Anda di halaman 1dari 52

I.

A.

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Skabies adalah penyakit zoonosis yang menyerang kulit, dapat
mengenai semua golongan di seluruh dunia yang disebabkan

tungau

(Sarcoptes scabiei). Skabies merupakan 1 dari 6 penyakit terbesar parasit kulit


epidermis yang lazim pada populasi miskin, seperti yang dilaporkan dalam
Buletin Organisasi Kesehatan Dunia pada bulan Februari 2009, angka
kejadian tertinggi terdapat pada suku-suku asli di Australia, Afrika, Amerika
Selatan dan negara berkembang lainnya di dunia.
Angka kejadian skabies sering terjadi pada orangorang yang tinggal
bersama di fasilitas tertentu, seperti fasilitas asrama, pondok pesantren, rumah
jompo, rumah sakit, rawat inap, rumah tahanan dan fasilitas lainnya. Hal ini
di sebabkan oleh kepadatan penghuni yang tinggi dapat mempengaruhi
perkembangan skabies. Menurut Makigami pada tahun 2009, angka kejadian
skabies telah diperkirakan 300 juta kasus skabies terjadi secara epidemi di
rumah jompo, rumah sakit, fasilitas rawat inap, dan lembaga lainnya.
Pondok pesantren merupakan institusi yang menyediakan beberapa
fasilitas asrama yang digunakan secara bersama, oleh karena itu santri rentan
tertular penyakit skabies. Penularan skabies dapat disebabkan oleh beberapa
faktor. Adapun faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya penularan
skabies yaitu kontak langsung (kontak kulit), misalnya berjabat tangan, tidur
bersama, dan hubungan seksual. Selain itu juga dapat melalui kontak tidak
langsung (melalui benda), misalnya pakaian, handuk, sprei, bantal,dan lainlain. Menurut handajani pada tahun 2007 terhadap 70 santri, didapatkan
62,9% santri yang terkena skabies. Hal ini dikarenakan saling bertukar
pakaian, selimut, handuk dan tidur bersama serta kebiasaan santri berwudhu
tidak menggunakan air kran. Berdasarkan data Departemen kesehatan
Republik Indonesia, prevalensi skabies di puskesmas seluruh Indonesia pada
tahun 1987 adalah 5,6% - 12,95% dengan menduduki urutan ketiga dari 12
penyakit kulit tersering.

Kondisi

lingkungan

pesantren

dan

kepadatan

hunian

dapat

mempengaruhi kesehatan santri, terutama diantaranya dalam penularan


skabies. Salah satu faktor penularan skabies ini terjadi apabila santri tidak
paham tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan maupun
kebersihan pribadi. Para santri perlu mengetahui bagaimana cara penularan
skabies sehingga dapat melakukan upaya preventif yang tepat. Sesuai dengan
teori Lawrence Green yang menyatakan bahwa perilaku seseorang akan
dipengaruhi oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan dan didukung oleh
lingkungan fisik, tersedia atau tidaknya fasilitas dan sarana kesehatan. Oleh
karena itu petugas kesehatan perlu melakukan intervensi dalam pencegahan
skabies dengan memberikan pemahaman yang komprehensif tentang skabies
terhadap santri di lingkungan pesantren.
Santri di Pondok Pesantren Asad terdiri dari santri MIN, MTSN dan MAN.
Sedangkan yang menginap di Pesantren Asad sebagian besar adalah santri MTSN
yang berusia 12 sampai 15 tahun yang tergolong dalam usia remaja. Oleh karena
itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengetahuan santri
mengenai skabies. Adapun sampel penelitian berfokus pada usia 12 sampai 15
tahun yang berada pada Pondok Pesantren Asad Olak Kemang Seberang Kota
Jambi. Dimana pada tahap ini, remaja sudah mampu berpikir secara sistematik dan
mampu berpikir dalam memecahkan masalah sehingga remaja lebih mudah
menerima informasi mengenai tindakan pencegahan dan pengobatan skabies10,11.

B.

Tujuan
Tujuan Umum

: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan

kejadian diare pada balita di desa Kebasen wilayah kerja puskesmas Kebasen
periode Desember 2013.
Tujuan Khusus

1. Mengetahui distribusi proporsi balita penderita diare berdasarkan tingkat


pengetahuan orang tua di desa Kebasen wilayah kerja puskesmas Rawalo
periode Desember 2013
2. Mengetahui distribusi proporsi balita penderita diare berdasarkan sikap
orang tua di desa Kebasen wilayah kerja puskesmas Kebasen periode
Desember 2013

3. Mengetahui distribusi proporsi balita penderita diare berdasarkan


higienitas orang tua di desa Kebasen wilayah kerja puskesmas Kebasen
periode Desember 2013
4. Mengetahui distribusi proporsi balita penderita diare berdasarkan
kepemilikan jamban keluarga di desa Kebasen wilayah kerja puskesmas
Kebasen periode Desember 2013
5. Mengetahui distribusi proporsi balita penderita diare berdasarkan
ketersediaan sumber air bersih di desa Kebasen wilayah kerja puskesmas
Kebasen periode Desember 2013
6. Menganalisis hubungan antara kejadian diare dengan tingkat pengetahuan,
sikap, higiene perorangan, kepemilikan jamban keluarga, dan ketersediaan
sumber air bersih di desa Kebasen wilayah kerja puskesmas Kebasen
periode Desember 2013
7. Mengetahui dan menganalisis faktor risiko yang paling dominan terhadap
kejadian diare di desa Kebasen wilayah kerja puskesmas Kebasen periode
Desember 2013
8. Melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi terhadap program
pemecahan masalah berkaitan dengan faktor risiko paling dominan
terhadap kejadian diare di desa

Kebasen wilayah kerja puskesmas

Kebasen periode Desember 2013.


C.

Manfaat
a.

Bagi Peneliti
1.

Menambah wawasan bagi peneliti mengenai diare pada


balita beserta faktor-faktor risikonya.

2.

Memberikan pemahaman dan pengalaman bagi peneliti


dalam menganalisis masalah kesehatan di masyarakat termasuk
pemecahannya.

b.

Bagi Puskesmas
Memberikan masukan kepada puskesmas mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi kejadian diare pada balita di desa Kebasen wilayah kerja
puskesmas

Kebasen,

khususnya

bagi

tenaga

kesehatan

dalam

menyampaikan penyuluhan, sehingga dapat dijadikan dasar pertimbangan


mengenai program lanjutan pencegahan dan untuk menekan angka
kejadian diare serendah mungkin
c.

Bagi Masyarakat
Memberikan tambahan pengetahuan dan pemahaman mengenai diare dan
faktor-faktor risikonya.

II.

ANALISIS SITUASI

A. Deskripsi, Situasi, Kondisi dan Wilayah Kerja Puskesmas


1. Keadaan Geografis
Kecamatan Kebasen merupakan salah satu bagian wilayah
Kabupaten Banyumas dengan luas wilayah 5399,51 Ha (5400 km 2).
Kecamatan Kebasen terdiri dari 12 desa dengan batas-batas sebagai
berikut :
Sebelah Utara
Sebelah Selatan
Sebelah Timur
Sebelah Barat
Pemanfaatan

a.
b.
c.
d.

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
2.

: Kecamatan Patikraja
: Kabupaten Cilacap
: Kecamatan Banyumas
: Kecamatan Rawalo
lahan di Kecamatan Kebasen dapat dirinci sebagai

berikut :
Tanah Sawah
: 1.049,60 Ha (19,43 %)
Tanah Pekarangan/ Bangunan: 1.542,33 Ha (28,56 %)
Tanah Tegal/ Kebun
: 1.041,66 Ha (19,29 %)
Tanah Kebasen
: 10,800 Ha (0,20 %)
Tanah Hutan Negara
: 916,000 Ha (16,96 %)
Tanah Perkebunan Rakyat
: 565,100 Ha (10,44 %)
Lain-lain
: 274,025 Ha (5,09 %)
Keadaan Demografi
a. Pertumbuhan Penduduk.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kecamatan
Kebasen tahun 2013, jumlah penduduk Kecamatan Kebasen adalah
61.090 jiwa terdiri dari 31.097 jiwa laki-laki dan 29.993 jiwa
perempuan yang tergabung dalam 15.653 rumah tangga/KK.
Jumlah penduduk terbanyak tahun 2013 adalah penduduk desa
Cindaga yaitu sebanyak 10.118 jiwa, sedangkan jumlah penduduk
terendah ada di desa Tumiyang sebanyak 1.476 jiwa. Kepadatan
penduduk Kecamatan Kebasen pada tahun 2013 adalah 1.131
jiwa/km2, kepadatan tertinggi ada di desa Cindaga dengan tingkat

kepadatan sebesar 2.045/km2.


b. Tingkat Pendidikan
Tabel 2.2. Jenis Pendidikan menurut Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
No
Jenis Pendidikan
Laki-laki Perempuan
1 Tidak/Belum Tamat
7.806
7.866
SD/MI
2 Tamat SD/MI
9.960
10.197
3 SLTP/Sederajat
3.481
2.836

