Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

Masyarakat yang semakin maju dan taraf hidup yang semakin meningkat membuat
masyarakat mengerti dan menyadari tentang pentingnya kesehatan terutama kesehatan gigi. Gigi
berlubang besar dapat terjadi pada setiap orang. Masyarakat sekarang bila mengalami gigi yang
berlubang tidak harus dilakukan pencabutan tapi dapat dipertahankan selama mungkin didalam
rongga mulut dengan dilakukan perawatan saluran akar.Perawatan saluran akar dapat dilakukan
pada gigi sulung maupun gigi permanent. Perawatan saluran akar adalah melakukan pembersihan
dan preparasi saluran akar yang kemudian diberi bahan pengisi saluran akar.Pembersihan yang
efektif dan pembentukan sistem saluran akar sangat penting untuk mencapai tujuan biologis dan
mekanis perawatan saluran akar. Tujuannya adalah untuk menghapus semua pulpa jaringan,
bakteri dan produk mereka sementara menyediakan bentuk kanal yang memadai untuk mengisi
kanal (Schilder 1974).
Instrument ProTaper merupakan generasi baru yang dedesain untuk mempertinggi
efisiensi pemotongan dentin dengan fleksibilitas terutama pada bagian akar yang melengkung.
ProTaper memiliki desain conves triangular cross-sectional dengan desain cutting-blades yang
memiliki kombinasi taper yang bermacam-macam pada pemotongnya. Instrumen ProTaper ini
berdasarkan kegunaannya terbagi menjadi 2, yaitu hand instrument dan rotary instrument. Pada
dasarnya, instrumen pada rotary dan hand isntrumen ialah sama. Perbedaannya adalah hand
instrumen digerakkan menggunakan tangan operator, sedangkan rotary instrumen digerakkan
menggunakan alat rotary atau handpiece menggunakan tenaga putaran 250-300 rpm yang
dihasilkan oleh motor.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Perawatan Endodonti


Pulpitis irreversible adalah keradangan pulpa yang disebabkan oleh adanya iritasi dengan
atau tanpa gejala. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan pupitis adalah iritan kimiawi, factor
termis, dan perubahan hiperemik. Nekrosis pulpa: kematian jaringan pulpa akibat invasi kuman
kedalam ruang pulpa (dan saluran akar). Rencana Perawatan pada gogo tersebut adalah dengan
dilakukan Perawatan Saluran Akar.
2.1.1. Fase-fase Perawatan Endodontik
1..Preparasi Akses, adalah fase yang paling penting dari aspek teknik perawatan akar.
Merupakan kunci untuk membuka pintu bagi keberhasilan tahap pembersihan,
pembentukan dan obturasi saluran akarnya. Tujuan dari preparasi akses adalah membuat
akses yang lurus, menghemat preparasi jaringan gigi, membuka atap ruang pulpa. Teknik
Akses Preparasi Cavity Entrance adalah outline form cavity entrance,yaitu proyeksi
ruang pulpa ke permukaan gigi di bagian cingulum untuk gigi anterior atau oklusal untuk
gigi posterior dengan tujuan untuk membuat akses yang lurus, menghemat preparasi
jaringan gigi, membuka atap pulpa.
2. Penentuan Panjang Kerja.
Panjang Kerja: Panjang dari alat preparasi yang masuk ke dalam saluran akar pada waktu
melakukan preparasi saluran akar.
3. Menentukan panjang kerja dikurangi 1mm panjang gigi sebenarnya, untuk
menghindari:
- Rusaknya apical constriction (penyempitan saluran akar di apical).

Perforasi

ke

apical.

4. Cara melakukan DWP (Diagnostic Wire Photo)


Masukkan jarum miller atau file nomor kecil yang diberi stopper dengan guttap perca
pada batas panjang gigi rata-rata (lihat tabel) dikurangi 1-2 mm lalu dilakukan foto R.
5. Pembersihan dan Pembentukan Saluran Akar.
Pembersihan:

Debridement: Pembuangan Iritan dari sistem saluran akar.

Tujuan: Membasmi habis iritan tersebut walaupun dalam kenyataan praktisnya

hanyalah sebatas pengurangan yang signifikan saja.

Iritan: bakteri, produk samping bakteri, jaringan nekrotik, debris organik, darah

dan kontaminan lain.


