Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Peningkatan konsumsi energi dari tahun ke tahun semakin meningkat. Fakta
bahwa bahan bakar fosil sebagai sumber energi utama dan keberadaannya yang tidak
dapat diperbaharui mendorong banyak peneliti untuk melakukan riset tentang bahanbahan alam tertentu yang dapat menggantikan fungsi dari bahan bakar fosil. Bahanbahan alam tersebut salah satunya adalah biomassa. Biomassa banyak digunakan
sebagai alternatif pengganti bahan bakar fosil karena keberadaannya yang melimpah
dialam sehingga menjamin ketersediaannya. Biomassa juga ramah bagi lingkungan.
Berdasarkan studi yang dilakukan (Perlack et al., 2005), sektor pertanian dapat
menyediakan hampir satu milyar ton biomassa kering, dimana bagian terbesar dari
biomassa yang tersedia yaitu sebesar 450 juta ton berasal dari limbah pertanian
seperti tongkol jagung, tangkai gandum, kulit kedelai, dan jerami padi.
Salah satu biomassa yang dapat digunakan sebagai alternatif pengganti bahan
bakar fosil adalah tongkol jagung dan serbuk gergaji. Kedua bahan ini merupakan
limbah yang tidak lagi digunakan. Tongkol jagung merupakan biomassa yang dapat
berperan sebagai sumber energi termal yang melimpah serta dapat digunakan untuk
memproduksi panas, energi, bahan bakar, dan juga bahan kimia (Campo, 2010).
Indonesia merupakan negara agraris dimana sebagian wilayahnya adalah pertanian
dan penghasil biomassa yang cukup besar. Menurut Badan Pusat Statistik (2015),
Indonesia memiliki luas lahan panen jagung sebesar 3.859.630 hektar pada tahun
2015. Badan Pusat Statistik juga menyebutkan bahwa produksi jagung pada tahun

2015 sebesar 19,83 juta ton atau naik 4,33 persen dibandingkan dengan produksi pada
tahun 2014. Kenaikan produksi ini disebabkan oleh naiknya produktivitas. Dari berat
jagung tersebut, 30%-nya adalah tongkol jagung sebagai limbah. Keberadaan limbah
tongkol jagung ini melimpah dan kontinyu paska panen. Dari data produksi Badan
Pusat Statistik, diperkirakan limbah tongkol jagung yang dihasilkan di Indonesia
sekitar 5,7 juta ton/tahun. Sebagian besar limbah tongkol jagung tersebut tidak
dimanfaatkan dan hanya dibuang atau dibakar. Disisi lain, Indonesia merupakan salah
satu negara penghasil kayu gergaji terbesar di dunia. Produksi total kayu gergaji
mencapai 2,6 juta m3 per tahun dengan asumsi bahwa jumlah limbah yang terbentuk
54,24 persen dari produksi total, sehingga akan dihasilkan limbah serbuk gergaji kayu
sebanyak 1,4 juta m3 per tahun (Gustan,2002). Serbuk gergaji merupakan limbah
biomassa yang sudah mulai dimanfaatkan sebagai bahan untuk biofuel. Meskipun
demikian, sering dijumpai limbah penggergajian kayu yang ditimbun dan dibuang
sembarangan ke aliran sungai atau dibuang langsung (Billah, 2009). Oleh sebab itu,
limbah tongkol jagung dan serbuk gergaji bersifat potensial sebagai biomassa
alternatif pengganti bahan bakar fosil.
Berbagai proses untuk mengkonversi biomassa menjadi sumber energi sudah
banyak dilakukan. Proses-proses tersebut dapat dikategorikan menjadi dua proses
umum yaitu dengan menggunakan proses thermo-kimia dan proses biologi
(Yuliansyah, 2010). Hydrothermal treatment merupakan proses thermo-kimia yang
pada saat ini sedang menjadi banyak perhatian.
1.2 Keaslian Penelitian

