Anda di halaman 1dari 26

4.

5 Penataan Site
4.5.6 Sistem Sirkulasi dan Penghubung
Setiap ruang terbentuk dikarenakan suatu tujuan tertentu. Ruang merupakan
suatu tempat yang mewadahi keberadaan kita. Melalui volume ruang kita
bergerak, melihat bentuk, mendengar suara, merasakan angin, mencium aroma,
dan sebagainya. Di dalam ruang inilah berbagai aktivitas berlangsung. Dan
aktivitas tersebut menghasilkan sebuah sirkulasi pergerakan di suatu ruang
maupun antar ruang dalam sebuah bangunan. Sistem sirkulasi pada bangunan ini
dapat didefinisikan sebagai pergerakan lalu-lalang dari jalan masuk di luar
bangunan sampai masuk ke dalam bangunan.
4.5.6.1

Elemen-elemen Sirkulasi

Ada terdapat beberapa elemen-elemen sirkulasi. Elemen-elemen ini


merupakan

bagian-bagian

penting

pada

sirkulasi

yang

harus

dipertimbangkan dengan seksama agar sistem sirkulasi dalam suatu


bangunan dapat berjalan dengan baik. Elemen-elemen tersebut, yaitu :
a. Pencapaian
Untuk memasuki suatu gedung, sangat diperlukan adanya jalur
yang mengantarkan pengguna jalur ke arah pintu masuk gedung.
Jalur inilah yang dimaksud dengan pencapaian. Pencapaian ini
merupakan tahap pertama pada sistem sirkulasi yang pada tahap ini
civitas disiapkan untuk melihat, mengalami, serta memanfaatkan
ruang-ruang yang ada pada bangunan tersebut. Pencapaian ini
dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu pencapaian secara frontal,
tidak langsung, dan spiral.

Frontal
Dengan

pencapaian

secara

frontal,

civitas

akan

diarahkan secara langsung ke arah pintu masuk bangunan


yang memperlihatkan seluruh fasad depan bangunan atau
pintu masuk secara detail di dalam bidang.

Gambar x.x : Pencapaian Frontal


Sumber : Arsitektur: Bentuk, Ruang, dan Tatanan, 2008

Tidak langsung
Pencapaian secara tidak langsung ini memberikan kesan
perspektif pada fasad depan dan bentuk sebuah bangunan yang
dituju.

Gambar x.x : Pencapaian Secara Tidak Langsung


Sumber : Arsitektur: Bentuk, Ruang, dan Tatanan, 2008

Spiral
Jalur pencampaian berbentuk spiral ini merupakan jalur
yang

memiliki

waktu

pencapaian

yang

lebih

lama

dibandingkan dengan jalur pancapaian lainnya. Dengan jalur


ini, pengguna jalur diajak mengitari bangunan sehingga
pengguna jalur dapat melihat bangunan secara tiga dimensi.

Gambar x.x : Pencapaian Secara Spiral


Sumber : Arsitektur: Bentuk, Ruang, dan Tatanan, 2008

b. Pintu masuk
Yang dimaksudkan dengan pintu masuk ini merupakan suatu
bidang vertikal yang membedakan satu ruang dengan ruang
lainnya. Pintu masuk sangat diperlukan pada suatu ruang untuk
berpindah dari ruang satu ke ruang lainnya. Pintu masuk ini tidak
harus merupakan sebuah lubang yang ada pada sebuah dinding,
melainkan dapat berupa sebuah jalur yang melewati sebuah bidang
yang tercipta oleh dua buah bidang vertikal atau sebuah balok
portal.
Selain itu, pintu masuk juga dapat berupa perbedaan tinggi
lantai yang menandakan perbedaan suatu ruang dengan ruang
lainnya.

Gambar x.x : Jenis-jenis Pintu Masuk


Sumber : Arsitektur: Bentuk, Ruang, dan Tatanan, 2008

c. Konfigurasi jalur
Seluruh jalur pergerakan, entah jalur itu dilalui oleh manusia,
mobil, barang ataupun sepeda pasti memiliki titik awal yang
nantinya akan melewati ruang-ruang dan jalur mengarah pada
tujuan akhir. Setiap moda transportasi ini memerlukan sifat jalur
yang berbeda-beda.

