Anda di halaman 1dari 16

VERMES DAN MOLLUSCA

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Amalia Sofa
: B1J013014
:V
:6
: Gloria Animalesto

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Identifikasi adalah tugas untuk mencari dan mengenal ciri-ciri taksonomi
individu yang beranekaragam dan memasukkannya ke dalam suatu takson. Prosedur
identifikasi berdasarkan pemikiran yang bersifat deduktif. Pengertian identifikasi
berbeda sekali dengan pengertian klasifikasi. Identifikasi berhubungan dengan ciriciri taksonomi dalam jumlah sedikit (idealnya satu ciri), akan membawa spesimen ke
dalam satu urutan kunci identifikasi, sedangkan klasifikasi berhubungan dengan
upaya mengevaluasi sejumlah besar ciri-ciri (idealnya seluruh ciri-ciri yang dimiliki).
Peranan buku kunci identifikasi adalah mutlak diperlukan dalam melakukan
identifikasi. Determinasi merupakan cara untuk mengidentifikasi suatu makhluk
hidup dengan mencocokkan dengan buku panduan kunci determinasi (Mayr, 1969).
Identifikasi penting artinya bila ditinjau dari segi ilmiahnya, sebab seluruh
urutan pekerjaan berikutnya sangat tergantung kepada hasil identifikasi yang benar
dari suatu spesies yang sedang diteliti. Identifikasi dilakukan dengan peranan buku
kunci identifikasi adalah mutlak diperlukan (Darbohoesodo, 1976). Identifikasi
makhluk hidup berarti suatu usaha menemukan identitas suatu makhluk hidup.
Identifikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Cara yang paling populer yakni
dengan membandingkan tumbuhan atau hewan yang ingin diketahui dengan gambar
didalam buku atau antara tumbuhan dengan material herbarium yang sudah diketahui
identitasnya (Suhardi, 1983).
Hewan avertebrata pertama kali dikelompokan berdasarkan banyaknya sel
penyusun tubuh (uniseluler atau multiseluler). Hewan uniseluler atau protozoa
dibedakan atas cara dan lokomosinya yaitu menggunakan silia, flagella atau
pseudopodia. Pembedaan hewan yang lainnya dilakukan berdasarkan kesimetrian
tubuhnya, yaitu simetri radial atau bilateral, berdasarkan bentuk tubuh (bulat,
memanjang dan elips), ada tidaknya insang, segmen, cangkang, antenna dan ciri-ciri
pembeda lainnya. Hewan vertebrata meliputi kelompok craniata (hewan yang sudah
memiliki tulang tengkorak atau cranial), sudah memiliki tulang penyokong tubuh
yang disebut columna vertebralis serta pembagian tubuhnya sudah lengkap dan jelas
(Darbohoesodo, 1976).

Praktikum kali ini menggunakan preparat dari phylum Platyhelminthes,


Annelida, dan Mollusca. Anggota dari phylum Platyhelminthes yang digunakan
adalah Dugesiasp. atau planaria. Anggota dari phylum Annelida yang digunakan
adalah Tubifex sp. atau cacing sutera. Anggota dari phylum Mollusca yang digunakan
adalah Chiton sp., Sepia officinalis, Anadara sp., dan Trochus niloticus.
Platyhelminthes merupakan cacing yang berbentuk pipih dorsoventral,
aselomata, hemaprodit dan memiliki simetri tubuh bilateral. Ukuran tubuhnya
bervariasi, mulai dari ukuran beberapa millimeter hingga belasan millimeter.
Platyhelminthes di bagi menjadi 4 kelas yaitu, Kelas Turbellaria, Kelas Monogenea,
Kelas Trematoda, dan Kelas Cestoda. Kelas Monogenea merupakan ektoparasit dan
memiliki opisthaptor. Kelas Turbellaria, hidupnya bebas dan kebanyakan hidup
dilaut. Turbellaria yang hidup di air tawar biasanya dari anggota Genus Dugesia,
umumnya Planaria, Planaria sp. bereproduksi secara aseksual melalui fisi. Epidermis
dilengkapi engan silia dan mulutnya terletak di bagian ventral. Kelas Trematoda
memiliki bentuk tubuh seperti daun, tubuhnya tertutupi oleh kutikula. Saluran
makananya lengkap, terdiri dari mulut, faring, dan intestine. Organ ekskresi berupa
protonefrida. Siklus hidupnya melibatkan inang. Kelas Cestoda bersifat parasit,
siklus hidupnya melibatkan dua inang, tidak memiliki rongga gastrovaskuler dan
tidak memiliki sistem pencernaan (Campbell, 2003).
Mollusca berasal dari bahasa Latin, yaitu mallis yang berarti lunak. Mollusca
merupakan hewan triploblastik selomata yang bertubuh lunak, simetri bilateral, tidak
bersegmen. Tubuh yang lunak umumnya dilengkapi dengan kelenjar-kelenjar yang
dapat menghasilkan cangkang dari zat kapur (kalsium karbonat) yang keras, tetapi
Mollusca ada juga yang tidak bercangkang, misalnya cumi-cumi. Mollusca
mempunyai bagian tubuh yang disebut

