Anda di halaman 1dari 28

Kota Singkawang, Kalimantan Barat merupakan destinasi yang ideal dan menarik

bagi siapa pun yang menyukai wisata alam, budaya, dan kuliner serta
mengharapkan panorama bangunan China Town yang kental dengan suasana
oriental.
Dibandingkan Pontianak, Singkawang memiliki daerah tujuan wisata di Kalimantan
yang lebih lengkap. Setidaknya ada 20 objek wisata yang sudah dapat dinikmati
wisatawan lokal dan mancanegara. Pasir Panjang, Rindu Alam, Tanjung Bajaum
Sinka Island Park, Sinka Zoo, dan Gunung Poteng adalah deretan destinasi wisata
favorit para pengunjung.

Demi mewujudkan kota jasa, perdagangan, dan agro industri, Walikota Singkawang Awang Ishak
bersama jajarannya terus berbenah dan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan
infrastruktur dan sarana penunjang seperti transportasi, perhotelan, dan penataan kota.
Singkawang yang begitu damai di siang hari dan jauh dari suasana metropolitan akan berubah
jika malam tiba. Kehidupan di malam hari menjadi lebih ramai dan hidup dengan lampu-lampu
kota, vihara, lampion dan aktivitas masyarakat untuk menikmati kesejukan angin malam dan
wisata kuliner khas yang dikenal 'Pasar Hong Kong'.
Pasar malam ini ramai dengan beragam penjual makanan, barisan gerobak kaki lima dari
beragam etnis dan usaha yang ada yang berbaris rapi di Jalan Setiabudi yang beraspal hitam.
Klenteng dan patung Buddha mewarnai kota ini karena keyakinan sebagian warganya memeluk
agama Buddha dan Konghucu. Tak mengherankan, bila kemudian kota ini dikenal 'Kota Seribu
Klenteng' yang merah melentik di bawah langit biru dan tersebar di seluruh kota.
Dari segi sosial, kota ini memiliki daya tarik dan warna tersendiri kala mayoritas masyarakatnya
yang terdiri dari 3 etnis terbesar, yakni Tionghoa, Melayu, dan Dayak serta ditambah dengan
suku lainnya hidup secara berdampingan, rukun dan harmonis.
Keharmonisan masyarakat di Singkawang semakin tampak kala perayaan hari ke-15 Tahun Baru
China (Imlek) atau yang dikenal Cap Go Meh tiba.
Festival Cap Go Meh di Singkawang sudah dikenal baik di dalam negeri maupun di luar negeri
karena menjadi agenda budaya kolosal yang dilaksanakan setiap tahun yang dimeriahkan dengan
parade Tatung (manusia yang dimasuki roh dewa atau nenek moyang) dari etnis Tionghoa,
Dayak dan Melayu. Oleh pemerintah pusat, Kota Singkawang telah ditetapkan sebagai salah satu
Kota Pusaka Indonesia.

Selain terkenal dengan wisata dan budaya, Singkawang juga terkenal dengan alamnya yang
subur sehingga mampu menghasilkan produk pertanian, perkebunan dan perikanan yang
mendukung pendapatan daerah dan masyarakatnya.
Tak hanya itu, Singkawang juga memiliki industri keramik yang terkenal dengan motifnya yang
unik dengan cara pembuatan yang berbeda. Tempat pembakaran keramik yang khas ini
berbentuk panjang seperti hewan Naga (Tungku Naga) yang hanya ada di Singkawang.
Di Singkawang juga berdiri pabrik pupuk organik milik PT. Sinka Sinye Agrotama,
sebuah industri skala besar pertama yang ada di Singkawang dan menjadi pabrik
pupuk organik terbesar di Asia. Maka, dengan pesona dan potensi yang ada
pastikan Anda meluangkan waktu untuk menikmati keindahan, keunikan, dan
keragaman wisata dan budaya di Kota Singkawang secara langsung.

Kota Singkawang
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kota Singkawang

Lambang Kota Singkawang


Moto: Bersatu Untuk Maju, Singkawang Berkualitas
Semboyan: Julukan: Hong Kong van Borneo, Kota 1000 Klenteng

Peta lokasi Kota Singkawang


Koordinat: 04455,85 - 10121,51"LS, 10805147,610901019BT

Provinsi
Kalimantan Barat
Dasar
Undang-Undang RI, Nomor 12, Tahun
hukum
2001
Tanggal
17 Oktober 2001
Peresmian
Pemerintahan
- Wali kota Drs. H. Awang Ishak M.Si.
- APBD
Rp 411.475.134.475,00
- DAU
Rp. 431.527.888.000.Luas
504 km
Populasi
- Total
246.306 (2011)
- Kepadatan 369,7

Demografi
- Bahasa

Bahasa Indonesia, Hakka, Bahasa


Melayu
- Kode area +62 562
telepon
Pembagian administratif
- Kecamatan 5
- Kelurahan 26
Simbol khas daerah
- Situs web http://www.singkawangkota.go.id &
http://www.singkawang.info/
Kota Singkawang atau San Keuw Jong (Hanzi: hanyu pinyin: Shnku Yng) adalah
sebuah kota (kotamadya) di Kalimantan Barat, Indonesia. Kota ini terletak sekitar 145 km
sebelah utara dari Kota Pontianak, ibukota provinsi Kalimantan Barat, dan dikelilingi oleh
pegunungan Pasi, Poteng, dan Sakok. Nama Singkawang berasal dari bahasa Hakka, San khew
jong yang mengacu pada sebuah kota di bukit dekat laut dan estuari.

Daftar isi

1 Sejarah
o 1.1 Asal Usul Singkawang
o 1.2 Pembentukan Kota Administratif Singkawang
o 1.3 Pembentukan Pemerintah Kota Singkawang

2 Pembagian Administratif

3 Geografi

4 Jumlah penduduk

5 Iklim

6 Tempat Wisata
o 6.1 Pantai Pasir Panjang
o 6.2 Sinka Island Park
o 6.3 Sinka Zoo

o 6.4 Taman Bukit Bougenville


o 6.5 Taman Chidayu
o 6.6 Taman Teratai Indah
o 6.7 Pasar Hong Kong
o 6.8 Vihara Tri Dharma Bumi Raya
o 6.9 Danau Biru