6. Preparasi Saluran Akar:
- Membentuk saluran akar melebar secar kontinyu dari apeks ke arah korona.
- Pelebaran:
Saluran akar harus cukup besar untuk melakukan debridement yang baik dan dapat
memanipulasi serta mengendalikan instrumen dan meterial obturasi dengan baik tapi
tidak sampai melemahkan gigi serta meningkatkan peluang terjadinya kesalahan
prosedur.
- Ketirusan
Ketirusan hasil preparasi harus cukup sehingga instrumen penguak dan pemampat gutta
perca dapat berpenetrasi cukup dalam.
- Kriteria

Saluran akar siap menerima obturasi baik dengan kondensasi lateral maupun vertikal,
saluran akar harus berbentuk corong ke arah korona dan dalam ukuran cukup besar
sehingga instrument pemampat dan penguak dapar masuk cukup dalam.
7.

Sterilisasi

Desinfeksi saluran akar adalah pembinasaan mikroorganisme patogenik

yang

mensyaratkan pengambilan terlebih dahulu jaringan pulpa dan debris yang memadai,
pembersihan dan pelebaran saluran dengan cara biokimiawi dan pembersihan isinya
dengan irigasi. Desinfeksi saluran akar dilengkapi dengan medikamen intrasaluran.
Syarat desinfeksi saluran akar adalah sebagai berikut : (1) harus suatu germisida dan
fungisida yang efektif. (2) harus tidak mengiritasi jaringan periapikal. (3) harus tetap
stabil dalam larutan. (4) harus mempunyai efek antimicrobial yang lama. (5) harus aktif
dengan adanya darah, serum dan derivate protein jaringan. (6) harus mempunyai
tegangan permukaan rendah. (7) harus tidak menganggu perbakan jaringan periapikal. (8)
tidak menodai struktur gigi. (9) harus mampu dinonaktifkan dalam medium biakan. (10)
harus

tidak

menginduksi

respon

imun

berantara-sel.

Sesuai dengan prinsip umum pentalaksanaan saluran akar, dressing desinfektan sebaiknya
diganti setiap minggu dan tidak lebih dari dua minggu karena dressing menjadi cair oleh
eksudat

periapikal

dan

membusuk

karena

interaksi

dengan

mikroorganisme.

Secara tradisional, melakukan dressing saluran akar terdiri dari memasukkan poin
absorben pendek dan tumpul yang telah dibaasahi dengan medikamen saluran akar,
meletakkan bulatan kapal yang kelebihan medikamennya telah diperas di dalam kamar
pulpa dan menutup kavitas jalan masuk. Namun pada saluran yang sempit, poin absorben
yang basah tidak cukup kaku untuk dapat dimasukkan ke dalam saluran. Pada kasus
semacam itu, suatu absorben kering dimasukkan dan butiran kapas yang dibasahi dengan
medikamen diletakkan pada poin absorben untuk membasahinya. Bulatan kapas kering
digunakan

untuk

mengabsorpsi

kelebihan

medikamen

dan

kavitas

ditutup.

Banyak endodontis lebh senang melalukan dressing sauran akar dengan butiran kapas
yang kelebihan medikamennya telah diperas. Mereka mengandalkan penguapan
medikamen dalam kamar pulpa untuk menghilangkan bakteri dan mereka tidak
meletakkan poin absorben di dalam saluran akar Uap yang keluar dari medikamen cukup
untuk mendesinfeksi kavitas pulpa. Tidak digunakannya poin absorben menyediakan

ruang di dalam saluran untuk akumulasi eksudat cairan, mengurangi kemungkina iritasi
periapikal karena merembesnya medikamen secara tidak sengaja atau terdorongnya poin
absorben ke dalam jaringan periapikal, menghilangkan kemungkinan timbulnya masalah
dalam pengeluaran absorben basah yang terjepit dalam saluran akar pada kunjungan
berikutnya, dan mempersingkat waktu perawatan. Saluran akar ditutup setelah
penempatan butiran kapas steril kering yang kedua di atas butiran akapas yang diberi obat
, atau meletakkan bahan penutup sementara di atas butoran kapas yang diberi obat dan
menyelesaikan penutupan ganda dengan penutup luar sementara seperti cavit, semen seng
oksida

8.

eugenol

Pengisian

atau

IRM.

