Anda di halaman 1dari 18

BAB I

DISTILLASI BATCH

A. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Dapat melakukan percobaan distillasi batch dengan sistem reflux.
2. Dapat menentukan fraksi uap dan fraksi cairan berdasarkan densitas yang
diperoleh dari percobaan
3. Dapat menentukan jumlah tray atau stage yang ideal untuk sistem yang
dilakukan dalam praktikum jika digunakan distilasi dengan sistem stage /
tray

B. DASAR TEORI
1. Distilasi
Distilasi adalah pemisahan dua zat atau lebih yang mempunyai perbedaan
titik didih (Anonim, USU), hal ini dapat terjadi karena perbedaan kemampuan
menguap komponen-komponen dalam campuran sehingga perpindahan massa
yang terjadi lebih optimal. Zat yang mempunyai titik didih lebih rendah akan
menguap lebih dulu (Anonim, USU).
Proses pemisahan secara distilasi dapat dilakukan terhadap campuran
yang terdiri dari komponen sebagai berikut:
-

Mempunyai perbedaan titik didih yang cukup

Mempunyai sifat penguapan yang relatif tinggi

Tidak membentuk campuran azeotrop


Prinsip distilasi adalah penguapan dan pengembunan kembali uapnya pada

tekanan dan suhu tertentu. Tujuan destilasi adalah proses pemurnian zat cair pada
titik didihnya. Contoh distilasi dalam dunia industri adalah industri minman
beralkohol dan industri farmasi (Ummu Hani, 2008).
Proses pemisahan secara distilasi terdiri dari tiga langkah dasar, yaitu:
1.

Proses penguapan atau penambahan panas dalam larutan yang dipisahkan

2.

Proses pembentukan fase seimbang

3.

Proses pemisahan kedua fase seimbang

Pada proses pemisahan secara distilasi, fasa uap akan segera terbentuk
setelah campuran dipanaskan. Uap dan sisa cairannya dibiarkan saling kontak
sedemikian hingga pada suatu saat, semua komponen yang terdapat dalam
campuran akan terdistribusi dalam kedua fasa membentuk keseimbangan. Setelah
keseimbangan dicapai, uap segera dipisahkan dari cairannya, kemudian
dikondensasikan membentuk destilat dan residu (Anonim, USU). Operasi ini
biasanya dilaksanakan dalam suatu tray column atau packing column yang
bertujuan untuk mendapatkan kontak antar fasa. Menurut K. B. A. Walangare
(2013) distilasi dibedakan menjadi 5 yaitu:
a. Distilasi sederhana
Distilasi sederhana (distilasi biasa) adalah teknik pemisahan kimia untuk
memisahkan dua atau lebih komponen yang memiliki perbedaan titik didih
yang jauh. Suatu campuran dapat dipisahkan dengan distilasi biasa ini
untuk memperoleh senyawa murni. Senyawa yang terdapat dalam
campuran akan menguap saat mencapai titik didih masing-masing.
b. Distilasi fraksinasi (bertingkat)
Destilasi bertingkat adalah suatu proses destilasi berulang. Proses berulang
ini terjadi pada kolom fraksional. Kolom fraksional terdiri atas beberapa
plat dimana pada setiap plat terjadi pengembunan. Uap yang naik plat yang
lebih tinggi lebih banyak mengandung cairan yang lebih atsiri (mudah
menguap) sedangkan cairan yang yang kurang atsiri lebih banyak
kondensat. Sama prinsipnya dengan destilasi sederhana, hanya destilasi
bertingkat ini memiliki rangkaian alat kondensor yang lebih baik, sehingga
mampu memisahkan dua komponen yang memiliki perbedaan titik didih
yang berdekatan. Untuk memisahkan dua jenis cairan yang sama mudah
menguap dapat dilakukan dengan destilasi bertingkat.
c. Distilasi azeotrop
Distilasi jenis ini digunakan untuk memisahkan campuran azeotrop
(campuran dua atau lebih komponen yang sulit di pisahkan), biasanya
dalam prosesnya digunakan senyawa lain yang dapat memecah ikatan
azeotrop tersebut atau dengan menggunakan tekanan tinggi.
d. Distilasi uap