7 Budaya
o 7.1 Cap Go Meh
o 7.2 Gawai Dayak Naik Dango

8 Perekonomian
o 8.1 Perdagangan
o 8.2 Pertanian dan Peternakan
o 8.3 Industri

9 Pendapatan

10 Rencana

11 Festival

12 Tokoh terkenal kelahiran Kota Singkawang

13 Referensi

14 Pranala luar

Sejarah
Asal Usul Singkawang
Awalnya Singkawang merupakan sebuah desa bagian dari wilayah kesultanan Sambas, Desa
Singkawang sebagai tempat singgah para pedagang dan penambang emas dari Monterado. Para

penambang dan pedagang yang kebanyakan berasal dari negeri China, sebelum mereka menuju
Monterado terlebih dahulu beristirahat di Singkawang, sedangkan para penambang emas di
Monterado yang sudah lama sering beristirahat di Singkawang untuk melepas kepenatannya dan
Singkawang juga sebagai tempat transit pengangkutan hasil tambang emas (serbuk emas). Waktu
itu, mereka (orang Tionghoa) menyebut Singkawang dengan kata San Keuw Jong (Bahasa
Hakka), mereka berasumsi dari sisi geografis bahwa Singkawang yang berbatasan langsung
dengan laut Natuna serta terdapat pengunungan dan sungai, dimana airnya mengalir dari
pegunungan melalui sungai sampai ke muara laut. Melihat perkembangan Singkawang yang
dinilai oleh mereka yang cukup menjanjikan, sehingga antara penambang tersebut beralih profesi
ada yang menjadi petani dan pedagang di Singkawang yang pada akhirnya para penambang
tersebut tinggal dan menetap di Singkawang.

Pembentukan Kota Administratif Singkawang


Kota Singkawang semula merupakan bagian dan ibukota dari wilayah Kabupaten Sambas (UU
Nomor 27 Tahun 1959) dengan status Kecamatan Singkawang dan pada tahun 1981 kota ini
menjadi Kota Administratif Singkawang (PP Nomor 49 Tahun 1981). Tujuan pembentukan Kota
Administratif Singkawang adalah untuk meningkatkan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan
secara berhasil guna dan berdaya guna dan merupakan sarana utama bagi pembinaan wilayah
serta merupakan unsur pendorong yang kuat bagi usaha peningkatan laju pembangunan. Selain
pusat pemerintahan Kota Administratif Singkawang ibukota Sambas juga berkedudukan di Kota
Singkawang.

Pembentukan Pemerintah Kota Singkawang

Singkawang, 2007
Kota Singkawang pernah diusulkan menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Singkawang yaitu
melalui usul pemekaran Kabupaten Sambas menjadi 3 (tiga) daerah otonom. Namun Kotamadya
Daerah Tingkat II Singkawang tidak langsung direalisir oleh Pemerintah Pusat. Saat itu melalui
UU Nomor 10 Tahun 1999, hanya pemekaran Pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II
Bengkayang dari Kabupaten Sambas yang disetujui, sehingga wilayah Kota Administratif
Singkawang menjadi bagian dari Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Bengkayang,
sekaligus menetapkan Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Sambas beribukota di Sambas.
Kondisi tersebut tidaklah membuat surut masyarakat Singkawang untuk memperjuangkan
Singkawang menjadi daerah otonom, aspirasi masyarakat terus berlanjut dengan dukungan

Pemerintah Kabupaten Sambas dan elemen masyarakat seperti: KPS, GPPKS, Kekertis,
Gemmas, Tim Sukses, LKMD, para RT serta organisasi lainnya. Melewati jalan panjang melalui
penelitian dan pengkajian yang terus dilakukan oleh Gubernur Kalimantan Barat maupun Tim
Pemekaran Kabupaten Sambas yang dibentuk dengan Surat Keputusan Bersama antara Bupati
Sambas dan Bupati Bengkayang No. 257 Tahun 1999 dan No. 1a Tahun 1999, tanggal 28
September 1999, serta pengkajian dari Tim CRAIS, Badan Pertimbangan Otonomi Daerah.
Akhirnya Singkawang ditetapkan sebagai daerah otonom berdasarkan Undang-Undang Nomor
12 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Singkawang, dan diresmikan pada tanggal 17 Oktober
2001 di Jakarta oleh Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah atas nama Presiden Republik
Indonesia.

Pembagian Administratif
Singkawang memperoleh status kota berdasarkan UU No. 12/2001, tanggal 21 Juni 2001.
Berdasarkan Perda Kota Singkawang Nomor 1 Tahun 2003 tentang Perubahan desa menjadi
Kelurahan di Kota Singkawang dan Perda Nomor 2 Tahun 2003 tentang Pembentukan dan
Perubahan Nama Kecamatan di Kota Singkawang sesuai dengan ketentuan tersebut di atas,
terdapat 5 (lima) kecamatan dan 26 (dua puluh enam) kelurahan, yakni:

Singkawang Barat, 4 (empat) kelurahan, yaitu:

1. Kelurahan Pasiran,
2. Kelurahan Melayu,
3. Kelurahan Kuala, dan
4. Kelurahan Tengah.

Singkawang Utara, 7 (tujuh) kelurahan, yaitu:

1. Kelurahan Sei Garam Hilir,


2. Kelurahan Naram,
3. Kelurahan Sei Bulan,
4. Kelurahan Sei Rasau,
5. Kelurahan Setapuk Kecil,
6. Kelurahan Setapuk Besar, dan
7. Kelurahan Semelagi Kecil

Singkawang Selatan, 4 (empat) kelurahan, yaitu:

1. Kelurahan Sedau,
2. Kelurahan Sijangkung,
3. Kelurahan Pangmilang, dan
4. Kelurahan Sagatani.

Singkawang Timur, 5 (lima) kelurahan, yaitu:

1. Kelurahan Sanggau Kulor,


2. Kelurahan Pajintan,
3. Kelurahan Nyarumkop,
4. Kelurahan Bagak Sahwa, dan
5. Kelurahan Mayasopa.

Singkawang Tengah, 6 (enam) kelurahan, yaitu:

1. Kelurahan Roban,
2. Kelurahan Condong,
3. Kelurahan Sekip Lama,
4. Kelurahan Jawa,
5. Kelurahan Sei Wie, dan
6. Kelurahan Bukit Batu.

Geografi
Dengan luas wilayah 504 km, Singkawang terletak di wilayah khatulistiwa dengan koordinat di
antara 04455,85 - 10121,51"LS 10805147,6-10901019BT.
Batas-batas wilayah Kota Singkawang adalah:
Utara
Selatan

Kecamatan Selakau Kabupaten Sambas


Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Bengkayang

Barat
Timur

Laut Cina Selatan, Laut Natuna, Samudra Pasifik


Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang

Jumlah penduduk

Masjid Raya Kota Singkawang di malam hari

Patung Naga berwarna emas yang terletak di sudut Kota Singkawang


Kota Singkawang merupakan salah satu pecinan di Indonesia karena mayoritas penduduknya
adalah orang Hakka (dengan persentase sekitar 42%) dan selebihnya adalah orang Melayu,
Dayak, Tio Ciu, Jawa dan pendatang lainnya. Populasi penduduknya terus mengalami
peningkatan setiap tahun dengan laju pertumbuhan penduduk pada tahun 2006 adalah 5,6 persen.
Berdasarkan data Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Singkawang pada tahun
2011, tercatat jumlah penduduk sebanyak 246.306 jiwa.

