Anda di halaman 1dari 13

SKENARIO 2 KEDOKTERAN KELUARGA

Fitri Rahmawati (1102010104)

1. Memahami dan Menjelaskan Keluarga


1.1
Definisi Keluarga
Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang
bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik,
mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga (Duvall dan Logan, 1986).
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena
adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang
lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya
(Bailon dan Maglaya,1978 ).
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan
beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan
saling ketergantungan (Departemen Kesehatan RI, 1988).
Keluarga adalah salah satu kelompok atau kumpulan manusia yang hidup bersama sebagai
satu kesatuan atau unit masyarakat terkecil dan biasanya selalu ada hubungan darah, ikatan
perkawinan atau ikatan lainnya, tinggal bersama dalam satu rumah yang dipimpin oleh seorang
kepala keluarga dan makan dalam satu periuk.
1.2

Peran Keluarga

Terdapat 5 fungsi keluarga dalam tatanan masyarakat, yaitu :


1) Fungsi Biologis
Untuk meneruskan keturunan
Memelihara dan membesarkan anak
Memberikan makanan bagi keluarga dan memenuhi kebutuhan gizi
Merawat dan melindungi kesehatan para anggotanya
Memberi kesempatan untuk berekreasi
2) Fungsi Psikologis
Identitas keluarga serta rasa aman dan kasih sayang
Pendewasaan kepribadian bagi para anggotanya
Perlindungan secara psikologis
Mengadakan hubungan keluarga dengan keluarga lain atau masyarakat
3) Fungsi Sosial Budaya atau Sosiologi
Meneruskan nilai-nilai budaya
Sosialisasi
Pembentukan noema-norma, tingkah laku pada tiap tahap perkembangan anak serta
kehidupan keluarga
4) Fungsi Sosial

Mencari sumber-sumber untuk memenuhi fungsi lainnya


Pembagian sumber-sumber tersebut untuk pengeluaran atau tabungan
Pengaturan ekonomi atau keuangan

5) Fungsi Pendidikan
Penanaman keterampilan, tingkah laku dan pengetahuan dalam hubungan dengan
fungsi-fungsi lain.
Persiapan untuk kehidupan dewasa.
Memenuhi peranan sehingga anggota keluarga yang dewasa
1.3

Bentuk-Bentuk Keluarga

Keluarga dibagi menjadi beberapa bentuk berdasarkan garis keturunan, jenis perkawinan,
pemukiman, jenis anggota keluarga dan kekuasaan.
Berdasarkan Garis Keturunan
Patrilinear adalah keturunan sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa
generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.
Matrilinear adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa
ganerasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
Berdasarkan Jenis Perkawinan
Monogami adalah keluarga dimana terdapat seorang suami dengan seorang istri.
Poligami adalah keluarga dimana terdapat seorang suami dengan lebih dari satu istri.
Berdasarkan Pemukiman
Patrilokal adalah pasangan suami istri, tinggal bersama atau dekat dengan keluarga sedarah
suami.
Matrilokal adalah pasangan suami istri, tinggal bersama atau dekat dengan keluarga satu istri
Neolokal adalah pasangan suami istri, tinggal jauh dari keluarga suami maupun istri.
Berdasarkan Jenis Anggota Keluarga
Bentuk Keluarga menurut Goldenberg (1980) :
Pada dasarnya ada berbagai macam bentuk keluarga. Menurut pendapat Goldenberg (1980) ada
sembilan macam bentuk keluarga, antara lain :
1. Keluarga inti (nuclear family)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri serta anak-anak kandung.
2. Keluarga besar (extended family)
Keluarga yang disamping terdiri dari suami, istri, dan anak-anak kandung, juga sanak
saudara lainnya, baik menurut garis vertikal (ibu, bapak, kakek, nenek, mantu, cucu, cicit),
maupun menurut garis horizontal (kakak, adik, ipar) yang berasal dari pihak suami atau
pihak isteri.
3. Keluarga campuran (blended family)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri, anak-anak kandung serta anak-anak tiri.
4. Keluarga menurut hukum umum (common law family)

Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang tidak terikat dalam perkawinan sah serta
anak-anak mereka yang tinggal bersama.
5. Keluarga orang tua tunggal (single parent family)
Keluarga yang terdiri dari pria atau wanita, mungkin karena bercerai, berpisah, ditinggal
mati atau mungkin tidak pernah menikah, serta anak-anak mereka tinggal bersama.
6. Keluarga hidup bersama (commune family)
Keluarga yang terdiri dari pria, wanita dan anak-anak yang tinggal bersama, berbagi hak,
dan tanggung jawab serta memiliki kekayaan bersama.
7. Keluarga serial (serial family)
Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang telah menikah dan mungkin telah punya
anak, tetapi kemudian bercerai dan masing-masing menikah lagi serta memiliki anak-anak
dengan pasangan masing-masing, tetapi semuanya menganggap sebagai satu keluarga.
8. Keluarga gabungan/komposit (composite family)
Keluarga terdiri dari suami dengan beberapa istri dan anak-anaknya (poliandri) atau istri
dengan beberapa suami dan anak-anaknya (poligini) yang hidup bersama.
9. Keluarga tinggal bersama (cohabitation family)
Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang hidup bersama tanpa ada ikatan
perkawinan yang sah.
Berdasarkan Kekuasaan
Patriakal adalah keluarga yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah
dipihak ayah.
Matrikal adalah keluarga yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah pihak
ibu.
Equalitarium adalah keluarga yang memegang kekuasaan adalah ayah dan ibu.
1.4

Dinamika Keluarga

1. Teori Peran
Peran pokok dalam perkawinan menurut Parsons dan Baless (1955) menyatakan adanya
dua peran pokok dalam perkawinan, yaitu eksperimental dan ekspresif. Peran instrumental
adalah melakukan segala hal yang perludilakukan yaitu mencari uang dan menjaga hubungan
luar yang memuaskan dengan system ekonomi dan system sekolah. Peran ekspresif terutama
memperhatikan hubungan yang
memuaskan di dalam keluarga dan ekspresi perasaan yang berhubungan dengan hubungan
yang intim. Pada keluarga modern peran-peran tersebut tidak dibagi secara eksak antara
suamidan isteri.
Dalam teori peran ada empat konsep dasar yang merupakan dasar untuk mengerti
kesehatan mental dan keluarga, yaitu:

a) Komplimentaris peran, yaitu anggota keluarga melakukan peran yang berbeda,yang


