Anda di halaman 1dari 13

PENERAPAN DAN PEMANFAATAN E-GOVERNMENT DI INDONESIA

KATA PENGANTAR
Penulis mengucapkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah yang sederhana ini dengan predikat terbilang lancar.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang membantu dalam
penyusunan makalah ini,terutama Bapak Jericho Pombongi,S.Sos, MSi selaku dosen
pengajar sistem informasi manajemen pemerintahan yang telah membimbing penulis
sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
Penyusunan makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah sistem informasi
manajemen pemerintahan. Selain itu, penulis juga ingin memberikan wawasan kepada
semua pihak yang berkenan membaca makalah ini mengenai e-government serta
penerapannya di Indonesia, sehingga makalah ini bukan hanya sebagai kumpulan kertas
tak berguna sebagai penghias meja belajar, melainkan dapat dijadikan sebuah referensi.
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca yang budiman. Dalam
penyusunan tugas ini penulis sadar jauh dari kesempurnaan oleh sebab itu kritik dan saran
yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan tugas-tugas selanjutnya.
Minahasa Utara, Januari 2012
Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar.............
..1
Daftar Isi.................
.2
Bab I. Pendahuluan
1.1.Latar belakang .............
....................3
1.2.Rumusan masalah...................
..3-4
1.3.Manfaat dan Tujuan....................
......4

Bab II. Pembahasan


2.1.Defenisi E-government ..............................
..........................................5-7
2.2.Tingkatan layanan atau tahapan pengembangan e-government secara
umum..........................7
2.3.Kiat-kiat menuju e-government yang
unggul...................................................................8-9
2.4.Pengembangan lebih lanjut e-government menjadi egovernance.................................9-10
2.5.Penggunaan e-government di
Indonesia.......................................................................10-12
2.6.Kelembagaan, Regulasi, dan Kebijakan e-government di
Indonesia............................12-13
Bab III. Penutup
3.1..Kesimpulan.
....14-15
3.2.Saran.............................................................................................................................1
6-17
Daftar
Pustaka.......................................................................................................................18

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG
Bangsa yang maju adalah bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kuasailah teknologi maka kau akan menguasai dunia, demikianlah ungkapan yang
berkembang di masyarakat teknologi. Dan ungkapan itu tidak sekedar ungkapan.
Departemen Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia adalah merupakan salah satu
institusi pemerintah yang bertanggung jawab untuk mewujudkan hal tersebut melalui
salah satu programnya yakni e-government . apa sih e-government itu? Dan apa
manfaatnya? Bagaimana implementansi e-government di Indonesia? Makalah ini
mencoba membahas hal tersebut secara mendalam.
Kemajuan teknologi informasi memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk
kemaslahatan masyarakat. Tentunya dalam dunia yang sudah mengglobal ini, kemajuan

teknologi diperlukan dan dimanfaatkan dalam segala bidang. Salah satu bidang yang
terkena sentuhan teknologi informasi adalah pelayanan pemerintah kepada publik.
Artinya dalam era teknologi informasi ini, informasi telah dihubungkan oleh dengan
sebuah gerbang / gateway yang terintegrasi.
Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang pesat serta potensi pemanfaatannya
secara luas, membuka peluang bagi pengaksesan, pengelolaan dan pendayagunaan
informasi dalam volume yang besar secara cepat dan akurat. Selain itu pemanfaatan
teknologi komunikasi dan informasi dalam proses pemerintahan (e-government) akan
meningkatkan efisiensi, efektifitas, transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan
pemerintahan.
1.2.RUMUSAN MASALAH
E-Gov atau Electronic Government merupakan bentuk dari implementasi penggunaan
teknologi informasi bagi pelayanan pemerintah kepada publik. Yaitu bagaimana
pemerintah memberikan informasi kepada pemangku kepentingan (stakeholder) melalui
sebuah portal web. Perbedaan pemahaman, cara pandang dan tindakan atas E-Gov telah
menimbulkan distorsi serta penyimpangan atas maksud pembuatan E-Gov itu sendiri.
Kondisi memprihatinkan ini terjadi di berbagai tingkatan birokrasi, baik dari tingkat staf
paling bawah hingga ke tingkat paling tinggi. Begitu pula dalam berbagai praktek bisnis
di lingkungan swasta. Lemahnya pemanfaatan e-gov di lingkungan birokrasi yang saling
terkait dengan masih terbatasnya aplikasi di dunia bisnis telah menyebabkan lambatnya
pelaksanaan program e-gov.
Mencermati realitas dan latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut:
1. Apakah defenisi e-government secara mendalam?
2.
Bagaimana implementasi penerapan e-government di Indonesia?
3.
Bagaimana Kelembagaan, Regulasi dan Kebijakan daripada e-government di
Indonesia?
1.3.MANFAAT DAN TUJUAN
Adapun tujuan dan manfaat dari penulisan makalah ini adalah:
1. Agar kita semakin memahami manfaat e-government serta penerapannya di
Indonesia sendiri.
2.
Untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Sistem Informasi
Manajemen Pemerintahan yakni Bapak Jericho Pombongi, S.Sos. Msi.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. DEFENISI E-GOVERNMENT

