline tidak dapat
diberikan

jika

penderita

mengalami

gagal

ginjal.

Tetracycline dapat diberikan secepatnya dengan dosis


250 mg setiap 8 jam i.m atau i.v selama 24 jam,
kemudian 250-500 mg setiap 6 jam secara oral selama
6 hari. Erythromycine diberikan dengan dosis 250 mg
setiap 6 jam selama 5 hari.
Terapi dengan antibiotika (streptomisin,khlortetrasiklin,
atau

oksitetrasiklin),

perjalanan

penyakit

apabila

dilakukan

biasanya

berhasil.

pada

awal

Pemberian

(oksitetrasiklin, atau oksitetrasiklin) apabila dilakukan pada


awal perjalanan penyakit, banyak berhasil.

Pemberian

oksitetrasiklin dengan dosis 10 mg/kg bb selam lima hari


pada

ternak

memberikan

babi

penderita

kesembuhan

cukup

Leptospirosis,
baik

yaitu

dapat
86%.

Pemberian per-oral dengan mencampurkan oksitetrasiklin


dengan dosis 500-1000 gr ke dalam setiap makanannya
selam 14 hari berturut-turut dapat menghilangkan keadaan
sebagai pembawa penyakit pada ternak babi 94%.

10

6. Prognosis Leptospirosis
Jika tidak ada ikterus, jarang fatal. Jika terdapat
ikterus, angka kematian 5% di bawah usia 30 tahun, 3040% pada usia lanjut.
B. Filariasis
1. Keluhan Filariasis
a. Demam berulang-ulang selama 3-5 hari, demam dapat
hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah bekerja
berat
b. Pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka)
didaerah lipatan paha, ketiak (lymphadenitis) yang
tampak kemerahan, panas dan sakit
c. Radang saluran kelenjar getah bening yang terasa
panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau
pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis)
d. Filarial
abses
akibat
seringnya
menderita
pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan
mengeluarkan nanah serta darah
e. Pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar
yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (early
lymphodema)
2. Pemeriksaan Filariasis
Bila seseorang tersangka Filariasis ditemukan tandatanda

dan

gejala

klinis,

diagnosis

dilakukan

dengan

pemeriksaan darah jari yang dilakukan mulai pukul 20.00


malam waktu setempat. Seseorang dinyatakan sebagai
penderita

Filariasis,

mikrofilaria.

apabila

Seseorang

yang

dalam
sudah

darah

ditemukan

terinfeksi

larva

mikrofilaria selam 10-14 hari adalah mereka yang paling


berisiko sebagai mesin penular penyakit kaki gajah.
Mereka masih kelihatan normal dan tidak bergejala. Jadi
satu-satunya cara untuk mencegah penularannya adalah
11

memutus rantai penyebaran menggunakan obat. Ini akan


lebih mudah ketimbang membunuh nyamuk pembawa
larva

itu

yang

jumlahnya

sangat

banyak.

Pada tahap awal, biasanya penderita akan mengalami


demam berulang, ada benjolan yang terasa nyeri pada
lipatan paha atau ketiak, dan teraba adanya urat seperti
tali yang berwarna merah dan sakit mulai dari pangkal
paha atau ketiak. Sedangkan pada tahap lanjut (kronis)
akan terjadi pembesaran yang hilang timbul pada kaki,
tangan, kantong buah zakar, payudara dan alat kelamin
wanita.
a. Diagnosis Klinik
Diagnosis klinik ditegakkan melalui anamnesis dan
pemeriksaan klinik. Diagnosis klinik penting dalam
menentukan angka kesakitan akut dan menahun (Acute
and Chronic Disease Rate).
b. Diagnosis Parasitologik
Diagnosis
parasitologik

ditegakkan

dengan

ditemukannya mikrofilaria pada pemeriksaan darah


kapiler

jari

pada

malam

hari.

