Anda di halaman 1dari 17

1.

Judul Tesis
Analisis Risiko Kesehatan Akibat Pencemaran Lindi Pada Air Tanah
(Studi Kasus: TPA Burangkeng)
2. Latar Belakang
Kegiatan manusia yang memanfaatkan sumber daya alam selalu
meninggalkan sisa yang dianggap sudah tidak berguna lagi biasa disebut
sebagai sampah. Sampah merupakan pencemar umum yang memberikan
banyak efek negatif seperti menurunkan nilai estetika lingkungan,
membawa

berbagai

jenis

penyakit,

menurunkan

sumber

daya,

menimbulkan polusi, menyumbat saluran air dan sebagainya, sehingga


perlu menyingkirkan sampah sejauh mungkin yang biasa disebut sebagai
tempat pembuangan akhir (TPA) sampah (Ginting, 2004).
Menurut Badan Standardisasi Nasional (2002) sampah merupakan limbah
yang bersifat padat yang terdiri dari bahan organik maupun anorganik dari
sisa atau residu yang bersumber dari kegiatan manusia yang sudah tidak
berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan
melindungi investasi pembangunan.
Dinegara berkembang sampah umumnya ditampung pada lokasi
pembuangan dengan menggunakan sistem sanitary landfill, akan tetapi
lebih dari 500 TPA di Indonesia masih menggunakan sistem open
dumping. Metode ini sangat membutuhkan perhatian besar karena dapat
menimbulkan masalah bagi kesehatan dan lingkungan (Herlambang dan
Mulyadi, 2011)
Penampungan dan degradasi sampah pada tempat pembuangan akhir
(TPA) akan menghasilkan air lindi (leachate) yang mengalir ke dalam
tanah maupun permukaan tanah. Air lindi membawa material tersuspensi
dan terlarut yang merupakan hasil dari degradasi sampah (Sudarwin,
2008).
Masalah yang ada ditempat pemrosesan sampah (TPA) salah satunya
adalah lindi sampah. Apabila penanganan dan pengolahan lindi sampah
tidak dilakukan secara optimal, lindi sampah ini akan masuk kedalam air
tanah ataupun ikut terbawa dalam aliran permukaan tanah. Untuk itu perlu
adanya upaya penanggulangan masalah lindi sampah mulai dari tahap

pemilihan lokasi sampai dengan sarana TPA tersebut ditutup (Damanhuri,


1996).
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 81 tahun 2012 tentang
pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah
tangga dimana pemrosesan akhir sampah dilakukan dengan 3 metode yaitu
metode lahan urung terkendali, metode lahan urung saniter, dan teknologi
ramah lingkungan yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota.
Salah satu tempat pembuangan akhir yang terletak di kabupaten bekasi
adalah TPA Burangkeng. TPA ini berdiri sejak tahun 1997 dan merupakan
tempat pembuangan akhir bagi 182 desa di lima kelurahan seperti
kelurahan Jatimulya, Wanasari, dan Babelan. Sementara itu lebih dari 2
ribu warga tinggal disekitar TPA. (REPUBLIKA, 2013)
Masyarakat Burangkeng sendiri sebenarnya telah menolak lokasinya
dijadikan tempat pembuangan sampah. Saat ini kualitas air yang berada
disekitar pemukiman yang berdekatan dengan TPA Burangkeng sudah
mulai tercemar. Untuk memperkuat dugaan pencemaran akibat resapan
sampah, Pemerintah Desa Burangkeng telah mendatangkan sepuluh dokter
dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat untuk memeriksa kondisi
masyarakat sekitar TPA Burangkeng, hasilnya puluhan orang didiagnosa
mengalami gangguan pernafasan hingga pencernaan, bila tidak dilakukan
penanganan serius para penderita bisa terindikasi penyakit kanker
(KlipingBekasi, 2014)
Data Bulanan Penyakit yang terdapat di Puskesmas Setu 1, Desa
Burangkeng menunjukkan jumlah kunjungan yang lebih tinggi setiap
bulannya selama 4 tahun berturut-turut dengan penyakit terbanyak berupa
ISPA, diare dan penyakit kulit yang meningkat di musim hujan.
Pemeriksaan kualitas air tanah pada bulan Agustus 2014 di musim
kemarau menunjukan bahwa air tanah di sekitar TPA Burangkeng tercemar
ringan sampai radius 400 m dengan pencemar utama berupa coliform,
mangan dan nitrat yang berhubungan secara signifikan terhadap tingginya
angka kejadian diare (Saptawati et al.).
Sampai saat ini belum ada penelitian yang mengukur karakteristik lindi
dan pencemaran lindi pada air tanah pada musim hujan ketika lindi yang
dihasilkan lebih banyak, dan infiltrasi ke dalam tanah maupun sungai lebih

