Anda di halaman 1dari 9

RESUME

GENESA, TIPE DAN BENTUK TUBUH BIJIH

Pengkajian endapan-endapan mineral termasuk ke dalam lingkup ilmu


geologi, dan penerapannya berkaitan erat dengan industri pertambangan
(industri mineral). Dari segi ilmu pertambangan, endapan tersebut dapat
dipandang dari asal dan proses pembentukannya (genesa), sehingga dapat
dilakukan usaha-usaha untuk menemukan dan menambang endapan sebagai
prasyarat bagi pemanfaatan endapan bahan galian tersebut.
Secara

umum

genesa

bahan

galian

mencakup

aspek-aspek

keterdapatan, proses pembentukan, komposisi, model (bentuk, ukuran, dimensi),


kedudukan, dan faktor-faktor pengendali pengendapan bahan galian (geologic
controls). Tujuan utama mempelajari genesa suatu endapan bahan galian adalah
sebagai pegangan dalam menemukan dan mencari endapan-endapan baru,
mengungkapkan sifat-sifat fisik dan kimia endapan bahan galian, membantu
dalam penentuan (penyusunan) model eksplorasi yang akan diterapkan, serta
membantu dalam penentuan metoda penambangan dan pengolahan bahan
galian tersebut. Selain itu ilmu genesa mineral membantu dalam pengungkapan
sejarah masa lalu bumi.
Hal utama dari mempelajari genesa suatu endapan bahan galian adalah
sebagai pegangan dalam menemukan dan mencari endapan-endapan baru,
serta mengungkapkan sifat-sifat fisik dan kimia endapan bahan galian,
membantu dalam penentuan (penyusunan) model eksplorasi yang akan
diterapkan, serta membantu dalam penentuan metoda penambangan dan
pengolahan bahan galian tersebut.
Endapan-endapan mineral yang muncul sesuai dengan bentuk asalnya
disebut endapan primer (hypogen). Jika mineral-mineral primer telah mengalami
terubah melalui pelapukan atau proses- proses luar (superficial processes)
disebut dengan endapan sekunder atau endapan supergen. Endapan-endapan
mineral yang terbentuk bersamaan dengan terbentuknya batuan disebut dengan
singenetik, dan jika terbentuk tidak bersamaan dengan terbentuknya batuan
disebut dengan epigenetic.

A.

Pembentukan Mineral Primer


Sebelum membahas mengenai proses pembentukan endapan mineral

mesothermal, terlebih dahulu harus diketahui tentang pembentukan endapan


mineral menurut proses pembentukannya, adalah sebagai berikut :
Pembentukan bijih primer secara garis besar dapat diklasifikasikan
menjadi lima jenis endapan, yaitu :
a. Fase Magmatik Cair
b Fase Pegmatitil
c. Fase Pneumatolitik
d. Fase Hidrothermal
e. Fase Vulkanik
Dari kelima jenis fase endapan di atas akan menghasilkan sifat-sifat
endapan yang berbeda-beda, yaitu yang berhubungan dengan :
a. Kristalisasimagmanya
b. Jarak endapan mineral dengan asal magma

intra-magmatic, bila endapan terletak di dalam daerah batuan beku.


peri-magmatic, bila endapan terletak di luar (dekat batas) batuan beku.
crypto-magmatic, bila hubungan antara endapan dan batuan beku tidak

jelas.
apo-magmatic, bila letak endapan tidak terlalu jauh terpisah dari batuan

beku.
tele-magmatic, bila disekitar endapan mineral tidak terlihat (terdapat) batuan

beku.
Fase Magmatik Cair (Liquid Magmatic Phase)
Liquid magmatic phase adalah suatu fase pembentukan mineral, dimana
mineral terbentuk langsung pada magma (differensiasi magma), misalnya
dengan cara gravitational settling. Mineral yang banyak terbentuk dengan
cara ini adalah kromit, titamagnetit, dan petlandit.