Jumlah
15.672
20.157
6.317

4
5
6

SLTA/Sederajat
Diploma III
Universitas
Jumlah

1.997
392
248
23884

1.432
311
158
22800

3.429
703
406
46684

Tingkat pendidikan masyarakat Kebasen di dominasi dengan


tamat SD atau MI dengan jumlah 20.157 jiwa. Masyarakat yang
berpendidikan hingga jenjang universitas memiliki jumlah yang sedikit
yaitu 406 jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan
masyarakat Kebasen cukup rendah.
a. Mata Pencaharian
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kecamatan
Kebasen tahun 2013, mata pencaharian atau jenis pekerjaan
penduduk di Kecamatan Kebasen 10 besar yaitu petani (30,68%),
buruh tani (42,67%), pengusaha (0,62%), buruh industri (4,45%),
buruh bangunan (6,08%), pedagang (4,41%), pengangkutan
(1,19%), PNS (1,80%), ABRI (0,26%), pegawai BUMN/BUMD
(2,47%), pensiunan (0,05%), penggalian (1,82%), jasa sosial
(0,28%) dan lain-lain (3,22%).
B. Pencapaian Program Kesehatan
1. Derajat Kesehatan Masyarakat
Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan dasar diharapkan
dapat memberikan pelayanan secara tepat dan cepat agar masalah
kesehatan masyarakat dapat teratasi. Keberhasilan pelayanan kesehatan
dapat dilihat dari indikator derajat kesehatan masyarakat yang merupakan
salah satu indikator Indonesia Sehat 2010, meliputi kejadian kematian
(mortalitas), kesakitan (morbiditas) dan status gizi masyarakat. Berikut ini
merupakan pencapaian beberapa program Puskesmas Kebasen periode
tahun 2013 :
a. Mortalitas
1) Angka Kematian Bayi
Kelahiran hidup di Kecamatan Kebasen pada tahun 2013
menurut Profil Kesehatan Puskesmas Kebasen yaitu 1.014 dengan
jumlah bayi mati sebanyak 20 bayi. Angka Kematian Bayi (AKB)
di Kecamatan Kebasen sebesar 19,7 per 1000 lahir hidup, sehingga
AKB dilaporkan sebesar 19,7. Sedangkan AKB tahun 2012 sebesar

7,6 sehingga dapat disimpulkan bahwa terjadi kenaikan 12,1 dari


tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan sebagian besar penyebab
kematian bayi baru lahir adalah BBLR dengan bayi lahir kurang
bulan dan kelainan kongenital, dimana hal ini tidak dapat dihindari
dan bukan dari tenaga penolong. Jika dibandingkan dengan IIS
2012 AKB di Kecamatan Kebasen terhitung masih rendah ( IIS
2012 = 40 per 1000 kelahiran hidup ). Tingginya angka kematian
bayi menunjukan masih rendahnya status kesehatan ibu dan bayi
baru lahir disebabkan oleh masih rendahnya akses dan kualitas
pelayanan kesehatan masyarakat khususnya pelayanan kesehatan
ibu dan anak
2) Angka Kematian Ibu
Angka Kematian Ibu (AKI) di Kecamatan Kebasen pada
tahun 2013 berdasarkan Profil Kesehatan Puskesmas Kebasen yaitu
sebesar 0 orang. Dengan demikian kualitas pelayanan untuk
kesehatan ibu hamil dan melahirkan cukup baik didukung dengan
sarana dan prasarana yang semakin baik, dan adanya tim poned
yang siap 24 jam.
3) Angka Kematian Balita
Pada tahun 2013 jumlah balita 994 anak, dengan kematian
balita 17 anak. Dengan demikian angka kematian balita di tahun
2013 sebesar 17,1 per 100 kelahiran hidup. Pada tahun 2013 ada
peningkatan angka kematian balita sebesar 7,6. Hal ini dikarenakan
angka kematian bayi yang cukup tinggi dan sulit untuk dihindari,
karena sebagian kematian disebabkan karena BBLR dan kelainan
kongenital ini menunjukkan program kesehatan anak di Kecamatan
Kebasen masih kurang baik, terutama dalam hal promotif dan
preventif.
Upaya peningkatan kualitas kesehatan demi mencegah
peningkatan angka kematian balita dengan cara POSYANDU, Desa
Siaga, Dana Sehat dan berbagai usaha lainnya yang dilakukan oleh
pihak Puskesmas Kebasen
4) Angka Kecelakaan
Pada tahun 2013 di Kecamatan Kebasen terjadi kecelakaan
lalu lintas sebanyak 35 kejadian dengan jumlah korban sebanyak

37 orang luka ringan, luka berat 8 orang dan tidak ada korban
meninggal.
Angka kejadian kecelakaan lalu lintas pada tahun 2013,
dibanding

tahun

2012

mengalami

peningkatan.

Hal

ini

dimungkinkan karena semakin mudahnya orang untuk memiliki


sepeda motor dan semakin banyaknya pengendara sepeda motor
dan kurang sadarnya pengendara motor dalam disiplin lalu lintas.
b. Morbiditas
1) Penyakit Malaria
Tahun 2013 kasus Malaria di Kecamatan Kebasen, terjadi
kasus malaria positif sebanyak 4 kasus atau angka kesakitan
malaria (API) sebesar 0,085 per 1000 penduduk. Sedangkan
kejadian kasus malaria positif pada tahun 2012 sebanyak 8 kasus
atau angka kesakitan malaria (API) sebesar 0,1 per 1000 penduduk.
Dengan demikian di Kecamatan Kebasen terjadi penurunan
kejadian kasus malaria positif pada tahun 2013 dibanding tahun
2012. Hal ini dikarenakan kesadaran dari masyarakat terhadap
kesehatan lingkungan sudah cukup baik dan petugas Puskesmas
sudah lebih aktif dalam pelaksanaan promosi dan preventif
terhadap kesehatan lingkungan dan pencegahan dari penyakit
malaria. Daerah endemik di Kecamatan Kebasen adalah Desa
Kalisalak.
2) TB Paru
Ditemukan kasus baru TB paru BTA positif sebanyak 30
kasus dengan perkiraan jumlah kasus BTA positif sebanyak 65
kasus. Dengan demikian angka penemuan penderita TB paru BTA
positif sebesar 46,15%. Dibanding periode yang sama pada tahun
2012 ditemukan kassus baru BTA posituf sebanyak 20 kasus
dengan perkiraan jumlah kasus BTA positif sebanyak 60 kasus
dengan CDR sebesar 33,39%. Dengan demikian ada peningkatan
CDR padatahun 2013 dibanding tahun 2012.
3) Demam Berdarah Dengue (DBD)
Jumlah kasus DBD di Kecamatan Kebasen pada tahun 2013
sebanyak 8 kasus dengan angka kesakitan DBD sebesar 13,1 per
100.000 penduduk. Sedangkan pada tahun 2012 jumlah kasus DBD

sebanyak 4 kasus dengan angka kesakitan 7,1 per 100.000


penduduk. Dengan demikian, terjadi peningkatan kasus DBD. Hal
ini dapat disebabkan oleh masih kurangnya kesadaran masyarakat
tentang kesehatan lingkungan untuyk melakukan pencegahan
dengan kegiatan PSN secara rutin dan berkesinambungan dan
diperlukan upaya lebih dari pemegang program dalam promosi dan
preventif dan meningkatkan kerjasama lintas program dan lintas
sektor dalam penggerakan PSN.
4) Diare
Berdasarkan data tahun 2013 angka kejadian penyakit diare sebesar
78. Angka kejadian diare mengalami penurunan dari tahun 2012
jumlah angka kejadian diare sebanyak 268 kasus. Dijumpai
penderita yang meninggal akibat diare di Desa Kalisalak.
5) Infeksi Saluran Pernapasan Akut
Berdasarkan data Puskesmas, angka kejadian ISPA tahun
2013 sebanyak 1451, dan tidak semua dari jumlah itu tertangani
dengan baik. Tahun 2012 ditemukan kasus 900 kasus, hal ini
menunjukkan peningkatan angka kejadian ISPA di daerah layanan
kesehatan Puskesmas Kebasen.
6) Status Gizi
Berdasarkan profil kesehatan Puskesmas Kebasen tahun
2012, jumlah bayi di Kecamatan Kebasen sebanyak 1.052 bayi dan
balita sebanyak 5.124. Bayi yang mendapat vitamin A sebanyak
1.202 bayi dan balita yang mendapat dua kali vitamin A sebanyak
3.825 balita. Jumlah tersebut telah memenuhi target standar
pelayanan minimal propinsi Jawa Tengah tahun 2011.
7) Penyakit Tidak Menular
Kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) di Kecamatan
Kebasen tahun 2011 dan 2012 berdasarkan Profil Kesehatan
Puskesmas Kebasen 2012 disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 2.3. Data Penyakit Tidak Menular tahun 2011 dan 2012
No Nama Penyakit Tidak Menular
1 Diabetes mellitus(DM)

2011
91

2012
121

2
3
4

Penyakit jantung dan pembuluh

46

1017

darah (PJP)
Asma bronchial
379
170
Kecelakaan lalu lintas
40
19
Berdasarkan tabel 2.3., maka kasus DM dan PJP pada tahun

