Anda di halaman 1dari 24

UJI AKTIVITAS DAN PENETAPAN KADAR ANTIOKSIDAN FRAKSI

AKTIF EKSTRAK METANOL TANAMAN TOMAT (Lycopersicum


esculentum Mill.) DENGAN METODE 2,2 DIFENIL 1
PIKRILHIDRAZIL (DPPH)
Proposal Skripsi

Diajukan oleh:
Asti Aprilia Putri
NIM : 138114071

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di zaman modern ini, terjadi banyak perubahan pada pola hidup
masyarakat pada umumnya. Perubahan pola hidup tersebut cenderung
mengarah pada pola hidup yang serba cepat dan menimbulkan dampak buruk,
terutama pada bidang kesehatan. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya
penyakit degeneratif yang dialami masyarakat.
Penyakit degeneratif merupakan penyakit tidak menular yang
berlangsung kronis seperti penyakit kanker, kardiovaskular, diabetes dan
lainnya. Penyakit ini telah menjadi penyebab kematian terbesar di dunia,
bahkan di Indonesia telah terjadi peningkatan penyakit kronis degeneratif tiap
tahunnya. Penyakit degeneratif adalah penyebab kematian terbanyak di
Indonesia dengan persentase 59,5% (DepKes, 2007). Kontributor utama
penyebab terjadinya penyakit degeneratif adalah kebiasaan yang tidak sehat
seperti pola hidup yang tidak sehat seperti merokok, aktivitas fisik yang
kurang, dan pencemaran lingkungan yang dapat merangsang timbulnya
radikal bebas dan stres oksidatif yang dapat merusak tubuh (Handajani, dkk.,
2010).
Radikal bebas merupakan salah satu bentuk senyawa oksigen reaktif,
yang memiliki reaktivitas yang tinggi dan dapat berdampak buruk untuk
lingkungan sekitarnya. Senyawa radikal bebas akan sesegera mungkin
menyerang komponen seluler yang berada di sekelilingnya, baik berupa
senyawa lipid, lipoprotein, karbohidrat, rybonucelic acid (RNA), maupun
deoxyribonucleic acid (DNA). Dampak lebih buruknya adalah kerusakan
fungsi dan struktur sel yang berujung pada timbulnya penyakit degeneratif
(Winarsi, 2011).
Dampak buruk dari reaktivitas radikal bebas tersebut dapat diatasi
dengan meningkatkan konsentrasi antioksidan dalam tubuh. Produksi
antioksidan di dalam tubuh manusia terjadi secara alami untuk mengimbangi
produksi radikal bebas. Antioksidan tersebut kemudian berfungsi sebagai
sistem pertahanan terhadap radikal bebas, namun peningkatan produksi radikal
bebas yang terbentuk akibat faktor stress, radiasi UV, polusi udara dan
lingkungan mengakibatkan sistem pertahanan tersebut kurang memadai,
sehingga diperlukan tambahan antioksidan dari luar (Muchtadi, 2013).
Antioksidan di luar tubuh dapat diperoleh dalam bentuk sintesis dan
alami. Antioksidan sintetis seperti buthylatedhydroxytoluene (BHT),
buthylated hidroxyianisol (BHA) dan ters-butylhydroquinone (TBHQ) secara

efektif dapat menghambat oksidasi, namun, penggunaan antioksidan sintetik


dibatasi oleh aturan pemerintah karena jika penggunaannya melebihi batas
dapat menyebabkan racun dalam tubuh dan bersifat karsinogenik, sehingga
dibutuhkan antioksidan alami yang aman. Salah satu sumber potensial
antioksidan alami adalah tanaman. Salah satu contoh tanaman yang
mengandung antioksidan adalah tomat (Lie, 2011).
Tomat merupakan salah satu produk pertanian yang memiliki angka
produksi cukup tinggi di Indonesia. Badan Pusat Statistik (2011), melaporkan
bahwa produksi nasional tomat tahun 2010 sebesar 891,616 ton. Hal ini
menunjukkan bahwa produksi tomat di Indonesia dapat ditingkatkan jika
dilihat dari nilai produksi nasional.
Buah tomat tentunya sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia.
Kandungan gizi seperti vitamin dan mineral membuat tomat menjadi salah
satu komoditi pangan yang banyak dimanfaatkan. Tomat juga mengandung
senyawa antioksidan yang poten yaitu likopen. Persentase likopen dalam buah
tomat adalah 63,6% (Tadmor, et. al, 2005). Kurangnya pengetahuan
masyarakat mengenai kandungan tersebut menyebabkan tomat hanya dijual
dan dikonsumsi saja tanpa adanya pemanfaatan lebih lanjut. Penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui jenis fraksi (polar atau non polar) yang paling
banyak mengandung senyawa likopen dan juga pengaruh jumlah likopen
terhadap aktivitas antioksidan. Diharapkan hasil penelitian ini dapat
bermanfaat di bidang kesehatan khususnya dalam hal pengembangan obatobatan dari alam.
1.2 Rumusan Masalah
1. Fraksi manakah yang paling banyak mengandung senyawa antioksidan
likopen?
2. Apakah jumlah likopen tomat (Lycopersicum esculentum) berpengaruh
terhadap aktivitas antioksidan?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui jenis fraksi yang paling banyak mengandung likopen.
2. Mengetahui pengaruh jumlah likopen tomat (Lycopersicum esculentum)
terhadap aktivitas antioksidan.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya di bidang kesehatan yang
berhubungan dengan antioksidan.
2. Memperoleh fraksi aktif likopen tomat (Lycopersicum esculentum) yang
dapat dikembangkan menjadi penangkal radikal bebas untuk mengurangi
kejadian penyakit degeneratif.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.)
Tomat merupakan salah satu produk perkebunan yang mudah
dibudidayakan dan memiliki banyak kandungan yang bermanfaat bagi
kesehatan. Buah tomat memiliki berat kering 5 10%, dan 1% kulit dan biji.
Dalam bentuk buah segar maupun olahan, tomat memiliki kandungan gizi
yang cukup lengkap. Tomat apel atau tomat pir (Lycopersicum esculentum)
adalah varietas tomat yang buahnya berbentuk bulat dan sedikit keras
menyerupai buah apel atau pir. Tomat jenis ini banyak ditemukan di pasar
lokal (Wahyu, 2008).
2.1.1
Klasifikasi (Jones and Luchsinger, 1987):
Kerajaan
: Plantae
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida (Dicotyledonae)
Bangsa
: Tubiflorae
Suku
: Solanaceae
Marga
: Lycopersicum
Jenis
: Lycopersicum esculentum Mill.
2.1.2
Morfologi
Tanaman tomat memiliki akar tunggang yang tumbuh
menembus kedalam tanah dan akar serabut yang tumbuh ke arah
samping tetapi dangkal. Batang tanaman tomat berbentuk persegi
empat hingga bulat, berbatang lunak tetapi cukup kuat, berbulu
atau berambut halus dan diantara bulu bulu itu terdapat rambut
kelenjar. Daun tanaman tomat berbentuk oval, bagian tepinya
bergerigi dan mambentuk celah celah menyirip agak melengkung
ke dalam. Daun berwarna hijau dan merupakan daun majemuk
ganjil yang berjumlah 5 7.
Bunga tanaman tomat berukuran kecil, berdiameter sekitar
2 cm dan berwarna kuning cerah. Kelopak bunga yang berjumlah 5
buah dan berwarna hijau terdapat pada bagian bawah atau pangkal
bunga. Mahkota bunga tomat berwarna kuning cerah, berjumlah
sekitar 6 buah dan berukuran sekitar 1 cm. Buah tomat memiliki

