Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

KEBUTUHAN DASAR MANUSIA


DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGENASI

Disusun untuk memenuhi tugas Kebutuhan Dasar Manusia

AYU NOVITA SARI


P1337420614027

PRODI DIV KEPERAWATAN


JURUSAN KEPERAWATAN SEMARANG
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2014/2015

Laporan Pendahuluan Kebutuhan Dasar Manusia dengan gangguan


pemenuhan kebutuhan oksigenasi

Nama Mahasiswa

: Ayu Novita Sari

NIM

: P1337420614027

Nama Pembimbing dan Tanda Tangan

(..)

PENDAHULUAN
1. Definisi
Oksigenasi adalah proses penambahan oksigen O2 ke dalam sistem (kimia atau
fisika). Oksigenasi merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang sangat dibutuhkan
dalam proses metabolisme sel. Sebagai hasilnya, terbentuklah karbon dioksida, energi, dan
air. Akan tetapi penambahan CO2 yang melebihi batas normal pada tubuh akan memberikan
dampak yang cukup bermakna terhadap aktifitas sel.
(Wahit Iqbal Mubarak, 2007)
Oksigen adalah salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme
untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh. Secara normal elemen ini
diperoleh dengan cara menghirup O2 ruangan setiap kali bernapas. (Wartonah Tarwanto,
2006)
Oksigenasi adalah memberikan aliran gas O2 lebih dari 21% pada tekanan 1 atmosfer
sehingga konsentrasi O2 meningkat. (Patter dan perry,2006).
Terapi oksigen merupakan salah satu terapi pernafasan dalam mempertahankan
oksigenasi. Tujuan dari terapi oksigen adalah untuk memberikan transpor oksigen yang
adekuat dalam darah sambil menurunkan upaya bernafas.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi oksigenasi adalah :


1)

Faktor fisiologis

Faktor fisiologis yang mempengaruhi oksigenasi meliputi :


a.

Penurunan kapasitas membawa oksigen

b.

Penurunan konsentrasi oksigen oksigen yang diinspirasi


2)

Faktor perkembangan

Saat lahir terjadi perubahan respirasi yang besar yaitu paru-paru yang sebelumnya berisi
cairan menjadi berisi udara. Bayi memiliki dada yang kecil dan jalan nafas yang pendek.

Bentuk dada bulat pada waktu bayi dan masa kanak-kanak, diameter dari depan ke belakang
berkurang dengan proporsi terhadap diameter transversal. Pada orang dewasa thorak
diasumsikan berbentuk oval. Pada lanjut usia juga terjadi perubahan pada bentuk thorak dan
pola napas. Tahap perkembangan klien dan proses penuaan yang normal mempengaruhi
oksigenasi jaringan:
a.

Bayi Prematur.

b.

Bayi dan Todler.

c.

Anak usia sekolah dan remaja.

d.

Dewasa muda dan dewasa pertengahan.

e.

Lansia.

3)

Faktor lingkungan

Ketinggian, panas, dingin dan polusi mempengaruhi oksigenasi. Makin tinggi daratan, makin
rendah PaO2, sehingga makin sedikit O2 yang dapat dihirup individu. Sebagai akibatnya
individu pada daerah ketinggian memiliki laju pernapasan dan jantung yang meningkat, juga
kedalaman pernapasan yang meningkat.
Sebagai respon terhadap panas, pembuluh darah perifer akan berdilatasi, sehingga darah
akan mengalir ke kulit. Meningkatnya jumlah panas yang hilang dari permukaan tubuh akan
mengakibatkan curah jantung meningkat sehingga kebutuhan oksigen juga akan meningkat.
Pada lingkungan yang dingin sebaliknya terjadi kontriksi pembuluh darah perifer, akibatnya
meningkatkan tekanan darah yang akan menurunkan kegiatan-kegiatan jantung sehingga
mengurangi kebutuhan akan oksigen.
4)

Gaya hidup

Aktifitas dan latihan fisik meningkatkan laju dan kedalaman pernapasan dan denyut jantung,
demikian juga suplay oksigen dalam tubuh. Merokok dan pekerjaan tertentu pada tempat
yang berdebu dapat menjadi predisposisi penyakitparu.