Saluran

Akar

Pada obiturasi teknik kondensasi lateral, sebuahkerucut guta-perca, disebut kerucut utama
atau kerucut induk (master cone) dipaskan pada saluran yang telah diinstumenkan.
Kerucut utama dimasukkan kedalam saluran akar pada panjang kerja yang telah
ditetapkan. Harus pas sekali dan melawan pengambilan (tug-back). Suatu radiograf
dibuat untuk menentukan penyesuaian (fit) apikal dan lateral kerucut utama. Kerucut guta
perca disesuaikan bila menonjol keluar melalui foramen apikal, ujungnya harus dipotong
sehingga keruvut yang dimasukkan kembali pas sekali mempunyai tug-back, dan
menutup saluran apikal kira-kira 1 mm kurang dari pertemuan pulpo-periapikal. Bila
pada penyesuaian pertama pada kerucut utama kurang 2 atau 3 mm dari apeks, suatu
kerucut utama lain dipaksakan. Radiograf lain dibuat memeriksa penyesuaian kerucut.
Tujuan pengepasan kerucut utama lebih pendek dari apeks saluran adalah untuk
menghindari pengisian saluran akar yang berlebihan yang kurang hati-hati pada waktu
kondensasi.
Berbagai radiograf harus dibuat sementara saluran diobturasi untuk memeriksa ketepatan
prosedur kesesuaian kerucit utama dibuktikan oleh prosedur. Kesesuaian kerucut utama
dibuktikan oleh radiograf lain harus dibuat bila dua atau tiga kerucut skunder telah
dikondensasikan ke dalam saluran akar untuk menentukan jumlah aliran ke foramen
apikal. Suatu radiograf akhir pengisian saluran akar yang telah disesuaikan harus dibuat.
2.2 Preparasi Saluran Akar dengan Teknik Crown Down menggunakan Instrumen
ProTaper

ProTaper instrumen memiliki karakteristik yang sangat unik, yaitu :


1.

Peningkatan persentase taper yang bervariasi pada bilah pemotong sehingga protaper ini

bersifat fleksibel dan mengurangi beban putar yang berlebihan, serta peningkatan efisiensi.
2.

Pembentukan sudut helical dan pitch yang seimbang membuat efisiensi pemotong dan

pembersih menjadi lebih besar, dan mencegah instrumen terpelintir.


3.

Penampang melintang berbentuk segitiga cembung yang mengurangi daerah kontak diantara

file dengan dentin.


4.

Pemodifikasian pada ujung tip yang terarah supaya mengikuti saluran akar, dengan

menembus hambatan jaringan lunak tanpa merusak dinding saluran akar.


Untuk menggunakan ProTaper tangan selama perawatan endodontik itu diindikasikan untuk
melakukan beberapa gerakan khusus:

Penetrasi jarum mudah dalam dentin dengan memutar searah jarum jam.

Pelepasan jarum dengan memutar berlawanan 45-90 derajat

Cut dentin dengan memutar searah jarum jam sambil menarik jarum

Ulangi gerakan ini hingga mencapai panjang yang diinginkan

Tergantung pada anatomi saluran akar, jarum ProTaper dapat digunakan dalam gerakan timbal
balik bolak-balik.
2.3 Bentuk dan fungsi dari ProTaper
ProTaper yang digunakan dalam preparasi saluran akar gigi, dibagi atas 2 jenis berdasarkan
kegunaannya :

a.

File pembentuk atau shaping files

File ini terdiri dari 3 jenis file yang berfungsi sebagai pembentuk saluran akar gigi.

1.

File pertama disebut sebagai Shaper X atau SX yang memiliki pegangan berwarna

emas tanpa adanya cincin identifikasi pada pegangannya. SX memiliki panjang


keseluruhan 19mm dan memiliki D0 0,19mm dan D14 mendekati 1,2mm
File SX digunakan untuk memebentuk saluran akar yang pendek secara optimal dan juga
membentuk bagian koronal dari saluran yang panjang. SX merupakan instrument yang
dapat menggantikan fungsi Gates-glidden drills.
2.

File yang kedua disebut dengan shaping file No. 1 atau S1. Memiliki cincin

identifikasi berwarna ungu dengan pegangan berwarna emas. File S1 memiliki D0 0,17
mm dan D14 sampai 1,2 mm.
S1 didesain untuk membentuk bagian 1/3 koronal dari saluran akar
3.

S2 memiliki cincin identifikasi berwarna putih. File S2 memiliki D0 0,2 mm dan

D14 sampai 1,2 mm. S2 digunakan untuk membentuk dan melebarkan bagian 1/3 tengah
saluran akar.
Instrument S1 dan S2 juga dapat membentuk 2/3 koronal dari saluran akar serta
melebarkan 1/3 apikal.
b.