2.1.3

2.1.4

2.1.5

bentuk bervariasi, tergantung pada jenisnya. Bentuk buah pada


varietas tomat apel adalah bulat. Ukuran buah tomat juga sangat
bervariasi, yang berukuran paling kecil memiliki berat 8 gram dan
yang berukuran besar memiliki berat sampai 180 gram (Tugiyono,
2005).
Kandungan Kimia
Tomat mengandung senyawa likopen sebesar 63,6%. Jika
buah tomat dikeringkan maka 50% dari bobot tersebut terdiri atas
gula gula pereduksi (terutama glukosa dan fruktosa), sisanya
mengandung asam organik, mineral, pigmen, vitamin, dan lipid
(Tadmor, et. al., 2005). Kandungan senyawa lain dalam buah tomat
di antaranya solanin (0,007 %), saponin, asam folat, asam malat,
asam sitrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan histamin (CaneneAdam, et. al., 2005).
Ekologi, Penyebaran dan Budidaya
Tanaman ini berasal dari Meksiko (Amerika), penyebaran
di Eropa dan Asia dibawa oleh para pedagang. Tanaman tomat
dapat tumbuh subur di berbagai ketinggian tempat, mulai dari
dataran rendah sampai dataran tinggi disesuaikan dengan jenis
varietasnya. Tanaman tomat dapat hidup pada ketinggian 1.000
1.250 meter dari permukaaan laut. Tanaman tomat juga tidak
menyukai banyak hujan dan sinar matahari yang terik sehingga
tomat lebih cocok ditanam di daerah pegunungan yang kering dan
sejuk.
Budidaya tanaman tomat membutuhkan penyiraman air
yang cukup. Daerah yang cocok untuk bertanam tomat memiliki
kisaran intensitas curah hujan antara 750 1.250 mm per tahun
atau merata sepanjang tahun. Tanaman tomat menghendaki
kelembaban yang cukup dan seimbang antara kelembaban udara
dan kelembaban tanah (Anonim, 2009).
Manfaat
Dalam beberapa penelitian menyebutkan bahwa tomat
dapat bermanfaat sebagai obat diare, serangan empedu, gangguan
pencernaan serta memulihkan fungsi liver (Fuhramn, et. al.,1997).
Beberapa studi in vitro menemukan bahwa likopen memiliki
aktivitas antioksidan yang poten. Likopen dalam buah tomat
mampu menghambat pertumbuhan kanker endometrial, kanker
payudara dan kanker paru-paru pada kultur sel dengan aktivitas
yang lebih tinggi dibandingkan dengan dan -karoten. Likopen
ditemukan mampu menginaktifkan hidrogen peroksida dan
nitrogen peroksida (Levy, et. al., 1995).

2.2 Karotenoid
Karotenoid merupakan kelompok pigmen alami berwarna kuning, jingga,
merah jingga yang dapat ditemui pada tanaman dan hewan. Karotenoid
disebut sebagai pigmen lipokromik karena larut dalam lemak. Pada tumbuhan
tingkat tinggi karotenoid didapatkan di daun bersama dengan klorofil, mereka
juga yang memberikan pigmen warna kuning, jingga dan merah pada bunga
dan buah. Karotenoid berperan penting bagi kesehatan dan kelangsungan
hidup manusia. Karotenoid dapat meningkatkan sistem immun, perlindungan
terhadap kanker dan juga berfungsi sebagai antioksidan. (Dutta, et. al., 2005).
Berikut adalah contoh struktur senyawa karotenoid.
Gambar 1. Struktur Senyawa Karotenoid ( karoten)

(Dutta, et. al, 2005).


2.3 Likopen
Likopen adalah senyawa golongan karotenoid (pigmen warna pada
tumbuhan) yang merupakan hidrokarbon alifatik serta mengandung 13 ikatan
rangkap. Rumus molekul senyawa ini adalah C 40H56 dengan 11 ikatan rangkap
terkonjugasi yang tersusun linear. Hal tersebut menyebabkan likopen lebih
panjang dibandingkan senyawa karotenoid lainnya (Preedy and Ronald, 2008).
2.3.1
Struktur dan karakteristik likopen (Lockwood, 2007):
Gambar 2. Struktur Senyawa Likopen

Rumus Molekul
: C40H56
Bobot Molekul
: 536,88
Pemerian
: kristal seperti jarum, berwarna kecoklatan
Kelarutan
: larut dalam n heksan, kloroform, dan
pelarut organik lain.
Titik Lebur
: 172C 175C
maksimum
: 446 506 nm
Penyimpanan
: pada temperatur 2C 8C
Struktur molekul likopen sekilas menyerupai struktur
molekul karoten. Perbedaan terletak pada cincin ionone

