Anda di halaman 1dari 24

RONTGEN PARU

1. Tuberkulosis
Definisi
Penyakit infeksi nekrotik akibat infeksi Mycobacterium tuberculosis yang menunjukan
gambaran patologi khas tuberkel. TB terutama menyerang paru, namun dapat juga
menyerang organ lain seperti ginjal, traktus GI, tulang, dll
Patofisiologi
Menurut perjalanan penyakit TB paru dapat dibagi menjadi dua:
TB paru primer
TB paru post primer
TB Paru Primer
Dimulai dengan masuknya Mycobacterium tuberculosis secara aerogen ke dalam
alveoli yang tekanan oksigen tinggi. Lokasi tidak selalu di apex tapi bisa dimana saja.
Reaksi pertama adalah terbentuk eksudat intraalveolar, suatu konsilidasi alveolar berukuran
sebesar kacang, eksudat lokal ini disebut fokus primer. Kuman TB kemudian menyebar
melalui pembuluh limfe, menyebabkan limfangitis dan kelainan pada kelenjar limfe
bronchial, maupun regional (hilus) menyebabkan limfadenitis. Gambaran perubahan pada
paru, pembuluh limfe dan kelenjar limfe disebut kompleks primer TB.
Pleura dapat terkena walaupun jarang dan dapat menyebabkan efusi ringan sampai
berat. Umumnya lesi pleura ini fibrinous. Fokus primer juga dapat mengalami pengapuran
disebut epituberkulose.
TB Paru Post Primer
TB paru post primer berkembang dari fokus primer yang masih mengandung kuman.
Biasanya terjadi pada usia dewasa muda. Perjalanan penyakit bergantung pada virulensi,
dan jumlah kuman serta daya tahan tubuh. TB paru post primer dapat berkembang dalam
beberapa bentuk yaitu infiltrat fibroeksudatif, penyembuhan dengan fibrosis, tuberkulosis
fibro-caseoasa, pneumonia tuberkulosa caseoda akuta, tuberkulosis miliaris akuta.
Gambaran Radiologis
TB paru primer
Pada foto polos, PA posisi erek
a. Tampak gambaran semiopak inhomogen di suprahiler, perihiler dan parakardial dengan
batas tidak jelas
b. Tampak penebalan saluran limfe berupa gambaran garis opak yang menuju limfanodi
c. Tampak pembesaran limfanodi (limfadenopati) di limfonodi hilus, parabronkial atau
paratrakeal
d. Apabila proses infeksi berlangsung terus hingga menembus pleura dapat terjadi efusi
pleura berupa gambaran opak homogen dalam kavum pleura di daerah basal dengan
opasitas yang semakin ke superomedial semakin berkurang, dan tampak gambaran
meniscus sign(+), dengan sudut sinus costophrenicus tumpul atau menghilang.
TB paru post primer
Pada foto polos, PA posisi erek

a. Tampak gambaran bercak semiopak bentuk amorf seperti kapas batas tak tegas
terutama di daerah apex (ini menunjukan infiltrat)
b. Tampak densitas inhomogen bentik amorf di apekx dan basis paru (ini menunjukan
fibroeksudatif)
c. Tampak garis-garis fibrosis, densitas sama dengan jantung yang menarik organ
sekitarnya ke arah ipsilateral (mediastinum, trakea dan diafragma)
d. Tampak kaverna (bulatan opak dengan lusen di tengahnya) bentuk bulat dan oval
e. Tampak bulatan oval, batas tegas, tepi ireguler, inhomogen di dalamnya terdapat
kalsifikasi amorf (ini merupakan gambaran tuberkel/tuberkuloma)
f. Jarang ditemukan pembesaran kelenjar limfa.

Kavitas Berdinding tipis yang dikelilingi


eksudasi tuberkulosa
Peningkatan corakan paru sampai ke
hilus, menunjukkan adanya limfadenitis
(panah)