E-government adalah tentang penyampaian informasi pemerintah dan penyelenggaraan


pelayanan secara online melalui internet atau alat digital lainnya. Sedangkan menurut
Holmes (2000), E-Gov didefinisikan sebagai Kegunaan Teknologi Informasi untuk
memberikan/menyajikan pelayanan kepada publik dengan lebih nyaman, berorientasi
pada konsumen, mengefektifkan biaya, dan secara keseluruhan merupakan cara yang
lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan penulis lain (Fang, 2002; Seifert and Bonham,
2004) mendefinikan E-government merupakan sebuah cara bagaimana pemerintah
menggunakan teknologi informasi khususnya aplikasi internet berbasis web, untuk
menyediakan akses yang mudah terhadap informasi pemerintah dan menyediakan
pelayanan publik, juga untuk meningkatkan kualitas pelayanan pemerintahan, serta
melakukan transformasi hubungan antara pejabat publik dengan penduduk dan juga
bisnis. Dari berbagai definisi ini, umumnya pemerintah-pemerintah di dunia yang
mengimplementasikan E-Gov menggunakan definisi dari Bank Dunia[2], yaitu
pemanfaatan Teknologi Informasi (seperti Wide Area Network, Internet, Mobile
Computing) oleh agen pemerintah yang mampu mentransformasi hubungan dengan
penduduk, bisnis serta unit pemerintah lainnya.
Secara garis besar dari definisi-definisi yang beredar mengenai E-Gov dapat disimpulkan
bahwa E-Gov mempunyai beberapa penekanan penting yaitu pada:
a.
adanya pemanfaatan teknologi informasi (Internet, WAN, Mobile Computing dll).
b.
adanya tujuan untuk meningkatkan layanan kepada publik yaitu dengan adanya
pelayanan umum secara online (Online Public Services).
c.
adanya tujuan untuk melakukan transformasi hubungan antara agen pemerintah
dengan penduduk, bisnis ataupun dengan unit pemerintah lainnya.
Pelayanan publik yang dilakukan oleh pemerintah dijelaskan oleh sebuah model Future of
Government Services. Dalam model ini digambarkan bahwa Pelayanan Pemerintah
dipengaruhi oleh dua faktor yaitu:
1.
Internal Drivers
1.
Risk management
2.
Partnerships
3.
Skills Shortage
4. Take care of People
5.
Intellectual Asset Management
6.
Shorten Cycle Time
7.
Constituency Requirement
8.
Innovative Product & Services
9.
Streamline Business Processes
2.
External Drivers

IT Commoditization

Works & Lifestyles Diversity

Internet Landscape

Informational transparency

Skills shortage

Competition to Provide Services

New Business Model Emerging

Legislation
Aplikasi dari IT dalam sektor publik ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas

dan akuntabilitas dalam penyampaian pelayanan public oleh pemerintah. Layne and Lee
(2001) menjelaskan dalam 4 tahap pengembangan E-Gov yaitu:
1)
Cataloguing
Fokus pada memulai sebuah bentuk kehadiran secara online dari pemerintah. Hal ini
dapat diwakili dengan adanya web static.
2) Transaction
Dalam halaman web tersebut disajikan link database dinamis.
3) Vertical Integration
Terbangunnya sebuah koneksi dengan fungsi dan jasa dari tingkat diatasnya. Misalnya
Portal web pemda tingkat II, mempunyai fungsi pelayanan dari portal web pemda tingkat
I dan tingkat pusat.
Di Vetical Integration, fokus pada transformasi jasa pelayanan pemerintahan dan bukan
pada otomatisasi. Targetnya adalah mengintegrasi sistem pemerintahan tingkat II dengan
tingkat I dan tingkat pusat, hal ini dilakukan untuk tujuan cross referencing and checking.
Selain itu, target lainnya adalah untuk mempertimbangkan peningkatan pada efisiensi,
privasi dan masalah kerahasiaan.
4)
Horizontal Integration
Yaitu suatu integrasi antar fungsi dan pelayanan yang beda. Pada Horizontal Integration,
ditandai dengan adanya database yang melintas area fungsional yang berbeda, yang
saling berkomunikasi satu sama lain dan idealnya saling membagi informasi. Dengan
demikian, informasi yang diperoleh satu agen pemerintah maka dapat digunakan oleh
seluruh fungsi lain dalam sistem.
Secara keseluruhan 4 tahap E-Gov dari Layne & Lee menawarkan harapan terbaik untuk
meningkatkan efisiensi melalui reformasi administrasi melalui vertical maupun horizontal
integration.
2.2.TINGKATAN LAYANAN ATAU TAHAPAN PENGEMBANGAN EGOVERNMENT SECARA UMUM
Pengembangan e-government dapat dilakukan dalam beberapa tahap atau tingkatan.
Beberapa sumber pustaka menjelaskan tentang tingkatan layanan egovernment sebagai
berikut:
Tahap I : Menerbitkan Informasi tentang diri sendiribagi kepentingan warga dan
kalangan bisnis (lewat web/internet)juga menyediakan fasilitas komunikasi
dua arah.
Tahap II : Aplikasi Intranet yang memungkinkan data dapat dikumpulkan (online),
diolah, dan disebarluaskan dalam bentuk baru (agar lebih efisien); meskipun
sebagian proses pemberian servis tetapsecara offline, publik dapat memantau kinerja
secara online.
Tahap III
: Aplikasi Extranet yang memungkinkan warga wilayah dapat mengisi
blanko
aplikasi secara online (lewat internet).
2.3.KIAT-KIAT MENUJU E-GOVERNMENT YANG UNGGUL
Agar kita dapat berhasil dan unggul dalam penerapan e-government, maka perlu kita
simak nasehat dalam publikasi the Harvard Policy Group (2000). Menurut nasehat

tersebut, kita perlu melakukan delapan hal, yaitu:


1.
Fokuskan pada cara teknologi informasi dapat mengarahkan bentuk kegiatan dan
strategi dalam sektor publik.
2.
Gunakan teknologi informasi bagi inovasi strategis, bukan hanya otomasi kegiatan
taktis.
3.
Manfaatkan pengalaman-pengalaman terbaik (best practices)dalam menerapkan
inisiatif pemanfaatan teknologi informasi. Contoh best practicesantara lain: di Australia
<www1.maxi.com.au>, di Singapura <www.ecitizen.gov.sg>, di AS yang ditangani
swasta <www.ezgov.com> dan <www.govworks.com>.
4. Tingkatkan anggaran dan pendanaan bagi inisiatif pemanfaatan teknologi informasi
yang menjanjikan (mempunyai harapan keberhasilan).
5.
Lindungi privasi dan sekuriti.
6.
Bentuk dan kembangkan kerjasama berkaitan dengan teknologi informasi untuk
mendorong pembangunan ekonomi.
7.
Gunakan teknologi informasi untuk mempromosikan keadilan dalam peluang kerja
dan kesejahteraan masyarakat.
8.
Persiapkan diri terhadap berkembangnya demokrasi digital (demokrasi dalam era
digital).
Tindakan ke 1 sampai 4 mendukung transisi ke layanan elektronis, sedangkan tindakan ke
5 sampai 8 akan menjawab tantangan yang sedang timbul dalam kepemerintahan.
Melengkapi kiat-kiat di atas, menurut Accenture (2001: 8-9), ada lima karaktaristik egovernment yang unggul, yaitu:
(1) Visi dan Implementasi: mempunyai visi sejak awal dan mekanisme implementasi
yang baik/tepat.
(2) Berorientasi ke Pengguna/Warga masyarakat: pada umumnya, di awal
pengembangan e-government, informasi yang dipublikasikan disusun dan
diorganisasikan dengan mempertimbangkan cara pemerintah bekerja dan memberikan
layanan secara fisik. Pada e-government yang unggul, layanan kepada publik atau warga
masyarakat dirancang dengan mempertimbangkan kemauan dan cara berpikir masyarakat
umum, bukan berdasar cara kerja lembaga-lembaga pemerintah. Dalam berkomunikasi
dengan Pemerintah lewat e-government, masyarakat tidak perlu tahu struktur organisasi
dan tata laksana pemerintah. Misal: untuk aplikasi IMB, cukup diklik tombol aplikasi,
yang juga untuk layanan aplikasi-aplikasi lainnya (tidak perlu tahu instansi yang
mengurusinya lalu mengklik tombol instansi tersebut).
(3) Menggunakan Manajemen Hubungan Masyarakat (Customer Relationship
Management/ CRM): Humas pemerintahan bergeser fungsinya bagaikan humas dalam
perusahaan jasa, dengan menggunakan teknik-teknik manajemen informasi pengguna
jasa, pemasaran, meminimalkan duplikasi pengumpulan informasi dan pembuatan profil
perilaku pengguna jasa dalam rangka memprediksi kebutuhan di masa depan.
(4) Volume dan Kompleksitas/kerumitan: mampu menangani volume informasi yang
besar dengan kompleksitas tinggi (tapi masih nyaman dan nampak sederhana atau tidak
rumit bagi pengguna).
(5) Penggunaan Portal sebagai satu pintu masuk: memudahkan bagi pengguna/warga
masyarakat dengan tidak perlu mengunjungi situs tiap instansi, cukup satu situs sebagai
pintu masuk (portal) untuik mendapatkan semua layanan yang diperlukan. Contoh:
eCitizen Portal layanan dari Pemerintah Singapura untuk warganya.