2.3.2

pada ujung molekul - karoten. Cincin ionone tersebut


menyebabkan karoten memiliki fungsi sebagai prekursor
vitamin A, sementara likopen tidak. (Agarwal, et, al.2001). Di
alam, senyawa ini berada pada bentuk trans yang secara
termodinamika merupakan bentuk yang stabil.
Likopen bersifat sangat hidrofobik dan dapat mengalami
degradasi melalui proses isomerisasi dan oksidasi yang disebabkan
oleh cahaya, oksigen, suhu tinggi, teknik pengeringan, proses
pengelupasan, penyimpanan, dan pengasaman. (ONeil, 2006).
Degradasi tersebut menjadikan bentuk trans dari likopen menjadi
bentuk cis. Bentuk cis banyak ditemukan dalam produk olahan
tomat, serta dalam cairan dan jaringan biologis tubuh manusia.
Bentuk cis ini memiliki potensi aktivitas antioksidan lebih tinggi
daripada bentk trans. Absorpsi likopen yang ada di dalam produk
olahan tomat lebih baik daripada tomat segar, sehingga hal tersebut
menunjukkan bahwa bentuk cis likopen dapat meningkatkan
absorpsi dari senyawa likopen itu sendiri (Rao, et. al., 2003).
Likopen merupakan pigmen merah alami pada tomat,
jambu biji, dan semangka. Pada tomat semakin tua (matang), maka
warnanya akan semakin merah, hal ini disebabkan karena
meningkatnya kadar likopen. Warna yang semakin merah
diakibatkan semakin banyaknya ikatan rangkap konjugasi dalam
molekulnya, sehingga serapan bergeser ke daerah panjang
gelombang yang lebih tinggi (DeMan, 1997). Kandungan likopen
pada tomat juga dipengaruhi oleh varietas tomat (pengaruh
genetik), tempat tumbuh dan kondisi
lingkungan selama
penanaman (George, et. al. 2004).
Manfaat
Likopen memiliki potensi lebih besar sebagai penangkal
radikal bebas (antioksidan) dibandingkan senyawa karotenoid
lainnya ( - karoten dan - karoten). Kekuatan likopen sebagai
antioksidan lebih tinggi dua kali lipat dari - karoten (Bohm et al.,
2002) dan sepuluh kali lipat - tokoferol (Shi and Maguer, 2000).
Likopen berperan sebagai blocking agent, likopen
mengeliminasi zat karsinogenesis dari luar (virus, polusi, radiasi,
zat kimia) sehingga stress oksidatif yang terjadi dan tidak membuat
kerusakan seluler atau genetik pada DNA. Likopen memiliki sifat
yang sangat lipofil dan dapat mencegah radikal bebas perusak sel
salah satunya adalah ROS (reactive oxygen species) (Agarwal, et.
al.,2001).

Likopen yang terkandung dalam buah tomat dapat


menghambat radikal bebas akibat proses karsinogenesis DMBA
(dimetilbenzen()antrasena) dengan cara menghambat aktivasi
metabolisme senyawa DMBA menjadi proximate carcinogen dan
menghambat interaksi senyawa ultimate carsinogen dari DMBA
dengan target makromolekul (DNA). Enzim sitokrom P-450
terutama CYP1A1 memetabolisme DMBA menjadi metabolit
epoksida (ultimate carcinogen) reaktif yang dapat berinteraksi
dengan DNA (DNA adduct) dan menyebabkan kerusakan DNA
sebagai proses awal karsinogenesis. Ketika aktivitas enzim
sitokrom P-450 dihambat, maka pembentukan senyawa ultimate
carcinogen akan menurun dan kemampuan untuk memacu
terjadinya karsinogenesis (inisiasi) menjadi berkurang (Mein, et.
al., 2008).
Buah tomat segar dan produk olahan tomat merupakan sumber likopen
paling banyak, sehingga banyak penelitian mengenai manfaat likopen sebagai
antioksidan alami yang difokuskan pada buah tomat dan produk olahannya
(Preedy and Ronald, 2008).
2.4 Ektraksi Likopen
Ekstraksi adalah proses perpindahan satu atau lebih senyawa dari satu fase
ke fase lainnya (Wilson, et. al., 2000). Maserasi adalah salah satu jenis metode
ekstraksi dengan sistem tanpa pemanasan atau dikenal dengan istilah ekstraksi
dingin, pada metode ini pelarut dan sampel tidak mengalami pemanasan.
Maserasi merupakan teknik ekstraksi yang dapat digunakan untuk senyawa
yang tidak tahan panas ataupun tahan panas. Maserasi merupakan cara
penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk
simplisia dalam cairan penyari. Prinsip maserasi adalah pendesakan zat aktif
dari dalam sel simplisia. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan
masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif dan akan melarutkan
zat aktif tersebut. Terjadi perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di
dalam sel dengan luar sel, menyebabkan larutan yang pekat di dalam sel di
desak keluar (Britton, et. al., 1995).
Pemilihan pelarut ekstraksi bergantung pada keadaan sampel dan
komposisi karotenoid. Karoten larut pada pelarut non polar seperti heksana
dan toluen sedangkan xantofil larut pada pelarut polar seperti metanol dan
piridin. Jika kisaran kepolaran karotenoid dalam sampel sangat lebar, maka
cara ekstraksinya memerlukan lebih dari satu jenis pelarut, sehingga
digunakan pelarut campuran, misalnya aseton -mmetanol (Britton, et. al.,
1995).
Ekstraksi likopen dari buah tomat dengan menggunakan pelarut campuran
nheksana aseton - metanol perbandingan 2:1:1, dengan cara

