Anda di halaman 1dari 18

ARTHRITIS

REUMATHOID

DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK

ABD WASMAN
BERKAH INTAN PERMATA
DEWI INDRASARI
DWIPUTRI BAHARUDDIN
MUH.YUSUF GUNAWAN
REZKY FATIMAH ZAHRAH
RAMADHANI
SAHRIL

PENGERTIAN ARTHRITIS
REUMATHOID
KLASIFIKASI
ETIOLOGI
PATOFISIOLOGI
MANIFESTASI KLINIS
PEMERIKSAAN PENUNJANG
KOMPLIKASI
PENATALAKSANAAN
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGERTIAN

MENURUT PARA AHLI :

Penyakit reumatik adalah penyakit inflamasi nonbakterial yang bersifat sistemik, progesif, cenderung
kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat sendi
secara simetris. (Rasjad Chairuddin, Pengantar Ilmu
Bedah Orthopedi, hal. 165 )
Reumatoid arthritis adalah gangguan autoimun
kronik yang menyebabkan proses inflamasi pada sendi
(Lemone & Burke, 2001 : 1248).
Reumatik dapat terjadi pada semua jenjang umur
dari kanak-kanak sampai usia lanjut. Namun resiko
akan meningkat dengan meningkatnya umur (Felson
dalam Budi Darmojo, 1999).

B. KLASIFIKASI
Buffer (2010) mengklasifikasikan rheumatoid arthritis
menjadi 4 tipe, yaitu :

Rheumatoid arthritis klasik pada tipe ini harus terdapat 7


kriteria tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung
terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
Rheumatoid arthritis defisit pada tipe ini harus terdapat 5
kriteria tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung
terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
Probable rheumatoid arthritis pada tipe ini harus terdapat
3 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung
terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
Possible rheumatoid arthritis pada tipe ini harus terdapat
2 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung
terus menerus, paling sedikit dalam waktu 3 bulan.

C. ETIOLOGI
Penyebab pasti reumatod arthritis tidak
diketahui. Biasanya merupakan kombinasi dari
faktor genetic, lingkungan, hormonal dan faktor
system reproduksi. Namun faktor pencetus
terbesar adalah faktor infeksi seperti bakteri,
mikoplasma dan virus
Pada saat ini, artritis reumatoid diduga
disebabkan oleh faktor autoimun dan infeksi.
Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II;
faktor infeksi mungkin disebabkan oleh karena
virus dan organisme mikoplasma atau grup
difterioid yang menghasilkan antigen tipe II
kolagen dari tulang rawan sendi penderita

C. ETIOLOGI
Penyebab utama kelainan ini tidak
diketahui. Ada beberapa teori yang
dikemukakan mengenai penyebab artritis
reumatoid, yaitu :
Infeksi streptokokus hemolitikus dan
streptokokus non-hemolitikus
Endokrin
Autoimun
Metabolik
Faktor genetik serta faktor pemicu lainnya

D. PATOFISIOLOGI
Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi
sinovial seperti edema, kongesti vaskular,
eksudat febrin dan infiltrasi selular.
Peradangan yang berkelanjutan, sinovial
menjadi menebal, terutama pada sendi
artikular kartilago dari sendi. Pada
persendian ini granulasi membentuk pannus,
atau penutup yang menutupi kartilago.
Pannus masuk ke tulang sub chondria.
Jaringan granulasi menguat karena radang
menimbulkan gangguan pada nutrisi
kartilago artikuer. Kartilago menjadi nekrosis.

D. PATOFISIOLOGI
Tingkat erosi dari kartilago menentukan
tingkat ketidakmampuan sendi. Bila
kerusakan kartilago sangat luas maka
terjadi adhesi diantara permukaan sendi,
karena jaringan fibrosa atau tulang
bersatu (ankilosis). Kerusakan kartilago
dan tulang menyebabkan tendon dan
ligamen jadi lemah dan bisa menimbulkan
subluksasi atau dislokasi dari persendian.
Invasi dari tulang sub chondrial bisa
menyebkan osteoporosis setempat.