mudah. Selain itu, belum diketahui adanya substansi toksik dan


karsinogenik dari lindi yang mencemari air tanah serta efeknya terhadap
kesehatan masyarakat akibat konsumsi atau kontak kronis. Dengan
demikian, diperlukan penelitian analisis risiko kesehatan baik penyakit
akut maupun kronis karsinogenik akibat sebaran lindi TPA Burangkeng
terhadap air tanah yang digunakan masyarakat.
3. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah dalam
penelitian sebagai berikut:
1. Apakah terdapat komponen lindi di dalam air sumur yang digunakan
masyarakat burangkeng?
2. Seberapa besarkah pengaruh lindi yang terdapat pada air tanah yang
digunakan masyarakat sekitar TPA Burangkeng terhadap penyakit
Ginjal, diare, dan penyakit kulit?
3. Berapa besar risiko kesehatan masyarakat akibat lindi yang terdapat
dalam air sumur yang digunakan masyarakat disekitar TPA
Burangkeng?
4. Hipotesis
Tempat pembuangan akhir (TPA) akan menghasilkan lindi (Leachate)
yang mengalir kedalam tanah maupun permukaan tanah. Lindi yang
mengandung material tersuspensi maupun terlarut akibat proses degradasi
sampah apabila terkonsumsi dalam jumlah berlebihan akan mengakibatkan
efek toksik pada hewan uji mencit (Mus musculus) dan penyakit (Ginjal,
diare, dan penyakit kulit) pada masyarakat yang tinggal disekitar TPA
Burangkeng.
5. Maksud dan Tujuan Penelitian
5.1
Maksud
Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui risiko kesehatan
masyarakat sekitar TPA Burangkeng terhadap penyakit akut dan kronis
karsinogenik akibat pencemaran air tanah oleh lindi TPA Burangkeng.
5.2

Tujuan
Tujuan dari penelitian Analisis Risiko Kesehatan Akibat Pencemaran Lindi
pada Air Tanah adalah:

1. Mengetahui Komponen Lindi yang dihasilkan TPA Burangkeng yang


dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi manusia melalui uji TCLP
(Toxicity Characteristic Leaching Procedure)
2. Mengetahui nilai dosis lindi yang dihasilkan TPA Burangkeng yang
dapat menyebabkan kematian 50% populasi hewan uji melalui uji LD50
3. Melihat efek toksik yang dihasilkan dari paparan lindi pada hati dan
ginjal hewan uji
4. Melakukan Penilaian risiko untuk zat yang terdapat pada lindi yang
dapat menyebabkan penyakit (Ginjal, Diare, dan Penyakit kulit) pada
masyarakat pengguna air tanah disekitar TPA burangkeng
5. Mengetahui besar risiko kesehatan masyarakat akibat lindi yang
terdapat didalam air sumur bagi kesehatan masyarakat sekitar TPA
Burangkeng
6. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian Analisis Risiko Kesehatan Akibat Pencemaran
Lindi Pada Air Tanah (Studi Kasus: TPA Burangkeng)
6.1

Ruang Lingkup Tempat Penelitian


Penelitian Analisis Risiko Kesehatan Akibat Pencemaran Lindi Pada Air
Tanah (Studi Kasus: TPA Burangkeng) akan dilakukan disekitar TPA
Burangkeng, Ciledug, Cibening, Lubangbuaya

dan Cijengkol di

Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi yang merupakan wilayah kerja


Puskesmas Setu 1, dan Laboratorium Higiene Industri dan Toksikologi
Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung.
6.2

Ruang Lingkup Permasalahan


Penelitian ini akan menghasilkan informasi mengenai substansi toksik
yang terkandung dalam lindi yang dihasilkan TPA Burangkeng yang
mencemari air tanah serta efeknya terhadap kesehatan masyarakat
disekitar TPA burangkeng akibat konsumsi dan kontak kronis.