5)

Status kesehatan

Pada orang yang sehat sistem kardiovaskuler dan pernapasan dapat menyediakan oksigen
yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Akan tetapi penyakit pada sistem
kardiovaskuler kadang berakibat pada terganggunya pengiriman oksigen ke sel-sel tubuh.
Selain itu penyakit-penyakit pada sistem pernapasan dapat mempunyai efek sebaliknya
terhadap oksigen darah. Salah satu contoh kondisi kardiovaskuler yang mempengaruhi
oksigen adalah anemia, karena hemoglobin berfungsi membawa oksigen dan karbondioksida
maka anemia dapat mempengaruhi transportasi gas-gas tersebut ke dan dari sel.
6)

Narkotika

Narkotika seperti morfin dan dapat menurunkan laju dan kedalam pernapasan ketika depresi
pusat pernapasan dimedula. Oleh karena itu bila memberikan obat-obat narkotik analgetik,
perawat harus memantau laju dan kedalaman pernapasan.
7)

Perubahan/gangguan pada fungsi pernapasan

Fungsi pernapasan dapat terganggu oleh kondisi-kondisi yang dapat mempengarhi


pernapasan yaitu:
a.

Pergerakan udara ke dalam atau keluar paru

b.

Difusi oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan kapiler paru

c.

Transpor oksigen dan transpor dioksida melalui darah ke dan sel jaringan.

8)

Perubahan pola nafas

Pernapasan yang normal dilakukan tanpa usaha dan pernapasan ini sama jaraknya dan sedikit
perbedaan kedalamannya. Bernapas yang sulit disebut dyspnoe (sesak). Kadang-kadang
terdapat napas cuping hidung karena usaha inspirasi yang meningkat, denyut jantung
meningkat. Orthopneo yaitu ketidakmampuan untuk bernapas kecuali pada posisi duduk dan
berdiri seperti pada penderita asma.

9)

Obstruksi jalan nafas

Obstruksi jalan napas lengkap atau sebagaian dapat terjadi di sepanjang saluran pernapasan
di sebelah atas atau bawah. Obstruksi jalan napas bagian atas meliputi: hidung, pharing,
laring atau trakhea, dapat terjadi karena adanya benda asing seperti makanan, karena lidah
yang jatuh kebelakang (otrhopharing) bila individu tidak sadar atau bila sekresi menumpuk
disaluran napas. Obstruksi jalan napas di bagian bawah melibatkan oklusi sebagian atau
lengkap dari saluran napas ke bronkhus dan paru-paru. Mempertahankan jalan napas yang
terbuka merupakan intervensi keperawatan yang kadang-kadang membutuhkan tindakan
yang tepat. Onbstruksi sebagian jalan napas ditandai dengan adanya suara mengorok selama
inhalasi (inspirasi).

3. Etiologi
1. Hiperventilasi
Merupakan upaya tubuh dalam meningkatkan jumlah O2 dalam paru-paru
agar pernafasan lebih cepat dan dalam. Hiperventilasi dapat disebabkan karena
kecemasan, infeksi, keracunan obat-obatan, keseimbangan asam basa seperti osidosis
metabolik Tanda-tanda hiperventilasi adalah takikardi, nafas pendek, nyeri dada,
menurunnya
2.

konsentrasi,disorientasi,tinnitus.

Hipoventilasi
Terjadi ketika ventilasi alveolar tidak adekuat untuk memenuhi penggunaan

O2 tubuh atau untuk mengeluarkan CO2 dengan cukup. Biasanya terjadi pada
keadaaan atelektasis (Kolaps Paru). Tanda-tanda dan gejalanya pada keadaan
hipoventilasi adalah nyeri kepala, penurunan kesadaran, disorientasi, ketidak
seimbangan
3.

elektrolit.