Gambar x.x : Konfigurasi Jalur


Sumber : Arsitektur: Bentuk, Ruang, dan Tatanan, 2008

Seperti contohnya jika pejalan kaki dapat berkelok-kelok,


berhenti, atau beristirahat sesuka hati, maka pengguna sepeda dapat
memiliki kebebasan yang lebih sedikit. Sedangkan mobil, akan
lebih terbatas lagi karena tidak dapat mengubah arah jalannya
secara tiba-tiba. Konfigurasi jalur ini memiliki bentuk jalur-jalur
yang berbeda-beda.

Linear
Jalur linear merupakan sebuah jalur yang berbentuk
dalam satu garis. Jalur ini menghubungkan ruang antar ruang
melalui ruang linear yang terpisah. Ruang-ruang ini juga dapat
dihubungkan secara langsung yang berderetan.

Gambar x.x : Konfigurasi Jalur Linear


Sumber : Arsitektur: Bentuk, Ruang, dan Tatanan, 2008

Radial
Jalur radial ini merupakan jalur-jalur linier yang
memanjang dari suatu titik atau berakhir di suatu titik pusat.

Gambar x.x : Konfigurasi Jalur Radial


Sumber : Arsitektur: Bentuk, Ruang, dan Tatanan, 2008

Spiral
Jalur ini memiliki sebuah jalur tunggal yang berawal
dari suatu titik pusat dan memanjang secara melingkar,
mengelilingi titik pusat dan semakin lama semakin menjauhi
titik pusat.

Gambar x.x : Konfigurasi Jalur Spiral


Sumber : Arsitektur: Bentuk, Ruang, dan Tatanan, 2008

Grid
Jalur ini terdiri dari dua atau lebih jalur sejajar yang
berpotongan pada titik-titik tertentu dan menciptakan ruang
bujur sangkar atau persegi.

Gambar x.x : Konfigurasi Jalur Grid


Sumber : Arsitektur: Bentuk, Ruang, dan Tatanan, 2008

Jaringan
Konfigurasi jalur jaringan merupakan jalur yang tediri
dari jalur-jalur yang mengubungkan beberapa titik yang
terbentuk di dalam ruang.

Gambar x.x : Konfigurasi Jalur Jaringan


Sumber : Arsitektur: Bentuk, Ruang, dan Tatanan, 2008

d. Hubungan-hubungan jalur ruang


Setiap jalur memiliki hubungan dengan ruang-ruang yang
dilaluinya. Ruang-ruang dan jalur tersebut dapat dikaitkan melalui
beberapa cara berikut.

Melewati ruang
Dengan cara ini integritas ruang dapat dipertahankan,
konfigurasi jalurnya fleksibel dan ruang-ruang yang menjadi
perantara dapat menghubungkan jalur dengan ruang-ruangnya.

Gambar x.x : Melewati Ruang


Sumber : Arsitektur: Bentuk, Ruang, dan Tatanan, 2008

Menembus ruang
Dengan menembus ruang, jalur dapat melewati ruang
dengan cara aksial, miring, atau di sepanjang tepi ruangan.
Selain itu, ketika jalur menembus ruang, maka akan
terciptanya pola-pola peristirahatan dan pergerakan di
dalamnya.

Gambar x.x : Menembus Ruang


Sumber : Arsitektur: Bentuk, Ruang, dan Tatanan, 2008

Menghilang di dalam ruang


Lokasi ruang pada hubungan ini adalah penyebab
terbentuknya

jalur

tersebut.

Hubungan

jalur-ruang

ini

digunakan untuk menunjukan suatu ruang yang penting baik


secara fungsional maupun simbolis.

Gambar x.x : Menembus di Dalam Ruang


Sumber : Arsitektur: Bentuk, Ruang, dan Tatanan, 2008

e. Bentuk ruang sirkulasi


Bentuk ruang sirkulasi ini merupakan ruang-ruang yang
disediakan untuk pergerakan sirkulasi. Ruang ini akan lebih baik
jika memiliki atau mengakomodir pergerakan manusia seperti
beristirahat,

berjalan

santai,

berhenti,

atau

menikmati

pemandangan. Ada beberapa bentuk ruang-ruang sirkulasi, yaitu:

Tertutup
Pada

ruang

sirkulasi

yang

tertutup,

ruang

ini

membentuk suatu galeri umum atau koridor pribadi yang


menghubungkan antara ruang-ruang melalui pintu yang ada
pada bidang dinding.