6.3

Ruang Lingkup Metode Penelitian


Penelitian ini menggunakan metode eksperimental di Laboratorium untuk
pengujian toksisitas akut dan subkronis, metode perhitungan hasil

pengujian dan metode pengumpulan data kesehatan masyarakat melalui


kuesioner.
7.
7.1

Tinjauan Pustaka
Gambaran Umum TPA Burangkeng
TPA Burangkeng terletak di Kec. Setu, Kab. Bekasi, menerima sampah
yang berasal dari kota dan kabupaten Bekasi. Luas TPA burangkeng
sekitar 10 hektar dan tidak terdapat pengolahan apapun pada TPA tersebut.
Jarak TPA dan perumahan warga sekitar 10 meter dimana tidak terdapat
lapisan penghalang lindi dan kolam lindi sudah tertumpuk dengan sampah
sehingga lindi tidak terkelola dengan baik dan lindi telah memasuki
lapisan air tanah dangkal dan sungai, dapat dikatakan bahwa TPA ini
sangat jauh dari kondisi ideal. Warga setempat telah melaporkan bahwa air
sumur mereka berbau dan berwarna hitam. Hal ini menunjukkan bahwa
telah terjadi pencemaran pada air tanah disekitar TPA burangkeng akibat

7.1.1

lindi. (Qadriana et al., 2012)


Sumber Limbah TPA Burangkeng
TPA Burangkeng menampung sampah yang dihasilkan dari Kabupaten
Bekasi. Badan Pusat Statistik kabupaten Bekasi, mengeluarkan data pada
tahun 2000 sampai 2005, yang menunjukkan tingkat pertambahan
penduduk di Kabupaten Bekasi adalah sebesar 4.33%. Menurut data dari
Pemda kabupaten Bekasi, rata-rata produksi sampah penduduk di
Kabupaten Bekasi adalah 2.5 liter/orang/hari. Sampah juga dihasilkan
oleh sektor industri yaitu dari industri pabrik, hotel dan restoran serta
usaha niaga lainnya. Rata-rata produksi sampah yang dihasilkan oleh
industri pabrik adalah 1.5m3/hari/pabrik, hotel dan restoran serta usaha
niaga lainnya adalah 2.8 m3/hari/unit niaga. Tingkat pelayanan
pengelolaan sampah yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Bekasi sekitar
4.85%. Sisa sampah lainnya dikelola oleh masyarakat atau dibiarkan
berserakan di jalan-jalan maupun di sungai. Sampah di Kabupaten Bekasi
diperkirakan terus meningkat sesuai dengan tingkat perkembangan
penduduk. (Dorina et al., 2008)

7.2

Toksikologi

7.2.1

Gambaran Umum Toksikologi


Toksikologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari pengaruh
kuantitatif zat kimia atas sistem biologi yang pusat perhatiannya terletak
pada aksi berbahaya zat kimia itu, definisi ini merupakan dasar
perkembangan toksikologi modern (Loomis, 1978). Sementara itu Doul
dan Bruce (1986) mendefinisikan toksikologi sebagai ilmu yang
mempelajari berbagai pengaruh zat kimia yang merugikan atas sistem
biologi

7.2.2

Uji Toksisitas
Uji toksisitas diperlukan dalam evaluasi pencemaran, karena uji fisika dan
kimia tidak cukup untuk menilai pengaruh pencemaran terhadap
organisme. Adapun kegunaan uji toksisitas adalah untuk menentukan
kondisi lingkungan yang cocok untuk kehidupan organisme, toksisitas
limbah terhadap organisme uji, sensitivitas organisme terhadap limbah dan
zat pencemar, efektivitas metode pengolahan limbah, untuk memenuhi
standar (baku) mutu kualitas air, persyaratan effluent dan izin membuang
suatu limbah (APHA, 1995). Selain kegunaan di atas uji toksisitas dapat
menentukan klasifikasi zat kimia sesuai dengan toksisitas relatifnya,
memberikan informasi tentang reaktivitas suatu populasi hewan,
memberikan sumbangan informasi yang dibutuhkan dalam merencanakan
pengujian obat pada manusia dan dalam pengujian mutu zat kimia, dan
deteksi pencemaran toksik (Lu, 1995).