Pemeriksaan

dapat

dilakukan siang hari, 30 menit setelah diberi DEC 100


mg. Dari mikrofilaria secara morfologis dapat ditentukan
species cacing filaria.
c. Radiodiagnosis
Pemeriksaan

dengan

ultrasonografi

(USG)

pada

skrotum dan kelenjar limfe inguinal penderita akan


memberikan
Pemeriksaan

gambaran

cacing

limfosintigrafi

yangbergerak-gerak.

dengan

menggunakan

dekstran atau albumin yang dilabel dengan radioaktif


akan menunjukkan adanya abnormalitas sistem limfatik,

12

sekalipun

pada

penderita

yang

mikrofilaremia

asimtomatik.
d. Diagnosis Immunologi
Pada keadaan amikrofilaremia seperti pada keadaan
prepaten,

inkubasi,

menahun,

occult

dan/atau

antigen

amikrofilaremia

filariasis,

maka

dengan

cara

dengan
deteksi

gejala
antibodi

immunodiagnosis

diharapkan dapat menunjang diagnosis.


3. Etiologi Filariasis
a. Hospes
Manusia yang mengandung parasit selalu dapat
menjadi sumver infeksi bagi orang lain yang rentan.
Biasanya

pendatang

baru

ke

daerah

endemi

(transmigran) lebih rentan terhadap infeksi filariasis dan


lebih menderita dari penduduk asli. Pada umumnya lakilaki lebih banyak yang terkena infeksi, karena lebih
banyak mendapatkan kesempatan untuk mendapat
infeksi. Juga gejala penyakit lebih nyata pada laki-laki,
karena pekerjaan fisisk lenih berat.
b. Hospes Reservoar
Tipe B. Malayi yang dapat hidup pada hewan
merupakan sumber infeksi untuk manusia. Hewan yang
sering ditemukan mengandung infeksi adalah kucing
dan kera terutama jenis Presbytis, meskipun hewan lain
mungkin juga terkena infeksi.
c. Vektor
Banyak spesies nyamuk ditemukan sebagai vektor
filariasis,

tergantung

pada

cacing

filarianya. W.

Bancrofti yang terdapat didaerah perkotaan ditularkan


oleh Cx. Quinquefasciatus yang tempat perindukannya
air kotor dan tercemar.

13

1) W. Bancrofti didaerah pedesaan dapat ditularkan oleh


bermacam

spesies

nyamuk.

JayaW.Bancrofti ditularka

Di

Irian

terutama

oleh An.

Farautiyang dapat menggunakan bekas jejak kaki


binatang (footprint) untuk tempat perindukannya.
Selain

itu

ditemukan

vektor. An.Koliensis,

An.

juga

sebagai

Punctulatus,

Cx.

Annulirostris dan Ae.Konchi W.Bancrofti didaerah lain


dapat

ditularkan

spesis

lain

seperti An.Subpictus didaerah pantai di NTT. Selain


nyamuk Culex

Aedes pernah

sebagai vektor.
2) Malayi yang hidup
biasanya

pada

juga

manusia

ditularkan

ditemukan
dan

oleh

hewan
berbagai

spesies Mansonia seperti Ma.Uniformis, Ma.Bonneae,


Ma. Dives dan lain-lain, yang berkembang biak di
daerah rawa di Sumatera, Kalimantan, Maluku dan
lain-lain. B. Malayi yang periodik di tularkan oleh An.
Barbirostris yang memaki sawah sebagai tempat
perindukannya, seperti didaerah Sulawesi.
3) B.Timori, spesies yang ditemukan di Indonesia sejak
1965 hingga sekarang hanya ditemukan didaerah
NTT

dan

Timor

Timur,

di

tularkan

olehAn.Barbirostris yang berkembangbiak didaerah


sawah,

baik

dekat

pantai

maupun

daerah

pedalaman.
d. Faktor Lingkungan
Faktor
lingkungan

yang

dapat

menunjang

kelangsungan hidup hospes, hospes reservoar dan


vektor, merupakan hal yang sangat penting untuk
epidemiologi filariasis.Jenis filariasis yang ada di suatu

14

daerah

endemi

dapat

diperkiran

dengan

melihat

keadaan lingkungannya. Pencegahan filariasis, hanya


dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk. Untuk
mendapatkan infeksi diperlukan gigitan nyamuk ynag
banyak sekali. Pengobatan masal dengan DEC dapat
menurunkan angka filariasis dengan jelas. Pencegahan
dengan obat masih dalam taraf penelitian.
4. Upaya Pencegahan Filariasis
Pencegahan filariasis dapat dilakukan

dengan

menghindari gigitan nyamuk (mengurangi kontak dengan


vektor) misalnya menggunakan kelambu sewaktu tidur,
menutup ventilasi dengan kasa nyamuk, menggunakan
obat nyamuk, mengoleskan kulit dengan obat anti nyamuk,
menggunakan pakaian panjang yang menutupi kulit, tidak
memakai pakaian berwarna gelap karena dapat menarik
nyamuk, dan memberikan obat anti-filariasis (DEC dan
Albendazol) secara berkala pada kelompok beresiko tinggi
terutama di daerah endemis. Dari semua cara diatas,
pencegahan

yang

paling

efektif

tentu

saja

dengan

memberantas nyamuk itu sendiri dengan cara 3M.