2.4.PENGEMBANGAN LEBIH LANJUT E-GOVERNMENT MENJADI EGOVERNANCE


Dalam pengembangan e-government, kita perlu mempertimbangkan bahwa egovernment
dapat dikembangkan lebih lanjut dan lebih luas ke e-governance.
Menurut Heeks (2001a: 2), e-governance diartikan sebagai pemanfaatan ICT untuk
mendukung pemerintahan yang baik (good governance).Lebih lanjut dijelaskan bahwa egovernance mencakup:
1.
e-Administration: untuk memperbaiki proses pemerintahan dengan menghemat
biaya, dengan mengelola kinerja, dengan membangun koneksi strategis dalam pemerintah
sendiri, dan dengan menciptakan pemberdayaan.
2.
e-Citizen & e-Services: menghubungkan warga masyarakat dengan Pemerintah
dengan cara berbicara dengan warga dan mendukung akuntabilitas, dengan
mendengarkan masyarakat dan mendukung demokrasi, dan dengan meningkatkan
layanan publik.
3.
e-Society: membangun interaksi di luar pemerintah dengan bekerja secara lebih
baik dengan pihak bisnis, dengan mengembangkan masyarakat, dengan membangun
kerjasama dengan pemerintah, dan dengan membangun masyarakat madani.
Dalam hal ini, menurut Heeks (2001b: 3), terdapat tiga cara potensial bagi pemerintah
untuk berkembang, yaitu:

Otomasi: mengganti proses pengumpulan, penyimpanan, pengolahan, penyampaian


hasil atau informasi yang dilakukan oleh tenaga manusia dengan proses dengan teknologi
komunikasi dan informasi. Misal: otomasi fungsi klerikal (tata usaha) yang ada.

Informatisasi: mendukung proses yang kini dilakukan dengan tenaga manusia.


Misal: pengambilan keputusan beserta pengkomunikasian dan implementasinya.

Transformasi: menciptakan proses barupengolahan informasi yang dijalankan


dengan ICT atau mendukung prosesbaru pengolahan informasi yang dijalankan oleh
tenaga manusia. E-government dalam jangka panjang akan merubah cara kerja
pemerintah, menggeser cara kerja tradisional dengan cara kerja elektronis yang lebih
efisien dan efektif.
Dengan ketiga cara tersebut diharapkan pemerintahan dapat lebih efisien, dalam arti
dapat lebih murah, dapat berbuat lebih banyak, dan dapat bekerja lebih cepat. Selain itu,
pemerintahan diharapkan dapat lebih efektif, dalam arti: dapat bekerja lebih baik dan
inovatif.
Untuk mewujudkan e-Governance, Heeks (2001b: 17-19) menjelaskan tentang enam
persyaratan kesiapan. Kesiapan tersebut berkaitan dengan: (i) infrastruktur sistem data,
(ii) infrastruktur legal/hukum, (iii) infrastruktur kelembagaan, (iv) infrastruktur SDM, (v)
infrastruktur teknologi, dan (vi) kepemimpinan dan pemikiran strategis.
2.5.PENGGUNAAN E-GOVERNMENT DI INDONESIA
E-Gov di Indonesia mulai dilirik sejak tahun 2001 yaitu sejak munculnya Instruksi
Presiden No. 6 Tahun 2001 tgl. 24 April 2001 tentang Telematika (Telekomunikasi,
Media dan Informatika) yang menyatakan bahwa aparat pemerintah harus menggunakan
teknologi telematika untuk mendukung good governance dan mempercepat proses