Hampir seluruh lobus atas kanan


telah rusak dan terbentuk suatu
kavitas yang besar

2. PNEUMONIA
Definisi
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus
terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli serta menimbulkan
konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat.
Patofisiologi
Transmisi mikroba patogen pada pneumonia dapat terjadi melalui aspirasi, inhalasi,
hematogen dan inokulasi langsung. Pneumonia akan terjadi bila sistem pertahanan di
saluran nafas buruk atau terjadi penurunan imunitas dari host. Perubahan ini akan
menimbulkan adanya peningkatan aktivitas enzim proteolitik saliva yang akan
menghancurkan fibronektin yang merupakan glikoprotein yang melapisi permukaan
mukosa. Akibatnya mikroba patogen lebih mudah menempel. Patogenesis pneumonia
melalui 4 tahapan :
1. Inflammatory congestion. Pada kongesti inflamatoris ini bakteri bermultiplikasi di
alveoli untuk kemudian menyebar. Kemudian terjadi kerusakan di alveolus yang
memicu respon inflamasi, sehingga terjadi dilatasi kapiler, eksudasi cairan, migrasi
netrofil, diapedesis eritrosit ke dalam alveoli. Paru menjadi berat karena edema dan
merah karena kongesti vena. Tahap 1 ini berakhir sekitar 24 jam.
2. Red hepatization. Pada tahap ini terjadi eksudasi masif sel darah merah, netrofil,
limfosit, makrofag dan fibrin ke dalam alveolus. Paru nampak merah, solid dan kurang
udara, dengan konsistensi seperti hepar. Tahap ini berakhir sekitar 2 hari.
3. Grey hepatization. Pada tahap ini terjadi akumulasi fibrin lebih lanjut dengan destruksi
sel darah merah dan netrofil. Permukaan paru berubah menjadi abu-abu kekuningan
dan solid. Grey hepatization ini merupakan tanda bahwa infeksi sudah dapat dikontrol.
Pada pasien imunokompeten, ketiga tahapan ini berlangsung selama 7-10 hari.
4. Resolusi. Eksudat secara perlahan sudah dapat dibersihkan dan permukaan alveoli
dapat diperbaiki. Terjadi digesti enzimatik eksudat dan debris inflamasi untuk
menghasilkan debris granular dan semifluid yang kemudian diresorbsi, dimakan
makrofag atau dibatukkan keluar dari alveolus dengan mempertahankan arsitektur
dinding alveolus.
Permintaan radiologis
Rontgen thorax PA dan lateral.
Gambaran radiologi
Air space pneumonia
Pada foto thorax PA posisi erek :
Tampak infiltrat di parenkim
perifer
yang
semiopak,
homogen tipis seperti awan,
berbatas tegas, bagian perifer
opak dibandingkan bagian
central.
Konsolidasi parenkim paru
melibatkan
jalan
nafas
menimbulkan gambaran air
bronkogram.
Tampak pelebaran dinding bronkiolus.
Tidak ada volume loss pada pneumonia tipe ini

paru
lebih
tanpa

Bronkopneumonia
Pada foto thorax :
Tampak bercak-bercak infiltrat peribronkial yang semiopak dan inhomogen di daerah
hilus yang menyebabkan batas jantung menghilang (silhoutte sign).
Tampak juga air bronkogram.
Dapat terjadi nekrosis dan kavitasi pada parenkim paru.
Pneumonia interstitiel
Pneumonia interstitiel ditandai dengan pola linear atau retikuler pada parenkim paru. Pada
tahap akhir dijumpai penebalan jaringan interstitiel sebagai densitas noduler yang kecil.
Referensi
Dahlan, Zul. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi IV. PAPDI. Jakarta.
Malueka, Rusdy. 2006. Radiologi Diagnostik. Marvel Inc. FK UGM. Yogyakarta.

3. BRONCHOPNEUMONIA
Definisi
radang paru yang melibatkan bronchus, bronchiolus, sampai alveolus yang bisa disebabkan
oleh bakteri, virus, protozoa, bahan kimia, lesi kanker, dan radiasi ion.
Patofisiologi
bronchopneumonia biasanya disebabkan oleh
infeksi stafilokokus. Infeksi ini bermula dari jalan
dan menyebar ke alveoli peribronkial. Karena
penyebaran intraalveolar pada perifer jalan nafas
minimal, konsolidasi cenderung tetap dalam
distribusi segmen paru tertentu saja. Inflamasi
menyebabkan obstruksi bronchial dan bronkiolar
menyebabkan atelektasis
Gambaran radiologi
Pada foto thorax tampak:

Infiltrate peribronkial yang semiopak dan


inhomogen di daerah hilus,

Batas jantung menghilang (silhouette sign),

Air bronkogram positif,

Dapat terjadi nekrosis dan kavitasi pada


parenkim paru,

Pada keadaan lebih lanjut dimana semakin


banyak alveolus yang terlibat maka gambaran opak
menjadi terlihat homogen.
Referensi
Rasad, Sjahriar. 2006.Radiologi Diagnostik Edisi
Kedua.departemen Radiologi FK UI. Jakarta
R. Syamsuhidayat & Wim de Jong, 1997. Buku Ajar Ilmu
Bedah, Edisi Revisi. Penerbit Buku Kedokteran.
Sutton, Radiology and Diagnostic Imaging. Churchill, Livingstone
www.emedicine.com

nafas

4. Bronkhitis
Definisi
Bronkhitis adalah inflamasi saluran nafas besar yang membahagi dari trachea
(bronchi), dan biasanya disebabkan infeksi tetapi kadang-kadang disebabkan iritasi gas
atau partikel. Gejala yang kurang dari 90 hari diklasifikasikan sebagai bronkhitis akut
sedangkan yang lebih dari 90 hari diklasifikasikan sebagai bronkhitis kronis.
Bronchitis: Inflammation and swelling of the bronchi.
Patofisiologi
Biasanya bronkhitis akut disebabkan infeksi seperti Mycoplasma species, Chlamydia
pneumoniae, Streptococcus pneumoniae, Moraxella catarrhalis, and Haemophilus
influenzae dan viral infection. Penyebab utama bronkhitis akut biasanya adalah virus.
Sewaktu episode bronkhitis akut, sel-sel pada bronkhial lining tissue teriritasi dan membran
mukosa menjadi hiperemis dan edem, fungsi mukosilia bronkhus menjadi berkurang.
Saluran nafas menjadi tersumbat oleh debris sehingga meningkatkan respon inflamasi yang
disebabkan oleh iritasi. Akibatnya terjadi hipersekresi mukus sehingga timbul batuk yang
merupakan karakteristik bronkhitis akut.
Permintaan radiologis
Plain chest radiographs
Gambaran radiologi
1.
2.
3.
4.
5.