menyampurkan sampel dengan pelarut kemudian dikocok dengan shaker pada


kecepatan 140 rpm selama 10 menit (Maulida dan Naufal, 2010).
2.5 Fraksinasi Likopen
Fraksinasi merupakan proses pemisahan antara zat cair dengan zat cair.
Fraksinasi dilakukan secara bertingkat berdasarkan tingkat kepolarannya yaitu
dari non polar, semi polar, dan polar. Senyawa yang memiliki sifat non polar
akan larut dalam pelarut non polar, yang semi polar akan larut dalam pelarut
semi polar, dan yang bersifat polar akan larut kedalam pelarut polar.
Fraksinasi ini umumnya dilakukan dengan menggunakan metode corong pisah
atau kromatografi (Harborne, 1996).
Kromatografi adalah metode fisika untuk pemisahan dalam mana
komponen-komponen yang akan dipisahkan didistribusikan antara dua fase,
salah satunya merupakan lapisan stasioner dengan permukaan yang luas, dan
fase yang lain berupa zat alir (fase gerak) yang mengalir lambat sepanjang
lapisan stasioner tersebut (fase diam). Dalam semua teknik kromatografi, zat
terlarut yang akan dipisahkan bermigrasi sepanjang suatu kolom (atau seperti
dalam kromatografi kertas atau lapisan tipis, padanan fisika dari suatu kolom)
(Day and Underwood, 1999).
Salah satu teknik kromatografi adalah kromatografi kolom gravitasi.
Metode pemisahan menggunakan kromatografi kolom gravitasi, sampel
dilarutkan dalam sebuah pelarut, kemudian dilewatkan ke dalam kolom yang
berisi adsorben dan mengelusinya (turun) dengan pelarut yang sama atau
berbeda. Kromatografi kolom gravitasi digunakan secara konvensional untuk
tujuan pemisahan komponen-komponen dari sejumlah campuran dalam
kuantitas milligram atau gram (Lehman, 2008).
Fase diam pada kromatografi kolom berupa adsorben yang tidak boleh
larut dalam fase gerak. Ukuran partikel fase diam harus seragam. Sebagai fase
diam dapat digunakan alumina, silika gel, arang, bauksit magnesium karbonat,
talk, pati, selulosa. Pengisian fase diam ke dalam kolom umumnya dilakukan
dengan cara basah, yaitu dengan mengubah fase diam menjadi bubur lumpur
(slurry) menggunakan fase gerak, kemudian dituangkan ke dalam kolom. Fase
gerak pada kromatografi kolom dapat beruapa pelarut tunggal atau campuran
beberapa pelarut dengan komposisi tertentu (Soebagio, dkk., 2003).
Pemisahan komponen campuran melalui kromatografi kolom tergantung
pada kemampuan untuk berinteraksi dengan fase diam dengan cara melarut di
dalamnya, teradsorpsi atau bereaksi secara kimia. Tingkat adsorpsi komponen
tergantung pada polaritas molekul, aktivitas adsorben, dan polaritas fase
gerak. Umumnya, senyawa dengan gugus fungsional lebih polar akan
teradsorbsi lebih kuat pada permukaan fase diam. Aktivitas adsorben
tergantung pada komposisi kimianya, ukuran partikel, dan pori-pori partikel
Komponen yang terpisah ditunjukkan melalui pita-pita yang muncul pada fase

diam dan masing-masing pita terelusi keluar kolom dengan penambahan fase
gerak, lalu ditampung, dipisahkan dan diidentifikasi (Braithwaite and Smith,
1995).
Tabel 1. Urutan Tingkat Kepolaran Eluen, Elusi Senyawa, dan Kekuatan
Adsorben (Johnson dan Stevenson, 1991).
2.6 Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Ditinjau secara fisik, kromatografi lapis tipis merupakan salah satu jenis
kromatografi planar. KLT memiliki banyak kesamaan dengan kromatografi
kertas dalam penotolan sampel, pengembangan kromatogram dan cara
deteksinya, tapi proses pemisahan yang terjadi pada KLT dan kromatografi
kertas berbeda. Pada KLT, pemisahan yang terjadi secara adsorpsi sedangkan

dalam

proses

kromatografi

kertas
pemisahan

terjadi secara partisi.


Fase diam dalam KLT berupa padatan penyerap yang dihasilkan pada
sebuah plat datar dari gelas, plastik atau alumina sehingga membentuk lapisan
tipis dengan ketebalan tertentu. Fase diam atau penyerap yang bisa digunakan
sebagai pelapis plat adalah silika gel (SiO2), selulosa, alumina (Al2O3) dan
kieselgur (tanah diatome). Kebanyakan penyerap yang digunakan adalah silika
gel, dimana telah tersedia plat yang siap pakai (Prakash, 2001).

2.7 Identifikasi Likopen


2.6.1. Metode Kolorimetri
Metode kolorimetri adalah pengukuran serapan radiasi
elektromagnetik pada panjang gelombang tertentu yang sempit,
mendekati monokromatis pada panjang gelombang antara 180
780 nm. Metode ini berdasarkan pada pembentukan senyawa
berwarna yang memberikan serapan pada daerah panjang
gelombang tertentu. Saat cahaya monokromatis melewati zat atau
suatu media, maka intensitas sinar tersebut akan berkurang. Hal ini

disebabkan karena adanya sebagian cahaya yang diserap oleh


media tersebut, sementara sisanya akan dipantulkan kembali
(Khopkar, 2002).
2.6.2. Spektrofotometri UV Visibel
Spektrofotometri UV-Vis menghasilkan informasi tentang
senyawa dengan ikatan rangkap terkonjugasi. Cahaya ultraviolet
dan cahaya tampak harus mempunyai energi yang cocok untuk
menyebabkan transisi elektron. Cahaya ultraviolet adalah radiasi
elektromagnetik dengan panjang gelombang berkisar antara 180400 nm. Cahaya tampak (visible) adalah radiasi elektromagnetik
dengan panjang gelombang berkisar antara 400 -780 nm (Bruice,
2004).
Proses absorpsi cahaya UV-Vis berkaitan dengan transisi
elektron dari satu orbital molekul dengan tingkat energi elektronik
tertentu ke orbital molekul lain dengan tingkat energi elektronik
yang lebih tinggi. Transisi elektronik tersebut biasanya adalah ke
* atau ke * (bersesuaian dengan energi cahaya UV), dan ke
* atau ke *. Transisi ke * dan ke * terjadi pada molekul
dengan gugus tak jenuh yang membutuhkan energi lebih rendah
dan terjadi pada panjang gelombang yang lebih panjang dibanding
transisi ke orbital * (Owen, 2000).
Sistem ikatan rangkap terkonjugasi merupakan kromofor
penyerap cahaya yang memberikan warna menarik pada karotenoid
dan menghasilkan spektrum sinar tampak yang berfungsi sebagai
dasar untuk identifikasi dan kuantifikasi. Warna menjadi
pemantauan visual pada pemisahan karotenoid denngan
kromatografi kolom. Untuk alasan ini teknik klasik masih menjadi
pilihan yang tepat untuk analisis kuantitatif karotenoid. Spektrum
ultraviolet dan tampak adalah salah satu cara untuk
mengidentifikasi karotenoid. Panjang gelombang serapan
maksimum ( max) dan bentuk spektrum merupakan karakteristik
dari kromofor. Semakin banyak jumlah ikatatan rangkap
terkonjugasi, semakin tinggi nilai max. Dengan demikian,
karotenoid dengan rantai karbon asiklik tak jenuh terbanyak yaitu
likopen (11 ikatan rangkap terkonjugasi), memiliki serapan pada
panjang gelombang terpanjang yaitu 470 nm (Rodrigues- Amaya,
2005).
Prinsip kerja spektrofotmerti UV Vis berdasarakan pada
hukum Lambert-Beer, yaitu ketika seberkas cahaya melewati
media transparan yang mengandung larutan suatu substansi yang
dapat menyerap cahaya tersebut, dan pengurangan intensitas

cahaya mungkin terjadi (Li & Chen, 2012). Hal tersebut dapat
dinyatakan dengan persamaan: A= b c ; dimana A merupakan
absorbansi atau kerapatan optikal, ialah koefisien penyerapan
molar, b adalah ketebalan media yang dilewati radiasi (cm), dan c
ialah konsentrasi zat terlarut dalam larutan. Ketika b dan konstan
(tidak mengalami perubahan) maka A dapat dihubungkan secara
langsung dengan c. Ketika c dalam gram/100 mL, maka dengan
langsung A (1%, 1cm) dapat disimpulkan dengan persamaan:
A

1
bc
1 cm

(Na, 2014).

