Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

Disusun oleh :
Ayu Novita Sari
P1337420614027

DIV KEPERAWATAN SEMARANG


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
TAHUN 2015/2016

PENDAHULUAN
A. Definisi
Kebutuhan cairan dan elektrolit adalah suatu proses dinamik karena metabolisme
tubuh membutuhkan perubahan yang tetap dalam berespon terhadap stressor fisiologi dan
lingkungan.( Tarwoto dan Wartonah, 2006 )
Cairan tubuh didistribusikan di antara dua kompartemen yaitu pada intraseluler dan
ekstraseluler. Cairan intraseluler kira-kira 2/3 atau 40 % dari BB, sedangkan cairan
ekstraseluler 20 % dari BB. Cairan ekstraseluler ini terdiri dari 15% cairan

intravaskuler/plasma (cairan dalam sistem vaskuler) dan 5% cairan interstitial (cairan


yang ada di sela-sela sel atau di jaringan sel).
Cairan tubuh bergerak melalui 3 proses yaitu:
Difusi : proses dimana partikel yang terdapat dalam cairan bergerak dari
konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah sampai terjadi keseimbangan. Cairan
dan elektrolit didifusikan sampai menembus membran sel. Kecepatan difusi
dipengaruhi oleh ukuran molekul, konsenrasi larutan, dan temperatur.
Osmosis : bergeraknya pelarut bersih seperti air, melalui membran
semipermeabel dari larutan yang berkonsentrasi lebih rendah ke konsentrasi
yang lebih tinggi yang sifatnya menarik.
Transpor aktif : partikel bergerak dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi
karena adanya daya aktif dari tubuh seperti pompa jantung.

Fungsi cairan
a. Mempertahankan panas tubuh dan pengaturan temperatur tubuh
b. Transport nutrien ke sel
c. Transport hasil sisa metabolisme
d. Transport hormon
e. Pelumas antar organ
f. Mempertahankan tekanan hidrostatik dalam sistem kardiovaskuler

Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit


a.

Usia

Variasi usia berkaitan dengan luas permukaan tubuh, metabolisme yang diperlukan dan
berat badan.
b.

Temperatur lingkungan

Panas yang berlebihan dapat menyebabakan berkeringat. Seseorang dapat kehilangan


NaCl melalui keringat sebanyak 15-30 g/hari.
c.

Diet

Saat tubuh kekurangan nutisi, tubuh akan memecah cadangan energi. Proses ini akan

menimbulkan pergerakan cairan dari nterstisial ke intraseluler.


d.

Stres

Stres dapat meneyababkan peningkatan metabolisme sel, konsentrasi darah dan glikolisis
otoy. Mekanisme ini menimbulkan retensi sodium dan air serta akan meningkaktkan
produksi ADH dan menurunkan produksi urin.
e.

Sakit

Pengaturan keseimbangan cairan


a.

Rasa dahaga

Mekanisme rasa dahaga:


Penurunan fungsi ginjal merangsang pelepasan renin, yang pada akhirnya menimbulkan
produksi angiotensin II yang dapat merangsang hipotalamus untuk melepaskan substrat
neural yang bertangguang jawab terhadap sensasi haus. Osmoreseptor di hipotalamus,
mendeteksi peningkatan tekanan osmotik dan mengaktivasi jaringan saraf yang dapat
mengakibatkan sensai rasa dahaga.
b.

Anti Diuretik Hormon (ADH)

ADH di bentuk di hipotalamus dan disimpan dalam neurohipofisis dari hipofisis


posterior. Stimuli utama untuk sekresi ADH adalah peningkatan osmolaritas dan
penurunan cairan ekstrasel. Hormon ini meningkatkan reabsorpsi air pada duktus
koligentes, dengan demikian dapat menghemat air.
c.

