Anda di halaman 1dari 15

KONSEP TERJADINYA SPESIASI ALOPATRIK

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Weni Rahayu Putri


: B1J013094
: VIII
:2
: Windy Nurul Wulandari

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN I

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Keanekaragaman makhluk hidup merangsang untuk disederhanakan dengan


cara dikelompokkan. Hasil pengelompokan spesies dapat bervariasi tergantung pada
kriteria yang digunakan sebagai dasar pengelompokan. Banyak sedikitnya kesamaan
ciri atau sifat yang dimiliki antar spesies

dengan spesies lainnya menentukan

kekerabatan spesies tersebut. Nama ilmiah yang diberikan pada jenis dan marga
spesies sering kali dapat digunakan untuk menentukan kekerabatan spesies tersebut
(Djuhanda, 1981).
Studi kekerabatan merupakan salah satu aspek yang di pelajari dalam
taksonomi hewan. Kekerabatan mencakup dua pengertian, yaitu kekerabatan
filogenetik dan kekerabatan fenetik. Kekerabatan filogenetik adalah kekerabatan
yang di dasarkan pada hubungan filogeni antara takson yang satu dan takson yang
lain, sedangkan kekerabatan fenetik adalah kekerabatan yang di dasarkan pada
persamaan dan perbedaan ciri-ciri yang tampak pada takson (Stearns et al., 2003).
Spesiasi merupakan terbentuknya spesies baru. Terdapat dua proses yang
mengakibatkan terbebtunya spesiasi yaitu spesies baru terbentuk karena isolasi
reproduksi, seperti dalam poliploidi dan spesies baru terbentuk karena rekonstruksi
genetik secara gradual didalam populasi. Model spesiasi ada tiga macam yaitu
spesiasi alopatrik yang terbentuk karena adanya perbedaan atau isolasi gegrafis,
spesiasi parapatrik terbentuk karena isolasi reproduksi berkembang dalam beberapa
gen flow diantara populasi-populasi dan spesiasi simpatrik yaitu terbentuknya spesies
baru karena pada tempat atau lokasi yang sama (Wallace, 1992).
Hasil perbandingan antara ciri-ciri yang mirip dengan semua ciri-ciri yang
digunakan berupa nilai rata-rata kemiripan ciri, hal ini sekaligus menunjukkan
tingkat hubungan kekerabatan antara taksa yang dibandingkan. Nilai rata-rata
kemiripan ciri selanjutnya digunakan untuk menggambar fenogram. Kedekatan
hubungan kekerabatan dari beberapa spesies sampel dihitung dengan menggunakan
koefisien asosiasi, yaitu bilangan yang menunjukkan nilai kesamaan antara
organisme yang satu dengan organisme yang lain (Stearns et al., 2003).

MEGA (Molekuler Analisis Genetika Evolusioner) adalah perangkat lunak


bebas tersedia untuk membantu para ilmuwan dan mahasiswa dalam membuat
dendrogram, atau pohon filogenetik dengan menggunakan urutan nukleotida atau
protein. Penggunaan dari software ini mudah untuk database online, membuat urutan
alignment, serta pohon filogenetik. Software ini juga menggunakan metode
bioinformatika evolusioner dalam biologi dasar, biomedis dan evolusi (Tamura et al.,
2011).
B. Tujuan
Tujuan praktikum acara identifikasi dan klasifikasi hewan vertebrata kali ini,
antara lain :
1. Memahami konsep spesiasi
2. Memahami konsep spesiasi pada ikan
3. Menggunakan software aplikasi komputer yang mendukung penelitian tentang
konsep terjadinya spesiasi