2.8 Uji Aktivitas Antioksidan dengan Metode DPPH


2.7.1.
Antioksidan
Antioksidan adalah unsur kimia atau biologi yang dapat
menetralisasi potensi kerusakan yang disebabkan oleh radikal
bebas tadi. Beberapa antioksidan endogen (seperti enzim
superoxide-dismutase dan katalase) dihasilkan oleh tubuh,
sedangkan yang lain seperti vitamin A, C, dan E merupakan
antioksidan eksogen yang harus didapat dari luar tubuh seperti
buah-buahan dan sayur-sayuran (Iorio, 2007).
Berdasarkan sumbernya antioksidan dibagi dalam 2
kelompok yaitu antioksidan alami dan antioksidan sintetis.
Berdasarkan mekanisme kerjanya, antioksidan digolongkan
menjadi 3 kelompok yaitu antioksidan primer, sekunder, dan
tersier.
a. Antioksidan primer yang mampu mengurangi
pembentukan radikal bebas baru dengan cara memutus
reaksi berantai dan mengubahnya menjadi produk yang
lebih stabil. Contohnya adalah superoksida dismutase
(SOD), glutation peroksidase, dan katalase yang dapat
mengubah radikal superoksida menjadi molekul air
(Winarsi, 2007).
b. Antioksidan sekunder berperan mengikat radikal bebas
dan mencegah amplifikasi senyawa radikal. Beberapa
contohnya adalah golongan karotenoid, yaitu vitamin A
( - karoten), vitamin C, vitamin E, dan senyawa
fitokimia (Soewoto, 2001).
c. Antioksidan tersier berperan dalam mekanisme
biomolekuler, seperti memperbaiki kerusakan sel dan
jaringan yang disebabkan radikal bebas (Winarsi, 2007).
2.7.2.
Radikal Bebas (Iorio, 2007).

2.7.3.

Radikal bebas merupakan atom tunggal atau berkelompok


yang sedikitnya mempunyai satu orbit terluar yang mempunyai
satu elektron tunggal (tidak berpasangan) di mana seharusnya
mempunyai elektron berpasangan sehingga menjadikan radikal
bebas sangat reaktif.
Mekanisme yang paling umum terjadi di mana radikal
bebas dapat melawan pertahanan antioksidan, radikal bebas
tersebut akan menyerang komponen biokimia di dalam tubuh dan
membentuk hidroperoksida. Dalam bentuk patofisiologis tersebut,
sel akan mulai memproduksi radikal bebas dalam jumlah banyak,
dikarenakan stres eksogen (unsur kimia, fisik dan biologi) dan atau
aktivitas metaboliknya (khususnya pada membran plasma,
mitokondria, retikulum endoplasma, dan sitosol), diantaranya
terdapat radikal hidroksil (HOH) yang berbahaya, dan merupakan
salah satu Reactive Oxygen Species (ROS) yang paling berbahaya.
Radikal hidroksil dapat menyarang setiap macam molekul
(termasuk karbohidrat, lemak, asam amino, peptide, protein,
nukleotid, asam nukleat dan lain-lain). Akibat dari proses ini, setiap
molekul akan kehilangan satu elektron dan kemudian menjadi
radikal. Setelah itu akan mulai terjadi reaksi rantai radikal,
dikarenakan adanya molekul oksigen (melalui pernapasan), dan
terbentuknya hidroperoksida (ROOH), sejenis Reactive Oxygen
Metabolytes (ROMs).
Metode DPPH (1,1 difenil 2- pikrilhidrazil)
DPPH merupakan radikal bebas yang stabil pada suhu kamar
dan sering digunakan untuk menilai aktivitas antioksidan beberapa
senyawa atau ekstrak bahan alam. Interaksi antioksidan dengan
DPPH baik secara transfer elektron atau radikal hidrogen pada
DPPH akan menetralkan karakter radikal bebas dari DPPH.
Prinsip uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH adalah
penghilangan warna untuk mengukur kapasitas antioksidan pada
panjang gelombang 517 nm menggunakan spektrofotometer UV
Vis. Radikal DPPH dengan nitrogen organik terpusat adalah radikal
bebas stabil dengan warna ungu gelap yang ketika direduksi
menjadi bentuk non radikal oleh antioksidan akan menjadi warna
kuning (Yu, 2008).

Gambar 3.
Reaksi

Penghambatan
Radikal
Bebas pada
Metode
DPPH
(Molyneux, 2004).
Parameter
yang digunakan untuk pengukuran aktivitas antioksidan pada
metode DPPH adalah IC50, yaitu bilangan yang menunjukkan
konsentrasi ekstrak yang mampu menghambat aktivitas suatu
radikal sebesar 50%. Untuk menentukan IC50, diperlukan
persamaan kurva standar dari %inhibisi sebagai sumbu y dan
konsentrasi fraksi antioksidan sebagai sumbu x. IC 50 dihitung
dengan cara memasukkan nilai 50% ke dalam persamaan kurva
standar sebagai sumbu y kemudian dihitung nilai x sebagai
konsentrasi IC50. Semakin kecil nilai IC50 menunjukkan semakin
tinggi aktivitas antioksidannya (Molyneux 2004).
2.9 Landasan Teori
Tomat memiliki kandungan likopen yang cukup tinggi yaitu sebesar 63,6%
(Tadmor, Y., et. al.,2005). Likopen adalah senyawa golongan karotenoid yang
merupakan hidrokarbon alifatik serta mengandung 13 ikatan rangkap (Preedy
and Ronald, 2008). Senyawa golongan karotenoid larut pada pelarut non polar
seperti heksana dan toluen (Britton, et. al., 1995) sehingga likopen akan
terekstraksi dengan baik pada fraksi non polar.
Likopen merupakan senyawa antioksidan yang menghambat radikal bebas
dengan mekanisme mengikat dan mencegah amplifikasi radikal bebas
(Soewoto, 2001). Penetapan aktivitas antioksidan likopen dilakukan dengan
metode DPPH menggunakan parameter IC50. Semakin kecil nilai IC50
menunjukkan semakin tinggi aktivitas antioksidannya (Molyneux, 2004).
Aktivitas antioksidan likopen yang tinggi ditunjukkan dengan semakin
banyaknya jumlah likopen yang dapat mengikat radikal bebas tersebut.
2.10 Hipotesis
Jumlah likopen tomat (Lycopersicum esculentum) dalam fraksi non polar
berpengaruh terhadap aktivitas antioksidan.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian
3.2 Variabel Penelitian
Variabel bebas