Singkawang Selatan

- Tahun 2006: 37.396 jiwa


- Tahun 2007: 40.708 jiwa

- Tahun 2008: 41.466 jiwa

Singkawang Timur

- Tahun 2006: 18.951 jiwa


- Tahun 2007: 19.022 jiwa
- Tahun 2008: 19.054 jiwa

Singkawang Utara

- Tahun 2006: 20.287 jiwa


- Tahun 2007: 21.160 jiwa
- Tahun 2008: 21.401 jiwa

Singkawang Barat

- Tahun 2006: 59.534 jiwa


- Tahun 2007: 60.307 jiwa
- Tahun 2008: 60.656 jiwa

Singkawang Tengah

- Tahun 2006: 52.132 jiwa


- Tahun 2007: 55.882 jiwa
- Tahun 2008: 56.330 jiwa

Iklim
Secara umum wilayah Kota Singkawang beriklim tropis dengan suhu rata-rata berkisar antara
21,8 C sampai dengan 30,05 C. Iklim tropis di wilayah Kota Singkawang termasuk klasifikasi
iklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata 2.819 mm/tahun atau 235 mm/bulan. Jumlah
rata-rata hari hujan 157 hari/tahun atau rata-rata 13 hari hujan/bulan. Rata-rata kelembaban udara
di kota Singkawang adalah 70%. Curah hujan yang tertinggi terjadi pada bulan September
sampai dengan Januari dan curah hujan terendah antara bulan Juni sampai dengan Agustus. Kota
Singkawang memiliki wilayah datar dan sebagian besar merupakan dataran rendah antara 50
meter s/d 100 meter diatas permukaan laut. Kota Singkawang yang terletak pada 0 LS dan 109

BT, wilayahnya merupakan daerah hamparan dan berbukit serta sebelah Barat berada pada
pesisir laut.

Tempat Wisata
Pantai Pasir Panjang

Pantai Pasir Panjang.


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pantai Pasir Panjang
Pantai Pasir Panjang telah lama menjadi tempat rekreasi yang terkenal di Kalimantan Barat.
Posisinya yang menghadap ke laut Natuna serta didampingi beberapa pulau kecil di sekitarnya,
antara lain pulau Lemukutan, pulau Kabung dan Pulau Randayan. Perahu-perahu kecil dan speed
boat dapat disewa di sini untuk menuju ke pulau-pulau tersebut. Sebagai sebuah tempat rekreasi,
objek wisata ini telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, antara lain hotel di sekitar
pantai, cottage, toko-toko, diskotik dan fasilitas-fasilitas lainnya tersedia bagi wisatawan. Tempat
ini sangat cocok bagi orang-orang yang menyukai olahraga renang, memancing, menyelam, dan
ski air atau berselancar. Pantai Pasir Panjang berada di Kecamatan Tujuhbelas, hanya 17 km dari
pusat kota Singkawang. Kondisi jalan masuk telah beraspal dan dapat dilewati oleh kendaraan
roda empat. Sarana transportasi dari dan ke Pasir Panjang berupa kendaraan umum, taksi,
minibus maupun kendaraan pribadi. Hamparan pasir putih dan bebatuan yang memanjang
disertai hembusan angin dan deburan ombak yang aman sebagai kawasan pemandian, suasana
Pasir Panjang akan terasa pada saat matahari terbit dan tenggelam di cakrawala. Dengan
ditemani deretan Gunung Besi dan pepohonan yang menaunginya semakin menambah keelokan
dan kekhasan wilayah wisata ini. Fasilitas yang lengkap dan nyaman dapat anda rasakan saat
berwisata atau berlibur ke pantai Pasir Panjang ini. Mulai penginapan, kolam renang keluarga,
tempat bermain anak-anak, warung-warung makan hingga fasilitas olahraga seperti motorcross,
road race dan gokart. Anda dapat pula memancing langsung ke kawasan laut.

Sinka Island Park

Sinka Island Park.


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sinka Island Park
Salah satu tujuan wisata baru di Singkawang terletak di kawasan wisata Teluk Karang/Teluk
Ma'jantuh. Terletak sebelah selatan kota Singkawang 8 km sebelum memasuki kota ini. Dari
pinggir jalan raya Pontianak - Singkawang berjarak 3 km. Merupakan objek wisata masa depan
yang menawarkan fasilitas hiburan modern dan alami, kawasan wisata tepi pantai ini menyajikan
pemandangan pantai dan hiburan lainnya untuk keluarga yang ditopang dengan berbagai
fasilitasnya, seperti delman maupun kuda bagi pengunjung yang dapat disewa untuk mengelilingi
taman rekreasi ini. Selain itu pengelola menyediakan kolam renang, kantin dan fasilitas lainnya.

Sinka Zoo

Jerapah di Sinka Zoo.


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sinka Island Park#Sinka Zoo
Sinka Zoo terletak di sebelah kawasan Sinka Island Park, tepatnya di sebelah selatan dengan
jarak 500 meter setelah memasuki Sinka Island Park. Keunikan kebun binatang ini terletak
diberbagai penjuru mengelilingi gunung dan tampak keindahan laut dari atas gunung tersebut
yang menampilkan hewan-hewan langka lokal maupun luar daerah, taman rekreasi ini juga
memiliki mobil pembawa para wisatawan untuk mengelilingi gunung Bajau. Dari atas gunung
ini kita dapat menyaksikan keindahan kota singkawang dengan jelas.

Taman Bukit Bougenville


Merupakan taman bunga yang terletak di sebelah selatan, tepatnya di Kelurahan Sijangkung dan
berjarak 6 km dari pusat kota Singkawang. Posisinya terletak di kaki bukit berlatar belakang
Gunung Pasi dan dikelilingi areal hutan dan perkebunan. Taman ini memiliki luas 1,5 ha.

Walaupun bunga Bougenville yang menjadi tampilan utama, namun terdapat pula beragam
bunga-bunga lainnya dan penataan taman yang asri untuk dapat dinikmati keluarga dan mudamudi. Fasilitas yang disediakan untuk pengunjung relatif telah memberikan kesan "kenyamanan"
untuk dinikmati, mulai dari sarana publik seperti tempat parkir, musholla, pondok-pondok
tempat bersantai, rest room, cafetaria, kolam renang mini untuk anak-anak hingga hutan
homogen yang dinamakan "Area Super Sejuk" dan dapat digunakan untuk area fotografi
pengantin, alam dan sebagainya. Dilengkapi keramahan yang menyapa anda dari tiap ruang
hingga sajian menu sesuai selera.