Patchy pulmonary shadowing


Coalescent pulmonary shadowing
Mixed pulmonary shadowing
Bronchial wall thickening, peribronchial shadowing, and
perihilar linearity
Nodules
6. Air trapping

Referensi :
http://www.merck.com/mmhe/sec04/ch041/ch041a.html
http://www.medterms.com/script/main/art.asp?articlekey=2536
http://www.emedicine.com/med/topic247.htm
Radiologic Appearance of Viral Disease of the Lower Respiratory Tract in Infants and
Children, Am J Rontgenol 130:29-33, January 1978 American Roentgen Ray Society

5. Bronkhiektasis
Definition
Bronchiectasis is defined as localized irreversible dilatation of part of the bronchial
tree. Involved bronchi are dilated, inflamed, and easily collapsible, resulting in airflow
obstruction and impaired clearance of secretions. Bronchiectasis is associated with a wide
range of disorders, but it usually results from necrotizing bacterial infections, such as
infections caused by the Staphylococcus or Klebsiella species or Bordetella pertussis.
Diagnosis is based on a clinical history of daily viscid sputum production and characteristic
computed tomography (CT) scanning findings.

Pathophysiology
By definition, bronchiectasis demonstrates localized, irreversible dilatation of bronchi
>2 mm in diameter that results from destruction of the muscular and elastic components of
bronchial walls. Damage to these 2 bronchial wall components is caused by an infectious
organism and also by the inflammatory cytokines, nitric oxide, and neutrophilic proteases
released by the host's immune response to the organism. Additionally, peribronchial alveolar
tissue may be damaged, resulting in diffuse peribronchial fibrosis. The result is abnormal
bronchial dilatation with bronchial wall destruction and
transmural
inflammation. The involved bronchi are not only dilated
but also inflamed
and easily collapsible, resulting in airflow
obstruction
and
impaired clearance of secretions.
The most important functional finding of
airway anatomy is severely impaired clearance of
from the bronchial tree. This altered airway
causes colonization and infection with
organisms, contributing to the common purulent
expectoration observed in patients who have
bronchiectasis. The result is a cycle of bronchial
damage, bronchial dilatation, impaired clearance
secretions, recurrent infection, and more
bronchial damage.

altered
secretions
anatomy
pathogenic

of

Approach to Diagnostic Imaging


1.Plain chest radiograph
Abnormal in most patients, but the specific diagnosis can be suggested less than onehalf the time

Demonstrates increased interstitial opacities


recurrent inflammatory or infectious responses
changes
consistent
with
subsegmental
atelectasis
Often tram tracking (parallel linear shadows
representing the walls of cylindrically dilated
bronchi) and areas of multiple thin-walled cysts,
or without airfluid levels, which tend to be
peripheral and cluster together in the
distribution of a bronchovascular bundle

from
or

with

2.High-resolution computed tomography


High accuracy for demonstrating characteristic multiple, dilated, thin-walled circular
lucencies (on cross-section) and parallel linear opacities (bronchial walls sectioned
lengthwise)
Mucoid impactions may simulate lung nodules or branching, finger-like opacities
Cystic bronchiectasis produces a cluster of grapes appearance
May show evidence of inhomogeneous lung attenuation (mosaic perfusion), reflecting
abnormal lung ventilation and resultant reduced perfusion
Note: CT has all but eliminated the need for contrast bronchography, except for those few
patients considered for curative resection who appear to have localized disease according
to CT.
3.Fiberoptic bronchoscopy
References
www.patient.co.uk
www.thachers.org
http://www.emedicine.com/radio/topic116.htm#target1

6. Emfisema
Definisi
Emfisema adalah suatu keadaan dimana paru lebih banyak terisi udara, sehingga
ukuran paru bertambah, baik anteroposterior maupun ukuran paru secara vertikal ke dalam
diafragma. Menurut National Herat Lung and Blood Institute (1993) : Emfisema merupakan
suatu keadaan abnormalitas berupa terjadinya pelebaran yang permanen pada ruang udara
bagian dan tanpa fibrosis yang obvious.
Emfisema dapat dibedakan menjadi emfisema obstruktif dan non-obstruktif. Yang
termasuk emfisema obsruktif adalah emfisema akut, kronis, dan bullous. Emfisema nonobstruktif sifatnya kompensatif dan senilis (postural). distal hingga bronkiolus terminal yang
disertai dengan destruksi dinding alveolar
Patofisiologi
Adanya suatu penyakit obstruksi pada saluran
napas bagian bawah misalnya bronkhitis kronis,
menyebabkan tubuh akan kekurangan oksigen. Hal ini
merangsang pusat pernafasan untuk memberikan
perintah
nafas
dalam
dan
cepat
untuk
mengatasi/mengkompensasi kekurangan itu. Namun
udara yang sudah masuk akan sukar dikeluarkan, karena
penyempitan ini biasanya disertai juga dengan edema
mukosa bronkhus yang menyumbat udara yang hendak
keluar. Sehingga terjadi penumpukan udara di
rongga alveolus (air trapping). Aerasi paru yang
bertambah di seluruh paru menimbulkan gambaran
hiperlusensi di kedua paru. Terjadi pelebaran
rongga udara bagian distal (alveolus dan duktus
alveolaris). Penumpukan udara ini menyebabkan
penambahan ukuran paru ke arah anteriorposterior sehingga menyebabkan bentuk dada
seperti tong (SIC melebar) maupun ke arah vertikal
sehingga mendorong diafragma ke bawah,
menyebabkan diafragma letak rendah dan
mendatar. Corakan jaringan paru tampak lebih jelas
selain gambaran fibrosisnya dan vaskuler paru yang
jarang.
Permintaan radiologis
Foto thoraks PA dan lateral
CT scan thoraks
Gambaran radiologis

