Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Minyak atsiri atau yag disebut dengan essential oils, ethereal oils, atau volatile

oils serta minyak aroma terapi merupakan kelompok besar minyak nabati yang
berwujud cairan kental pada suhu ruang. Minyak atsiri ini sangatlah mudah menguap
sehingga mengeluarkan aroma yang khas (Simon, 1990). Minyak berbau wangi ini,
terdiri atas campuran berbagai senyawa kimia. Hampir setiap jenis senyawa rganik
ditemukan di dalamnya, sepeti golongan hidrokarbon, alcohol, keton, aldehid, eter, dan
ester. Minyak atsiri merupakan minyak yang larut dalam air, larut dalam eter, alcohol
dan pelarut organik lain.
Minyak atsiri dapat diperoleh melalui ekstraksi tumbuh-tumbuhan. Hampir setiap
bagian tumbuhan yaitu di daun, bunga, buah, biji, batang, kulit, akar dan rhizome dapat
dimanfaatkan sebagai minyak atsiri. Minyak atsiri diisolasi dengan cara destilasi,
maserasi dengan lemak atau minyak, dan ekstraksi. Karena aromanya ini, minyak atsiri
banyak dimanfaatkan di dunia industri untuk pembuatan kosmetik seperti parfum.
Parfum sendiri terdiri dari zat pelarut, zat pengikat, dan zat pewangi. Jumlah dan tipe
pelarut yang bercampur dengan zat pewangi inilah yang menetukan apakah suatu
parfum dapat dianggap sebagai ekstrak parfum. Parfum dapat dibuat dari berbagai jenis
bahan. Diantaranya parfum dari tanaman, hewan, dan bahan kimia. Cara pembuatan
parfum dan isolasinya parfum tidaklah berbeda dengan minyak atsiri.
1.2.

Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah,

diantaranya:
1.2.1.
1.2.2.
1.2.3.
1.2.4.

Apa etimologi minyak atsiri dan parfum?


Apa kimia minyak atsiri?
Apa sumber-sumber minyak atsiri dan cara-cara isolasi?
Apa itu parfum?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Etimologi Minyak Atsiri dan Parfum.


2.1.1. Minyak Atsiri
Minyak atsiri, atau dikenal juga sebagai minyak eterik (aetheric oil), minyak
esensial (essential oil), minyak terbang (volatile oil), serta minyak aromatik (aromatic
oil), adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu
ruang namun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas. Minyak atsiri
merupakan bahan dasar dari wangi-wangian atau minyak gosok (untuk pengobatan)
alami. Di dalam perdagangan, hasil sulingan (destilasi) minyak atsiri dikenal sebagai
bibit minyak wangi.
Para ahli biologi menganggap minyak atsiri sebagai metabolit sekunder yang
biasanya berperan sebagai alat pertahanan diri agar tidak dimakan oleh hewan (hama)
ataupun sebagai agensia untuk bersaing dengan tumbuhan lain (lihat alelopati) dalam
mempertahankan ruang hidup. Walaupun hewan kadang-kadang juga mengeluarkan
bau-bauan (seperti kesturi dari beberapa musang atau cairan yang berbau menyengat
dari beberapa kepik), zat-zat itu tidak digolongkan sebagai minyak atsiri.
2.1.2. Parfum
Kata "perfume" berasal dari bahasa Latin "per fumum" yang berarti melalui
asap. Sejak zaman prasejarah manusia telah mengenal parfum, orang Mesir kuno biasa
membakar minyak dan kayu beraroma ( kemenyan) atau salep untuk wewangian.
Mereka menggunakan wewangian untuk kegiatan keagamaan dan keindahan, baik
perempuan maupun laki-laki. Bukti penggunaan wewangian pertama di dunia ini
tertulis pada tulisan Mesir kuno (hieroglif) di Edfou dan Philae. Meskipun berawal dari
Mesir, parfum dikembangkan oleh bangsa Roma dan Persia. Sejarah mencatat seorang
bernama Tapputi adalah pembuat parfum pertama asal Mesopotamia.
Kebudayaan membuat wewangian ini kemudian diadopsi oleh bangsa Yunani,
Romawi, hingga Barat. Parfum menjadi semakin populer seiring ditemukannya teknik
peniupan kaca menjadi botol, yang ditemukan di Syiria pada abad ke-1 Sebelum
Masehi. Lalu parfum menjadi benda yang wajib dimiliki bahkan hingga ke benua
Eropa. Venesia sempat menjadi pusat parfum, karena Venesia merupakan jalur masuk
rempah-rempah dari Timur.
Pada pertengahan abad ke-15 parfum mulai dicampur minyak dan alkohol, atau
disebut eaux de senteur atau scent. Meskipun demikian, parfum baru mengalami
kemajuan pesat pada abad ke-18 dengan munculnya beragam aroma wewangian dan
botol yang indah. Di abad ini juga ditemukan eau de cologne.Pada masa revolusi
Prancis, Paris menjadi pusat parfum sedunia. Seiring dengan berkembangnya
2