7.2.3

Uji Toksisitas Akut


Toksisitas akut didefinisikan sebagai kejadian keracunan akibat pemaparan
bahan toksik dalam waktu singkat, yang biasanya dihitung dengan
menggunakan nilai LD50. LD50 didefinisikan sebagai dosis tunggal suatu
zat yang secara statistik diharapkan akan membunuh 50 % hewan
percobaan. Nilai ini didapatkan melalui proses statistik dan berfungsi
mengukur angka relatif toksisitas akut bahan kimia. Toksisitas akut dari
bahan kimia lingkungan dapat ditetapkan secara eksperimen menggunakan

spesies tertentu seperti tikus, mencit dan kelinci. Tujuan uji LD50 adalah
untuk mendeteksi adanya toksisitas suatu zat, menentukan organ sasaran
dan kepekaannya, memperoleh data bahayanya setelah pemberian suatu
senyawa secara akut dan untuk memperoleh informasi awal yang dapat
digunakan untuk menetapkan tingkat dosis yang diperlukan (Lu, 1995).
7.2.4

Uji Toksisitas Sub Akut


Uji toksisitas sub-akut disebut juga uji toksisitas sub-kronis. Uji toksisitas
sub-akut merupakan uji toksisitas suatu senyawa yang diberikan dengan
dosis berulang pada hewan uji tertentu. Biasanya diberikan senyawa uji
setiap hari selama kurang lebih 10% dari masa hidup hewan, yaitu 3 bulan
untuk tikus dan 1-2 tahun untuk anjing. Tetapi beberapa peneliti
menggunakan jangka waktu yang lebih pendek, misalnya pemberian zat
kimia selama 14 dan 28 hari. Uji ini bertujuan untuk mengetahui spektrum
efek toksik dari senyawa uji, serta untuk melihat kaitan takaran dosis
dengan spektrum efek toksik.

7.2.5

Uji Toksisitas Kronis


Uji toksisitas kronis dilakukan dengan memberikan senyawa uji berulangulang selama masa hidup hewan uji atau sebagian besar masa hidupnya,
misalnya 18 bulan untuk mencit, 24 bulan untuk tikus, dan 7-10 tahun
untuk anjing dan monyet. Pada uji toksisitas kronis ini dilakukan evaluasi
patologi lengkap.

7.3

Uji Sensitivitas
Uji sensitivitas atau uji iritasi kulit merupakan suatu uji yang dilakukan
untuk melihat reaksi kulit terhadap toksikan yang menyebabkan kerusakan
kulit. iritasi kulit adalah reaksi kulit yang terjadi akibat pelekatan toksikan
golongan iritan. Umumnya, iritasi akan segera menimbulkan reaksi kulit
sesaat setelah pelekatan atau penyentuhannya pada kulit, iritasi demikian
disebut iritasi primer. Tetapi jika reaksi itu timbul beberapa jam setelah
penyentuhan atau pelekatan pada kulit, iritasi ini disebut iritasi sekunder.

7.4

Organisme Uji Toksisitas

7.4.1

Mencit
Mencit (Mus musculus) merupakan salah satu hewan percobaan yang
sering digunakan dalam penelitian. Mencit memiliki panjang tubuh sekitar
75-100 milimeter, dengan luas permukaan tubuh 36 cm2 dan berat badan
sekitar 20 gram (Harkness, 1983). Sehingga dalam ruangan yang relatif
kecil dapat dipelihara atau digunakan dalam jumlah banyak. Konsumsi
makanan relatif tidak banyak dibandingkan hewan lain, berkembangbiak
dalam waktu singkat, sehingga keturunannya mudah diperoleh. Mencit
memiliki

banyak

data

toksikologi,

sehingga

mempermudah

membandingkan toksisitas zat-zat kimia. Dengan memperhatikan hal


tersebut maka penggunaan mencit sebagai hewan percobaan memberikan
beberapa keuntungan dalam hal tempat, waktu, tenaga dan biaya. (Lu,
1995).
8.