: Eksperimental murni dengan rancangan


acak lengkap pola searah
: pelarut ekstraksi, fase diam, fase gerak (pada
sistem kromatografi kolom dan KLT), jumlah
likopen

Variabel tergantung

: warna bercak, nilai Rf, nilai IC50 fraksi aktif


likopen.

3.3 Alat dan Bahan


Alat :
1. Statif dan klem
2. Kompor listrik
3. Kondensor
4. Labu alas bulat
5. Termometer
6. Micropipet
7. Magnetic Stirrer
8. Rotary Evaporator
9. Glass firn
10. Blender
11. Kertas saring
12. Corong
13. Tabung reaksi bertutup
14. Gelas beaker
28.

15. Gelas ukur


16. Pipet ukur
17. Pipet tetes
18. Neraca analitik
19. Spektrofotometer UV Vis
20. Kuvet
21. Kolom kromatografi
22. Cawan
23. Wajan
24. Pisau
25. Steamer
26. Vortex
27. Corong Pisah

Bahan :

1. Buah tomat (Lycopersicum


esculentum Mill.)
2. Likopen
3. Metanol
4. Aseton

5. Heksan
6. Petroleum Eter
7. Silica gel GF254
8. Aluminium Foil
9. Akuades
10. Tissue

11.
12.
13.
3.4 Cara Kerja
3.4.1. Penyiapan Sampel Pasta Buah Tomat
14.
Buah tomat diambil dari pasar tradisional di daerah
Maguwoharjo, Sleman sebanyak 1 kg. Kemudian dicuci dengan air
sambil dihilangkan bagian-bagian yang tidak perlu, seperti tangkai
atau daun, kemudian ditiriskan. Buah tomat yang sudah bersih
kemudian dihilangkan bijinya, lalu dikukus (steam) selama 5 menit,
setelah itu dihilangkan kulit arinya. Kemudian buah tomat tersebut
dihancurkan dengan menggunakan blender sampai halus selama 2
menit. Bubur tomat halus tersebut kemudian dievaporasi dengan
menggunakan wajan atau panci, sambil diaduk. Suhu selama proses
evaporasi berlangsung diusahakan konstan pada 70C. Proses
evaporasi ini memakan waktu selama 8 jam.
3.4.2. Ekstraksi Likopen dari Pasta Tomat
15.
Pasta tomat dimasukkan kedalam gelas beaker 500 mL dan
ditambah dengan 150 ml metanol. Campuran diaduk selama 5 menit,
kemudian campuran disaring, endapan dengan kuantitas yang sama
dimasukkan ke dalam empat erlenmeyer 1000 ml bertutup yang
dilapisi dengan aluminium foil pada bagian luar. Tambahkan campuran
pelarut n-heksana, aseton, dan metanol dengan perbandingan berturutturut 2:1:1; 1:2:1; dan 1:1:1 (volume pelarut adalah 5 kali volume
sampel basah), kemudian di shaker dengan kecepatan 150 rpm selama
30 menit. Campuran dipindahkan ke dalam corong pisah, ditambah 10
ml akuades, dikocok kembali kemudian didiamkan selama 15 menit
(sampai terbentuk dua fase). Lapisan atas (non polar) diambil dan
diuapkan menggunakan rotary evaporator. Ekstrak pekat hasil rotary
evaporator dimasukkan ke dalam botol kaca dan diukur volumenya.
Beberapa ml ekstrak tersebut diuji dengan kolom kromatografi untuk
mendapatkan fraksi.
3.4.3. Fraksinasi Ekstrak Likopen
16.
Ekstrak likopen dilewatkan dalam kolom kromatografi
yang didalamnya terdapat fase diam silica gel GF dan eluen yaitu
campuran n heksana dan petroleum eter perbandingan 2:1. Fraksi
dengan warna berbeda ditampung dalam wadah yang berbeda. Fraksi
yang diperoleh dibuat profil KLT nya.
3.4.4. Pengelompokkan Fraksi Berdasarkan Profil KLT
3.4.4.1 Pembuatan Larutan Standar Likopen (1mg/ml)
17.
Sebanyak 10 mg likopen ditimbang dan dilarutkan
dengan metanol p. a dalam labu ukur 10 ml. Ditambahkan

metanol p. a hingga batas tanda, kemudian dikocok sampai


homogen.
3.4.4.2 Pembuatan Profil KLT
18.
Dilakukan penotolan sampel fraksi likopen dan
karutan standar likopen pada plat KLT, kemudian dielusikan
dengan eluen campuran n heksana dan petroleum eter
perbandingan 2:1. Bercak pada plat KLT dikelompokkan sesuai
profil KLTnya. Hasil pengelompokkan tersebut diuapkan di
atas waterbath hingga ditemukan bobot tetapnya.
3.4.5. Identifikasi Fraksi Aktif Likopen dengan Spektrofotometer UV Vis
3.4.5.1 Pembuatan Larutan Stok Likopen (1000g/ml)
19.
Sebanyak 50 mg likopen ditimbang dan dilarutkan
dengan metanol p. a dalam labu ukur 50, 0 ml. Ditambahkan
metanol p. a hingga tanda batas, kemudian dikocok sampai
homogen.
3.4.5.2 Pembuatan Larutan Seri Likopen
20.
Larutan stok Likopen konsentrasi 1000g/ml
dipipet sebanyak 0,2 ; 0,4 ; 0,6 ; 0,8 ; 1 ml, kemudian
dimasukkan masing masing ke dalam labu ukur 10 ml.
Ditambahkan metanol p.a hingga tanda batas, kemudian
dikocok sampai homogen. Diperoleh larutan seri likopen
dengan kadar 20 ; 40 ; 60 ; 80 ; 100 g/ml.
3.4.5.3 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Likopen
21.
Larutan seri likopen dengan kadar 60 g/ml diukur
serapannya dengan spektrofotometer UV Vis pada panjang
gelombang 200 800 nm untuk menentukan panjang
gelombang maksimumnya. Dengan melihat panjang gelombang
dimana terjadinya serapan maksimum.
3.4.5.4 Pengukuran Serapan Larutan Seri Likopen
22.
Larutan seri dengan konsentrasi 20 ; 40 ; 60 ; 80 ;
100 g/ml diukur serapannya pada panjang gelombang
maksimum likopen yang telah diperoleh sebelumnya. Dari hasil
pengukuran larutan seri ini akan diperoleh kurva kalibrasi
likopen.
3.4.5.5 Pengukuran Serapan Larutan Sampel Fraksi Likopen
23.
Fraksi yang telah diperoleh dan ditetapkan bobot
tetapnya dilarutkan dengan metanol p. a dalam labu ukur 10,0
ml, kemudian diukur serapannya masing masing pada
panjang gelombang maksimum yang telah ditetapkan
sebelumnya.
3.4.5.6 Perhitungan Kadar Likopen dalam Sampel