pengetahuan manusia akan bahan kimia, dunia parfum juga semakin beranjak modern.
Pada abad ke-20 para perancang mode mulai memperlihatkan ketertarikan mereka akan
parfum dengan mengeluarkan aroma parfum mereka sendiri. Nah, parfum keluaran para
perancang inilah yang kini lebih akrab dengan masyarakat. Mungkin kamu pernah
dengar nama-nama seperti, Kenzo, Chanel, Yves Saint Laurent, Giorgio Armani, dan
sebagainya. Bahkan sekarang parfum menjadi semakin beragam, karena banyak
selebriti dunia mulai mengeluarkan parfum versi mereka sendiri.
2.2. Kimia Minyak Atsiri.
2.2.1. Sifat-sifat minyak atsiri
Sifat-sifat minyak atsiri menurut Harbone, (1996) adalah sebagai berikut: berbau
harum atau wangi sesuai dengan aroma tanaman yang menghasilkannya, mempunyai
rasa getir, pahit, atau pedas, berupa cairan yang berwarna kuning, kemerahan dan ada
yang tidak berwarna, tidak dapat larut dalam air dan dapat disuling uap, minyak atsiri
tersusun dari monoterpenoid yang mempunyai titik didih sama dengan 140-180 oC dan
seskuiterpenoid yang mempunyai titik didih > 200o C, larut dalam pelarut organic,
beberapa mempunyai struktur siklik serta mempunyai satu gugus fungsi atau lebih
(hidroksil, karbonil dan lain-lain).
2.2.2. Komposisi kimia minyak atsiri secara umum
Minyak atsiri umumnya terjadi dari berbagai campuran persenyawaan kimia yang
terbentuk dari unsur karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O) serta beberapa
persenyawaan kimia yang mengandung unsur Nitrogen dan Belerang (Ketaren, 1985).
Komponen utama minyak atsiri adalah terpena dan turunan terpena yang mengandung
atom oksigen. Terpenoid merupakan senyawa yang berada pada jumlah cukup besar
pada tanaman. Terpenoid yang terkandung dalam minyak atsiri menimbulkan bau
harum atau bau khas dari tanaman. Secara kimia, terpena minyak atsiri digolongkan
menjadi dua bagian yaitu monoterpenoid dan seskuiterpenoid. Beberapa contoh
monoterpenoid antara lain geraniol, limonena, kamfor, mentol dan lain-lain. Yang
termasuk seskuiterpenoid antara lain kariofilen dan santonin.
Secara ekonomi senyawa terpena tersebut penting sebagai dasar wewangian alam
dan juga untuk remph-rempah serta sebagai senyawa cita rasa dalam industri makanan.
Terpena juga sering kali terdapat dalam fraksi yang berbau, bersama-sama dengan
senyawa aromatik seperti finilpropanoid. Selain terpena, minyak atsiri juga banyak
mengandung senyawa turunan benzena seperti Eugenol, Kumarin, Sinamaldehid dan
lain-lain.
3