kaki muskular yang dipakai untuk

beradaptasi bertahan di substrat, menggali substrat, atau melakukan gerakan dan


sebagai alat geraknya untuk menangkap mangsa. Tubuhnya juga dapat mengeluarkan
lendir untuk membantu berjalan ().
B. Tujuan
Tujuan praktikum acaraPorifera dan Cnidaria, antara lain :
1. Mengenal beberapa anggota Phylum Platyhelminthes, Annelida dan Mollusca.
2. Mengetahui beberapa karakter penting untuk identifikasi dan klasifikasi anggota
Phylum Platyhelminthes, Annelida dan Mollusca.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


Platyhelminthes disebut cacing pipih. Platyhelminthes mempunyai tubuh lunak
berbentuk pipih seperti pita atau daun. Tubuh cacing ini berukuran sangat kecil,
namun panjangnya dapat mencapai beberapa mater. Hidup di air tawar serta di
tempat lembab. Anggota Platyhelminthes banyak yang hidup sebagai parasit.
Platyhelminthes mempunyai alat penghisap. Filum Platyhelminthes dibagi dalam 3
kelas, yaitu Kelas Turbelaria, kelas Trematoda dan Kelas Cestoda. Filum
Platyhelmithes (cacing pita) adalah hewan aselomata yang pipih secara dorsoventral,
species ini hidup di habitat air laut, air tawar, dan daratan yang lembab. Selain
memiliki banyak bentuk yang hidup bebas, cacing pipih meliputi banyak pula spesies
parasit, seperti cacing pipih dan cacing pita. Cacing pipih disubut demikian karena,
tubuhnya tipis diantara permukaan torsal dan ventral. Ukuran cacing pita panjangnya
lebih dari 20 m (Mukayat, 1989).
Nemathelminthes disebut juga cacing benang. Tubuh tidak beruas-ruas, ukuran
tubuh mikroskopis, tetapi ada yang makroskopis. Tubuh bagian luar ditutupi selapis
kutikula. Kutikula ini lebih kuat pada cacing parasit yang hidup pada inangnya dari
pada cacing yang hidup bebas. Filum Nemnathelminthes terbagi menjadi dua kelas,
yaitu Kelas Nematoda dan Kelas Nematomorpha (Jasin,1992).
Annelida

disebut

cacing

cincin,

cacing

gelang,

atau

cacing

bersegmen. Annelida mempunyai saluran pencernaan yang sudah sempurna, namun


tidak mempunyai rangka luar. Bentuk tubuh bulat panjang dan bersegmen-segmen
seolah - olah seperti sederetan cincin memanjang. Segmen-segmen tidak hanya
terdapat pada tubuh bagian luar, tetapi juga pada tubuh bagian dalam. Berdasarkan
jumlah seta, Annelida dikelompokkan ke dalam 3 kelas yaitu Polychaeta,
Oligochaeta, dan Hirudinea (Campbell, 2003).
Sistem saraf Mollusca terdiri dari cincin saraf yang nengelilingi esofagus
dengan serabut saraf yang melebar. Sistem pencernaan Mollusca lengkap terdiri dari
mulut, esofagus, lambung, usus, dan anus. Ada pula yang memiliki rahang dan lidah
pada Mollusca tertentu. Lidah bergigi yang melengkung kebelakang disebut radula.
Radula berfungsi untuk melumat makanan. Mollusca yang hidup di air bernapas
dengan insang, sedangkan yang hidup di darat tidak memiliki insang. Pertukaran
udara Mollusca dilakukan di rongga mantel berpembuluh darah yang berfungsi