Hipoksia
Tidak adekuatnya pemenuhan O2 seluler akibat dari defisiensi O2 yang

diinspirasi atau meningkatnya penggunaan O2 pada tingkat seluler. Hipoksia dapat


disebabkan

oleh

menurunnya

hemoglobin,

kerusakan

gangguan

ventilasi,

menurunnya perfusi jaringan seperti pada syok, berkurangnya konsentrasi O2 jika


berada dipuncak gunung. Tanda tanda Hipoksia adalah kelelahan, kecemasan

menurunnya kemampuan konsentrasi, nadi meningkat, pernafasan cepat dan dalam


sianosis, sesak nafas.

4.

PATHWAY
Infeksi(Bakteri,Virus,Jamur)

Saluran pernafasan

Teraktivasi sel mast

Mengeluarkan hormon(Bradikinin,Histamin,Prostaglandin)

Mengeluarkan produksi secret

Penumpukan secret

Obstruksi/penyumbatan jalan nafas

Gangguan bersihan jalan nafas

Batuk berdahak
5.

Sesak nafas

PENGKAJIAN

1. Identitas Pasien
(Nama, umur, jenis kelamin, alamat, no. registrasi).
Umur pasien bisa menunjukkan tahap perkembangan pasien baik secara
fisik maupun psikologis, jenis kelamin dan pekerjaan perlu dikaji untuk
mengetahui hubungan dan pengaruhnya terhadap terjadinya masalah/penyakit,
dan tingkat pendidikan dapat berpengaruh terhadap pengetahuan klien tentang
masalahnya/penyakitnya.
2. Keluhan utama dan riwayat keluhan utama (PQRST).
Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan mengganggu oleh
klien pada saat perawat mengkaji, dan pengkajian tentang riwayat keluhan
utama seharusnya mengandung unsur PQRST (Paliatif/Provokatif, Quality,
Regio, Skala, dan Time).
3. Riwayat Keperawatan
Riwayat perkembangan
a. Neonatus : 30 - 60 x/mnt
b. Bayi : 44 x/mnt
c. Anak : 20 - 25 x/mnt
d. Dewasa : 15 - 20 x/mnt
e. Dewasa tua : volume residu meningkat, kapasitas vital menurun
Riwayat kesehatan keluarga.
Dalam hal ini perlu dikaji apakah ada anggota keluarga yang mengalami
masalah / penyakit yang sama.
Riwayat social

Perlu dikaji kebiasaan-kebiasaan klien dan keluarganya, misalnya :


merokok, pekerjaan, rekreasi, keadaan lingkungan, faktor-faktor alergen dll.
Riwayat psikologis.
Disini perawat perlu mengetahui tentang :
a. Perilaku / tanggapan klien terhadap masalahnya/penyakitnya
b. Pengaruh sakit terhadap cara hidup
c. Perasaan klien terhadap sakit dan therapi
d. Perilaku / tanggapan keluarga terhadap masalah/penyakit dan therapy.

4. Pemeriksaan Fisik
a. Hidung dan sinus
INSPEKSI : cuping hidung, deviasi septum( suatu kondisi medis yang
ditandai dengan ketidaksejajaran dari septum (dinding tipis yang
memisahkan kedua cuping hidung)), perforasi, mukosa (warna, bengkak,
eksudat,

darah),

kesimetrisan

hidung.

PALPASI : sinus frontalis, sinus maksilaris


b. Faring
INSPEKSI : warna, simetris, eksudat ulserasi, bengkak
c. Trakhea
PALPASI : dengan cara berdiri disamping kanan pasien, letakkan jari
tengah pada bagian bawah trakhea dan raba trakhea ke atas, ke bawah dan ke
samping sehingga kedudukan trakhea dapat diketahui.
d. Thoraks
INSPEKSI :
1) Postur, bervariasi misalnya pasien dengan masalah pernapasan kronis
klavikulanya menjadi elevasi ke atas.