Metode Penelitian

Mulai

Tahap Persiapan

Studi
Literatur

Persiapan
Penelitian

Persiapan Alat dan Bahan

Persiapan Operasional

1.

Sonde Oral, Seperangkat alat bedah


(gunting, pinset, pisau bedah, dan
baki parafin) kapas, pipet tetes, dll.

1.

2.

Lindi TPA Burangkeng, hewan Uji


Mencit (Mus musculus) jantan dan
betina, aquades, NaCl fisiologis, dll

2.

Penilaian Risiko Kesehatan


(Kuesioner)

Uji Sensitivitas
pada Kulit

Pengumpulan
Data
Primer
(Substansi toksik, LD50, Uji
toksisitas (TCLP), Uji sub-kronis,
wawancara
Pengumpulan Data Sekunder (Data
kesehatan
masyarakat,
data
Hidrogeologis, Timbunan sampah,
Aspek pengolahan sampah.

Pengujian Toksisitas
(Toxicity Characteristic
Leaching Procedure)

Tahap Penelitian

Pengujian LD50
Mencit Jantan dan
Betina
Pengujian Sub-kronis
(Histologi hati dan ginjal)

Analisis dan Pembahasan

Tahap Penyusunan
Laporan

Kesimpulan dan Saran

Selesai

Gambar 1. Diagram Alir Penelitian

8.1 Alat dan Bahan


8.1.1 Alat
Alat yang digunakan terdiri atas sonde oral, seperangkat alat bedah
(gunting, pinset, pisau bedah dan baki parafin), beaker glass, kapas, kertas
tissue, tissue basket, heating plate, pipet tetes,kassa steril, cup untuk
embedding, gelas objek, cover glass, inkubator, cawan petri, spatula,
bunsen, mikrotom putar (rotatory microtom), kotak preparat, pensil,
mikroskop cahaya, alat timbangan dan kamera.
8.1.2

Bahan
Hewan uji yang digunakan pada penelitian ini adalahmencit (Mus
musculus) jantan dan betina, berat badan mencit (Mus musculus) berkisar
antara 20-30 gram (koefisien variasi maksimal 10%). Bahan yang
digunakan adalah Lindi TPA Burangkeng, NaCl fisiologis 0,9%, larutan
buffer formalin, alkohol, xilol, parafin, akuades, pewarna Hematoksilin
dan Eosin, serta entelan.
8.2 Analisis Laboratorium
8.2.1

Pengujian Toksisitas Lindi


Pengujian Toksisitas lindi dilakukan malalui uji Toxicity Characteristics
Leaching Procedures (TCLP) dengan paramater yaitu; suhu, pH, warna,
bau, kekeruhan, TDS, konduktivitas, DO, BOD, COD, nitrit, nitrat,

amonia, pospat, sulfat, organik total, logam (K,Na,Mn, Zn, Cu, Fe, Cr, Pb,
Hg dan Ni)
8.2.2

Pengujian Toksisitas Akut (Penentuan LD50)


Lindi yang didapat dari hasil sampling diperiksa di laboratorium Higiene
Industri dan Toksikologi ITB untuk mengetahui nilai LD50 dengan
menggunakan mencit (Mus musculus) sebagai hewan percobaan. Efek
toksisitas juga diperiksa dengan menyiapkan berbagai konsentrasi lindi
yang telah diencerkan, lalu diberikan sebagai pakan mencit.Pada uji
toksisitas akut untuk menentukan nilai LD50 maka parameter yang diamati
adalah jumlah kematian hewan uji 50% dalam waktu 96 jam. Tahap
pengujiannya adalah sebagai berikut:
1. Hewan uji (Mencit) dibagi dalam bentuk kelompok berdasarkan dosis
yang akan diberikan.
2. Pengelompokan dilakukan

berdasarkan

kesamaan

berat

badan

kemudian diberi tanda/nomor pengenalnya untuk setiap kelompok


tingkat dosis.
3. Masing-masing dosis diberikan kepada 5 ekor hewan uji jantan dan 5
4.
5.
6.
7.

ekor hewan uji betina.