sebagai paru-paru. Organ ekskresinya berupa sepasang nefridia yang berperan


sebagai ginjal (Radiopoetro, 1996).
Tubuh Mollusca terdiri dari tiga bagian utama yaitu kaki, massa visceral, dan
mantel. Kaki merupakan penjulur bagian ventral tubuhnya yang berotot. Kaki
berfungsi untuk bergerak merayap atau menggali. Beberapa mollusca kakinya ada
yang termodifikasi menjadi tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa.
Massa viseral adalah bagian tubuh mollusca yang lunak. Massa viseral merupakan
kumpulan sebagaian besar organ tubuh seperti pencernaan, ekskresi, dan reproduksi.
Mantel membentuk rongga mantel yang berisi cairan. Cairan tersebut merupakan
lubang insang, lubang ekskresi, dan anus. Selain itu, mantel dapat mensekresikan
bahan penyusun cangkang pada mollusca bercangkang (Jasin, 1992).
Kelas Turbellaria termasuk dari filum Platyhelminthes yang hidup bebas dan
termasuk

anggota dari cacing (kelompok edmondson). Turbellaria mem punyai

tubuh yang

dorso-ventral rata dan umumnya mempuyai

mata yang terlihat

bagiannya kecuali beberapa spesies vauclusia seperti kymocarens tibialis (Kalita,


2012). Dugesia sp. merupakan salah satu species Platyhelminthes yang masuk ke
dalam classis Turbellaria. Hewan ini dikelompokkan ke dalam classis Tubellaria
karena memiliki beberapa karakteristik, yaitu pada permukaan tubuhnya terdapat
silia (rambut getar) yang digunakan untuk bergerak, kemudian di bagian anterior
tubuhnya berbentuk segitiga dan memiliki sepasang bintik mata yang berfungsi
untuk membedakan keadaan gelap dan terang (Verma, 2002).
Cacing sutra (Tubifex sp.) adalah cacing berwarna merah darah yang termasuk
dalam kelas Oligochaeta air tawar. Cacing sutra hidup dengan membentuk koloni dan
diperoleh dari hasil tangkapan di sungai atau melalui proses budidaya pada medium
bahan organik. Perkembangbiakan cacing sutra tergolong cepat, dalam waktu 42 hari
cacing sutra tumbuh menjadi dewasa dan segera berkembang biak. Pada umumnya
cacing sutra digunakan untuk pakan ikan hias, ikan lele dan merupakan sumber
protein baru dalam pakan ternak (Mandila dan Hidajati, 2013)
Sepia officinalis merupakan binatang yang bersifat phototaksis positif, mudah
tertarik dengan cahaya dan naik ke permukaan air. Ciri khas dari Sepia
officinalis adalah dapat menyemprotkan cairan hitam dari tentakel yang terletak di
mulut. Cairan hitam tersebut berfungsi untuk mengecoh musuhnya dan jari-jari yang
mempunyai mangkuk penghisap untuk menangkap mangsanya. Sepia sp dapat
dijumpai di daerah pantai, perairan laut dangkal, perairan payau dan laut terbuka

