Anda di halaman 1dari 10

Laporan Praktikum

Hari/Tanggal : Jumat, 19 Februari 2016

Manajemen Laporan Mutu Pangan

Dosen

: Dwi Yuni Hastati. STP, DEA

IDENTIFIKSI BAHAYA DI LABORATORIUM KIMIA


Kelompok 3/ BP2

Royaldo Gia Pratama J3E114068


Raihan Zharif Satria J3E214101

SUPERVISOR JAMINAN MUTU PANGAN


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Laboratorium merupakan tempat untuk melakukan percobaan, penelitian dan
pengembangan, atau quality control. Bekerja dalam laboratorium sama halnya seperti
bekerja di industri-industri lain, seperti industri kimia, pertambangan, ataupun konstruksi,
yang mengandung bahaya dan risiko keselamatan kerja (Asmara, 2012). Di laboratorium
biasanya menggunakan berbagai bahan kimia, peralatan gelas, dan juga instrumentasi
khusus yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan bila dilakukan dengan cara yang
tidak tepat. Kecelakaan juga dapat terjadi karena kelalaian atau kecerobohan dalam
bekerja, yang mengakibatkan orang tersebut cedera, atau bahkan dapat membuat celaka
orang-orang disekitarnya.
Bahaya yang paling utama muncul di laboratorium yaitu dari penggunaan bahan
kimia. Di industri, bahan kimia dipakai dalam jumlah besar meskipun hanya sedikit
jenisnya. Namun sebaliknya dalam laboratorium biasanya penggunan bahan kimia
sedikit, tetapi banyak jenisnya. Bahan-bahan kimia tersebut dapat menjadi berbahaya.
Menurut (Asmara, 2012) Berbagai macam risiko dapat ditimbulkan dari bahan kimia,
seperti iritasi, keracunan, luka bakar, kebakaran, ledakan, dan lain-lain. Akan tetapi
kecelakaan yang paling sering terjadi di laboratorium khususnya laboratorium akademik,
baik itu tingkat sekolah maupun universitas yaitu terluka akibat terkena pecahan
kaca/gelas.
1.2 Tujuan
1. Mengidentifikasi bahaya yang dapat terjadi di laboratorium kimia
2. Mengetahui tingkat resiko bahaya-bahaya tersebut
3. Mengetahui konsekuensi atau dampak yang ditimbulkan
4. Mengidentifikasi cara pengengendaliannya

BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1 Hasil
No

Kegiatan/Proses

Persiapan Alat dan


Bahan

Bahaya

Risiko

Penilaian Resiko
Frekuensi Konsekuensi
Risiko

Pengendalian yang diperlukan

a. Persiapan alat

Pecahan gelas
(erlenmayer, gelas
piala, dsb)

Terluka (tertusuk,
tergores, dsb)

Mungkin
Terjadi

Bisa diobati

Low

-membuat SOP penggunaan alat yang


benar (adm)
-menggunakan pakaian dan sepatu
lab (APD)

b. Persiapan bahan

Mengangkat beban
yang berlebihan
(tabung bahan ukuran
besar)

Pegal dan nyeri


otot

Sering

Bisa diobati

Medium

-meminta bantuan teman yang lebih


kuat untuk mengangkat (subtitusi)
-membuat SOP atau simbol teknik
pencampuran yang benar (asam kuat
ke air) - (adm)
menggunakan pakaian dan sepatu lab
(APD)

Analisis Kadar Abu


a. Penggunaan
tanur

Salah melalukan
teknik pecampuran
bahan seperti air ke
asam kuat

Cipratan, bahkan
ledakan

Mungkin
Terjadi

Luka
sebagian

Medium

Terjadi arus pendek


listrik

Tersetrum

Jarang

Bisa diobati

Low

Suhu tanur yang


tinggi (400-500oC)