2012 mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun 2011


2. Pelayanan Kesehatan Dasar
Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
1) Pelayanan K4
Masa kehamilan merupakan masa yang rawan kesehatan, baik
kesehatan ibu yang mengandung maupun janin yang dikandungnya
sehingga dalam masa kehamilan perlu dilakukan pemeriksaan secara
teratur. Hal ini dilakukan guna mencegah gangguan sedini mungkin
dari segala sesuatu yang membahayakan kesehatan ibu dan janin yang
dikandungnya.
Jumlah ibu hamil sebanyak 1135 ibu hamil, adapun ibu hamil
yang mendapat pelayanan K-4 adalah sebesar 1010 atau 88,98% ibu
hamil. Dibandingkan tahun 2012 yang mendapat pelayanan K-4
sejumlah 1072 atau 97,1%, pelayanan K4 mengalami penurunan
sebesar 8,12%.
2) Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (Nakes)
Komplikasi dan kematian ibu maternal serta bayi baru lahir
sebagian besar terjadi pada masa prsalinan. Hal ini disebabkan oleh
pertolongan yang tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
mempunyai kompetensi profesional.
Jumlah ibu bersalin tahun 2013 sebanyak 1083 orang.
Dibanding tahun 2012 jumlah persalinan yang ditolong nakes 1035
dari ibu bersalin 1036 orang.
Target standar pelayanan minimal untuk pertolongan persalinan
oleh tenaga kesehatan tahun 2013 sebesar 90% dengan target
kebupaten tahun 2015 100%. Dengan demikian cakupan persalinan
tenaga kesehatan Kecamatan kebasen tahun 2012 sudah memenuhi
standar pelayanan minimal.
3) Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Jumlah bayi baru lahir hidup sebanyak 994 bayi dengan berat
badan lahir rendah (BBLR) sebanyak 46 bayi atau 4,5% dari bayi yang
lahir.
4) Pelayanan Keluarga Berencana
Jumlah pasangan Usia Subur (PUS) berdasarkan data dari
Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan KB sebanyak
13.704 pasangan. Jumlah PUS tertinggi terdapat di desa Cindega yaitu
sebanyak 2.207. Peserta KB aktif pada tahun 2013 sebesar 10534 atau
76,9%.
5) Pelayanan Imunisasi
Kegiatan imunisasi rutin meliputi pemberian imunisasi untuk
bayi umur 0-1 tahun (BCG, DPT,Polio, campak,HB) imunisasi untuk
wamita usia subur/ ibu hamil (TT) dan imunisasi untuk anak sekolah
SD (kelas 1: DT, dan kelas 2-3 TD).
Jumlah desa di kecamatan kebasen sebanyak 12 desa.
Dibandingkan tahun 2012, desa Universal Child Immunization (UCI)
sebanyak 12 desa, berarti sama. Target SPM untuk desa UCI sebesar
100%.
3. Pelayanan Kesehatan Puskesmas, Rujukan dan Penunjang
Jumlah kunjungan baru rawat jalan di Puskesmas Kebasen
berdasarkan profil kesehatan 2013 adalah 22.786 dengan cakupan
kunjungan 37,3% dari jumlah penduduk. Target kunjungan rawat jalan
berdasarkan Indonesia Sehat 2012 sebesar 15% dengan demikian
penggunaan fasilitas rawat jalan di Puskesmas Kebasen sudah mencapai
target.
Jumlah kunjungan baru pasien rawat inap sebanyak 1446 pasien
(2,4%) dari jumlah penduduk. Jumlah tersebut sudah mencapai target
Indikator Indonesia Sehat 2010 yaitu 1,5 %.
4. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
1) Pencegahan dan Pemberantasan Polio
Menurut sumber dari petugas surveilans Puskesmas kebasen
tahun 2013, kasus acute Flacid paralysiss (AFP) di kecamatan kebasen
tidak ada.
Standar pelayanan minimal untuk AFP rate per 100.000
penduduk <15 tahun. Kasus AFP adalah semua anak berusia kurang
dari 15 tahun dengan kelumpuhan yang sifatnya flasid (layuh) terjadi

mendadak dan bukan disebabkan karena ruda paksa. Tahun 2013 tidak
ditemukan kasus AFP di wilayah Puskesmas Kebasen.
2) Pencegahan dan Pemberantasan TB Paru
Kasus TB BTA positif yang diobati di Puskesmas kebasen yaitu 30
orang, dengan jumlah sembuh 21 orang atau mencapai 70,0%.
Standar pelayanan minimal untuk kesembuhan penderita TB BTA
positif (?85%). Dengan demikian kesembuhan penderita di Kecamatan
kebasen dibanding dengan SPM masih belum tercapai. Ini dikarenakan
penderita kurang disiplin dalam minum obat, dan pengobatan tidak
tuntas.
3) Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit ISPA
Berdasarkan data Puskesmas Kebasen tahun 2012, perkiraan
pneumonia balita sebanyak 490 anak sedangkan yang ditemukan dan
ditangani sebanyak 23 anak atau 4,7%. Dari jumlah kasus tersebut
semua kasus pneumonia yang ditemukan seluruhnya (100%) ditangani
dengan baik.Standar pelayanan minimal 2010 untuk balita pneumonia
yang ditangani sebesar 100%.
Berdasarkan data dari petugas ISPA Puskesmas kebasen yang
terhimpun, perkiraan kasus pneumonia balita sebanyak 99 anak
sedangkan yang ditemukan dan ditangani sebanyak 7 anak atau 7,0%.
4) Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit HIV-AIDS
Tidak ditemukan kasus HIV di Puskesmas Kebasen tahun 2013.
5) Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit DBD
Jumlah kasus DBD di Kecamatan Kebasen pada tahun 2013
sebanyak 8 kasus dengan angka kesakitan DBD sebesar 113,1%
sedangkan pada tahun 2012 sebanyak 4 kasus dengan angka kesakitan
DBD sebesar 7,1% per 100.000 penduduk. Dengan demikian terjadi
peningkatan kasus DBD pada tahun 2013 dibanding tahun 2012. Hal
ini dapat disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat untuk
melakukan pencegahan dengan kegiatan pemberantasan sarang
nyamuk (PSN) secara rutin dan berkesinambungan dan diperlukan
upaya lebih dari pemegang program dalam promotif dan preventif.

6) Pengendalian Penyakit Malaria


Tahun 2013 kasus Malaria di Kecamatan Kebasen sebanyak 4
kasus atau angka kesakitan malaria (API) sebesar 0,085 per 1000
penduduk. Sedangkan kejadian malaria positif pada tahun 2012
sebanyak 8 kasus. Dengan demikian di kecamatan kebasen tahun 2013
terjadi penurunan kejadian kasus malaria positif. Daerah endemik di
Kecamatan Kebasen adalah Desa Kalisalak.
7) Pengendalian Vektor
Kegiatan pengendalian vektor untuk nyamuk yang dilakukan
secara rutin adalah dengan gerakan PSN, abatisasi, fogging dan
penyuluhan. Namun langkah yang paling efektif adalah PSN. Jumlah
rumah atau bangunan yang ada dan diperiksa sebanyak 8682 rumah,
yang terbukti bebas jentik yaitu sebanyak 7123 rumah.
5. Pembinaan Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi Dasar
1) Pelayanan Kesehatan Lingkungan
Jumlah institusi yang terdiri dari sarana kesehatan, sarana
pendidikan, sarana ibadah dan perkantoran di Kecamatan Kebasen
yang dibina kesehatan lingkungannya sebanyak 290 buah dan yang
dibina sebanyak 211 buah (72,8%). Standar pelayanan minimal untuk
institusi yang dibina 2012 sebesar 70% dengan demikian institusi
yang dibina sebesar 70%.
2) Pelayanan Higiene Sanitasi Tempat-Tempat Umum
Jumlah tempat-tempat umum (TTU) yang ada di Kecamatan
Kebasen sebanyak 336 buah dan yang diperiksa persyaratan
kesehatannya sebanyak 291 buah. Dari 291 buah TTU yang diperiksa
persyaratan kesehatannya, terdapat 266 buah TTU yang memenuhi
syarat kesehatan. Dari jumlah rumah yang diperiksa dan memenuhi
persyaratan kesehatan sebanyak 91,41%. Target standar pelayanan
minimal 2012 untuk pelayanan hygiene sanitasi TTU sebesar 80%.
3) Rumah Sehat

Jumlah rumah di Kecamatan Kebasen tahun 2012 sebanyak


15.670 rumah, dan yang diperiksa adalah 7.893 rumah dan 3.767
rumah (47,7%) diantaranya memenuhi syarat kesehatan. Target
standar pelayanan minimal 2012 untuk rumah sehat sebesar 65%

III. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN DAN PRIORITAS MASALAH


A. Daftar Masalahan Kesehatan Puskesmas Kebasen
Masalah adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan sehingga
menimbulkan rasa tidak puas. Dalam memutuskan adanya masalah,
diperlukan tiga syarat yang harus dipenuhi, antara lain:
1. Adanya kesenjangan
2. Adanya rasa tidak puas
3. Adanya rasa tanggung jawab untuk menanggulangi masalah (Timmreck,
2004).
Kepanitraan Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) di Puskesmas Kebasen
mengidentifikasi permasalahan dari segi morbiditas penyakit di wilayah
Puskesmas Kebasen.

B. Penentuan Prioritas Masalah (Berdasarkan Metode Tertentu)


Penentuan prioritas masalah di Pesantren At-Taujieh (Pesantren
Andalusia) Desa Randegan, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas
adalah berdasarkan laporan dari pihak pesantren ke pihak Puskesmas
Kebasen. Laporan tersebut menjelaskan bahwa terjadi kejaian luar
biasa(KLB) yaitu terdapat kasus penyakit skabies dalam jumlah besar. Dari
jumlah santri sebanyak 280 santri yang trdiri atas 194 santri laki-laki dan 86
santri perempuan. Dari jumlah tersebut hampir 100% terkena penyakit
skabies.