II. TINJAUAN PUSTAKA


Spesiasi merupakan proses terbentuknya spesies baru dari spesies yang telah
ada sebelumnya. Spesiasi adalah proses kreatif yang mengarah pada penciptaan
keanekaragaman jenis. Jenis baru yang terbentuk mampu mengadakan pertukaran
gen atau melakukan perkawinan secara alami (interbreeding) untuk menghasilkan
keturunan yang fertil. Anggota-anggota suatu jenis memiliki lungkang gen (gene
pool) yang sama dan dengan aliran gen (gene flow) yang bebas di antara organismeorganismenya. Spesiasi merupakan puncak dari proses evolusi. Spesiasi pada suatu
populasi umumnya dapat disebabkan oleh mekanisme pengisolasian, mutasi dan
seleksi alam, serta poliploidi. Mekanisme pengisolasian dapat terjadi karena adanya
isolasi geografi pada populasi yang selanjutnya dapat menciptakan spesiasi
simpatrik, alopatrik, peripatrik parapatrik dan spesiasi simpatrik karena poliploidi.
(Muzayyinah, 2012). Beberapa studi filogenetik tentang ikan karang yang telah
dieksplorasi peran yang biogeografi dan hambatan untuk penyebaran telah berbeda
pada garis keturunan. Studi phylogeographic terbaru telah mengungkapkan
keanekaragaman yang tidak begitu nyata dalam spesies dan berpengaruh terhadap
hambatan hidrologi berpori. masing-masing penelitian telah memberikan wawasan
berharga, namun gambaran tentang peran hambatan tetap kurang (Cowman dan
David, 2013).
Konsep spesiasi Menurut (Stearns et al., 2003);
1. Konsep spesies biologi, menekankan isolasi reproduktif, yaitu kemampuan
anggota suatuspesies untuk saling mengawini satu sama lain tetapi tidak dengan
anggota spesies yang lain
2. Konsep spesies morfologis, menekankan perbedaan anatomi yang dapat terukur
antar spesies. Sebagian besar spesies yang diidentifikasi oleh para ahli
taksonomi telsh dikelompokkan menjadi spesies terpisah berdasarkan kriteria
morfologi.
3. Konsep spesies pengenalan, menekankan adaptasi perkawinan yang telah
mantap dalam suatu populasi, karena individu mengenali ciri-ciri tententu dari
pasangan kawin yang sesuai
4. Konsep spesies kohesi, menekankan kohesi fenotip sebagai dasar penyatuan
spesies, dengan masing-masing spesies ditentukan oleh kompleks gennya yang
terpadu dan kumpulan adaptasinya.

5. Konsep spesies ekologis, menekankan peranan spesies (niche), posisi dan


fungsinya dalam lingkungan.
6. Konsep spesies evolusioner, menekankan garis keturunan evolusi dan peranan
ekologis.
Spesiasi alopatrik adalah spesiasi populasi yang terbagi dua. Faktor yang
mempengaruhi terjadinya spesiasi alopatrik yaitu, fragmentasi habitat akibat
perubahan geografis, populasi yang terisolasi kemudian mengalami perbedaan
genotipik dan fenotipik mereka mengalami tekanan selektif yang berbeda atau
secara independen mereka menjalani pergeseran genetik. Ketika populasi kembali ke
dalam kontak, mereka telah berkembang dan tidak lagi mampu bertukar gen. gene
pool, kecenderungan kecil, kolam genetik terisolasi untuk menghasilkan sifat-sifat
yang tidak biasa, telah diamati dalam beberapa keadaan, termasuk kepulauan dan
perubahan radikal di kalangan tertentu di pulau yang terkenal, seperti Komodo dan
Galapagos, yang terakhir setelah melahirkan ekspresi modern teori evolusi, setelah
diamati oleh Charles Darwin (Kottelat et al., 1996).
Terjadinya spesiasi alopatrik banyak dibuktikan melalui studi variasi geografi.
Spesies yang beranekaragam secara geografis dari seluruh karakter dapat
menghalangi pertukaran gen antara spesies simpatrik. Populasi yang terpisah secara
geografis dapat terisolasi oleh kemandulan atau perbedaan perilaku (ketika diuji
secara eksperimen) dibandingkan dengan populasi yang berdekatan. Populasi yang
terisolasi mungkin tidak dapat melakukan interbreeding jika mereka bertemu, karena
bentuknya sangat menyimpang (divergent) dan kemudian masuk ke dalam simpatrik
tetapi tidak terjadi interbreeding. Spesiasi alopatrik merupakan mekanisme isolasi
yang terjadi gradual (Kottelat et al., 1996).
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya sesiasi menurut Odum (1993)
antara lain:
1