akan

lebih

Pada foto thoraks PA dan


lateral,
tampak
gambaran
hiperinflasi, hiperlusen seluruh
lapang paru. Thoraks berbentuk
tong (peningkatan diameter
anteroposterior), SIC melebar.
Diafragma terletak rendah dan
mendatar. Daerah translusen di
belakang sternum lebih besar
dari normal.
Kelainan-kelainan
kardiovaskuler, seperti jantung
mengecil
dan
terletak
membujur vertikal.
Emfisema bulla
Pada beberapa kasus, kelainan yang utama sering
berada di percabangan paru dan pembuluh darah di
hilus. Kadang selain pengecilan pembuluh darah, ada
juga pengurangan pembuluh darah. Daerah-daerah luas
yang tidak mengandung gambaran pembuluh darah
yang relatif hipertranslusen menunjukkan adanya
bullae. Bulla merupakan emfisema vesikuler setempat
berukuran 1-2 cm atau lebih besar.
Gambaran radiologi berupa kantong hiperlusen di
perifer lapangan paru, terutama bagian apeks paru dan
bagian basal paru. Beberapa diantara bullae ini
berbatas tidak tegas, beberapa lainnya berbatas tegas
yang disebabkan oleh lapisan pleura yang tertekan.
Jaringan paru normal sekitarnya akan terkompresi
sehingga
menimbulkan
keluhan
sesak
nafas.
Gambaran bullae ini hanya muncul pada 1/3 kasus gross
emfisema.
Pada foto CT scan, tampak emfisema bulla pada lobus atas.
.

Referensi
Sutton et all.,2001. Text Book of Radiology and Imaging.Volume 1.
Rusdy Ghazali. Radiologi Diagnostik. Yogyakarta : Gama Media. 2006.

Thurlbeck WM, Simon G. Radiographic Appearance of the Chest in Emphysema. Am J


Roentgenol.1978: 130:429-440.
Stern EJ, Frank MS. CT of the Lung in Patients with Pulmonary Emphysema: Diagnosis,
Quantification, and Correlation with Pathologic and Physiologic Findings. AJR
1994;162:791-798

7. ATELEKTASIS
Definisi
Atelektasis adalah suatu keadaan paru atau sebagian paru yang mengalami hambatan
berkembang secara sempurna sehingga areasi berkurang atau sama sekali tidak berisi
udara.
Patofisiologi
Biasanya merupakan akibat dari kelainan paru yang dapat disebabkan oleh:
a. Bronkus tersumbat, penyumbatan bisa berasal di dalam bronkus (misalnya tumor
bronkus, benda asing, cairan sekresi yang masif) atau penekanan dari luar bronkus
(misalnya tumor di sekitar bronkus, kelenjar yang membesar).
b. Tekanan ekstrapulmoner.
c. Bisa diakibatkan oleh pneumothorak, cairan pleura, peninggian diafragma, herniasi
organ abdomen ke rongga thorak, tumor intrathorak namun ekstra pulmoner (tumor
mediastinum).
d. Paralisis atau paresis gerak pernafasan, akan menyebabkan pengembangan paru yang
tidak sempurna, misal pada kasus poliomielitis dan kelainan neurogenik lainnya. Gerak
nafas yang terganggu akan mempengaruhi kelancaran pengeluaran sekrat bronkus dan
ini akan menyebabkan penyumbatan bronkus yang berakhir dengan memperberat
kaedaan atelektasis.
e. Hambatan gerak pernafasan oleh kelainan pleura atau trauma thorak yang menahan
rasa sakit. Keadaan ini juga akan menyebabkan hambatan pengeluaran sekret bronkus
yang dapat memperberat terjadinya atelektasis.
Permintaan radiologis
x-ray dada posisi PA, AP,dan lateral.

Gambaran radiologis
Pengurangan volume paru bisa lobaris, segmental atau
seluruhnya, menimbulkan kurangnya areasi paru sehingga
memberikan bayangan lebih suram (densitas meningkat).
Diafragma tertarik ke atas, sela iga menyempit, dan
mediastinum tertarik ke arah atelektasis. Bila sudah parah
dapat terjadi herniasi hemithorak yang sehat ke arah hemithorak
yang atelektasis.
Gambar 1. Pada foto lateral tampak lobus inferior paru
sinistra kolap, tampak perselubungan putih pada lokasi
postero inferior.