Fase Pegmatitik (Pegmatitic Phase)


Pegmatit adalah batuan beku yang terbentuk dari hasil injeksi magma.
Sebagai akibat kristalisasi pada magmatik awal dan tekanan disekeliling
magma, maka cairan residual yang mobile akan terinjeksi dan menerobos
batuan disekelilingnya sebagai dyke, sill, dan stockwork.
Fase Pneumatolitik (Pneumatolitik Phase)
Pneumatolitik adalah proses reaksi kimia dari gas dan cairan dari magma
dalam lingkungan yang dekat dengan magma. Dari sudut geologi, ini disebut
kontak-metamorfisme, karena adanya gejala kontak antara batuan yang
lebih tua dengan magma yang lebih muda. Mineral kontak ini dapat terjadi

bila uap panas dengan temperatur tinggi dari magma kontak dengan batuan
dinding yang reaktif. Mineral-mineral kontak yang terbentuk antara lain :
wolastonit (CaSiO3), amphibol, kuarsa, epidot, garnet, vesuvianit, tremolit,
topaz, aktinolit, turmalin, diopsit, dan skarn.
Fase Hidrothermal (Hydrothermal Phase)
Hidrothermal adalah larutan sisa magma yang bersifat "aqueous" sebagai
hasil differensiasi magma. Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang
relatif ringan, dan merupakan sumber terbesar (90%) dari proses
pembentukan endapan.
Fase Vulkanik (Vulkanik Phase)
Endapan phase vulkanik merupakan produk akhir dari proses pembentukkan
bijih secara primer. Sebagai hasil kegiatan phase vulkanis adalah :
1. Lava flow
2. Ekshalasi
3. Mata air panas
Ada 4 tahap yang diketahui tentang proses pembentukan mineral (bijih),
yaitu : sumber dan sifat fluida pembawa bijih, sumber bahan-bahan bijih serta
keterdapatannya dalam larutan, migrasi fluida pembawa bijih, dan cara-cara
pengendapan mineral bijih dari fluidanya. Gerakan dari fluida ini mempunyai
kaitan erat dengan bijih, dan berhubungan erat dengan magma, proses
metamorf, air tanah, serta sedimen-sedimen.
Fluida-fluida pembawa bijih ini dapat berupa (terdiri dari) :
- fluida magmatis
- fluida meteorik dan air connate
- fluida yang berhubungan dengan proses metamorf.
Setiap fluida tersebut dapat berada dalam keadaan panas atau dingin,
serta terjadi pada lingkungan hipogen atau supergen. Setiap jenis fluida dalam
keadaan panas dan cair (liquid) tanpa memandang asalnya akan menjadi fluida
hidrotermal. Dalam keadaan/bentuk gas akan menjadi fluida pneumatolitis.
Fluida hidrotermal dan pneumatolitis dalam tekanan tinggi akan bersifat sama.
Secara skematik, pada Gambar 1 dapat dilihat suatu contoh proses larutan
magma dan penempatannya sehingga terbentuk bijih. Pada diagram tersebut
umum terjadi pada tahapan differensiasi magma dengan komposisi diorit. Dilihat
terbentuknya tipe-tipe batuan beku, differensiasi, dan pergerakan fluida
hidrothermal dengan kristalisasi fraksional.

Gambar 1
Proses penempatan (implacement) suatu larutan magma pembawa bijih

B.

Endapan Sekunder
Endapan sekunder adalah endapan yang terbentuk akibat konsentrasi

bahan galian berharga (bijih) akibat pengendapan kembali secara sekunder


(berasal dari perombakan batuan asal) melalui proses-proses pelapukan (kimia
atau mekanis), transportasi, sorting (pelindian/leaching),
pengkonsentrasian