Pemberian lindi dilakukan secara oral.
Sebelum perlakuan hewan uji dipuasakan dulu selama minimal 4 jam.
Pemberian perlakuan dilakukan satu kali yaitu pada hari pertama.
Pengamatan dilakukan selama interval waktu 24 jam, 48 jam, 72 jam,
dan 96 jam. Persentase kematian untuk setiap dosis (apabila ada)

dicatat.
8. Hewan uji yang masih hidup berat badannya terus ditimbang selama
interval waktu 24 jam, 48 jam, 72 jam, dan 96 jam.
9. Untuk mengetahui nilai LD50 dilakukan dengan metode analisis probit
dengan interval kepercayaan 95%.
10. Pengujian ini dilakukan dengan dua kali pengulangan.
8.2.3

Pengujian Subkronis
Penelitian subkronis dengan metode eksperimental di laboratorium
menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pada pengujian subkronis
hanya menggunakan salah satu dari jenis kelamin hewan uji (mencit
betina). Setiap perlakuan terdiri dari lima kali pengulangan. Hasil

pengujian subkronis divariasikan dalam tiga waktu pengamatan yaitu 30,


60 dan 90 hari. Sehingga bila setiap perlakuan terdiri dari lima kali
pengulangan maka jumlah unit percobaan yang diperlukan adalah 75 unit.
Parameter yang diukur pada pengujian subkronis diantaranya berat badan,
serta kerusakan histologis hati dan ginjal dengan pembuatan preparat
sayatan histologis menggunakan metode pewarnaan Hematoksilin-Eosin.
8.2.4

Pengujian Sensitivitas kulit


Uji sensitivitas atau uji iritasi dilakukan dengan metode Draize (1959). Uji
ini dilakukan pada 4 ekor mencit betina dewasa yang berbadan sehat
dengan bobot sekitar 20-25 gram dengan perlakuan sebagai berikut:
1. Mencit dicukur bagian punggungnya pada 2 tempat yaitu bagian
sebelah kanan dan kiri untuk lindi dan kontrol.
2. Sampel iritan sebanyak 5 ml dioleskan dibagian punggung mencit yang
telah dicukur, lalu ditutup dengan kassa steril kemudian direkatkan
dengan plester kemudian diperban, biarkan selama 24 jam
3. Setelah 24 jam, plester dan perban dibuka dan dibiarkan selama 1 jam,
lalu diamati
4. Setelah diamati bagian tersebut ditutup kembali dengan plester yang
sama dan dilakukan pengamatan kembali setelah 72 jam.

8.3 Analisis Data


8.3.1 Analisis Case Control Penyakit-penyakit Akut (Ginjal, Diare, dan
Penyakit Kulit)
Pada tahap ini dilakukan setelah didapatkan model sebaran pencemaran
lindi terhadap air tanah warga. Dalam analisis ini, diperlukan data penyakit
penduduk desa Burangkeng. Selanjutnya dipilih satu desa diantara empat
desa di wilayah pelayanan Puskesmas Setu 1 yang penduduknya dapat
diikutkan dalam analsisdengan memenuhi syarat sebagai berikut:
a. air tanahnya tidak terpengaruh oleh pencemaran lindi
b. memiliki jumlah dan karakteristik penduduk yang hampir sama
denganDesa Burangkeng
c. memiliki rona wilayah yang hampir sama dengan Desa Burangkeng
Dari kedua desa tersebut, dihitung:
a. Jumlah penduduk tahun 2014

b. Jumlah penduduk yang mengalami penyakit diare, ISPA, penyakit kulit


pada musim kemarau (November 2014 januari 2015) dan musim hujan
(Februari-April 2015)
Dengan menggunakan cross table dapat dipisahkan jumlah empat
subgroup penduduk dengan karakteristik sebagai berikut:
a. Penduduk yang mengalami penyakit (case) dan terpapar air tanah yang
tercemar lindi
b. Penduduk yang mengalami penyakit (case) namun tidak terpapar air tanah
yang tercemar lindi
c. Penduduk yang sehat (control) dan terpapar air tanah yang tercemar lindi
d. Penduduk yang sehat (control) namun tidak terpapar air tanah yang
tercemar lindi
Melalui perhitungan cross table, maka dapatdihitung nilai Odd ratio untuk
ketiga jenis penyakit, yaitu ISPA, diare dan penyakit kulit, baik di musim
hujan maupun musim kemarau.
8.3.2