Gambar 2. Pada foto PA tampak atelektasis


komplet
pada
paru
kiri,
pergeseran
mediastinum, opasitas, dan kekurangan
volume pada hemithorak kiri.

Gambar 3. Pada foto PA tampak atelektasis


pada lobus superior paru kanan.

8. Pneumotorak
Definisi :
Suatu keadaan dimana terdapat udara pada cavum pleura.
Tanda dan gejala :
Nyeri dada tiba-tiba, semakin memburuk akibat batuk dan saat inspirasi
Nafas pendek-pendek
Dada terasa sesak
Mudah lelah
Nadi cepat
Kulit berwarna pucat, akibat kekurangan oksigen
Patofisiologi
Pneumotorak dapat disebabkan oleh trauma dada, tekananan yang berlebihan dan
tiba-tiba pada paru, karena pemasangan akupuntur, pemasangan central venous chateter,
dapat juga karena penyakit paru seperti PPOK,asma, TBC, kanker, dsb (kadang tidak jelas
apa penyebabnya).
Open pneumotorak, terjadi akibat adanya hubungan langsung antara cavum pleura
dengan dunia luar. Pada keadaan ini, udara dapat masuk cavum pleura sehingga
tekanannya meningkat (tidak lagi negatif), akibatnya paru menjadi kolaps. Jika lubang yang
terjadi lebih besar dari 2/3 diameter trachea, maka udara cenderung lebih melewati lubang
ini daripada lewat traktus respiratorius yang seharusnya. Masuknya udara ini terutama saat
inspirasi.
Pada saat inspirasi : tekanan dalam rongga dada menurun (makin negatif), sehingga
udara luar masuk ke cavum pleura lewatlubang tadi. Saat ekspirasi : tekanan rongga dada
meningkat, akibatnya udara keluar melalui lubang tersebut, menimbulkan bunyi seperti
peluit/siulan, disebut sucking chest wound.
tension pneumotorak, tidak ada hubungan langsung antara cavum pleura dengan
udara luar. Udara masuk cavum pleura melalui lubang yang terdapat pada pleura viseralis,
sehingga pada saat inspirasi udara dari paru bocor ke cavum pleura. Pada saat ekspirasi
udara terperangkap di dalam cavum pleura (apalagi bila lubangnya bersifat katup/ventile),
akibatnya setiap kali menarik nafas, udara dalam cavum pleura semakin banyak sehingga
tekanannya juga semakin besar (tidak dapat keluar). Pengumpulan akan terjadi sampai sisi
yang sakit kolaps secara total. Peningkatan tekanan pada pneumotorak akan mendesak
mediastinum ke sisi yang sehat. Hal ini berbahaya sebab pada mediastinum banyak
terdapat organ-organ penting yang dapat terganggu fungsinya, seperti jantung, pericardium
aorta, saraf, vena cava superior dan inferior. Selain itu pergeseran kea rah paru sehat akan
membuat paru yang sehat tidak dapat mengembang optimal, dapat terjadi hipoksia.
Permintaan radiologis
Foto PA dada, dan juga foto lateral.
Gambaran radiologi
Pada foto akan tampak : ruang pleura sangat traslusen, dengan tidak tampak
gambaran pembuluh darah paru. Biasanya tampak garis putih tegas membatasi pleura
visceral yang membatasi paru yang kolaps. Paru mungkin berwarna abu-abu, bila sebagian
masih berisi udara, namun bila kolapsnya sudah lengkap, tekanan membuat paru tampak
seperti bulatan kecil opaque di daerah hilus.

Tanda lain yang dapat dilihat, jantung terdorong kea rah lain yang berlawanan,
spatium interkostal melebar dan diafragma mendatar (tertekan ke bawah). Pada posisi foto
dada supine, ada gambaran deep sulcus sign, yang ditunjukkan adanya low lateral
costophrenic angle pada sisi yang sakit.

Pada Foto PA dada tampak : pada paru kanan ruang pleura sangat traslusen, dengan
tidak tampak gambaran pembuluh darah paru. Tampak garis putih tegas membatasi pleura
visceral yang membatasi paru yang kolaps. Paru masih berwarna abu-abu, bila sebagian
masih berisi udara, tampak mengecil. Jantung terdorong kea rah dada kiri, spatium
interkostal melebar dan diafragma mendatar (tertekan ke bawah). Pada posisi foto dada
supine, ada gambaran deep sulcus sign, yang ditunjukkan adanya low lateral costophrenic
angle pada sisi kanan.

9. Hematothoraks
Definisi
Pembentukan cairan yang berupa darah dalam rongga pleura (antara pleura parietalis dan
viseralis)
Patofisiologi
Disebabkan oleh kelainan pada paru. Kelainan paru yang menyebabkan terjadinya
hematothoraks adalah infeksi (bakteria, virus ataupun jamur), tumor paru, tumor
mediastinum, dan metastatis tumor ke paru.