demokrasi. Namun dalam perjalanannya inisiatif pemerintah pusat ini tidak mendapat
dukungan serta respon dari segenap pemangku kepentingan pemerintah yaitu ditandai
dengan pemanfaatan teknologi informasi yang belum maksimal.
Berdasarkan data yang ada, pelaksanaan E-Government di Indonesia sebagian besar
barulah pada tahap publikasi situs oleh pemerintah atau baru pada tahap pemberian
informasi, dalam tahapan Layne & Lee baru masuk dalam Cataloguing. Data Maret 2002
menunjukkan 369 kantor pemerintahan telah membuka situs mereka. Akan tetapi 24%
dari situs tersebut gagal untuk mempertahankan kelangsungan waktu operasi karena
anggaran yang terbatas. Saat ini hanya 85 situs yang beroperasi dengan pilihan yang
lengkap. (Jakarta Post, 15 Januari 2003). Indikator lainnya adalah penestrasi internet baru
mencapai 1,9 juta penduduk atau 7,6 persen dari total populasi Indonesia pada tahun
2001. Pada tahun 2002 dengan 667.000 jumlah pelanggan internet dan 4.500.000
pengguna komputer dan telepon, persentasi penggunaan internet di Indonesia sangatlah
rendah. (Sumber: Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia/APJII).
Pada tahun 2003, di era Presiden Megawati Soekarno Putri, Pemerintah mengeluarkan
suatu kebijakan yang lebih fokus terhadap pelaksanaan E-Gov, melalui Instruksi Presiden
yaitu Inpres Nomor 3 tahun 2003. Inpres ini berisi tentang Strategi Pengembangan E-gov
yang juga sudah dilengkapi dengan berbagai Panduan tentang e-gov seperti: Panduan
Pembangunan Infrastruktur Portal Pemerintah; Panduan Manajemen Sistem Dokumen
Elektronik Pemerintah; Pedoman tentang Penyelenggaraan Situs Web Pemda; dan lainlain.
Demikian pula berbagai panduan telah dihasilkan oleh Depkominfo pada tahun 2004
yang pada dasarnya telah menjadi acuan bagi penyelenggaraan e-gov di pusat dan daerah.
Dalam Inpres ini, Presiden dengan tegas memerintahkan kepada seluruh Menteri,
Gubernur, Walikota dan Bupati untuk membangun E-government dengan berkoordinasi
dengan Menteri Komunikasi & Informasi.
Di lihat dari pelaksanaan aplikasi e-gov setelah keluarnya Inpres ini maka dapat
dikatakan bahwa perkembangan pelaksanaan implementasi E-Gov masih jauh dari
harapan. Data dari Depkominfo (2005) menunjukkan bahwa hingga akhir tahun 2005 lalu
Indonesia baru memiliki:
1.
564 domain go.id;
2.
295 website pemerintah pusat dan pemda;
3.
226 website telah mulai memberikan layanan publik melalui website;
4.
198 website pemda masih dikelola secara aktif.
Beberapa pemerintah daerah memperlihatkan kemajuan cukup berarti. Bahkan Pemkot
Surabaya sudah mulai memanfaatkan e-gov untuk proses pengadaan barang dan jasa (eprocurement). Beberapa pemda lain juga berprestasi baik dalam pelaksanaan e-gov
seperti: Pemprov DKI Jakarta, Pemprov DI Yogyakarta, Pemprov Jawa Timur, Pemprov
Sulawesi Utara, Pemkot Yogyakarta, Pemkot Bogor, Pemkot Tarakan, Pemkab Kebumen,
Pemkab. Kutai Timur, Pemkab. Kutai Kartanegara, Pemkab Bantul, Pemkab Malang.
Sementara itu dari sisi infrastruktur, layanan telepon tetap masih di bawah 8 juta satuan
sambungan dan jumlah warung telekomunikasi (Wartel) dan warung Internet (Warnet)
yang terus menurun karena tidak sehatnya persaingan bisnis. Telepon seluler menurut
data Depkominfo tersebut telah mencapai 24 juta ss. Meski kepadatan telepon tetap di
beberapa kota besar bisa mencapai 11%-25%, kepadatan telepon di beberapa wilayah
yang relatif tertinggal baru mencapai 0,2%. Jangkauan pelayanan telekomunikasi dalam