Kejadian luar biasa ini terjadi secara turun temurun dan

diperlukannya pendekatan kepafda pihak pengelola maupun santri untuk


memutus rantai penularan kasus skabies di Pesantren At-Taujieh (Pesantren
Andalusia) Desa Randegan, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas.
BAB IV
KERANGKA KONSEPTUAL MASALAH

A.
1.

Tinjauan Pustaka
Definisi
Skabies adalah penyakit zoonosis yang menyerang kulit, mudah
menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia atau
sebaliknya, dapat mengenai semua ras yang disebabkan oleh tungau
(kutu atau mite)

Sarcoptes scabei, yang termasuk dalam kelas

Arachnida. Sarcoptes (Marufi 2005). Sarcoptes scabiei adalah kutu yang


transparan, berbentuk oval, pungggungnya cembung, perutnya rata dan
tidak bermata. Skabies mudah menyebar baik secara langsung atau
melalui sentuhan langsung dengan penderita maupun secara tak langsung
melalui baju, seprai, handuk, bantal, air, atau sisir yang pernah
dipergunakan penderita dan belum dibersihkan dan masih terdapat
tungau sarcoptesnya. Skabies hanya dapat diberantas dengan memutus
rantai penularan dan memberi obat yang tepat (Marufi 2005).
2.

Penyebab
Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthopoda , kelas Arachnida,
ordo Ackarina, superfamili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes
scabiei var. hominis. Secara morfologik merupakan tungau kecil,
berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau
ini transient, berwarna putih, kotor, dan tidak bermata. Ukurannya yang
betina berkisar antara 330 450 mikron x 250 350 mikron, sedangkan
yang jantan lebih kecil, yakni 200 240 mikron x 150 200 mikron.

Tungau betina mampu membuat terowongan pada stratum korneum 2-3


mm / hari dengan memproduksi bertelur 40-50 butir (Listyawan, 2010).

Gambar 1. Sarcoptes scabiei var. hominis betina (Strong, 2010)


3.

Gambaran klinik
Penyakit skabies memiliki 4 gejala klinis utama,yaitu sebagai berikut.
a. Pruritus nokturna, atau rasa gatal di malam hari, yang disebabkan
aktivitas tungau yang lebih tinggi dalam suhu lembab sehingga
menimbulkan rasa gatal.
b. Scabies dapat menyerang manusia secara kelompok. Penyakit ini
amat mudah menular melalui pemakaian handuk, baju maupun
seprai secara bersama-sama. Sehingga komunitas yang tinggal
bersama seperti santri pondok pesantren dan panti asuhan memiliki
resiko tinggi. Skabies mudah menyerang daerah yang tingkat
kebersihan diri dan lingkungan masyarakatnya rendah.
c. Terowongan-terowongan di bawah lapisan kulit (kanalikuli), yang
berbentuk lurus atau berkelok-kelok. Jika terjadi infeksi skunder oleh
bakteri, maka akan timbul gambaran pustul (bisul kecil) dan
membuat gambaran terowongan menjadi bias. Kanalikuli ini berada
pada daerah lipatan kulit yang tipis, seperti sela-sela jari tangan,
daerah sekitar kemaluan (pada anak), siku bagian luar, kulit sekitar
payudara, bokong dan perut bagian bawah.

d. Menemukan

kutu

pada

pemeriksaan

kerokan

kulit

secara

mikroskopis, merupakan diagnosis pasti penyakit ini (Listyawan,


2010).

4.

Diagnosis
Ditegakkan dari anamnesis, manifestasi klinik dan pemeriksaan
penunjang ditemukan 3 dari 4 kriteria sebagai berikut:
a.Gatal malam hari
b.

Terdapat pada sekelompok orang (lebih dari satu)

c.Predileksi dan morfologis khas


d.

Ditemukan Tungau S.scabies

2. Pembantu Diagnosis
a. Mencari tungau dengan menelusuri terowongan lalu dicongkel pada
bagian ujung (papul atau vesikel) dengan jarum kemudian diperiksa
pada mikroskop cahaya.
b. Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung di atas selembar
kertas putih dan dilihat dengan kaca pembesar.
c. Dengan membuat biopsi irisan lalu diperiksa dengan mikroskop
cahaya.
d. Dengan membuat biopsi eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan
H.E
e. Menggunakan uji tinta cina yang diteteskan pada muara kanalikuli
(Strong, 2010)
3. Predileksi
Sela jari tangan, pergelangan tangan, ketiak, sekitar pusar,
paha bagian dalam, genitalia pria, dan pantat. Pada bayi : kepala,
telapak tangan dan kaki.

4. Efloresensi / Sifat
Ujud kelainan kulit pada scabies dapat berupa papula dan
vesikel miliar sampai lentikular disertai ekskoriasi (scratch mark).
Jika terjadi infeksi sekunder tampak pustula lentikular. Lesi yang khas
adalah terowongan (kanalikulus) miliar, tampak berasal dari salah satu
papula atau vesikel, panjang kira-kira 1 cm, berwarna putih abu-abu.
Akhir atau ujung kanalikuli adalah tempat persembunyian dan bertelur
Sarcoptes scabiei betina. Tungau betina bertelur 3-5 telur/hari.
Sesudah 3-4 hari telur menetas menjadi larva, dalam 3-5 hari menjadi
nimfa, selanjutnya menjadi tungau dewasa. Tungau dewasa jantan
mati di atas permukaan kulit sesudah mengadakan kopulasi, sedang
yang betina membuat terowongan baru, bertelur dan mati sesudah 2-3
minggu (Marufi,2005).
5. Penularan
Dapat langsung maupun tidak langsung memalui pakaian,
tempat tidur, alat-alat tidur, handuk dan lain-lain. Biasanya pada
daerah kumuh dan padat dengan kebersihan dan higiene yang buruk
akan mempermudah penularan.
6. Diagnosa Banding
Gigitan serangga

: biasanya jelas timbul sesudah ada gigitan,


efloresensinya urtikaria papular.

Folikulitis

: nyeri, efloresensi berupa pustula miliar


dikelilingi daerah yang eritema.

Prurigo

: biasanya berupa papula-papulaa yang gatal,


predileksi
ekstremitas

7. Penatalaksanaan

pada

bagian

ekstensor

Pengobatan:
Banyak sekali obat-obatan yang tersedia di pasaran. Namun, ada
beberapa syarat yang harus dipenuhi antara lain; tidak berbau, efektif
terhadap semua stadium kutu (telur, larva maupun kutu dewasa), tidak
menimbulkan iritasi kulit, juga mudah diperoleh dan murah harganya.
Sistemik
a.Antihistamin klasik sedatif ringan untuk mengurangi gatal, misalnya
klorfeniramin maleat 0.34 mg/kg BB 3 x sehari.
b.

Antibiotik bila ditemukan infeksi sekunder misalnya ampisilin,


amoksisilin, eritromisin.

Topikal
Obatan-obatan yang dapat digunakan antara lain:
1. Salep 2 4, biasanya dalam bentuk salep atau krim.
Kekurangannya, obat ini menimbulkan bau tak sedap (belerang),
mengotori pakaian, tidak efektif membunuh stadium telur, dan
penggunaannya harus lebih dari 3 hari berturut-turut.
1.Emulsi benzil-benzoas 20 25%
Efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama 3 hari
berturut-turut. Kekurangannya, dapat menimbulkan iritasi kulit.
2.Gamexan 1%
Termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium kutu, mudah
digunakan, serta jarang menimbulkan iritasi kulit. Namun obat ini tidak
dianjurkan bagi wanita hamil, maupun anak dibawah usia 6 tahun, karena
bersifat toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemakaiannya cukup satu kali
dioleskan seluruh tubuh. Dapat diulang satu minggu kemudian bila belum
sembuh.
4. Krotamiton 10%, termasuk obat pilihan karena selain memiliki efek
antiskabies, juga bersifat anti gatal.
5. Permetrin HCl 5%, efektifitasnya seperti Gamexan, namun tidak terlalu
toksik. Penggunaannya cukup sekali, namun harganya relatif mahal
(Strong,2010).

Selain menggunakan obat-obatan (kuratif), yang tidak kalah penting untuk


diperhatikan adalah upaya promotif dan preventif yaitu dengan peningkatan
kebersihan diri dan lingkungAn. Fal ini dapat dilakukan dengan cara:
1. Mencuci bersih bahkan sebagian ahli menganjurkan merebus handuk,
seprai maupun baju penderita skabies, kemudian menjemurnya hingga
kering.
2. Menghindari pemakaian baju, handuk, seprai secara bersama-sama.
3. Mengobati seluruh anggota keluarga, atau masyarakat yang terinfeksi
untuk memutuskan rantai penularan.
4. Menghilangkan faktor predisposisi, antara lain dengan penyuluhan
mengenai higiene perorangan dan lingkungan.
5. Membersihkan lingkungan sekitar tempat tinggal dan menerapkan standar
rumah sehat sehingga diharapkan mampu menekan pertumbuhan kutu
penyebab penyakit.
6. Menghindari kontak dengan orang yang didiagnosis atau terkena skabies.
8.

Pemantauan
Dianjurkan kontrol 1 minggu kemudian, bila ada lesi baru obat
topikal dapat diulang kembali.