Peran isolasi geografis. Mayoritas para ahli biologi berpandangan bahwa faktor
awal dalam proses spesiasi adalah pemisahan geografis, karena selama populasi
dari spesies yang sama masih dalam hubungan langsung maupun tidak langsung
gene flow masih dapat terjadi, meskipun berbagai populasi di dalam sistem
dapat menyimpang di dalam beberapa sifat sehingga menyebabkan variasi
intraspesies. Terdapat tiga alasan mengapa sistem populasi yang terpisah
geografis akan mengalami penyimpangan sejalan dengan waktu yakni :
a Adanya kemungkinan bahwa kedua system p[opulasi yang terpisah
mempunyai frekuensi gen permulaan yang berbeda sehingga kedua

populasi tersebut mencapai potensi genetis yang berbeda sejak saat


pemisahannya maka dimasa yang akan datang mengalami jalan yang
berbeda.
b

Kedua populasi yang terpisah mengalami mutasi yang berbeda, mutasi


tersebut terjadi secara random dan besar kiemungkinan beberapa mutasi
yang terjadi didalam satu bagian populasi yang terpisah sedangkan bagian
lain tidak mengalami mutasi.

c Penyimpangan populasi yang terpisah itu juga dikarenakan adanya tekanan


seleksi dari sekeliling yang berbeda-beda karena menempati keadaan yang
berbeda

pula.

Sedangkan

kemungkinan

kedua

tempat

tersebut

mempunyaikeadaan yang sama kecil. Selain ketiga alas an tersebut,


pergeseran susunan genetis juga merupakan faktor populasiyang penting
dalam populasi kecil.
2

Isolasi reproduksi dalam pengaruh isolasi geografis dalam spesiasi dapat terjadi
karena adanya pencegahan gene flow antara dua sistem populasi yang
berdekatan akibat faktor ekstrinsik (geografis). Setelah kedua populasi berbeda
terjadi pengumpulan perbedaan dalam rentang waktu yang cukup lama sehingga
dapat menjadi mekanisme isolasi instrinsik. Isolasi instrinsik dapat mencegah
bercampurnya dua populasi atau mencegah interbreeding jika kedua populasi
tersebut berkumpul kembali setelah batas pemisahan tidak ada. Spesiasi dimulai
dengan terdapatnya penghambat luar yang menjadikan kedua populasi menjadi
sama sekali alopatrik (mempunyai tempat yang berbeda) dan keadaan ini belum
sempurna sampai populasi mengalami proses instrinsik yang menjaga supaya
supaya mereka tetap alopatrik atau gene pool mereka tetap terpisah meskipun
mereka dalam keadaan simpatrik (mempunyai tempat yang sama). Mekanisme
isolasi intrinsic yang mungkin dapat timbul yaitu isolasi sebelum perkawinan
dan isolasi sesudah perkawinan.

Isolasi sebelum perkawinan; isolasi sebelum perkawinan antara spesies atau


merintangi pembuahan telur. jika anggota-anggota spesies yang berbeda
berusaha untuk saling mengawini.
Ikan baceman merupakan jenis ikan air tawar yang termasuk kedalam marga

Hemibagrus, suku Bagridae. Ikan ini masih sekerabat dengan ikan lele yang sekilas
mirip dengan adanya sunggut dan patil dimulutnya. Ikan baceman memiliki kepala
yang memipih agak mendatar dengan bagian tulang tengkorak yang kasar diatas

kepala tak tertutupi kulit, dan sirip lemak yang berukuran sedang berada dibelakang
sirip punggung (dorsal). Baceman bertubuh licin tanpa sisik ditubuhnya dan serupa
dengan lundu dan patin. Baceman memiliki tiga sirip yang berbisa atau disebut patil,
yakni pada sepasang sirip dadanya, dan di awal sirip punggung (Kottelat et al.,
1996).
Klasifikasi ilmiah ikan baceman menurut Kottelat et al., 1996;
Kingdom
: Animalia
Kelas
: Actinopterygii
Subkelas
: Toleostei
Ordo
: Siluriformes
Famili
: Bagridae
Genus
: Hemibagrus
Spesies
: Hemibagrus nemurus
Perbedaan morfologi pada jenis ikan baceman (Hemibagrus nemurus) yang
mengalami spesiasi alopatrik yaitu lebih menunjukan perbedaan ukuran tubuhnya
yang menjadi lebih besar atau lebih kecil seperti pada ukuran sirip adiposa, tinggi
dan lebar kepala serta anggota tubuh yang lain. Perbedaan ini terlihat atau bisa
terbentuk karena adanya penyesuaian terhadap lingkungan atau geografi tempat
hidupnya. Keadaan yang seperti ini juga didukung dengan hasil praktikum pada
beberapa hasil pengukuran menunjukan adanya selisih atau perbedaan ukuran antar
spesies ikan yang berada di tempat yang berbeda (Wallace, 1992).

III. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat yang digunakan adalah bak preparat, jarum preparat, steroform, jangka
sorong, penggaris, kertas millimeter blok, buku gambar, dan alat tulis.
Bahan yang digunakan adalah ikan baceman (Hemibagrus nemurus) dari
sungai banjaran dan serayu.

B. Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum antara lain:
1

Preparat diletakan diatas kertas millimeter blok yang telah dialasi dengan

sterofoam.
Preparat diukur morfologi tubuhnya berdasarkan titik-titik patokan dan hasilnya

3
4

digambar dan dicatat.


Preparat dihitung jarak masing-masing morfometri.
Dibuat pohon filogeni dari jumlah perbedaan morfologi preparat yang sudah

dihitung sebelumnya.
Hubungan kekerabatan dianalisis lebih lanjut menggunakan softwere MEGA

5.05.
Hasil yang diperoleh dimasukan ke dalam laporan praktikum.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
JML

A1C1
+
+
-

A1C2
+
+
+
-

A2C1
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+

A2C2
-

A1A2
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-

C1C2
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-

B. Pembahasan
Konsep terjadinya spesiasi alopatrik pada ikan yaitu awalnya ikan berkumpul
pada suatu tempat yang sama, sehingga secara morfologi ikan-ikan tersebut
mempunyai bentuk yang sama. Ketika terjadi isolasi pemisahan tempat atau geografi
selama waktu tertentu maka secara berangsur-angsur ikan tersebut akan mengalami
perubahan bentuk morfologi dan lain-lainnya. Perubahan morfologi itu terjadi
disebabkan karena beberapa faktor diantanya yaitu keadaan lingkungan yang utama,
makanan yang tersedia, musuh atau predator, cuaca dan lain sebagainya. Keadaan
yang demikian inilah yang nantinya seiring dengan berjalannya waktu akan
menjadikan spesies ikan yang awal mula secara morfologinya sama, akan berubah
dan berbeda satu sama lain sesuai tempat tinggalnya masing-masing, dan membentuk
spesies yang baru.
Praktikum konsep spesiasi alopatrik secara manual dengan cara ikan yang
kita gunakan ditentukan titik trus morfometrinya, kemudian jarak tertentu sesuai
yang telah ditentukan diukur panjangnya. Setelah panjang semua jarak didapatkan,
angka-angka tadi diubah kedalam bentuk susunan basa nitrogen atau ATGC dengan
ketentuan untuk panjang total dan panjang standar, jika selisihnya antara ikan B dan
C 0-30 maka basa yang terbentuk adalah A untuk posisi angka yang kecil dan T
untuk posisi angka yang besar, kemudia jika selisihnya antara 31-60 maka basa yang
terbentuk adalah T untuk posisi angka yang kecil dan C untuk posisi angka yang
besar dan jika selisihnya 61-100 dan lebih dari itu maka basa yang terbentuk adalah
C untuk posisi angka yang kecil dan G untuk posisi angka yang besar, bila sama
angka yang didapat maka maka basa nitrogen yang terbentuk adalah A dan A. Hasil
pengukuran untuk B1-G6 untuk tatacara pengubahan kedalam bentuk basa nitrogen
hampir sama dengan panjang total dan panjang stndar yaitu bila sama maka basa
nitrogennya A dan A, jika selisihnya antara 1-3 maka basa yang terbentuk adalah A
dan T, jika selisihnya antara 4-6 maka basa yang terbentuk adalah T dan C,
sedangkan bila selisihnya antara 7-10 dan lebih dari itu maka basanya C dan G.
Selesai pengubahan menjadi basa-basa tertentu dimasukan kedalam tabel matriks
dengan ketentuan jika basa yang terbentuk sama maka diberi tanda (+) dan jika basa
yang terbentuk beda maka diberi tanda (-). Kedekatan hubungan kekerabatan dari
beberapa spesies ikan sampel dihitung dengan menggunakan kesamaan koefisien
asosiasi.