bentuk akses telepon baru mencapai 65% desa dari total sekitar 67.800 desa yang ada di
seluruh tanah air. Jumlah telepon umum yang tersedia hingga saat ini masih jauh dari
target 3% dari total sambungan seperti ditargetkan dalam penyusunan Program
Pembangunan Jangka Panjang II dahulu.
Sementara itu jumlah pelanggan dan pengguna Internet masih tergolong rendah jika
dibandingkan dengan total penduduk Indonesia. Hingga akhir 2004 berbagai data yang
dikompilasi Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) memberikan jumlah
pelanggan Internet masih pada kisaran 1,9 juta, sementara pengguna baru berjumlah 9
juta orang. Rendahnya penetrasi Internet ini jelas bukan suatu kondisi yang baik untuk
mengurangi lebarnya kesenjangan digital (digital divide) yang telah disepakati
pemerintah Indonesia dalam berbagai pertemuan Internasional untuk dikurangi.
2.6.KELEMBAGAAN, REGULASI, DAN KEBIJAKAN E-GOVERNMENT DI
INDONESIA
Perkembangan dan pembangunan telematika memasuki babak baru pada awal tahun 2005
dengan digabungkannya Ditjen Postel yang dahulu berada di bawah Departemen
Perhubungan kedalam Depkominfo. Satriya (2005) melihat penggabungan tersebut
seyogyanya bisa mempercepat gerak pelaksanaan aplikasi egov di seluruh tanah air dan
dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk penyediaan infrastruktur telematika yang
sekaligus disinkronkan dengan berbagai aplikasi prioritas.
Begitu pula dari sisi regulasi, sudah ada Instruksi Presiden (Inpres) No. 3 Tahun 2003
tentang Strategi Pengembangan Egov yang juga sudah dilengkapi dengan berbagai
Panduan tentang egov seperti: Panduan Pembangunan Infrastruktur Portal Pemerintah;
Panduan Manajemen Sistem Dokumen Elektronik Pemerintah; Pedoman tentang
Penyelenggaraan Situs Web Pemda; dan lain-lain. Demikian pula berbagai panduan telah
dihasilkan oleh Depkominfo pada tahun 2004 yang pada dasarnya telah menjadi acuan
bagi penyelenggaraan egov di pusat dan daerah.
Sayangnya beberapa peraturan payung yang diharapkan bisa segera selesai masih belum
terwujud, seperti RUU tentang Informasi, dan Transaksi Elektronik yang masih belum
dibahas di DPR.
Dalam bidang kebijakan, kelihatannya pemerintah belum berhasil menyusun suatu
langkah konkrit yang dapat menggerakkan berbagai komponen pemerintah (lintas sektor)
untuk saling bekerja sama membangun dan menjalankan aplikasi yang memang harus
disinergikan. Hingga sekarang pemanfaatan telematika untuk Kartu Tanda Penduduk,
Perpajakan, Imigrasi, dan Kepegawaian yang sangat dibutuhkan dalam reformasi
pemerintahan masih belum terlaksana. Masih mahalnya tarif Internet, termasuk
Broadband, rupanya telah mulai menarik perhatian Menteri Kominfo seperti diungkapkan
beberapa waktu lalu dalam ajang Indo Wireless 2006 (Detik, 14/3/06). Kombinasi
pemanfaatan kapasitas telepon tetap eksisting dan berbagai teknologi nirkabel lainnya
sudah seharusnya bisa didukung oleh sistem tarif yang sudah memanfaatkan kompetisi
dalam sektor telematika ini. Begitu pula alternatif penyediaan infrastruktur telematika di
daerah terpencil, perbatasan, dan tertinggal masih belum bisa memaksimalkan
pemanfaatan dana Universal Service Obligation (USO) yang telah dikutip dari operator.