2) Bentuk dada
a) Pigeon chest yaitu bentuk dada yang ditandai dengan diameter tranversal
sempit, diameter antero-posterior membesar dan sternum sangat menonjol ke
depan.
b) Funnel chest merupakan kelainan bawaan dengan ciri-ciri berlawanan dengan
pigeon chest, yaitu sternum menyempit ke dalam dan diameter antero-posterior
mengecil.
c) Barrel chest ditandai dengan diameter antero-posterior dan tranversal sama atau
perbandingannya 1 : 1.
d) Kelainan tulang belakang
1. Kifosis atau bungkuk dimana punggung melengkung/cembung ke belakang.
2. Lordosis yaitu dada membusung ke depan atau punggung berbentuk cekung.
3. Skoliosis yaitu tergeliatnya tulang belakang ke salah satu sisi.
e) Pola napas
a. Kaji frekuensi pernapasan
1) Normal apabila16 - 24 x/mnt, klien tenang, diam dan tidak butuh tenaga untuk
melakukannya
2) Trachipnea yaitu pernapasan yang cepat, frekuensinya lebih dari 24 x/mnt
3) Bradipnea yaitu pernapasan yang lambat, frekuensinya kurang dari 16 x/mnt
4) Apnea yaitu keadaan terhentinya pernapasan.
b. Volume pernapasan
1. Hiperventilasi, yaitu bertambahnya jumlah udara dalam paru-paru yang
ditandai dengan pernapasan yang dalam dan panjang
2. Hipoventilasi yaitu berkurangnya udara dalam paru-paru yang ditandai
dengan pernapasan yang lambat.
f) Sifat pernapasan
1. Pernapasan dada yaitu pernapasan yang ditandai dengan pengembangan dada
2. Pernapasan perut yaitu pernapasan yang ditandai dengan pengembangan perut.
g) Ritme/irama pernapasan

1) Normal adalah reguler atau irregular


2) Cheyne stokes yaitu pernapasan yang cepat kemudian menjadi lambat dan
kadang diselingi apnea
3) Kusmaul yaitu pernapasan yang cepat dan dalam
4) Biot yaitu pernapasan yang ritme maupun amplitodunya tidak teratur dan
diselingi periode apnea.
h) Bunyi napas
1. Stertor/mendengkur yang terjadi karena adanya obstruksi jalan napas bagian
atas
2. Stidor yaitu bunyi yang kering dan nyaring dan didengar saat inspirasi,
3. Wheezing yaitu bunyi napas seperti orang bersiul
4. Rales yaitu bunyi yang mendesak atau bergelembung dan didengar saat
inspirasi
5. Ronchi yaitu bunyi napas yang kasar dan kering serta di dengar saat ekspirasi.
6. Batuk dan sekresinya
7. Batuk produktif yaitu batuk yang diikuti oleh sekresi
8. Batuk non produktif yaitu batuk kering dan keras tanpa sekresi
9. Hemoptue yaitu batuk yang mengeluarkan darah
i) Status sirkulasi
1) Takhikardi yaitu denyut nadi lebih dari 100 x/mnt
2) Bradikhardi yaitu denyut nadi kurang dari 60 x/mnt.
j) Oksigenasi
1) Anoxia yaitu suatu keadaan dengan jumlah oksigen dalam jaringan kurang
2) Hipoxemia yaitu suatu keadaan dengan jumlah oksigen dalam darah kurang
3) Hipoxia yaitu berkurangnya persediaan oksigen dalam jaringan akibat
kelainan internal atau eksternal
4) Cianosis yaitu warna kebiru-biruan pada mukosa membran, kuku atau kulit
akibat deoksigenasi yang berlebihan dari Hb

5) Clubbing finger yaitu membesarnya jari-jari tangan akibat kekurangan


oksigen dalam waktu yang lama.
PALPASI :
Dinding thorak, adakah pulsasi (tegangan), rasa nyeri, tumor, cekung.
Pengembangan dinding thorak, bandingkan kiri dan kanan
k) Taktil fremitus
Getaran

meningkat

pneumonia,

penumpukan

secret,

atelektasis yang belum total, infark atau fibrosis paru. Sedangkan


getaran menurun pleural effusion, pneumothorak, penebalan pleura,
emphysema atau sumbatan bronchus.
PERKUSI :
Macam suara ketukan

a) Sonor
Suara yang normal terdengar diseluruh lapangan paru-paru.
b) Redup
Suara yang timbul akibat adanya konsolidasi paru (pemadatan) :
tumor, atalektasis, cairan.
c) Hipersonor
Suara yang ditimbulkan lebih keras dibandingkan dengan suara
sonor.