B. Kerangka Konsep
Sosial Budaya
Kasus Skabies
Perilaku,
Status gizi
C. Hipotesis
Pengetahuan
Terdapat
pengaruh faktor sosial budaya, perilaku, pengetahuan, status gizi,
Lingkungan
pengetahuan dan lingkungan di Pesantren At-Taujieh (Pesantren Andalusia)
Desa Randegan, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas

BAB V
METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Setelah meninjau lebih lanjut pada rumusan masalah dan tujuan
penelitian, maka pada penelitian ini peneliti memakai metode penelitian
kualitatif dengan paradigma fenomologi. Yakni penelitian kualitatif yang
bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek
penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara
holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada
suatu konteks khusus yang dilami dan dengan memanfaatkan berbagai metode
ilmiah. (Moleong, 2005)
Pendapat Moleong menempatkan penelitian kualitatif, sebagai metode
yang kontekstual artinya apa yang diteliti terbatas pada ruang dan waktu.
Selain itu juga ia menjabarkan bahwa penelitian kualitatif memusakan pada
interaksi simbolik dan proses serta hasil yang berupa deskripsi kata-kata,
berbeda dengan kuantitatif yang menekankan pada angka.

B. Ruang Lingkup Kerja


Pesantren At-Taujieh (Pesantren Andalusia) Desa Randegan, Kecamatan
Kebasen, Kabupaten Banyumas

C. Populasi Sampel
1. Populasi
Populasi target pada penelitian ini adalah seluruh santri Kabupaten
Banyumas. Populasi terjangkau adalah warga Pesantren At-Taujieh
(Pesantren Andalusia) Desa Randegan, Kecamatan Kebasen, Kabupaten
Banyumas

2. Sampel
A. Besar sampel
Besar sampel diambil dengan keseluruhan jumlah santri yang sesuai
kriteria inklusi dan kriteria eksklusi di Pesantren At-Taujieh (Pesantren
Andalusia)

Desa

Randegan,

Kecamatan

Kebasen,

Kabupaten

Banyumas. Sampel yang diambil sebanyak 90 sampel yang terdiri atas


10 pengelola, 40 santri laki-laki dan 40 santri perempuan.

B. Metode pengambilan sampel


Teknik pemilihan informan dalam penelitian ini adalah dengan
purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan
sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan
ini,misalnya orang tersebutt dianggap yang paling tahu tentang apa
yang diharapkan, atau mungkin sebagai penguasa sehingga akan

memudahkan peneliti menjelajahi objek/ situasi sosial. Purposive


sampling diambil berdasarkan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi.

C. Kriteria inklusi dan Eksklusi


Kriteria Inklusi:
a. Bersedia menjadi subjek penelitian dengan menandatangai lembar
persetujuan menjadi subjek penelitian setelah membaca lembar
informed consent.
b. Berdomisili di Pesantren At-Taujieh (Pesantren Andalusia) Desa
Randegan, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas
Kriteria eksklusi:
a. Tidak Mengisi data kuesioner secara lengkap
b. Tidak Kooperatif dalam melakukan tahap wawancara dan
pengisian kuesioner

D. Variabel Penelitian
1.Variabel terikat

: Kasus Skabies

2. Variabel bebas

Perilaku,

Lingkungan, dan Sosial Budaya

Status gizi,

E. Definisi Operasional
Tabel 5.1. Definisi Operasional
Variabel

Keterangan

Skala

Perilaku

Nominal

Status gizi

Nominal

Lingkungan

Nominal

Tingkat
Pengetahuan

Nominal

Sosial
Budaya

Nominal

Kasus
Skabies

Nominal

F. Instrumen Pengambilan Data


a. Observasi
Observasi merupakan metode pengumpuan data dengan melakukan
pengamatan secara langsung terhadap masalah-masalah yang diteliti.
Menurut Sutrisno Hadi (dalam Sugiyono, 2009: 203) mengemukakan
bahwa, observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses
yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis, dan menurut
Moleong

(2005:175)

observasi

berguna

untuk

mengoptimalkan

kemampuan peeliti dari segi positif, kepercayaan, perhatian, perilaku tak


sadar, kebebasan dan sebagainya. Dalam observasi ini, peneliti akan terjun
langsung kelapangan mengamati dan memperoleh data, dimana peneliti
bersikap pasif, yaitu peneliti tidak terlibat dan tidak ikut berperan secara
aktif dalam kegiatan yang diamati. Peneliti akan mekakukan observasi

langsung di Pesantren At-Taujieh (Pesantren Andalusia) Desa Randegan,


Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas.
b. Wawancara Mendalam
Wawancara mendalam yaitu proses memperoleh keterangan untuk tujuan
penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara
pewawancara dengan informan, dengan atau tanpa menggunakan panduan
(guide) wawancara. Jadi, peneliti dalam melakukan wawancara akan
memepersiapkan pedoman wawancara untuk informan yang telah
diketahui dan pertanyaan yang digunakan akan berkembang sesuai dengan
kondisi dilapangan.
c. Dokumentasi
Metode ini merupakan catatan peristiwa yang berlaku berupa tulisan,
gambar atau foto, maupun karya seseorang. Sugiyono (2007:240)
mengatakan stusi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan
metode

observasi

dan

wawancara

dalam

penelitian

kualitatif.

Berdasarkan pendapat Sugiyono tersebut dokumen merupakan salah satu


aspek untuk memperkuat kredibilitas penelitian kualitatif.

G. Sumber Data
a. Data Primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari pihak
informan tentang masalah yang diungkapkan dan diperoleh dari hasil
wawancara atau observasi atau pengamatan yang biasa disebut data asli.

b. Data Sekunder adalah data dengan mengutip dari sumber lain , yaitu dari
literatur-literatur dan dokumentasi yang berkaitan dengan penelitian. Data
ini sebagai pelengkap dari data primer yang dikumpulkan dari buku
panduan atau literatur yang ada.

H. Metode Analisis Data


Peneliti menggunakan model analisis data interaktif yang
disampaikan oleh Mathew B. Milles dan A. Michael Huberman, (dalam
Sugiyono, 2007:246) mengemukakan bahwa, aktifitas dalam analisis sata
kualitatif dilakukan dengan secara interaktif dan berlangsung secara terus
menerus sampai tuntas, sehingga data yang dihasilkan sudah jenuh.
Pendapat tersebut jelas semakin diperkuat bahwa analisis data
kualitatif dilakukan secara berulang-ulang dalam setiap tahap penelitian,
sehingga informasi yang dihasilkan valid.
Model analisis interaktif Miles dan Huberman terbagi menjadi tiga
komponen yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Berikut model analisis interaktif Miles dan Huberman:

Pengumpulan

Reduksi Data

Penyajian Data

Penarikan Kesimpulan
Gambar 1. Model Analisis Interaktif Miles dan Huberman (2007:20)

Mengacu pada gambar diatas, dapat dijelaskan masing-masing komponen


yaitu sebagai berikut:
a. Reduksi data yaitu merangkum , memilih hal-hal yang pokok dicari
tema, dan polanya.
b. Penyajian data yaitu mengorganisir data dan menyusun dalam pola
hubungan tertentu sehinggaakan mudah dipahami.
c. Penarikan kesimpulan yaitu

menarik jawaban atas masalah yang

sedang diteliti.
Komponen-komponen diatas tidak selalu berdiri sendiri, namun
akan saling berkaitan dan berulang terus menerus. Saling keterkaitan inilah
yang dinamakan analisis interaktif.

I. Validitas Data
Pada dasarnya validitas data digunakan untuk menguji apakah
laporan penelitian yang ditulis oleh peneliti sesuai dengan kondisi objek
yang diteliti (Sugiono, 2007:267). Sehingga validitas data sangatlah
penting untuk memberikan sebuah kepercayaan terhadap khalayak pada
penelitian yang peneliti lakukan.
Pada penelitian ini, peneliti memakai model triangulasi untuk
mendapatkan data yang valid. Triangulasi sendiri adalah teknik
pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar
data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap
data itu. Moleong (2005:330) membagi triangulasi menjadi tiga jenis
yaitu:

a. Triangulasi sumber yaitu membandingkan dan mengecek balik


derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui
waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. Hal
tersebut dapat dilakukan dengan cara:
1) Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil
wawancara,
2) Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan
umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi,
3) Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang
situasi

penelitian

dengan

apa

yang

dikatakannya

sepanjang waktu,
4) Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang
dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti
rakyat biasa, orang yang berpendidikan, orang berada,
maupun pemerintahan, dan
5) Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu
dokumen yang berkaitan.
b. Triangulasi

metode,yaitu

mengecek

derajat

kepercayaan

penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengambilan data dan


pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan
metode yang sama.
c. Triangulasi teori yaitu membandingkan fakta dengan teori.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka peneliti menggunakan
triangulasi sumber dengan tiga jalan yaitu:

1) Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil


wawancara.
2) Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan
berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat
biasa, orang yang berpendidikan, orang berada, maupun
pemerintahan, dan
3) Membandingkan

hasil

wawancara

dengan

isi

suatu

dokumen yang berkaitan.