File akhir atau finishing file

File akhir memiliki 3 jenis yang berbeda, yaitu :


1.

F1 (cincin indikator berwarna kuning, diameter 0.20mm, diantara D0 sampai D3

memiliki taper 7%)


2.

F2 (cincin indikator berwarna merah, diameter 0,25mm, diantara D0 sampai D3

memiliki taper 8%)


3.

F3 (cincin indikator berwarna biru, diameter 0,30mm, diantara D0 sampai D3

memiliki taper 9%)


Dari D4 pada masing-masinginstrumen memiliki persentasi taper bermacam-macam dengan
cutting-blades yang dapat memperbaiki keselamatan dengan mengurangi potensi taper-lock yang
berbahaya.

Instrument ini didesain untuk mengoptimalkan bentuk akhir 1/3 apikal dan dapat juga memotong
dan memperluas bentuk sampai 1/3 tengah saluran akar. Menurut studi Calberson (2004),
instrument F2 dan F3 mengabrasi dinding saluran akar, maka diperlukan kehati-hatian untuk
menghindari penyingkiran dari inner kuvatura dan danger zones dari saluran akar.
Selain diindakasi pada kasus-kasus dengan akar gigi yang melengkung, sempit dan pada akar
panjang dan pendek. ProTaper dapat juga digunakan pada kasus-kasus standard an sebagai
instrument untuk membuang gutta-percha pada kasus-kasis retreatment.
Pada umumnya instrumen rotatif ProTaper dapat digunakan pada berbagai jenis saluran akar
yang memiliki anatomi yang rumit, tetapi instrument ini tidak dapat digunakan pada saluran akar
yang berdiameter besar dan belum tumbuh sempurna. Disaranka apabila perbesaran dari apikal
saluran akar lebih dari ISO 30 maka dilakukan teknik lain. Instrument ini juga tidak
diindikasikan untuk saluran akar yang abnormal seperti saluran akar berbentuk S.

1.

Kelebihan ProTaper

a.

Multi taper

b.

Convex triangular cross-sectional

c.

Helical anlge dan pitch

d.

Modifikasi ujung penuntun

e.

Pagangan yang pendek

2.

Kekurangan ProTaper

a.

Harga lebih mahal.

b.

Memerlukan teknik yang baik penggunaannya.

c.

Kurangnya sensasi taktil sehingga diperlukan kehati-hatian untuk mencegah terjadinya

perforasi pada saluran akar ketika melakukan preparasi.


d.

Instrument ini tidak dapat digunakan pada saluran akar yang abnormal seperti saluran akar

S shaped.

2.4 Teknik dan aplikasi dari protaper


Telah banyak studi dilakukan oleh para ahli tentang pemakaian ProTaper. Menurut penelitian
yang dilakukan oleh Peters dkk (2004) dengan menggunakan mikro computed tomography pada
gigi molar maksila yang dipreparasi dengan ProTaper menunjukkan tingkat kesalahan yang
minimum. Tidak ada perforasi dan apikal zipping pada saluran akar yang dipreparasi. ProTaper
sangat baik digunakan pada saluran akar yang sempit dan melengkung.
Hulsman dkk (2004) mengatakan ProTaper merupakan instrument yang dapat menghemat waktu
dan sangat efisien dalam menyingkirkan gutta-percha pada kasus retrearment. Waktu yang
dibutuhkan untuk mencapai panjang kerja pada ProTaper dengan eucalyptol adalah yang tercepat
dibandingkan dengan instrument lainnya, yaitu 2,86 menit.

Teknik penggunaan protaper pada saluran akar adalah sbb:


1)

Eksplorasi saluran akar dengan K-file no 8, no 10, no 15, sepanjang seberapa bisa masuk

file tersebut. Sesudah itu masukkan shaping file no 1(S1) dengan handle identifikasi berwarna
ungu sepanjang seberapa bias masuk juga.
2)

Setelah saluran akar besar dan longgar eksplorasi saluran akar dengan K-file no 15

dengan gerakkan naik turun sampai beberapa mm sepanjang-panjang kerja, lakukan dengan
gerakkan pasif. Setelah itu kamar pulpa diisi dengan natrium hipochlorite (NaOCl) sebagai
prosedur awal.
3)