BAB III
PENUTUP
3.1.KESIMPULAN
Sebuah Studi pernah diadakan oleh Mc Cornell International LLC, sebuah konsultan di
Washington, tentang ketersediaan - yang disebut oleh para analis sebagai "e-readiness"
terhadap 42 negara. Ke-42 negara tersebut mewakili hampir tiga perempat populasi dunia
dan memproduksi seperempat barang dan jasa di seluruh dunia. Setiap negara dinilai
berdasarkan lima ketegori :
1.
ketersediaan dan akses jaringan,
2.
kepemimpinan pemerintah dan industri dalam mengusahakan e-business dan egovernment,
3.
kekuatan hukum dalam melindungi hak intelektual,
4.
ketersediaan tenaga kerja yang mendukung e-business, dan
5.
iklim e-business.
Hasil negatif pada dua puluh tiga negara, termasuk Indonesia, Cina, Rusia, dan Afrika
Selatan, dimana dibutuhkan pengembangan substansial setidaknya pada dua bidang yaitu
e-business dan e-government.
Selain hasil studi tersebut, sebuah faktor yang secara tidak langsung membuat pemerintah
mau tidak mau harus mengimplementasikan e-government adalah karena permintaan
IMF, dimana IMF menghendaki standard government financial systems tersendiri bagi
semua pemerintah yang mendapatkan bantuan IMF.
Namun kembali lagi adanya beberapa kendala yang mendasar maka Meneyebabkan
implementasi E-government tidak seperti yang diharapkan. Penyebab rendahnya
implementasi E-Gov adalah:
1.
Rendahnya Political Will dari pemerintah itu sendiri.
Terkait dengan Political Will ini, dapat dilihat dari tingkat prioritas pemerintah yang
mengeluarkan kebijakan E-Gov hanya dengan Instruksi Presiden. Dalam negara, kita
mengenal tata aturan perundangan, dimana Inpres menempati posisi dibawah UUD, UU,
PERPU dan Kepres. Implementasi E-Gov, tidak hanya akan merubah sistem pelayanan
kepada publik, tetapi yang lebih fundamental adalah perubahan budaya birokrasi di
pemerintahan, yang tentunya perubahan budaya ini akan berdampak dalam kehidupan
sehari-hari bangsa Indonesia. Inilah yang menjadi permasalahan, Kebijakan Publik
berdasarkan Inpres akan dinomor duakan jika berhadapan dengan aturan yang lebih tinggi
lainnya, misalnya UU.

2.
Paradigma Lama dalam Aparatur Birokrasi di Indonesia
Teknologi informasi khususnya web dan email hanyalah sebatas alat bantu untuk
memudahkan kita dalam menyelesaikan pekerjaan saja. Namun yang paling utama dalam
implementasi e-government adalah perubahan paradigma, dari Government Centric
menuju Customer Centric. Perubahan tersebut akan menyebabkan perubahan pada

layanan-layanan yang diberikan, sehingga merujuk sesuai dengan apa yang menjadi
kebutuhan publik.
Salah satu indikator kegagalan implementasi E-Gov adalah ketidakmampuan aparat
birokrasi menjaga web portal untuk selalu up date. Paradigma proyek masih tertanam
dalam kepala para aparat tersebut, sehingga implementasi E-Gov sesuai dengan Inpres
No.3 tahun 2007 dianggap sebagai proyek tanpa memikirkan pemanfaatan jangka
panjangnya. Akibatnya menciptakan ketergantungan terhadap rekanan tertentu, yang
pada akhirnya akan menjadikan implementasi E-Gov tidak ada bedanya dengan proyek
lainnya. Dan jika hal ini terjadi maka tujuan E-Gov yaitu terkait transformasi hubungan
antara pemerintah dengan penduduk, swasta (bisnis) dan juga unit pemerintah lainnya
tidak akan tercapai, dan malah akan membuka ladang KKN baru bagi birokrat di
pemerintahan.
3.
Ketersediaan sumber daya
Disadari maupun tidak ternyata dukungan sarana dan prasarana turut mensukseskan
implementasi E-Gov. Dengan tingkat penggunaan Internet yang hanya sebesar 4% dari
total penduduk Indonesia, maka Kebijakan ini tidak akan efektif jika tidak dibarengi
dengan kebijakan lainnya, yaitu kebijakan pemberiaan akses informasi sampai level desa
dan juga kebijakan untuk meningkatkan pengetahuan bagi penduduk.
3.2.SARAN
Memperhatikan berbagai kondisi pelaksanaan program e-gov seperti yang sudah dibahas
sebelum ini, maka langkah untuk merevitalisasi e-gov di Indonesia sudah tidak bisa
ditunda lagi. Banyaknya dana yang sudah dihabiskan tidak sebanding dengan hasil yang
diperoleh. Namun pelaksanaan proses revitalisasi juga tidak bisa dilakukan dengan
tergesa-gesa dan tanpa konsep yang jelas.
Revitalisasi yang dimaksudkan adalah serangkaian tindakan perencanaan dan penataan
ulang program e-gov yang disesuaiakan kembali dengan target pembangunan nasional
dan sektor telematika dengan mengindahkan prinsip-prinsip dasar serta proses
pentahapan e-gov tanpa menyia-nyiakan kondisi eksisting yang sudah dicapai.
Beberapa langkah yang menurut kami bisa diambil dalam waktu dekat adalah sebagai
berikut:
1.
Mensinkronkan target-target pembangunan nasional dalam sektor telematika dengan
beberapa program e-gov yang akan dilaksanakan di seluruh lembaga dan departemen.
Langkah ini sekaligus sebagai proses evaluasi program e-gov yang pernah dijalankan di
semua tingkatan.
2.
Meningkatkan pemahaman masyarakat, pelaku ekonomi swasta, termasuk pejabat
pemerintahan atas potensi yang dapat disumbangkan program e-gov dalam mencapai
target pembangunan nasional dan sektor telematika.
3.
Menyelesaikan berbagai program utama e-gov yang belum berhasil dilaksanakan,
dan menyusun prioritas program e-gov yang dapat menciptakan lapangan kerja serta
membantu penegakan praktek good governance dalam berbagai pelayanan publik.
4.
Menambah akses dan jangkauan infrastruktur telematika bagi semua kalangan
untuk mengutamakan pemanfaatan e-gov dalam segala aktivitas sosial ekonomi
masyarakat. Termasuk dalam hal ini adalah menetapkan struktur tarif yang transparan dan