Taman Chidayu
Berdampingan dengan taman Bougenville, Chidayu memiliki karakteristik khas dengan tempat
pemancingan, pepohonan buah-buahan, taman bunga dan taman bermain anak-anak. Kesejukan
hembusan angin dapat kita nikmati sembari melihat sunset di ufuk barat dan hidangan cafe
Chidayu.

Taman Teratai Indah


Tidak sampai 10 menit dari kota, tempat rekreasi keluarga untuk menikmati pemandangan
gunung yang berjejer menghiasi kota Singkawang dengan nuansa 'air' dapat pula bersenda gurau
di danau buatan sembari mengengkol sepeda air, berenang bersama keluarga di kolam renang,
dan menikmati sajian makanan dan minuman di restoran atau danau.

Vihara Tri Dharma Bumi Raya di malam hari

Pasar Hong Kong


Bukanlah persoalan jika anda merasa lapar di malam hari, karena deretan gerobak yang menjual
berbagai jenis makanan di pasar Hong Kong siap mengisi perut Anda. Pasar Hong Kong adalah
sebutan orang Singkawang untuk Jalan Bawal dan sekitarnya di malam hari. Di pagi dan siang
harinya, lokasi ini hanyalah jalan biasa tempat berlalu-lalang berbagai kendaraan, namun ketika
malam tiba akan dipadati gerobak-gerobak yang menjual berbagai jenis makanan.

Vihara Tri Dharma Bumi Raya


Kota Singkawang juga dikenal dengan sebutan kota Seribu Kuil, karena di setiap sudut kota ini
dapat ditemui banyak bangunan vihara atau lebih dikenal sebagai kelenteng atau pekong.
Bangunan ini memiliki arsitektur yang khas, didominasi warna merah dan hiasan liong.

Danau Biru
Danau Biru Singkawang terletak di daerah Singkawang Timur tepatnya di daerah Wonosari,
Roban yang hanya berjarak sekitar 6 km saja dari pusat kota Singkawang.[1]

Budaya
Cap Go Meh
Seperti halnya bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia lainnya, perayaan Imlek untuk
menyambut tahun baru China merupakan tradisi termegah yang selalu dirayakan seluruh lapisan
masyarakat Singkawang setiap tahun. Bagi mereka perayaan Imlek tidak ada bedanya dengan
masyarakat Indonesia lainnya ketika merayakan Idul Fitri atau Natal.
Tahun baru Imlek muncul dari tradisi masyarakat Tiongkok yang dianggap sebagai ungkapan
rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen dan sekaligus harapan agar musim berikutnya
memperoleh hasil yang lebih baik. Imlek selalu dirayakan selama 15 hari berturut-turut dan hari
puncak ke-15 disebut dengan Cap Go Meh. Dalam tradisi Tionghoa berarti malam ke-15 yang
merupakan puncak perayaan Imlek dan Cap Go Meh dirayakan secara khusus. Kalau mau
ditelaah lebih jauh, Cap Go Meh di Indonesia sendiri merupakan perpaduan budaya Tiongkok
dan Indonesia, yakni adanya lontong Cap Go Meh. Lontong adalah makanan asli Indonesia,
sedangkan Cap Go Meh adalah tradisi yang lahir dari Imlek.
Puncak acara Imlek atau Cap Go Meh ini dimaksud untuk menangkal gangguan atau kesialan
pada masa mendatang. Pengusiran roh-roh jahat dan peniadaan kesialan dalam Cap Go Meh
disimbolkan dalam pertunjukan Tatung. Tatung adalah media utama Cap Go Meh. Atraksi Tatung
dipenuhi dengan mistik dan menegangkan, karena banyak orang kesurupan dan orang-orang
inilah yang disebut Tatung. Upacara pemanggilan tatung dipimpin oleh pendeta yang sengaja
mendatangkan roh orang yang sudah meninggal untuk merasuki Tatung. Roh-roh yang dipanggil
diyakini sebagai roh-roh baik yang mampu menangkal roh jahat yang hendak mengganggu
keharmonisan hidup masyarakat. Roh-roh yang dipanggil untuk dirasukkan ke dalam Tatung
diyakini merupakan para tokoh pahlawan dalam legenda Tiongkok, seperti panglima perang,
hakim, sastrawan, pangeran, pelacur yang sudah bertobat dan orang suci lainnya.
Roh-roh yang dipanggil dapat merasuki siapa saja, tergantung apakah para pemeran Tatung
memenuhi syarat dalam tahapan yang ditentukan pendeta. Para Tatung diwajibkan berpuasa
selama tiga hari sebelum hari perayaan yang maksudnya agar mereka berada dalam keadaan suci
sebelum perayaan.
Dalam atraksi Tatung yang sudah dirasuki roh orang meninggal bertingkah aneh, ada yang
menginjak-injak sebilah mata pedang atau pisau, ada pula yang menancapkan kawat-kawat baja
runcing ke pipi kanan hingga menembus pipi kiri. Anehnya para Tatung itu sedikit pun tidak
tergores atau terluka. Beberapa Tatung yang lain dengan lahapnya memakan hewan atau ayam
hidup-hidup lalu meminum darahnya yang masih segar dan mentah.

Di Singkawang banyak orang Dayak yang juga turut serta menjadi Tatung, mereka terdorong
berpartisipasi karena ritual Tatung mirip upacara adat Dayak. Sejak pertama kali datang ke
Singkawang masyarakat Tionghoa telah menjalin persahabatan erat dengan penduduk pribumi
khususnya suku Dayak. Karena itu tidak ada kecanggungan di antara kedua etnis ini. Dahulunya
Singkawang merupakan tempat persinggahan para penambang emas yang berasal dari Tiongkok.
Gelombang migrasi besar-besaran pada tahun 1760, membawa masyarakat suku Tionghoa Hakka
dari Guangdong China selatan yang mendarat di Pulau Kalimantan. Mereka menetap dan bekerja
sebagai kuli tambang emas dan intan di monterado, Kalimantan Barat. Meski secara fisik
maupun budaya ada yang berasimilasi dengan penduduk lokal, mereka juga tetap
mempertahankan adat istiadat leluhur yang dipertahankan hingga kini. Karena pada umumnya
mereka penganut Kong Hu Cu dan Buddha maka perayaan imlek menjadi tradisi istimewa yang
senantiasa mereka rayakan.
Di era Orde Baru perayaan Imlek khususnya ritual Tatung dilarang dipertontonkan di depan
umum. Tetapi di era reformasi mantan Presiden Gus Dur mengizinkan kembali, bahkan
pemerintahan berikutnya Megawati Soekarnoputri mengesahkan dalam bentuk undang-undang.
Dengan demikian warga Tionghoa di Singkawang khususnya menjadi lebih leluasa untuk
menjalankan tradisi atau upacara keagamaan mereka. Di dunia pariwisata, Tatung berpotensi
untuk menarik turis dalam negeri dan mancanegara. Selain mengangkat nama Singkawang di
dunia internasional, Tatung juga ikut meningkatkan perekonomian daerah setempat.