melengkapi satu sama lain dalam menyelesaikan fungsi keluarga. Dengan ini kebutuhan
keluarga dapat dipenuhi dengan cara yang efisien, misalnya ayah mendengarkan keluhan
anak-anaknya, ibunya membimbing anak-anak dan memberi hukuman jika diperlukan.
b) Pertukaran peran, mencakup anggota keluarga merespon permintaan-permintaan baru
pada keluarga dengan betukar peran, misalnya:anak gadis harus mengasuh adiknya
karena ayah ibunya harus bekerja dan akan bermasalah ketika dia belum mampu
memenuhi tuntutan tersebut.
c) Konflik peran, terjadi ketika dua atau lebih anggota keluarga berselisih paham tentang
suatu peran. Contoh: ayah tiri mengambil tanggung jawab pendisiplinan, sedang istrinya
menganggap itu sebagai tugasnya.
d) Kebalikan peran, mencakup anggota keluarga sementara memegang peran yang
berlawanan dengan peran-peran yang biasanya dilakukan. Contoh: anak perempuan
berangan apa yang sesuai untuk dilakukan ibunya apabila anaknya perempuan melanggar
aturan jam malam
2. Teori Perkembangan.
Bagaimana keluarga berperan sangat menentukan mengenai bagaimana keluarga
menghadapi krisis, dan ini akan berbeda-beda dalam tahap-tahap yang berbeda dalam kehidupan
keluarga. Suatu krisis dapat mengganggu keseimbangan peran dan seberapa besar gangguan itu
tergantung pada tahapkehidupan keluarga. Oleh karena itu konselor dalam mengintervensi harus
memperhatikan perkembangan keluarga. Tahap-tahap perkembangan yang biasa dilewati dalam
sebuah bangunan dan system keluarga adalah sebagai berikut:
a. Keluarga yang baru mulai (suami isteri tanpa anak)
b. Keluarga denga anak (anak tertua: 30 bulan)
c. Keluarga denga balita (anak tertua:30 bulan-6 tahun)
d. Keluarga dengan anak sekolah (anak tertua: 6- 13 tahun)
e. Keluarga dengan anak remaja (anak tertua:13-20 tahun)
f. Keluarga sebagai pusat peluncuran (anak pertama-anak terakhir meninggalkan rumah
g. Keluarga tahun-tahun tengah: middle years: sarang kosong sampai pensiun.
h. Keluarga tua (pensiun sampai mati dari suami isteri)
Perkembangan ini berlaku bagi keluarga nuclear. Perubahan-perubahan seperti perceraian,
orang tua tunggal, pernikahan kembali, keluarga yang campur dapat mengganggu perkembangan
keluarga yang sehat.
3. Teori Sistem.
Pada teori sistem terdapat beberapa asumsi-asumsi inti mengenai yang dapat menjelaskan
mengenai keluarga. Beberapa asumsi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Keluarga bukan kumpulan individu. Perubahan atau stress yang dialami salah satu anggota
keluarga akan berpengaruh pada seluruh keluarga
b. Keluarga mempunyai pola interaksi yang mengatur tingkah laku anggotanya.

c. Simptom individu dapat mempunyai satu fungsi di dalam keluarga. Satu simtom fisik
maupun psikososial dapat dikaitkan dalam pola interaksi keluarga begitu rupa sehingga
dapat mengganggu bagi harmoni keluarga.
d. Kemampuan untuk menyesuaikan terhadap perubahan merupakan cirri berfungsinya
keluarga yang sehat. Dalam perubahan, fleksibilitas dan adaptibilitas keluarga harus
diberi tekanan.
e. Anggota keluarga harus berbagi tanggung jawab bersama bagi problem-problemnya.
f. Apabila beberapa tingkah laku terus timbul dan terus ada, yang sangat menekan baik
bagi individunya atau bagi orang lain yang prihatin terhadap tingkah laku tersebut, kl
tidak hati-hati tingkah laku yang lain mungkin terjadi di dalam system interaksi,
yang dapat menimbulkan dan mempertahankan tingkah laku yang bermasalah tersebut,
padahal seharusnya perlu ada usaha untuk memecahkannya.
Kerangka lain untuk mengerti dinamika keluarga adalah perbedaan-perbedaan antara
keluarga yang sehat dan keluarga yang tidal dapat berfungsi dengan baik.
3.1

Siklus Kehidupan Keluarga

4. Memahami dan Menjelaskan Faktor Eksernal Yang Mempengaruhi Penyakit dan


Mekanismenya
4.1
Faktor Lingkungan Keluarga dan Rumah
Rumah yang tidak bersih dan rapi

Tidak ada MCK


Kebiasaan memasak yang tidak dicuci terlebih dahulu
Tidak adanya ventilasi pada rumah
Rumah Sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan,
yaitu rumah yang memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan
sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi rumah yang baik, kepadatan hunian
rumah yang sesuai dan lantai rumah yang tidak terbuat dari tanah.
Persyaratan Kesehatan Rumah Tinggal menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI
Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999 adalah sebagai berikut:
1. Bahan Bangunan
a. Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan zat-zat yang dapat membahayakan
kesehatan, antara lain sebagai berikut :
o Debu Total tidak lebih dari 150 g m3
o Asbes bebas tidak melebihi 0,5 fiber/m3/4jam
o Timah hitam tidak melebihi 300 mg/kg
b. Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan berkembangnya
mikroorganisme patogen.