Gambar x.x : Bentuk Ruang Sirkulasi Tertutup


Sumber : Arsitektur: Bentuk, Ruang, dan Tatanan, 2008

Terbuka pada satu sisi


Ruang sirkulasi ini hanya terbuka pada satu sisi yang
membentuk sebuah balkon panjang yang memberikan
kontinuitas sevara visual dan fisik dengan ruang-ruang yang
dihubungkannya.

Gambar x.x : Bentuk Ruang Sirkulasi Terbuka pada Satu Sisi


Sumber : Arsitektur: Bentuk, Ruang, dan Tatanan, 2008

Terbuka pada kedua sisi


Bentuk ruang ini terbuka pada kedua sisinya, sehingga
memiliki bentuk jalur setapak berkolom yang merupakan
perluasan fisik dari ruangan yang ditembusnya.

Gambar x.x : Bentuk Hubungan Ruang Terbuka pada Dua Sisi


Sumber : Arsitektur: Bentuk, Ruang, dan Tatanan, 2008

4.5.6.2

Jenis Sirkulasi

a. Sirkulasi horizontal
Sistem sirkulasi horizontal adalah sistem pergerakan lalu-lalang
antar ruang dalam satu lantai. Sistem sirkulasi horizontal dalam
sebuah bangunan dapat berupa sebuah akses melalui ruang terbuka,
koridor, dan lobby. Akses yang dilalui pada sirkulasi horizontal ini
harus dapat dilalui dengan mudah dan menguntungkan semua orang
dan dengan jarak yang diminalisir.
Pada sirkulasi ini, perbedaan tinggi lantai dalam satu lantai
akan lebih baik untuk dihindari. Dan presentasi kemiringan yang
dapat ditoleransi pada sistem sirkulasi ini tidak lebih dari 10%.
Ruang terbuka di dalam bangunan seperti galeri pameran, atau lobby
akan sangat berguna untuk mengurangi penggunan pintu atau bidang
pemisah lainnya yang sering menghambat akses sirkulasi. Walau
begitu, jalur sirkulasi tetap harus memiliki pemisah. Seperti
contohnya penggunaan warna lantai yang berbeda, perbedaan
tekstur penutup lantai, atau pengaturan tata letak furnitur.

Gambar x.x : Perbedaan Tekstur Lantai Sebagai Pemisah Ruang


Sumber : http://bibliotecajoaquimagalhaes.blogspot.com/, 2015
Akses : 25 Juli 2015 16:25

Ada beberapa penghubung atau alat transportasi pada sistem


sirkulasi horizontal, yaitu :

Koridor
Koridor merupakan sebuah bentuk penghubung dalam
sirkulasi horizontal pada bangunan yang menghubungkan satu
ruang dengan ruang lainnya. Di dalam sebuah bangunan,
koridor yang dilalui oleh publik seharusnya memiliki lebar
paling tidak selebar 2,00 meter agar pengguna jalur dapat
berlalu-lalang dan berpapasan dengan nyaman. Sedangkan pada
bangunan yang tidak dilalui oleh publik, lebar koridor yang
dianjurkan minimal selebar 1,50 meter. Dan jika ada
pengurangan lebar koridor yang disebabkan oleh adanya kolom
atau adanya saluran, maka ruang yang tersisa tidak boleh
kurang dari 1,20 meter.

Gambar x.x : Ruang Kosong yang Diperlukan Koridor


Sumber : Building for Everyone: A Universal Design Approach

Jika suatu koridor memiliki lebar kurang dari 1,80


meter, maka koridor tersebut memerlukan ruang untuk
berpapasan. Ruang tersebut paling tidak memiliki panjang 2,00
meter dengan lebar 1,80 meter dan diletakan pada jarak tidak
melebihi 20,00 meter atau masih dalam jarak pandang. Ruang
untuk berpapasan ini sangat berguna pada pertemuan antar
koridor, ujung dari duatu ram, ataupun akhir dari koridor.
Dengan adanya ruang papasan ini, pengguna kursi roda maupun
orang tua dengan kereta dorong akan dengan mudah berbalik
atau berbelok di dalam koridor dan akan.