Gawai Dayak Naik Dango


Upacara Naik Dango yang merupakan kegiatan ritual seputar panen padi adalah ungkapan
syukur masyarakat Dayak kepada Sang Pencipta akan hasil yang telah diperoleh. Upacara ini
diadakan di setiap kabupaten termasuk kota Singkawang. Tempat penyelenggaraan dilaksanakan
bergantian antar kecamatan setiap tahun, ditetapkan oleh Dewan Adat kabupaten setempat. Di
samping upacara adat, diadakan pula pesta wisata dan budaya Naik Dango yang diisi dengan
pertunjukan kesenian, lomba permainan tradisional, lomba kesenian daerah, pameran, seminar
kebudayaan dan pasar rakyat.

Perekonomian
Perdagangan
Singkawang terkenal sebagai kota perdagangan terbesar kedua di Kalimantan Barat setelah Kota
Pontianak. Letaknya di pantai barat sangat strategis, yakni berada di antara kabupaten Sambas
dan Bengkayang, sangat menguntungkan Singkawang dalam mengembangkan daerahnya
sebagai sentra bisnis dan pemasaran produk dari dan ke wilayah di sekitarnya. Selain juga
menampung dan mendistribusikan barang-barang yang tidak diproduksi di Singkawang dan
daerah sekitarnya, seperti barang-barang sandang, alat-alat pertanian dan lainnya. Sebagian besar
barang yang diperdagangkan merupakan hasil bumi, seperti produk pertanian tanaman pangan,
perkebunan, perikanan, peternakan dan hasil kerajinan atau industri kecil di Singkawang dan
kabupaten tetangga.

Pertanian dan Peternakan


Singkawang adalah wilayah yang cocok untuk pengembangan pertanian tanaman pangan dan
hortikultura terdapat di Kecamatan Singkawang Selatan, Utara dan Timur. Wilayah itu memiliki
potensi yang cukup besar, baik dari segi lahan yang tersedia maupun jenis tanaman yang sesuai
untuk dikembangkan. Lahan yang luas dan tanah yang subur serta tenaga kerja 11.829 orang
merupakan faktor yang sangat mendukung bagi pengembangan agroindustri.
Tanaman jagung, misalnya, banyak diusahakan di Singkawang Selatan dan Timur. Komoditas ini
baru tahun 2001 diusahakan di Singkawang Selatan seluas 10 hektare. Kebutuhan jagung untuk
pakan ternak-sebagian besar untuk ayam ras petelur di Singkawang sangat besar, yakni 100 ton
per hari. Singkawang sendiri belum bisa memenuhi kebutuhan pakan ternak tersebut, karena
produksi tahun 2001 baru sekitar 20 ton. Hingga kini kebutuhan itu disuplai Kabupaten
Bengkayang sebanyak 40 ton dan sisanya dari Semarang, Lampung, bahkan dari China.
Hasil pertanian itu selain dijual dalam bentuk buah segar, juga mulai diolah. Jeruk siam dan
nanas, misalnya, dibuat sari jeruk, minuman ringan dan nanas dalam kaleng. Demikian pula
pisang, dipasarkan dalam bentuk tepung pisang, pisang selai dan keripik pisang. Usaha industri
ini mulai berkembang walau masih dalam skala industri kecil. Industri secara umum banyak
terdapat di Singkawang Barat, berupa industri pengolahan bahan makanan dan minuman ringan.
Ada juga industri furnitur dari kayu yang bahan baku serta pemasarannya bersifat lokal.
Hasil peternakan, terutama ayam petelur dan babi. Produksi peternakan selain untuk konsumsi
sendiri, beberapa peternak besar, terutama telur ayam dan babi, juga dipasarkan ke luar Kota
Singkawang. Bahkan telur ayam menguasai hampir 95 persen pasar di Kalimantan Barat.

Industri
Hasil industri yang menjadi produk andalan adalah keramik. Industri ini telah lama berkembang
dan pasarannya pun merambah ke mancanegara meskipun masih berskala industri kecil. Ada
delapan unit usaha yang bergerak di bidang usaha keramik dan dikelola turun-temurun.
Pembuatan keramik tradisional itu terdapat di Desa Sakok, Kelurahan Sedau, Singkawang
Selatan. Buatannya sangat menarik dan artistik bergaya Dinasti Ming. Ciri khasnya terletak pada
desain yang berupa gambar naga. Keramik ini telah memenuhi pasaran ekspor ke Singapura,
Malaysia dan negara lainnya.
Kota Singkawang juga terkenal dari hasil industri kecil dengan makanan khasnya, yaitu tahu dan
mie Singkawang dan makanan ini sering dijadikan oleh-oleh bagi para pelancong yang datang ke
Singkawang. Rasa dan aroma tahu Singkawang memiliki ciri khas tersendiri. Makanan berbahan
dasar kedelai yang dibuat secara tradisional ini terasa lembut dan terlihat bersih, berbeda dengan
tahu umumnya yang mungkin terasa sedikit asam. Hasil sampingan dari pembuatan tahu
Singkawang adalah bubur tahu dan air tahu.

Pendapatan

APBD sebesar Rp. 3.411.475.134.475,-

Pendapatan Asli Daerah sebesar Rp.14.934.687.606.110,-

Dana Perimbangan sebesar Rp. 1.881.144.108.000,-

Rencana

Kota Singkawang akan memiliki bandara untuk menghubungkan singkawang dengan


kota lainya yaitu Bandar Udara Internasional Singkawang.