sampai kedalaman 400 meter. Ada sekitar 120 spesies yang diketahui dari
genus Sepia yang ditemukan di seluruh dunia (Rohmimohtarto, 2007).
Chitons hidup di seluruh dunia, dalam air dingin dan di daerah tropis.
Kebanyakan dari mereka mendiami zona intertidal atau subtidal dan tidak melampaui
zona yg berhubung dgn cahaya. Mereka tinggal pada permukaan keras, seperti pada
atau di bawah batu, atau di celah-celah batu. Beberapa spesies hidup cukup tinggi di
zona pasang surut dan terkena udara dan cahaya untuk waktu yang lama. Sebuah
Beberapa spesies juga hidup di air dalam, sedalam 6.000 m (sekitar 20.000 ft)
(Rusyana, 2011).
Menurut Moeljanto dan Heruwati (1975) diacu dalam Kasry (2003), Anadara
sp. atau kerang darah merupakan salah satu jenis kerang yang mempunyai nilai
ekonomis penting dan disukai masyarakat. Menurut Ismail (1971) diacu dalam Kasry
(2003), mengatakan kerang darah mempunyai rasa yang gurih karena mengandung
lemak dan kadar protein yang tinggi. Komposisi kimia kerang dara (Anadara sp.)
adalah air 83%, lemak 0.91%, protein 10.33% dan kadar abu 1.84% (Moeljanto dan
Heruwati 1975 diacu dalam Kasry 2003). Kerang darah yang telah dewasa yang
berukuran diameter 4 cm dapat memberikan sumbangan energi sebesar 59 kalori
serat mengandung 8 gram protein, 1.1 gram lemak, 3.6 gram karbohidrat, 133 mg
kalsium, 170 mg phosfor, 300 SI vitamin A dan 0.01 mg vitamin B1.

BAB III. MATERI DAN METODE


A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara Vermes dan Mollusca yaitu
bak preparat, pinset, kaca pembesar, mikroskop cahaya, mikroskop stereo, sarung
tangan (gloves), masker dan alat tulis.
Bahan yang digunakan dalam praktikum Vermes dan Mollusca yaitu
Dugestia sp, Tubifex sp., Chiton sp., Anadara granosa, Sepia officinalis dan
Bilinedae.
B. Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum antara lain:
1. Karakter pada preparat diamati, digambar dan dideskripsikan berdasarkan ciri-ciri
morfologi.
2. Preparat diidentifikasi dengan kunci identifikasi.
3. Berdasarkan karakter preparat yang diamati, dibuat kunci identifikasi sederhana.
4. Laporan sementara dibuat dari hasil praktikum.

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Tabel 4.1. Hasil Pengamatan Vermes dan Mollusca
N

Gambar

O
1.

Keterangan
1. Eyes spot
2. Rongga gastrovaskuler
3. Pharynx
4. Auricle
5. Head
6. Trunk
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Kelas : Turbellaria
Ordo : Tricladida
Famili : Planariidae
Genus : Dugesia
Spesies : Dugesia sp.
Nama lokal : Planaria

Deskripsi :
Dugesia sp. Memiliki bagian-bagian tubuhnya yaitu terdiri dari

kepala

(head), badan (trunk), mata, alat sensor sebagai alat pendengaran. Pada bagian
badan (trunk) terdapat rongga gastrovaskuler dan faring. Faring berfungsi sebagai
alat untuk makan.
2.

1. Protostome
2. Segmen
3. Setae
4. Anus
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Annelida
Kelas : Clitellata

Ordo : Haplotaxida
Famili : Tubificidae
Genus : Tubifex
Spesies : Tubifex sp.
Nama lokal : Cacing sutera
Deskripsi :
Tubifex sp. Bagian anteriornya memiliki protostomia yang berfungsi sebagai
mulut. Tubuh Tubifex sp. bermetamer dan dikelilingi oleh setae. Pada bagian
posterior terdapat anus.
3.

1. Anterior value
2. Mantel
3. Posterior value
4. Mulut
5. Headfoot
6. Insang
7. Anus
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Kelas : Polyplacophora
Ordo : Neoloricata
Famili : Chitonidae
Genus : Chiton
Spesies : Chiton sp.
Nama lokal : Chiton

Deskripsi :
Chiton sp. Mempunyai cirri khusus yaitu terdapat 8 lempeng penyusun
tubuh pada bagian dorsal. Bagian dorsal terdiri dari anterior valve dan posterior
valve. Sedangakan pada bagian ventral terdapat mulut, headfoot, dan anus.

4.