Gambar x.x : Glass Corridor


Sumber : www.pinterest.com, 2012
Akses : 25 Juli 2015 16:50

Selain itu, persimpangan-persimpangan yang tembus


pandang akan membantu pengguna koridor dengan kesulitan
pendengaran melihat jika ada yang datang dan menghindari
tabrakan.
Di beberapa situasi, penggunaan handrail akan sangat
diperlukan untuk memberikan bantuan, keseimbangan, dan
pengarah. Handrail ini harus disediakan pada koridor yang
memiliki panjang 20 meter atau lebih. Tempat duduk juga harus
disediakan pada koridor panjang yang diletakan dengan interval
tidak lebih dari 20 meter.

Konveyor atau Travelator


Selain koridor, sebagai penghubung suatu ruang ke
ruang lainnya konveyor banyak bangunan-bangunan yang
menggunakan konveyor. Konveyor atau travelator ini dapat
didefinisikan sebagai alat angkut orang atau barang yang
bergerak secara mendatar atau horizontal. Konveyor ini
biasanya dipasang dalam keadaan mendatar atau dengan sudut
kemiringan yang kurang dari 10.

Gambar x.x : Travelator


Sumber : www.flickr.com, 2010 Akses
: 25 Juli 2015 17:00

b. Sirkulasi vetikal
Berbeda dengan sistem sirkulasi horizontal, sirkulasi vertikal
adalah sirkulasi yang memiliki arah pergerakan vertikal atau tegak
lurus terhadap bangunan. Sirkulasi ini terjadi pada saat perbedan
lantai tidak lagi dapat dihindari. Dengan adanya perbedaan lantai
ini, maka penggunaan tangga atau ram sangat dianjurkan. Tetapi jika
ram sudah tidak lagi berfungsi dengan baik, maka akan lebih baik
jika penggunaan elevator atau lift menjadi pertimbangan. Berikut ini
merupakan beberapa penghubung sistem sirkulasi vertikal yang ada
pada sebuah bangunan.

Lift
Lift merupakan alat trasnportasi atau penghubung ruang
yang paling mudah digunakan untuk bergerak antar lantai bagi
orang-orang yang tidak bisa atau lebih baik tidak menggunakan
tangga.

Banyak

sekali

bangunan-bangunan

tinggi

yang

memerlukan penggunaan lift. Sekarang ini, lift yang biasa


dipakai adalah lift dengan motor penggerak (traction lift) dan
lift dengan dongkrak hidrolik (hydraulic lift)

Gambar x.x : Lift dengan Motor Penggerak


Sumber : Panduan Sistem Bangunan Tinggi: Untuk Arsitek dan Praktisi
Bangunan, 2005

Pada lift yang menggunakan motor penggerak, tentu


dibutuhkan adanya ruang mesin. Ruang mesin ini dapat terletak
di atas ruang luncur (di penthouse) atau di basemen (di samping
ruang luncur).

Gambar x.x : Lift Hidrolik


Sumber : Panduan Sistem Bangunan Tinggi: Untuk Arsitek dan Praktisi
Bangunan, 2005

Lift hidrolik tidak mengakibatkan beban tambahan di


puncak bangunan. Lift memiliki kapasitas angkat maksimum 10
ton jika dengan tuas tunggal dan lift ini dapat mengangkut
sampai dengan beban 50 ton jika dengan tuas ganda. Sehingga
lift ini sangat baik untuk mengangkut beban berat. Lift ini juga
tidak membutuhkan beban pengimbang seperti lift lainnya.
Tetapi lift hidrolik hanya baik untuk digunakan pada kecepatan
yang relatif rendah, hanya dapat melayani lantai dengan jumlah
yang sedikit, dan menimbulkan suara yang lebih berisik
dibandingkan dengan lift dengan motor penggerak.
Ruang yang disediakan untuk pergerakan naik-turun
atau ruang luncur lift ditentukan dari jumlah dan konfigurasi
tata letak lift dengan jumlah maksimal empat buah dalam satu
deret. Tabel berikut menunjukan beberapa tata letak lift yang
dapat diterapkan.
Tabel 4.5.6.1 Tata Letak Lift
Baik

Alternatif Lain

Dalam menentukan tata letak lift ini, bahwa hambatan


yang dapat mengganggu lalu lintas perlu dihilangkan terlebih
dahulu. Selain tata letak pada tabel di atas, tata letak lain juga
sering dijumpai, yaitu bentuk Cul-de-Sac atau jalan buntu dan
bentuk melingkar.