Festival

Perayaan Tahun Baru Imlek Singkawang di malam hari pada tanggal 31 Januari 2014.
Berbagai festival banyak digelar di kota ini, misalnya:

Tahun Baru Imlek (bulan Januari atau Februari)

Cap Go Meh dirayakan 15 hari setelah Imlek (bulan Februari atau Maret)

Gawai Dayak Naik Dango (bulan Mei)

Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (tanggal 17 Agustus)

Tokoh terkenal kelahiran Kota Singkawang

Handi Morgan Winata (Personil boyband SM*SH)

Hendri Lamiri (Vionis Indonesia)

Alex (Juliet Band)

Reifan Fajarsyah/Ivan (Vokalis Seventeen Band)

Ifan (Vokalis Domino Band)

Linzy Novia Margaretha (Personil 7icons Girlband)

Rionaldo Stockhorst (Artis)

Linda Fanencia Rachman (Artis)

Melly Kiong (Parenting Rekor MURI 2008)

Diana Joyo Rachmatien (Miss Indonesia Favorit 2014)

Xianny Kho (Personil Bexxa Girlband)

Vamiga Michel (Pemain Satria Muda BritAma Jakarta)

Hanna Fransisca (Penyair/Konde Penyair Han)

Setiawan Min (Artis)

Singkawang or San Keuw Jong (Hanzi: hanyu pinyin: Shnku which) is a city
(municipality) in West Kalimantan, Indonesia. It is located about 145 km north of Pontianak,
West Kalimantan provincial capital, and is surrounded by mountains Pasi, Poteng, and Sakok.
The name comes from Hakka Singkawang, San khew jong which refers to a town in the hills
near the sea and estuary.
History
Origins of Singkawang
Originally Singkawang is a village part of the Sultanate of Sambas, Singkawang
Village as a haven traders and gold miners from Monterado. The miners and traders
who came mostly from China, before they headed Monterado first rest in
Singkawang, while gold miners in Monterado long often rest in Singkawang to
remove kepenatannya and Singkawang as well as the transit transportation of gold
mine (gold dust ). At that time, they (the Chinese) called Singkawang said San Keuw
Jong (Hakka), they assume in terms of geography that Singkawang directly adjacent
to the Natuna Sea and there are mountains and rivers, where the water flows from
the mountains through the river to the mouth of the sea , Seeing the development
of Singkawang assessed by those who are promising enough that the miners
switched professions there are farmers and traders in Singkawang that eventually
the miners lived and in Singkawang.
Formation of the City of Singkawang
Singkawang originally a part and the capital of the district of Sambas (Act No. 27 of
1959) with the status of the District Singkawang and in 1981 the city became the
City of Singkawang (Regulation No. 49 of 1981). The purpose of establishing the City
of Singkawang is to improve governance activities are managed effectively and
efficiently and are the primary means for the formation regions and an element of
strong incentive for efforts to increase the pace of development. In addition to the
administrative center of the City of Singkawang capital Sambas also domiciled in
Singkawang.
Government formation Singkawang
Singkawang 2007
Singkawang been offered as Level II Regional Municipality Singkawang namely
through the proposed expansion Sambas district into three (3) autonomous region.
However, Level II Regional Municipality Singkawang not directly realized by the
Central Government. When it through Law No. 10 of 1999, only the division
Administration District of Bengkayang of Sambas Regency approved, so that the
region of the City of Singkawang be part of the Local Government District Level II
Bengkayang, also stipulates a Local Government District Level II Sambas capital in
Sambas.

The condition was not made public retroactively to fight Singkawang Singkawang
into autonomous regions, the aspirations of the community continues to support the
Government of Sambas district and community elements such as: PPP, GPPKS,
Kekertis, Gemmas, Team Success, LKMD, the RT as well as other organizations.
Passing through the long road of research and assessment being conducted by the
Governor of West Kalimantan Sambas district and Expansion Team established by
the Joint Decree between Regent and Regent Sambas Bengkayang No. 257 of 1999
and No. 1a 1999, September 28, 1999, as well as the assessment of Tim Crais,
Regional Autonomy Advisory Board. Singkawang finally established as an
autonomous region under Act No. 12 of 2001 on the establishment of Singkawang,
and was inaugurated on October 17, 2001 in Jakarta by the Minister of Home Affairs
and Regional Autonomy on behalf of the President of the Republic of Indonesia.
Administrative division
Singkawang gained city status under Law No. 12/2001, dated June 21, 2001. Based
on Singkawang City Regulation No. 1 Year 2003 on Amendment of the village into
the Village in Singkawang and Regulation No. 2 of 2003 on the Formation and
Changes Name Singkawang District in accordance with the above provisions, there
are 5 ( five) districts and 26 (twenty-six) villages, namely:
Singkawang West, 4 (four) villages, namely:
Village of Pasiran,
Village of Malay,
Kuala urban village, and
Central Urban Village.
Singkawang North, 7 (seven) villages, namely:
Kelurahan Sei Garam Hilir,
Village of Naram,
Kelurahan Sei Months,
Kelurahan Sei Rasau,
Village of Small Setapuk,
Village of Great Setapuk, and
Village of Small Semelagi
South Singkawang, 4 (four) villages, namely:
Village
Village
Village
Village

of
of
of
of

Sedau,
Sijangkung,
Pangmilang, and
Sagatani.

East Singkawang, 5 (five) villages, namely:


Village
Village
Village
Village
Village

of
of
of
of
of

Sanggau Kulor,
Pajintan,
Nyarumkop,
Bagak Sahwa, and
Mayasopa.

Central Singkawang, 6 (six) villages, namely:


Village of Roban,
Village of Lean,
Sekip Village of Lama,
Village of Java,
Kelurahan Sei Wie, and
Bukit Batu sub-district.

Geography
With an area of 504 km, Singkawang is located in the equatorial region with
coordinates between 0 44'55,85 "- 1 01'21,51" LS 108 051'47,6 "-109 010'19"
BT.
The boundaries of the city of Singkawang is:
Northern District of Sambas district Selakau
South Sungai Raya Bengkayang
Western South China Sea, the Natuna Sea, Pacific Ocean
Eastern District of Samalantan Bengkayang
Total population
Masjid Raya Singkawang at night
Golden dragon statue located at the corner Singkawang
Singkawang is one of the Chinatowns in Indonesia because the majority of the
population are Hakka (with a percentage of approximately 42%) and the rest are
Malay, Dayak, Tio Ciu, Java and other newcomers. The population continues to
increase every year with the population growth rate in 2006 was 5.6 percent. Based
on data from the Social Service of Population and Civil Registration Singkawang in
2011, recorded a population of 246 306 inhabitants.
South Singkawang
- 2006: 37 396 inhabitants