2.2.3. Kegunaan minyak atsiri


Banyak terpena yang berbau harum dan dengan demikian sering kali dapat
dikenali langsung dalam sulingan tumbuhan bila terdapat sebagai kandungan utama.
Kegunaan minyak atsiri sangat luas khususnya dalam berbagai bidang industri,
contohnya antara lain dalam industri kosmetik (parfum dan cologne), industri makanan,
industri farmasi atau obat-obatan (antinyeri, antiinfeksi, pembunuh bakteri, dan
digunakan juga sebagai insektisida (Luthony dan Rahmawati, 1994).
Dalam tanaman, minyak atsiri mempunyai 3 fungsi yaitu membantu proses
penyerbukan dengan menarik beberapa jenis serangga atau hewan, mencegah
kerusakan tanaman oleh serangga dan sebagai cadangan makanan dalam tanaman
(Ketaren, 1985).
2.3. Sumber-sumber Minyak Atsiri dan Cara-cara Isolasi.
2.3.1. Sumber-sumber Minyak Atsiri
Minyak atsiri dapat diperoleh melalui ekstraksi tumbuh-tumbuhan yakni dari
daun, bunga, akar, dan kulit kayu (Wilson, 1993). Biasanya tumbuhan penghasil
minyak atsiri tumbuh liar atau dibudidayakan dan biasanya tumbuhan itu beraroma
wangi.
Minyak atsiri merupakan salah satu hasil akhir proses metabolisme sekunder
dalam tumbuhan. Tumbuhan penghasil minyak atsiri antara lain termasuk family
Pinaceae, Labiatae, Compositae, Lauranceae, Myrataceae, rutaceae, Piperaceae,
Zingiberaceae, Umbelliferae, dan Gramineae. Minyak atsiri terdapat pada setiap bagian
tumbuhan yaitu di daun, bunga, buah, biji, batang, kulit, akar dan rhizome
(Ketaren,1985).
Tabel Sumber-sumber Minyak Atsiri (Kataren,1985)
No
1

Nama Minyak
Sereh wangi

Tanaman Penghasil
Cymbopogon nardus

Bagian Tanaman
Daun

Negara Asal
Srilanka

Nilam

R , Pogostemon

(patchouli)
Kayu Putih

cablin Benth
Melaleuca

Daun

Indonesia
Indonesia

(cajuput)
Sereh dapur

Leucadenron
Cymbopogon

Daun

Madagaskar,

(lemon grass)
Lada (pepper)

citrates
Piper nigrum L

Daun/buah

Guetemala
India Timur,

Kenanga

Cananga odorata

Bunga

Cina Srilanka
Indonesia

Malaysia,

6
7

(cananga)
Lavender

Hook
Lavandula offcinalis

Bunga

Perancis, Rusia

Cengkeh

Chaix
Caryophyllus

Bunga

Zanzibar,

(clove)

Indonesia,

8
9

Mawar (rose)
Melati

Rosa alba L
Jasminumofficinale

Bunga
Bunga

Madagaskar
Bulgaria, Turki
Perancis

10

(jasmine)
Kapolaga

L
Elettaria

Biji

selatan
India, Amerika

11

(cardamom)
Seledri (celery

cardamomun L
Apium graveolen L

Biji

Inggris, India

12
13

seed)
Sitrun (lemon)
Adas (fennel)

Citrus medica
foeniculum fulgares

Buah/Kulit Buah
Buah/Kulit Buah

Kalifornia
Eropa tengah,

Mill

Rusia

14

Akar wangi

Vetiveria zizanioides

Akar/rhizoma

Indonesia,

15

(Vetiver)
Kunyit

Stap
Curcuma longa

Akar/rhizoma

Lousiana
Amerika

16

(Turmeric)
Jahe (ginger)

Zingiber officinale

Akar/rhizoma

selatan
Jamaika

17

Camphor

Roscoe
Cinnamomun

Batang/kulit buah

Formosa,

18

Kayu Manis

Camphora L
Cinnamomun

Batang/kulit

Jepang
Prancis,

19

(Cinnamon)
Cendana

zeylanicum Ness
Santalum Album L

batang
Batang/kulit

Indonesia Cina
Mysole,Inggris

(sandal wood)

batang

2.3.2 Cara Isolasi Minyak Atsiri


A. Destilasi
Destilasi dapat didefenisikan sebagai cara penguapan dari suatu zat dengan
perantara uap air dan proses pengembunan berdasarkan perbedaan titik didihnya.
Destilasi merupakan metode yang paling berfungsi untuk memisahkan dua zat yang
berbeda, tetapi tergantung beberapa faktor, termasuk juga perbedaan tekanan uap air
(berkaitan dengan perbedaan titik didihnya) dari komponen-komponen tersebut.