2. Komponen dan penataan ruang rumah


Komponen rumah harus memenuhi persyaratan fisik dan biologis sebagai berikut:
a. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan
b. Dinding
o Di ruang tidur, ruang keluarga dilengkapi dengan sarana ventilasi untuk
pengaturan sirkulasi udara
o Di kamar mandi dan tempat cuci harus kedap air dan mudah dibersihkan
c. Langit-langit harus mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan

d. Bumbung rumah yang memiliki tinggi 10 meter atau lebih harus dilengkapi dengan
penangkal petir
e. Ruang di dalam rumah harus ditata agar berfungsi sebagai ruang tamu, ruang
keluarga, ruang makan, ruang tidur, ruang dapur, ruang mandi dan ruang bermain
anak.
f. Ruang dapur harus dilengkapi dengan sarana pembuangan asap.

3. Pencahayaan
Pencahayaan alam atau buatan langsung atau tidak langsung dapat menerangi seluruh
bagian ruangan minimal intensitasnya 60 lux dan tidak menyilaukan.

4. Kualitas Udara
Kualitas udara di dalam rumah tidak melebihi ketentuan sebagai berikut :
a

Suhu udara nyaman berkisar antara l8C sampai 30C

Kelembaban udara berkisar antara 40% sampai 70%

Konsentrasi gas SO2 tidak melebihi 0,10 ppm/24 jam

Pertukaran udara

Konsentrasi gas CO tidak melebihi 100 ppm/8jam

Konsentrasi gas formaldehide tidak melebihi 120 mg/m3

5. Ventilasi

Luas penghawaan atau ventilasi a1amiah yang permanen minimal 10% dari luas
lantai.

6. Binatang penular penyakit


Tidak ada tikus bersarang di rumah.

7. Air
a. Tersedia air bersih dengan kapasitas minmal 60 lt/hari/orang
b. Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih dan air minum sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

8. Tersediannya sarana penyimpanan makanan yang aman dan hygiene.

9. Limbah
a. Limbah cair berasal dari rumah, tidak mencemari sumber air, tidak menimbulkan
bau dan tidak mencemari permukaan tanah.
b. Limbah padat harus dikelola agar tidak menimbulkan bau, tidak menyebabkan
pencemaran terhadap permukaan tanah dan air tanah.

10. Kepadatan hunian ruang tidur


Luas ruang tidur minimal 8m2 dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari dua orang
tidur dalam satu ruang tidur, kecuali anak dibawah umur 5 tahun.
Masalah perumahan telah diatur dalam Undang-Undang pemerintahan tentang
perumahan dan pemukiman No.4/l992 bab III pasal 5 ayat l yang berbunyi Setiap warga

negara mempunyai hak untuk menempati dan atau menikmati dan atau memiliki rumah
yang layak dan lingkungan yang sehat, aman , serasi, dan teratur
Bila dikaji lebih lanjut maka sudah sewajarnya seluruh lapisan masyarakat
menempati rumah yang sehat dan layak huni. Rumah tidak cukup hanya sebagai tempat
tinggal dan berlindung dari panas cuaca dan hujan, Rumah harus mempunyai fungsi
sebagai :
1. Mencegah terjadinya penyakit
2. Mencegah terjadinya kecelakaan
3. Aman dan nyaman bagi penghuninya
4. Penurunan ketegangan jiwa dan sosial

4.2

Faktor Pendidikan
Perilaku pasien untuk datang berobat
Perilaku minum obat
Perilaku hidup bersih pasien