S* = m
m+u
keterangan = S* : koefisien asosiasi
m : jumlah sifat atau ciri yang sama
u

: jumlah sifat atau ciri yang beda

Hasil perhitungan koefisien asosiasi yang telah diperoleh ditabulasikan


kemudian dibuat dalam sebuah fenogram. Fenogram yang terbentuk berdasarkan
praktikum yang secara manual menunjukan bahwa memang antara spesies ikan C1
dan A2 berkerabat dekat dengan A1 dan berkerabat dekat dengan C2, Hasil fenogram
melalui analisis dengan software MEGA 5.05 juga mendapatkan hasil yaitu A1 dan
A2 serta C1 dan C2 berkerabat dekat dan merupakan sister taksa, karena mereka
berada dalam satu tempat yang sama. Perbedaan hasil ini dikarenakan jumlah
penghitungan secara manualnya kurang teliti, sehingga menghasilkan fenogram yang
berbeda. Fenogram hasil dari analisis dengan software MEGA 5.05 menunjukan
bahwa antara ikan Hemibagrus nemurus yang habitatnya berbeda dari sungai Serayu
(A1 dan A2) dan sungai Banjaran (C1 dan C2) yang lebih berkerabat dekat atau
mempunyai persamaan yang lebih banyak ada pada A1 dan C2. Hasil yang berbeda
ini juga menyebabkan adanya panjang dan pendek pada bentuk fenogram yang
merupakan bentuk dari adanya spesiasi alopatrik.
Tahap-tahap penggunaan software MEGA (Molecular Evolutionary Genetic
Analysis) yaitu:
1. Dimulai dari membuka Microsoft word yang berisi data urutan basa-basa nitrogen
hasil pengukuran secara manual kemudian dicopy kedalam notepad.
2. Tekan enter di setiap basa-basa nitrogen, pilih sub menu file, pilih save As.
3. Tulis nama file kita sesuai keinginan tapi dengan catatan filenya dalam bentuk text
documents (*.txt), klik save.
4. Buka software MEGA, pilih sub menu Data, pilih Open A File/Session, pilih file
yang telah kita simpan, open kemudian pilih sub menu utilities.
5. Pilih data format FASTA, kemudian save as, ketik nama file dan klik OK.
6. Sub menu Distance dipilih setelah itu, kemudian pilih Compute Pairwises
Distances,
7. Pilih file, pilih Variance Estimation Method, pilih Bootsrap Method, kemudian
tulis 1000 pada No. of Bootstrap Replication, setelah itu pilih Compute.