Efusi pleura - Hematothoraks

10. EFUSI PLEURA


Definisi
Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat cairan yang berlebih jumlahnya di
dalam kavum pleura.
Patofisiologi
Efusi pleura dapat disebabkan oleh kelainan pada paru maupun sistemik. Kelainan
paru yang dapat menyebabkan terjadinya efusi pleura adalah infeksi baik bakteri, virus
ataupun jamur, tumor paru, tumor mediastinum, dan metastasis tumor ke paru. Kelainan
sistemik yang dapat menyebabkan efusi pleura adalah penyakit-penyakit yang menghambat
aliran getah bening, hipoproteinemia pada penyakit ginjal, hepar dan jantung. Efusi/cairan
yang berada di rongga pleura ini dapat berupa:
Transudat, disebut hidrothorak, misal pada penyakit jantung dan ginjal. Bila lesinya
bilateral maka didapatkan pelebaran jantung.
Eksudat, disebut pyothorak, misalnya pada pleuritis eksudatif.
Darah disebut hematothoraks.
Empyema apabila terisi nanah.
Permintaan radiologis
x-ray thoraks posisi PA, AP, atau posisi erek.
Gambaran radiologi
Foto thorak dalam posisi erek, cairan dalam rongga pleura tampak berupa
perselubungan semiopak, homogen, menutupi paru bawah yang biasanya relatif radioopak
dengan permukaan atas cekung, berjalan dari lateral atas ke medial bawah (meniscus
sign). Meniscus sign ini merupakan gambaran khas seperti garis lengkung, bagian perifer

lebih tinggi dari bagian sentral, berbentuk konkaf. Garis ini akan analog dengan gari Ellis
Damoiseau, yaitu batas perpindahan suara pada perkusi dada dari sonor (di sebelah atas
garis ini) ke redup absolut (di bawah garis ini). Penumpukan cairan di dalam kavum pleura
menyebabkan sinus costofrenicus menumpul. Karena cairan mengisi hemithorak maka
paru akan terdorong ke arah sentral/hilus, dan kadang-kadang mendorong
mediastinum ke arah kontra lateral.
Pada cairan bebas apabila di foto secara PA atau AP maka akan didapatkan
gambaran yang berbeda, pada posisi tegak tampak meniscus sign, pada posisi berbaring
meniscus sign tidak tampak.

Gambar 1. Pada foto AP tampak efusi


pleura bilateral dan hilangnya sudut
costofrenicus (meniscus sign)

Gambar 2. Pada foto lateral tampak


hilangnya sudut koctofrenikus posterior.

Gambar 3. Pada foto PA tampak adanya


efusi pleura sisi kiri dengan hilangnya
sudut kostofrenicus kiri.

Gambar 4. Pada foto AP tampak


adanya efusi pleura masif pada sisi kiri
dengan pergeseran mediastinum ke
arah kontra lateral.

11.

TUMOR PARU

Definisi
Merupakan tumor yang terdapat pada paru, baik primer maupun sekunder dari organ
lain.
Patofisiologi
Tumor paru berasal dari jaringan epitelial saluran nafas (bronkus, bronkiokus dan
alveoli). Mesotheliomas, lymphomas, and stromal tumors (sarcomas) are distinct from
epithelial lung cancer. Menurut klasifikasi WHO ada 4 tipe utama karsinoma paru, yaitu
karsinoma squamous atau epidermoid, small cell (disebut juga oat cell) karsinoma,
adenokarsinoma (termasuk bronchioloalveolar), dan large cell (disebut juga large cell
anaplastic) karsinoma.
Karsinoma epidermoid sering timbul di sentral, yang merupakan tempat yang paling
rentan terhadap paparan iritan yang terhirup. Pertumbuhannya cepat namun lambat
bermetastasis (hematogen). Berkembang melalui dinding dan tepi berlobul-lobul (ireguler).
Dapat mengalami nekrosis dan membentuk kavitasi. Insidensi Ca bronkogen cenderung
meningkat sehubungan meningkatnya polusi udara dan mental stres.
Jenis lain adalah tipe adenokarsinoma yang sering ditemukan pada wanita dan
letaknya sering di perifer paru, berkembang lambat namun cepat bermetastase secara
hematogen maupun limfogen. Menunjukkan gambaran ireguler dan berspikula, dengan
fibrosis di sekitarnya. Ca bronkhoalbeolar merupakan tepe adenokarsinoma berdiferensiasi
baik dengan pola pnemonik, biasanya membentuk nodul soliter yang terisolasi namun dapat
pecah dan membentuk gambaran multifocal.
Tipe small cell sering ditemukan di sentral, dengan gambaran histologis sel
Kulchitscky yang merupakan sel neuroendokrin di bronkus dan menimbulkan sindrom
paraneoplastik dengan produksi ACTH dan ADH. Dapat menimbulkan kompresi dan
obstruksi limfatik sehingga terjadi pembesaran kelenjar limfe di daerah hilus. Tidak pernah
membentuk kavitas.
Tipe anaplastik sering ditemukan di sentral dengan pembesaran hilus. Pertumbuhan
cepat dan metastase limfogen. Jenis ini jarang nekrosis dan membentuk kavitas.
Pancoasts tumor terletak di sulkus superior pada apeks, terletak di posterior dan os
costa mengalami erosi. Juga menimbulkan kelainan simpatis sehingga timbul sindroma
Hargae.
Tumor jinak paru < 5% dari semua tumor yang berasal dari paru, termasuk di
dalamnya adalah bronchial adenoma dan hamartoma dan beberapa yang jarang, yaitu
chondroma, fibroma, lipoma, hemangioma, leiomyoma, teratoma, pseudolimfoma dan
endometriosis. Tumor jinak ini dapat berupa massa di central yang menyebabkan obstruksi,
batuk, hemoptisis dan pneumonitis. Massa mungkin dapat atau tidak terlihat pada
gambaran radiografi namun biasanya dapat dinilai melalui fiberoptik bronkoskopi. Tumor
jinak ini juga dapat bersifat asimtomatik.
Bronchial adenoma sering di sentral. Karena bersifat hipervaskeler, maka sering
terjadi perdarahan setelah dilakukan biopsi bronkoskopik.
Hamartoma terdiri dari komponen normal jaringan paru namun tidak teratur. Biasanya
di perifer. Gambaran radiologis yang patognomonik adalah adanya pop-corn calsification.
Tumor sekunder di paru merupakan metastase dari traktus gastrointestinal dan traktus
genirourinarius. Pada laki-laki bisa dari prostat, pada wanita dari mammae. Penyebaran ini
bisa hematogen, limfogen maupun secara langsung. Karena organ asalnya jauh,
penyebaran tumor sekunder di dalam paru ini otomatis ke seluruh lapangan paru.
Gambarannya diskrit dan berbatas tegas.