4.3

Faktor Ekonomi
Ketidakmampuan berobat ke dokter
Ketidakmampuan membeli obat

5. Memahami dan Menjelaskan Konsep dan Fungsi Keluarga dalam Islam


Keluarga dapat diartikan sebagai kelompok sosial yang merupakan produk dari adanya
ikatan-ikatan kekerabatan yang mengikat satu individu dengan yang lainnya. Dengan pengertian
ini keluarga berarti merupakan unit sosial terkecil dalam masyarakat. Keluarga dapat
diklasifikasikan dalam dua kategori, yaitu keluarga luas atau keluarga besar yang disebut
dengan al-ailah, dan keluarga inti atau keluarga kecil yang disebut dengan istilah alusrah. Al-ailah dimaknai sebagai lembaga tempat hidup bersama dengan situasi yang berbedabeda, tapi di bawah satu formasi keluarga, yang di dalamnya terbentuk sebuah ikatan bersama.
Sedangkan al-usrah adalah kelompok sosial yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak yang
belum menikah.
Dengan klasifikasi itu, keluarga mempunyai empat fungsi, yaitu:
1. Fungsi seksual yang membuat terjadinya ikatan di antara anggota keluarga, antara
laki-laki dan perempuan. Kedua jenis kelamin ini secara alami berada pada posisi
yang saling membutuhkan.

2. Fungsi kooperatif untuk menjamin kontinuitas sebuah keluarga.


3. Fungsi regeneratif dalam menciptakan sebuah generasi penerus secara estafet.
4. Fungsi genetik untuk melahirkan seorang anak dalam rangka menjaga
keberlangsungan sebuah keturunan.
Sebelum Islam lahir, sistem kekeluargaan yang digunakan masyarakat Timur (dunia Arab)
adalah sistem kesukuan (nizam al-qabail) yang bersandar pada kerabat keluarga (al-qarabah
al-usriyyah). Sistem ini pada umumnya menyebut sebuah keluarga dengan nama kepala
sukunya. Sistem kekeluargaan seperti ini pada dasarnya diterima Islam, karena kedatangan Islam
ke wilayah ini tidak banyak mempengaruhi sistem kekeluargaan yang ada, bahkan Islam cukup
adaptif dengan sistem ini. Hal ini karena Islam tidak menggunakan sistem tersendiri untuk
sebuah sistem kekeluargaan. Tapi yang menjadi kata kunci untuk memahami sebuah sistem
keluarga dalam Islam adalah istilah zawaj atautazwij. Terma ini dalam Islam dipahami sebagai
masa terpisahnya anak (laki-laki atau perempuan) dari rumah tangga bapaknya. Apabila seorang
anak telah melakukan zawaj, maka ia memiliki otoritas secara otonom untuk membina rumah
tangganya tersendiri. Hal ini karena Islam memandang sinn al-zawajsebagai batas seseorang
untuk memiliki sikap kemandirian, baik dari segi psikis maupun fisik.
Sebuah keluarga Muslim merupakan landasan utama bagi terbentuknya masyarakat Islami.
Di dalam keluarga Muslim terkandung sebuah konsep religius (al-mafhum al-dini), yaitu bahwa
para anggota keluarga diikat oleh sebuah ikatan agama untuk mewujudkan kepribadian yang
luhur. Konsep ini menekankan bahwa sebuah keluarga Muslim harus dapat membentuk para
anggotanya agar memiliki kepribadian yang luhur ini. Memiliki sifat kasih dan sayang, cinta
sesama, menghormati orang lain, jujur, sabar, qanaah dan pemaaf merupakan di antara indikator
bagi sebuah kepribadian yang luhur.
6. Memahami dan Menjelaskan Kewajiban Orangtua Terhadap Anak
Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, "Sesungguhnya kewajiban orang tua dalam
memenuhi hak anak itu ada tiga, yakni: pertama, memberi nama yang baik ketika lahir. Kedua,
mendidiknya dengan al-Qur'an dan ketiga, mengawinkan ketika menginjak dewasa."
Memberi Nama yang Baik
Rasulullah saw diketahui telah memberi perhatian yang sangat besar terhadap masalah
nama. Kapan saja beliau menjumpai nama yang tidak menarik (patut) dan tak berarti, beliau
mengubahnya dan memilih beberapa nama yang pantas. Beliau mengubah macam-macam nama
laki-laki dan perempuan. Seperti dalam hadits yang disampaikan oleh Aisyah ra, bahwa
Rasulullah saw biasa merubah nama-nama yang tidak baik. (HR. Tirmidzi)
Beliau sangat menyukai nama yang bagus. Bila memasuki kota yang baru, beliau
menanyakan namanya. Bila nama kota itu buruk, digantinya dengan yang lebih baik. Beliau tidak
membiarkan nama yang tak pantas dari sesuatu, seseorang, sebuah kota atau suatu daerah.
Seseorang yang semula bernama Ashiyah (yang suka bermaksiat) diganti dengan Jamilah
(cantik), Harb diganti dengan Salman (damai), Syi'bul Dhalalah (kelompok sesat) diganti dengan
Syi'bul Huda (kelompok yang benar) dan Banu Mughawiyah (keturunan yang menipu) diganti
dengan Banu Rusydi (keturunan yang mendapat petunjuk) dan sebagainya (HR. Abu Dawud dan
ahli hadits lainAn-Nawawi, Al Azkar: 258)