8. Sub menu Philogeny dipilih, kemudian klik UPGMA tree, pilih yes pada kotak
dialog, pilih Test of Phylogeny, klik Bootstrap Method, ketik 1000, kemudian pilih
Compute, sehingga muncul pohon filogeni. Copy paste pohon filogeni tersebut
pada Ms.Word awal.
Lima macam bentuk pohon pada menu phylogeny yaitu:
1. Construct/Test Maximum Likelihood Tree (ML)
Metode ini menggunakan perhitungan probabilitas kombinasi seluruh
character state ancestral yang dapat memberikan bentukan character state seperti
pada sequence alignment yang dimiliki saat ini untuk seluruh situs pada setiap OTU.
Metode MP dalam hal ini dapat dipandang sebagai pendekatan heuristik terhadap
metode ML karena hanya menggunakan kombinasi character state yang memberikan
jumlah substitusi minimum untuk menghasilkan character state sequence yang ada
pada saat ini. Keuntungan menggunakan menu ini adalah memberikan perbedaan
antar spesies dan menjelaskan perbedaannya berdasarkan evolusioner dan
probabilitasnya.
2. Construct/Test Neighbor-Joining Tree (NJ)
Menggunakan logika bahwa pohon terbaik adalah pohon yang meminimalisir
nilai tree length yang merupakan penjumlahan dari total branch length. Kondisi ini
dicapai dengan konstruksi kombinasi pasangan OTU yang memberikan nilai branch
length terkecil (neighbor) diantara seluruh kombinasi yang ada
3. Construct/Test Minimun-Evolition Tree (ME)
Memiliki logika yang sama dengan metode NJ. Perbedaannya terletak pada
metode ME menggunakan optimality search criterion sehingga proses penentuan tree
length terkecil dilakukan dengan mengevaluasi seluruh kandidat pohon yang
mungkin dibuat untuk sejumlah OUT, dengan demikian, maka metode NJ dapat
dipandang sebagai pendekatan heuristik (cepat namun tidak menjamin) untuk
mendapatkan pohon ME. Kerugian dari metode ini adalah tidak melihat laju evolusi
antara suatu organisme.
4. Construct/Test UPGMA Tree (UPGMA)
Mengasumsikan kesamaan laju evolusi antar sequence/OTU sehingga metode
ini mengestimasi nilai rerata (menyamaratakan) nilai distance untuk menggabungkan
pasangan OTU dan perhitungan branch length. Keuntungan menggunakan menu
UPGMA ini adalah memberikan perbedaan dari antar spesies tanpa menjelaskan dari
perbedaannya.

5. Construct/Test Maximum Parsimony Tree (MP)


Metode ini memiliki kesamaan konsep dengan metode ME, namun
demikian penentuan pohon dengan tree length terkecil tidak dilakukan
berdasarkan matriks distance seperti pada ME. Perhitungan branch length dan
tree length pada metode MP didapatkan dari jumlah substitusi minimum antar
character state setiap situs pada sequence alignment.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan Hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Spesiasi adalah proses terbentuknya spesies baru yang dipengaruhi oleh dua
pengaruh utama yaitu isolasi geografis dan isolasi reproduksi dengan modelnya
yaitu spesiasi alopatrik, parapatrik dan simpatrik.
2. Konsep spesiasi pada ikan yaitu spesiasi alopatrik dimana terjadi pemisahan
tempat atau lokasi geografis dan dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan
tempat tinggalnya sehingga terbentuk spesies baru.
3. Penggunaan software MEGA dapat digunakan untuk penelitian tentang konsep
terjadinya spesiasi dengan cara mengukur beberapa karakter yang ada pada hewan
yang kita gunakan dan hasilnya diubah kedalam bentuk basa-basa nitrogen
(ATGC) yang kemudian dianalisis atau dimasukan datanya kedalam software
MEGA dengan beberapa langkah untuk mendapatkan gambaran phylogenynya.
B. Saran
Sebaiknya dalam perhitungan manualnya lebih teliti lagi agar didapatkan
hasil yang sama.

DAFTAR REFERENSI
Cowman, P.F and David, R.B. 2013. Vicariance Across Major Marine Biogeographic
Barriers; Temporal Concordance and the Relative Intensity of Hard Versus
Soft Barriers. Proceedings of the Royal Society. 280: 2013541.
Djuhanda, T. 1981. Anatomi dari Empat Species Hewan Vertebrata. Bandung:
Armico.
Kottelat, M., A.J. Whitten, S.N. Kartikasari and S. Wirjoatmodjo. 1996. Freshwater
Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Periplus Edition Limited, Thailand.
Muzayyinah. 2012. Jejak Evolusi dan Spesiasi Marga Indigofera. Jurnal Bioedukasi,
5(2), pp. 1-12.
Odum, E. P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Yogyakarta: UGM press.
Stearns, Stephen, C., & Rolf, F. H. 2003. Evolution an Introduction. USA: Oxford
University Press.
Tamura, K., Daniel, P., Nicholas, P., Glen, S., Masatoshi, N., & Sudhir, K. 2011.
MEGA5: Molecular Evolutionary Genetics Analysis Using Maximum
Likelihood, Evolutionary Distance, and Maximum Parsimony Methods.
Tokyo: Department of Biological Sciences.
Wallace, A. 1992. Biology The World of Life. USA: Harper Collins Publisher Inc.