Distilasi jenis ini digunakan untuk memurnikan zat / senyawa cair yang
tidak larut dalam air, dan titik didihnya cukup tinggi, sedangkan sebelum
zat cair tersebut mencapai titik didihnya, zat cair sudah terurai, teroksidasi
atau mengalami reaksi pengubahan (rearranagement), maka zat cair
tersebut tidak dapat dimurnikan secara destilasi sederhana atau destilasi
bertingkat, melainkan harus didestilasi dengan destilasi uap. Destilasi uap
adalah istilah yang secara umum digunakan untuk destilasi campuran air
dengan senyawa yang tidak larut dalam air, dengan cara mengalirkan uap
air kedalam campuran sehingga bagian yang dapat menguap berubah
menjadi uap pada temperature yang lebih rendah dari pada dengan
pemanasan langsung. Untuk destilasi uap, labu yang berisi senyawa yang
akan dimurnikan dihubungkan dengan labu pembangkit uap (lihat gambar
alat destilasi uap). Uap air yang dialirkan

ke dalam labu yang berisi

senyawa yang akan dimurnikan,dimaksudkan untuk menurunkan titik


didih senyawa tersebut, karena titik didih suatu campuran lebih rendah
dari pada titik didih komponen-komponennya.
e. Distilasi vakum
Memisahkan dua kompenen yang titik didihnya sangat tinggi, motode yang
digunakan adalah dengan menurunkan tekanan permukaan lebih rendah
dari 1 atm, sehingga titik didihnya juga menjadi rendah, dalam prosesnya
suhu yang digunakan untuk mendistilasinya tidak perlu terlalu tinggi.

Sementara berdasarkan prosesnya distilasi dibedakan menjadii 2 jenis,


yaitu distilasi batch dan distilasi kontinyu. Distilasi kontintu merupakan proses
distilasi di mana feed masuk ke dalam proses secara kontinyu dan produk keluar
secara kontinyu. Sedangkan distilsi batch adalah proses distilasi di mana feed
masuk pada kondisi awal mulainya proses distilasi dan produk diambil secara
bertahap berdasarkan waktu tertentu selama proses distilai berjalan (Buku
Petunjuk Praktikum OTK II, 2016).
Ditilasi batch memiliki beberapa keuntungan :

1. Kapasitas operasi terlalu kecil jika dilaksanakan secara kontinu. Di bawah


batas minimum tersebut, harga peralatan akan lebih mahal dan tingkat
kesulitan operasinya akan semakin tinggi.
2. Karakteristik umpan maupun laju operasi berfluktuasi sehingga jika
dilaksanakan secara kontinu akan membutuhkan fasilitas pendukung yang
mampu menangani fluktuasi tersebut. Peralatan distilasi batch dapat
dipandang memiliki fleksibilitas operasi dibandingkan peralatan distilasi
kontinu. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa peralatan distilasi
batch sangat cocok digunakan sebagai alat serbaguna untuk memperoleh
kembali pelarut maupun digunakan pada pabrik skala pabrik.
Berdasarkan Coulson & Richardsons (1983) dalam distilasi batch
campuran yang akan didistilasi dibebankan sebagai batch untuk tetap dan
distilasi dilakukan sampai produk atas atau bawah yang diinginkan tercapai.
Kondisi operasi distilasi batch harus seperti berikut:
1. Dimana jumlah yang akan didistilasi kecil.
2. Apabila multi produk yang harus dihasilkan.
3. Feed diproduksi pada interval yang tidak teratur.
4. Komposisi feed bervariasi.

Gambar I.1 Distilasi Batch

Distilasi dengan sistem refluks


Distilasi batch dapat dilakukan dengan sistem refluks. Refluks dilakukan untuk
mempercepat reaksi dengan jalan pemanasan tetapi tidak akan mengurangi
jumlah zat yang ada. Dimana pada umumnya reaksi- reaksi senyawa organik
adalah lambat maka campuran reaksi perlu dipanaskan tetapi biasanya
pemanasan akan menyebabkan penguapan baik pereaksi maupun hasil reaksi.
Karena itu agar campuran tersebut reaksinya dapat cepat, dengan jalan
pemanasan dan jumlahnya selalu tetap reaksinya dapat dilakukan secara refluks
(Anonim).
Distilasi Batch dengan stage seimbang akan memberikan pemisahan
yang lebih baik dibandingkan pemisahan flash. Menambah kolom diatas ketel
dan mengirimkan sebagian dari kondensat kembali ke dalam kolom dan ketel
sebagai refluks akan membuat pemisahan berlangsung lebih baik lagi.
Suatu kolom distilasi batch dengan umpan dimasukkan ke dalam reboiler
berfungsi sebagai suatu seksi enriching. Seperti pada distilasi batch
sederhana, jika rasio refluks sudah tertentu dan jumlah plate dalam kolom
sudah diketahui, komposisi distilat dan cairan dalam ketel akan berubah
setiap waktu. Uap yang meninggalkan ketel pada tiap waktu berada dalam
keseimbangan dengan cairan yang tertinggal dalam ketel, sehingga =
.
Distilasi dengan Kolom Bahan Isian (Packing)
Fungsi dari bahan isian adalah untuk meningkatkan turbulensi dan
permukaan tempat kontak fase uap dan cair, dan juga menyediakan suatu jalur
yang rumit sehingga tidak terjadi by-pass. Bahan isian yang digunakan harus
tahan terhadap korosi dan memiliki struktur yang kuat untuk menahan beban
tumpukan. Bahan isian tersebut harus mempunyai fraksi ruang kosong yang
besar (untuk menjaga agar pressure drop tetap rendah) dan memiliki densitas
rendah serta biaya yang murah. Beberapa bentuk bahan isian dapat dilihat dalam
Gambar I.2 berikut.