Aldosteron

Hormon ini disekresi oleh kelenjar adrenal yang bekerja pada tubulus ginjal untuk
meningkatkan absopsi natrium. Pelepasan aldosteron dirangsang oleh perubahan
konsentrasi kalium, natrium serum dan sistem angiotensin renin serta sangat efektif
dalam mengendalikan hiperkalemia.
B. ETIOLOGI
Hipovolumik
Adalah suatu kondisi akibat kekurangan volume cairan ekstraseluler (CES) dan dapat
terjadi karena kehilangan melalui kulit, ginjal, gastrointestinal, pendarahan sehingga
menimbulkan syok hipovolumik. Mekanisme kompensasi pada hipovolumik adalah

peningkatan rangsangan saraf simpatis (peningkatan frekuensi jantung, dan tekanan


vaskuler), rasa haus, pelepasan hormon ADH dan aldosteron. Hipovolumik yang
berlangsung lama dapat menimbulkan gagal ginjal akut.
Hipervolemi
Adalah penambahan/kelebihan volume CES dapat terjadi pada saat :
Stimulasi kronis ginjal untuk menahan natrium dan air.
Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi natrium dan air
Kelebihan pemberian cairan
Perpindahan cairan interstisial ke plasma
Ketidakseimbangan asam basa
a.

Asidosis respiratorik: disebabkan karena kegagalan sistem pernapasan dalam

membuang CO2 dari cairan tubuh. Kerusakan pernapasan, peningkatan PCO2 arteri di
atas 45 mmHg dengan penurunan PH < 7,35.
Penyebab: penyakit obstruksi, retriksi dada, plimielitis, penurunan aktivitas pusat
pernafasan (cedera kepala, perdarahan, narkotik dll).
b.

Alkalosis respiratorik : disebabkan karena kehilangan CO2 dari paru-paru pada

kecepatan yang lebih tinggi dari produksinya dalam jaringan. Hal ini menimbulkan
PCO2 arteri < 35 mmHg, PH > 7, 45.
Penyebab: hiperventilasi alveolar, cemas, demam, meningitis, keracunan aspirin,
pneumonia dan emboli paru.
c.

Asidosis metabolik : terjadi akibat akumulasi abnormal fixed acid atau kehilangan

basa. PH arteri < 7,35, HCO3 menurun di bawah 22 mEq/lt.


Penyebab: pernafasan kusmaul, disorientasi dan koma.
d.

Alkalosis metabolik : disebabkan oleh kehilangan ion hidrogen atau penambahan

basa pada cairan tubuh. Bikarbonat plasma meningkat > 26 mEq/lt dan PH arteri > 7,45.
C. PENGKAJIAN
1. Riwayat keperawatan

Pemasukan dan pengeluaran cairan dan makanan (oral dan parenteral)

Tanda umum masalah elektrolit

Tanda kekurangan cairan seperti rasa dahaga, kulit kering, membrane mukosa

kering, konsentrasi urine dan urine output.


-

Tanda kelebihan cairan: seperti kaki bengkak, kesulitan nafas dan BB meningkat.

Pengobatan tertentu yang sedang dijalani dapat mengganggu status cairan

Status perkembangan seperti usia atau situasi sosial

2. Pengukuran klinik
-

Berat badan : kehilangan / bertambahnya berat badan menunjukkan adanya

masalah keseimbangan cairan :


+/- 2 % : ringan
+/- 5 % : sedang
+/- 10 % : berat
Pengukuran berat badan dilakukan setiap hari pada waktu yang sama.
-

Keadaan umum : pengukuran tanda vital seperti suhu, tekanan darah, nadi dan

pernapasan. Tingkat kesadaran.


-

Pengukuran pemasukan cairan : cairan oral (NGT dan oral), cairan parenteral

termasuk obat-obatan IV, makanan yang cenderung mengandung air, irigasi kateter atau
NGT.
-

Pengukuran pengeluaran cairan : urine (volume, kejernihan / kepekatan), feses

(jumlah dan konsistensi), muntah, tube drainase, IWL.


-

Ukur keseimbanagn cairan dengan akurat : normalnya sekitar +/- 200 cc.