Destilasi melepaskan uap air pada sebuah zat yang tercampur yang kaya dengan
komponen yang mudah menguap daripada zat tersebut ( Pasto, 1992).
Proses penyulingan sangat penting diketahui oleh para penghasil minyak atsiri.
Pada dasarnya terdapat dua jenis penyulingan.
1. Penyulingan suatu campuran yang berujud cairan yang tidak saling bercampur
hingga membentuk dua fasa atau dua lapisan. Keadaan ini terjadi pada pemisahan
minyak atsiri dengan uap air. Penyulingan dengan uap air sering disebut juga
hidrodestilasi. Pengertian umum ini memberikan gambaran bahwa penyulingan
dapa dilakukan dengan cara mendidihkan bahan tanaman atau minyak atsiri dengan
air Pada proses ini akan dihasilkan uap air yang dibutuhkan oleh alat penyuling.
Uap ai tersebut dapat juga dihasilkan dari alat pembangkit uap air yang terpisah.
2. Penyulingan suatu cairan yang tercampur sempurna hingga hanya membentuk satu
fasa. Pada keadaan ini pemisahan minyak atsiri menjadi beberapa komponennya
sering disebut fraksinasi, tanpa menggunakan uap air.
Minyak atsiri, minyak mudah menguap, atau minyak terbang merupakan
campuran dari senyawa yang berwujud cairan atau padatan yang memiliki komposisi
maupun titik didih yang beragam, penyulingan dapat didefenisikan sebagai proses
pemisahan komponen-komponen suatu campuran yang terdiri atas dua cairan atau lebih
berdasarkan perbedaan titik didih komponen-komponen senyawa tersebut. Proses
penyulingan sangat penting diketahui oleh para penghasil minyak atsiri. Penyulingan
suatu campuran yang berwujud cairan yang tidak saling bercampur, hingga membentuk
dua fase atau dua lapisan. Keadaan ini terjadi pada pemisahan minyak atsiri dengan uap
air. Penyulingan dengan uap air sering disebut hidrodestilasi. Pengertian umum ini
memberikan gambaran bahwa penyulingan dapat dilakukan dengan cara mendidihkan
bahan tanaman atau minyak atsiri dengan air. Pada proses ini akan dihasilkan uap air
yang dibutuhkan oleh alat penyuling.
Dalam pengertian industri minyak atsiri dibedakan tiga tipe hidrodestilasi, yaitu:
1.Penyulingan Air
Bila cara ini digunakan maka bahan yang akan disuling berhubungan langsung
dengan air mendidih. bahan yang akan disuling kemungkinan mengapung di atas air
atau terendam seluruhnya, tergantung pada berat jenis dan kuantitas bahan yang akan
diperoses. Air dapat dididihkan dengan api secara langsung. Penyulingan air ini tidak
ubahnya bahan tanaman direbus secara langsung.
2.Penyulingan uap dan air
6

Bahan tanaman yang akan diperoses secara penyulingan uap dan air ditempatkan
dalam suatu tempat yang bagian bawah dan tengah berlobang-lobang yang ditopang di
atas dasar alat penyulingan. Bagian bawah alat penyulingan diisi air sedikit di bawah
dimana bahan ditempatkan. Bahan tanaman yang akan disuling hanya terkena uap, dan
tidak terkena air yang mendidih.
3.Penyulingan uap
Uap yang digunakan lazim memilliki tekanan yang lebih besar daripada tekanan
atmosfer dan dihasilkan dari hasil penguapan air yang berasal dari suatu pembangkit
uap air. Uap air yang dihasilkan kemudian dimasukkan ke dalam alat penyulingan.
Pada dasarnya tidak ada perbedaan yang menyolok pada ketiga alat penyulingan
tersebut. Namun demikian pemilihan tergantung pada cara yang digunakan, karena
reaksi tertentu dapat terjadi selama penyulingan (Sastrohamidjojo,2004).
B. Maserasi dengan lemak atau minyak
Kebanyakan bahan flavon bersifat larut dalam lemak atau minyak, tetapi
mempunyai range polaritas yang lebar. Minyak dapat bertindak sebagai pelarut dan
merupakan medium yang dapat melindungi bahan yang mudah menguap (Pino,
dkk,1997). Lemak/minyak mempunyai daya absorbsi yang tinggi dan jika dicampur
dan kontak dengan bunga yang beraroma wangi, maka lemak akan mengabsorbsi
minyak yang dikeluarkan oleh bunga tersebut. Pada akhir proses, minyak dari bunga
tersebut diekstraksi dari lemak dengan menggunakan alkohol dan selanjutnya alkohol
dipisahkan (Guenther, 2006).
C. Ekstraksi dengan pelarut menguap
Metode lain yang dapat digunakan untuk mengisolasi minyak atsiri adalah
dengan menggunakan metode ekstraksi pelarut menguap (Mondello, dkk, 1997).
Contoh pelarut yang digunakan adalah dietil eter untuk mengekstraksi daun Citrus
aurantium. (Juchelka, dkk, 1996).
Jika dibandingkan dengan mutu minyak bunga hasil penyulingan, maka minyak
hasil ekstraksi dengan menggunakan pelarut lebih mendekati aroma bunga alamiah,
namun demikian metode ini juga mempunyai kelemahan yaitu kesulitan penghilang
residu pelarut dari ekstrak (Pino, dkk, 1997).
D. Ekstraksi dengan karbon dioksida (CO2) superkritis
Ekstraksi dengan karbon dioksida superkritis pada prinsipnya didasarkan pada
kelarutan senyawa-senyawa aromatik dari bahan nabati dalam CO2. Bahan nabati dan
CO2 dimasukkan kedalam ekstraktor berupa labu yang diberi tekanan dan temperatur
yang telah diatur, kemudian CO2 dipompa kedalam separator pada tekanan dan
7