Gambar I.2 Bentuk-Bentuk Packing


Bahan isian tersebut termasuk jenis random packing, yaitu bahan isian
yang dituangkan ke dalam kolom. Alternatif lain dari random packing adalah
bahan isian berstruktur yang berbentuk keranjang telur atau gelombang.
Kelebihan dari penggunaan kolom bahan isisan adalah sebagai berikut:
a. Kolom bahan isian biasanya lebih murah
b. Memberikan pengoperasian yang lebih baik untuk sistem yang korosif
karena dapat digunakan material keramik
c. Biasanya memberikan pressure drop yang lebih rendah
d. Biasanya memiliki liquid holdup yang lebih singkat
e. Relatif tidak terpengaruh oleh terbentuknya busa (foaming)
Di sisi lain kolom bahan isian juga mempunyai sejumlah kekurangan berikut ini:
a. Sulit untuk dibersihkan
b. Umumnya lebih berat dariada kolom tray
c. Tidak dapat dipanaskan atau didinginkan secara internal
d. Dapat mengakibatkan channeling

Channeling menjadi pertimbangan utama dalam kolom-kolom yang


diameternya melebihi 1-2 meter. Pada kolom bahan isian berdiameter besar,
channeling ditunjukkan dengan cairan yang mengalir sepanjang dinding kolom
dan ia bergerak naik dibagian tengah kolom. Apabila diameter kolom melebihi
satu meter, distributor aliran diletakkan pada interval-interval tertentu.
Bila diinginkan untuk membandingkan kinerja berbagai jenis tray dengan
bahan isian, kita biasanya menggunakan suatu dasar perbandingan yang umum.
Parameter yang digunakan sebagai pembanding adalah kecepatan uap
perancangan dalam kolom, yang digunakan sebagai referensi bagi kecepatan uap
pada berbagai kondisi yang lain. Rasio kecepatan maksimum perancangan
dengan kecepatan operasi diistilahkan sebagai rasio turndown.

C. PROSEDUR KERJA
1. Alat
a. Pipet ukur (25 ml)
b. Ball filler
c. Neraca analitik
d. Piknometer (5 ml)
e. Termometer
f. Beaker glass (250 ml dan 500 ml)
g. Pengaduk kaca
h. Pipet tetes
i. Labu takar
j. Corong kaca
k. Seperangkat alat distilasi + refluk
2. Bahan
a. Etanol
b. Aquades

3. Rangkaian Alat Distilasi Batch Dengan Sistem Refluks


Keterangan :
1. Pemanas Listrik
2. Labu didih
3. Termometer
4. Kolom Distilasi
5. Kondensor
6. Kran pengatur refluk dan distilat
7. Pengeluaran Distilat

Gambar I.3 Rangkaian Alat Distilasi Batch

4. Gambar Alat

a.

Pipet ukur

e. Termometer

b.