3. Pemeriksaan fisik
Integumentum : keadaan turgor kulit, edema, kelelahan, kelemahan otot, tetani, dan
sensasi rasa.
Kardiovaskuler : distensi vena jugularis, tekanan darah, hemoglobin, dan bunyi jantung
Mata : cekung, air mata kering
Neurologi : refleks, gangguan motorik dan sensorik, tingkat kesadaran
Gastrointestinal : keadaan mukosa mulut, mulut dan lidah, muntah-muntah , diare dan

bising usus
4.

Pemeriksaan penunjang : pemeriksaan elektrolit, darah lengkap, PH, berat jeins urine

dan analisis gas darah. Hct, Hb, BUN, CVP, Darah vena (sodium, potassium, klorida,
kalsium, magnesium, pospat, osmolalitas serum), Ph Urine.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1)

Aktual/resiko defisit volume cairan

a)

Definisi: kondisi dimana pasien mengalami resiko kekurangan cairan pada

ekstraseluler dan vaskuler.


b)

Kemungkinan berhubungan dengan:

Kehilangan cairan secara berlebihan

Berkeringat secara berlebihan

Menurunnya intake oral

Pengunaan diuretic

Perdarahan

c)

Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada:

Penyakit Addison

Koma

Ketoasidosis pada diabetik

Anoreksia nervosa

Perdarahan gastrointestinal

Muntah, diare

Intake cairan tidak adekuat

AIDS

Perdarahan

Ulcer kolon
d)

Tujuan yang diharapkan:

Mempertahankan keseimbangan cairan.

Menunjukkan adanya keseimbangan cairan seperti output urine adekuat, tekanan

darah stabil, membrane mukosa mulut lembab, turgor kulit baik.

Secara verbal pasien mengatakan penyebab kekurangan cairan dapat teratasi.

INTERVENSI
1.
Ukur dan catat setiap 4 jam:

Intake dan output cairan

Warna muntahan, urine, dan feces

Monitor turgor kulit

Tanda vital

Monitor IV infuse

CVP

Elektrolit, BUN, hematokrit dan hemoglobin

Status mental

Berat badan

2.

Berikan makanan dan cairan

3.

Berikan pengobatan seperti antidiare dan antimuntah

4.

Berikan dukungan verbal dalam pemberian cairan

5.

Lakukan kebersihan mulut sebelum makan

6.

Ubah posisi pasien setiap 4 jam

7.

Berikan pendidikan kesehatan tentang:

Tanda dan gejala dehidrasi

Intake dan output cairan

terapi

2)

Volume cairan berlebih

a)

Definisi: kondisi dimana terjadi peningkatan retensi dan edema.

b)

Kemungkinan berhubungan dengan:

Retensi garam dan air

Efek dari pengobatan

Malnutrisi

c)

Kemungkinan data yang ditemukan:

Orthopnea

Oliguria

Edema

Distensi vena jugularis

Hipertensi

Distress pernafasan

Anasarka

Edema paru

d)

Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada:

Obesitas

Hipothiroidism

Pengobatan dengan kortikosteroid

Imobilisasi yang lama

Cushings syndrome

Gagal ginjal

Sirosis hepatis

Kanker

Toxemia

e)

Tujuan yang diharapkan:

Mempertahankan keseimbangan intake dan output cairan

Menurunkan kelebihan cairan

INTERVENSI
1.
Ukur dan monitor:
Intake dan output cairan, berat badan, tensi, CVP distensi vena, jugularis dan bunyi paru
2.

Monitor rontgen paru

3.

Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan, obat, dan efek pengobatan

4.

Hati-hati dalam pemberian cairan

5.

Pada pasien yang bedrest:

Ubah posisi setiap 2 jam

Latian pasif dan aktif

6.

Pada kulit yang edema berikan lotion, hindari penekanan yang terus menerus

7.

Berikan pengetahuan kesehatan tentang:

Intake dan output cairan

Edema, berat badan

pengobatan
( Tarwoto dan Wartonah, 2006 )