Luka bakar

Mungkin
Terjadi

Luka
sebagian

Medium

Terbakar karena

Luka bakar

Jarang

Kritis

Medium

-membuat SOP cara penggunaan


tanur (adm)
-menggunakan alat pemanas lainnya
apabila tidak memerlukan suhu
>200oC seperti oven (subtitusi)
-menggunakan tanur otomatis dalam
mengatur suhu (engineering)
-melakukan pengeringan dengan

bahan masih
mengandung uap air
3

Analisis Kadar
Lemak
a. Penggunaan
Desikator

Pecahan kaca (tutup


desikator tidak
tertutup dengan baik)

b. Penggunaan
Soxhlet

Jarang
sekali

Luka
sebagian

Terjadi loncatan
cairan pada labu

Luka bakar

Mungkin
Terjadi

Luka
sebagian

Menimbulkan
ledakan apabila
cairan sudah habis
namun alat masih
menyala

-Tertusuk dan
tergores pecahan
soxhlet
-Luka bakar

Jarang

Kritis

Low

-membuat SOP cara penggunaan


desikator yang benar (adm)

Medium

-menyimpan alat soxhlet jauh dari


praktikan (isolasi)
-menggunakan pakaian lab (adm)

Medium

-membuat SOP penggunaan soxhlet


yang benar (adm)
-menggunakan pakaian lab (APD)

Tertetes asam atau


basa (kuat/lemah)

Korosif, iritasi,
dsb

Jarang

Luka
sebagian

Low

-memberi jarak antar praktikan (iso)


-membuat prosedur cara titrasi yang
benar (adm)
- menggunakan pakaian lab (APD)

Menimbulkan
ledakan apabila
cairan sudah habis
namun alat masih
menyala

-Tertusuk dan
tergores pecahan
alat destilasi
-Luka bakar

Jarang

Kritis

Medium

-membuat SOP penggunaan alat


destilasi yang benar (adm)
-menggunakan pakaian lab (APD)

Analisis Kadar
Protein
Penggunaan Alat
Destilasi

-terluka (tergores,
dsb)
-alat rusak

Penetapan Kadar
Vitamin C
Melakukan Proses
Titrasi

benar (pembakaran) sebelum masuk


ke dalam tanur (engineering)

Penggunaan Ruang
Asam

a. Menyalakan
ruang asam

b. Memipet asam
kuat

c. Suara mesin
ruang asam
7

Menggunakan alat
kromatografi gas

Menyalakan ruang
asam dengan tangan
yang basah

Tersengat listrik

Jarang
Sekali

Kritis

Low

-Tertetes asam kuat

Korosif, Irritan, dll

Mungkin
Terjadi

Luka
sebagian

Medium

-Terhirup gas beracun

Gangguan
pernapasan,
pingsan,
meninggal,dsb

Jarang
Sekali

Fatal

Medium

Sering

Bisa Diobati

Medium

Kebisingan

Kebocoran gas
Salah menggunakan
alat (menyalakan, ada
udara pada kolom)
Cipratan air yang
mengakibatkan lantai
licin

Gangguan
pendengaran
-Menimbulkan
Ledakan
-Terhirup Gas
Beracun

Jarang
Sekali

Bencana

-menepatkan ruang asam jauh dari


kegiatan praktikum (isolasi)
-membuat SOP penggunaan ruang
asam (adm)
-menggunakan sarung tangan,
googles, dan pakaian khusus (APD)
-menepatkan ruang asam jauh dari
kegiatan praktikum (isolasi)
-membuat SOP penggunaan ruang
asam (adm)
-menggunakan masker khusus (APD)
-membuat ruangan peredam suara
(isolasi dan engineering)

High

Membuat aturan tentang penggunaan


kromatografi gas yang baik dan benar
(adm)

Alat Kromatografi
Gas rusak

Mungkin
Terjadi

Kritis

High

Membuat aturan tentang penggunaan


kromatografi gas yang baik dan benar
(adm)

Terpleset dan
terjatuh

Jarang

Bisa diobati

Low

-memberikan tanda lantai licin (iso)