Berkenaan dengan nama-nama yang bagus untuk anak, Rasulullah saw bersabda,
"Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu
sekalian, maka perbaguslah nama kalian." (HR.Abu Dawud)
Mendidik dengan Qur'an
Pada suatu kesempatan, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab kehadiran seorang tamu
lelaki yang mengadukan kenakalan anaknya, "Anakku ini sangat bandel." tuturnya kesal. Amirul
Mukminin berkata, "Hai Fulan, apakah kamu tidak takut kepada Allah karena berani melawan
ayahmu dan tidak memenuhi hak ayahmu?" Anak yang pintar ini menyela. "Hai Amirul
Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak?"
Umar ra menjawab, "Ada tiga, yakni: pertama, memilihkan ibu yang baik, jangan sampai
kelak terhina akibat ibunya. Kedua, memilihkan nama yang baik. Ketiga, mendidik mereka
dengan al-Qur'an."
Mendengar uraian dari Khalifah Umar ra anak tersebut menjawab, "Demi Allah, ayahku
tidak memilihkan ibu yang baik bagiku, akupun diberi nama "Kelelawar Jantan", sedang dia juga
mengabaikan pendidikan Islam padaku. Bahkan walau satu ayatpun aku tidak pernah diajari
olehnya. Lalu Umar menoleh kepada ayahnya seraya berkata, "Kau telah berbuat durhaka kepada
anakmu, sebelum ia berani kepadamu...."
Menikahkannya
Bila sang buah hati telah memasuki usia siap nikah, maka nikahkanlah. Jangan biarkan
mereka terus tersesat dalam belantara kemaksiatan. Do'akan dan dorong mereka untuk hidup
berkeluarga, tak perlu menunggu memasuki usia senja. Bila muncul rasa khawatir tidak
mendapat rezeki dan menanggung beban berat kelurga, Allah berjanji akan menutupinya seiring
dengan usaha dan kerja keras yang dilakukannya, sebagaimana firman-Nya, "Kawinkanlah anakanak kamu (yang belum kawin) dan orang-orang yang sudah waktunya kawin dari hambahambamu yang laki-laki ataupun yang perempuan. Jika mereka itu orang-orang yang tidak
mampu, maka Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka dari anugerah-Nya." (QS. AnNur:32)
Keselamatan iman jauh lebih layak diutamakan daripada kekhawatiran-kekhawatiran yang
sering menghantui kita. Rasulullah dalam hal ini bersabda, "Ada tiga perkara yang tidak boleh
dilambatkan, yaitu: shalat, apabila tiba waktunya, jenazah apabila sudah datang dan ketiga,
seorang perempuan apabila sudah memperoleh (jodohnya) yang cocok." (HR. Tirmidzi)