1. Umbo
2. Valve
3. Gigi Lateral Posterior

4. Berkas Otot
5. Lekuk palial

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Kelas : Bivalvia
Ordo : Arcoida
Famili : Arcidae
Genus : Anadara
Spesies : Anadara sp.
Nama lokal : Kerang darah
Deskripsi :
Anadara sp. tubuhnya ditutupi oleh dua buah valve yaitu, bagian dorsal
terdapat yang umbo. Bagian dalam terdapat bekas otot aduktor dan lekuk palial.
Anadara sp. memiliki gigi lateral posterior dan gigi lateral anterior.
5.
1. Ekstrimitas
2. Kepala
3. Mata
4. Fin
5. Mantel
6. Tentakel
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Kelas : Chepalopoda
Ordo : Sepiida
Famili : Sepiidae
Genus : Sepia
Spesies : Sepia officinalis
Nama lokal : Sotong
Deskripsi :
Sepia officinalis memiliki bagian tubuh yang terdiri dari kepala, badan dan
bagian kepala terdapat lengan, sepasang tentakel, dan sepasang mata. Mulut Sepia

officinalis terdapat di tengah dari lengannya. Tubuh Sepia officinalis terdapat sirip
(fin) yang berfungsi untuk alat renang.
6.

1. Apex
2. Sutura
3. Operculum
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Kelas : Gastropoda
Ordo : Archaeogastropoda
Famili : Trochidae
Genus : Tronchus
Spesies : Tronchus niloticus
Nama lokal : Lola

Deskripsi :
Memiliki bentuk koloni massive, koralit berbentuk cerioid, calice berukuran
small < 5mm, tipe coenosteumnarrow, dan tipe columella styliform.
Kunci Identifikasi
1. Ada tidaknya rongga tubuh
a. Aselomata....................................................................Dugesia sp.
b. Selomata......................................................................(2)
2. Ada tidaknya segmen
a. Metamerik....................................................................Tubifex sp.
b. Non metamerik............................................................ (3)
3. Ada tidaknya lempeng dorsal
a. Memiliki lempeng dorsal.............................................Chiton sp.
b. Tidak memiliki lempeng dorsal...................................(4)
4. Letak cangkang
a. Cangkang dalam...............................................................Sepia officinalis
b. Cangkang luar.............................................................. (5)
5. Ada tidaknya umbo
a. Memiliki umbo............................................................Anadara sp.
b.Tidak memiliki umbo....................................................Trochus niloticus

B. Pembahasan
Praktikum acara Vermes dan Mollusca kali ini, terdiri dari 2 preparat vermes
dan 4 preparat mollusca. Preparat Vermes yang digunakan berasal dari Phylum
Platyhelminthes dan Annelida, sedangkan preparat Mollusca yang digunakan berasal
dari Kelas Polyplachopora, Bivalvia, Chepalopoda dan Gastropoda. Planaria atau
Dugesia sp. atau yang dikenal sebagai cacing pipih, biasanya hidup di perairan jernih
yang tercemar limbah daging. Tubifex sp. atau biasa dikenal dengan cacing sutera
atau cacing darah ini biasanya digunakan sebagai pakan ikan hias, cacing ini hidup
pada tempat yang lembab dan harganya yang cukup mahal menjadikan budidaya
cacing sutera cukup menguntungkan.
Mollusca yang digunakan antara lain Chiton sp. Hewan ini cukup unik karena
memiliki delapan segmen cangkang dibagian dorsalnya maka menjadikan hewan ini
masuk dalam kelas Polyplachopora. Anadara sp. atau biasa dikenal sebagai kerang
darah hidup diperairan, memiliki keunikan yakni pada bagian ujung posterior
terdapat gigi lateral yang berfungsi untuk masuknya nutrisi karena hewan ini
merupakan filter feeder. Sepia officinalis atau biasa dikenal sebagai sotong memiliki
sepasang tentakel, dan memiliki cangkang dalam keras yang membedakannya
dengan cumi-cumi. Tronchus sp. merupakan Gastropoda air laut yang memilki
bentuk cangkang seperti terompet, hewan ini memiliki nama lokal siput lola.
Dugesia sp. masuk kedalam Phylum Platyhelminthes karena memiliki tubuh
yang pipih dorsoventral, memiliki konstruksi tubuh tingkat organ, tidak memiliki
metamer atau tidak bersegmen dan memiliki simetri tubuh bilateral. Lapisan tubuh
planaria