-Lantai di pel (eng)

Low

-membuat prosedur cara pencucian


alat yang benar (adm)
-menggunakan pakaian dan sepatu
lab (APD)

Mencuci alat
Terjadi pecahan gelas

-Memberikan symbol/tanda bahaya


tersengat listrik pada saklar (adm)

Teluka (tertusuk,
tergores)

Jarang

Bisa diobati

Membuang limbah
bahan kimia

Membuang zat-zat
berbahaya pada
westafel

-Keracunan (gas
beracun)
-lingkungan dapat
tercemar

Mungkin
Terjadi

Kritis

High

-menyiapkan tempat khusus untuk


membuang zat-zat berbahaya tersebut
(subtitusi)
-membuat simbol bahaya pencemaran
lingkungan (adm)

2.2 Pembahasan
2.2.1 Pembahasan Hasil Penilaian Risiko Persiapan Alat dan Bahan
Berdasarkan hasil identifikasi dan penilaian risiko, risiko pada kegiatan persiapan alat
dan bahan adalah sebagai berikut:
1. Pada kegiatan persiapan alat, risiko yang didentifikasi berupa pecahan gelas
(erlenmayer, gelas piala, dsb) memiliki tingkat risiko low. Faktor frekuensi mungkin
terjadi, serta faktor konsekuensi bisa diobati. Efek yang diakibatkan berupa terluka
(tertusuk, tergores, dsb). Pengendalian yang di lakukan ialah membuat SOP
penggunaan alat yang benar (administrasi) dan menggunakan pakaian dan sepatu lab
(APD).
2. Pada kegiatan persiapan bahan, risiko yang didentifikasi berupa:
- Mengangkat beban yang berlebihan (tabung bahan ukuran besar) memiliki tingkat
risiko low. Faktor frekuensi mungkin terjadi, serta faktor konsekuensi bisa diobati.
Efek yang diakibatkan berupa terluka (tertusuk, tergores, dsb). Pengendalian yang
di lakukan ialah membuat SOP penggunaan alat yang benar (administrasi) dan
menggunakan pakaian dan sepatu lab (APD).
-

BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
3.1 Simpulan
Berdasarkan identifikasi bahaya pada proses atau kegiatan yang terjadi di laboratorium
kimia, dapat diketahui jenis bahayanya apa saja, risiko yang diakibatkannya, tingkat
keseringan atau frekuensi terjadinya bahaya, konsekuensi yang diakibatkan, tingkat risikonya
tinggi; medium; atau rendah, dan cara pengendalian yang dibutuhkan seperti eliminasi,
subtitusi, isolasi, rekayasa teknis, administrasi, dan pengguaan APD.

3.2 Saran
Saran yang dapat diberikan untuk dapat mengelola risiko yang ada di laboratorium kimia
antara lain menyediakan SOP praktikum di dalam laboratorium, selain itu SOP harus
dipasang atau ditempel di laboratorium, menyediakan dokumen MSDS pada saat praktikum
terkait bahan atau zat kimia yang belum diketahui, meningkatkan pengawasan pada saat
praktikum, melakukan prinsip K3 setiap akan melakukan praktikum di laboratorium, dan
mencegah atau meminimalisr resiko bahaya.

DAFTAR PUSTAKA
Asmara, Mutiara Ayu. 2012. Analisis Risiko Pada Kegiatan Praktikum Kimia [Skripsi].
Yogyakarta: Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.

LAMPIRAN
Matriks Penilaian Resiko
Konsekuensi
Sering/Frequen
t
Bencana/Catastrop
e
Fatal
Kritis/Critical
Luka
Sebagian/Marginal
Bisa
Diobati/Negligible

Likelihood/Frekuensi
Mungkin
Jarang/Occasiona
Terjadi/Probabl
l
e

Jarang
sekali/Remot
e

High

High

High

High

High
High

High
High

High
Medium

Medium
Low

High

Medium

Low

Low

Medium

Low

Low

Low