D. PATOFISIOLOGI
Secara singkat dapat dikatakan Reaksi
autoimun dalam jaringan sinovial yang
melakukan proses fagositosis yang
menghasilkan enzim enzim dalam sendi
untuk memecah kolagen sehingga terjadi
edema proliferasi membran sinovial dan
akhirnya membentuk pannus. Pannus
tersebut akan menghancurkan tulang rawan
dan menimbulkan erosi tulang sehingga
akan berakibat menghilangnya permukaan
sendi yang akan mengganggu gerak sendi.

E. MANIFESTASI KLINIS
Rheumatoid arthritis ditandai oleh adanya gejala
umum peradangan berupa:
demam, lemah tubuh dan pembengkakan sendi.
nyeri dan kekakuan sendi yang dirasakan paling
parah pada pagi hari.
rentang gerak berkurang, timbul deformitas
sendi dan kontraktur otot.
Pada sekitar 20% penderita rheumatoid artritits
muncul nodus rheumatoid ekstrasinovium. Nodus ini
erdiri dari sel darah putih dan sisia sel yang
terdapat di daerah trauma atau peningkatan
tekanan. Nodus biasanya terbentuk di jaringan
subkutis di atas siku dan jari tangan.

F. PEMERIKSAAN
PENUNJANG

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

PEMERIKSAAN RADIOLOGI

G. KOMPLIKASI
Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai
adalah gastritis dan ulkus peptik yang merupakan
komlikasi utama penggunaan obat anti inflamasi
nonsteroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan
penyakit ( disease modifying antirhematoid drugs,
DMARD ) yang menjadi faktor penyebab morbiditas
dan mortalitas utama pada arthritis reumatoid.
Komplikasi saraf yang terjadi memberikan
gambaran jelas , sehingga sukar dibedakan antara
akibat lesi artikuler dan lesi neuropatik. Umumnya
berhubungan dengan mielopati akibat
ketidakstabilan vertebra servikal dan neuropati
iskemik akibat vaskulitis.

H. PENATALAKSANAAN
Penanganan medik pemberian salsilat atau
NSAID (Non Steriodal Anti-Inflammatory Drug)
dalam dosis terapeutik. Kalau diberikan dalam
dosis terapeutik yang penuh, obat-obat ini
akan memberikan efek anti inflamasi maupun
analgesik. Namun pasien perlu diberitahukan
untuk menggunakan obat menurut resep
dokter agar kadar obat yang konsisten dalam
darah bisa dipertahankan sehingga
keefektifan obat anti-inflamasi tersebut dapat
mencapai tingkat yang optimal (Smeltzer &
Bare, 2002).

H. PENATALAKSANAAN
Pembedahan dilakukan untuk mengurangi rasa
nyeri dan memperbaiki fungsi. Pembedahan dan
indikasinya sebagai berikut :
Sinovektomi, untuk mencegah artritis pada sendi
tertentu, untuk mempertahankan fungsi sendi
dan untuk mencegah timbulnya kembali
inflamasi.
Arthrotomi, yaitu dengan membuka persendian.
Arthrodesis, sering dilaksanakan pada lutut,
tumit dan pergelangan tangan.
Arthroplasty, pembedahan dengan cara
membuat kembali dataran pada persendian.

ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN

Aktivitas / Istirahat
Kadiovaskuler
Integritas Ego
Makanan / nutrisi
Hygiene
Neurosensori
Nyeri / kenyamanan
Keamanan
Interaksi sosial

ASUHAN KEPERAWATAN

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nyeri akut/kronis berhubungkan dengan : agen pencedera; distensi

jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.


Kerusakan Mobilitas Fisik berhubungan dengan: Deformitas
skeletal
Nyeri, ketidaknyamanan, Intoleransi aktivitas, penurunan kekuatan
otot.
Gangguan citra tubuh./perubahan penampilan peran berhubungan
dengan perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas
umum, peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan
mobilitas
Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan
muskuloskeletal; penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada
waktu bergerak, depresi.
Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai penyakit,
prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan kurangnya
pemahaman/ mengingat,kesalahan interpretasi informasi

TERIMA
KASIH ...