Penentuan Indeks Iritasi


Untuk setiap keadaan kulit diberi nilai sebagai berikut:
1. Eritema
a. Tidak ada eritema
=0
b. Eritema sangat ringan = 1
c. Eritema Ringan
=2
d. Eritema Sedang
=3
e. Eritema Berat
=4
2. Edema
a. Tidak ada Edema
=0
b. Edema Sangat Ringan = 1
c. Edema Ringan
=2
d. Edema Sedang
=3
e. Edema Berat
=4
Indeks Iritasi dihitung dengan cara menjumlahkan nilai dari setiap mencit
percobaan setelah 24 jam dan 72 jam pemberian sampel iritan, kemudian
dibagi 4. Penilaian iritasinya sebagai berikut:
0,00

= Tidak Mengiritasi

0,04 0,99

= Sedikit Mengiritasi

1,00 2,99

= Iritasi Ringan

3,00 5,99

= Iritasi Sedang

6,00 8,00

= Iritasi Berat

8.3.3 Penentuan Nilai Risiko Kesehatan Kronis dan Karsinogenik


berdasarkan skor Hazard Index
Kandungan kimia dan mikrolobiologi lindi yang mencemari air tanah
dapat menyebabkan penyakit akut maupun kronis. Hazard index dapat
mengestimasi risiko yang ditimbulkan akibat paparan zat-zat tersebut.
Pada tahap ini dilakukan penetapan jenis pencemar secara individual
maupun sebagai chemical mixture yang berpotensi menimbulkan efek
negatif terhadap kesehatan, dilihat dari jenis pencemar yang melebihi batas
standar. Setelah itu, dilakukan identifikasi jalur eksposure pencemar
tersebut terhadap warga sekitar TPA Burangkeng yang air tanahnya
tercemar lindi sampai dapat menjelaskan hal-hal berikut:
a. Jalur eksposure (ingesti, inhalasi, kontak langsung)
b. Dosis eksposur
c. Durasi eksposur
Dari data yang didapat, dilakukan penghitungan Average Daily Intake dan
dimasukkan ke dalam rumus Hazard Index, baik untuk pencemar yang
dapat menimbulkan efek akut (non karsinogenik), maupun efek kronis
(karsinogenik). Rumus yang digunakan seperti terlihat pada bagian
berikutnya. Nilai Reference dose didapat dari program IRIS USEPA.
Karena konsentrasi pencemar berbeda tiap radius sepanjang menjauhi area
TPA, maka risiko terhadap berbagai penyakit di tiap radius akan berbeda
pula. Hasilnya dapat ditampilkan secara visual dengan bantuan GIS.
8.3.4

Perhitungan Odd Ratio


Desain yang berguna dalam identifikasi bahaya adalah desain kasus
kendali (Case Contro). Pengaturan data ke dalam kasus kendali tampak
dalam tabel berikut:

Sakit
Sehat

Terpajan
a
c

Tidak Terpajan
b
d

Dari data dapat diolah untuk mendapatkan nilai Odd Ratio dihitung
berdasarkan persamaan (Soemirat, 2000) :
=

a /(a+ b)
c / (c+ d)

........................................ (1)

Keterangan:
OR
= Odd Ratio
a
= Penduduk yang mengalami penyakit (case) dan terpapar air tanah
yang tercemar lindi
b
= Penduduk yang mengalami penyakit (case) namun tidak terpapar
air tanah yang tercemar lindi
c
= Penduduk yang sehat (control) dan terpapar air tanah yang
tercemar lindi
d
= Penduduk yang sehat (control) namun tidak terpapar air tanah
yang tercemar lindi
8.3.5

Perhitungan Hazard Index


Untuk mengetahui Hazard Index (HI) maka perlu dilakukan perhitungan
Hazard Quotient (HQ) terlebih dahulu. HQ dihitung berdasarkan
persamaan (Soemirat, 2000):
HQ=

ADD
(2 )
Rf C

Keterangan:
HQ = Hazard quotient
RfC=Reference concentration (mg/m3)
Hazard

Index

(HI)selanjutnya

ditentukan

berdasarkan

persamaan

(Soemirat, 2000):
n

HI=

HQ ( 3 )
i=1

Keterangan:
HI = Hazard index
HQ =Hazard quotient
9

Rencana Jadwal Kerja

Penelitian ini akan dilakukan selama 9 Bulan di Laboratorium Higiene


Industri Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung dan daerah sekitar
TPA Burangkeng Kabupaten Bekasi.Adapun rencana kerja dan jadwal
pelaksanaan penelitian ini dapat dijabarkan pada tabel berikut ini:
No.