temperatur yang rendah, yang kemudian masuk kedalam tangki ekstraksi. Kelebihan
CO2 dimurnikan kembali didalam bejana terisi arang (charcoal trap).
Keuntungan dari metode ini adalah tidak menggunakan pelarut yang beracun,
biaya murah, mampu mengisolasi senyawa termolabil tanpa diikuti denaturasi karena
dilakukan pada temperatur rendah, juga kemungkinan untuk memperoleh produk baru
dengan komposisi yang biasanya diperoleh dengan teknik distilasi (Pino, dkk, 1997).
Namun demikian metode ini juga mempunyai kekurangan yaitu dalam hal penentuan
kondisi untuk ekstraksi dari minyak atsiri dari tumbuhan tertentu (Boelens dan Boelens,
1997).
2.4. Parfum.
Parfum atau minyak wangi adalah campuran minyak esensial dan senyawa
aroma (aroma compound), fiksatif, dan pelarut yang digunakan untuk memberikan bau
wangi untuk tubuh manusia, obyek, atau ruangan. Parfum adalah campuran dari zat
pewangi yang dilarutkan dalam pelarut yang sesuai. Minyak parfum perlu diencerkan
dengan pelarut karena minyak murni (alami atau sintetis) mengandung konsentrat
tinggi dari komponen volatil yang mungkin akan mengakibatkan reaksi alergi dan
kemungkinan cedera ketika digunakan langsung ke kulit atau pakaian. Pelarut juga
menguapkan minyak esensial, membantu mereka menyebar ke udara. Pelarut yang
paling umum digunakan untuk pengenceran minyak parfum adalah etanol atau
campuran etanol dan air. Minyak parfum juga dapat diencerkan dengan cara
menetralkan bau lemak menggunakan jojoba, minyak kelapa difraksinasi atau lilin.
Semakin tinggi jumlah persentase senyawa aromatik, maka intensitas dan aroma
yang tahan lama akan tercipta. Adapun persentase volume konsentrat dalam minyak
parfum adalah sebagai berikut:
1. Ekstrak parfum: 20% -40% senyawa aromatik
2. Eau de parfum: 10-30% senyawa aromatik
3. Eau de toilette: 5-20% senyawa aromatik
4. Eau de cologne: 2-5% senyawa aromatik
Kandungan dari parfum adalah :
1. Zat pewangi
8