24.
Absorbansi yang diperoleh pada pengukuran
sebelumnya, dikonversikan melalui perhitungan regresi dan
kurva kalibrasi likopen untuk mendapatkan kadar dari masing
masing sampel fraksi likopen
3.4.6 Uji Aktivitas Antioksidan Sampel Fraksi Likopen
3.4.6.1 Pembuatan Larutan DPPH
25.
Sebanyak 10 mg DPPH ditimbang dan dilarutkan
dengan metanol p. a ke dalam labu ukur 100,0 ml kemudian
ditambahkan hingga batas tanda lalu dikocok sampai homogen
hingga didapatkan larutan DPPH 100 g/ml. Larutan DPPH ini
disimpan dalam wadah yang tekah dilapisi alumunium foil agar
terlindung dari cahaya. Larutan ini dibuat baru setiap kali akan
digunakan.
3.4.6.2 Pembuatan Larutan Blanko
26.
Sebanyak 1,0 ml metanol p. a dimasukkan ke dalam
tabung reaksi kemudian ditambahkan 1,0 ml larutan DPPH 100
g/ml. Campuran tersebut dikocok sampai homogen.
3.4.6.3 Optimasi Metode
3.4.6.3.1 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum DPPH
27.
Larutan DPPH dengan kadar 100 g/ml
yang telah dibuat sebelumnya diukur serapannya pada
panjang gelombang 200 800 nm, kemudian ditentukan
panjang gelombang maksimumnya, dengan melihat
panjang gelombang dimana terjadinya serapan
maksimum.
3.4.6.3.2 Penentuan Reaction Time
28.
Sebanyak 5,0 ml larutan DPPH 100g/ml
dimasukkan ke dalam tabung reaksi bertutuo dan telah
dilapisi alumunium foil, kemudian ditambahkan larutan
stok likopen sebanyak 5,0 ml. Campuran tersebut
dikocok sampai homogen. Campuran tersebut diukur
serapannya selama
3.4.6.4 Pengukuran Serapan Larutan Sampel Fraksi Likopen
29.
Sebanyak 5,0 ml larutan DPPH 100g/ml
dimasukkan ke dalam tabung reaksi bertutup dan telah
dilapisi alumunium foil, kemudian ditambahkan larutan
sampel fraksi likopen sebanyak 5,0 ml. Campuran tersebut
dikocok sampai homogen, didiamkan selama OT.
Campuran
tersebut
diukur
serapannya
dengan
spektrofotometer UV-Vis pada 517 nm.
3.4.6.5 Perhitungan Aktivitas Antioksidan Likopen dalam Sampel

30. Perhitungan dapat dilakukan dengan mengetahui


absorbansi dari kontrol (blanko) dikurangi dengan
absorbansi sampel, kemudian dibandingkan dengan
absorbansi kontrol (blanko) dan dinyatakan dalam persen.
31.
32.
3.5

Indikator Capaian yang Terukur


33.
Indikator yang dapat diukur adalah turunnya kadar radikal
bebas (DPPH) pada sampel. Hal ini dapat diamati dari nilai IC 50 pada
fraksi aktif likopen lebih kecil dibanding fraksi lainnya, di mana semakin
kecil nilai IC50 maka semakin besar potensi antioksidannya.
3.6
Teknik Pengumpulan Data dan Analisis Data
34.
Pengukuran kadar radikal bebas meliputi pengukuran
blanko dan pengukuran sampel (DPPH dan fraksi aktif likopen). Data
yang diperoleh dianalisa dengan uji statistika.
3.7
Penyimpulan Hasil Penelitian
35.
Hasil yang diperoleh dari penelitian akan digunakan
sebagai data untuk penyimpulan tentang fraksi aktif likopen dari tomat
yang memiliki potensi antioksidan paling baik dalam menangkap radikal
bebas (DPPH).
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.

48.
50.

51.
52.
53.

54.
55.

56.
57.

58.
59.
60.
61.

62.

63.

DAFTAR PUSTAKA
49.
Agarwal, A., Shen, H., and Rao, A. V., 2001, Lycopene Content of
Tomato Products : Its Stability, Bioavailability, and In Vivo
Antioxidant Properties, J. Med. Food, (4), 9 15.
Anonim, 2009, Buku Pintar Budi Daya Tanaman Buah Unggul
Indonesia, Agromedia Pustaka, Jakarta, 34.
Badan Pusat Statistik, 2011, Produksi Sayuran di Indonesia,
http://www.bps.go.id., diakses tanggal 15 April 2016.
Bohm, V., Puspitasari-Nienaber, N. L., Ferruzi M. G., and
Schwarts, S. J., 2002, Trolox Equivalen Antioxidant Capacity of
Different Geometrical Isomer of - caroten, -caroten, Lycopene,
and Zeaxanthin, J. Agric. Food Chem, (50), 221- 226.
Braithwaite, A., and Smith, F. J., 1995, Chromatographic Methods,
Kluwer Academic Publishers, London.
Britton, G., Jensen, S.L., and Pfander, H., 1995, Carotenoids
Volume IA: Isolation and Analysis, Birkhauser Verlag, Berlin, 211.
Bruice, P.Y., 2004, Organic Chemistry, Fourth Edition, Prentice
Hall, Upper Saddle River, New Jersey.
Canene-Adams, K., Campbell, J. K., Zaripheh, S., Jeffery, E. H.,
and Erdman, J. W. Jr., 2005, The Tomato As a Functional Food, J.
Nutr, (135), 12261230.
Day, R. A., dan Underwood, A. L., 1999, Analisis Kimia
Kuantitatif, Penerbit Erlangga, Jakarta, 491.
DeMan, J. M., 1997, Kimia Makanan, Edisi 2, Penerbit ITB,
Bandung, 262 272.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007, Riset Kesehatan
Dasar, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Jakarta.
Dutta, D., Chaudhuri,U.R., and Chakraborty, R., 2005, Structure,
Health Benefits, Antioxidant Property and Processing and Storage
of Carotenoids, African Journal of Biotechnology Vol. 4 (13), pp.
1510-1520.
Fuhramn, B., Elis, A., Aviram, M., 1997, Hypocholesterolemic
Effect of Lycopene and -Carotene is Related to Suppression of
Cholesterol Synthesis and Augmentation of LDL Receptor Activity
in Macrophage, Biochem Biophys Res. Commun, (23). 658662.
George, B., Kaur, C., Khurdiya, D. S., and Kapoor, H. C., 2004,
Antioxidant in Tomato (Lycopersicum esculentum) as a Function of
Genotype, Food Chem, (84), 45-51.