Kemudian gunakan protaper yang dimulai kembali dari shaping file no 1 (S1) dengan

handle identifikasi berwarna ungu. S1 dimasukkan kedalam saluran akar dan digerakkan

perlahan dengan membuka handle secara lmbut searah jarum jam ke apikal sampai file sedikit
tertahan, lalu lepas file dengan memutar handle file berlawan jarum jam sampai 45-90 derajat
kedalaman K-file. Pada saluran akar yang lebih sulit, diperlukan lebih dari sekali rekapitulasi
untuk memperbesar 2/3 koronal dari saluran akar, lalu irigasi.
4)

Kemudian shaper X (SX) digunakan untuk menyingkirkan dentin secara selektif,

merelokasi saluran akar dari bahaya perforasi dan mencapai akses tegak lurus ke radikular.
Dengan diperbaiki akses, kemudian SX dimasukkan dalam saluran akar sampai ada tahanan
ringan, lalu lakukan gerakkan yang sama dengan File S1 dari apikal kearah koronal lalu irigasi
kembali.
5)

Setelah prosedur pre-enlargment selesai dengan akses 2/3 koronal yang baik gunakan

precurved K-file no 10 untuk preparasi saluran akar. Setelah masukkan S1 untuk


mengkonfirmasi panjang kerja.
6)

Kemudian gunakan shaping file 2 (S2) dengan handle identifikasi berwarna putih sampai

panjang kerja lalu irigasi kembali.


7)

Setelah itu saluran akar diisi kembali dengan irigasi lalu digunakan finshing file no 1 (S1)

dengan handle identifikaso warna kuning, secara hati-hati dimasukkan sepanjnag-panjang kerja,
irigasi kembali.
8)

Periksa ukuran dari foramen apikal dengan menggunakan K-file no 20 sampai panjang

kerja. Jika pas pada panjang kerja maka canal disiapkan untuk obturasi. F1 merupakan ukuran
minimum yang direkomendasikan. Jika masih longgar gunakan F2 dan F3, masukkan kembali
sampai panjang kerja. Lalu periksa kembali dengan K-file No. 25 dan No. 30, kemudian irigasi
kembali. Biasanya dengan preparasi ini akan memperlebar saluran akar yang melengkung.

BAB III
LAPORAN KASUS
LK

PSA Non Vital


LAPORAN KASUS PENGAMATAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
BAGIAN KONSERVASI GIGI

Nama

: RJ

No. RM

: 03.27.27

Umur

: 17 tahun

Tanggal

: 21 Mei 2015

Pekerjaan

: Karyawan

Alamat

: Jl.Kedele Raya no.24 Nama Mahasiswa : Agata Putri


Cengkareng

KELUHAN UTAMA

NIM Mahasiswa

Pasien wanita usia 18 tahun datang dengan keluhan


giginya bawah belakang kiri pernah terasa sakit tiba tiba
kira kira 6 bulan yang lalu, namun sejak 1 bulan yang lalu
sudah tidak sakit lagi.

RIWAYAT PERAWATAN GIGI


Pernah Dirawat : Skeling
Kebiasaan Buruk : Tidak Ada

PEMERIKSAAN UMUM :
Keadaan umum

: Pasien Tampak Sehat

Berat badan

: 40 kg

Tinggi badan

: 160 cm

: 041.213.004 /040.10.005

Pupil Mata

: Normal

Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 62x/menit

Pernapasan

: 24x/menit

PERAWATAN NON INVASIF


Pembersihan Gigi/Mulut :

Sikat Gigi: 3x Sehari


Flossing setiap hari:
Sikat interdental: -

Agen Anti Bakteri :

Obat kumur Chlorhexidine:

Diet Mengurangi :

Gula dan cemilan diantara waktu makan utama: Minuman asam tinggi: Minuman berkafein:

Saliva :

Meningkatkan asupan air: Obat kumur baking soda: Konsumsi makanan / minuman berbahan dasar
susu: Permen karet xylitol / CC P-ACP: -

Fluor :

Pasta Gigi:
Kumur: Gel: -

Penutupan Pit dan Fisur Dengan Gic: :

ODONTOGRAM

RADIOLOGI
Regio
Kesan Foto

: 35, 36, 37
:

Gigi 36 Terdapat radiolusensi berbatas kelas pada akar mesial dan distal, kerusakan tulang di 1/3
servikal akar, karies mencapai pulpa.