Permintaan radiologis
Rontgen thorax PA, lateral, maupun oblique.
Fluoroskopi.
CT scan thorax
Gambaran radiologi
Pada foto polos thorax :
Tampak perselubungan semiopaq, letak bisa di perifer maupun sentral, bentuk bulat
atau oval, bergelombang atau difus, batas tegas atau tidak tegas, dengan atau tanpa
kalsifikasi, soliter atau multipel, ukuran bisa kecil (< 4 cm) atau besar (> 4 cm).
Jika ganas bisa mengakibatkan atelektasis, pembesaran hilus unilateral, emfisema lokal,
efusi
pleura,
destruksi
tulang
di
sekitarnya.

Pada foto polos thorax tampak gambaran perselubungan semiopak di perifer (kiri) atau sentral
(kanan), bentuk oval (kiri) atau bulat (kanan), batas tegas, tepi licin, ukuran 10x8 cm (kiri) atau
diameter 4 cm (kanan), soliter.

Gambar di samping adalah contoh gambaran CT scan Ca bronkhogenik jenis


adenokarsinoma. Kriteria penentuan ganas atau jinaknya suatu tumor sudah tidak lagi bisa
dinilai dari ukuran semenjak Zerhouni et al meneliti bahwa hanya 42% dari nodul maligna
yang diameternya kurang dari 2 cm. Spiegelman et al mengatakan bahwa bila densitas
massa pada CT scan bila lebih dari 164 Hounsfield units (HU) mengindikasikan nodul paru
jinak tanpa kalsifikasi. Kriteria yang menentukan jinaknya nodul paru dengan kalsifikasi
adalah :

ke
dikombinasikan dengan kalsifikasi.

Strict criteria for determination of


benign calcifications in lung nodules
include (3):
Kalsifikasi lebih dari 10% dari nodul.
Sentral, difus, dengan gambaran
popcorn-like atau pola deposisi
kalsium yang berlapis-lapis.
Nodul yang besar dan berspikula
jarang jinak, tanpa melihat ada atau
tidaknya kalsifikasi. Pada CT scan
adanya gambaran lemak mengarah
hamartoma,
apalagi
bila

Gambar di atas adalah salah satu contoh foto polos dada dan CT scan tumor sekunder paru. Tampak
gambaran bercak-bercak milier semiopak tersebar di seluruh lapang paru.

Referensi
Harrison. 2001. Harrisons Principles of Internal Medicine 15th edition. Mc. Graw-Hill
Companies, Inc.
Janicek, Miles. 1996. Non-Small Cell Lung Carcinoma with Neuroendocrine features.
Brighamrad, Harvard.
Malueka, Rusdy. 2006. Radiologi Diagnostik. Marvel Inc. FK UGM. Yogyakarta.
Taylor, James. Radiology Board Review Notes. Creighton Medical Center Radiology
Homepage.

12. Corpus Alienum


Definition
A foreign bodies which lodge in the airways.