adalah

aseolomata

triploblastik,

memiliki

organ

ekskretori

atau

osmoregulasi berupa protonefridia, memiliki organ jantan dan betina dalam satu
tubuh (Monoceius atau hermaprodit). Cacing pipih jenis ini merupakan organisme
bukan parasit, karena masuk kedalam kelas Turbelaria. yang hidup di perairan atau
daerah yang basah dan lembab. Dugesia sp bagian tubuhnya terdiri dari kepala,
badan, mata, mempunyai alat sensor sebagai alat pendengaran, pada bagain badan
terdapat gastrovaskuler dan faring yang berfungsi sebagai alat makan.
Tubifex sp. masuk kedalam kelompok cacing gilig atau Phylum Annelida.
Cacing sutera memiliki karakteristik yakni konstruksi tubuhnya tingkat organ,
memiliki simetri tubuh bilateral, merupakan hewan protostom. Hewan ini juga
memiliki rongga tubuh sejati (seolomata) triploblastik, tubuhnya memiliki segmen

(metameristik), memiliki setae disetiap segmen tubuhnya. Cacing yang biasa


digunakan untuk pakan ikan ini hidup pada daerah lembab dan melimpah di musim
hujan, disebut hewan protostom karena mulut terbentuk lebih dahulu dibandingkan
anus. Tubifex sp. memiliki ukuran yang kecil, memiliki simetri tubuh bilateral,
mempunyai protostomata yang berfungsi sebagai mulut. Tubuhnya bermetamer dan
dikelilingi rambut halus (setae). Bagian posterior terdapat anus yang berfungsi
sebagai

tempat pengeluaran hasil sisa

metabolisme.

Tubifex

sp.

biasanya

dibudidayakan untuk pakan ikan.


Chiton sp. merupakan Mollusca yang memiliki 8 lempeng cangkang dorsal,
memiliki rongga tubuh sejati seolomata triploblastik, merupakan konstruksi tubuh
tingkat organ, simetri tubuh bilateral, tidak memiliki tagmatisasi, head foot atau kaki
perut, memiliki sistem syaraf tangga tali dan gigi radula. Hewan ini merupakan
contoh dari hewan dari Phylum Polyplacophora, Ordo Neoloricata, Family
Chitonidae, Genus Chiton. Bagian tubuhnya dibagi atas bagian dorsal dan ventral,
bagian dorsal terdapat delapan lempeng, dimana lempeng paling ujung dinamakan
anterior value dan posterior value, bagian tubuh terluar tersusun atas mantel. Bagian
ventral terlihat bagian yang dinamakan mulut, headfoot, insang dan anus.
Anadara sp. merupakan Mollusca yang masuk kedalam kelas Bivalvia.
Anggota dari kelompok ini memiliki ciri-ciri tubuh seolomata triploblastik,
merupakan hewan protostome, bersimetri biradial, tidak memiliki tagmatisasi,
konstruksi tubh organ, memiliki kepala yang tereduksi dan merupakan filter feeder.
Bagian dari cangkang hewan ini antara lain umbo yang berada diujung posterior
lateral, valve dibibir anterior, gigi lateral posterior yang berfungsi sebagai filter
feeder, bagian ventral terdapat berkas otot dan lekuk palial. Anadara sp. atau biasa
dikenal sebagai kerang darah, merupakan hewan dengan dua keping valve, maka
hewan ini masuk kedalam Kelas Bivalvia, Ordo Arcoida, Family Arcidae dan Genes
Anadara.
Sepia officinalis merupakan Mollusca yang berhabitat marin. Ciri-ciri tubuh
hewan ini seperti Mollusca pada umumnya yakni triploblastik selomata, hewan
protostom, bersimetri bilateral, tubuhnya tidak bersegmen, konstruksi tubuh berupa
organ, memiliki konstruksi headfoot yang terlihat jelas. Hewan ini masuk kedalam
kelas Chepalopoda yang berarti konstruksi tubuh kepala dan kaki dalam satu struktur,
masuk kedalam Ordo Sepiida, Family Sepidae, Genus Sepia dan memiliki nama
lokal sotong.