4)
J. Waktu dan Tempat
Kegiatan dilaksanakan pada:
Tanggal

: 10-30 Januari 2014

Tempat

: Pesantren At-Taujieh (Pesantren Andalusia) Desa Randegan,

Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas

BAB VI
HASIL DAN ANALISIS PENYEBAB MASALAH

A. Hasil
1. Analisis Univariat
Pelaksanaan penelitian dilakukan di Desa Karang Nanas,
Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas. Penelitian ini diawali dengan
membagikan kuesioner persetujuan menjadi responden, kemudian
dilanjutkan dengan pemberian kuesioner serta dilakukan wawancara

dengan metode semi closed. Kuesioner yang disebarkan kepada 28


responden.
Karakteristik Responden
Tabel 6.1. Karakteristik Responden
Variabel
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Usia
<21 tahun
21-30 tahun
31-40 tahun
41-50 tahun
51-60 tahun
61-70 tahun
> 70 tahun
Sumber: Data primer, 2011

Frekuensi

18
10

58,3
41.7

2
3
5
10
1
3
4

7.1
10.7
17.9
35.7
4.2
10.7
14.3

Hasil penelitian pada responden menunjukkan bahwa distribusi


responden menurut jenis kelamin terdiri dari 18 orang (58.3%) laki-laki
dan 10 orang (41.7%) perempuan. Kelompok usia yang paling banyak
menjadi responden adalah kelompok usia 41-50 tahun dengan jumlah
responden sebanyak 10 orang (35,7%). Kelompok usia yang paling sedikit
menjadi responden adalah kelompok usia 51-60 tahun sebanyak 1 orang
(4.2%).
2. Proporsi Kasus TB dan Non Kasus TB
Pengisian kuesioner dilakukan oleh 28 orang responden, 14 di
antaranya merupakan pasien TB Paru. Pada penelitian ini digunakan
metode case control dengan menggunakan metode total sampling pada
area yang kasus TB paling banyak dan menggunakan control sebanyak
kasus pada area tersebut.
3. Analisis Bivariat

A. Hubungan antara Perilaku dengan Kejadian Kasus TB Paru


Analisis bivariat hubungan antara perilaku dengan kejadian
kasus TB Paru terlihat pada tabel 6.2
Tabel 6.2. Hubungan antara Perilaku dengan Kejadian Kasus TB
Paru

Baik
Perilaku
Buruk
Total

Kejadian Kasus TB Paru


Kasus TB
Kontrol
3
13
(10,7%)
(46.4%)
11
1
(39.3%)
(3.6%)
14
14
(50%)
(50%)

Total
16
(57.7%)
12
(42.9%)
28
(100%)
p = 0,000

Pengujian terhadap data (tabel 6.2.) yang diperoleh memenuhi


syarat uji chi-square dengan hasil statistik menunjukkan p = 0,000,
dengan demikian nilai p lebih kecil dari ( = 0,05). Hasil uji
koefisien kontingensi adalah 0,585 dan nilai odd ratio adalah 0.021.
Hasil penelitian ini secara statistik menunjukkan terdapat hubungan
yang bermakna antara Perilaku dengan Kejadian Kasus TB Paru.
B. Hubungan antara Status Gizi dengan Kejadian Kasus TB Paru
Analisis bivariat hubungan antara Status Gizi dengan Kejadian
Kasus TB Paru terlihat pada tabel 6.3.
Tabel 6.3. Hubungan antara Status Gizi dengan Kejadian Kasus
TB Paru

Baik
Status Gizi
Buruk

Kejadian Kasus TB Paru


Kasus TB
Kontrol
2
11
(7.1%)
(39.3%)
12
3
(42.9%)
(10.7%)

Total
13
(46.4%)
15
(53.6%)

14
(50%)

Total

14
(50%)

28
(100%)
p = 0,001

Pengujian terhadap data (tabel 6.3.) yang diperoleh memenuhi


syarat uji chi-square dengan hasil uji menunjukkan p = 0,001, dengan
demikian nilai p lebih kecil dari ( = 0,05). Hasil penelitian ini
secara statistik menunukkan terdapat hubungan antara status gizi
dengan kejadian kasus TB Paru.
C. Hubungan antara Lingkungan dengan Kejadian Kasus TB Paru
Analisis bivariat hubungan antara lingkungan dengan kejadian
kasus TB Paru terlihat pada tabel 6.4.
Tabel 6.4. Hubungan antara Lingkungan dengan Kejadian Kasus
TB Paru

Sehat
Lingkungan
Total

Kurang
Sehat

Kejadian Kasus TB Paru


Kasus TB
Kontrol
5
11
(17.9%)
(39.3%)
9
3
(32.1%)
(10.7%)
14
14
(50%)
(50%)

Total
16
(57.1%)
12
(42.9%)
28
(100%)
p = 0,022

Pengujian terhadap data (tabel 6.4.) yang diperoleh memenuhi


syarat uji chi-square dengan hasil uji statistik p = 0,022 dengan
demikian nilai p lebih besar dari ( = 0,05). Jadi, hasil penelitian ini
secara statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna
secara statistik antara Lingkungan dengan Kejadian Kasus TB Paru.

D. Hubungan antara Pendapatan dengan Kejadian Kasus TB Paru

Analisis bivariat hubungan antara Pendapatan dengan Kejadian


Kasus TB Paru terlihat pada tabel 6.5.
Tabel 6.5. Hubungan antara Pendapatan dengan Kejadian Kasus
TB Paru

Baik
Pendapatan
Buruk
Total

Kejadian Kasus TB Paru


Kasus TB
Kontrol
0
4
(0%)
(14.3%)
14
10
(50%)
(35.7%)
14
14
(50%)
(50%)

Total
4
(14.3%)
24
(85.7%)
28
(100%)
p = 0,098

Pengujian terhadap data (tabel 6.5.) yang diperoleh tidak


memenuhi syarat uji chi-square karena terdapat dua sel memiliki
expected count < 5, sehingga nilai yang digunakan adalah nilai Fisher's
Exact Test. Hasil Fisher's Exact Test menunjukkan p = 0,098 dengan
demikian nilai p lebih besar dari ( = 0,05). Hasil penelitian ini
secara statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna
antara pendapatan dengan kejadian kasus TB Paru.

E. Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Kejadian Kasus TB


Paru
Analisis bivariat Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan
Kejadian Kasus TB Paru terlihat pada tabel 6.6.
Tabel 6.6. Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Kejadian
Kasus TB Paru
Kejadian Kasus TB Paru
Kasus TB
Kontrol

Total

Tingkat
Pendidikan

Baik
Buruk

Total

6
(25.4%)
8
(28.6%)
14
(50%)

9
(32.1%)
5
(17.9%)
14
(50%)

14
(50%)
14
(50%)
28
(100%)
p = 0,256

Pengujian terhadap data (tabel 6.6.) yang diperoleh memenuhi


syarat uji Chi-Square dengan didapatkan hasil statistik adalah p =
0,256 dengan demikian nilai p lebih besar dari ( = 0,05). Hasil
penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan secara statistik
antara Tingkat Pendidikan dengan Kejadian Kasus TB Paru.

B. Pembahasan
1.

Hubungan antara Perilaku dengan Kejadian Kasus TB Paru


Hasil penelitian di Karang Nanas, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten
Banyumas terhadap 28 responden didapatkan persentase 42,9% (12)
responden dengan prilaku baik dalam usaha pencegahan penularan TB
paru ke orang lain, serta didapatkan sebanyak 16 responden (57,1%)
dengan perilaku yang buruk dalam usaha pencegahan TB paru ke orang
lain.
Uji Chi Square yang dilakukan untuk mencari hubungan antara
perilaku dengan kejadian TB paru memberi hasil bahwa nilai p adalah
0,000, dengan adanya nila p tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa secara
statistik terdapat hubungan

yang bermakna antara perilaku dengan

kejadian TB Paru.
2. Hubungan antara Status Gizi dengan Kejadian Kasus TB Paru

Hasil penelitian di Desa Karang Nanas, Kecamatan Sokaraja,


Kabupaten Banyumas terhadap 28 responden didapatkan persentase 53,6%
(15) responden yang memiliki status gizi buruk, serta didapatkan sebanyak
13 responden (46,4%) dengan status gizi baik.
Uji chi square yang dilakukan untuk mencari hubungan antara
Status Gizi dengan kejadian kasus TB Paru memberi hasil bahwa nilai p
adalah 0,001, dengan adanya nilai p tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa
secara statistik terdapat hubungan

yang bermakna antara status gizi

dengan kejadian kasus TB.


3.

Hubungan Lingkungan dengan Kejadian Kasus TB Paru


Hasil penelitian di Desa Karang Nanas, Kecamatan Sokaraja,
Kabupaten Banyumas terhadap 28

responden didapatkan persentase

42,9% (12) responden tinggal di lingkungan yang kurang sehat, serta


didapatkan sebanyak 16 responden (57,1%) tinggal di lingkungan yang
sehat.
Uji chi square yang dilakukan untuk mencari hubungan antara
linkungan dengan kejadian kasus TB memberi hasil bahwa nilai p adalah
0,022, dengan adanya nila p tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa tidak
terdapat hubungan secara statistic antara lingkungan dengan kejadian
kasus TB.
4.

Hubungan Pendapatan dengan Kejadian Kasus TB Paru


Hasil penelitian di Desa Karang Nanas, Kecamatan Sokaraja,
Kabupaten Banyumas terhadap 28

responden didapatkan persentase

85,7% (24) responden dengan pendapatan buruk (di bawah UMR), serta

didapatkan sebanyak 4 responden (14,3%) dengan pendapatan buruk (di


bawah UMR).
Uji Fisher Exact Test yang dilakukan untuk mencari hubungan
antara pendapatan dengan kejadian kasus TB memberi hasil bahwa nilai p
adalah 0,098, dengan adanya nilai p tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa
secara statistik tidak hubungan yang bermakna antara pendapatan dengan
kejadian kasus TB.
5.

Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Kejadian Kasus TB Paru


Hasil penelitian di Desa Karang Nanas, Kecamatan Sokaraja,
Kabupaten Banyumas terhadap 28

responden didapatkan persentase

46,4% (13) responden dengan pendidikan buruk, serta didapatkan


sebanyak 15 responden (53,6%) dengan pendidikan baik sesuai anjuran
pemerintah yaitu wajib belajar 9 tahun.
Uji chi square yang dilakukan untuk mencari hubungan antara
linkungan dengan kejadian kasus TB memberi hasil bahwa nilai p adalah
0,256, dengan adanya nilai p tersebut diperoleh kesimpulan bahwa secara
statistik tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan
kejadian kasus TB.
C. Analisis Penyebab Masalah
Berdasarkan analisis bivariat yang telah dilakukan diketahui bahwa
faktor yang berpengaruh secara statistik terhadap kejadian kasus TB Paru
adalah Perilaku dan Status Gizi. Analisis Fish Bone yang dilakukan
menunjukkan bahwa status gizi yang rendah pada subjek penelitian dapat

terjadi karena faktor pengetahuan dan ekonomi. Selain itu, faktor Perilaku
dapat terjadi karena faktor pengetahuan.
Faktor pengetahuan diantaranya adalah keadaan masyarakat yang
tidak tahu tentang pola diet gizi yang baik, kurangnya pengetahuan tentang
makanan-makanan bergizi, serta masyarakat tidak tahu bahwa status gizi yang
baik berpengaruh terhadap kejadian kasus TB Paru. Selain itu, pengetahuan
tentang penyakit Tuberkulosis Paru itu sendiri dan cara penularan serta
pencegahannya sangat penting diketahui untuk mengurangi angka kejadian
kasus TB Paru.
Faktor ekonomi yang dapat menyebabkan rendahnya status gizi pada
subjek penelitian terkait dengan pendapatan yang cenderung rendah. Selain
itu, tingkat pendidikan dari subjek penelitian juga masih sangat rendah.

Perilaku

Pendidikan
Perilaku

Pengetahuan
Penyuluhan
Tuberkulosis
Paru
Tingkat Pendidikan

Pengetahuan
Penyuluhan

Petugas Kesehatan

Ekonomi

Status Gizi

Gambar 6.1. Analisis Fish Bone

Faktor yang berkontribusi paling besar terhadap rendahnya perilaku


yang baik dan benar dalam mengurangi kejadian kasus TB Paru adalah terkait
dengan tingkat faktor pengetahuan. Oleh karena itu, penulis akan melakukan
intervensi terhadap buruknya perilaku subjek penelitian melalui proses
edukasi terhadap subjek. Untuk masalah status gizi yang rendah, penulis
berusaha memberikan intervensi berupa edukasi terkait dengan manajemen
pola gizi seimbang dalam konsumsi makanan sehari-hari.

BAB VII
ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

A. Penyusunan Alternatif Pemecahan Masalah


Berdasarkan dari hasil wawancara dan observasi, alternatif pemecahan
masalah yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan perilaku dan
lingkungan pada subjek penelitian adalah:
1. Penyuluhan tentang skabies, cara penularan, pengobatan, cara pencegahan
skabies, perilaku hidup bersih dan sehat, dan sanitasi lingkungan.
2. Pengobatan Masal Skabies

3. Pendekatan secara intens ke pihak pengelola dengan menggunakan focus


group discussion
4. Pemberian leaflet tentang skabies dan cara penularannya..
5. Pembentukan Poskestren(Pos Kesehatan Pesantren) yang mandiri dan
berfungsi sebagai pengawasan terhadap pemutusan rantai penularan
skabies.
B. Penentuan Alternatif Terpilih
Pemilihan prioritas alternatif pemecahan masalah harus dilakukan
karena adanya keterbatasan baik dalam sarana, tenaga, dana, serta waktu.
Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pemilihan prioritas pemecahan
masalah adalah metode Reinke. Metode ini menggunakan dua kriteria yaitu
efektifitas dan efisiensi jalan keluar.
Efektifitas jalan keluar meliputi besarnya masalah yang dapat diatasi,
kelanggengan selesainya masalah, dan kecepatan penyelesaian masalah.
Efisiensi jalan keluar dikaitkan dengan biaya yang diperlukan dalam
menyelesaikan masalah. Skoring efisiensi jalan keluar adalah dari sangat
murah (1), hingga sangat mahal (5).
Tabel 7.1. Kriteria dan Skoring Efektivitas Jalan Keluar
Sko
r

1
2
3
4
5

M
(besarnya

I
(kelanggengan

V
(kecepatan

masalah yang

selesainya

penyelesaian

dapat diatasi)
sangat kecil

masalah)
sangat tidak

masalah)
sangat lambat

Kecil
cukup besar
Besar
sangat besar

langgeng
tidak langgeng
cukup langgeng
Langgeng
sangat langgeng

Lambat
cukup cepat
Cepat
sangat cepat

Prioritas pemecahan masalah dengan menggunakan metode Reinke


adalah sebagai berikut:
Tabel 7.2. Prioritas Pemecahan Masalah Metode Reinke

N
o
1

20

Uruta
n
Priori
tas
Masa
lah
2

Masal

20

secara

25

20

Daftar Alternatif
Jalan Keluar
Penyuluhan

tentang

skabies,

Efektivit
as
M I
V

Efisie
nsi
C

MxIx
V
C

cara

penularan,
pengobatan,

cara

pencegahan skabies,
perilaku hidup bersih
dan

sehat,

dan

sanitasi lingkungan.
2

Pengobatan
Skabies

Pendekatan
intens

ke

pengelola
menggunakan
4

pihak
dengan
focus

group discussion
Pemberian
leaflet
tentang skabies dan

cara penularannya
5

Pembentukan

Poskestren

20

(Pos

Kesehatan Pesantren)
yang

mandiri

berfungsi

dan

sebagai

pengawasan
terhadap pemutusan
rantai

penularan

skabies.

Berdasarkan

hasil

perhitungan

prioritas

pemecahan

masalah

menggunakan metode Reinke, didapat prioritas pemecahan masalah, yaitu


pendekatan secara instens ke pihak pengelola dengan menggunakan fokus
group

discussion.

Namun

dikarenakan

kegiatan-kegiatan

tersebut

dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan dan rencana yang dilakukan oleh


Puskesmas Kebasen, maka semua pemecahan masalah dilakanskan sebagai
tindakan pemecahan permasalahan pada pemutusan rantai penularan skabies.

BAB VIII
RENCANA KEGIATAN DAN LAPORAN HASIL PELAKSANAAN

A. Latar Belakang

TB Paru ialah suatu penyakit infeksi kronik jaringan paru yang


disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosae. Sebagian besar basil
Mycobacterium tuberculosae masuk ke dalam jaringan paru melalui airborne
infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai fokus primer
dari Ghon.
Hampir 10 tahun lamanya Indonesia menempati urutan ketiga
sedunia dalam hal jumlah penderita Tuberkulosis (TB). Pada tahun 2012,
mengalami penurunan peringkat ke peringkat V dan masuk dalam Milestone
atau pencapaian kinerja satu tahun kementerian kesehatan (PPTI,2012).
Berdasarkan data badan kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2007 menyatakan
jumlah penderita TB di Indonesia sekitar 528.000 orang atau berada di posisi
tiga dunia setelah India dan China. Laporan WHO tahun 2009 mencatat
peringkat Indonesia menurun ke posisi V dengan jumlah penderita TB sebesar
429.000 orang. Lima Negara dengan jumlah terbesar kasus insiden pada tahun
2009 adalah India, China, Afrika Selatan, Nigeria dan Indonesia (WHO,
2010).
Angka kejadian yang tinggi dan sulitnya mengatasi masalah TB paru di
Indonesia membuat penulis tertarik untuk mengangkat kasus TB paru di
wilayah kerja Puskesmas I Sokaraja untuk dilakukan analisis dalam Laporan
Community Health Analysis (CHA).
Hasil analisis bivariat penelitian Upaya Menurunkan Insidensi
Tuberkulosis Paru di wilayah kerja Puskesmas 1 Sokaraja Periode Januari
2011 Juni 2012 yang dilakukan terhadap 28 subjek penelitian di Desa
Karang Nanas menunjukkan bahwa perilaku dan status gizi yang buruk
menjadi faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap kejadian kasus

Tuberkulosis Paru di Desa Karang Nanas, Kecamatan Sokaraja Kabupaten


Banyumas.
Berdasarkan hasil pemilihan alternatif pemecahan masalah dengan
menggunakan Metode Rienke, tentang TB paru, komplikasi TB paru,
manajemen TB Paru, dan memberikan intervensi berupa edukasi terkait
dengan manajemen pola gizi seimbang dalam konsumsi makanan sehari-hari
diperlukan untuk mencegah terjadinya kejadian kasus TB Paru lebih banyak
lagi.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Memberikan informasi tentang tentang TB paru, komplikasi TB paru,
manajemen TB Paru, dan memberikan intervensi berupa edukasi terkait
dengan manajemen pola gizi seimbang dalam konsumsi makanan seharihari di Desa Karang Nanas Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas.
2. Tujuan Khusus
A. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang penyakit TB Paru
B. Memberikan informasi tentang Pola Gizi Seimbang dalam konsumsi
sehari-hari.
C. Bentuk dan Materi Kegiatan
Kegiatan akan dilaksanakan disajikan dalam bentuk penyuluhan dengan
materi tentang tentang TB paru, komplikasi TB paru, manajemen TB Paru,
dan memberikan intervensi berupa edukasi terkait dengan manajemen pola
gizi seimbang dalam konsumsi makanan sehari-hari. Kegiatan ini disisipkan

pada kegiatan Halal Bihalal Desa Karang Nanas yang diselenggarakan oleh
Pemerintah Desa.