Komponen pewangi terdiri dari persenyawaan kimia yang menghasilkan bau


wangi yang diperoleh dari minyak atsiri atau dihasilkan secara sintetis. Zat Pewangi
Pada umumnya parfum mengandung zat pewangi 2% (weak parfum) sampai 10% atau
22,5% (strong parfum) dan selebihnya adalah bahan pengencer dan zat pengikat.
2. Zat pelarut
Pelarut yang digunakan bersifat mudah menguap, tidak bereaksi dengan bahan
yang dilarutkan dan tidak menyebabkan iritasi pada kulit manusia. Pelarut modern yang
digunakan untuk pencampuran dan mempertahankan bahan parfum biasanya adalah
ethyl alkohol yang sangat murni dengan sedikit cair tergantung pada kelarutan dari
minyak atsiri.
3. Zat Pengikat (fixative)
Bahan-bahan fiksasi memiliki daya uap lebih rendah dari minyak atsiri/parfum
sehingga dapat memperlambat/mempercepat kecepatan penguapan bahan-bahan parfum
tersebut. Tipe bahan fiksasi diantaranya adalah kelenjar binatang, produk-produk resin,
minyak atsiri dan bahan kimia sintetis.
Bahan fiksasi dari binatang antara lain :
a. Castor/castroeum, cairan yang dihasilkan dari kelenjar pada binatang beaver adalah
adalah yang paling banyak digunakan.
b. Civet, lemak yang dihasilkan dari kelenjar perenial kucing. Civet dikembangkan di
Ethiopia.
c. Musk, adalah sekresi yang dihasilkan dari kelenjar yang dihasilkan dari kijang
Musk jantan. Musk paling banyak digunakan sebagai fiksatif dari binatang karena
baunya yang lembut.
Bahan fiksasi dari tumbuhan:
a. Pengikat resin, berasal dari tanaman tertentu. Hard resin seperti benzoin dan gum.
Soft resin contohnya adalah myrrh dan labdarm.
b. Balsam sedikit lunak misalnya Peru balsam, tolu balsam, capiaba dan storax.
Fixative minyak atsiri. Beberapa minyak atsiri dipergunakan juga sebagai
bahan fiksasi selain dimanfaatkan baunya. Yang terpenting adalah : Clarysage, vertiver,

patchouli, orris dan sandalwood. Minyak-minay tersebut memiliki titik didih di atas
normal (285-290 C)
Fiksatif sintetis memiliki titik didih tinggidan merupakan ester yang tidak
berbau yang diantaranya adalah : coumarine, amyl benzoat, indol, cinnamic alcohol
ester, vanilin dan musk keton.
Dalam pembuatan parfum, teknik dan cara yang digunakan sama dengan teknik
pada pembuatan minyak atsiri, yakni destilasi atau penyulingan, ekstraksi, dan
maserasi. Selain itu pembuatan parfum juga dapat dilakukan dengan teknik ekspresi
atau pengepresan. Cara pengepresan umumnya dilakukan terhadap bahan beberapa biji,
buah atau kulit buah yang dihasilkan dari tanaman yang termasuk famili citrus, karena
minyak dari tanaman citrus akan mengalami kerusakan jika diekstraksi dengan
penyulingan. Dengan tekanan pengepresan, sel-sel yang mengandung minyak akan
pecah dan minyak akan mengalir ke permukaan bahan Contoh: Minyak lemon, Minyak
bergamot (kulit jeruk mandarin
Setiap produk wewangian mengandung pelarut tambahan yang berfungsi
sebagai media atau fondation baik parfum itu asli atau sintesis. Persentase kandungan
bahan kimia dalam parfum antara kisaran 30 % tergantung dari jenis produknya.
Namun dari beberapa analisa pasar, 95 % bahan kimia yang terkandung di dalam
produk wewangian adalah bahan kimia sintetik yang berbahan dasar petroleum yang
merupakan turunan benzene, aldehid atau zat yang umumnya terkenal beracun.
Berikut ini beberapa bahaya yang ditimbulkan dari kandungan yang terdapat
dalam parfum (Iswara, 2014) :
1. Zat Pewangi

Salah satu senyawa sebagai zat pewangi adalah Metil dihidro jasmonat. Metil
dihidro jasmonat adalah ester dan senyawa aroma difusi dengan bau samar-samar mirip
dengan melati. Senyawa ini digunakan sebagai zat pewangi dalam parfum. Dalam
material safety data sheet (MSDS) metal dihidrojasmonat tidak berbahaya bagi
kesehatan tubuh. Sehingga masih baik digunakan sebagai zat pewangi dalam parfum.
Selain senyawa metal dihidrojasmonat terdapat juga senyawa alfa-heksil
sinnamaldehid. Berdasarkan material safety data sheet (MSDS) jika senyawa ini
tertelan akan menyebabkan aspirasi ke dalam paru-paru dengan risiko pneumonitis
kimia, dan konsekuensi serius bisa terjadi. Ada beberapa bukti yang menunjukkan
10

bahwa senyawa ini dapat menyebabkan iritasi mata dan kerusakan pada beberapa
orang. Jika terjadi kontak kulit tidak memiliki efek kesehatan yang merugikan, namun
dapat menyebabkan luka seperti lecet, terkelupas, atau kulit yang iritasi tidak boleh
terkena senyawa ini. Bahaya jika menghirup uap ini dapat menyebabkan mengantuk
atau pening, dapat disertai dengan kehilangan refleksi, kurangnya koordinasi, dan
vertigo. Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa senyawa ini dapat menyebabkan
iritasi pernafasan pada beberapa orang. Respon tubuh terhadap iritasi tersebut dapat
menyebabkan kerusakan paru-paru lebih lanjut.
2. Zat Pelarut seperti etanol.