Pathophysiology
The human body is provided with a number of defense mechanisms to keep the airway free
and clear of extraneous matter. These include the physical actions of the epiglottis and
arytenoid cartilages in blocking the airway, intense spasm of the true and false vocal cords
any time objects come near the vocal cords, and a highly sensitive cough reflex with afferent
impulses generated throughout the larynx, trachea, and all branch points in the proximal
tracheobronchial tree. However, none of these mechanisms is perfect, and foreign bodies
frequently lodge in the airways of children.
Imaging Studies:
1. Radiography: Most aspirated foreign bodies are food material and are radiolucent. Thus,
one has to look indirectly for signs of the foreign body.
o If doubt about the diagnosis exists, radiologists
can
be helpful if they know the child is being
evaluated for a foreign body.
o A plain radiograph can show an area of focal
overinflation or an area of atelectasis,
depending on the degree of obstruction.
o If the material completely occludes the airway,
the
radiograph should show opacification of the
distal
lung because the residual air is absorbed and
no air
entry is possible.
o If the obstruction is partial, progressive ball
valve
obstruction is visible, resulting in focal
overinflation in the area of the lung directly
A swallowed coin lodged
connected to the affected airway.
at the thoracic inlet. Image
o If the findings on plain radiograph are not
courtesy of Gregory Conners,
diagnostic, make use of the fact that an
MD, MPH.
affected lung portion does not empty
completely. If the child cooperates, an anteroposterior expiratory radiograph may
show trapped air in the affected portion of the lung. In those children who cannot
cooperate with the maneuver, lateral decubitus radiographs may demonstrate the
trapped air.
2. Fluoroscopy: Fluoroscopy of the chest may be helpful in showing focal air trapping
and/or paradoxical diaphragmatic motion.
3. CT scanning
o A chest CT scan may demonstrate the material in the airway, focal airway
edema, or focal overinflation not detected in the plain radiographs. Some would

forgo CT scanning if the index of suspicion is high and proceed with


bronchoscopy.
Even if the foreign body does not show up on any of the radiographic studies, a
foreign body may still be present, and an endoscopy should be performed if the
suspicion is high.

Lung abscess refers to a localized area of suppurative necrosis within the pulmonary
parenchyma, resulting in the formation of one or more large cavities. The term necrotizing
pneumonia has been used for a similar process resulting in multiple small cavitations;
necrotizing pneumonia often coexists or evolves into lung abscess, making this distinction
somewhat arbitrary. The causative organism may be introduced into the lung by any of the
following mechanisms:
Aspiration of infective material from carious teeth or infected sinuses or tonsils,
particularly likely during oral surgery, anesthesia, coma, or alcoholic intoxication and in
debilitated patients with depressed cough reflexes.Aspiration of gastric contents, usually
accompanied by infectious organisms from the oropharynx.As a complication of
necrotizing bacterial pneumonias, particularly those caused by S. aureus, Streptococcus
pyogenes, K. pneumoniae, Pseudomonas spp., and, rarely, type 3 pneumococci. Mycotic
infections and bronchiectasis may also lead to lung abscesses.Bronchial obstruction,
particularly with bronchogenic carcinoma obstructing a bronchus or bronchiole. Impaired
drainage, distal atelectasis, and aspiration of blood and tumor fragments all contribute to
the development of abscesses. An abscess may also form within an excavated necrotic
portion of a tumor.Septic embolism, from septic thrombophlebitis or from infective
endocarditis of the right side of the heart.In addition, lung abscesses may result from
hematogenous spread of bacteria in disseminated pyogenic infection. This occurs most
characteristically in staphylococcal bacteremia and often results in multiple lung
abscesses.Anaerobic bacteria are present in almost all lung abscesses, sometimes in vast
numbers, and they are the exclusive isolates in one-third to two-thirds of cases. The most
frequently encountered anaerobes are commensals normally found in the oral cavity,
principally species of Prevotella, Fusobacterium, Bacteroides, Peptostreptococcus, and
microaerophilic streptococci.
Body_ID: P013146
Morphology
Body_ID: B013026
Abscesses vary in diameter from a few millimeters to large cavities of 5 to 6
cm. The localization and number of abscesses depend on their mode of
development. Pulmonary abscesses resulting from aspiration of infective
material are much more common on the right side (more vertical airways)
than on the left, and most are single. On the right side, they tend to occur in
the posterior segment of the upper lobe and in the apical segments of the
lower lobe, because these locations reflect the probable course of aspirated
material when the patient is recumbent. Abscesses that develop in the course
of pneumonia or bronchiectasis are commonly multiple, basal, and diffusely
scattered. Septic emboli and abscesses arising from hematogenous seeding
are commonly multiple and may affect any region of the lungs.
Body_ID: PB013040
As the focus of suppuration enlarges, it almost inevitably ruptures into
airways. Thus, the contained exudate may be partially drained, producing an
air-fluid level on radiographic examination. Occasionally, abscesses rupture
into the pleural cavity and produce bronchopleural fistulas, the consequence
of which is pneumothorax or empyema. Other complications arise from
embolization of septic material to the brain, giving rise to meningitis or brain

abscess. Histologically, as expected with any abscess, there is suppuration


surrounded by variable amounts of fibrous scarring and mononuclear
infiltration (lymphocytes, plasma cells, macrophages), depending on the
chronicity of the lesion.
Body_ID: PB013041
Clinical Course
Body_ID: HC013103
The manifestations of a lung abscess are much like those of bronchiectasis and include a
prominent cough that usually yields copious amounts of foul-smelling, purulent, or sanguineous
sputum; occasionally, hemoptysis occurs. Spiking fever and malaise are common. Clubbing of
the fingers, weight loss, and anemia may all occur. Infective abscesses occur in 10% to 15% of
persons with bronchogenic carcinoma; thus, when a lung abscess is suspected in an older person,
underlying carcinoma must be considered. Secondary amyloidosis (Chapter 5) may develop in
chronic cases. Treatment includes antibiotic therapy and, if needed, surgical drainage. Overall,
the mortality rate is in the range of 10%.
Body_ID: P013147
page 515