5. Upaya Pengobatan Filariasis
Pengobatan filariasis harus dilakukan secara masal
dan

pada

obat Diethyl
membunuh

daerah

endemis

Carbamazine
mikrofilaria

dengan

menggunakan

Citrate (DEC). DEC

dan

cacing

dewasa

dapat
pada

pengobatan jangka panjang. Hingga saat ini, DEC adalah


satu-satunya obat yang efektif, aman, dan relatif murah.
Untuk filariasis akibat Wuchereria bankrofti, dosis yang
dianjurkan 6 mg/kg berat badan/hari selama 12 hari.
Sedangkan untuk filariasis akibat Brugia malayi dan Brugia
timori, dosis yang dianjurkan 5 mg/kg berat badan/hari
selama 10 hari. Efek samping dari DEC ini adalah demam,
15

menggigil,

sakit

kepala,

pengobatan

mual

filariasis

hingga

muntah.

yang

Pada

disebabkan

oleh Brugia malayi dan Brugia timori, efek samping yang


ditimbulkan lebih berat. Sehingga, untuk pengobatannya
dianjurkan

dalam

dosis

rendah,

tetapi

pengobatan

dilakukan dalam waktu yang lebih lama. Pengobatan


kombinasi dapat juga dilakukan dengan dosis tunggal DEC
dan Albendazol 400mg, diberikan setiap tahun selama 5
tahun. Pengobatan kombinasi meningkatkan efek filarisida
DEC. Obat lain yang juga dipakai adalah ivermektin.
Ivermektin adalah antibiotik semisintetik dari golongan
makrolid

yang

mempunyai

aktivitas

luas

terhadap

nematoda dan ektoparasit. Obat ini hanya membunuh


mikrofilaria. Efek samping yang ditimbulkan lebih ringan
dibanding DEC. Terapi suportif berupa pemijatan juga dapat
dilakukan di samping pemberian DEC dan antibiotika,
khususnya pada kasus yang kronis. Pada kasus-kasus
tertentu dapat juga dilakukan pembedahan.
Secara massal dilakukan didaeah endemis dengan
menggunakan obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC)
dikombinasikan dengan Albenzol sekali setahun selama 5 ?
10 tahun, untuk mencegah reaksi samping seperti demam,
diberikan Parasetamol ; dosis obat untuk sekali minum
adalah, DEC 6 mg/kg/berat badan, Albenzol 400 mg
albenzol (1 tablet ) ; pengobatan missal dihentikan apabila
Mf rate sudah mencapai < 1 % ; secara individual / selektif;
dilakukan pada kasus klinis, baik stadium dini maupun
stadium lanjut, jenis dan obat tergantung dari keadaan
kasus.
6. Upaya Rehabilitasi Filariasis

16

Penderita filariasis yang telah menjalani pengobatan


dapat sembuh total. Namun, kondisi mereka tidak bisa
pulih seperti sebelumnya. Artinya, beberapa bagian tubuh
yang membesar tidak bisa kembali normal seperti sedia
kala. Rehabilitasi tubuh yang membesar tersebut dapat
dilakukan dengan jalan operasi.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Gejala dan tanda yang timbul tergantung kepada berat
ringannya infeksi, maka gejala dan tanda klinik dapat berat,
agak berat atau ringan saja. penderita mampu segera
mambentuk

antibodi

menghadapi

bakteri

(zat

kekebalan).

Leptispira,

menjadi sembuh.
Salah satu kendala

bahkan

penanganan

Sehingga
penderita

leptospirosis

mampu
dapat
adalah

kesulitan dalam melakukan diagnosis awal. Biasanya pasien


datang dengan berbagai macam keluhan dari berbagai sistem
organ

seperti:

demam,

sakit

kepala,

hepatitis,

nefritis,

meningitis, pneumonia, influenza, bahkan pankreatitis.