Ball filler

f. Beaker glass

c. Neraca Analitik

g. Pengaduk kaca

d. Picnometer

h. Pipet tetes

j. Corong kaca
Gambar I.4 Alat Praktikum Distilasi Batch
5. Skema Kerja
Etanol 100 ml

Aquades 100 ml

200 ml campuran umpan

Mengukur Densitas Larutan

Masukkan Labu Leher Tiga

Proses Distilasi Batch

Amati perubahan suhu dan larutan di


bottom dan distilat

Hitung densitas larutan di bottom dan distilat


Gambar I.5 Skema kerja praktikum distilasi batch

D. DATA PENGAMATAN
Tabel I.1 Data Pengamatan Praktikum Distilasi Batch
No
Perlakuan
Pengamatan
1
Membuat campuran umpan Diperoleh campuran umpan 50%
50% volume etanol dalam
volume etanol dalam aquades
aquades dengan volume 200
dengan volume 200 ml
ml
2
Menyiapkan alat distilasi dan Operasi distilasi siap dijalankan
merangkainya
3
Campuran didistilasi dengan Suhu awal campuran pada labu
packing terisi volume
didih diatur pada suhu sekitar 100
o
C untuk mencapai 80 83 oC.
4
Di amati suhu saat terjadinya Suhu saat tetesan pertama adalah
tetesan
pertama
dan
81oC pada distilat dan 71oC pada
dilakukan
penghitungan
bottom
densitas di distilat
5
Diturunkan suhunya sampai Suhu di bottom turun, lalu
suhu di labu didih turun
dilakukan pengambilan larutan di
o
menjadi sekitar 30-40 C,
bottom untuk dihitung densitas,
untuk dilakukan pengambilan
diperoleh data densitas larutan di
larutan di bottom lalu
bottom
penghitungan densitasnya
6
Langkah 4 dan langkah 5 Diperoleh 3 data densitas di bottom
dilakukan sebanyak 3 kali,
dan distilat dan di rata-rata yang
untuk
memperoleh
data
disajikan dalam tabel I.2
densitas larutan di bottom dan
distilat
7
Rangkaian
alat
distilasi
dilepaskan
Rangkaian alat distilasi terlepas
Tabel I.2. Tabel perhitungan densitas
Densitas

Kesetimbangan Kesetimbangan

Kesetimbangan Densitas rata-

gr/ml

pertama

kedua

ketiga

rata (gr/ml)

Destilat

0,827

0,81

0,83

0,822

Bottom

0,933

0,944

0,944

0,940

E. ANALISIS DAN PEMBAHASAN


1. Praktikum
Dalam praktikum distilasi batch ini, larutan umpan yang digunakan adalah
larutan etanol-aquades 50% volume etanol. Pada percobaan kali ini variabel
yang digunakan adalah volume packing yang digunakan yaitu volume. Jumlah
isian packing yang digunakan dalam alat distilasi di Laboratorium OTK Teknik
Kimia UNNES adalah 288 buah, sehingga diperoleh jumlah packing yang
dibutuhkan dalam praktikum ini adalah 72 buah isian packing. Packing tersebut
terbuat dari bahan kaca dengan bentuk pipa-pipa kecil dengan ukuran diameter
0,5 cm dan panjang 2 cm.
Larutan umpan yang digunakan mempunyai volume total 200 ml, yang
dibuat dengan cara mengambil 100 ml etanol lalu ditambahkan larutan aquades
hingga volumenya 200 ml. Larutan umpan dimasukkan ke dalam labu leher tiga
kemudian dirangkai menjadi menjadi alat distilasi refluks sistem packing.
Penggunaan sistem distilasi kolom isian (packing) dimaksudkan untuk
meningkatkan turbulensi dan luas permukaan tempat kontak fase uap dan cair,
dan juga menyediakan suatu jalur yang rumit sehingga tidak terjadi by-pass.
Selanjutnya dilakukan proses distilasi refluks dengan pemasangan
kumparan dan aluminium foil pada kolom packing. Tujuan pemasangan
kumparan dan alumunium foil adalah agar kolom distilasi mempunyai
temperatur yang hampir sama pada labu leher tiga (labu untuk reboiler) sehingga
distilat masih berupa fase uap saat berada dalam kolom distilasi dan tidak
terkondensasi di dalam kolom distilasi itu sendiri.
Setelah proses distilasi berjalan selama 90 menit, suhu yang terukur dalam
labu didih (bottom) adalah 81oC sementara suhu yang terukur pada distilat
adalah 71oC. Suhu tersebut lebih tinggi dari titik didih etanol yaitu 78oC,
sehingga kandungan etanol dalam campuran akan teruapkan dan menerobos
melewati packing dalam kolom distilasi. Kemudian terdapat distilat (cairan)
yang keluar melalui saluran refluks. Cairan tersebut merupakan uap distilat yang
terembunkan dalam saluran refluks melalui kondensor. Lalu densitas distilat
yang keluar diukur dengan piknometer, sementara suhu dibottom diturunkan
sampai 40-50oC. Penurunan suhu ini bertujuan untuk pengambilan larutan di