Tahapan
Kegiatan

II

II
I

1.

Uji
Toksisitas
Lindi
Sampling
Lindi
Pengujian
Laboratorium
Pengujian
Toksisitas

2.

Lindi
Analisis
Case Control
Pengukuran
Data Penyakit
dan
Demografis
Analisis Case

3.

Control
Penilaian
Hazard
Index
Survey Rute
Exposure
Analisis

5.

Hazard Index
Penyusunan
Laporan

IV

Bulan
V
VI

VI

VI

II

IX

Daftar Pustaka
Badan Standardisasi Nasional, (2002), SNI 19 2454 2002, Tata Cara
Pengelolaan Teknis Sampah Perkotaan, Jakarta.
Damanhuri, E. 1996. Teknik Pembuangan Akhir Sampah. Jurnal Teknik
Lingkungan ITB. Bandung.
Dessy,

S.,
2013.
Warga
minta
TPA Burangkeng
dipindah.
http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabeknasional/13/03/
13/mjl6wt-warga-minta-tpa-burangkeng-dipindah (Diakses tanggal 3
Februari 2015)

Dorina H., Pudji A., & Bebbie Y.H., 2008, Pemilihan Teknologi Pengolahan
Sampah dengan Metode Analytic Network Process (ANP) di TPA
Burangkeng Kabupaten Bekasi, Jurusan Teknik Industri, FTI,
Universitas Trisakti, Jakarta.
Ginting,

P., (2004), Mengelola Sampah, Mengelola Gaya Hidup,


http://adln.lib.unair.ac.id/go.php?id=jiptunair-gdl-res-2004-keman2c874sampah&node=233&start=6&PHPSESSID=e99ecec43aeb91a73c
0e368ce140cf5f (diakses tanggal 2 februari 2015)

Herlambang, C. H., dan Mulyadi, A. 2011. Volume Sampah Meningkat.


http://regional.kompas.com/read/2011/08/12/19481264/VolumeSampa
h.KOMPAS.com (diakses tanggal 3 Februari 2015)
Kliping

Bekasi, 2014, Warga Burangkeng Tolak Perluasan TPA,


https://klipingbekasi.wordpress.com/2014/10/09/warga-burangkengtolak-perluasan-tpa/ (diakses tanggal 3 Februari 2015)

Longe, E. O. and M. R. Balogun, 2010,Groundwater Quality Assessment near


a Municipal Landfill, Lagos, Nigeria. Department of Civil and
Environmental Engineering, University of Lagos, Akoka, Yaba,
Lagos, Nigeria.
Loomis T.A. 1978. Essential of toxicology. 3rd ed. Philadelpia: Lea & Febiger;
1987. p. 198 202 116
Lu, F.C. 1995. Toksikologi dasar Asas, Organ Sasaran dan Penilaian Risiko.
Edisi 2. Jakarta: UI-Press.
PERCIK, 2009, Keterlibatan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah: Suatu
Keniscayaan.https://www.academia.edu/3425532/PERCIK._Edisi_Kh
usus._Media_Informasi_Air_Minum_dan_Penyehatan_Lingkungan._
Pengelolaan_Sampah_Berbasis_Masyarakat?
login=&email_was_taken=true(Diakses Tanggal 2 Februari 2015)

Saptawati et al. 2014. Pengaruh Keberadaan Tempat Pembuangan Akhir


Sampah Burangkeng Terhadap Kualitas Air Tanah Dan Kesehatan
Masyarakat Di Sekitarnya. Puskesmas Setu 1. Dinas Kesehatan
Kabupaten Bekasi.
Sudarwin, (2008), Analisis Spasial Pencemaran Logam Berat (Pb dan Cd)
pada Sedimen Aliran Sungai dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
Sampah Jatibarang Semarang.http:// eprints. undip. ac.id/ 17967/ 1/
SUDARWIN.pdf(diakses tanggal 2 Februari 2015)