- 2007: 40 708 inhabitants


- 2008: 41 466 inhabitants
East Singkawang
- 2006: 18 951 inhabitants
- 2007: 19 022 inhabitants
- 2008: 19 054 inhabitants
North Singkawang
- 2006: 20 287 inhabitants
- 2007: 21 160 inhabitants
- 2008: 21 401 inhabitants
Singkawang West
- 2006: 59 534 inhabitants
- 2007: 60 307 inhabitants
- 2008: 60 656 inhabitants
Central Singkawang
- 2006: 52 132 inhabitants
- 2007: 55 882 inhabitants
- 2008: 56 330 inhabitants
Climate
In general, regions Singkawang tropical climate with average temperatures ranging
between 21.8 C to 30.05 C. The tropical climate in the region Singkawang
including classification wet tropical climate with an average rainfall of 2,819 mm /
year or 235 mm / month. Average number of rainy days 157 days / year, or an
average of 13 rainy days / month. The average humidity in Singkawang is 70%. The
highest rainfall occurs in September to January and the lowest rainfall between June

to August. Singkawang has a flat area and is largely a lowland between the 50
meter s / d 100 meters above sea level. Singkawang is located at 0 latitude and
109 East, the region is an area of the overlay and hilly and the West are on the sea
coast.
Tourist attraction
Pasir Panjang
Pasir Panjang.
The main article for this section are: Pasir Panjang
Pantai Pasir Panjang has long been a well-known recreation area in West
Kalimantan. Its position overlooking the sea Natuna and accompanied by some
smaller surrounding islands, including the island Lemukutan, island sackcloth and
Randayan Island. Small boats and speed boats can be hired here to go to the
islands. As a place for recreation, this attraction has been equipped with various
supporting facilities, such as hotels around the beach, cottages, shops, discos and
other facilities available for tourists. This place is perfect for people who love sports
swimming, fishing, diving, and water skiing or surfing. Pantai Pasir Panjang located
in the District Seventeen, only 17 km from the city center Singkawang. The
condition has a paved driveway and can be bypassed by four-wheeled vehicles.
Means of transport from and to Pasir Panjang in the form of public transportation,
taxis, minibuses and private vehicles. White sand and rocks that extends
accompanied by gusts of wind and the waves are secure as a bathing area, Pasir
Panjang atmosphere will be felt when the sun rises and sets on the horizon.
Accompanied by a row of Mountain Iron and trees that shelter more and add beauty
and uniqueness of this tourist region. Complete facilities and comfortable that you
can see when traveling or on vacation to the beach is Pasir Panjang. Start the Inn, a
family pool, children's playground, food stalls to sports facilities such as motocross,
road race and karts. You can also fish directly into the sea area.
Sinka Island Park
Sinka Island Park.
The main article for this section are: Sinka Island Park
One of the new tourist destination in Singkawang is located in the tourist area of
Coral Bay / Gulf Ma'jantuh. Located south of the city Singkawang 8 km before
entering the city. From the edge of the highway Pontianak - Singkawang within 3
km. Attraction is the future offers modern entertainment facilities and natural, this
beachfront tourist area overlooks the beach and other entertainment for the family
which is supported by a variety of amenities, such as wagon and horses for visitors
who can be hired to surround this recreation park. Additionally manager provides a
swimming pool, cafeteria and other facilities.
Sinka Zoo
Giraffes at Sinka Zoo.
The main article for this section are: Sinka Island Park # Sinka Zoo

Sinka Zoo is located next to the neighborhood Sinka Island Park, exactly in the south
with a distance of 500 meters after entering Sinka Island Park. The uniqueness of
this zoo located in different parts of the mountain and looked around the beauty of
the sea from the top of the mountain which features rare animals locally and
outside the region, this recreational park also has a car carrying tourists to the
mountain surrounding the Bajau. From the top of this mountain, we can see the
beauty of the city singkawang clearly.
Taman Bukit Bougenville
Is a flower garden located in the south, precisely in the Village Sijangkung and
within 6 km from the city center Singkawang. Position is located in the foothills of
Mount Pasi background and surrounded by forests and plantations. This park has an
area of 1.5 ha. Although interest Bougenville which became the main display, but
there are also a variety of other flowers and arrangement beautiful garden to be
enjoyed by families and young people. Facilities are provided for visitors relative has
given the impression of "comfort" to be enjoyed, ranging from public facilities such
as parking, supermarket, lodges a place to relax, rest room, a cafeteria, a mini pool
for children until homogenous forest called "Area Super Cool "and can be used for
area wedding photography, nature and so on. Equipped friendliness that greets you
from every room until serving personalized menu.
Parks Chidayu
Adjoining the park Bougenville, Chidayu have distinctive characteristics with fishing
grounds, fruit trees, flower gardens and children's playground. The coolness of the
breeze that we can enjoy while seeing the sunset on the western horizon and dish
cafe Chidayu.
Taman Teratai Indah
Not until 10 minutes from the city, a family recreation to enjoy the mountain
scenery that line decorate the city Singkawang with shades of 'water' can also frolic
in the artificial lake while cranking the water bike, swim with the family in the pool,
and enjoy a dish of food and drinks in restaurants or the lake.
Tri Vihara Dharma Bumi Raya at night
Hong Kong Market
Not a problem if you feel hungry at night, due to a row of carts that sell various
types of food in the Hong Kong market is ready to fill your stomach. Hong Kong
market is the designation for Jalan Bawal Singkawang and surrounding areas at
night. In the morning and afternoon, the location is just a regular road where
passing various vehicles, but when night falls will be filled carts that sell different
kinds of food.
Tri Vihara Dharma Bumi Raya
Singkawang is also known as the city of Thousand Temples, because in every corner

of this city can be found a lot of building temples or better known as the temple or
Pekong. The building is architecturally distinctive, predominantly red and dragon
decoration.
Blue Lake
Blue Lake is situated in the area Singkawang Singkawang Eastern precisely in the
area Wonosari, Roban which is only about 6 km away from the city center
Singkawang. [1]

Culture
Cap Go Meh
As is the case for the Chinese community in other Indonesian, Chinese New Year
celebrations to welcome the Chinese New Year is a tradition that has always
celebrated grandest whole society Singkawang each year. For those Chinese New
Year is no different than other Indonesian people while celebrating Eid or Christmas.
Chinese New Year emerged from the tradition of the Chinese people who are
considered as an expression of gratitude to God for the harvest and at the same
time hope that next season obtain better results. Lunar always been celebrated for
15 days in a row and the peak-to-15 called the Cap Go Meh. In Chinese tradition
means the night of the 15th is the culmination of Imlek and Cap Go Meh is
celebrated in particular. If you want to be explored further, Cap Go Meh in Indonesia
itself is a blend of Chinese and Indonesian culture, namely the rice cake Cap Go
Meh. Cake is authentic Indonesian food, while the Cap Go Meh is a tradition born of
the Lunar New Year.
The highlight of the Lunar or Cap Go Meh is intended to ward off interference or bad
luck in the future. The expulsion of evil spirits and bad luck in the suppression of
Cap Go Meh is symbolized in the show Tatung. Tatung is the main medium Cap Go
Meh. Things Tatung filled with mystical and thrilling, because a lot of people in a
trance and people is called Tatung. Tatung summoning ceremony led by pastors who
deliberately bring the spirit of a deceased person to possess Tatung. The spirits are
summoned believed to be the spirits are able to ward off evil spirits that want to
disrupt the harmony of life. The spirits are summoned to dirasukkan into Tatung is
believed to be the hero of a Chinese legend, such as warlords, judges, poets,
princes, prostitutes who had been converted and the other saints.
The spirits are summoned can possess anyone, depending on whether the cast
Tatung qualified in specified stages pastor. The Tatung required to fast for three
days before celebrations which means that they are in a state of purity before the
celebration.