terjangkau buat semua kalangan. Jika perlu dapat saja diberlakukan diferensiasi tarif
untuk semua aplikasi e-gov.
5. Alokasi dana e-gov perlu ditingkatkan yang disesuaikan dengan tahapan yang telah
dicapai. Dana bisa berasal dari APBN / APBD, kerjasama internasional, atau juga dari
pihak swasta.
6.
Menetapkan hanya beberapa aplikasi e-gov pilihan sebagai contoh sukses yang
menjadi prioritas pembangunan dan pengembangan sehingga terjadi efisiensi dalam
pemberian pelayanan publik.
Evaluasi dan revitalisasi e-gov juga sangat diperlukan, seperti diingatkan Kabani (2006)
bahwa adalah suatu keharusan untuk melakukan streamlining berbagai proses off-line
sebelum melanjutkannya menjadi proses on-line. Sebagai tambahan, juga sangat penting
diperhatikan agar instansi pemerintah untuk tidak melakukan proses otomatisasi berbagai
inefisiensi.
Revitalisasi e-gov ini semakin dirasakan perlu ketika kita harus juga mempersiapkan diri
menyambut berbagai perkembangan baru dalam globalisasi industri dan perkembangan
dunia. Berbagai perkembangan teknologi telematika yang semakin konvergen juga
membuat pemerintah harus terus menyiapkan berbagai regulasi dan kebijakan antisipatif
dalam penyelenggaraan e-gov di berbagai sektor.

DAFTAR PUSTAKA
Anggono, Bambang Dwi, Kesejajaran ABG E-government, 2007
Depkominfo, Peluang Indonesia Untuk Bangkit Melalui Implementasi E-Government,
Laguboti, Toba, 2005
Djunaedi, Achmad, Pemanfaatan TI di Lingkungan Pemerintahan Daerah: Strategi yang
Sesuai untuk Realita yang Dihadapi, Desember 2006
Kabani, Asif, Critical E-Government Succes Factors for Developing Countries, Prosiding
Konferensi Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi Untuk Indonesia 3-4 Mei
2006, dalam Technology and Management Magazine, Singapore, Maret-April 2006
Nugraha, Krisna, Achieving IT Business Alignment, bahan Seminar Kepemimpinan
dalam Penyelarasan Teknologi Informasi dalam Manajemen dan Birokrasi Pemerintah
Daerah, 2006

Nugroho, Santoso, Political Environment dalam Implementasi Electronic Government,


2007
Rahardjo, Budi, Membangun E-Government, PPAU Mikroelektronika ITB, 2001
Satriya, Eddy, Pentingnya Revitalisasi E-Government Di Indonesia, 2006