GIGI 36
Anamnesis

Pasien wanita usia 18 th datang dengan

keluhan ingin memeriksa gigi kiri bawah


belakang yang pernah sakit 2 bulan yang lalu,
tetapi sekarang sudah tidak sakit.

Tes

Sondasi: -

Vitalitas *

Panas: tidak dilakukan Dingin: +


Perkusi: - Druk: - Palpasi: - Goyang: -Fraktur: -

Perubahan

- RO Photo normal/kelainan: tidak ada kelainan

Warna *

periapikal

Nyeri *

Diagnosa *

Nekrosis pulpa
Rencana Perawatan: pro ENDO

Rencana

Onlay komposit

Restorasi

TAHAP PEKERJAAN
KUNJUNGAN PERTAMA
1. Pembuatan foto Rontgen.
Untuk mengetahui panjang dan jumlah saluran akar
serta keadaan jaringan sekitar gigi yang akan dirawat.
2. Dilakukan pemasangan cotton roll untuk
mencegah kontaminasi bakteri pada karies
3. Karies dibuang dengan round bur dan
ekscavator hingga dentin yang terinfeksi karies
hilang.

4. Pembuatan cavity entrance menggunakan round


bur no1 atau tapered fissure diamond bur pada
tengah fossa di bagian oklusal atau endo access.
5. Setelah kedalaman preparasi mencapai dentin,
preparasi dilanjutkan menggunakan fissure
diamond bur sampai ditemukan orifice ke 3
saluran akar..
6. Penentuan Panjang Kerja
- Panjang Kerja : Panjang dari alat preparasi yang
masuk ke dalam saluran akar pada waktu melakukan
preparasi saluran akar.
- Menentukan panjang kerja dikurangi 1 mm panjang
gigi sebenarnya, untuk menghindari :
o Rusaknya apical constriction (penyempitan saluran
akar di apical).
o Perforasi ke apical.
- Cara melakukan DWP (Diagnostic Wire Photo)
Masukkan jarum miller atau file nomor kecil yang
diberi stopper dengan guttap perca pada batas panjang
gigi rata-rata dikurangi 1-2 mm lalu dilakukan foto
R. Dari hasil foto dilakukan pengukuran dengan
menggunakan rumus :
PGS = (PGR/PIR) x PIS
- Kemudian gigi ditumpat sementara, dilanjutkan pada
kunjungan kedua
KUNJUNGAN KEDUA

1. Pembuatan Artificial Wall dengan komposit

2. Preparasi saluran akar dengan teknik crown


down
a. Eksplorasi saluran akar dengan K-file no 8, no 10,
no 15, sepanjang panjang kerja.
b. Irigasi dengan larutan NaOCl 2% 2mm setiap
pergantian file
c,. Kemudian gunakan shaping file 1 dilanjutkan
dengan shaping file 2 (S2) sampai panjang kerja lalu
irigasi kembali.
Setelah itu saluran akar diisi kembali dengan
irigasi lalu digunakan finshing file no 1 (F1)
dengan handle identifikasi warna kuning,
secara hati-hati dimasukkan sepanjnag-panjang
kerja, irigasi kembali.
Periksa ukuran dari foramen apikal dengan
menggunakan K-file no 20 sampai panjang
kerja. Jika pas pada panjang kerja maka canal
disiapkan untuk obturasi. F1 merupakan
ukuran minimum yang direkomendasikan. Jika
masih longgar gunakan F2 dan F3, masukkan
kembali sampai panjang kerja. Lalu periksa
kembali dengan K-file No. 25 dan No. 30,
kemudian irigasi kembali. Biasanya dengan
preparasi ini akan memperlebar saluran akar
yang melengkung.
3. Menentukan Master Point untuk masing-masing
saluran akar. 1. Pilih guttap point yang
diameternya sesuai dengan reamer / file terakhir
yang digunakan pada waktu preparasi saluran
akar.
4. Cek dengan foto ronsen. Master point yang
memenuhi syarat dapat masuk saluran akar
sebatas panjang kerja dan rapat dengan dinding
saluran akar.
5. Sterilisasi Saluran akar dengan CaOH dan
akuades.
6. Tutup dengan tumpatan sementara,
instruksikan pasien untuk kembali minimal
seminggu kemudian.