In Tatung attraction that has been possessed by the spirit of the deceased acting
strangely, there are trampling on the blade of the sword or knife, there is also a plug
wires tapered steel to penetrate into the right cheek left cheek. Surprisingly the
Tatung it in the slightest from being scratched or injured. Several other Tatung
greedily eating animals or live chickens and drank her blood is still fresh and raw.
In Singkawang many Dayaks who also participated be Tatung, they are encouraged
to participate because Tatung similar ritual ceremonies Dayak. Since it first came to
Singkawang Chinese community have established a close friendship with the
natives, especially the Dayaks. Because there was no awkwardness between the
two ethnic groups. Formerly Singkawang is a haven of gold miners who came from
China. Massive migration waves in 1760, bringing Hakka Chinese ethnic
communities of southern China's Guangdong who landed on the island of Borneo.
They lived and worked as a porter in gold and diamond mines in Monterado, West
Kalimantan. Although physically and culturally there are assimilated with the local
population, they also retain ancestral customs are preserved until now. Because
they generally Confucian and Buddhist traditions of the Chinese New Year
celebration into a special they always celebrate.
In the New Order era, especially Chinese New Year celebration ritual banned Tatung
shown publicly. But in the reform era of former President Abdurrahman allowed
back, even legitimize the next government of Megawati Soekarnoputri in the form of
legislation. Thus the Chinese citizens in Singkawang in particular has more flexibility
to run their traditions or religious ceremony. In the world of tourism, Tatung has the
potential to attract domestic and foreign tourists. In addition to raising Singkawang
name in the international world, Tatung also boost local economies.
Gawai Dayak Naik Dango
Naik Dango ceremony which is the ritual activities surrounding the rice harvest is an
expression of gratitude to the Creator Dayak community will be the results that
have been obtained. The ceremony was held in each district including the city of
Singkawang. The venue alternates between district conducted every year, set by
the Tribal Council of the local district. In addition to the ceremony, also held a party
Naik Dango travel and culture filled with art performances, traditional games
competition, local art competitions, exhibitions, seminars and market folk culture.
Economy
Trading
Singkawang is famous as the city's second largest trading after the city of Pontianak
in West Kalimantan. It is on the west coast very strategic, which is located between
the district and Bengkayang Sambas, Singkawang very beneficial in developing the
region as a center for business and marketing products from and into the
surrounding area. In addition to also accommodate and distribute the goods that are

not produced in Singkawang and surrounding areas, such as items of clothing,


agricultural tools and more. Most traded goods are agricultural products, such as
agricultural crops, plantations, fisheries, animal husbandry and handicrafts or small
industries in Singkawang and neighboring districts.
Agriculture and Livestock
Singkawang is the area suitable for the development of crop farming and
horticulture are in District Singkawang South, North and East. The region has a huge
potential, both in terms of available land and other plants are suitable to be
developed. Vast land and fertile land and 11,829 person workforce is a critical
support for the development of agro-industries.
Corn plants, for example, are commonly found in South and East Singkawang. The
new 2001 commodity is cultivated in South Singkawang area of 10 hectares. Corn
demand for animal feed mostly on chicken laying in Singkawang a whopping 100
tons per day. Singkawang alone can not meet the needs of the animal feed, for
production in 2001 only about 20 tons. Until now it was supplied Bengkayang needs
as much as 40 tons and the rest of Semarang, Lampung, even from China.
The agricultural produce other than sold as fresh fruit, also started to be processed.
Tangerine and pineapple, for example, made of orange juice, soft drinks and canned
pineapple. Similarly, banana, marketed in the form of banana flour, banana peanut
butter and banana chips. Industrial enterprises started to grow while still in the
small-scale industry. Industry in general is widely available in the West Singkawang,
in the form of food processing industry and soft drinks. There is also the furniture
industry of wood raw material and marketing locally.
Livestock, mainly laying hens and pigs. Besides livestock production for their own
consumption, some large farmers, especially chicken eggs and pork, also marketed
to the outside Singkawang. Even chicken eggs controlled almost 95 percent of the
market in West Kalimantan.
Industry
Industrial products became the mainstay products are ceramic. The industry has
long been grown and its market was extended to other countries, although still
small-scale industries. There are eight business units engaged in ceramics and
managed hereditary. Manufacture of traditional ceramics were found in the village
of Sakok, Village Sedau, South Singkawang. Homemade very interesting and artistic
style Ming Dynasty. Its main characteristic lies in the design in the form of a dragon.
Ceramic is in compliance with the export market to Singapore, Malaysia and other
countries.
Singkawang is also famous from the small industries with distinctive food, the tofu
and noodles Singkawang and the food is often used as souvenirs for travelers who

come to Singkawang. The taste and aroma out Singkawang has its own
characteristics. Soy-based foods traditionally made it feel soft and clean look, in
contrast to know generally that may seem a little sour. The byproduct of
manufacturing know Singkawang is pureed tofu and water out.
Income
Budget of Rp. 3,411,475,134,475, Regional Revenue amounted Rp.14.934.687.606.110, Balance Fund of Rp. 1,881,144,108,000, Plan
Singkawang will have singkawang airport to connect with other cities, namely
International Airport Singkawang.
Festival
Singkawang Chinese New Year celebration in the evening on January 31, 2014.
Many festivals held in the city, for example:
Lunar New Year (January or February)
Cap Go Meh is celebrated 15 days after the Lunar New Year (February or March)
Gawai Dayak Naik Dango (May)
Proclamation of Indonesian Independence Day (August 17)
Famous personalities born in Singkawang
Handi Morgan Winata (Personnel boyband SM * SH)
Hendri Lamiri (Vionis Indonesia)
Alex (Juliet Band)
Reifan Fajarsyah / Ivan (Vocalist Seventeen Band)
Ifan (Domino Band Vocalist)
Linzy Novia Margaretha (Personnel 7icons Girlband)
Rionaldo Stockhorst (Artist)
Linda Fanencia Rachman (Artist)
Melly Kiong (Parenting MURI 2008)
Diana Joyo Rachmatien (Miss Indonesia Favorite 2014)
Xianny Kho (Personnel Bexxa Girlband)
Vamiga Michel (Satria Muda Britama Jakarta Players)
Hanna Fransisca (Poet / Konde Poet Han)
Setiawan Min (Artist)