Akibat

adanya

udara

berlebihan

di

paru-paru,

pneumothorak, emphysema paru.


d) Tympani
1) Akibat adanya udara dalam suatu kantong atau ruang tertutup.
2) Suara yang terdengar nyaring seperti kalau kita memukul
gendang.
3) Kalau terdengar di dinding thorak artinya tidak normal.
4) Normalnya terdengar dibawah diafragma kiri dimana terletak
lambung dan usus besar.

Teknik perkusi
1. Jari tengah diletakkan di dinding thorak
2. Ujung jari tengah tangan yang lain mengetuk dibagian distal jari
tengah yang berada di dinding thorak
3. Gerakan mengetuk hanya dari pergrlangan tangan, setelah
mengetuk segera diangkat.
4. Bandingkan kiri dan kanan.
5. Mulai mengetuk dari bagian atas paru, kemudian menurun.
AUSKULTASI
1) Auskultasi sistem kardiovaskuler meliputi : pengkajian dalam
mendeteksi normal/tidak normal, bunyi murmur, serta bunyi
gesekan. Auskultasi juga digunakan untuk mengidentifikasi bunyi
bruit di atas arteri karotis, aorta abdomen, dan arteri femoral.
2) Auskultasi bunyi paru dilakukan dengan mendengarkan gerakan
udara disepanjang lapangan paru. Suara napas tambahan terdengar,
jika suatu daerah paru mengalami kolaps, terdapat cairan atau terjadi
obstruksi.
5. Pemeriksaan Diagnostik
a. EKG, menghasilkan rekaman grafik aktivitas listrik jantung, mendeteksi
transmisi impuls dan posisi listrik jantung.
b. Pemeriksaan stres latihan, digunakan untuk mengevaluasi respond jantung
terhadap stres fisik. Pemeriksaan ini memberiakn informasi tentang
respond

miokard

terhadap

peningkatan

kebutuhan

oksigen

dan

menentukan keadekuatan aliran darah koroner.


c. Pemeriksaan untuk mengukur keadekuatan ventilasi dan oksigenasi ;
pemeriksaan fungsi paru, BGA.
d. Rongent : adalah alat pendeteksi yang sudah tidak asing lagi di dunia
kedokteran. Tetapi bagi orang awam atau yang belum pernah mengenal

alat ini biasanya begitu mendengar langsung merasakan takut dan


khawatir. Padahal alat ini sangat diperlukan untuk mendeteksi penyakit
atau kelainan pada diderita pada tubuh kita.
6. Diagnosa Keperawatan
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
Suatu keadaan ketika seorang individu mengalami suatu ancaman yang
nyata/potensial pada status pernafasan berhubungan dengan ketidakmampuan
untuk batuk secara efektif.
Tujuan : Individu tidak mengalami aspirasi
Kriteria hasil :
a. Mengidentifikasi perilaku mencapai bersihan jalan nafas
b. Menunjukan jalan nafas dengan bunyi nafas bersih
7. Intervensi
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
1) Kaji frekuensi pernafasan dengarkan dada
Rasional : Mengetahui adanya gangguan pernapasan
2) Penghisapan sesuai indikasi
Rasional : Merangsang batuk atau pembersihan jalan nafas
3) Bantu pasien latihan nafas sering dan batuk efektif
Rasional : Membantu mempermudah expansi maksimum paru dan
membantu mengeluarkan secret
4) Tawarkan air hangat
Rasional : Air hangat dapat mengeluarkan secret.

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito ,L.J 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. EGC : Jakarta
Mubarak, Wahit Iqbal. 2007. Buku ajar kebutuhan dasar manusia : Teori & Aplikasi
dalam praktek. Jakarta: EGC.
Nanda International (2009). Diagnosis Keperawatan: definisi & Klasifikasi. 20092011. Penerbit buku kedokteran EGC : Jakarta.
Potter dan Perry. 2006. Fundamental keperawatan . EGC : Jakarta
Tarwanto, Wartonah. 2006. Kebutuhan dasar manusia dan proses keperawatan edisi 3.
Salemba:Medika.