Anda di halaman 1dari 2

KBRN, Palu : Kasus Pernikahan Dini di Sulawesi Tengah saat ini masih tinggi.

Penyebabnya antara lain


masih kurangnya pemahaman terhadap bahaya yang ditimbulkan dari pernikahan dini itu sendiri,
terutama masyarakat pedesaan. Kepala Perwakilan BKKBN Sulawesi Tengah Drs. Kushindarwito
kepada RRI hari Rabu (12/8) menjelaskan, tahun 2-14, pasangan yang menikah dini di Sulawesi tengah
mencapai 46-koma3 persen. Dikatakan pasangan yang menikah usia muda, akan berdampak pada
berbagai aspek.
Kaitannya dengan pernikahan dini di Sulawesi Tengah, memang luar biasa dampaknya, ya pertama
terjadi ledakan penduduk, kedua tingginya angka kematian bayi. Yang jelas kelahiran menjadi kelahiran
yang tidak berkualitas. Kalau terjadi kelahiran tidak berkualitas, maka akan kalah dengan negara lain
tegas Kushindarwito.
Secara nasional, kata Kushindarwito, Sulawesi tengah masuk dalam 5 besar Nasional untuk kasus
pernikahan Usia Dini. Idealnya usia pernikahan adalah minimal 21 tahun bagi perempuan dan laki-laki
usia 25 tahun. (Amir/BCS)

Palu, (antarasulteng.com) - Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional


(BKKBN) perwakilan Sulawesi Tengah (Sulteng) menyatakan, tingginya Angka
Kematian Ibu dan Anak (AKIA) di Sulteng disebabkan besarnya angka pernikahan
dini di daerah tersebut.
"Pernikahan dini di Sulteng tertinggi nomor enam se-Indonesia," ungkap Kepala
BKKBN Sulteng, Kushindarwito di Palu, Kamis.
Kata dia, dalam menurunkan AKIA, pihaknya terus berupaya dengan melaksanakan
promosi pendewasaan usia perkawinan. Pernikahan yang terlalu dini juga
disebabkan oleh faktor ekonomi dalam keluarga.
Lebih lajut, pihaknya pernah mewawancarai sejumlah warga di daerah terkait orang
tua yang terlalu cepat menikahkan remaja putri mereka.
"Sebagian dari mereka menjawab, kalau anak-anak cepat dinikahkan, paling tidak
bisa membatu ekonomi keluarga. Karena tanggung jawab orang tua ke anak sudah
lepas dan berharap bisa mejadi tanggung jawab suami mereka," katanya.
Walaupun, kata dia, usia pernikahan dini sangat menyalahi undang-undang yang
berlaku. Seharusnya pernikahan bagi perempuan dapat dilaksanakan jika kondisi
fisik dan psikis mereka sudah siap.
"Kondisi fisik berhubungan erat dengan kesehatan reproduksi dan itu bisa dilakukan
saat umur perempuan minimal 21 tahun," ujarnya.

Sehingga, kehamilan yang tidak diinginkan itu berdampak dalam pikiran, yang
paling parah kalau sampai aborsi. Kalau seandainya bayi tersebut lahir besar
kemungkinan mengalami gizi buruk. Karena asupan gizi tidak terjaga dan
pertumbuhan otak janin juga tidak maksimal.
"Pertanyaannya kenapa itu terjadi, karena kehamilan yang tidak direncanakan, beda
kalau sesuatu itu direncanakan dan dipersiapkan secara lahir dan batin, karena
komunikasi antara ibu dan bayi sudah ada sejak dalam kandungan," jelas Kus.
Tingginya AKIA di Sulteng ada di ranah Kesehatan, namun demikian institusi lain
tidak boleh menutup mata, karena itu merupakan tanggung jawab semua pihak.
Sehingga pihaknya terus berupaya agar angka kematian itu dapat ditekan atau
diminimalisir.
FACEBOOKTWITTERGOOGLE+LINKED INCOMMENT -