D. Sasaran
Kader Kesehatan Desa Karang Nanas, Kecamatan Sokaraja Kabupaten
Banyumas sejumlah 40 peserta.

E. Pelaksanaan
1. Personil
Penanggung jawab

: dr. Sugeng Rahadi (Preseptor Lapangan).

Pembimbing

: Nanang, Amd. Dan Nining, Amd (Bidan Desa)

Pelaksana

: I Gede Ketut Alit S.N

Pembicara

: Laras Dyah Permaningtyas

2. Waktu dan Tempat


Hari

: Minggu

Tanggal

: 2 September 2012

Waktu

: 09.00 10.00 WIB

Tempat: Aula Balai Desa Karang Nanas

F. Rencana Anggaran
1. Materi

: Rp. 50.000,00

2. Leaflet

: Rp. 15.000,00

3. Doorprize

: Rp. 50.000,00

4. Konsumsi

: Rp. 160.000,00

Jumlah

: Rp. 275.000,00

G. Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui apakah penyuluhan yang dilakukan
berpengaruh terhadap pemahaman cara mencegah TB Paru dibandingkan dari
sebelum diberikan penyuluhan. Alat evaluasi yang digunakan untuk
mengetahui hasil dari intervensi adalah kuesioner yang harus diisi peserta
penyuluhan sebelum dan sesudah materi penyuluhan disampaikan. Kuesioner
terdiri dari sepuluh pertanyaan, setiap pertanyaan memiliki dua opsi jawaban
dan satu jawaban benar. Untuk evaluasi proses akan dievaluasi sasaran, waktu
dan anggaran terkait acara.

H. Evaluasi Hasil Pelaksanaan


Kegiatan penyuluhan mengenai Tuberkulosis Paru yang difokuskan pada cara
penularannya serta pola konsumsi gizi seimbang diselenggarakan di Aula
Balai Desa Karang Nanas hari Minggu, 2 September Pukul 09.00 WIB
berbarengan dengan acara Halal Bihalal Desa Karang Nanas.

1. Evaluasi Input
Penyuluhan diikuti oleh 56 peserta. Jumlah tersebut lebih besar dari target
peserta sejumlah 40 orang. Hal tersebut dapat terjadi karena acara
penyuluhan ini berbarengan dengan acara Halal Bihalal Pemerintah Desa

Karang Nanas. Rerata penilaian kuesioner pre test yang diisi oleh seluruh
peserta adalah 6,00.
2. Evaluasi Proses
a. Sasaran
Dari target mendapatkan sasaran penyuluhan sebanyak 40 orang,
ternyata didapatkan peserta melebihi target yakni sejumlah 56 orang.
Hal ini diperkirakan terkait hadirnya tokoh masyarakat yang turut
mendukung acara penyuluhan dan Halal Bihalal.
b. Waktu
Terdapat beberapa kendala yang terjadi selama jalannya acara
penyuluhan. Penyuluhan baru dimulai pukul 09.20 WIB karena harus
menunggu kumpulnya mayarakat yang menjadi wakil dari masingmasing dusun. Setelah penyuluhan selesai, panitia membagikan leaflet
tentang TB Paru saat peserta penyuluhan pulang sebagai media yang
dapat digunakan peserta penyuluhan untuk menyampaikan informasi
yang sudah didapatkan ke masyarakat sekitar tempat tinggal.
b. Anggaran
Anggaran yang dihabiskan ketika acara adalah sejumlah Rp. 110.000,-.
Hal ini lebih rendah dari rencana karena konsumsi ternyata ditanggung
sepenuhnya oleh pemerintah desa terkait acara Halal Bihalal Perangkat
Desa dan Masyarakat Desa Karang Nanas.
3. Evaluasi Output
Hasil penilaian kuesioner post test yang diisi oleh peserta
penyuluhan menunjukkan adanya peningkatan rerata dari 6,00 menjadi

6,75. Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta


penyuluhan

setelah

mendapatkan

materi

tentang

TB

Paru

dan

manajemennya serta pengelolaan gizi seimbang. Selain itu masyarakat


tampak puas terkait pelaksanaan penyuluhan yang interaktif dan menarik
serta disertai door prize.

BAB IX
RENCANA KEGIATAN DAN LAPORAN HASIL PELAKSANAAN

1. Kesimpulan

a. Hasil analisis permasalahan kesehatan komunitas yang terjadi di


Puskesmas 1 Sokaraja adalah TB Paru yang difokuskan sebagai
prioritas permasalahan.
b. Faktor yang didapatkan dari hasil prioritas masalah dan analisis
kesehatan komunitas yang paling berpengaruh di Desa Karang Nanas
Kecamatan Sokaraja adalah Faktor Perilaku dan Status Gizi terhadap
kejadian TB Paru.
c. Alternatif pemecahan masalah yang diprioritaskan untuk masalah
tersebut adalah penyuluhan.
d. Intervensi yang dilakukan menghasilkan peningkatan pengetahuan
masyarakat Desa Karang Nanas yang diukur dari nilai hasil Post Test
yang lebih baik dibandingkan hasil Pre Test sebelum dilakukan
penyuluhan.

2. Saran
a. Penyuluhan dapat menjadi metode efektif untuk menurunkan angka
kejadian TB Paru di Kecamatan Sokaraja pada umunya dan Desa
Karang Nanas pada khususnya.
b. Perlu digalakkan promosi kesehatan di Desa Karang Nanas khususnya
dan Kecamatan Sokaraja pada umumnya untuk mengurangi angka
kejadian TB Paru di Wilayah kerja Puskesmas 1 Sokaraja.

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi,M. 2005. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Jakarta : Kompas


Media
Arifin. 2005. Diagnosis Tuberkulosis dan Faktor Risiko Terkait Wilayah.
Available from: URL: http://library.usu.ac.id. Retrieved at 1 September
2012.
Arlina Gusti.2003. Kekerapan Tuberkolosis Paru pada Pasangan Suami-Isteri
Penderita Tuberkolosis Paru yang Berobat di Bagian Paru RSUP. H.
Adam Malik. Available from: URL:

http://library.usu.ac.id/download/fk/paru-arlina%20gusti.pdf. Retrieved at
1 September 2012.
Barnes. 2003. Molecular Epidemiology of Tuberculosis. Available from: URL:
http://content.nejm.org/cgi/content/short/349/12/1149. Retrived at 1
September 2012.
CDC. 2008. Diagnostic Standards and Classification of Tuberculosis. Available
from: URL:
http://wonder.cdc.gov/wonder/PrevGuid/p0000425/p0000425.asp.
Retrieved at 1 September 2012. 142:725-735.
Depkes. 2007. Pedoman Nasional Penanggulanganan Tuberkulosis Edisi 2.
Jakarta : Departemen Kesehatan RI.
Depkes, 2009. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Available from:
URL: http://www.pppl.depkes.go.id/images_data/Pedoman%20nasional
%20TB.pdf .Retrieved at 1 September 2012.
Elok.2009. Evaluasi Penatalaksanaan Penderita Tuberkulosis dengan Strategi
DOTS di Puskesmas Tahun 2008. 2009. Available from: URL:
http://adln.lib.unair.ac.id/go.php?id=gdlhub-gdl-s1-2009-trisdianit10043&PHPSESSID=7ef6e323a54e817c51a603fa3c103195. Retrieved
at 1 September 2012.
Fahmi Achmadi, Umar. 2005. Manajemen Tuberkulosis Berbasis Wilayah.
Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Jakarta : Penerbit Buku
Kompas ; 284
Hassmiller, K M. 2006. The Association between smoking and tuberculosis. Salud
Publica Med. vol 48 suppl: 1:S201-S216
Hill, C Philip. 2010. Risk factors for pulmonary tuberculosis: a clinical-based case
control study in Gambia. BMC Public Health. Vol: 6:156
Issar. 2003. Mycobacterium tuberculosis Pathogenesis and Molecular
Determinants of Virulence. Clinical Microbiology Reviews. Vol: 16(3):
463496.
Kenneth.2009. Mycobacterium tuberculosis and Tuberculosis available from:
URL: http://www.textbookofbacteriology.net/tuberculosis.html.
Retrieved at 1 September 2012.
Medline. 2009. Tuberculosis. Available from: URL:
www.nlm.nih.gov/medlineplus/tuberculosis.html. Retrieved at 1
September 2012.
WHO. 2009. Chapter I : Epidemiology. Global Tuberculosis Control 2009
EPIDEMIOLOGY STRATEGY FINANCING. WHO : 6-8
Zulkifli. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Edisi IV. Jakarta : FKUI;
242-990; 1001-1002.

LAMPIRAN