Berdasarkan material safety data sheet (MSDS) etanol adalah senyawa yang
mudah terbakar, jika terjadi kontak langsung dengan mata dapat menyebabkan iritasi,
mata kemerahan, nyeri, kornea, peradangan, dan kerusakan kornea. Selain itu, bahaya
untuk kulit jika dalam waktu pendek maupun panjang dapat menyebabkan kulit
kemerahan, gatal, peradangan. Bahkan jika digunakan berulang-ulang dapat
menyebabkan reaksi alergi kulit pada sebagian kecil individu atau manusia. Berkaitan
dengan karsinogen atau bahan yang dianggap sebagai penyebab kanker, mengkonsumsi
alkohol dalam jangka panjang dapat menyebabkan terjadinya kanker, tumor ganas
rongga mulut, faring, laring, esophagus dan hati.
3. Zat Pengikat

Beberapa senyawa yang menjadi zat pengikat parfum. Diantaranya 1,2butanediol, 3-etoksi-1-propanol, limonene, dipropilen glikol, 2-(2-hidroksipropoksi)-1propanol, 3,3-oksibis-2-butanol. Selain itu dari data material safety data sheet (MSDS)
juga menyebutkan bahwa dari masing-masing senyawa tersebut dapat memberikan efek
negatif meskipun tidak terlalu berbahaya. Misalkan pada 1,2-butanediol.
Senyawa 1,2-butanediol memiliki rumus molekul C4H10O2 dengan berat
molekul 90 gram/mol. Berdasarkan material safety data sheet (MSDS) senyawa ini
dapat memberikan potensi bahaya seperti iritasi mata, dapat menyebabkan cedera
kornea, dapat menyebabkan iritasi kulit. Jika dikonsumsi dapat menyebabkan iritasi
pada saluran pencernaan, dapat menyebabkan kerusakan ginjal, dan dapat
menyebabkan depresi sistem saraf pusat. Selain itu, bahaya jika terhirup dapat
menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan, dan efek yang sama dengan bahaya jika
dikonsumsi. Bahkan efek yang kronis dapat menyebabkan cedera pada ginjal.

11

BAB III
PENUTUP
3.1 Ringkasan
Dari Pembahasan di atas dapat disimpulkan :
3.1.1

Minyak atsiri, atau minyak eterik (aetheric oil), minyak esensial (essential oil),
minyak terbang (volatile oil), serta minyak aromatik (aromatic oil), adalah
kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang
namun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas. Sedangkan
parfum merupakan bagian dari minyak atsiri tersebut yang telah dikembangkan

3.1.2

sebagai zat pewangi di dunia industri.


Minyak atsiri memiliki sifat yang tidak dapat larut dengan air, mudah menguap
dan tidak berwarna. Kandungan yang ada dalam minya atsiri adalah unsur
karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O) serta beberapa persenyawaan kimia
yang mengandung unsur Nitrogen dan Belerang.

12

3.1.3

Minyak atsiri diisolasi dengan cara destilasi, maserasi dengan lemak atau

3.1.4

minyak, dan ekstraksi.


Parfum sendiri terdiri dari zat pelarut, zat pengikat, dan zat pewangi. Cara
isolasi parfum sama dengan minyak atsiri yaitu dengan destilasi, maserasi
dengan lemak atau minyak, dan ekstraksi.

3.2 Saran
3.2.1 Sebaiknya gunakan parfum yang berbahan dasar alami sehingga lebih aman
3.2.2

digunakan
Sebaiknya gunakan parfum yang cocok dengan kulit dan kondisi tubuh,

3.2.3

sehingga tidak menyebabkan alergi atau iritasi.


Sebaiknya gunakan parfum sewajarnya saja, tidak terlalu berlebihan, karena
parfum juga dapat menimbulkan efek buruk.

13