KUNJUNGAN KETIGA

1. Obturasi Saluran Akar denganTeknik single


cone
Tahapan :
- Pencampuran pasta saluran akar petunjuk pabrik
- Pasta diulaskan pada jarum lentulo dan guttap point
untuk kemudian dimasukan kedalam saluran akar
yang telah dipreparasi jarum lentulo sesuai panjang
kerja dan diputar berlawanan jarum jam.
- Guttap point (disterilkan dengan alcohol 70% dan
dikeringkan )
-. Masukkan master point dalam saluran akar sebatas
tanda.
- Kering ( diulas dengan pasta ) masuk ke dalam
saluran akar.
2. cek pengisian saluran akar
rontgen

dengan foto

3. - Master point di potong 12mm dibawah


orifice dengan ekskavator yang ujungnya telah di
panasi dengan bunsen burner hingga membara.
4. Kemudian dasar ruang pulpa diberi basis semen
ionomer kaca lalu ditutup kapas dan tumpatan
sementara
5. Instruksikan pasien untuk kontrol minimal 1
minggu kemudian , dan segera kembali apabila
terdapat keluhan pasca obturasi.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Indikasi dan kontraindikasi pada saat akan melakukan perawatan saluran akar harus
diperhatikan dan dipertimbangkan dengan seksama. Jika kondisi gigi dan jaringan pendukungnya
masih dapat dipertahankan, maka perawatan saluran akar dapat dilakukan. Namun, apabila
keadaan gigi dan jaringan pendukungnya sudah tidak dapat dipertahankan lagi, perawatan
saluran akar tidak perlu dilakukan, melainkan langsung dapat mengekstraksi gigi tersebut.Alatalat yang digunakan untuk perawatan saluran akar, pada intinya ada hand instrument dan engine
instrument. Setiap tahapan dalam perawatan sluran akar menggunakan alat-alat yang berbeda
pula, disesuaikan dengan bentuk dan fungsi alat tersebut.
Tahapan-tahapan perawatan saluran akar meliputi: 1) asepsis, 2) preparasi, baik preparasi
kavitas dan saluran akar, 3) sterilisasi, 4) pengisian saluran akar. Dalam setiap tahapan terdapat
kemungkinan terjadinya kegagalan. Hal tersebut dapat terjadi karena beberapa faktor yang
berasal dari kesiapan dan kemampuan operator, perilaku pasien termasuk kekooperatifannya,
serta dari segi kesesuaian alat-alat yang digunakan.
Instrument ProTaper merupakan generasi baru yang dedesain untuk mempertinggi
efisiensi pemotongan dentin dengan fleksibilitas terutama pada bagian akar yang melengkung.
ProTaper memiliki desain conves triangular cross-sectional dengan desain cutting-blades yang
memiliki kombinasi taper yang bermacam-macam pada pemotongnya.Instrumen ProTaper ini
berdasarkan kegunaannya terbagi menjadi 2, yaitu hand instrument dan rotary instrument.
Protaper berdasarkan jenisnya terbagi menjadi Shaping File (FX, F1, dan F2) dan Finishing file
(F1, F2, dan F3).

4.2 Saran
Setelah mengetahui apa itu ProTaper, kegunaan, dan klasifikasinya diharapkan membantu
mempelajari dan memahami instrumen ProTaper ini. Karena penggunaan instrumen ProTaper ini
dibutuhkan keahlian maka diharapkan mahasiswa FKG Trisakti dapat menguasai keahlian
tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Bence, Richard. 1990. Endodontik Klinik. Jakarta: Universitas Indonesia

Grossman, Louis I. 1995. Ilmu Endodontik dalam Praktek. Jakarta : EGC

Walton, R. and Torabinejad, M., 1996. Principles and Practice of Endodontics. 2 nd ed.
Philadelphia : W.B. Saunders Co.
Widyawati. 2010. Dasar-Dasar Perawatan Endodontik. Padang: Universitas Baiturrahmah
Sweltasari, Wenny. 2007. Skripsi Penggunaan Instrument Rotatif Protaper Pada Saluran
Akar. Padang: Universitas Baiturrahmah
Bataisu, Marilena, dkk. Access on 10 January 2015. The Failures of Root Canal Preparation
with Hand ProTaper. Available at http://www.chsjournal.org/archive/vol38-no3-2012/originalpapers/the-failures-of-root-canal-preparation-with-hand-protaper
Yared, G. 2007. Canal Preparation using only one NiTi rotary instrument: preliminary
obsevation. International Endodontic Journal.