Gambar x.x : Tata Letak Melingkar


Sumber : Panduan Sistem Bangunan Tinggi: Untuk Arsitek dan Praktisi
Bangunan, 2005

Gambar x.x : Tata Letal Cul de-Sac


Sumber : Panduan Sistem Bangunan Tinggi: Untuk Arsitek dan Praktisi
Bangunan, 2005

Pada umumnya, sebuah lift hanya dapat melayani


sekitar 12 15 lantai agar tidak melampaui batas tunggu dan
jumlah waktu perjalanan yang disyaratkan. Sedangkan jika
bangunan tersebut memiliki tinggi lebih dari 25 lantai, maka
akan lebih baik jika dilakukan pembagian layanan lift dengan
mengelompokan lantai yang dilayani, don konsep zona yang
dilayani oleh sejumlah lift tertentu.
Seperti yang tertera pada gambar pembagian zona lift
dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu group I melayani
sejumlah lantai di zona bawah, group II melayani beberapa
lantai di zona tengah, dan group III melayani beberapa lantai di
zona atas.

Gambar x.x : Zona Lift


Sumber : Panduan Sistem Bangunan Tinggi: Untuk Arsitek dan Praktisi
Bangunan, 2005

Dumbwaiter
Dumbwaiter adalah alat transportasi atau penghubung
antar lantai sejenis lift yang berfungsi untuk memindahkan
barang-barang yang relatif kecil dan ringan. Dumbwaiter ini
banyak dijumpai pada pusat perbelanjaan, di rumah sakit, di
restoran maupun hotel. Ruang luncur yang dibutuhkan
dumbwaiter ini relatif kecil dan tidak sebesar yang dibutuhkan
lift biasa. Luas ruang yang dibutuh kan berkisar sekitar 1,00 m 2
dengan tinggi maksimum 1,25 meter. Karena fungsinya yang

digunakan hanya untuk mengantarkan barang, dumbwaiter ini


memiliki

daya

angkut

maksimum

yang

lebih

kecil

dibandingkan dengan lift biasa, yaitu 250 kg.

Gambar x.x : Dumbwaiter


Sumber : www.pinterest.com, 2015
Akses : 25 Juli 2015 17:30

Dan seperti halnya lift, dumbwaiter juga memiliki


motor penggerak yang terletak di atas (motor traksi) atau di
bawah (motor silinder).

Gambar x.x : Dumbwaiter dengan Ruang Luncur


Sumber : Panduan Sistem Bangunan Tinggi: Untuk Arsitek dan Praktisi
Bangunan, 2005

Eskalator
Eskalator merupakan alat penghubung ruang atau
transportasi vertikal yang paling mudah dijumpai. Banyak
gedung-gedung pertokoan dan gedung-gedung perkantoran
yang menggunakan transportasi vertikal ini. Eskalator ini
merupakan salah satu transportasi vertikal berbentuk konveyor
yang berfungsi untuk mengangkut orang dari satu lantai ke
lantai lainnya.
Eskalator ini memiliki keuntungan yang cukup banyak,
yaitu dapat memindahkan sejumlah besar orang tanpa adanya
interval waktu tunggu terutama di jam-jam sibuk. Akan tetapi,
eskalator ini tidak menyediakan akses untuk segala jenis
pengguna akses. Seperti misalnya orang-orang dengan kereta
dorong,

penyandang

membawa anjing.

cacat,

ataupun

orang-orang

yang

Gambar x.x : Eskalator di


Copenhagen Metro, Kopenhagen.
Sumber : id.wikipedia.org, 2014
Akses : 26 Juli 2015 13:00

Tidak semua orang nyaman menggunakan eskalator ini


dan lebih memilih untuk menggunakan tangga, ram, ataupun
lift. Karena itu, diperlukannya akses alternatif yang mudah
ditemukan

di

dekat

peletakan

eskalator

ini.