Tronchus niloticus merupakan mollusca yang berjalan dengan kaki perut,


karena itu hewan ini masuk kedalam kelas Gastropoda. Ciri-ciri tubuh hewan ini
seperti mollusca pada umumnya yakni triploblastik selomata, hewan protostom,
bersimetri bilateral, tubuhnya tidak bersegmen, konstruksi tubuh berupa organ,
memiliki konstruksi kaki perut yang terlihat jelas. Hewan ini masuk dalam Kelas
Gastropoda, Ordo Archaeogastropoda, Family Trochidae, Genus Tronchus dan
hewan ini hidup di air laut memiliki dan nama lokal siput lola. Trochus niloticus
merupakan salah satu spesies dari Kelas Gastropoda, berjalan menggunakan
perutnya, memiliki cangkang, memiliki koloni massive, koralit berbentuk cereioid,
calice berukuran small, tipe coenosteumnarrow dan memiliki tipe columella
styliform
Chiton sp. merupakan salah satu Kelas dari Polyplacophora. Chiton sp
memiliki segmen dibagian dorsalnya dengan jumlah delapan serta mempunyai katup
di bagian anterior maupun posterior. Bagian anterior dari Chiton sp

memiliki

porostomia yang berfungsi sebagai mulut. Hidupnya menempel pada batu karang
dengan sangat kuat sehingga tidak mudah lepas ketika terkena ombak yang besar.
Anadara sp. memiliki karakter adanya dua valve yang menyatu, mempunyai
umbo yang menjadi karakter khusus pada bagian dorsalnya. Anadara sp. memiliki
gigi lateral dan gigi anterior. Sephia officinalis dikenal dengan nama lokal sotong,
bagian tubuhnya terdiri dari kepala, badan, mata, mantel, dan tentakel. Tentakel
terletak di bagian kepala. Tentakel berfungsi untuk membantunya ketika berenang,
menangkap mangsa serta sebagai perlindungan diri. Tubuh sotong bersifat lunak,
kepalanya tidak tereduksi.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Phylum Platyhelminthes salah satu anggotanya adalah planaria. Phylum Annelida
salah satu anggotanya adalah Tubifex sp., yang termasuk ke dalam Subkelas
Oligochaeta. Anggota Phylum Mollusca adalah Chiton sp., Sepia officinalis.
2. Karakter penting untuk identifikasi dan klasifikasi Phylum Platyhelminthes,
Annelida, dan Mollusca adalah ada tidaknya rongga tubuh, ada tidaknya
metamer, dan simetris tubuh.
B. Saran
Saran untuk praktikum kali ini yakni sebaiknya praktikan lebih teliti lagi dalam
melakukan langkah-langkah pada saat identifikasi.

DAFTAR REFERENSI
Campbell, N.A. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid II. Jakarta: Erlangga.
Darbohoesodo, R.B. 1976. Penuntun Praktikum Taksonomi
Purwokerto : Fakultas Biologi Universitas Jenderel Soedirman.

Avertebrata.

Jasin, Maskoeri. 1992. Zoologi Invertebrata. Surabaya : Sinar Wijaya.


Kalita, G. & M.M. Goswami. 2012. Occurrence of Mesostoma tetragonum (Mller)
(Turbellaria) in the Deepar wetlands of Assam, India. JoTT Note, 4(5): 2609
2613.
Mandila, S.P. dan Hidajati. N, 2013. Identifikasi Asam Amino Pada Cacing Sutra
(Tubifex Sp.) yang Diekstrak Dengan Pelarut Asam Asetat dan Asam
Laktat.UNESA Journal of Chemistry 2(1).
Mayr, E. 1969. Principles Of Systematic Zoologi. New Delhi : Tata McGraw-Hill
Publishing Company.
Moeljanto dan Heruwati. 1975. Penentuan Lokasi Budidaya Kerang Darah di
Perairan Blanakan Jawa Barat. Jurnal Penelitian Perikanan Laut 42-49.
Mukayat Djarubito, 1989. Zoologi Invertebrata. Jakarta: Erlangga.
Rusyana, Adun. 2011. Zoologi Invertebrata. Bandung: ALFABETA.
Rohmimohtarto, Kasijan. 2007. Biologi Laut Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut.
Radiopoetro. 1996. Zoologi . Jakarta : Erlangga.
Suhardi. 1983. Evolusi Avertebrata. Jakarta : UI-Press.
Verma, P. S. 2002. A Manual of Practical Zoology Invertebrates. New Delhi : S.
Chand Company Ltd.