bottom dan menghindari penguapan etanol di bottom agar tidak keluar. Proses
penurunan suhu ini dilakukan dengan mematikan heating plate (suhu 0oC) dan
menunggu hingga suhu turun sampai 40-50oC. Proses penurunan suhu ini
berjalan lama karena proses ini tidak dilakukan dengan alat bantu (pendingin).
Proses penghitungan densitas saat mencapai kesetimbangan dilakukan
sebanyak 3 kali, di mana suhu saat terjadinya kesetimbangan di bottom dan
distilat dari ke 3 kali penghitungan densitas adalah sama yaitu 81oC di bottom
dan 71oC di distilat.
Dari hasil percobaan diperoleh data densitas larutan di bottom dan di
distilat. Nilai densitas di bottom antara lain 0,933 gr/ml, 0,944 gr/ml dan 0,944
gr/ml. Hasil ini menunjukkan bahwa dari percobaan pertama ke percobaan kedua
mengalami peningkatan, sementara percobaan kedua ke percobaan ketiga
mengalami nilai yang konstan, hal ini disebabkan karena saat mengambil larutan
di bottom suhu masih terlalu tinggi, hal ini berpengaruh terhadap nilai densitas
yang di hasilkan. Semakin tinggi suhu maka nilai densitas akan semakin rendah.
Sementara nilai densitas di distilat antara lain 0,827 gr/ml, 0,81 gr/ml dan 0,83
gr/ml. Hasil percobaan menunjukkan bahwa nilai densitas mengalami naik turun,
di mana seharusnya nilai densitas semakin lama semakin besar, karena
seharusnya semakin lama distilasi maka kemurnian makin tinggi. Sementara
semakin tinggi kemurnian maka densitas semakin kecil, sesuai dengan
persamaan berikut:
y = -3,3819x + 3,4653
dimana x merupakan fraksi dan y merupakan densitas.
Persamaan diatas diperoleh dari kurva kalibrasi kelompok sebelumnya.
Berikut merupakan gambar kurva kalibrasi:

Konsentrasi

Kurva Kalibrasi
1,2
1
0,8
0,6
0,4
0,2
0
-0,2 0
-0,4

y = -3,3819x + 3,4653
R = 0,8852
0,2

0,4

0,6

Densitas

0,8

Kurva Kalibrasi
Linear (Kurva Kalibrasi)
1

1,2

Dengan kurva kalibrasi di atas maka, dapat diperoleh fraksi berdasarkan


densitas yang diperoleh, dengan memasukkan densitas sebagai x pada
persamaan y = -3,3819x + 3,4653, sehingga diperoleh nilai fraksi yang disajikan
pada tabel berikut:
Densitas

Densitas rata- Fraksi

gr/ml

rata (gr/ml)

Destilat

0,822

0,6853782

Bottom

0,940

0,286314

Berdasarkan tabel dapat disimpulkan bahwa fraksi etanol di distilat lebih


tinggi dari pada fraksi di bottom, hal ini sesuai dengan literatur (Anonim).
Sehingga nilai Xd = 0,6853782; Yd= 0,3146218; Xw= 0,286314 dan Yw=
0,713686. Nilai-nilai tersebut dapat digunakan untuk menghitung jumlah tray
yang ideal untuk percobaan distilasi batch jika digunakan distilasi dengan sistem
tray, dimana untuk menghitung jumlah tray dapat dilakukan dengan simulasi
menggunakan aspen Hysys.
2. Simulasi
Simulasi yang dilakukan adalah menghitung jumlah tray / stage yang ideal untuk
percobaan yang telah dilakukan. Simulasi ini menggunakan software aspen plus.
Data yang dibutuhkan adalah suhu di bottom (81OC), suhu di distilat (71oC) , Xd
(0,6853782) Yd (0,3146218), Xw (0,286314) dan Yw (0,713686).
Dari percobaan diperoleh bahwa jika sistem dilakukan dengan distilasi
menggunakan tray maka jumlah tray yang dibutuhkan adalah 13,98 stage atau 14
stage dengan feed stage pada stage 13 dan rasio refluks sebesar 1.
Untuk data lainnya dapat dilihat dibagian lampiran.

F. SIMPULAN
1.

Larutan etanol-aquades dapat dipisahkan dengan distillasi batch dengan


sistem reflux.

2.