64.
65.

66.

67.

68.

69.
70.
71.
72.
73.

74.

75.
76.

77.
78.

Harborne, J.B., 1996, Metode Fitokimia : Penuntun Cara Modern


Menganalisis Tumbuhan, Penerbit ITB, Bandung, 38 - 40.
Handajani, A., Roosiehermiatie, dan Maryani, H., 2010, Faktor
Faktor yang Berhubungan Dengan Pola Kematian pada Penyakit
Degeneratif di Indonesia, Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan, 42 43.
Iorio, E.L., 2007, The Measurement of Oxidative Stress,
International Observatory of Oxidative Stress, Free Radicals and
Antioxidant Systems, New Jersey.
Maulida, D. dan Naufal, Z., 2010, Ekstraksi Antioksidan (Likopen)
dari Buah Tomat dengan Menggunakan Solven Campuran nHeksana, Aseton dan Etanol, Jurusan Teknik Kimia Fakultas
Teknik Universitas Diponegoro, Semarang.
Mein, J.R., Fuzhi, L., and Xiang-Dong, W., 2008, Biological
Activity of Lycopene Metabolites: Implications for Cancer
Prevention, Lead Article Nutrition Reviews, 66 (12): 667683.
Johnson, E.L, dan Stevenson, R., 1991, Dasar Kromatografi Cair,
ITB Press, Bandung, 67.
Jones, B. S., and Arlene, E. L., 1987, Plant Systematic 2 nd edition,
University Georgia Libraries, Singapura, 15.
Khopkar, S. M., 2002, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI Press,
Jakarta.
Lehman, J.W., 2008, Operational Organic Chemistry, 4th edition,
Prentice Hall : Upper Saddle River, New Jersey.
Levy J., Bosin, E., Feldmen, B., Giat, Y., Miinster, A., Danilenko,
M., and Sharoni, Y., 1995, Lycopene is a More Potent Inhibitor of
Human Cancer Cell Proliferation than Either -Carotene or
carotene, Nutr Cancer, (24), 257266.
Li, Y., and Chen, S.M., 2012. The Electrochemical Properties of
Acetaminophen on Bare Glassy Carbon Electrode, International
Journal of Electrochemical Science, 7(3), 21752187.
Lockwood, B., 2007, Nutraceuticals 2nd edition, Pharmaceutical
Press, USA.
Molyneux, P., 2004, The Use of The Stable Free Radical Diphenyl
Picrylhydrazil (DPPH) for Estimating Antioxidant Activity,
Songklankarin J. Sci. Technol., 26 (2), 211- 219.
Na, 2014, Ultraviolet -Visible Spectroscopy (UV), Spectroscopy in
a Suitcase (Students Resource), 68.
ONeil, M. J., 2006, The Merck Index, An Encyclopediiologicals,
14th edition, Merck & Co., Inc., N.J., USA, 630, 974 -975, 6973.

79.
80.
81.

82.

83.
84.
85.
86.

87.
88.
89.
90.
91.
92.
93.
94.
95.
96.
97.
98.

Owen, T., 2000, Fundamentals of Modern UV-Visible


Spectroscopy, Agilent Technologies, German, 3-6.
Prakash, A., 2001, Antioxidant Activity, Medallion Laboratories :
Analithycal Progress ,Vol 19 (2), 1 4.
Preedy, V.R., and Ronald, R.W., 2008, Lycopene: Nutritional,
Medicinal and Therapeutic Properties, Science Publishers, Enfield,
NH, USA.
Rao, L. G., Guns, E., Rao, A., 2003, Lycopene: Its Role in Human
Health and Disease, AGROFood Industry Hi-Tech., 25-30.
Rodrigues-Amaya, D.B., 2005, A Guide to Carotenoid Analysis in
Foods, ILSI Press, Washington.
Shebis, Y., et. al., Natural Antioxidants : Sources and Functions,
Food and Nutrition Sciences, (4), 643-649.
Soebagio, Budiasih, E., Ibnu, M.S., Widarti, H.R., dan Munzil.,
2003, JICA-Kimia Analitik II, Universitas Negeri Malang, Malang.
Soewoto, H., 2001, Antioksidan Eksogen Lini Pertahanan Kedua
dalam Menanggulangi Peran Radikal Bebas dalam : Materi Kursus
Penyegar Radikal Bebas dan Antioksidan dalam Kesehatan: Dasar,
Aplikasi dan Pemanfaatan Bahan Alam, UI Press, Jakarta.
Tadmor, Y., et. al., Comparative Fruit Colouration in Watermelon
and Tomato, Journal Food International (38), 837- 841.
Tugiyono, H., 2005, Tanaman Tomat, Agromedia Pustaka, Jakarta,
50 51.
Wahyu, B. T., 2008, Bertanam Tomat, PT. Agromedia Pustaka,
Tangerang.
Wilson, I.D., Edward, R., Adlard, M. C., and Poole, Encyclopedia
of Separation Science, Edinburgh, Academic Press, 134 135.
Winarsi, H., 2007, Antioksidan Alami dan Radikal Bebas, Kanisius,
Yogyakarta, 16 20.
Yu, L., 2008, Wheat Antioxidant, Wiley, USA. 174.

99.
100.
101.
102.
103.