Untuk

memudahkan penggunaan, eskalator harus dilengkapi dengan


tanda pegerakan eskalator yang jelas.

Selain itu, adanya

perbedaan warna yang kontras di kedua ujung eskalator dengan


tangga eskalator tersebut sangat diperlukan untuk menghindari
kecelakaan.

Gambar x.x : Eskalator dengan Tanda Pergerakan


Sumber : Building for Everyone: A Universal Design Approach

Sama seperti halnya ramp berjalan, eskalator juga


menggunakan motor listrik sebagai penggerak yang berputar
secara tetap dan dilengkapi dengan pegangan tangan yang
bergerak sama cepatnya. Kecepatan yang biasa digunakan pada
erkalator adalah 0,45 0,60 meter/detik.
Eskalator hanya terdiri dari dua jenis, yaitu jalur tunggal
untuk satu orang berdiri dengan lebar 60 cm 81 cm dan jalur
ganda untuk dua orang yang berdiri bersamaan dengan lebar
100 cm 120 cm. Berbeda dengan ramp, kemiringan
maksimum yang dapat diterima oleh eskalator ini adalah 30
dengan ketinggian maksimum 20 meter.
Di dalam kompleks pertokoan tentu sangat diperlukan
adanya penggunaan eskalator. Untuk kompleks pertokoan,
selain perlunya penyediaan satu lift untuk setiap 10.000 m 2
lantai, juga perlu disediakan satu eskalato jalur tunggal untuk
setiap 3.000 m2 atau satu eskalator jalur ganda untuk setiap
5.000 m2 luas lantai. Eskalator ini memerlukan kebutuhan
ruang yang sesuai agar eskalator apat berfungsi dengan baik.

Gambar dibawah ini menunjukan kebutuhan ruang yang


dibutuhkan dalam pemasangan sebuah eskalator.

Gambar x.x : Ruang Eskalator


Sumber : Panduan Sistem Bangunan Tinggi: Untuk Arsitek dan Praktisi
Bangunan, 2005

Tabel 4.5.6.1 Kebutuhan Ruang Ekalator


Elevasi

L (m)

(m)
Perkiraan Dimensi
3,5
11,0
4,0
12,0
4,5
12,8 A = 0,85 m
Tinggi Pegangan Tangan:
5,0
13,7
Tinggi Rangka
5,5 Struktur:
14,5B = 0,95 m
6,0 C = 1,40 25,4
Lebar Alur:
m (alur tunggal)
C = 1,70 m (alur ganda)
Tinggi Ruang Bebas: D = 2,30 m

Dalam penataannya, ada tiga macam penataan eskalator


yang biasa digunakan, yaitu:
-

Bersilangan

Gambar x.x : Tata Letak Bersilangan


Sumber : Panduan Sistem Bangunan Tinggi: Untuk Arsitek dan Praktisi
Bangunan, 2005

Sejajar dengan arus manusia yang berputar

Gambar x.x : Tata Letak Sejajar (Alur Berputar)


Sumber : Panduan Sistem Bangunan Tinggi: Untuk Arsitek dan Praktisi
Bangunan, 2005

Sejajar dengan arus manusia menerus

Gambar x.x : Tata Letak Sejajae (Alur Menerus)


Sumber : Panduan Sistem Bangunan Tinggi: Untuk Arsitek dan Praktisi
Bangunan, 2005

Tangga darurat dan pintu keluar


Fungsi dari pintu keluar baik berupa tangga darurat atau
pintu darurat sebenarnya dimaksudkan untuk memberi akses
bagi pengguna bangunan untuk dapat berjalan menuju tempat
yang aman dengan selamat.

Persyaratan tangga kebakaran, khususnya yang terkait


dengan kemiringan tangga, jarak pintu dengan anak tangga,
tinggi penyangga tangga, dan lebar serta ketinggian anak
tangga, dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar x.x : Tipikal Tangga Kebakaran


Sumber : Panduan Sistem Bangunan Tinggi: Untuk Arsitek dan Praktisi
Bangunan, 2005