Fraksi uap dan fraksi cairan dapat ditentukan berdasarkan densitas dengan
memasukkan ke dalam rumus y = -3,3819x + 3,4653 atau mengeplotkan
nilai densitas yang diperoleh pada kurva kalibrasi antara densitas dan fraksi.
Di mana dalam percobaan ini diperoleh fraksi etanol di distilat 0,6853782
dan fraksi etanol di bottom 0,286314.

3.

Jumlah tray atau stage yang ideal dari sistem distilasi batch untuk sistem
yang dilakukan dipercobaan dapat ditentukan dengan melakukan simulasi
menggunakan aspen hysys. Di mana dalam percobaan ini diperoleh jumlah
tray yang dibutuhkan adalah 14 dengan feed stage pada stage 13 dan rasio
refluks sebesar 1.

4. SARAN
1. Diperlukan kipas angin atau alat pendingin untuk mendinginkan bottom
lebih cepat agar proses pendinginan berjalan lebih cepat.
2. Harus teliti dalam mengamati tetesan pertama yang terjadi selama proses
distilasi dengan sistem refluks.
3. Sebaiknya saat memasukkan packing ke dalam tabung, tutup tabung harus
dipasang terlebih dahulu agar packing tidak jatuh.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Ekstraksi minyak jahe dengan cara distilasi. Universitas Sumatera
Utara.
Tim Dosen Praktikum OTK II. 2016. Petunjuk Praktikum OTK II. Jurusan Teknik
Kimia. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Semarang. Semarang.
Ummu Hani. 2008. Destilasi. Kumpulam Laporan Praktikum Kimia Fisika.
Laboraorium Kimia PMIPA. FKIP. UNLAM. Banjarmasin.
Walangare. K.B. A., dkk. 2013. Rancang Bangun Alat Konversi Air Laut Menjadi
Air Minum Dengan Proses Destilasi Sederhana Menggunakan Pemanas
Elektrik. E-Jurnal Teknik Elektro dan Komputer. Jurusan Teknik Elektro.
FT. UNSRAT. Manado

LAMPIRAN
Tabel I.3 Data hasil simulasi dengan Aspen Plus
Minimum reflux ratio
Actual reflux ratio
Minimum number of stages
Number of actual stages
Feed stage
Number of actual stages above feed
Reboiler heating required
Condenser cooling required
Distillate temperature
Bottom temperature
Distillate to feed fraction
HETP

0,72409796
1
7,08332841
13,9863764
13,3571472
12,3571472
10671,0146
10333,0553
78,4560338
92,5381408
0,289444877
0,005719852

cal/sec
cal/sec
C
C
meter

Flowsheet untuk sistem

78
1

81
1

FEED

DIST-01

DIST-OUT
93
1

BOTT-OUT

Te m pe ra ture ( C)
Pr essure (bar )

Tabel I.4 Streams

Substream: MIXED
Mole Flow kmol/hr
ETHANOL
WATER
Total Flow kmol/hr
Total Flow kg/hr
Total Flow l/min
Temperature C
Pressure bar
Vapor Frac
Liquid Frac
Solid Frac
Enthalpy cal/mol
Enthalpy cal/gm
Enthalpy cal/sec
Entropy cal/mol-K
Entropy cal/gm-K
Density mol/cc
Density gm/cc
Average MW
Liq Vol 60F l/min

BOTT-OUT

DIST-OUT

DIST-01
LIQUID

DIST-01
LIQUID

0,1605387
4,65655
4,817088
91,28491
1,679709
92,53814
1,01325
0
1
0
-66959,24
-3533,427
-89596,82
-36,51379
-1,926826
0,0477968
0,9057609
18,95023
1,556495

1,444848
0,5173944
1,962243
75,88378
1,67506
78,45603
1,01325
0
1
0
-65244,56
-1687,128
-35562,68
-65,76841
-1,700674
0,0195241
0,7550352
38,67196
1,556495

FEED
DIST-01
LIQUID

1,605387
5,173944
6,779331
167,1687
3,333333
81
1,01325
0
1
0
-66642,4
-2702,605
-1,26E+05
-45,24719
-1,834947
0,0338966
0,8358434
24,65858
3,11299

Kurva Kalibrasi

Kurva Kalibrasi
1,2
1
0,8

Fraksi

0,6

y = -3,3819x + 3,4653
R = 0,8852

0,4

Kurva Kalibrasi

0,2
0

Linear (Kurva Kalibrasi)


0

0,2

0,4

0,6

-0,2
-0,4

Densitas

0,8

1,2