(pengkayaan),

dan

proses

sehingga menghasilkan endapan bijih

tertentu.
Mineral bijih sedimenter adalah mineral bijih yang ada kaitannya dengan
batuan sedimen, dibentuk oleh pengaruh air, kehidupan, udara selama proses
sedimentasi berlangsung, atau pelapukan maupun dibentuk oleh proses
hidrotermal.
Mineral bijih sedimenter umumnya mengikuti lapisan (stratiform) atau berbatasan
dengan litologi tertentu (stratabound) Berdasarkan sumber metal (Y. B.
Chaussier, 1979), dibagi dua yaitu endapan supergen endapan yang metalnya
berasal dari hasil rombakan batuan atau bijih primer), serta endapan hipogen
(endapan yang metalnya berasal dari aktivitas magma/epithermal).
Sedangkan berdasarkan host-rock dengan pengendapan batuan sedimen
(Y. B. Chaussier,1979), dibagi dua yaitu endapan singenetik (endapan yang
terbentuk bersamaan dengan terbentuknya batuan) serta endapan epigenetik
(endapan mineral terbentuk setelah batuan ada).

C.

Bentuk Tubuh Bijih


Keterdapatan bentuk bijih batuan terdapat pada semua jenis batuan baik

itu batuan beku, sedimen, maupun metamorf. Selain itu juga ada suatu bahan
galian (batuan beku) yang memotong batuan sekitarnya yaitu dykes. Terkait
dengan waktu pembentukan bijih dihubungkan dengan host rock-nya, dikenal
istilah singenetik dan epigenetic. Singenetik diartikan bahwa bijih terbentuk
relative bersamaan dengan pembentukan batuan, sering merupakan bagian
rangkaian stratigrafi batuan, seperti endapan bijih besi pada batuan sediment.
Epigenetik, kebalikan dengan singenetik, merupakan bijih yang terbentuk setelah
host rock-nya terbentuk. Contoh endapan epigenetic adalah endapan yang
berbentuk urat (vein).
Seperti dalam terminology batuan beku, juga dikenal istilah tubuh bijih
diskordan dan konkordan. Tubuh bijih diskordan, jika memotong perlapisan
batuan, sedangkan tubuh bijih konkordan jika relaqtif sejajar dengan lapisan
batuan. Dalam bentuk tubuh bijih terdapat beberapa hal penting didalamnya
yang diantaranya yaitu :
Bentuk dan morfologi tubuh bijih
Dalam bentuk tubuh bijih parameter didalamnya terdapat yang disebut
dengan dimensi dari tubuh bijih tersebut. Untuk dimensi dari ukuran tubuh
bijih ini diantaranya yaitu ukuran, sebaran, keberadaan, dan distribusi
kadar mineralnya. Sedangkan untuk morfologinya bergantung pada kadar
yang tersebar di permukaan bumi.
Strike dan dip tubuh bijih
Sama seperti batuan strike dan dip pada tubuh bijih sangatlah penting,
untuk batuan dibutuhkan untuk mengetahui sebarannya sedangkan untuk
tubuh bijih untuk mengetahui dimensi dari tubuh bijih tersebut.
Tubuh Bijih Diskordan
Mempunyai bentuk beraturan (Tubuh bijih berbentuk tabular) dengan pola
penyebaran yang menerus 2D tetapi terbatas dalam arah 3D dan tidak
beraturan (Terbentuk melalui pergantian unsur yang sudah ada) dengan
pola penyebaran di dalam host rock.
Tubuh Bijih Konkordan
Tubuh bijih konkordan dapat terbentuk secara singenetik , membentuk
satu kesatuan stratigrafi dengan host rock-nya, tetapi juga dapat

terbentuk secara epigenetic, setelah batuan ada. Endapan konkordan


umumnya terbentuk pada batas batuan yang berbeda ,juga dapat
terbentu dalam satu tubuh batuan; dapat batupasir, batugamping, batuan
lempungan, atau pada endapan vulkanik, kadang juga pada batuan
plutonik atau metamorf. Pada tubuh bijih konkordan, sebagian besar
tubuh bijih relative parallel dengan bidang perlapisan, beberapa bagian
sering miring atau bahkan tegak lurus dengan bidang perlapisan.

Tubuh Bijih Tabular


Tubuh bijih tabulat mempunyai ukuran pada dua sisi yang memanjang,
tetapi sisi setiga relative pendek. Bentuk tubuh bijih tabular, umumnya
membentuk vein (urat) atau fissure -veins. Vein pada umumnya
mempunyai kedudukan miring, seperti pada sesar, pada bagian bawah
dikenal sebagai footwall, sedangkan bagian atasnya dikenal sebagai
hangingwall (Gambar 2).