Bila seseorang tersangka Filariasis ditemukan tanda-tanda
dan gejala klinis, diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan
darah jari yang dilakukan mulai pukul 20.00 malam waktu
setempat. Seseorang dinyatakan sebagai penderita Filariasis,
apabila dalam darah ditemukan mikrofilaria. Seseorang yang
sudah terinfeksi larva mikrofilaria selam 10-14 hari adalah

17

mereka yang paling berisiko sebagai mesin penular penyakit


kaki gajah.
Pencegahan filariasis dapat dilakukan dengan menghindari
gigitan nyamuk (mengurangi kontak dengan vektor) misalnya
menggunakan kelambu sewaktu tidur, menutup ventilasi
dengan

kasa

nyamuk,

menggunakan

obat

nyamuk,

mengoleskan kulit dengan obat anti nyamuk, menggunakan


pakaian panjang yang menutupi kulit, tidak memakai pakaian
berwarna

gelap

karena

dapat

menarik

nyamuk,

dan

memberikan obat anti-filariasis (DEC dan Albendazol) secara


berkala pada kelompok beresiko tinggi terutama di daerah
endemis.

B. Saran
Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak
terdapat kekurangan dan kekhilafan oleh karena itu, kepada
para pembaca dan para pakar utama penulismengharapkan
saran

dan

membangun

kritik

ataupun

tegur

akan

diterima

dengan

kesempurnaan makalah selanjutnya.

18

sapa

yang

senang

sifatnya

hati

demi

KATA PENGANTAR

Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah
SWT ,karena atas karunia,taufiq dan hidayah-Nya lah,penulis
dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas pertama
penulis dalam mata kuliah ini, yang alhamdulillah dapat penulis
selesaikan tepat pada waktunya.
Terima kasih penulis ucapkan kepada pihak-pihak yang
telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat tidak hanya untuk penulis ,namun
juga untuk pihak-pihak yang berkenan meluangkan waktunya
untuk membaca makalah ini.
Mengingat keterbatasan penulis sebagai manusia biasa
yang tak luput dari salah dan dosa, penulis menyadari bahwa

19

makalah ini sangat jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu
kritikan dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.
Agar kedepannya penulis bisa lebih baik lagi.
Salah dan khilaf penulis mohon maaf. kepada Allah, penulis
mohon

ampun.

Wassalammualaikum

warahmatullahi

wabarakatuh.

Bengkulu, 2016
Penulis

i
DAFTAR
ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................


KATA PENGANTAR.................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN...........................................................1
BAB II LANDASAN TEORI.....................................................3
BAB III TINJAUAN PUSTAKA
A.

Leptospirosis.............................................................4
20

B.

Filariasis....................................................................10

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan.....................................................................15
B. Kritik dan Saran .............................................................16
DAFTAR PUSTAKA ................................................................iii

MAKALAH
ii

LEPTOSPIROSIS DAN FILARIASIS

21

Disusun Oleh :
GIBRAN ISMAIL
KEVIN BRYAN P

KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BENGKULU
(UMB)
2016
DAFTAR PUSTAKA

Gillespie, Stephen H. dan Bamford, K. B. 2008. At A Glance


Mikrobiologi Medis dan Infeksi. Erlangga: Jakarta.
Muliawan, Sylvia Y. 2011. Bakteri Spiral Patogen. Erlangga:
Jakarta.
Oktini, Mari, dkk. 2007. Hubungan Faktor Lingkungan Dan
Karakteristik

Individu

Terhadap

22

Kejadian

Penyakit

Leptospirosis di Jakarta, 2003-2005. MAKARA, KESEHATAN,


VOL. 11, NO. 1: 17-24.
Priyanto,

Agus,

dkk.

2008.

Faktor-Faktor

Risiko

Yang

Berpengaruh Terhadap Kejadian Leptospirosis. Universitas


Diponegoro: Semarang.
Ramadhani, Tri dan Yunianto, Bambang.

2012. Reservoir dan

Kasus Leptospirosis di Wilayah Kejadian Luar Biasa. Jurnal


Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7, No. 4:162-168.

iii

23