Penggunaan biomassa tongkol jagung sebagai bahan bakar alternatif telah banyak
dilakukan. Surono (2010) telah melakukan peningkatan kualitas pembakaran
biomassa tongkol jagung sebagai bahan bakar alternatif dengan proses karbonisasi
dan pembriketan. Chin dan Shiddiqui (2000) juga melakukan penelitian dengan bahan
briket dari serbuk gergaji kayu, sekam padi, kulit kacang, tempurung kelapa, dan
cangkang sawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya tekanan pembriketan
akan mempengaruhi densitas, kekuatan geser dan laju pembakaran briket. Semakin
tinggi tekanan pembriketan densitas dan kekuatan geser briket akan naik sedangkan
laju pembakarannya akan turun. Proses pembriketan dilakukan melalui tiga tahap,
yaitu pengeringan (drying), devolatilisasi (devolatilization), dan pembakaran arang
(char combustion).
Melalui proses hydrothermal treatment, pemanfaatan biomassa tongkol jagung
untuk produksi asam laktat telah dilakukan. Sanchez (2012) kemudian menggunakan
asam laktat ini sebagai polimer biodegradable, pelarut, dan zat aditif pada produksi
pangan tertentu. Tongkol jagung diproses dengan menggunakan metode hydrothermal
treatment untuk mengubah selulosa dan hemiselulosa menjadi glukosa yang
kemudian didekomposisi kembali menjadi produk lainnya seperti aldehid dan keton,
serta asam organik lainnya seperti asam laktat, asam asetat dan asam akrilat. Proses
tersebut dilakukan dengan tekanan maksimal sebesar 200 bar dan rentang temperatur
diantara 100-350oC.
Penelitian terdahulu mengenai proses konversi biomassa serbuk gergaji menjadi
sumber bahan bakar alternatif dengan menggunakan hydrothermal treatment belum
pernah dilakukan. Namun, pada tahun 2009, Sinag telah melakukan studi

perbandingan produk intermediet dari hydrothermal treatment biomassa serbuk


gergaji dan selulosa. Sinag melakukan studi membandingkan biomassa serbuk gergaji
dan selulosa dengan tujuan untuk mengetahui efek katalitik dari senyawa anorganik
yang terdapat pada serbuk gergaji seperti garam, logam, dan mineral terhadap
distribusi produk.
Pada penelitian lain, Yuliansyah dkk. (2010) melakukan produksi bahan bakar
padat dari limbah agrikultural industri minyak sawit dengan hydrothermal treatment.
Proses hydrothermal treatment dilakukan pada suhu 200-350 oC dengan waktu 30
menit serta kecepatan pemanasan 6,6oC/menit. Slurry yang terdiri dari 300 mL air dan
30 g limbah dimasukkan dalam autoclave kemudian ditekan hingga 2 MPa dan
dengan kecepatan pengadukan 200 rpm. Hasil dari penelitian tersebut adalah bahwa
diperkirakan 35-65 wt% dari bahan baku biomassa dapat diubah menjadi bahan bakar
padat dengan nilai kalor lebih tinggi dari 29,7 MJ/kg.
Penelusuran pustaka dari penelitian-penelitian terdahulu, diketahui bahwa studi
mengenai pengaruh temperatur dan heating rate terhadap kualitas bahan bakar padat
pada hydrothermal treatment biomassa tongkol jagung dan serbuk gergaji belum
pernah dievalusi sebelumnya.
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Mengevaluasi pengaruh temperatur pada karakteristik hydrochar yang dihasilkan
dari proses hydrothermal treatment biomassa serbuk gergaji dan tongkol jagung.
2. Mengevaluasi pengaruh kenaikan heating rate pada karakteristik hydrochar yang
dihasilkan dari proses hydrothermal treatment biomassa serbuk gergaji dan
tongkol jagung.
1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan pada aplikasinya dapat memberikan manfaat kepada


masyarakat dan pelaku industri untuk:
1. Memanfaatkan limbah tongkol jagung dan serbuk gergaji sebagai sumber bahan
bakar alternatif
2. Mengurangi penumpukan limbah tongkol jagung di perkebunan dan serbuk gergaji
di berbagai kegiatan industri berbasis kayu.
3. Menaikkan nilai ekonomi limbah tongkol jagung dan serbuk gergaji
4. Menghemat biaya penggunaan bahan bakar di lingkup rumahtangga maupun
lingkup industri.