Gambar 2
Kiri, memperlihatkan urat yang terbentuk pada sesar normal, dengan struktur
pinch-and-swell. Kanan, memperlihakan stadia pembentukan urat yang relative
vertical dan horizontal. Struktur berperan sebelum dan sesudah mineralisasi (dari
Evans, 1993)

Gambar tersebut memberikan gambaran tentang struktur pinch and swell


yang membentuk urat. Ketiga pada rekahan tersebut membentuk sesar
normal, maka akan terbentuk ruang terbuka (dilatant zones), yang
memungkinkan fluida pembawa bijih masuk ke rongga tersebut dan
membentuk urat. Vein pada umumnya terbentuk pada system rekahan
yang memperlihatkan keteraturan pada arah maupun kemiringan.

Tubuh bijih Tubular


Tubuh bijih ini, relative pendek pada dua dimensi , tetapi panjang pada
sisi ketiganya. Pada posisi vertical atau sub vertical tubuh ini dikenal

sebagai pipa (pipes) atau chimneys, sedangkan pada posisi horizontal


sering digunakan istilah mantos. Terbentuknya tubuh bijih yang tubular,
umumnya disebabkan oleh pelarutan batuan induknya (host rocks), serta
bijih yang berupa breksiasi. Beberapa tubuh bijih seringkali tidak menerus,
sehingga

membentuk

tubuh

bijih

yang

disebut

pod

(pod-haped

orebodies).
Foto 1
Memperlihatkan kenampakan breksi hidrotermal. Foto kiri, kenampakan
breksi hidrotermal pada endapan skarn Big Gossan. Foto kanan, tekstur pengisian

diantarafragmen breksi yang membentuk tekstur cockade pada endapan epitermal


Ciemas.

Foto 2
Foto kiri memperlihatkan masif kalkopirit pirit-magnetit yang terebntuk pada
fase mineralisasi awal yang meng-overprint klinopiroksen. Foto kanan urat epidotgipsumpirit-kalkopirit-sfalerit. Lokasi Big Gossan, Tembaga Pura.

KESIMPULAN
Genesa merupakan suatu proses pembentukan dengan memperhatikan
berbagai aspek. Untuk genesa bahan galian dibagi menjadi beberapa macam
genesa secara primer, sekunder, sedimenter, dan metamorf.
Untuk genesa secara primer memiliki beberapa tipe diantaranya
konsentrasi magmatis, hydrothermal, metasomatis kontak, aluvial, lateritik,
vulkanis, dan pegmatis. Untuk genesa secara sekunder memiliki tipe diantaranya
endapan konsentrasi residu dan endapan konsentrasi mekanis (placer deposits).
Untuk genesa secara sedimenter hampir memiliki kesamaan dengan sekunder
karena berdasarkan proses pelapukan. Dan untuk genesa secara metamorf tipe
endapan asbestos dan grafit.
Tubuh bijih batuan memiliki beberapa aspek penting didalamnya yang
dapat menentukan pola penambangan dan penyebaran dari tubuh bijih tersebut.
Untuk tubuh bijih dibagi menjadi dua yaitu diskordan dan konkordan. Keduanya
memiliki perbedaan pada pola penyebaran dan pembentukannya. Bentuk tubuh
bijih ini mempengaruhi banyak pemboran dan tipe penambangan.

DAFTAR PUSTAKA

Thegoldenjubilee.

blogspot.com

2012,

Endapan

Mineral

Epitermal.24

Februari.
Bosstambang.com. 2012, Geology Genesa-Minerals , 24 Februarai.
Hasantoshare.files.wordpress.com. 2012, Bentuk dan Tekstur Bijih , 24
Februari.
Scribd.com. 2012, Endapan Bijih , 24 Februari.
Atmantokukuh.blogspot.com.2012. Penjelasan Mengenai Diskordan , 24
Februari.

Anda mungkin juga menyukai